Disclaimer © Masashi Kishimoto
"OUR DESTINY"
Story by 'Ms. Hatake Yamanaka'
Pairing : Hatake Kakashi X Hanare
Warning : Semi Canon, OOC, Little bit Humor
Genre : Romance, Adventure, Drama
Rate : T
"Takdir. Aku tidak pernah mengerti tentangnya. Yang kutahu dia sangatlah kejam terhadapku. Takdir tidak pernah sekalipun berpihak padaku. Membuat orang-orang yang kusayangi selalu meninggalkanku. Orangtuaku, teman-temanku, dan guruku meninggalkanku karena ketidakmampuanku untuk melindungi mereka. Membuatku hidup dalam kesendirian, kesepian, dan rasa bersalah yang selalu menghantuiku. Namun, untuk sekali ini saja aku ingin takdir berpihak padaku. Aku tidak ingin merasakan yang namanya kehilangan lagi. Aku tidak ingin kehilangan wanita yang menyayangiku meninggalkanku karena aku tidak bisa melindunginya. Ijinkan aku merasakan kebahagiaan dalam hidupku bersamanya. Bersama wanita yang mau menerimaku dan mencintaiku. Bersama wanita yang ingin kulindingi dengan segenap kekuatanku." - HATAKE KAKASHI
"Aku di takdirkan selalu sendirian di dunia ini. Tidak ada seorangpun yang mencintai dan menyayangiku. Sampai akhirnya aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya. Pria yang membuatku merasakan cinta, untuk pertama kalinya. Dan aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya kembali setelah sekian lama. Bertemu untuk ketiga kalinya. Untuk kembali melihat wajahnya. Kembali mendengar suaranya. Dan... Kembali jatuh cinta padanya untuk yang kesekian kalinya. Jatuh cinta kepada pria yang sama. Pria yang menjadi cinta pertamaku. Pria yang memenuhi pikiran dan hatiku. Dan kuharap dia di takdirkan untukku." - HANARE
Chapter 3
Enjoy My Story!
.
.
.
Terlihat Shizune, Ino, dan Hinata menghampiri mereka. Raut wajah mereka terlihat bingung dan penasaran melihat seseorang di samping Sakura.
"Oh, Shizune-senpai, Ino, Hinata.. Kalian disini juga? Maaf aku terlalu lama keluar tadi." Sakura menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merasa tidak enak.
"Hmm, siapa dia?" Ino tidak menjawab Sakura dan malah bertanya.
"Oh, kenalkan ini Hanare nee-chan. Hanare nee-chan seorang ninja medis juga, ia akan membantu kita disini."
"Halo, aku Hanare, senang bertemu dengan kalian semua. Dan sebenarnya aku bukan seorang ninja medis, tapi aku menguasai beberapa ninjutsu medis." Hanare tersenyum ramah, ia meralat perkataan Sakura.
"Ah, benar, maksudku Hanare nee-chan menguasai ninjutsu medis. Ia juga pernah mengoperasi sebelumnya, jadi dia bisa membantu kita untuk melakukan operasi."
"Oh begitu, kenalkan aku Yamanaka Ino, aku adalah teman Sakura dan aku ninja medis juga, senang bertemu denganmu Hanare-san." Kedua wanita cantik itu berjabat tangan.
"Halo Ino-chan, senang bertemu denganmu, dan panggil saja aku nee-chan seperti Sakura.." Ino tersenyum, ia pikir Hanare adalah wanita yang cantik dan ramah.
"A-aku Hyuga Hinata, aku teman Sakura-chan juga. Senang bertemu denganmu Hanare-san.."
"Senang bertemu denganmu Hinata-chan, dan panggil saja aku nee-chan.." Hinata tampak malu-malu namun ia mengangguk.
"Namaku Shizune, aku adalah ninja medis sekaligus senior Sakura. Senang berkenalan denganmu Hanare-san, dan mohon bantuannya." Shizune tersenyum ramah saat berjabat tangan dengan Hanare.
