A/N: Makasih bagi yang membaca apalagi review! Karena log in pakai app jadi masih gaptek dan nggak bisa balas orz.

Genderbender, Parody Please save my Earth

Warning! Shounen-ai! Incest (kalo pedang se-family bisa disebut incest)! Shota (Ichigo masih SD)! Maybe OOC and typo.

NB: Sejarah pedang yang dimasukan cuma sedikit kok, tapi nanti akan dijelaskan saat mode flash back.

0.0

"Sanjou-san, maaf apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya seorang lelaki berambut hijau yang membuat semua orang di ruangan itu langsung tersedak.

"Ketua! Jangan menggoda ketua osis sekolah lain!" seru salah seorang lelaki berambut putih yang berasal dari sekolah yang sama dengan lelaki yang disebutnya ketua.

"Tsuru, sejak kapan aku menggoda Sanjou-san?" tanyanya.

"Sejak tadi! Hah, kenapa juga aku terkejut," ujar lelaki yang dipanggil Tsuru itu.

"Emm, Kabizen-san…"

"Panggil saja Ugui," suruh Ugui pada Mika yang berada di meja terjauh darinya.

"Kenapa langsung pakai nama kecil?! Yang kayak gitu namanya flirting tahu! Flirting!" jerit Tsuru yang tiba-tiba melakukan tsukkomi.

"Onaya, kalau begitu Ugui-san bisa memanggilku Mika."

"Langsung dipanggil pakai nama kecil?!" seru Tsuru yang membuat orang-orang disekitarnya menepuk-nepuk pundaknya. Mereka sudah pasrah dengan ketua osis sekolah masing-masing.

"Kalau begitu Mika, apa kamu ada waktu setelah ini?" tanyanya yang langsung membuat Tsuru semakin pusing kepala. Rasanya dia ingin melakukan tsukkomi tapi sudah terlalu lelah. "aku ingin membicarakan sesuatu, bersama dengan Tsuru."

"Eh? Aku?" bingung Tsuru saat tiba-tiba namanya dipanggil.

"Tentu, bagaimana kalau kita ke sebuah café saja?" tanyanya yang langsung disetujui oleh Ugui sementara Tsuru sedang berusaha mencerna pembicaraan mereka berdua.

0.0

Mikazuki memandang bumi dan tersenyum. "Lihat, hari ini bumi terlihat cantik," ujarnya yang membuat lelaki berambut putih di sebelahnya tersenyum.

"Setelah laporan ini selesai, kita bisa minum teh sambil melihat bulan," usul seseorang yang memakai topeng berbentuk U terbalik di wajahnya.

"Onaya, itu ide bagus. Pasti menyenangkan, minum teh sambil melihat bumi lagi hari ini."

0.0

"Selamat datang Sanjou-san," sapa salah seorang waiter cantik yang ada di café yang mereka datangi.

"Selamat sore Samonji-kun, apa ada meja kosong?" tanya Mika saat melihat café tersebut dipenuhi oleh wanita.

"Mari aku antar!" ajak lelaki berambut pink ke salah satu meja yang berada di pojok ruangan. "kalau ingin memesan, tolong panggil saja. Aku pergi ke meja yang lain dulu," ujarnya setelah meletakkan daftar menu di meja.

"Ano, Sanjou-san. Kenapa kamu bisa tahu tempat ini?" tanya Tsuru yang merasa agak risih karena merasakan pandangan yang tertuju pada ketiga lelaki itu.

"Aku tidak sengaja mengenal salah satu pemilik tempat ini. Lagipula karena masakannya enak, aku sering kemari," ujarnya sementara Tsuru hanya bisa tersenyum hambar. "Ugui-san, apa yang ingin kamu tanyakan?" tanyanya.

"Sebenarnya… Mika-san, apa kamu percaya tentang kehidupan masa lalu?" tanya Ugui yang membuat mata Tsuru membesar.

"Eh?! Apa Sanjou-san juga bagian dari 'itu'?"

"Itu?"

"Kehidupan masa lalu! Apa Sanjou-san juga bermimpi mengenai kehidupan masa lalu?" tanyanya yang telah menemukan semangatnya kembali. Mika memandang keduanya dan menggelengkan kepala.

"Maaf, tapi aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan," ujarnya. "tapi kehidupan masa lalu yang seperti apa yang kalian tanyakan?"

"Kehidupan di bulan," jawab Ugui yang membuat lelaki berambut biru di depannya terdiam. "Aku dan Tsuru bermimpi mengenai kehidupan di bulan."

"Sebenarnya tidak benar-benar hidup di bulan. Aku, Ugui dan yang lain seperti sedang mengawasi bumi dari bulan atau pesawat luar angkasa atau sesuatu. Sepertinya itu mimpi dari masa lalu."

