Terima kasih atas review, follows, dan favs. Jujur saya tidak menyangka imajinasi liar saya bisa mendapatkan feedback yang sangat luar biasa. Maaf karena saya baru bisa mengupdate cerita ini setelah beberapa lama.

Chapter ini saya dedikasikan bagi kalian semua yang masih setia menunggu dan membaca fanfict ini, terutama bagi atri takeuchi...

Disclaimer : Still not mine, except the Ocs and plot.

×Chapter 12 : Hurts to Remember, Hurts More to Forget×

I've been known to give my all
And lay awake everyday
Don't know how much I can take
I've been known to give my all
Sitting back, looking at
Every mess that I made

Edmund memandang api yang menari-nari di hadapannya dengan tatapan kosong. Tangan kanannya menggerak-gerakkan ranting, membentuk pola tak beraturan di tanah. Yakin bahwa Glenstorm dan prajurit Narnia yang lain dapat menjaga keadaan di sekitar kemah mereka dengan baik, Edmund membiarkan dirinya untuk menurunkan kesiagaannya.

Edmund mendengus. Ia bisa mendengar suara Peter yang dipenuhi rasa tidak percaya, seolah Peter benar-benar duduk di sebelahnya dan melihatnya duduk di tengah hutan dengan tidak penuh kesiagaan. Entah sudah berapa kali Edmund harus mendengarkan nasihat yang sama dari Peter. Nasihat bahwa ia, Edmund, tidak seharusnya terus menerus memandangi tempat di sekelilingnya seolah mengharapkan sesuatu melompat keluar dari balik semak-semak dan menyerangnya. Nasihat bahwa terkadang ia harus memberikan kepercayaan pada siapapun yang mendapatkan tugas berjaga bahwa mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga dirinya, menjaga mereka.

Edmund kembali mendengus. Peter tidak akan mengatakan nasihat seperti itu jika ia sudah mengalami apa yang dialami oleh Edmund. Dan memang, butuh waktu yang sangat lama, serta tidak sedikit dorongan, terutama dari Susan, bagi Edmund sebelum ia dapat melakukan apa yang diharapkan oleh Peter tersebut.

Senyum miris terlukis di bibir Edmund. Ini adalah saat pertama ia membiarkan dirinya menurunkan kesiagaannya, dan dia malah memikirkan hal seperti itu? Mungkin ia harus benar-benar mendengarkan nasihat yang dahulu sering diberikan oleh Firverior, rubah kemerahan yang menjadi salah satu sahabatnya saat ia memerintah Narnia, bahwa ia harus menata kembali prioritasnya.

Tangan kiri Edmund naik, memijat bagian belakang lehernya yang terasa sangat kaku. Ugh… ia tidak tahu otot seseorang bisa kaku seperti itu. 'Itulah yang akan terjadi apabila kau terus bersikap tegang selama 2 hari perjalanan' pikirnya masam. Setelah beberapa saat, dan yakin bahwa otot lehernya sudah mulai melemas, Edmund menurunkan tangannya, lalu melemparkan ranting yang ia pegang ke dalam api unggun. Tanpa benar-benar memerhatikan, Edmund meraih ranting lain yang berada di tumpukan kayu di sebelahnya dan kembali menggambar pola-pola tak beraturan di tanah.

Bayang-bayang gelap yang bergerak di pepohonan tak jauh dari tempatnya duduk membuat Edmund dengan cepat berdiri, menarik pedangnya, kemudian menghunuskannya ke arah bayang-bayang itu. Mata tajamnya menangkap gerakan dedaunan yang berada di salah satu pohon di dekatnya. Dengan berhati-hati, Edmund melangkah ke arah pohon itu. Suara 'Uhuuu' yang terdengar menjauh membuat Edmund menjatuhkan dirinya. 'Hanya seekor burung hantu', pikirnya muram seraya menyarungkan kembali pedangnya.