"Senang berkenalan denganmu juga Shizune-san, dan panggil saja aku Hanare.. Aku akan berusaha semampuku.." Hanare tersenyum senang mereka semua mau menerimanya, mereka sangat sopan dan ramah padanya.
"Hmm, Hanare aku baru pertama kali melihatmu." Ujar Shizune, wajahnya terlihat bingung dan menatap Hanare meneliti. Saat Hanare akan menjelaskan, Sakura menyelanya.
"Oh, Hanare nee-chan adalah teman Kakashi-sensei. Hanare nee-chan berasal dari desa Jomae, dia sedang mengembara ke beberapa negara dan tidak sengaja mendengar tentang penyerangan Pain ke Konoha. Jadi, Hanare nee-chan langsung datang kemari untuk membantu kita." Hanare memandang Sakura terkejut mendengar penjelasannya, Sakura hanya tersenyum ke arahnya. Dia membalas senyuman Sakura, 'Terima kasih Sakura.'
"Oh iya, aku ingat! Aku pernah melihat Kakashi-sensei dan Hanare nee-chan, tapi kapan dan dimana ya?." Ino mencoba mengingat-ngingat, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk dagunya.
"Ah, sebaiknya kita segera melakukan operasi, lebih cepat lebih baik bukan?" Kata Sakura cepat-cepat, ia mencoba menghentikan mereka bertanya macam-macam pada Hanare.
"Ah, kau benar Sakura. Hanare apa kau siap melakukan operasi sekarang?" Tanya Shizune.
"Tentu saja Shizune-san, aku akan membantu semampuku." Hanare tersenyum tulus.
"Baiklah, ayo ikuti aku semuanya!"
"Kalau begitu aku permisi dulu, semoga berhasil operasinya.." Hinata pamit untuk pergi, ia melambaikan tangannya dan keluar. Ino dan Sakura balas melambaikan tangannya. Mereka berjalan mengikuti Shizune ke bagian sebelah timur posko, terdapat beberapa ruangan yang disekat dengan kain berwarna putih memisahkan ruangan satu dengan yang lainnya. Ada sekitar 10 ruangan, di atas ranjang setiap ruangan terdapat pasien yang tidak sadarkan diri. Mereka dalam keadaan kritis.
"Jadi, siapa yang akan di operasi sekarang senpai?" Tanya Sakura, wajahnya terlihat serius. Mereka berhenti di ruangan paling pojok.
"Kita akan mengoperasi Takuma terlebih dulu. Dadanya terluka parah, paru-parunya tertusuk dan hampir mengenai jantungnya. Jadi, kita harus segera mengoperasinya. Ini laporan medis Takuma, kalian pelajari lebih dulu. Kita akan mengoperasinya 20 menit lagi, aku akan menyiapkan ruang operasinya, kalian juga bersiaplah!"
"Baik!" Hanare, Sakura, dan Ino menjawab serentak. Mereka segera membaca laporan medis Takuma.
"Ini akan sulit, lukanya sangat parah. Dia beruntung, sedikit lagi tusukan akan mengenai jantungnya." Ino bergidik ngeri.
"Kau benar Ino, ini sangat mengerikan!" Sakura juga merasa ngeri sekaligus kasihan.
"Kalau begitu aku akan bersiap, dimana tempat penyimpanan barang?" Tanya Hanare setelah selesai membaca laporan medis.
"Hm?" Sakura dan Ino menggumam tidak mengerti.
"Aku ingin menyimpan shamisen dan tasku, aku tidak mungkin membawa ini saat operasi bukan?" Hanare tertawa kecil saat menunjukkan punggungnya.
"Oh, kau bisa menyimpan itu di ruanganku. Mari aku antar!" Hanare dan Sakura bergegas ke arah utara bagian tenda. Ada sebuah ruangan yang juga disekat dengan kain, mereka masuk kesana. Terdapat sebuah meja dan 2 kursi disana, di atas meja banyak kertas yang menumpuk. Ini adalah ruang jaga Sakura.
