That Eye
Chapter 2: Answer
.
.
Taehyung melangkahkan kakinya tergesa. Tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, dalam pikirannya hanya ada satu tujuan. Loker. Sejak mimpinya semalam, Taehyung tidak bisa tidur sama sekali dan surat dalam loker menghantui pikirannya hingga pagi menjelang.
Tangannya membuka pintu lokernya dengan terburu. Pupilnya membulat begitu selembar kertas jatuh kelantai. Keningnya berkeringat dan tangannya bergetar mengambil sepucuk surat itu.
"... jika kau mendapatkan surat lagi dan tertera huruf I disana maka dugaanku benar."
Matanya bergerak saat sepatah demi sepatah kata mulai dibacanya. Bibirnya bergumam kecil. Begitu iris kelamnya menatap huruf I yang tertulis berdampingan dengan sebuah hastag, tubuhnya menegang takut. Tangannya yang bergetar menggenggam kertas itu perlahan dengan mata yang berpendar menatap sekelilingnya.
"Brengsek! aku harus menemukan orang itu." umpatnya
Kakinya melangkah cepat menjauh dari tempat itu. Taehyung harus mencari Yoongi segera. Dan bertanya apa maksud dari semua ini.
.
.
Taehyung menatap tak tenang kearah Yoongi yang sedang membaca suratnya. Sejak tadi Taehyung terus memperhatikan sekelilingnya, takut jika ada seseorang yang membuntutinya.
"Ini seperti dugaanmu kemarin hyung. Jadi tolong jelaskan padaku sekarang." desaknya
Yoongi menghembuskan nafasnya perlahan lalu menatap Taehyung dalam. Mereka sekarang berada di koridor kampus yang cukup sepi. Dan itu cukup membuat Taehyung bergidik ketakutan.
"Jeon Jungkook."
Taehyung mengernyit mendengar nama yang terlontar dari bibir sunbaenya. "Maksudmu?"
Yoongi kembali menatap Taehyung lalu tersenyum, "Pemilik loker no. 13 adalah Jeon Jungkook, angkatan setahun dibawahmu. Matanya bulat dan indah seperti bulan. Jadi banyak orang yang memanggilnya, Dalnim." jelasnya tenang.
Taehyung terdiam. Berusaha menangkap semua yang Yoongi jelaskan. Jeon Jungkook? Dalnim? Lalu apa hubungannya dengan Taehyung?
"Apa hubungannya denganku? Kenapa dia melakukan ini padaku?" ucap lelaki Kim dengan nada yang tak tenang.
Taehyung muak jika harus dipermainkan dengan hal konyol seperti ini. Ia hanya ingin semuanya selesai hari ini juga.
"Dimana dia? Aku akan bicara dengannya." imbuhnya.
Yoongi mengulum senyuman tipis, "Kau tidak ingat siapa yang ditabrak mobilmu saat kau kecelakaan?"
Tubuh Taehyung menegang. Salah satu kejadian yang dilupakannya adalah kejadian saat ia kecelakaan. Lelaki itu sama sekali tidak ingat bagaimana ia bisa kecelakaan dan dimana tepatnya ia kecelakaan.
"Kau menabrak Jeon Jungkook. Dan dia tewas ditempat. Mungkin ia ingin mengatakan sesuatu padamu." lanjutnya
Tubuh pemuda Kim limbung dan jatuh terduduk diatas lantai. Kakinya benar-benar terasa lemas dan seluruh tubuhnya bergetar takut.
"Dia akan membunuhku." gumamnya.
Yoongi mendengus. Ia berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. Matanya menatap mata Taehyung dalam lalu menepuk bahu pemuda itu pelan.
"Jangan berpikiran seperti itu. Jungkook adalah anak yang baik."
Taehyung menggeleng cepat. Kakinya menekuk dan menenggelamkan wajahnya disana dengan tangan yang melingkari kakinya. Mengukung tubuhnya sendiri yanh bergetar takut.
"I-isi surat itu.." ia semakin mengeratkan pelukan pada kakinya. "... persis seperti dalam mimpiku, hyung."
Pupil Yoongi membola. Dengan cepat ia kembali membaca surat yang masih dipegangnya.
'Kau suka hadiahku?
#I'
"Kau bermimpi seperti apa, Tae. Jelaskan padaku."
.
.
Taehyung menatap buku jurnal yang dipegangnya. Setelah menceritakan semuanya kepada Yoongi, ia kembali ke lokernya untuk mengambil jurnal yang ia asumsikan milik si pemilik loker no. 13, milik Jungkook. Lalu kembali ke apartemennya untuk membacanya.