Edmund tertawa lemah. Ia yakin bahwa ia hanya paranoid. Ya, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Jika perhitungannya tepat, sekitar 2 hari lagi mereka akan bertemu dengan Peter dan pasukan pilihan Caspian untuk meneruskan perjalanan menuju kastil. Semua akan baik-baik saja.

'Ya tentu saja, jika tidak ada masalah yang mereka atau kau temui selama perjalanan'.

Edmund menggelengkan kepala. Kadang ia merutuki mengapa ia harus menjadi orang yang rasionalis, tidak seperti Lucy maupun Peter yang optimis. Tidak, ia harus yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Mereka akan segera bertemu dengan Peter. Ah… betapa ia ingin segera merebahkan diri di kasur yang empuk, dan bukan tidur di tanah seperti sekarang. Tanpa sadar senyuman kecil terlukis di bibir Edmund. Ia sudah tidak sabar untuk segera tiba di kastil. Ya, ia rela menukarkan pedangnya demi kesempatan untuk tidur di kasur pada saat ini.

Namun suatu pemikiran tiba-tiba membuatnya tersadar. Bayangan akan banyaknya Narnian yang terbunuh di halaman kastil menghapuskan senyuman di wajahnya dan menggantinya dengan kerutan di dahi. Untuk beberapa saat, Edmund merasa mual. Bagaimana bisa ia merasa tidak sabar untuk segera tiba di kastil itu dan tidur di kasur? Bagaimana bisa ia dapat tidur dengan nyenyak saat harga yang harus dibayar adalah dengan begitu banyak darah Narnian yang tertumpah?

Edmund menelan ludah dengan susah payah, merasa lega karena ia hanya minum air saat makan malam tadi. Ia tidak yakin dapat menahan rasa mualnya seandainya kini pencernaannya tidak kosong.

Saat ia sudah dapat mengendalikan rasa mualnya, Edmund mengedarkan pandangangannya, berharap bahwa tak ada satupun Narnian, dan terutama kedua saudarinya, yang melihat apa yang baru saja terjadi padanya. Tanpa ia sadari, pandangannya beralih pada sosok Susan yang kini sedang tertidur di seberangnya. Rahangnya mengeras saat ia memerhatikan bahwa Susan terus menerus bergerak dengan tidak tenang dalam tidurnya. Ya, meskipun Susan berusaha untuk tidak menunjukkannya pada yang lain, namun ia tahu bahwa hal tersebut sangat mengganggu Susan. Jika bayangan akan banyaknya Narnian yang tewas di halaman kastil masih dapat mengganggunya, yang sudah sangat sering melihat pertumpahan darah, ia tidak tahu apa yang dirasakan oleh Susan kini.

Seringkali Edmund mendapati Susan terjaga di saat malam setelah penyerangan yang mereka lakukan pada kastil Telmarine gagal. Dan setiap kali Edmund menanyakan pada Susan mengapa ia tidak beristirahat, Susan selalu memberikan jawaban yang sama, ia belum mengantuk dan Edmund tidak perlu mengkhawatirkannya sebab ia, tidak, semua baik-baik saja. Edmund tak pernah menceritakan apa yang dilakukan oleh Susan pada Peter dan Lucy. Meskipun begitu ia yakin, Peter dan Lucy menyadari apa yang dilakukan oleh Susan selama ini.

Namun Edmund tahu, semua yang dikatakan Susan hanya upayanya agar saudara-saudaranya tidak mencemaskan keadaannya. Setiap kali salah satu Narnian kehilangan nyawanya, hal itu akan selalu menyebabkan mereka merasa bersalah karena tidak dapat melindungi rakyat yang telah Aslan percayakan pada mereka. Dan Susan akan selalu merasa jauh lebih bersalah daripada saudara-saudaranya. Edmund telah berulang kali menjadi saksi bagaimana rasa bersalah itu terus menghantui Susan.