"Kau bisa menyimpannya disini. Aku pergi duluan ya, aku harus membantu Shizune-senpai. Ruangan operasinya ada di ujung bagian utara."
"Terima kasih Sakura-chan, aku akan segera menyusul." Sakura mengangguk dan meninggalkan Hanare. Hanare segera meletakkan barang-barangnya, melepas topi, dan mengikat rambutnya ekor kuda. Ia segera bergegas ke ruang operasi. Setelah memindahkan Takuma ke ruang operasi, mereka berempat segera memulai operasinya.
Tiga jam kemudian mereka telah selesai melakukan operasi. Keringat tampak jelas di wajah mereka, lalu mereka segera melepas jubah yang di pakai operasi namun tetap saja terdapat noda darah di beberapa bagian pakaian mereka. Hanare menghela nafasnya pelan, wajahnya tampak lelah bercampur lega. Hanare telah bekerja keras dan mengeluarkan banyak chakra, tubuhnya terasa sedikit lemas.
"Akhirnya kita telah berhasil mengoperasinya, dia sekarang akan baik-baik saja dan kita tinggal menunggu sampai dia sadar. Kalian telah bekerja keras, sekarang kalian beristirahatlah! Hanare terima kasih telah membantu kami, wajahmu terlihat pucat, kau terlalu banyak mengeluarkan chakra. Walaupun kau bukan ninja medis, tapi kau sangat hebat, beristirahatlah!" Ujar Shizune, dia juga terlihat kelelahan.
"Sama-sama, aku senang bisa membantu kalian. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku tidak sehebat kalian, aku juga ingin mempelajari ninjutsu medis lebih banyak lagi. Kalian semua telah bekerja keras, semoga Takuma-san bisa segera pulih. Senang bisa bekerja sama dengan kalian semua."
"Kalau begitu aku pergi dulu, aku akan menyuruh Yuki memantau Takuma, dan akan beristirahat sebentar. Sakura dan Ino kalian bisa pulang sekarang, sampai jumpa." Shizune meninggalkan mereka bertiga.
"Hati-hati!" Ucap mereka berbarengan.
"Haah sungguh melelahkan, rasanya aku ingin tidur seharian ini. Hanare nee-chan kau sangat hebat, aku saja baru pertama kali mengoperasi pasien seperti ini." Ino terlihat lemas dan kelelahan.
"Iya, kau sangat hebat Hanare nee-chan. Kau sangat berbakat dan terampil walaupun bukan seorang ninja medis." Sakura menyetujui pendapat Shizune dan Ino, Hanare memang hebat.
"Tidak, kalian lebih hebat dariku. Dan memang, operasi ini sangat menguras chakra. Shizune-san benar, kalian harus istirahat."
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya Sakura, Hanare nee. Senang bekerja bersama kalian, sampai jumpa!" Ino melenggang pergi sambil memijat pelan lehernya.
"Aku juga harus pergi Sakura-chan, aku akan mengecek keadaan Takuma-san nanti malam."
"Baiklah, aku akan pulang dulu dan beristirahat. Jangan memaksakan diri Hanare nee, Yuki-nee akan memantau keadaan Takuma-san. Ayo aku antar ke ruanganku!"
"Tidak apa-apa, aku ingin melihat sendiri keadaan pasienku." Mereka berdua berjalan menuju ruangan Sakura. Sesampainya disana Sakura pergi untuk mengecek kondisi pasiennya meninggalkan Hanare di ruangannya. Hanare segera mengambil barang-barangnya kembali, ia lalu mengganti pakaiannya yang kotor dipenuhi darah.
"Sudah selesai?" Tanya Hanare pada Sakura.
"Ya, ayo kita pergi!" Mereka pergi meninggalkan posko medis.
"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa Sakura-chan!" Hanare melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa, hati-hati nee-chan!"
Hanare terus berjalan, ia tersenyum senang bisa bertemu dan bekerja sama dengan mereka. Mereka sangat baik dan ramah padanya. Baru kali ini ia merasakan bagaimana rasanya memiliki rekan kerja. Ia teringat melihat sebuah sungai di hutan di pinggiran desa dekat posko medis, ia akan mencuci pakaiannya disana lalu mulai mencari penginapan.
