~Be My Sweet Darling~

YAOI

^^ Happy Reading ^^

Desclaimer : Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun, Kyuhyun dan Sungmin milik TUHAN juga kedua orang tuanya. kalau Cerita ini adalah asli hasil pemikiran dari otak yadong saya.

WARNING : TYPO(S) / YAOI / BL/no NC for this chap ^^

DONT LIKE DONT READ, OKEI ^^

Jika berantakan mohon maaf, karena tanpa editan -_-

.

.

Chapter 11

Lelaki tampan ini sangat terlihat panik dan sangat putus asa. Hanya beberapa menit Sungmin di tinggal untuk mengangkat telponnya sekarang sudah menghilang dari pengawasannya. Bukankah ia sudah bilang untuk tidak kemana-mana pada Sungmin. Tapi kenapa Sungmin malah pergi dengan keadaan kedua matanya masih di gulung oleh perban. Ini salahnya!

Dengan sekuat tenaga ia berlari mengelilingi taman dan hasilnya sia-sia. Ia lelah.

Puk~

Dengan tepukan lembut di pundaknya,lelaki tampan ini segera berbalik dan menatap tak percaya pada sosok lelaki manis dengan mata masih di kelilingi perban. Itu Sungmin-nya dan dia dengan seseorang.

"Ming! Kemana saja! Aku mencarimu! Aku khawatir kau tahu sayang!" Kata Kyuhyun seraya membawa tubuh berisi milik Sungmin ke dalam pelukan hangatnya. Mengusap pucuk kepala Sungmin dan mengecupnya secara lembut.

"Maafkan Mingie ne Kyunnie~"

"Tidak apa-apa…asal Mingie sudah disini. Terimakasih noona untuk membawa Sungmin kesini. Tapi bagaimana kau tau jika aku sedang mencarinya?"

Mereka bertemu mata. Saling menatap dan tersenyum.. Gadis itu tersenyum ramah pada Kyuhyun dan melambaikan tangan. Ikut mengusap pundak Sungmin yang masih ada di pelukan Kyuhyun. "Kau lupa pada ku Kyuhyun-ah?"

Kyuhyun diam. Hatinya menerka siapa gadis ini. Kenapa bisa gadis yang baru pertama kali bertemu dengannya bisa mengenalinya secara tidak sengaja.

"Kau kenal aku?" Kyuhyun melepas pelukan kekasih hatinya untuk duduk di bangku taman yang tak jauh dari sana. Gadis yang membawa Sungmin tadi masih tetap mengikuti.

"Aku tidak akan pernah lupa padamu."

"Tapi maaf…aku sama sekali tidak ingat kau siapa."

Gadis itu menghela nafas. "Kyunnie tidak boleh bicara seperti itu! Dia ini Songsaeng Mingie waktu Mingie di sekolah! Namanya Jo Hyun Seo. Tadi Mingie hanya sedikit berjalan-jalan dengan Songsaeng. Lalu sonsaeng membawa Mingie ke super market dan membelikan Mingie permen ini…" Jelas Sungmin panjang lebar sebelum Hyun Seo bicara. Menunjukan permen lolipop pink rasa strawberry kesukaannya.

Sonsaeng cantiknya ini tersenyum kearah Sungmin. "Terimakasih Sungminnie….kau anak yang pintar." Ucap Hyun Seo.

Kyuhyun berfikir sedikit. Mengingat-ingat memori yang mungkin sudah lama ia lupakan. Memang wajah Hyun Seo serasa tak asing baginya. Tapi ia masih belum yakin. Ia menatap Hyun Seo yang berada di samping Sungmin dan sedikit tak asing dengan anting yang di gunakan Hyun Seo.

"Aku seperti pernah melihat anting-anting yang kau gunakan." Kata Kyuhyun penasaran.

Hyun Seo tersenyum. Semakin sengaja membuka dan memperlihatkan anting-anting yang dengan indah terpasang di telinganya. Mencopotnya dan memperlihatkannya pada Kyuhyun. "Ini pemberian darimu."