Ya, Edmund sadar mereka memang tidak selalu dapat mengendalikan apa yang akan terjadi. Ya, Edmund juga sadar mereka tidak bisa mengubah takdir yang telah tertulis. Namun hal itulah yang selalu membuat Susan merasa bersalah, karena ia merasa bahwa ia seharusnya dapat mencegah semua hal terburuk yang terjadi pada mereka. Jika kau bertanya pada Peter, Edmund, maupun Lucy, mereka akan menyangkalnya, namun itu adalah salah satu alasan mengapa mereka selalu berusaha untuk mencegah Susan ikut berperang bersama dengan mereka. Mereka tidak ingin Susan terus menerus menyalahkan dirinya karena tidak dapat mencegah rakyatnya terbunuh.

'Aku bahkan tak bisa membayangkan perang apa yang terjadi dalam benak Susan saat ini' pikirnya masam, 'Rasa bersalah? Pasti. Rasa takut? Tidak perlu diragukan. Aku tak tahu bagaimana ia dapat tetap menampilkan wajah tenangnya di depan yang lainnya.'

Edmund menyilangkan kedua tangannya di depan dada, 'Aku benar-benar berharap Peridan ada di sini sekarang. Ia selalu tahu bagaimana cara yang paling repat untuk mengalihkan perhatian Susan dari masalah seperti ini'.

Thwack… thwack… thwack…

Yakin bahwa pemanah tersebut sudah menghabiskan semua anak panahnya, sesosok lelaki berjalan mendekat ke arah pemanah tersebut.

"Aku tidak tahu mengapa kau terus menerus berlatih," dengan cepat pemanah itu berputar dan menjatuhkan busurnya, belati yang ia simpan di balik lipatan gaunnya dalam sekejap mata telah berada di leher lelaki itu, "Kemampuanmu dalam memanah tidak diragukan lagi," lanjut lelaki itu dengan ringan, seolah tidak merasakan dinginnya belati di lehernya.

"Lord Peridan!" rasa terkejut sangat kental terdengar di seruan pemanah itu. Dengan gerakan yang sedikit kurang anggun, ia menjauhkan belatinya dari leher Lord Peridan dan menyimpannya kembali di balik lipatan gaunnya.

"Queen Susan," Lord Peridan mengulas senyum kecil seraya menundukkan kepalanya, "Apakah Nestor sudah mengijinkanmu untuk kembali berlatih memanah?" tanya Peridan.

"Apakah kau tidak tahu bahwa mengejutkan orang yang membawa senjata bukanlah suatu kebiasaan yang baik?" tanya Susan sedikit kesal, mengabaikan pertanyaan Peridan, lalu membalikkan badannya untuk mengambil busur yang tadi ia jatuhkan. "Dan aku benci menjadi orang yang menyebabkanmu terluka dengan belatiku karena kau tidak pernah bisa menolak godaan untuk mengejutkan orang lain."

"Ah… tapi aku tahu, kau tak akan melukaiku, my lady," jawab Peridan ringan, mata tajamnya memerhatikan bahu Susan yang menegang. Dalam hati Peridan merutuki dirinya dan kenyataan bahwa ia tidak dapat menyusun kalimat yang tepat saat ia harus berhadapan dengan gadis berambut coklat tua tersebut. Namun ia sadar, bahwa ia harus melakukan hal ini, meskipun apa yang ia lakukan akan menyakiti Susan.

"Manen istog?(1)" tanya Susan dingin, "Dengin i Narnians!(2)"

"Bukan kau yang menarik busur atau mengayunkan pedang ke arah mereka Susan. Bukan kau yang membunuh mereka."