- OUR DESTINY -
Kakashi menghampiri Sai yang tengah menulis sesuatu dibawah pohon di pinggiran hutan desa Konoha. Ia berjongkok didepan Sai dan membuatnya terkejut.
"O-oh!"
"Tolong jangan ceritakan kegiatan Naruto saat kau melapor pada Hokage. Katakan saja tidak ada pergerakan." Perintah Kakashi datar dan membuat Sai terkejut.
"Sepertinya kau belum percaya padaku." Balas Sai dan kembali menatap Kakashi datar.
"Kau bekerja dibawah Danzo dan tugasmu adalah mengawasi Naruto." Kini Kakashi menatap Sai dan membuatnya menundukkan wajah.
"Tapi, kau juga bagian dari tim Kakashi, tim 7. Jadi, aku juga percaya padamu." Tambah Kakashi tersenyum menyipitkan matanya, membuat Sai kembali menatapnya dengan mata terbelalak.
Perasaan apa ini?
"Sampai jumpa!" Pamit Kakashi tersenyum kembali terlihat dari matanya yang menyipit dan mengangkat jempolnya, kemudian menghilang bersamaan dengan hembusan angin.
'Perasaan ini.. Rasanya sangat berbeda. Inikah perasaan terikat yang dimaksud Naruto?' Pikir Sai yang terbengong melihat kepergian Kakashi, namun beberapa detik kemudian Sai menyunggingkan sebuah senyuman tulus. Bukan senyum palsu seperti biasanya. Ia segera mengerjakan tugasnya, menulis laporan tentang Naruto dan membuka sebuah gulungan kertas menuliskan beberapa kalimat. Lalu Sai merapal sebuah jutsu membuat tulisan itu berubah menjadi sebuah burung tinta dan melesat terbang.
Ia teringat lagi saat melakukan misi dengan tim Kakashi. Saat itu mereka akan bertemu Kabuto di sebuah jembatan, mereka melawan Kabuto dan Orochimaru. Naruto hilang kendali dan mengeluarkan beberapa ekornya, dia melawan Orochimaru sendirian. Setelah mereka selesai bertarung dan Kyubi dalam tubuh Naruto sedang disegel kembali oleh Yamato, Sai segera memberikan surat dari Danzo untuk Orochimaru dan meninggalkan Naruto, Sakura, dan Yamato. Ia pergi bersama Orochimaru dan Kabuto ke tempat persembunyian mereka.
Akhirnya ia bertemu dengan Sasuke, dan berniat membunuh Sasuke atas perintah Danzo. Namun, ia tidak membunuhnya dan malah membantu Naruto. Saat itu, Sai merasa terikat dengan Naruto, ia juga ingin menjadi teman Naruto dan memiliki ikatan seperti Naruto dan Sasuke. Walaupun rencana mereka gagal membawa Sasuke kembali ke desa.
- OUR DESTINY -
Terlihat dua orang bertopeng memakai jubah putih, tengah memperhatikan Naruto dan Konohamaru yang sedang saling berhadapan dari balik semak-semak.
"Hei... Ada apa?" Tanya salah satu dari mereka merasa heran.
"Aku tak yakin. Apa yang mereka lakukan?" Mereka sama-sama kebingungan dengan kegiatan Naruto dan cucu Sandaime Hokage itu.
"Haaaa..." Seru Konohamaru sambil membuat segel tangan dengan wajah yang serius.
"Haaaa..." Seru Naruto tak kalah lantang dari Konohamaru.
"Oiroke no Jutsu!" Teriak mereka bersamaan dan melepaskan sebuah jurus.
"Ha?" Tanya dua orang itu bingung mendengar teriakan jurus Naruto dan Konohamaru.
