Sebuah taman bermain tampak diselimuti oleh salju. Meskipun begitu, masih ada yang bermain disitu. Kushina kecil menggigil di pelucuran. Meskipun memakai jaket tebal, dia terus berdiam disana karena tangannya terbuka tanpa ada sehelai benang menyelimutinya.
Masih sibuk menggosok-gosong tangannya, Kushina kecil didatangi seorang gadis berambut hitam pendek yang terlihat seumuran dengannya.
"kau tidak apa apa? Mau pinjam punyaku?" Tanya gadis itu sambil menyodorkan sepasang kaus tangan berwarna coklat.
Kushina hanya terdiam sehingga gadis itu langsung memakaikan di tangannya. Kushina terkaget penuh kebingungan "ta-tapi…"
"um! Kenapa?" Tanya gadis itu kembali.
"anu.. kau siapa?" Tanya Kushina balik ragu-ragu.
Gadis itu terkekeh lalu ia tersenyum lembut "aku Mikoto! Mikoto euhera! Kamu?"
"Ku-Kushina"
-I can see a ghost-
"chapter 2: another person"
~kamar Kushina~
Matanya terbuka dan memperlihatkan bola lavender yang indah. Entah Karena baru bangun pagi, atau memang Kushina sedih. Ia terlihat berkaca-kaca. Ekspresi wajahnya tidak menentu antara marah dan sedih. Kushina segera bangun dari tidurnya. Tangannya segera menutupi seluruh wajahnya.
"Mikoto….. Uhera!"
Semenit kemudian Kushina langsung pergi menuju kamar mandi. Dia mencuci mukanya. Terlihat jelas di cermin, wajahnya sangat frustasi. Lalu ia mengambil sikat gigi, memolesinya dengan pasta gigi, lalu mulai menggosok tidak karuan. Cepat- cepat berkumur. Namun saat melihat dirinya di cermin lagi, Kushina berkeringat dingin.
Yang pasti, Kushina sedang tidak sendiri dalam kamar mandi itu. Terlihat di cermin pantulan Kushina dengan seorang gadis berambut hitam panjang di belakangnya. Wajah gadis itu tidak terlihat karena tertutup rambutnya. Ia masih memakai seragam SMA. Tubuhnya basah kuyup. Kulitnya pucat pasih.
"a.." Kushina terdiam sedang sosok itu mulai mengangkat wajahnya, beberapa helai rambut tersisih kesamping memperlihatakan mata putih tanpa pupil. Kushina meng-gigit bibirnya dan akhirnya….
"KYAAAAA…!" dengan cepat ia keluar dari kamar mandi dan menutupnya rapat rapat. Kushina turun dari kamarnya di lantai dua menuju ruang makan.
Mito atau ibu Kushina terheran heran melihat anaknya sendiri datang dengan nafas tidak beraturan.
"Kushina? Kau kenapa?" Tanya Mito.
Kushina mulai mengatur nafasnya 'yang benar saja! Ada hantu di kamar mandiku? Apa selama ini dia disana?' batin Kushina.
"Kushina.. apa kau dengar?" Tanya Mito lagi yang mulai kesal dengan ketulian anaknya itu.
"hah! A.. apa yang ibu katakan?"
Segera sendok yang berada ditangan Mito melayang ke arah Kushina. Meskipun hanya lewat, beberapa helai rambut Kushina jatuh. Seluruh ruangan itu dipenuhi aura gelap milik Mito. Kushina hanya menelan ludahnya sendiri.
"tolong hentikan ketulianmu itu… Kushina.. chan…" kata Mito penuh tekanan terlebih di akhir kalimat.
'i-ibu ternyata lebih menakutkan daripada hantu..' batin Kushina "ma-maaf ibu.. aku mencium bau enak dari dapur.. jadi cepat-cepat turun. Haha.. ternyata ada ramen" kata Kushina yang terkesan dipaksakan.
Tiba tiba aura gelap tadi berubah menjadi kebalikannya. Mito tampak berbinar-binar mendengar pujian dari anaknya. Sedang Kushina cengo melihat ibunya sendiri 'gampang di tipu' batinnya. Kushina mulai memakan ramen itu.
"oh ya! Kushina, bagaimana kencanmu kemarin dengan Minato?" Tanya Mito tiba tiba.
"ugh! Uhuk uhuk" Kushina langsung batuk menerima pertanyaan itu. Dia lalu mulai membayang kan kejadian kemarin.
Saat bermain di festival. Mereka bermain lempar kaleng bersama hantu polisi tanpa kepala. Membeli takoyaki dan disamping kedai itu ada hantu anak kecil. Duduk ditaman, dengan hantu yang bergelantungan di pohon belakang mereka. Kushina ke wc wanita, tidak jadi saat melihat hantu yang merayap di atas pintu masuk.
Kushina menggelengkan kepalanya membuang jauh jauh kejadian itu dari otaknya. "tidak ada yang menarik. Semua biasa-biasa saja. Anu.. ibu, tolong ambilkan perlengkapan sekolahku di atas"
"baiklah" kata Mito dan pergi menaiki tangga.