"Apakah hal itu benar-benar berarti?" Susan tertawa getir, "Aku tahu kalian mengubah catatan mengenai apa yang terjadi sedemikian rupa, seolah aku adalah pahlawan dari apa yang telah terjadi. Tapi kau tahu apa yang sebenarnya terjadi Lord Peridan, kau ada di sana sepanjang waktu. Kau tahu aku bukanlah pahlawannya, aku adalah…" Susan menghela napas, "Kau tahu aku seharusnya, tidak, aku bisa mencegah supaya mereka tidak mati sia-sia. Tapi karena…"

"Mati sia-sia?" Peridan memotong dengan nada tidak percaya, "Kau pikir mereka mati sia-sia? Mereka mati demi satu tujuan. Melindungi Narnia. Melindungi keluarga kerajaan Narnia. Melindungi dirimu dan saudara-saudaramu."

"Dan bukankah itu yang seharusnya kulakukan, my lord? Bukankah sudah seharusnya aku melindungi rakyatku?" Susan melirik Peridan dari balik bahunya, "Namun apa yang kulakukan? Aku malah membunuh mereka, dan apa yang menyebabkannya? Kebodohanku." bisik Susan.

Susan melihat Peridan yang membuka mulutnya dan dengan cepat mengangkat tangannya, "Kau tidak perlu membohongi dirimu sendiri, Lord Peridan. Kau tahu seandainya aku tidak membiarkan diriku percaya akan setiap kata yang keluar dari mulutnya, maka mereka akan masih tetap hidup. Seandainya aku mendengarkan kalian saat kalian memberikan peringatan padaku…"

Peridan meraih bahu Susan dan memutarnya, "Berhenti! Kau tidak membunuh mereka, Susan!"

"Leithio nin!(3)" Susan memutar bahunya, berusaha melepaskan tangan Peridan.

"Avon!(4)" ujar Peridan tajam, kilatan aneh yang tak dapat Susan mengerti di mata Peridan membuat Susan menghentikan usahanya untuk melepaskan tangan Peridan dari bahunya. "Berhenti, Susan. Kau tidak membunuh mereka."

Susan membuang pandangannya, "Tapi karena…"

"Aku tidak akan mendengar satu alasan lagi mengenai hal ini," potong Peridan lalu melangkah mundur, "Keluarkan belatimu."

"Apa…"

"Demi, Aslan! Berhenti bertanya dan keluarkan belatimu!"

Dengan ragu Susan mengambil belatinya, lalu memandang Peridan yang kini meraih pedangnya.

"Bagus. Sekarang aku ingin agar kau menyerangku."

"Apa?!"

"Aku akan mengajarimu bagaimana memertahankan diri dengan menggunakan belatimu, Susan. Sudah jelas bahwa kedua saudaramu tidak dapat mengajarimu menggunakan belati dengan benar."

Susan membuka mulutnya, hendak membalas perkataan Peridan dengan kata-kata yang mungkin nanti akan ia sesali, namun senyuman kecil di bibir Peridan membuatnya menahan perkataannya itu. Sadar bahwa Peridan mengatakan hal tersebut untuk membuat Susan menyerangnya, Susan berjalan ke arah Peridan seraya memutar belati di tangan kanannya, memutuskan untuk mengikuti permainan yang dimainkan oleh Peridan, "Aku bertaruh kau tidak akan mengatakan hal itu di depan Peter," ujar Susan lalu mengayunkan belatinya ke arah leher Peridan, "maupun Edmund."

Tanpa melepaskan pandangannya dari Susan, Peridan melangkah ke belakang, membiarkan belati Susan mengayun di ruang kosong yang hanya beberapa detik yang lalu ditempati oleh lehernya, "Mungkin aku akan mengatakannya," jawab Peridan ringan, lalu mengayunkan pedangnya ke bagian kaki Susan, "Kalau kau tidak dapat menghindari ini." Tanpa aba-aba Peridan mengayunkan pedangnya secara bertubi-tubi ke arah Susan.