Namun, sebelum mereka berhasil melihat jurus Naruto, tiba-tiba Kakashi muncul di hadapan mereka dan memperlihatkan sharingan miliknya. Tak lama kemudian dua orang bertopeng itu tumbang ke belakang dan tidak sadarkan diri. Mereka telah terkena genjutsu Kakashi.
"Kalian dapat memata-matai Naruto di mimpi kalian. Atau kalian ingin melihat Oiroke no Jutsu-nya ya.. Maaf ya..." Ucap Kakashi datar menatap dua orang berjubah putih itu.
"Tapi sepertinya Sai sudah tidak di percayai lagi oleh Ne." Duga Kakashi melirik kedua orang itu dan kembali menutup mata kirinya.
"Eh~ Lihatlah perbedaan Oiroke kita!" Rengek seorang perempuan terdengar kesal, membuat Kakashi menoleh ke belakangnya menatap dua orang yang dari tadi menjadi perhatian dua orang berjubah itu. "Mereka..."
"Sialan! Aku kalah! Nii-chan selalu mengalahkanku terus padahal aku adalah rivalmu." Perempuan itu telah berubah menjadi Konohamaru yang sedang merengut sebal, membuat Naruto menyeringai.
"Aku dengar," Ucap Naruto menggantung membuat Konohamaru mendongak. "Huh?" Tanya Konohamaru bingung. "Kau mengalahkan salah satu Pain dengan rasengan-mu, benar?" Tanya Naruto dengan cengiran lebarnya.
Konohamaru menunduk dan kedua pipinya terlihat memerah. "Saat itu aku sedang terpojok." Jawabnya lirih, "Kerja bagus Konohamaru! Kau juga merupakan pahlawan desa!" Seru Naruto tersenyum sambil mengacak rambut coklat Konohamaru membuatnya kembali mendongak.
"Kau lebih cepat menguasainya daripada aku!" Puji Naruto dan melepaskan tangannya membuat Konohamaru terharu dan mengeluarkan air mata. "Lain kali aku akan mengajarkan Oodama Rasengan!" Lanjut Naruto dan berbalik pergi.
"Oke!" Teriak Konohamaru bersemangat membuat Kakashi kembali tersenyum menyipitkan matanya. Ia sangat senang melihat keakraban yang terjalin di antara Naruto dan Konohamaru.
- OUR DESTINY -
Kakashi melesat pergi melompati dahan-dahan pohon meninggalkan Naruto dan Konohamaru, ia menuju kembali ke desa dan berencana mencari informasi tentang Danzo. Ia tidak bisa bertanya pada Sai karena Danzo telah memberinya segel kutukan.
'Sebenarnya apa yang dia rencanakan dengan menyuruh Sai mengawasi Naruto? Dan apakah dengan memanfaatkan Tsunade-sama yang sedang koma, lalu mengajukan diri dan menggantikannya menjadi Hokage agar semua rencananya berjalan lancar, tapi apa rencana Danzo sebenarnya?' Kakashi khawatir dengan keadaan ini, dia tidak setuju diangkatnya Danzo sebagai Hokage.
Ia tahu betul reputasi Danzo selama ini, bahkan ia pernah terhasut oleh Danzo setelah kematian Hokage ke-4 yaitu Namikaze Minato yang tak lain adalah gurunya sekaligus ayah Naruto, dan juga istrinya Kushina yang tak lain adalah ibu Naruto. Kakashi pernah bekerja dibawah Danzo, saat itu ia masih sangat muda dan tidak tahu mengenai Danzo, dan ia sangat menyesal telah bekerja padanya. Danzo terkenal kejam dan sangat licik dia menghalalkan segala cara untuk melindungi desa sekaligus menguasai desa. Danzo selalu berambisi untuk menjadi Hokage dan merubah sistem yang dibuat oleh Hokage ke-3 Sarutobi Hiruzen. Walaupun Danzo memiliki niat yang baik untuk melindungi Konoha, tetapi dia melakukannya dengan cara yang salah.
Tiba-tiba dari kejauhan Kakashi melihat Hanare sedang terduduk di pinggiran sungai. Hanare terlihat mencelupkan tangannya kedalam aliran air sungai.
