Disclaimer : Naruto BUKAN punya saya.
What was that? © Vandalism27
Warning : Drabble, cerita super pendek, ga jelas, typo(s) dan seabrek kekurangan lainnya. Mohon dimaklumi, ya.
.
.
.
06
Naruto baru saja tiba di stasiun Konoha, setelah ia merantau selama tiga tahun di Suna. Pemuda itu tampak bahagia ketika akhirnya ia bisa menginjakkan kaki di tanah kelahirannya lagi. Ia pun bergegas pergi menuju ke rumah ibunya karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Ketika Naruto melewati kompleks pemakaman, ia berpapasan dengan Jiraiya, seorang kakek tua yang sudah ia anggap seperti kakek kandungnya sendiri. Jujur sana, Naruto merindukan kakek itu dan segala tingkah konyolnya. Mereka sudah tiga tahun tak bertemu.
"Jiraiya Jii-chan!" Sapa Naruto.
Jiraiya, yang semula berjalan sambil menunduk pun mendongak. "Oh, Naruto. Akhirnya kau pulang juga. Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik! Bagaimana kabar Jii-chan? Oh, ngomong-ngomong, Jii-chan mau kemana?"
Jiraiya menunjuk ke kompleks pemakaman yang tampak sepi. "Aku mau pulang," jawabnya.
"Oh, Jii-chan pindah rumah di dekat pemakaman?" tanya Naruto, yang dibalas anggukan. "Baiklah, besok aku akan main ke rumah Jii-chan. Sekarang aku pulang dulu, ya, Ibu sudah meneleponku sejak tadi. Sampai jumpa!" Naruto melambaikan tangannya, lalu pergi meninggalkan Jiraiya yang diam sambil memperhatikan punggung pemuda itu.
Ketika sampai di rumah ibunya, sambil menonton televisi Naruto menceritakan keinginannya untuk mengunjungi rumah Jiraiya yang baru pada sang ibu.
"Ibu, aku ingin berkunjung ke rumah baru Jiraiya Jii-chan," kata Naruto.
"Rumah baru?"
"Iya, yang di dekat pemakaman. Tadi aku berpapasan dengannya di depan pemakaman," kata Naruto.
Sang ibu menatap Naruto dengan tatapan heran. "Tapi Naruto, Jiraiya-san sudah meninggal seminggu yang lalu. Ibu ingin memberitahumu, tapi Ibu lupa."
Seketika, remote televisi yang Naruto genggam, terjatuh ke lantai.
.
07
Uzumaki Naruto, seorang murid baru di Konoha High School, berlari kecil menuju ke halte di dekat sekolahnya untuk menunggu bus yang akan mengantarnya pulang.
Halte itu tampak sepi, hanya ada seorang gadis cantik yang sedang menunggu di sana. Naruto bersiul dalam hati, merasa beruntung bisa menunggu di halte bersama dengan seorang gadis cantik.
Gadis itu berambut panjang. Kulitnya putih pucat. Matanya bulat dengan warna putih keperakan yang tampak unik. Kalau dilihat dari seragamnya sih, sepertinya dia satu sekolah dengan Naruto.
"Hai," sapa Naruto.
Gadis cantik itu pun menoleh. Ia tersenyum malu-malu, lalu membalas sapaan Naruto. "Hai," balasnya.
"Namaku Uzumaki Naruto, murid baru di Konoha High School. Kalau kau, namamu siapa? Sepertinya kita satu sekolah," tanya Naruto pada gadis itu.
Sang gadis tersenyum manis. "Hyuuga Hinata," jawab gadis itu. "Kau pindahan dari mana?"
"Dari Suna. Aku pindah kemari karena ibuku ditugaskan di Konoha oleh atasannya."
"Oh."
Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Naruto berdering. Ternyata dari Shikamaru, ketua kelasnya. Mereka bertukar nomor ponsel siang tadi. "Maaf, ya, temanku menelepon," Naruto berdiri, lalu mengangkat telepon itu agak jauh dari Hinata. "Ya, Shikamaru?"
"Kau sudah pulang, Naruto? Aku lupa memberitahumu sesuatu. Kalau kau mau naik bus, jangan naik dari halte di dekat sekolah, ya. Sebaiknya kau naik dari halte yang di depan minimarket saja."
Kening Naruto berkerut bingung. Dia memperhatikan Hinata sekilas, lalu memunggungi gadis itu. "Memang kenapa?"
"Menurut rumor yang beredar, halte yang ada di dekat sekolah berhantu. Dulu ada seorang murid yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas di depan halte itu. Ia tewas di tempat, dan katanya arwahnya masih gentayangan di sana. Aku sih tidak percaya pada gossip seperti itu, tapi lebih baik berjaga-jaga saja," kata Shikamaru. "Oh iya, murid korban kecelakaan itu bernama Hyuuga Hinata."
Naruto tidak bisa merespon kata-kata Shikamaru, ketika sesuatu yang dingin menyentuh punggungnya, disertai dengan suara lembut Hinata yang terdengar menakutkan.