Tak menyadari dua pasang mata yang memerhatikannya dari ujung tempat berlatih, Susan berusaha untuk membalas serangan Peridan dengan gerakan-gerakan khasnya yang dulu berhasil membuat Peter menjatuhkan pedangnya. Peridan yang sudah familiar dengan gerakan-gerakan tersebut dengan cepat berputar menjauh dari Susan.

"Ayolah, Susan aku tahu kau dapat melakukan lebih baik daripada ini," ujar Peridan lalu mengayunkan pedangnya ke arah kepala Susan, memaksa Susan untuk sedikit melangkah mundur dan menyilangkan kedua belatinya di atas kepalanya.

Untuk beberapa saat, Peridan memandang senyum kecil di wajah Susan. Namun saat ia mengangkat pandangannya, matanya menangkap pandangan kedua orang yang memerhatikan dirinya dan Susan. Menundukkan kepala dengan singkat, Peridan mengarahkan gerakan Susan sehingga membuat Susan membelakangi kedua orang tersebut, sebelum Susan dapat menyadari kehadiran mereka.

Peridan menghela napas lega. Ia tahu, seandainya Susan tidak membiarkan emosinya untuk mengambil alih sebagian besar kesadarannya saat menyerang Peridan, Susan akan menyadari apa yang telah Peridan lakukan.

"Kau sadar bahwa mereka menggunakan senjata sungguhan dan bukannya senjata untuk berlatih?"

"Tentu saja. Namun aku tahu semua akan baik-baik saja, Peridan tidak akan membiarkan Susan melukai dirinya sendiri."

"Apakah kau yang meminta Peridan untuk melakukan ini, Pete?" tanya Edmund pelan, mengernyit saat ayunan pedang Peridan nyaris mengenai bahu Susan.

Peter menolehkan kepalanya, memandang adik laki-lakinya dengan singkat, lalu kembali memandang Susan dan Peridan, "Tidak, Ed. Peridan yang meminta agar ia diperbolehkan melatih Susan menggunakan belatinya."

"Dan kau membiarkannya?"

"Ya."

"Apakah menurutmu itu adalah keputusan yang tepat?"

Peter menghela napas, "Ya," ujarnya singkat seraya memejamkan mata, "Aku rasa ini adalah keputusan yang tepat."

Dengan cepat Edmund memutar kepalanya, memandang Peter dengan tatapan tidak percaya, "But… So soon? That animal stabbed Susan, not 2 weeks ago!"

"Iston,(5)" jawab Peter pelan, menghindari tatapan Edmund.

"Lalu mengapa…"

"Aku tidak ingin Susan merasa tak berdaya, Ed," potong Peter, "Aku tidak ingin ia merasa bahwa semua ini terjadi karena ia tidak dapat membela dirinya sendiri."

Edmund mengeluarkan tawa getir, "Aku tahu. Namun, tidakkah menurutmu aku yang seharusnya berlatih dan bukannya Susan? Bukankah aku yang seharusnya menyelamatkannya?"

"Ed…"

"Tidak, Pete. Aku tahu apa yang ingin kau katakan. Aku tahu apa yang ingin kau katakan mungkin benar. Tapi aku tidak akan memercayainya," potong Edmund, 'Tidak saat bayangan Susan yang nyaris meninggal di pelukanku masih menghantuiku setiap saat'.

Peter menghela napas, seolah mendengar apa yang dipikirkan oleh Edmund. Edmund memang raja yang bijak, namun ia juga keras kepala. Dan saat ini, Peter berusaha menahan dirinya agar tidak mengumpat kekeraskepalaan adiknya itu bahwa apa yang terjadi bukanlah kesalahan Edmund, "What do you want me to do, Ed?" tanya Peter akhirnya.

"Kejar binatang itu. Bunuh dia dan semua pengikutnya," jawab Edmund cepat.

"Ed…"

"Apa?" potong Edmund, "Kau tahu apa yang kukatakan itu benar dan kau ingin melakukannya!"