-skip time-
~jalan menuju sekolah~
Kushina menundukan kepalanya sepanjang perjalanan. Dia tidak sangka kalau di jalan seramai ini masih ada juga hantu berkeliaran. Kepalanya berpikir keras, kemungkinan melihat hantu ini karena Minato. Tapi dia sama sekali tidak akan menyerah untuk membuat Minato tidak sendiri lagi.
Hasil dari kebersamaan Minato membuat Kushina mampu menghilangkan rasa takutnya dengan mudah melalui pelatihan panjang. menonton film horror dan mengujinya dengan hantu asli. Masih sibuk berfikir, Kushina bertabrakan dengan seseorang. Untungnya tidak ada yang jatuh.
"ah! Maaf-maaf! Ini salahku" kata Kushina masih menunduk.
"baguslah kau menyadari kesalahanmu" kata pria itu berambut hitam itu.
Kushina mendogakkan kepalanya dengan emosi "apa yang..! siapa kau? Kenapa kau mengatakan itu. Aku sudah minta maaf"
"namaku? Fugaku Uciha. Biar kuperjelas! Beberapa hari yang lalu di jalan ini, kau menendang kaleng bekas padaku. Dan benda itu mengenai kepalaku" jawabnya.
"kaleng bekas.." Kushina tersadar pernah melakukan itu "ah..haha… benar juga"
"FUGAKUU!" terdengar triakan dari belakang Kushina. Minato berlari dengan kencangnya, membawa.. Katana?
"Mi-Minato…"Kushina mundur selangkah.
Minato melompat dengan katana terhunus pada Fugaku. Terlihat Fugaku mengambil semacam pisau kecil dari belakangnya untuk menahan terjangan Minato. tabrakan senjata mereka menghasilkan angin ribut di sekitarnya, membuat Kushina menutup wajah dengan kedua tangannya.
Namun saat angin itu hilang, Kushina tidak melihat keberadaan dua pria tadi. Kushina menurunkan tangannya. Dia berfikir mungkin mereka sudah pergi. Semua orang disekitar situ menatapnya dengan pandangan aneh.
Merasa bersalah "maaf, maaf" Kushina segera membungkuk kesegala arah. Setelah itu dia pergi ke Sekolah.
Saat tiba di Sekolah, Minato tidak berada disana. Hingga jam pelajaran pertama dan kedua, dia tidak datang sama sekali.
~jam istirahat~
Kushina pergi ke taman belakang sekolah membawa kotak bekal. Dia duduk bersandar di pohon yang sering didatangi Minato. kushina mulai makan. Ia mengingat kejadian pagi ini. Gerakan tangannya terhenti "kemana mereka pergi" hanya pertanyaan itulah yang terus terngiang-ngiang di telinganya.
Tiba tiba hawa dingin menyelimutinya dari belakang. Dengan gerakan kaku, Kushina melihat kebelakang. Sosok yang baru dia temui di kamar mandinya ada disini. dibelakangnya. Tetesan air dari tubuh sosok itu mengenai Kushina.
-skip time-
~kelas 3-1~
Kushina duduk dengan nafas tidak beraturan. Yanbi menghampirinya dengan wajah cemas.
"Uzumaki-san!" panggil Yanbi.
"a-ada apa? Yanbi?" Tanya Kushina heran.
"gawat! Tadi di perpustakaan, 3 siswa masuk rumah sakit"
"kenapa bisa?"
"ada gossip, mereka diganggu hantu perpustakaan. Oh, ya! Aku dengar akhir akhir ini kau dekat dengan Namikaze-san. apa sekarang kau bisa melihat hantu? Bisakah kau ikut denganku?"
Kushina menelan ludah dan tersenyum pahit "mana mungkin aku bisa melihat hantu. Tapi maaf, Yanbi.. aku sangat lelah hari ini"
Yanbi sangat kecewa, hanya butuh sedetik untuk mengembalikan semangatnya. "tidak apa-apa. Aku mengerti.. dah.." baru selangkah dia jalan "Uzumaki-san. aku penasaran, kenapa Namikaze-san tidak hadir hari ini?"
"um! Ada apa?" Tanya Kushina balik.
Yanbi menengok ke belakang tepatnya kearah Kushina sambil tersenyum "bukan apa apa" lalu pergi keluar kelas.
Kushina terheran lalu menghela nafas panjang. dia memandang langit luar. Tiba tiba sosok itu muncul dengan tergantung di luar jendela. Kushina ketakutan lagi dan membaringkan wajahnya dimeja.
"kenapa hantu itu mengikutiku terus.. baru tadi lolos. Sekarang dia muncul lagi" rintih Kushina dan mulai tertidur. Beberapa menit kemudian…
"BRUKK"
Kushina segera terbangun setelah mendengar suara tabrakan yang keras. Kushina langsung berdiri saking kagetnya. Dia masih berada dikelas. Tapi, semua gelap. Seperti sedang malam. Sejenak kepalanya terasa pusing.