"Hm?" Gumam Kakashi bingung, ia segera mendekati Hanare.
"Apa yang kau lakukan disini?" Hanare terkejut melihat Kakashi sudah berada disampingnya.
"Oh, aku sedang mencuci beberapa kain yang kugunakan saat melakukan operasi tadi. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya balik Hanare, ia merasa bingung dengan keberadaan pria itu di hutan seperti ini.
"Aku ada urusan tadi dan tidak sengaja melihatmu, dan langsung saja kemari. Operasinya berjalan lancar?" Kini Kakashi berjongkok di samping Hanare dan memperhatikan kegiatan wanita itu.
"Oh begitu, operasinya berjalan lancar. Kendalanya hanya kami kekurangan peralatan medis, jadi kami harus menggunakan chakra yang cukup banyak untuk melakukan operasi. Membuat kami semua kelelahan.." Hanare tertawa walaupun ia kelelahan ia terlihat senang. Kakashi ikut tersenyum di balik maskernya, entah mengapa ia merasa senang melihat Hanare tertawa. Ini pertama kalinya ia mendengar tawa Hanare yang terdengar indah di telinganya.
"Wajahmu terlihat pucat, apa kau sakit?" Kakashi sedikit khawatir melihat wajah pucat Hanare.
"Aku hanya kelelahan saja, operasi tadi cukup menguras chakraku. Tapi, aku baik-baik saja." Hanare tersenyum kecil menenangkan Kakashi.
Setelah selesai mencuci, ia segera menjemurnya di atas batu. Lalu Hanare mulai membersihkan tangan, kaki, dan wajahnya. Kakashi terdiam dan hanya memperhatikan apa yang dilakukan Hanare, entah kenapa ia tidak merasa bosan memandangi wanita itu. Kakashi merasa terpesona mungkin? Entahlah. Setelah selesai Hanare mengambil handuk kecil dari tasnya, ia segera mengeringkan wajah, tangan, dan kakinya.. Hembusan angin membuat rambut panjang Hanare melambai-lambai di sekitaran wajahnya dan membuat Kakashi terpaku melihat wanita di hadapannya ini.
'Sangat cantik..' pikirnya. Beberapa detik kemudian, ia segera menggelengkan kepalanya pelan.
'Apa yang kupikirkan?'
Ia kembali memandang Hanare, dan terkejut melihat Hanare yang sedang menatapnya bingung. Mereka berdua saling bertatapan cukup lama, menyelami kedalaman mata satu sama lain. Beberapa detik kemudian, Hanare segera menundukkan kepalanya, terlihat semburat merah di kedua pipinya membuat Kakashi tersenyum. Setiap kali Hanare tersipu malu dan wajahnya memerah, entah kenapa membuat Kakashi merasa senang melihatnya, apalagi Hanare seperti itu disebabkan olehnya.
"Terima kasih telah mempercayaiku Kakashi-san. Aku senang sekali bisa kembali ke desa ini lagi, mereka menerima kehadiranku disini dengan sangat baik dan ramah padaku. Terima kasih telah meyakinkan mereka." Hanare tersenyum tulus pada Kakashi.
"Sama-sama, aku juga berterima kasih karena kau mau membantu kami."
"Ini pertama kalinya untukku, memiliki rekan dan bekerja sama dengan mereka, rasanya sungguh menyenangkan. Sakura-chan, Shizune-san, dan Ino-chan adalah ninja medis yang sangat hebat. Mereka telah bekerja keras merawat orang-orang." Hanare kembali mengingat saat mereka sedang mengoperasi Takuma.
"Ya, mereka adalah ninja medis terbaik yang dimiliki Konoha. Hokage ke-5, Tsunade-sama merupakan salah satu sannin legendaris, dia seorang ninja medis yang sangat hebat, mereka bertiga adalah muridnya." Kakashi menjelaskan, ia jadi teringat dengan keadaan Tsunade yang sedang koma.