Ketika saja ingatannya tentang belasan tahun lalu mulai berputar di otak Kyuhyun. Jo Hyun Seo, Hyun Seo… dia adalah teman semasa kecilnya. Seorang gadis yang sering ia sebut Seoyo. Kyuhyun ingat! Kyuhyun mengingatnya!

"SEOYO! Benarkah kau Seoyo?!"

Hyun Seo tersenyum. "Akhirnya kau mengingatku Kyu…bagaimana kabarmu? Appa dan eomma apakah dia disini?"

"Kita bicara nanti ya Seoyo…aku merasa tidak nyaman disini. Kasihan Sungmin."

Gadis itu tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu aku pamit dulu ne Kyu…ini kartu nama ku dan aku akan selalu menyempatkan waktuku. Sampai Jumpa Sungminnie sayang…cepat sembuh~"

"Ne Sonsaeng…"

Hyun Seo berlalu. Meninggalkan kedua pasangan kekasih ini di taman. Kyuhyun memeluk lagi tubuh yang ada di sampingnya. Mengusap punggung hangat Sungmin dengan penuh kasih sayang.

"Jangan pergi lagi! Aku mengkhawatirkan mu…jangan pergi lagi…" Bisik Kyuhyun lembut.

"Ne…ne Kyunnie…hanya sebentar…jangan marah ne Kyunnie…" Balas Sungmin di pelukan Kyuhyun. Mengikuti irama husapan tangan Kyuhyun di punggungnya. Ia pun ikut mengusap punggung tegap kekasih tampannya ini.

"Ayo waktu mu ke caffe untuk minum obat dan istirahat."

Sungmin mengangguk. Kyuhyun segera berdiri dan membantu Sungmin untuk berdiri juga. Merendahkan tubuhnya dan mulai menggendong tubuh berisi kekasih manisnya ini menuju caffe milik eomma Sungmin.

.

.

.

.

Di sebuah caffe sederhana yang tak jauh dari caffe milik eomma Sungmin terlihat Kyuhyun sedang berbincang dengan seseorang yang tadi siang bertemu dengannya di taman. Jo Hyun Seo. Seorang gadis cantik teman baik Kyuhyun semenjak ia kecil.

"Sudah lama sekali Kyu sejak meninggalnya kakakmu dan perginya kau dari rumah mu."

Kyuhyun mengangguk dan menyesap coffee cappuccino miliknya. Menatap Hyun Seo yang duduk tepat di hadapannya. "Maafkan aku karena tak mengabarimu saat itu." Ucapnya setelah meletakkan kembali coffeenya.

"Tidak apa-apa Kyu…yang penting kita bisa bertemu lagi. berkat Sungmin."

"Ya…kau benar. Berkat Sungmin. Tapi, bagaimana bisa kau jadi pengajar Sungmin? dan mengetahui jika aku dekat dengan Sungmin?"

"Ketika di sekolah, Sungmin sering sekali menceritakan seseorang yang ia sebut Kyunnie padaku. Tidak pernah melihat Sungmin sesemangat itu sebelumnya. Dia jadi anak yang pintar dan penuh semangat. Tapi sekolahnya harus di hentikan ketika beasiswa untuknya di putus."

Kyuhyun terlihat kaget dan mulai menatap serius kearah Hyun Seo. "Bagaimana bisa di putus? Sungmin anak yang pintar bukan?"

"Aku pun tak tau Kyuhyun…."

Kyuhyun kembali merenung. Meletakkan tangannya di atas meja dan menatap lekat kearah jari-jari panjangnya.

"Lalu bagaimana bisa kau mengajar di tempat Sungmin bersekolah?"

"Hubunganmu dengam Sungmin terlihat sangat dekat ya Kyu? Sampai-sampai wajah yang biasa kau tunjukan pada ku sudah tak terlihat lagi." Seoyo mencoba mengalihkan pembicaraannya lagi. tidak mengingat bagaimana bisa ia mengajar di tempat Sungmin bersekolah.