"Apa kau mau menemaniku di sini? Aku kesepian."
.
08
Siang itu, Naruto, seorang bocah laki-laki berusia enam tahum, ikut ayahnya untuk mencari rumah baru yang akan mereka tinggali. Rumah mereka yang lama akan di jual, dan sang ayah berencana memboyong keluarganya ke rumah yang lebih besar.
"Bagaimana, Naruto? Kau suka dengan rumah ini, kan?" tanya sang ayah.
"Tidak, aku tidak suka," jawab Naruto. "Aku lebih suka rumah kita yang lama, Ayah."
"Kenapa?" sang ayah bertanya dengan heran. "Rumah ini besar dan bagus. Lihat, ada kolam renangnya juga. Naruto suka berenang, kan?"
Ekspresi wajah Naruto terlihat kesal, lalu ia menunjuk ke kolam renang. "Aku tidak suka pada kakak itu!" seru Naruto.
"Kakak? Kakak yang mana?"
"Yang ada di kolam renang!" Naruto menurunkan jarinya, lalu menarik tangan sang ayah untuk segera pergi dari rumah itu. "Kakak yang sedang duduk di pinggir kolam itu tidak punya kepala, Ayah! Aku tidak suka padanya!
.
09
Pagi itu, kelas X-3 menghadapi mimpi buruk bagi sebagian siswa, yaitu ulangan matematika.
"Tutup dan simpan buku kalian, kita mulai ulangan matematika-nya!" seru Kakashi-sensei, wali kelas di kelas X-3.
Uchiha Sasuke, salah satu murid di kelas X-3 yang duduk di bangku nomor dua dari belakang, menoleh pada teman yang duduk di belakangnya. "Naruto, kenapa kau tidak memberitahuku kalau akan ada ulangan matematika? Aku belum belajar, tahu!" protes Sasuke.
Murid bernama Naruto itupun berusaha membela dirinya. "Hah? Aku sudah memberikan fotokopi catatanku padamu, kan? Lagi pula, kenapa kemarin kau tidak masuk sekolah?"
"Kapan kau memberikan fotokopi catatan? Kemarin aku sakit, jadi tidak bisa masuk sekolah."
"Aku sudah memberikan catatannya kemarin sore, Teme! Aku memberikannya pada pembantumu, aku juga titip pesan padanya kalau hari ini ada ulangan matematika." Naruto ngotot, dia benar-benar sudah menyampaikan semuanya ada pembantu di rumah Sasuke.
Kening Sasuke berkerut bingung. "Pembantu?"
"Iya, yang rambutnya panjang dan berwajah cantik."
"Tapi, Dobe. Kemarin aku dan ibuku seharian di rumah sakit, ayah dan kakakku sedang berada di luar kota, jadi rumahku kosong. Lagi pula, keluargaku tidak pernah punya pembantu. Mungkin kau salah rumah!"
Dan Naruto pun terdiam, tidak bisa menjawab kata-kata Sasuke.
.
10
Malam itu, Naruto merasa sangat lelah karena baru pulang dari luar kota. Ketika sampai di rumah, pria itu menghela napas mendapati rumahnya dalam keadaan sepi karena Hinata, sang istri, belum pulang kerja.
Naruto pun memutuskan untuk mandi lalu langsung tidur.
Entah sudah berapa lama Naruto memejamkan mata. Pria itu terbangun ketika ia merasakan sisi kasur di sebelahnya berderit. Seseorang sedang menaiki kasur itu, lalu berbaring di sebelah Naruto.
'Oh, Hinata sudah pulang rupanya,' kata Naruto dalam hati. Naruto terlalu malas berbalik, dia pun melanjutkan tidurnya tanpa menyapa sang istri.
Beberapa menit kemudian, Naruto kembali terjaga ketika ponselnya berdering. Tangan pria itu meraba-raba meja kecil di sebelah ranjangnya, lalu mengangkat telepon itu tanpa membuka mata.
"Halo?" Sapa Naruto dengan suara serak khas orang mengantuk.
"Naruto-kun? Kau sudah tidur, ya? Maaf mengganggu tidurmu, tapi bisakah kau membuka pintu depan? Sepertinya kunciku tertinggal di kantor," suara lembut Hinata terdengar dari seberang telepon.
"Oh, iya, tunggu sebentar–" ucapan Naruto terhenti.
Kalau Hinata masih di luar, lalu siapa sosok yang menaiki ranjang lalu berbaring di balik punggung Naruto?
.
.
FIN
.
.
Aku bakal kasih label completed di setiap chapter fic ini, soalnya aku masih galau antara mau lanjut atau tidak. Jadi kalaupun aku memutuskan untuk tidak lanjut, setidaknya labelnya 'completed'. Biar hutang fic-ku nggak nambah, hahahaha XD
Oh iya, antara satu cerita dan cerita yang lainnya tidak berkaitan, ya.
Jadi, masih mau lanjut?
