Berhari-hari setelah itu, kedekatan Johnny dan Jaehyun pun semakin intens dan lebih dekat dari sebelumnya. Bahkan Johnny pun sudah berniat akan menembak Jaehyun sebelum hari terakhir ia akan syuting di Fuji dan Jaehyun akan pulang ke rumahnya.

"Gausah nembak deh.. langsung lamar saja, lagipula mana mungkin ia akan menolakku kan?"

Namun, pada hari ini ia tak menemukan Jaehyun dimanapun. Bahkan, ia sudah mencari ke tempat dimanapun yang terjangkau oleh lelaki jangkung ini.

Johnny pun melihat langit di atasnya yang telah berubah warna menjadi senja.

"Jaehyun, kau kemana?" tanyanya lebih kepada diri sendiri. Menghela nafas pelan untuk mengurangi detak jantungnya yang tak tenang karena tidak menemukan orang terkasihnya dimanapun, sepanjang hari ini dan ia pun memutuskan tetap mencari Jaehyun.

Sementara itu di villa Mark tak henti hentinya mondar mandir karena Johnny belum juga datang dari siang tadi, begitupula Ten yang sibuk menelfon Johnny, berharap akan diangkat akan pemuda tersebut.

"Ya! Kemana kau sebenarnya John sialan Seo!" umpat Ten tak mampu menahan emosinya lagi. Mark yang mendengarnya hanya menghela nafas pelan sebelum notifikasi muncul di handphonenya.

"Aku sudah diluar Minhyungie" –Jeno

Singkat, namun dapat membuat seorang Mark Lee berlari keluar secepat yang ia bisa karena pada akhirnya Jeno mau datang ke lokasi syuting dirinya.

"Ya Jeno babe!" teriak Mark saat dapat melihat kekasihnya di depan villa. Jeno yang merasa dirinya terpanggil pun mendongak dan sedetik kemudian tersenyum hangat membalas lambaian Mark. "Minhyungie hyung!" sapanya lembut. Mark yang mendengar nama aslinya di sebut oleh Jeno pun tersenyum dan mendekati kekasihnya.

"Kenapa tidak langsung masuk saja sayang? Kau bisa kedinginan jika diluar seperti ini." Sahut Mark sambil melepas jaket miliknya dan menyampirkannya pada Jeno yang tengah merona lucu.

"Aku tak apa hyung. Aku kemari karena terburu buru juga." Sahut Jeno yang membuat Mark tersenyum kecut. "Pasti itu sesuatu yang penting sekali. Jadi, apa kata Doyoung hyung?"

Jeno terdiam.

.

.

.

Mark berlari secepat yang ia bisa demi berusaha menemukan Johnny hyungnya yang kini dapat ia tebak pasti tengah mencari Jung Jaehyun. Sebagian lagi, ia berharap tak kalah cepat dari hyungnya ini untuk menemukan Jaehyun. Oh, Lord. Setelah mendengar cerita kekasihnya, Mark semakin takut jika hyungnya ini menemukan pria manis yang bernama Jaehyun tadi lebih dulu. Ia sudah melihat fotonya dari Jeno omong omong.

"Hyung!" teriaknya putus asa. Semua tempat yang terjangkau olehnya ia datangi, walaupun kakinya sudah sangat lelah dan tubuhnya kedinginan. Mark berhenti sekejap dengan nafas terengah, dilihatnya sekeliling yang dipenuhi pohon menjulang tinggi dan ia belum menemukan Johnny ataupun Jaehyun.

"Jae! Kumohon bangun Jaehyun!!"

DEG

Jantung Mark seperti berhenti tiba-tiba.

"Hiks.. Jaehyun... aku mencintaimu Jae, kumohon.. bangunlah"

Dengan setengah berharap bahwa dugaannya salah, Mark mendekati asal suara tersebut.

"Katakan padaku! Kamu kenapa? Apa kebenarannya Jaehyun!!!" raung Johnny menangis, ia menangis akan cintanya.

"Hyung..."

Johnny menoleh dengan berurai air mata. Mark ada disana, memandangnya nanar

"Minhyung.. Jaehyunku, hiks.. Jaehyunku.. Minhyung" kacau. Johnny tampak sangat kacau sekali di mata Mark.