"Aku tidak pernah berubah dari hari terakhir kita bertemu Seoyo.."

"Kau berubah Kyuhyun… aku melihatnya dengan sangat jelas."

"Kalau begitu maafkan aku…"

Tidak ada percakapan yang serius lagi di Antara mereka. Hanya kecanggungan yang terlihat jelas di mata Seoyo. Gadis itu sangat ingin memeluk Kyuhyun dan membicarakan keinginan mereka ketika itu. Tapi melihat berubahnya Kyuhyun, ia harus mengurungkan niatnya.

"Kau…kau juga berubah. Menjadi gadis dewasa yang cantik. Aku tidak menyangka jika Seoyo yang dulu sudah menjadi gadis yang sangat pendiam. Mengingat dulu kau sangat cerewet dan suka sekali mencium pipiku. Gadis nakal!" Ejek Kyuhyun mencoba mencairkan suasana.

Seoyo tersenyum malu. Menutup mulutnya dan terkikik geli. "Itu dulu Kyu~ sekarang tidak lagi." Seoyo masih terkikik. "Tidak lagi jika kau saja tak menatap ku sebagai gadis yang kau inginkan." Mendengar itu membuat Kyuhyun menghentikan sejenak tawanya. Sejujurnya itu sangat menusuk hati Seoyo. Harus mengatakan hal yang tak pantas ia katakan di hadapan pria yang sangat ia inginkan belasan tahun ini.

"Seoyo…maafkan aku…aku—"

"Aku tau jika kau tak mengetahui perasaan ku, bukan? Aku tau itu Kyu. Maka dari itu, aku mencari mu ke Seoul dan berniat akan mengatakannya sebelum terlambat. Tapi, ternyata aku memang sudah terlambat. Kau sudah menemukannya, dan itu bukan aku…" Seoyo terlihat sangat terpukul. Matanya memerah. Ia benar-benar tak bisa menahan perasaannya.

"Aku sangat terkejut saat tau jika orang itu adalah Sungmin, Kyu~. Aku sangat terkejut." Lanjut Seoyo lagi dengan Senyum getir di bibir tipisnya.

Kyuhyun beranjak dari kursinya. Duduk tepat di sebelah Seoyo dan membiarkan Seoyo merebahkan kepala tertunduknya di pundak hangatnya. Membiarkan Seoyo merasakan kehangatan yang gadis itu rindukan darinya. Tangan Seoyo terulur. Memeluk leher Kyuhyun dan ia menangis tersedu. Seoyo mencintai teman masa kecilnya.

"Menangislah… menangislah jika itu memang membuatmu merasa lebih baik. Setelah itu, jangan pernah berusaha untuk membenciku. Bagaimanapun, aku tetap teman mu, sahabatmu dan cinta pertamamu. Aku menyayangimu Seoyo… seperti layaknya seorang kakak. Maafkan aku."

.

.

.

.

"Terimakasih untuk waktu mu Kyuhyun… aku senang bisa melihatmu lagi setelah hampir sepuluh tahun lamanya. Terimakasih banyak." Seoyo membungkuk dan tersenyum ramah di hadapan Kyuhyun.

"Kau merasa lebih baik? Aku juga senang melihat adik kecil cerewetku lagi."

"Hei~ berhenti memanjakan ku babo namja! Aku sudah besar! Sudah dewasa dan menjadi gadis yang sangat berwibawa!"

"Ya! Beraninya mengatai ku babo! Kemari kau gadis nakal!"

"BABO NAMJA!" Seoyo Beranjak dari duduknya, ia menengok ke arah lelaki brunette itu lalu berlari seraya mengejek "TERIMAKASIH UNTUK PUNDAK HANGATMU AKU SANGAT SENANG! SAMPAI JUMPA DAN JAGA SUNGMIN UNTUKKU NE KYUHYUN OPPA!"