Namun sekarang Taehyung ragu harus membaca isi buku ini atau tidak. Satu sisi ia yakin ada petunjuk yang bisa didapatnya, namun disisi lain Taehyung takut itu akan mengganggu privasi Jungkook.
"Persetan! Lagi pula dia sudah mati." ucapnya
Tangannya mulai membuka sampul buku dan langsung disambut dengan tulisan indah dari Jeon Jungkook.
'Buku Jurnal milik Jeon Jungkook.'
Nafasnya berhembus pelan, mencoba menetralkan jantungnya yang berdebar tanpa alasan. Kembali ia membuka lembaran selanjutnya.
'Hari itu aku mengalami banyak hal, namun pertemuan tidak sengaja kita membuatku selalu ingin mengingat hari itu.'
Dahinya mengernyit. Dari kata-kata yang ditulis oleh Jungkook, Taehyung yakin jika lelaki ini berada di Fakultas yang sama dengannya, sastra. Lembaran lain kembali dibuka.
'Aku terlalu takut untuk menyapanya. Ia terlihat sangat bersinar bahkan saat wajahnya murung. Aku bisa gila hanya dengan menatapnya dari kejauhan.'
"Ah.. Lelaki ini benar-benar orang yang pemalu." gumamnya sebelum membuka lembaran selanjutnya.
'Dia berada satu fakultas denganku. omg.
Ini membuatku semakin berdebar.'
Taehyung terkekeh membacanya. Entah, pemuda itu hanya merasa jika Jungkook adalah anak yang cukup lucu dan menggemaskan.
'Aku menyukainya.'
Bibirnya mengulum senyum. "Siapa yang disukainya?"
'Hari ini aku menyapanya. Namun sepertinya ia tak tertarik denganku.'
Lembaran demi lembaran kertas mulai dibacanya. Taehyung mencoba mencari sedikit saja petunjuk yanh berhubungan dengan surat-surat yang dikirimkan padanya.
'Dia memarahiku. Ia mengatakan aku penguntit. Dia sepertinya sangat membenciku.'
"Wow.. dia seorang penguntit? Bagaimana bisa lelaki secantik itu menjadi penguntit." bibirnya terkekeh geli saat membayangkan wajah polos Jungkook menguntit seseorang yang disukainya.
Tangannya kembali membuka halaman selanjutnya. Tubuhnya membeku dan buku jurnal itu terlepas dari tangannya dan jatuh membentur lantai.
'Jadi aku bukan penguntit, kan?
#M'
Tubuhnya menegang dan pupilnya bergetar takut. Dengan cepat ia meraih ponsel yang berada disebelahnya dan menghubungi Yoongi. Bahkan matanya berpendar mengawasi keadaan sekitarnya. Suasana di apartemennya terasa mencekam malam ini.
"Hallo.. Taehyung?"
Taehyung menghembuskan nafasnya kasar. Mencoba memendam rasa takutnya. "H-hyung.. Apa Jeon Jungkook menyukai seseorang?" tanyanya terbata
Hening sejenak sebelum menjawab. "Setauku dia menyukai seseorang."
"Siapa?"
Tidak ada jawaban dari Yoongi membuat Taehyung kembali bertanya. Rasa takut itu kembali merayap dalam hatinya.
"Siapa yang disukainya, hyung?"
"Kau, Tae. Dia menyukaimu."
Taehyung terdiam. Ia tidak tau apa yang harus dilakukannya saat ini. Apakah ini bentuk balas dendam Jungkook?
"Ada apa? Kau menemukan sesuatu?"
"Aku membaca buku jurnalnya." ucapnya. Satu tangannya terulur mengambil kembali buku jurnal itu dan menaruhnya dimeja dalam keadaan terbuka.
Kepalanya menunduk dalam. "Sepertinya ia ingin balas dendam denganku." lanjutnya
"Tidak mungkin. Jungkook bukan orang yang seperti itu, Tae."
"Kenapa kau begitu yakin, hyung?"
Yoongi terdengar terkekeh diseberang sana sebelum menjawab, "Karena aku mengenalnya."
Taehyung mendengus, "Hanya kenal bukan berarti kau mengetahui kepribadiannya, hyung."
"Ini sudah malam, Tae. Sebaiknya kau istirahat."
Kepalanya mengangguk pelan, "Baiklah. Selamat malam, hyung."
Ponselnya dilempar ke meja begitu saja setelah sambungannya terputus. Tangannya menangkup wajahnya dan mengusapnya kasar. Taehyung terlalu lelah belakangan ini.
"Aku harus tidur." gumamnya.