"Ia.. ia pasti menungguku disini, tapi.. tapi aku terlambat, ia kedinginan.. aku, aku-"

"Cukup hyung! Jaehyun mu tidak meninggal karenam-"

"TAPI INI SALAHKU MINHYUNG! Hiks.. Hiks.. ia kedinginan menungguku, lihatlah.. lihatlah disampingnya ini... foto fotoku," habis sudah pertahanan Johnny Seo, ia menangis yang mampu membuat siapapun merasakan sakitnya. Dielusnya perlahan wajah cantik milik Malaikatnya yang memucat kebiruan. Diciumnya dengan kacau bibir yang sudah sangat dingin tersebut. Foto foto dirinya yang dibingkai indah oleh Jaehyun pun dipeluknya.

"Jae.. Jae ku sayang, akan kutanda tangan semua foto foto ini, kita akan berfoto bersama di berbagai tempat dan akan kupamerkan pada semua orang. Tapi kumohon bangun sayang... hiks, JAEHYUN IRREONA!!"

Sudah cukup Mark mendengarnya dengan mata berkaca.

"HYUNG! Jaehyun mu... Jaehyun mu.. dibunuh! Dan ini bukan salahmu hyung!" sontak tubuh Johnny pun membeku.

Di-dibunuh? Jaehyun ku.. dibunuh?

"Hyung, selama ini hanya kau yang dapat melihat Jaehyun Jung. Kami tidak, hyung. Tak ada satupun yang dapat melihat nya kecuali dirimu. Ia bukannya kabur saat aku datang tempo hari lalu, tapi ia menghilang hyung. Jeno memberitahuku bahwa sudah hampir seminggu ini seseorang bernama Jung Jaehyun berstatus hilang karena tidak pernah memberitahu kabar pada keluarganya lagi. Jeno mengetahui ini dari Doyoung hyung yang seorang polisi." Mark menjelaskan secara pelan-pelan, berharap Johnny hyungnya akan mengerti.

Johnny hanya mampu menatap Jaehyun dengan pandangan kosong.

"Siapa yang membuatmu terbunuh" suaranya yang parau sarat akan kelukaan mendalam. Memeluk mayat lelaki manis ini kesekian kalinya yang telah dingin karena membeku di pegunungan Fuji. Memeluknya begitu erat, sangat sangat erat. Seakan ingin menyalurkan kehangatannya yang ia tahu sudah tak dibutuhkan lagi. Itulah alasan mengapa Jaehyunnya yang selama ini mendatangi dirinya terlihat kedinginan.

Ia memang kedinginan.

Mark yang mendengar semuanya hanya mampu memalingkan wajah tak mampu melihat lawan mainnya yang sudah ia anggap hyungnya sendiri tersebut menangis begitu pilu. Merutuki kebodohannya karena baru menyadari semua kebenarannya.

"Bajingan sialan." derap langkah pemuda berambut blonde tersebut terlihat pasti meninggalkan Johnny untuk menyeret si pembunuh sialan itu ke neraka sebelum suara parau dan tersendat memanggilnya.

"Mark.. katakan siapa pembunuh dari Jaehyunku." Hidung memerah, mata sembab dan masih mengeluarkan air mata, suara yang tersendat seperti siap untuk merengek seperti anak anak, namun, matanya memancarkan kemarahan dan dendam yang sepertinya takkan pernah berujung. Mark yang melihat itu semua pun hanya bisa menghela nafas perlahan dan tersenyum pedih.

"Hyung.. jangan memaksakan dirimu... Ka-"

"CUKUP KATAKAN PADAKU SIAPA MARK!" pertahanan Mark sempat goyah sebentar karena bentakan Johnny yang amat mengerikan.

"Ma...je...mu" suara Mark terdengar amat sangat pelan membuat Johnny mencengkram lengan milik Jaehyun karena gemas akan tingkah Mark. Menghela nafas pelan, Mark pun memberanikan diri bersuara lebih keras,

"Manajer mu. Pembunuhnya Ten, Manajer mu hyung."

DEG

"Bohong kau Mark, tidak mungkin Ten yang amat kupercayai membunuh orang yang paling kucintai."

"Apa aku terlihat seperti berbohong hyung? Ten hyung pembunuhnya. Sebenarnya Doyoung hyung sudah menyelidiki ini semua dan pada akhirnya menemukan asumsi jika Ten pembunuhnya, karena satu satunya alibi yang patut dicurigai adalah manajer sialanmu itu!"