"YA! KENAPA TIDAK DARI DULU KAU PANGGIL AKU OPPA!"

"ANNYEONG!"

Teriaknya lantang saat mengucapkan pesan perpisahan pada Kyuhyun. Ia sudah terlihat tenang sekarang. Tidak ada kecanggungan disana. Tidak ada lagi rasa bersalah yang bersarang di hati Kyuhyun.

.

.

.

.

Sudah hampir satu minggu Sungmin mengalami kebutaannya dan hari ini adalah hari terakhir ia menggunakan perban yang sudah melingkar tak nyaman untuk menutupi matanya. Bersyukur hari-hari yang berat untuk Sungmin sudah berakhir. Setidaknya Kyuhyun sudah merasakan lega mengingat besok kekasih hatinya bisa melihat lagi. Tanpa sadar ia mengingat Seoyo yang beberapa hari ini menemuinya di taman ketika sedang mencari Sungmin. Tidak menyangka jika Seoyo adalah seorang pengajar untuk anak special seperti Sungmin. Gadis itu juga tidak bercerita bagaimana bisa ia menjadi seorang guru. Bahkan perasaan yang ia tumbuhkan untuk Kyuhyun saja ia tak pernah mau menceritakannya. Setidaknya Kyuhyun sudah lega sekarang. Seoyo sudah terlihat seperti teman semasa kecilnya lagi.

"Tidur yang nyenyak malaikatku… besok kau sudah bisa melihat lagi… aku mencintaimu Sungmin-ah~"

Sebuah kecupan rasa sayang ia layangkan di pipi manis milik malaikat cantiknya.

.

.

.

.

"Sayang~bangun…. waktumu mandi, sarapan dan pergi ke rumah sakit untuk mengecek matamu.."

Lelaki manis yang sedang meringkuk manja di hadapannya hanya bisa menggeliat nyaman. Kyuhyun terus memeluk gumpalan manis itu. Mengecup rambutnya, pipinya dan pucuk kepalanya. Sungmin benar-benar manis. Melebihi manisnya sebuah permen gula sekalipun.

"Eungh~ Kyunnie selamat pagi…." Ucapnya seraya meraba tubuh hangat yang memeluknya secara intens.

"Selamat pagi juga untukmu, sayangku~"

Kyuhyun beranjak dari berbaringnya. Membantu Sungmin untuk berdiri dan menggendongnya menuju kamar mandi. Lelaki manis itu hanya bisa bersabar saja dengan apa yang Kyuhyun lakukan untuknya. Sungguh sangat mengagumkan jika mengingat sudah banyak sekali hal yang Kyuhyun lakukan selama satu minggu ini. Mulai memandikan Sungmin disetiap pagi dan sore hari, membuatkan sarapan, bahkan sampai hal hal yang paling enggan untuk di kerjakan Kyuhyun pun harus bisa melakukannya. Betapa lelaki tampan ini mencintai Sungminnya.

Dua puluh menit berlalu untuk menyiapkan segala keperluan Sungmin, akhirnya Kyuhyun mempunyai waktu untuk membersihkan tubuhnya. Sungmin sedang menghabiskan sarapannya. Dua buah roti panggang dan selai strawberry dengan taburan keju diatasnya. Sungmin suka semua yang Kyuhyun masakan untuknya.

Ketika semua hal yang harus dibawa kerumah sakit sudah selesai, akhirnya Kyuhyun membawa Sungmin untuk keluar dari apartemennya. Dengan sabar lelaki gagah itu menggendongnya dengan hati-hati. Lengan Sungmin melingkar dengan sangat nyaman disekitar pundak jenjang Kyuhyun. hangat dan sangat harum.

"Kyunnie harum~"

"Mingie juga, saranghae…."

"Nado saranghaeyo…"

Membuka pintu mobil dengan tangan kanannya akhirnya dengan perlahan Kyuhyun menurunkan Sungmin dari gendongannya dan membantu kekasih manisnya untuk masuk dan duduk di kursi sebelah pengemudi. Tak lupa dengan sandaran empuk yang biasanya jadi sanggahan ketika Sungmin mengantuk.

