Taehyung melangkahkan kakinya ringan dengan buku yang berada dalam pegangannya. Sudah seminggu sejak ia kembali ke kampusnya, namun rasanya tetap saja rasanya seperti ini pertama kalinya ia menginjakkan kakinya kembali dikampusnya.

Tiga bulan yang lalu Taehyung mengalami kecelakaan mobil. Luka yang didapatnya cukup parah sehingga Taehyung melupakan beberapa kejadian dalam hidupnya. Beruntung karena Taehyung masih bisa mengingat siapa saja orang yang dikenalnya.

Selain itu, selama proses penyembuhan Park Jimin temannya selalu datang menjenguk. Mencekokinya materi kampus yang dilewatinya selama sakit dan memberikannya sedikit hiburan dengan melontarkan lelucon garing. Ya, Jimin bukanlah teman yang lucu.

Seminggu yang lalu Taehyung resmi kembali ke kampusnya setelah keluar dari rumah sakit sekitar dua minggu yang lalu. Bagaimanapun ia harus menyesuaikan dirinya sebelum kembali ke kampus kan?

Dan saat kembali, Taehyung sudah mendapatkan kesialan. Bukan hal yang buruk namun cukup membuatnya kesal. Lokernya rusak sehingga tak bisa digunakan. Jadi terpaksa lokernya yang sebelumnya no. 7 menjadi no. 13, katanya pemilik loker no. 13 sudah tidak melanjutkan kuliahnya lagi.

Taehyung tidak peduli, namun saat menemukan sebuah buku jurnal didalam loker tersebut -yang diasumsikan milik si pemilik loker sebelumnya- Taehyung memutuskan untuk tidak membuang buku jurnal itu. Mungkin pemilik loker akan mencari bukunya nanti, pikirnya.

Hari ini akan ada kuis bahasa Jepang dan Taehyung sudah mempersiapkan dirinya untuk itu. Lagipula bahasa Jepang bukanlah hal yang sulit untuknya.

Kakinya melangkah mendekati lokernya lalu memutar kuncinya dan membuka pintu lokernya. Netranya teralih pada selembar kertas yang jatuh kekakinya. Tubuhnya merunduk untuk memungut kertas itu dan membaca tulisan yang tertera disana.

'Aku tau ini terlambat. Tapi selamat kembali ke kampus.

#D'

Taehyung mengernyit begitu membaca tulisan itu namun bibirnya tetap mengukir senyuman dikala hatinya merasa hangat setelah membacanya. Ternyata selain Jimin, ada juga yang peduli padanya.

Bahunya terangkat pelan lalu menyimpan kertas itu diatas buku jurnal yang ditaruhnya pada pojokan lokernya sebelum menutup kembali lokernya.

Keesokan harinya Taehyung kembali menemukan secarik kertas yang jatuh saat ia membuka lokernya. Dengan rasa penasaran Taehyung membaca isinya.

'Semoga kau bisa mengerjakan kuis Bahasa Inggris hari ini. Semangat.

#A'

Dahinya mengernyit lalu kepalanya menoleh kekanan dan kekiri menatap siapa saja yang berkemungkinan sebagai pelaku. Namun nihil. Matanya kembali menatap kertas putih itu.

"Bagaimana orang ini tau aku lemah di bahasa inggris?" gumamnya

Bahunya kembali terangkat dan menaruh kertas yang dipegangnya ketempat kertas sebelumnya lalu menutup lokernya.

Hari ini Taehyung bersumpah akan menangkap siapapun yang menyelipkan secarik kertas di lokernya setelah membaca surat lain yang jatuh saat ia membuka loker.

'Aku selalu memperhatikanmu.

#L'

Hanya kata-kata sederhana namun membuat Taehyung bergidik membacanya. Orang ini sepertinya seorang penguntit dan Taehyung membenci hal itu.

Setelah mendapatkan tiga surat berturut-turut, Taehyung memutuskan untuk memergoki orang ini dan bertanya apa tujuannya. Jadi disinilah Taehyung berada.

Jam enam pagi bersembunyi dibalik salah satu lorong dikampusnya. Persetan dengan datang terlalu pagi, Taehyung hanya ingin menangkap orang yang seenaknya menguntitnya.

Matanya menatap tajam kearah lokernya begitu melihat satu persatu mahasiswa mulai berdatangan. Dia harus menangkap pelakunya.

Pupilnya melebar begitu melihat seorang lelaki berkulit putih bersih berdiri didepan lokernya. Saat tangan lelaki itu menyelipkan sesuatu dilokernya, Taehyung tau dialah pelakunya.

Kakinya melangkah cepat, "Ya! Kau diam disitu." teriaknya. Tidak peduli jika teriakannya membuat seluruh perhatian tertuju padanya.

Sedikit lagi Taehyung akan bisa menggapai bahu lelaki itu, sebelum Jimin datang dan memeluknya erat.

"Taehyung-ah, Yoongi hyung akhirnya terpilih menjadi presiden kampus." Jimin bersorak ria dan memeluknya semakin erat.