Bohong.. bohong kau Mark

"Hyung..." suara lembut perlahan terdengar di pendengaran Johnny dan Mark yang membuat keduanya menoleh.

"J-Jaehyun?" dengan sigap Johnny pun berdiri dan berusaha mendekati Jaehyun yang kini tersenyum dengan begitu tulus padanya.

"Hyung jangan menangis." Sahut Jaehyun kembali dan memegang pipi Johnny dengan lembut saat jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja.

"Bagaimana Jae? Bagaimana aku tidak menangis saat ternyata kamu sudah meninggalkanku? Sejak kapan Jaehyun? Hiks-maksudku.. oh God" johnny kembali menangis dengan menunduk dan memegang tangan Jaehyun yang berada di pipinya.

"Hyung, Ten-sshi memang membunuhku.. tapi ia melakukannya karena sangat sayang padamu, mengertilah hyung.. Aku memaafkannya" mata Jaehyun pun kini sudah mengeluarkan liquid bening, tak kuasa melihat idolanya, mimpinya, cintanya ini menangis karena dirinya. Dengan sabar ia mengelus pipi Johnny.

"Ceritakan padaku Jae, kumohon ceritakan padaku." Ucap Johnny melihat kedalam mata Jaehyun, yang ditatap pun hanya mampu mengulas senyum pedih menerawang akhir hidupnya.

-

-

-

"K-kau siapa?" suara yang biasanya terdengar ceria tersebut kini terdengar ketakutan. Di depannya, berdiri seorang lelaki yang mengacungkan pisau ke arahnya. Tentu Jaehyun takut, siapa yang tidak takut jika seseorang mengacungkan pisau ke arahmu? Terlebih kau tidak ahli dalam beladiri.

"Kenapa kau merebut Johnny dariku? Setiap ia mendatangiku kini hanya untuk membicarakanmu! Tidak tahukah kau jika aku yang selama ini menyukainya hingga rela menjadi maanjernya dan melepas mimpiku! Kau Jung sialan!!!" Perkataan manajer Johnny pun membuat Jaehyun lengah dan digunakan kesempatan ini oleh Ten untuk menyerangnya duluan dengan cekikan sekuat tenaganya hingga Jaehyun tumbang dengan ia diatasnya

"Kkkhh..." Jaehyun mencoba menggapai apapun agar terlepas dari cekikan Ten. Nafasnya sungguh amat sesak, sumpah demi apapun, ia hanya ingin menemani idolanya.

Jikalau ia tau dari awal bahwa Manajer Johnny ini tak suka dengannya, Jaehyun akan dengan rela mundur.

"Mati kau sialan!" cekikan Ten pun semakin menguat yang membuat kesadaran Jaehyun pun perlahan menghilang. Dan hal terakhir yang ia ingat hanyalah Johnny Seo... idolanya

Johnny hyung...

Jaehyun pun meninggal ditangan Ten dan dengan senyum puas, Ten pun meninggalkannya.

-

-

-

Johnny dan juga Mark menatap Jaehyun dengan pandangan shock, tidak percaya dengan yang mereka lihat barusan. Terlebih Johnny yang raut wajahnya perlahan mengeras.

"Hyung... maafkan Ten-sshi, ia hanya mencintaimu hyung.."

"TIDAK! Maksudku- tidak Jaehyun, aku tidak mampu memaafkannya. Mark! Suruh Doyoung datang kemari dan menangkap Ten sialan itu! Gunakan cara apapun untuk memerangkapnya!!" Mark yang terpanggil pun hanya mengangguk dan meninggalkan Johnny dan juga... arwah Jaehyun. Si manis berdimple ini pun menatap kepergian Mark dengan cemas.

"Jaehyun, kupastikan Ten akan mendapat balasan setimpal." Raut wajah Johnny pun kembali melembut saat menatap Jaehyun, mengelus tangan kesayangannya dengan halus.

Perlahan Jaehyun pun melepaskan genggaman Johnny dan mengambil sebuah kotak berwarna biru dengan pita hitam.