"Sudah siap untuk berangkat?"

"Sudah siap!"

"Kalau begitu, Lets go~~"

"Lets go~~~"

Kyuhyun terkekeh melihat kekasih tercintanya ini begitu bahagia.

.

.

.

.

.

Ting Tong…. Ting Tong…..

Empat puluh lima menit perjalanan dari apartement Kyuhyun menuju caffe eomma Sungmin tidak berakhir sia-sia. Tidak harus menunggu lama eomma Sungmin untuk berbenah sedikit karena caffe harus tetap buka. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu sudah siap untuk pergi ketika Kyuhyun menekan bell di pintu masuk caffe. Para pelayan sudah siap dari pukul delapan pagi untuk membersihkan caffe lebih awal. Mereka tahu jika sang eomma pasti ingin melihat putra kesayangannya membuka perbannya di rumah sakit.

"Apakah Sungmin di dalam sedang tidur?" Tanya eomma Sungmin dengan sangat antusias. Wanita ini sangat merindukan putranya.

"Tidak eommanim. Sungmin sedang mendengarkan music. Apa eommanim ingin Sungmin pindah ke bangku belakang?" Tawar Kyuhyun seraya menuntunnya dengan sangat hati-hati menuju mobil.

"Jika kau tak keberatan." Eomma Sungmin menoleh dan tersenyum menggoda kearah Kyuhyun membuat lelaki tampan yang sedang menuntunnya ini terkekeh malu.

"tentu tidak eommanim…" Balas Kyuhyun dengan kekehan kecil.

Ketika mereka sudah berada di depan pintu mobil Sungmin, wanita paruh baya itu membuka pintunya dan mengecup pipi bulat sang putra tersayang memeluknya dan terus mencium pucuk kepala Sungmin. wanita ini sangat merindukan putranya.

"Sungmin-ah~~ bogoshipoyo~~"

Sungmin tau itu adalah sang emma. Dengan tak kalah antusias lelaki manis itu memeluk sang eomma dengan sangat erat. "Eomma! Nado bogoshipoyo~~"

Eomma Sungmin melepaskan pelukannya dan menatap putranya yang masih di balut perban di bagian mata indahnya. "Sudah siap?" Tanya sang eomma dengan senyum yang tak lepas dari bibir tipisnya.

Sungmin mengannguk.

"Kalau begitu duduk di belakang dengan eomma. Eomma sangat merindukanmu anak nakal!"

"Ne eomma~"

Tanpa meminta bantuan pada Kyuhyun, lelaki tampan yang masih berdiri di samping eomma Sungmin pun segera membantu Sungmin berdiri dan membawa Sungmin untuk duduk di belakang bersama sang eomma.

Mereka banyak berbincang. Walaupun mata indah itu masih belum bisa ikut berbicara.

.

.

.

.

.

"Bagaimana dengan keadaan mata Sungmin setelah tujuh hari di perban dok?" Tanya eomma Sungmin penasaran. Mereka sudah sampai di rumah sakit. Lebih tepatnya sudah sampai di tempat pemeriksaan khusus spesialis mata.

"Nyonya tenang saja. Mata Sungmin sudah membaik. Bahkan saya mengira akan sulit baginya untuk bisa melihat secara normal. Tapi sepertinya mata itu akan seperti sedia kala. Apakah Nyonya selalu membantunya untuk terapi?"

Eomma Sungmin merasa heran. Selama tujuh hari ini putranya tidak tinggal bersamanya. Apa jangan-jangan? Dengan segera eomma Sungmin melirik Kyuhyun yang duduk di sebelahnya.

"Kau yang melakukan terapi, Kyuhyun-ah?"

Kyuhyun mengangguk. "Ne eommanim. Seseorang mengatakan padaku untuk melakukan terapi pada Sungmin di pagi hari sebelum pukul sebelas pagi."