Kushina merasa mengenal keadaan ini. Dia berlari keluar kelas. Suara perkelahian terdengar. Dari jendela koridor lantai 2 sekolah, kushina bisa melihat jelas minato dan fugaku berkelahi. Seragam mereka juga sudah sangat lusuh. Dan yang paling aneh selain gedung ini seperti sudah ditinggalkan puluhan tahun, tidak ada siapa siapa disini, benar benar sunyi.
Lapangan sekolah telah hancur. Entah darimana dan bagaiman, Kushina melompat dengan lihainya hingga dapat mendarat mulus di lapangan. Karena kehadiran mendadak Kushina, dua pria yang sementara berkelahi itu berhenti.
"Kushina! Sedang apa kau disini?" triak Minato.
"kalian berdua hentikan! apa kalian sudah mem-bomb lapangan ini? Nanti ditangkap pemerintah" teriak Kushina.
"pemerintah apanya? Pemerintah tidak akan menangkapku! Mereka bahkan tidak tahu tempat ini dan tidak akan pernah bisa kesini" kata Fugaku.
"diam kau! Fugaku!" Minato maju dengan katana miliknya disambut Fungaku dengan dua pisaunya.
Kushina hanya melongo melihat perkelahian itu. Setiap senjata mereka bertabrakan, selalu saja ada angin ribut. Seperti halnya angin yang bertabarakan. Terlebih mereka berkelahi menggunakan senjata tajam.
"itu senjata asli… apa mereka mau saling membunuh" gumam Kushina.
Minato menghempaskan katana-nya menciptakan sebuah cahaya putih yang tertuju ke pijakan lawannya. Fugaku melompat menghindar. Dan akhirnya tanah tempat dia tadi berdiri hancur seketika.
Fugaku mendarat dia atas tiang ring bola basket. "kau marah karena aku berbicara dengan gadis itu! Berarti dia sangat berarti untukmu kan, Minato?" Fugaku melompat ke arah Kushina dengan pisau terhunus ke arahnya.
"dan semua yang berarti untukmu, pasti akan kuhancurkan" sebuah cahaya merah muncul di ujung pisau itu seakan akan siap menghancurkan tubuh Kushina tanpa sisa.
Mata Minato membulat. Dia sadar tidak akan bisa mencegah hal itu. "KUSHINAA!"
Kushina hanya bisa terdiam menghadapi nasibnya. namun seakan waktu berjalan lambat, sebuah kenangan lama menghampirinya. Fugaku tersenyum penuh kemenangan.
"BUUMM!"
Daerah itu hancur lebur. Minato jatuh terduduk. Dia tidak bisa berkata apa-apa. sedang tawa keji Fugaku menggelegar.
~gedung rumah sakit ternama di Tokyo~
Di salah satu kamar VIP, tempat ayah Kushina, Hashirama dirawat. Mito berbincang dengannya. Jam menunjukan pukul 1 siang. Tapi tiba tiba semua menjadi gelap. Dari yang tadinya siang menjadi malam. Hashirama langsung bangun. Sedang Mito berdiri penuh waspada.
Pandangan mereka berdua teralih kejendela setelah merasakan sesuatu. Dengan cepat Hashirama menerjang istrinya hingga mereka terjatuh. Tiba-tiba kaca retak dan pecah. Hashirama segera melindungi istrinya dari pecahan kaca itu.
Kain horden yang menyelimuti jendela itu berterbangan di terpa angin. Pandangan dua insan itu kembali kearah jendela. Dari balik kain, sosok gadis berambut hitam panjang muncul. sosok yang sedari tadi mengikuti Kushina.
Tatapan Hashirama dan Mito menjadi serius. "Yushina! Jadi kau yang membawa kami ke dimensi astral" ucap Mito penuh emosi.
Sosok itu melayang didepan jendela. Rambutnya terangkat menjadi 9 bagian memperlihatkan matanya yang berubah mejadi merah terang. Dia membuka mulutnya dan seketika suara jeritan mendengingkan seluruh ruangan itu.
Hashirama langsung bertindak membawa lari Mito dan kabur dari ruangan tadi. Hanya 10 detik berlangsung dan ruangan itu hancur. Sosok itu masuk dan menaruh selembar kertas di lantai. Setelah itu tubuhnya menghilang bagai asap tertiup angin.
Semenit kemudian, Hashirama dan Mito masuk kembali. "aku heran harus menganggap dia musuh atau teman. Setiap bertemu selalu ingin membunuh kita" kata Mito.
"um! Dan sepertinya sekarang dia lebih kuat dari terakhir kita bertemu" Hashirama melihat kertas tadi dan mengambilnya.
Mito menghampiri suaminya "apa itu?"
"tidak tau" jawab Hashirama. Mereka langsung terkejut, Setelah melihat isi dari kertas itu. Hashirama dan Mito saling berpandangan dengan wajah khawatir.
"apa yang dia rencanakan?" ucap Mito dengan suara bergetar.
TBC~