"Ya, aku pernah mendengar tentangnya. Tsunade-sama adalah legenda ninja medis, dia menjadi panutan di dunia medis. Aku harap bisa bertemu dengannya." Balas Hanare dan tersenyum kecil, ia sangat berharap bisa bertemu wanita hebat itu.
"Tsunade-sama sedang koma, ia terluka parah saat penyerangan Pain." Ucap Kakashi sambil menerawang mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
"Koma?!'' Hanare sangat terkejut mendengar penuturan Kakashi, ia tidak mendengar berita ini saat di Suna. "Hm." Jawab Kakashi singkat. ''Kuharap dia segera sadar dan pulih kembali..." Hanare menunduk sedih, ia tidak menyangka shinobi panutannya tengah mengalami koma.
"Aku harap juga begitu." Kakashi menenggakkan kepalanya dan melihat awan, Hanare mengikutinya.
"Aku masih teringat ucapanmu padaku saat kau menggendongku waktu kecil." Hanare teringat kejadian 15 tahun yang lalu. Kakashi menengok ke arah Hanare, meneliti wajahnya yang sedang menghadap ke arah langit, rambutnya melambai-lambai membingkai wajah cantik Hanare, sungguh pemandangan yang indah baginya.
"Kau mengatakan padaku untuk melihat awan ketika aku merasa sendiri. Karena awan dapat berubah bentuknya, sehingga kau dapat membayangkan hal yang kau ingingkan." Jelas Hanare tersenyum dan masih memandangi gumpalan awan putih di langit yang terlihat cerah hari ini. Ya, Kakashi ingat saat melihat pikiran Hanare tentangnya waktu kecil.
Kakashi masih bungkam dan melihat wajah wanita di sampingnya ini. "Kau mengatakan selama kau memiliki harapan, awan akan selalu menjawab harapanmu. Aku selalu mencari kemiripan dirimu di awan." Lanjut Hanare dan menolehkan wajahnya menatap lembut Kakashi. Mereka kembali bertatapan. Wanita itu tersenyum manis.
"Kau tidak berubah sama sekali Kakashi-san, kau masih terlihat sama saat terakhir kali kita bertemu." Kakashi terus menatap dan mendengarkan suara lembut Hanare, ia tidak berniat untuk menyelanya. Mereka saling menyelami kedalaman mata masing-masing.
Hanare melepaskan tatapannya terlebih dulu, kepalanya kembali mendongak ke arah langit. Kakashi bisa melihat semburat merah di pipi Hanare, ia kembali tersenyum di buatnya. "O-oh ya, umm, kalau begitu jika Tsunade-sama sedang koma, siapa yang menggantikannya menjadi Hokage saat ini?" Tanya Hanare sedikit gugup, membuat Kakashi menyeringai tipis
"Shimura Danzo." Raut wajah Kakashi segera berubah serius setelah menyebut nama itu.
"Apa?! Danzo yang menjadi Hokage?!"
"Ya, apa kau mengetahui tentangnya?"
"Aku pernah mendengarnya, bukankah dia terkenal kejam dan licik? Dia juga pernah menjadi sekutu Hanzo si salamander bukan?" Kakashi terkejut, ia tidak menyangka Hanare mengetahuinya.
"Bagaimana kau tahu?!"
"Aku pernah memata-matainya beberapa tahun yang lalu, namun aku segera menghentikannya. Dia terlalu berbahaya, Danzo bahkan memberikan segel kutukan di lidah anak buahnya, itu sungguh mengerikan dan keterlaluan."
"Apa lagi yang kau tahu tentang Danzo?"
"Hanya itu yang ku tahu, aku berhenti memata-matainya dan hampir tertangkap oleh Anbu." Mereka berdua terdiam, Hanare melirik Kakashi.
"Apa kau tidak menyetujui pengangkatan Danzo menjadi Hokage?"
"Ya, bisa di bilang begitu." Kakashi menghela nafasnya.
"Jika Tsunade-sama telah pulih kembali, apakah pengangkatan Hokage bisa dibatalkan?"