Peter mencengkram kedua bahu Edmund, memaksanya memandang mata Peter, "Kau tahu kita tidak bisa melakukan hal itu," ujar Peter dengan suara rendah yang tajam.

Untuk sepersekian detik, Edmund dapat melihat rasa frustrasi yang Peter sembunyikan selama ini. Rasa frustrasi, marah, putus asa, dan takut. Namun dengan cepat, Peter kembali menutupi semua perasaan itu. Edmund melangkah mundur dengan langkah goyah, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali, seolah ingin menyadarkan dirinya.

'Aku tidak tahu kau juga merasakan apa yang kurasakan, Pete.'

"Goheno nin, Peter(6)," bisik Edmund, "I spoke irrationally."

Peter menghela napas, "Aku tahu kau merasa frustrasi dengan hal ini, Ed. Aku juga merasakannya. Aslan tahu seberapa besar keinginanku untuk menebaskan pedangku ke arah kepala orang itu. Tapi kita tidak bisa melakukannya, tidak jika hal itu menyebabkan perang lain bagi Narnia. Kita tidak bisa, tidak boleh, meminta rakyat kita untuk menyerahkan nyawanya hanya untuk membalaskan dendam yang kita rasakan."

"What should we do now, Pete?" tanya Edmund lemah.

"Kita harus menjaganya. Ia maupun Lucy. Kita harus mencegah agar hal seperti ini tidak terjadi lagi," jawab Peter, "Dan memohon pada Aslan, agar orang itu mendapatkan hukuman yang selayaknya ia terima."

Suara ranting yang patah tak jauh dari tempatnya menghangatkan badan di depan api unggun membuat Edmund tersadar dari lamunannya. Dengan cepat ia menolehkan kepalanya ke arah sumber suara tersebut. Edmund memicingkan matanya, berusaha untuk melihat apa yang menyebabkan munculnya suara tersebut. Namun sejauh ia dapat memandang, Edmund tidak menemukan apapun yang dapat menimbulkan suara tersebut.

Edmund memutuskan untuk mengabaikannya, meyakinkan diri bahwa suara tersebut mungkin saja ditimbulkan oleh salah satu Narnian yang sedang berjaga di sekitar perkemahan mereka atau hewan-hewan lain penghuni hutan tersebut. 'Ayolah, Ed, kau mungkin benar-benar sudah mengalami paranoia! Pertama burung hantu, dan sekarang ini? Mungkin kau harus segera menemui psikiater seandainya kau kembali ke Inggris' pikirnya. Menghela napas panjang, Edmund kembali menolehkan kepalanya ke arah api unggun. Dan secepat itu pula, Edmund menyesali pilihannya untuk tetap duduk di tempatnya dan tidak pergi dari tempat itu.

Dibutuhkan seluruh kemampuan Edmund dalam mengendalikan diri untuk tidak berteriak maupun melompat saat ia melihat sosok wajah yang kini memenuhi pandangannya. Tangan kiri Edmund meraih dadanya, seolah ingin menghentikan debaran jantungnya.

"Lucy! What in the name of Aslan are you doing?!" bisik Edmund kasar lalu berdeham, berusaha menahan dorongan untuk tidak mengumpat di depan adiknya.

"Are you seriously going to defend yourself with that stick?" tanya Lucy dengan nada tidak percaya seraya mengangkat sebelah alisnya, berusaha untuk menjaga agar ekspresi wajahnya tidak menunjukkan rasa geli yang ia rasakan, "Kukira Oreius sudah mengajarkanmu bagaimana cara memertahankan diri dengan menggunakan pedang?" Aslan… siapa yang tahu jika Edmund bisa membelalakkan mata sebesar itu?

Edmund mengikuti pandangan Lucy ke arah benda yang ia genggam. Seolah baru menyadari bahwa yang berada di genggamannya adalah ranting kayu, dan bukannya pedang kesayangannya, Edmund segera melepaskannya lalu menutupi kedua matanya dengan tangan kirinya. 'Well done, Ed, kau kini memberikan Lucy salah satu bahan olok-olok,' pikirnya masam.