"Apakah kau membantunya untuk menatap matahari pagi?" Tanya Dokter.

"Ne… dan juga membuatkan makanan yang di dasari dari wortel."

"Kyuhyun-ah….." Eomma Sungmin berkaca-kaca

Kyuhyun tersenyum. "Untuk Sungmin apapun akan ku lakukan eommanim."

Eomma Sungmin tersenyum bahkan dokter pun ikut tersenyum mendengar jawaban dari lelaki yang sedang mengalami masa puber ini. Tapi bukankah masa puber itu terjadi pada usia belasan tahun? Itu sepertinya tidak berlaku untuk Cho Kyuhyun. Ketika ia menemukan Sungmin, mencintai Sungmin, disitulah ia merasakan jika masa pubertasnya sudah tiba.

"Baiklah kalau begitu, tolong bantu saya membawa Sungmin keruangan sebelah sana untuk memproses pembukaan perban." Ucap dokter santai pada para asistennya/perawat.

"Baik dok.."

"Dan Nyonya Lee, anda bisa menunggu disini. Untuk tuan Cho Kyuhyun kau bisa ikut bersama kami." Lanjut Dokter lagi

Sungmin yang tadinya sedang duduk di samping eomma dan asik mendengarkan musik melalui earphonenya kini sedikit terganggu. Kyuhyun melepas earphone itu dan membantu Sungmin untuk berdiri. "Ayo sayang, kau harus membuka perban mu. Supaya aku bisa melihat kristal hitam yang slalu membuatku terpesona."

Bibir Sungmin sedikit maju, membentuk M lucu. Kyuhyun menghela. Ayolah ini masih di rumah sakit. Bukan dirumahnya.

Setelah berjalan dan menuntun Sungmin, mereka akhirnya sampai tepat diruangan pemeriksaan. "Tolong baringkan Sungmin disebelah sana tuan Cho." Jelas Dokter dan menunjuk sebuah tempat tidur yang cukup hanya untuk satu orang.

"Baik Dok."

"Dan nona Park, tolong perisapkan alat-alat yang di butuhkan. Karena kita harus membiusnya terlebih dahulu. Agar pemeriksaan berjalan lancar."

"Kenapa harus di bius dok? Bukankah hanya dibuka saja?"

"Begini tuan Cho, kita bisa saja membuka tanpa membius pasien. Tetapi saya lebih menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti halusinasi tinggi dikarenakan rasa takut. Saya menghindari Sungmin merasa shock. Apalagi Sungmin adalah pasien spesial. Saya berharap semua berjalan dengan lancar."

Yang hanya bisa Kyuhyun lakukan saat itu adalah percaya, percaya dan percaya. Karena ia tidak ingin melihat Sungmin-nya panik dan sakit. Ia mengangguk dan mengiyakan yang dokter katakan.

Ketika semua sudah siap, Kyuhyun hanya memperhatikan dokter bekerja. Memulai dengan Sungmin dibius dan kehilangan kesadaran. Lelaki manis itu dari awal kedatangannya kerumah sakit memang dibuat setenang mungkin agar ia merusak moodnya hari ini.

Kyuhyun memejamkan mata dan berdoa dalam setiap hembusan nafasnya.

.

.

.

TBC~

.

Hallohaaaaaaaaa ^u^

Berapa tahun kita gak saling sapa di fanfic ini teman-teman? Maaf sekali yaaa... silahkan maki author sesuka kalian semua... memang author salah... author terlalu sibuk sama kehidupan author sampe sampe punya utang gak di beresin..

Sebenernya ini udh lama... lamaaaaaaaa banget jadi... cmn karena fanfiction di provider saya di blokir. Jadi malesssss banget bukanya... (sekarang pake bantuan internet proxy pluss lambad baud) hahaha

Semoga teman teman masih ada yang mau baca yaaa... sekali lagi terimakasi... alafyu 3