Tangannya terulur mengambil buku jurnal Jungkook, bermaksud untuk merapikannya dan menaruhnya ditumpukan bukunya. Namun gerakan tangannya terhenti begitu melihat satu kalimat tertulis pada halaman yang terbuka, tepat di bagian tengah buku. Ia membacanya perlahan.
Setelahnya Taehyung menutup buku jurnal itu dengan cepat. Ia bangkit dan segera mengambil kunci mobilnya. Bahkan ia berlari menuju garasi mobilnya dan memacunya dengan cepat.
Pelipisnya penuh dengan keringat. Ini tengah malam dan Taehyung tidak bisa memelankan laju mobilnya. Pikirannya kalut dan satu-satunya tujuan adalah apartemen Yoongi.
Taehyung kembali menatap kearah buku jurnal yang ia taruh di kursi penumpang, memastikan jika buku itu benar-benar tertutup rapat. Nafasnya berhembus kasar, mencoba mengembalikan pikiran rasionalnya walaupun tidak ada yang masuk akal disini.
'Aku akan menjemputmu segera, Kim Taehyung.
#Dalnim'
Mengingat kalimat yang dibacanya tadi membuat Taehyung kembali ketakutan. Ia tidak mengerti apapun dan semua ini hanya membuatnya ketakutan setengah mati.
Taehyung tidak pernah percaya dengan roh gentayangan atau apapun semacamnya. Ia selalu berpikir rasional dan baginya keberadaan roh itu jauh dari akal yang bisa diterimanya. Namun sekarang, semua yang terjadi seakan mengoloknya.
"Brengsek!" umpatnya.
Kakinya menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan laju mobilnya. Bahkan tidak peduli dengan rambu-rambu yang terpasang dijalanan.
Jalanan yang dilaluinya begitu sepi dan Taehyung merasa ia pernah melewati jalan ini saat tengah malam. Ia merasa sesuatu tak asing dalam dirinya, seperti de javu.
Taehyung terkesiap begitu selembar kertas terbang dan menempel di kaca depan mobilnya. Kakinya menginjak pedal rem dengan cepat hingga membuat mobilnya oleng dan terbalik lalu menabrak pohon besar sebelum terperosok kedalam jurang.
Ia memekik keras begitu tubuhnya terpelanting dan kepalanya membentur kaca hingga darah mengalir begitu deras. Begitu mobilnya berhenti bergerak, Taehyung baru menyadarinya. Ia barusaja kecelakaan.
Mobilnya terbalik dan Taehyung tidak bisa melakukan apapun karena sabuk pengamannya tidak bisa dilepaskan dan pintu mobil yang macet. Bibirnya tersenyum kecil saat membayangkan bahwa ia akan mati segera.
Matanya menatap nyalang saat melihat sepasang kaki melangkah mendekatinya. Tangannya memukul-mukul pintu mobil, berharap orang itu akan menyadari keberadaan Taehyung.
"To-tolong aku." ucapnya susah payah.
Tubuhnya terasa remuk dan ia pikir kesadarannya akan menghilang sebentar lagi. Maka Taehyung berusaha untuk meminta bantuan pada orang ini.
Sepasang kaki itu berhenti tepat disebelah pintu mobilnya. Taehyung dapat melihat orang itu berjongkok lalu membungkukan sedikit tubuhnya untuk melihat kearahnya.
Nafasnya tercekat begitu pandangan mata mereka bertemu. Tubuh Taehyung bergetar kuat dan sudut matanya mulai basah.
Jeon Jungkook sedang tersenyum dan menatap kearahnya.
"Kau butuh bantuanku?"
Suara lembut itu mengalun begitu saja. Namun terdengar begitu mengerikan dalam pendengaran Taehyung.
Jungkook tersenyum tipis lalu senyuman itu berubah menjadi seringai mengerikan. Tangan lelaki itu terulur kedalam dan menyentuh bahu Taehyung, begitu dingin.
"Aku akan membantumu.."
Taehyung merasakan sakit yang luar biasa pada bahunya. Rasanya panas dan menyebar keseluruh tubuhnya hingga nafasnya menjadi tersengal dan memendek.
Jungkook kembali tersenyum. "...untuk mati."
Hal lain yang Taehyung lihat sebelum semuanya menjadi gelap adalah kertas yang menempel pada kaca depan mobilnya.
'Aku mencintaimu, Kim Taehyung.
#JeonJungkook'
.
.
Fin.
.
.
Side Story:
"Annyeonghaseo, Taehyung sunbaenim."
Taehyung menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Bibirnya tersenyum ramah. "Ada apa?"