Melihat apa yang dilakukan Edmund, Lucy berusaha untuk menahan tawanya. Namun ia tidak begitu berhasil. Meskipun Lucy menutupi mulutnya dengan kedua tangan, namun Edmund dapat dengan jelas mendengarkan tawa Lucy.

Edmund mengerang, "Okay, okay, bisakah kau berhenti sekarang?" tanyanya kesal setelah beberapa saat berlalu tanpa Lucy berhasil menghentikan tawanya.

"Maafkan aku," ujar Lucy di sela-sela tawanya, "Namun aku tidak bisa percaya bahwa kau dapat semudah itu untuk terkejut!"

"Aku bersumpah, aku akan membalasmu, Lucy Pevensie!" jika mungkin, ancaman yang diberikan oleh Edmund malah membuat Lucy tertawa semakin kencang, memaksa Lucy untuk kembali menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Benarkah?" Lucy menjatuhkan dirinya di sebelah Edmund, "Aku sudah tidak tahu berapa kali kau mengancam akan membalasku. Namun tak ada satupun usahamu yang berhasil."

Edmund mendecakkan lidah, "Kau sadar kebiasaanmu untuk mengejutkan orang bisa membahayakanmu? Bagaimana jika orang itu…"

Lucy melambaikan tangannya dengan tidak sabar, "Ya, ya, ya… aku tahu. Aku sudah mendengar nasihat yang sama berulang kali. Dari Peter, Susan, Lord Peridan, bahkan Mr. Tumnus."

"Dan kau tetap mengabaikannya?"

Lucy memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Edmund dan hanya melemparkan senyuman kecil ke arahnya.

"Kurasa aku terlalu sering memberikan pengaruh buruk padamu," Edmund menggelengkan kepala, dengan singkat senyum tipis terlukis di wajahnya.

Lucy mendorong bahu Edmund, "Ah, kau terlalu serakah, Ed. Kau tidak dapat mengatakan bahwa kau yang telah memberikan semua pengaruh itu padaku. Kurasa Peter berhak untuk berbagi gelar itu denganmu."

Edmund mendesah, "Apakah kau ke sini hanya untuk mengejutkanku saja?" tanyanya seraya mengusap dahinya dengan lelah.

Pertanyaan Edmund dengan cepat menghapuskan garis-garis keriangan dari wajah Lucy, "Tidak juga."

Nada bicara Lucy yang terdengar sedikit aneh membuat Edmund melirik ke arah Lucy yang kini memandangnya dengan tatapan yang tidak ia pahami, "Ada apa, Lue? Aku mengira kau sudah tertidur tadi, apakah kau mengalami mimpi buruk?"

Lucy tertawa lemah, "Tidak, aku tidak bisa tidur. Dan ya, kau bisa menyebutnya sebagai mimpi buruk. Dan aku merasa bahwa aku belum dapat terbangun dari mimpi itu, meskipun aku telah berusaha untuk dapat terbangun secepatnya."

Edmund menghela napas panjang lalu melingkarkan sebelah tangannya di pundak Lucy, "Kau, kita, akan segera terbangun dari mimpi buruk itu," bisik Edmund.

Lucy hanya mengumamkan jawaban tidak jelas. Untuk beberapa saat kedua anak termuda di dalam keluarga Pevensie itu duduk memandang kobaran api tanpa sepatah kata pun. Untuk beberapa saat, mereka bukanlah King Edmund dan Queen Lucy, King and Queen of Old. Untuk beberapa saat, mereka bukanlah dua orang anggota kerajaan Narnia yang telah berkali-kali memimpin peperangan untuk membela Narnia. Untuk beberapa saat, mereka hanyalah dua orang saudara yang memiliki ketakutan yang sama seandainya sejarah terulang kembali.