"Ada tujuh orang yang ada di sana. Aku, Tsuru, orang yang mirip dengan Mika-san, dan empat orang lagi," lanjut Ugui.

"Tunggu Ugui, maksudmu dengan orang yang mirip dengan Sanjou-san itu…"

"Mikazuki Munechika, gadis yang kamu sukai."

"EHHHH?!" jerit Tsuru yang kali ini mengundang pandangan yang berbeda dengan yang tadi diterimanya.

"Onaya, terima kasih atas pujiannya. Tapi seperti yang kalian lihat aku laki-laki," ucap Mika yang langsung membuat Tsuru melihatnya dari atas kebawah.

"Karena itu aku tidak yakin," jawab Ugui. "meskipun penampilanku dengan saat masih ada di bulan jauh berbeda, tapi aku tidak yakin dengan jenis kelamin. Hanya saja karena penampilan Tsuru sama dengan saat masih ada di bulan, aku langsung mengenalinya," lanjutnya. Tsuru mengangguk dengan bangga.

"…sejak kapan kalian memimpikannya?" tanya Mika sambil membuka-buka daftar menu di meja. Sejak mereka memulai bercerita, lelaki itu mencoba untuk tidak memandang langsung mata lawan bicaranya. Hanya saja kedua lelaki dari sekolah lain itu tidak menyadarinya.

"Kalau aku sudah sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Namaku saat masih ada di bulan Uguisumaru Tomonari. Tapi lebih biasa dipanggil Tomonari," jawab Ugui.

"Ah, kalau aku baru setahun ini saja. Namaku Tsurumaru Kuninaga," jelasnya yang membuat tangan Mika yang membolak-balik daftar menu itu terdiam sesaat sebelum tersenyum tipis dan memandang keduanya.

"Lalu gadis yang disukai Gojou-san?"

"Mikazuki Munechika. Dia gadis bersuara terindah yang pernah aku dengar. Oh ya, dia orang terakhir yang masuk ke dalam tim, dan paling cantik!"

"Itu karena selain dia tidak ada gadis lagi di dalam tim," ingat Ugui pada Tsuru yang terlalu heboh.

"Tapi aku kira awalnya kamu wanita!" omel lelaki berambut putih itu.

"Bukankah aku sudah bilang dari awal, kalau aku tidak seperti yang kalian bayangkan," belanya.

"Tapi kata-katamu terlalu ambigu tahu!"

0.0

"Mika, aku dengar kamu menjaga Ichigo saat liburan. Apa itu benar?" tanya Kogi saat saudaranya itu baru saja mengganti pakaiannya. Lelaki berambut putih pendek itu berdiri di sisi pintu sambil mengawasi saudaranya yang mengantung seragamnya.

"Benar, dan aku berniat menemaninya pergi ke perpustakaan hari libur nanti," jawab lelaki itu. Kogi berjalan memasuki ruangan kemudian duduk di kasur dan menatap Mika.

"Dia bukan Tenka Hitofuri, dia Ichigo Awataguchi," ingatnya. Dia bisa melihat sosok Mika yang terkejut. Sorot matanya yang berubah pedih, dan bahunya yang sedikit bergetar.

"…aku tahu. Tapi hari ini aku melihat dua orang yang lain," ujarnya yang membuat lelaki di depannya itu mengerutkan dahi.

"Dua orang?! Bagaimana bisa? Selama ini kita berdua tidak pernah menemukan mereka. Kenapa tiba-tiba sampai ada tiga orang berkumpul?" tanyanya bertubi-tubi. Mika hanya menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu, tapi mereka mempunyai ingatan yang sama sepertiku," jawab lelaki cantik itu. "setidaknya aku bisa mengelabui mereka."

"Mengelabui? Bukannya katamu wajahmu dan Mikazuki mirip?" Mika tersenyum tipis. Kogi menyipitkan mata dan mendesah, tahu bahwa maksud saudaranya itu adalah jenis kelaminnya. Dia ingat jawaban saudaranya saat dulu dia menanyakannya.

0.0

"Nee, Mika. Kalau awalnya kamu perempuan kenapa sekarang jadi laki-laki. Ah! Apa kamu sudah bosan ya?" tanya Kogi saat mereka bermain balok bersama di TK. Karena sedang tidak ada anak lain yang bermain, Kogi bisa bertanya mengenai mimpi yang dirahasiakan saudaranya itu.

"Hmm… mungkin karena Mikazuki tidak ingin terlahir lagi sebagai perempuan," jawabnya.

"Apa karena mereka aneh?" tanya Kogi sambil memandang sekumpulan anak perempuan yang sedang bermain, terpisah jauh dari mereka.

"Aku tidak tahu. Belum sampai di bagian itu. Lagipula aku masih melihat sekilas-sekilas."

"Eh? Jadi aku masih harus menunggu?" omelnya. Saudaranya tertawa lebar sementara Kogi memancungkan bibirnya.