Ia dapat melihat lelaki cantik didepannya terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Benar-benar lucu.
Tangan lelaki itu terulur didepannya dengan kepala yang masih menunduk ia berucap pelan. "Jeon Jungkook."
Taehyung berdecak lalu menyambut uluran tangan adik tingkatnya. "Kim Taehyung. Senang bisa mengenalmu, Jungkook-ah."
Jungkook mengangkat wajahnya dengan cepat begitu mendengar Taehyung mengalunkan namanya begitu indah, begitu fasih. Ia tertegun menatap ketampanan lelaki didepannya yang membuat jantungnya semakin berdebar menggila.
"Aku ada jadwal basket hari ini. Sampai bertemu besok."
Taehyung mengacak rambut Jungkook gemas sebelum berbalik dan melangkah pergi. Jungkook menatap punggung Taehyung yang semakin menjauh, ia tau Taehyung tidak terlalu senang dengan perkenalan mereka. Taehyung hanya mencoba bersikap ramah seperti biasanya.
.
.
Taehyung mencebik kesal begitu membaca tulisan dalam 'sticky notes' yang beberapa hari ini selalu diterimanya.
Awalnya Taehyung menganggap itu hanya orang iseng. Namun semakin hari tulisan dalam sticky notes itu semakin mengerikan. Seperti yang diterimanya kali ini.
'Bahkan saat melihat tubuhmu yang basah karena keringat membuat sesuatu dalam tubuhku menjadi liar.'
"Lihat saja jika aku menemukan siapa pelakunya." gumamnya sebelum meremas kertas itu lalu membuangnya di tong sampah.
.
.
Jungkook melirik kearah lelaki yang menempeli sesuatu pada pintu loker milik Taehyung. Ia tidak bisa melihat siapa lelaki itu karena kepalanya tertutupi hoodie dan lelaki itu menunduk dalam.
Saat lelaki itu pergi Jungkook menatap sekelilingnya sebelum mendekati loker Taehyung. Ia penasaran apa yang ditempel oleh lelaki tiu.
'Aku tidak sabar melihat tubuhmu di kolam berenang besok. Sampai jumpa.'
Jungkook bergidik begitu membacanya. Ia kembali menempelkan sticky notes itu pada tempatnya.
"Jadi kau pelakunya?"
Tubuhnya berbalik dengan cepat begitu mendengar suara dalam menyapa pendengarannya. Taehyung menatapnya tajam. Melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu menyingkirkan tubuh Jungkook agar menjauh dari lokernya.
Tangannya terulur mengambil sticky notes itu lalu membacanya. Setelahnya mata tajamnya kembali teralih pada Jungkook.
"Menjijikkan."
Jungkook menggeleng cepat, "Bukan aku. Aku hanya penasaran apa isinya mak-"
"Kau sebegitunya menyukaiku?"
Kepalanya tertunduk dalam begitu mendengar nada dingin yang dilontarkan Taehyung.
"Kau tau apa yang paling aku benci?"
Taehyung berdecih pelan sebelum melanjutkan. "Aku benci seseorang yang hanya bisa menakut-nakuti orang lain dengan tulisan menjijikan seperti ini. Berhenti menguntit ku dan berhenti menyukaiku karena aku tidak mungkin menyukai orang menjijikkan sepertimu."
.
.
Jungkook melangkahkan kakinya terburu. Ia harus mengikuti kelas pagi hari ini, namun ia terlambat.
Pemuda itu membuka pintu lokernya cepat dan mengambil buku yang dibutuhkannya lalu kembali menutup lokernya.
Barusaja ia berjalan beberapa langkah, kakinya berhenti saat ekor matanya melihat sticky notes yang tertempel di pintu loker Taehyung.
Kepalanya menoleh menatap kertas berwarna biru langit itu lalu memicingkan matanya untuk membaca isinya karena Jungkook takut kejadian kemarin kembali terulang jika ia mendekati loker itu untuk sekedar membaca.
'Jika kau menganggapku menjijikkan dan kau tidak akan menyukaiku. Maka aku akan membunuhmu karena tidak satupun yang boleh memilikimu.'
Pupilnya melebar. Ini tidak benar. Jika Taehyung membacanya pasti lelaki itu akan mengira Jungkook benar-benar pelakunya.
Ia melangkah mendekat dan menarik sticky notes itu dengan cepat lalu memasukkannya kedalam saku celananya setelah memastikan tidak ada yang melihatnya.
.
.
Jungkook menatap sticky notes yang dipegangnya. Perasaannya tak nyaman setelah membaca isi kertas itu tadi pagi. Siapa sebenarnya yang melakukan hal konyol ini?