Taehyung memiringkan kepalanya berusaha melihat lelaki itu yang mulai berjalan menjauh. Lelaki itu menoleh kearahnya sambil tersenyum tipis sebelum pergi dan menghilang pada belokan koridor.

Jantung Taehyung berdebar begitu dalam ingatannya kembali berputar senyuman manis lelaki itu. Hanya karena senyuman itu Taehyung jatuh cinta. Dan secarik kertas yang ditinggalkan lelaki manis itu-

'Apa aku begitu menarik hingga membuatmu penasaran?

#N'

-membuat Taehyung semakin penasaran

.

.

That Eye

Chapter 1: Moon

.

.

"Kau tidak ingat bagaimana matanya?"

Taehyung menggeleng pelan sebagai jawaban membuat Yoongi hanya mendengus gusar.

"Berikan surat-suratnya, mungkin Yoongi hyung bisa menemukan petunjuk." Jimin berseru heboh

Taehyung mengangguk lalu mengambil lembar kertas yang diselipkan dalam lokernya selama beberapa hari ini. Yoongi mengambilnya dan mulai membacanya satu-persatu.

Dahi lelaki itu mengernyit, membuat Taehyung penasaran setengah mati. "Kau tau sesuatu?" tanyanya

Yoongi menatapnya sebentar lalu menata kertas itu dilantai yang mereka duduki. Lelaki itu menyusunnya sesuai urutan surat yang diterima Taehyung.

"Begini urutannya?"

Taehyung menatap kertasnya lalu mengangguk. "Benar seperti itu." jawabnya

"Kau menemukan sesuatu, Hyung?" Jimin bertanya antusias. Sejujurnya Jimin takut dengan hal-hal yang berbau misteri namun saat melihat wajah serius kekasihnya yang kelewat tampan membuat ketakutannya hilang begitu saja.

Yoongi menatap kekasihnya sebentar sebelum mengangguk pelan. Matanya menatap kertas yang disusunnya kemudian menunjuk satu-persatu hal yang dianggapnya sebagai sebuah petunjuk.

"Disetiap surat tertulis hastag dan sebuah huruf. Jika kita urutkan itu akan menjadi D, A, L, N. Aku tidak yakin namun jika kau mendapatkan surat lagi dan tertera huruf I disana maka dugaanku benar." jelasnya

Taehyung mengernyit tidak mengerti, "Bagaimana kau bisa tau huruf selanjutnya I?" tanyanya

"Aku hanya menebaknya, dan jika itu benar aku akan menjelaskannya nanti." ucap Yoongi tegas

.

.

Sampai malam ini Taehyung masih memikirkan kata-kata sunbaenya tadi. Entah ini hanya perasaannya atau Yoongi memang menyembunyikan sesuatu darinya.

Bahunya terangkat pelan mencoba tidak peduli lalu merebahkan tubuhnya diranjang. Matanya menatap plafon kamarnya sebelum terhanyut dalam kantuk dan tertidur lelap.

.

.

Taehyung merasa dadanya sesak dan tidak ada yang bisa dilihatnya, semuanya gelap. Tangannya terulur menggapai apapun namun hanya hampa yang dapat digapainya.

Kakinya melangkah pelan merasakan dinginnya air dibawah kakinya. Bau menyengat memenuhi indra penciumannya membuat dadanya semakin sesak.

Kepalanya mendongak begitu cahaya bulan tiba-tiba menerangi jalannya. Bulan itu begitu besar seakan begitu dekat dengan bumi.

Taehyung menatap kesekitarnya. Tebing yang curam berada disekelilingnya dengan tanah yang becek dan berlumpur. Dahinya mengernyit saat merasa tempat ini tidak asing baginya.

Namun sebelum Taehyung berhasil mengingat sepenuhnya, cahaya bulan terasa begitu terang. Kepalanya kembali mendongak, pupilnya melebar saat melihat bulan seakan jatuh kearahnya. Ia ingin berteriak namun tenggorokannya tercekat. Nafasnya terasa memendek saat udara panas dari permukaan bulan seakan mengikis kulitnya hingga terkelupas habis. Matanya bergetar saat melihat sekujur tubuhnya menampakkan bagian dagingnya yang memerah.

"Kau suka hadiahku?"

.

.

Nafasnya tersengal dengan keringat yang memenuhi pelipisnya. Taehyung barusaja bermimpi. Mimpi yang lebih buruk dari apapun. Bahkan saat Taehyung membuka matanya, mimpi itu masih terbayang dalam pengelihatannya, begitu jelas. Dan suara itu kembali terngiang dalam pendengarannya yang membuatnya berteriak histeris.

.

.

"Kau suka hadiahku?"

.

.

Bersambung..

.

.

Author's Note:

Gak akan aku buat panjang

Asal pikiran horor ku tersalurkan wkwkwkwk

Jangan lupa reviewnya yaaa

Thanks

Aii-nim

2017.07.29