Lucy mengangkat pandangannya ke arah langit dan tersenyum lembut. Edmund yang melihat apa yang dilakukan oleh Lucy dari sudut matanya hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa berkata apapun.

"Tidakkah menurutmu sedikit aneh," tanya Lucy tanpa mengalihkan pandangannya, "meskipun aku tahu jika 1300 tahun sudah berlalu dan aku selalu berharap semua akan berbeda dari apa yang dulu terjadi, namun saat aku melihat gugusan bintang yang sama dengan gugusan yang dulu selalu kita pandang dari pantai membuatku merasa senang juga lega karena tidak semua berubah?"

Pertanyaan Lucy membuat Edmund mengangkat pandangannya untuk memerhatikan langit yang dihiasi oleh taburan ribuan bintang, "Tidak."

"Hm?"

"Aku tidak menganggapnya aneh, karena aku juga merasakan hal yang sama," Edmund melepaskan tangannya dari bahu Lucy, "Meskipun aku selalu merasa bersalah setelahnya, namun aku tahu kita merasakannya karena kita sudah kembali ke tempat dimana kita seharusnya berada. Karena kita sudah kembali ke Narnia."

"Apakah semua ini sepadan?"

"Aku…"

"Tidak, dengarkan aku, Ed," potong Lucy, "Apakah menurutmu kembali ke Narnia sepadan dengan apa yang harus dibayarkan oleh Susan? Aku tahu Aslan berkata bahwa kita akan selalu menjadi raja dan ratu Narnia apapun yang terjadi dan itu berarti kita bertanggung jawab untuk menjaga Narnia. Lebih dari itu, aku tahu Narnia adalah rumah kita. Dan kita harus kembali saat Narnia dan para Narnian berada dalam bahaya. Tapi apakah itu semua sepadan?"

Edmund meraih kedua bahu Lucy, sinar matanya memaksa Lucy untuk memandangnya, "Ya, semua itu sepadan," bisiknya dengan suara serak, lalu mengalihkan pandangannya, "Dan aku tahu, apabila kau bertanya pada Susan, ia akan mengatakan hal yang sama. Semua itu sepadan," Edmund membisikkan ketiga kata terakhir lalu merebahkan dirinya di sebelah Lucy. "Meskipun semua ini terasa tidak adil bagi kita, terutama bagi Susan, tapi semua itu sepadan."

Lucy menundukkan kepalanya, memerhatikan wajah Edmund untuk beberapa saat, "But, it hurts, Ed."

"I know, Lue," Edmund menolehkan kepalanya untuk memandang Lucy, meraih jemari Lucy dan meremasnya, "I know."

Translate

(1) Manen istog? : How do you know?

(2) Dengin i Narnians! : I've killed the Narnians!

(3) Leithio nin! : Release me!

(4) Avon! : I will not.

(5) Iston : I know

(6) Goheno nin, Peter : I'm sorry, Peter

A.N. :

1. atri takeuchi : Saya akan berusaha untuk melanjutkan cerita ini secepat mungkin J terima kasih untuk semangatnya. Setiap kali saya melihat ada yang me-review chapter terbaru saya, saya yakin pasti yang pertama adalah review-mu. Terima kasih ya J

2. aiwataru1 : YEAY! saya masih akan lanjutkan cerita ini.

3. , rizqiayu, Deniit : Terima kasih sudah setia menunggu lanjutan cerita ini J

4. Mutiara : Jujur, saya sempat stuck dan tugas-tugas kuliah juga membuat saya tidak bisa memikirkan hal yang lain (selain ingin agar tugas cepat selesai sehingga saya bisa tidur L). Ya, saya juga merasakan hal yang sama. Mungkin karena Lucy adalahtokoh yang lebih sentral, sehingga hubungan antara Susan dan kedua saudaranya tidak begitu tampak..