Nafasnya berhembus kasar. Sticky notes itu ditempelkan di meja belajarnya. Jungkook tidak seharusnya mencampuri urusan orang lain. Ia memiliki pekerjaan yang lebih penting.
Tadi pagi, Yoongi -calon presiden di kampusnya- meminta tolong agar Jungkook membantunya untuk memperbaiki beberapa kalimat yang akan digunakannya untuk pidato dalam acara kampus nanti. Bukan hal sulit. Lagi pula ia adalah mahasiswa terbaik di fakultas sastra, jadi wajar saja Yoongi bertanya ini-itu padanya.
Jungkook membaca satu-persatu tulisan yang tercetak apik dengan beberapa coretan yang menandakan kata itu harus diganti. Kepalanya mengangguk kecil melihat coretan-coretan yang sudah dibuat sebelumnya oleh Yoongi. Memang lelaki itu sempat bilang sudah mengoreksi beberapa kata.
Pupil Jungkook mengecil dan matanya memicing untuk menajamkan pengelihatannya. Dikertas itu terdapat tulisan Yoongi. Tulisannya begitu rapi dan Jungkook merasa tak asing saat melihat tulisan itu.
Tubuhnya menegang. Dengan cepat ia kembali menarik sticky notes yang berada dimejanya lalu menyesuaikan tulisan itu dengan tulisan yang berada di kertas yang berisi tulisan Yoongi.
Hal gila jika menyamakan tulisan seperti ini. Namun Jungkook yakin tulisan tangan itu begitu sama. Rapi. Namun pikiran rasionalnya menapik semua hal yang tidak masuk akal yang mulai merayapi otaknya. Yoongi tidak mungkin melakukan hal gila seperti ini.
.
Jungkook berlari dengan sekuat tenaganya. Tidak peduli jika ini hampir tengah malam dan udara yang dingin begitu menusuk kulitnya.
Tadi sebelum ia pergi tidur. Jungkook menyempatkan diri untuk membaca chat dalam group chat kelasnya. Awalnya hanya berisi hal yang tidak penting namun saat membaca bahwa sunbae mereka akan mengadakan pesta tengah malam di club dan para gadis mulai membicarakan Yoongi juga akan datang kesana, Jungkook merasa tak nyaman.
Dalam pikirannya terus bergelayutan bahwa Taehyung pasti akan datang kesana dan Jungkook takut hal buruk dalam pikirannya akan terjadi. Karena club malam terlalu aman untuk menjadi tempat pembunuhan.
Jungkook berdiri tak nyaman dipinggiran jalan yang sepi. Hanya ada pepohonan rindang di area ini. Ia yakin jika Taehyung akan melewati jalan ini.
Jungkook berencana untuk mencegat Taehyung begitu saja saat mobil lelaki itu terlihat. Taehyung bukanlah orang yang tepat waktu, maka ia yakin Taehyung belum melewati jalan ini.
Tangannya terulur kedepan begitu melihat mobil Taehyung dari kejauhan, memberikan tanda agar mobil itu berhenti. Namun justru mobil itu melaju semakin cepat seolah tidak akan menghentikan lajunya.
Dahinya mengernyit begitu hal buruk kembali menghantui pikirannya. Dengan mata yang terpejam erat, Jungkook berlari ke tengah jalan. Ini cara satu-satunya agar mobil Taehyung berhenti.
Ia sudah menyadari kondisi terburuk yang terjadi saat kakinya melangkah ke tengah jalan. Tubuhnya terasa kebas saat bagian depan mobil menabraknya kuat dan membuat tubuhnya terpelanting jauh lalu terperosok jatuh ke jurang.
Pendengarannya menangkap suara benturan keras berkali-kali sebelum semuanya menjadi hening.
Kepalanya terangkat perlahan. Matanya menangkap mobil Taehyung yang terbalik beberapa meter darinya.
Pandangan mereka bertemu dan itu membuat Jungkook tersenyum kecil. Setidaknya Taehyung masih ingin menatapnya. Hal terakhir yang bisa ia ucapkan sebelum semuanya menjadi gelap dan rasa sakit dalam tubuhnya menguar.
.
.
"Aku mencintaimu."
.
.
The End.
.
.
Author's Note:
Ff teraneh yang pernah aku bikin wkwk
tapi justru aku semangat ngetiknya lol
Btw, Dalnim itu artinya Bulan-ssi. Dal itu artinya bulan.
Plis jangan tanya gimana kelanjutan creepy guy /kabur/
I'm sorry for some reasons.
Tapi bakal aku usahain up segera.
Thanks
Aii-nim
2017.08.06