"Hyung, aku ingin memberimu ini. Seharusnya sudah kuberikan saat kita pertama bertemu.. Tapi-" Jaehyun tak mampu mengungkapkan apapun lagi, tangannya bergetar menyodorkan kotak hadiah tersebut. Bersyukur Tuhan mau membuatnya mampu memegang hadiah ini. Johnny pun menerima kotak tersebut dan membukanya, sebuah syal berwarna hitam dengan loreng biru adalah yang Johnny lihat.

"Ini.. kubeli, agar hyung tidak kedinginan. Udara gunung sangat tidak baik untukmu hyung." Ucap Jaehyun tersenyum. Dengan gemetar Johnny pun mengeluarkan syal tersebut dan memakainya.

"Terimakasih Jaehyun, aku mencintaimu." Sahut Johnny parau yang membuat mata Jaehyun berkilat bahagia. Perlahan Johnny memeluk Jaehyun erat dan wajah mereka mendekat. Jaehyun yang mengerti pun langsung menutup matanya, hingga bibir mereka bertemu dalam suatu ciuman hangat tanpa nafsu.

Johnny hyung, hiduplah dengan baik. Aku Mencintaimu. Mulai sekarang, akan kukirimkan semua surat-suratku dari surga. Jangan lupa membacanya ya hyung! Bye bye... Johnny hyung.

Jaehyun pun menghilang meninggalkan Johnny yang kini terduduk menangisi Jaehyun nya yang kini sudah pergi. Benar benar pergi.

.

.

.

Sudah 3 bulan sejak kejadian di Gunung Fuji. Kini, Johnny tengah di sebuah taman sembari meminum kopi favoritnya. Ten kini di penjara, karena ia tertipu daya oleh Jeno dan Mark hingga pada akhirnya menceritakan semua kebusukannya tanpa sadar bahwa itu semua terekam. Johnny sungguh puas akan kerja pasangan itu. Ah, soal Jaehyun, Johnny yang paling sering mengunjungi makam nya, dan sampai sekarang masih membawa syal pemberian Jaehyun kemanapun ia pergi.

Memikirkannya, membuat Johnny bertanya tanya..

Jaehyun, sedang apa ya di surga sana?

Johnny pun melirik kopinya yang sudah habis dan memilih berdiri hendak meninggalkan taman tersebut, sebelum-

Bruk

Baru tiga langkah ia berjalan dan sudah ditubruk oleh seseorang.

"Ah, mian! Maafkan aku!"

DEG

S-suara ini?

Johnny pun memberanikan diri melihat seseorang yang tengah merasa bersalah dihadapannya.

Jaehyun!

"Jay Lee!" suara seseorang menginterupsi Johnny dan pemuda bernama Jay Lee ini yang tanpa disadarinya tengah tersenyum hangat.

"Taeyong hyung!" panggilnya semangat. Lelaki serupa karakter anime ini pun tersenyum dan mengusak rambut pemuda dihadapan Johnny ini.

"Oh, kenalkan aku Lee Taeyong dan ini Jay Lee. Ia istriku, maafkan ia yang ceroboh karena terlalu asyik dengan es krimnya ini" sahut Taeyong membungkuk sopan memohon maaf pada pria jangkung yang barusan ditabrak oleh kesayangannya ini. Johnny pun hanya mampu tersenyum hambar dan mengucapkan ia baik baik saja. Pasangan suami-suami itu pun pergi setelah diizinkan oleh Johnny.

Johnny pun hanya mampu menatap mereka dengan Jay Lee tengah bersandar di pundak Taeyong dan sang lelaki dominan memeluk pinggang Jay Lee. Tanpa sadar Johnny pun menangis kembali.

Jaehyun...Apa kau memang tak pernah bersedia menjadi milikku?

My Jaehyun...

Di kehidupan selanjutnya, jika Tuhan mengizinkan...

Maukah kau merubah margamu menjadi Seo?

Aku bersedia sepenuh hati membahagiakanmu.

Aku berjanji akan menjagamu dengan nyawaku.

Maka dari itu Jaehyun...

Tolong,

ambil aku jika kau bersedia.

END

A/N : err oke.. ini adalah endingnya, maafkan jika tebakan kalian benar, ini memang sad ceritanya.. dan malah berantakan begini hasilnya. Terimakasih yang mau menunggu dan review cerita ini dari sang writer baru lagi. ah, jika ingin.. akan dipost yang happy ending antara JohnJae.

oke, how about this ending?