"Mungkin bisa, tapi aku juga tidak tahu. Semoga saja Tsunade-sama segera sadar dari komanya."
"Iya, semoga saja. Hmm, Kakashi-san.. Aku berencana mencari penginapan dan menginap beberapa hari disini. Tapi dengan kondisi desa yang seperti ini, apakah kau tahu dimana aku bisa mencari sebuah penginapan?"
"Hm? Penginapan ya? Aku rasa untuk sekarang belum ada sebuah penginapan. Konoha benar-benar hancur, dan warga desa masih sibuk untuk membangun rumah mereka sendiri."
"Begitu ya..." Gumam Hanare kecil. 'Aku harus tidur dimana malam ini? Sepertinya aku harus membuat tenda disini..' Pikir Hanare, toh dia sudah terbiasa tidur menggunakkan itu, bahkan tidur sendirian di hutan. Hanare tertawa kecil memikirkan itu, kenapa dia harus pusing-pusing memikirkan tidur dimana.
"Hm?"
"Sepertinya aku harus membuat tenda dan menyalakan api unggun disini, lalu membakar ikan yang aku tangkap di sungai ini." Hanare terus tertawa kecil dengan lelucon yang dia buat. Kakashi hanya terdiam dan mengerutkan keningnya, ia terdiam beberapa saat.
"Kau bisa tidur di rumahku, aku punya kamar lebih." Hanare menghentikan tawanya dan membuka matanya lebar-lebar menatap Kakashi tidak percaya.
"Jangan bercanda!"
"Aku serius, aku tidak akan membiarkanmu tidur disini. Ayo, hari sudah mulai gelap." Kakashi beranjak dari duduknya, Hanare masih memandanginya.
"Tapi Kakashi-san..." Hanare tampak ragu, ia terus memandang punggung Kakashi.
"Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu."
"Aku tidak ingin merepotkanmu!"
"Kau tidak merepotkanku, cepatlah!" Hanare segera mengambil barang-barangnya dan mengikuti Kakashi.
"Terima kasih, kau sudah banyak membantuku Kakashi-san.."
"Hm." Hanare tidak bisa berhenti tersenyum, 'Dia pria yang sangat baik, terima kasih Kakashi..' batinnya.
Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri jalanan desa, di iringi cahaya jingga menunjukkan siang hari telah berakhir dan akan berganti malam. Orang-orang mulai sibuk menyambut datangnya sang malam, lampu-lampu mulai menerangi desa. Mereka berdua terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hanare terus melihat ke sekelilingnya, memandangi kegiatan para penduduk desa. Sedangkan Kakashi memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan hanya memandang lurus ke depan.
.
.
.
- To be Continued -
Author Note :
Masih adakah yang menunggu lanjutan ff ini? Maaf aku agak telat update nya :D Soalnya kalo buat semi canon aku lumayan kesulitan, aku harus liat episode yg berhubungan dengan alur yg aku buat. Di chap ini ada scene yg terpengaruh dari Naruto Shippuden ep. 199. Dan, mungkin chap depan interaksi KakaHana nya mulai banyak.
Terima kasih sudah menyempatkan waktu membaca lanjutan tulisan saya. Dan terima kasih banyak untuk para reader yang telah mereview, memfolow, ataupun memfavoritkan tulisan saya^^ See you in next chapter minna^^
Balasan Review :
Koalasabo : Hai, hontouni arigato udh suka sama ff aku. Salam kenal ya ;) Ini udh update chap 3 nya, tp maaf ya scene KakaHana blm bnyak d sini. Mungkin chap depan mlai banyak, soalnya kan ini cerita semi canon dan Hanare ceritanya baru ke Konoha. Makanya scene KakaHana nya blm bnyak, mungkin chap slanjutnya mlai bnyak. Makasih saran nya, aku tunggu review kamu di chap ini dan selanjutnya ;)
Thanks To :
kamizukyz | lightning69 | Long Nulang | Sun Luck Donk | Koalasabo
Sincerely,
Ms. Hatake Yamanaka
