MINNA! GOMENASAIIIII! maaf milda baru bisa update.. trima kasih buat dukungannyaa.. love you all... chapter kali ini bakal lebih panjang dari biasanya karena udah masuk mainstory... yey akhirnya bisa di post. Udah berbulan bulan cerita ini berkarat di laptop tapi gak ada waktu buat di post... kenapa gak di up? hah, milda hanya gak nyangka aja kehidupan SMK itu jauh dari kata tenang...
baiklah, dari pada dengerin curhatan gaje ane, mending langsung baca aja, cap cus reader~~ (scroll nya yang lambat yaa *-*)
Sebelumnya:
"kaa.. san"
Semuanya langsung melihat ke arah pintu yang terbuka lebar, mereka langsung tekaget termasuk Minato. di ambang pintu, seorang gadis berambut merah panjang sedang berdiri. Seragamnya dilumuri darah. Matanya yang merah mulai pudar menjadi permata lavender yang indah yang ternyata adalah Kushina.
"kenapa kau telat pulang, Kushina?"
Kushina lalu memalingkan wajahnya kearah kanan dimana sumber suara tadi, Minato berjalan pelan kearahnya "semuanya khawatir karena kau belum pulang" tambah Minato dengan nada datar. Ia lalu berhenti tepat didepan Kushina. Sedang Kushina hanya menatap heran padanya.
Minato yang menyadari itu langsung mencubit pipinya "hei.. kenapa kau menatapku seperti itu hah? Apa perkataanku kurang jelas" kata Minato penuh tekanan.
Kushina merintih kesakitan dan menangkap tangan itu, ia menurunkan tangan Minato dari wajahnya.
"apa?!" Tanya Minato jengkel.
"ano… apa kita saling kenal ya..?" Tanya Kushina heran.
"eh?" seketika mata Minato terbelalak kaget mendengar pertanyaan Kushina. Jantungnya berdegup kencang. Tidak biasanya ia merasakan ketakutan seperti ini. Rasa takut yang teramat sangat.
Kushina sedikit memiringkan kepalanya "maaf.. aku tidak mengenalmu.." lanjut Kushina dengan lembut.
"kau… siapa…?"
.
.
.
Pairing: Minato Namikaze, Kushina Uzumaki
Naruto from Masashi Kishimoto
Warning: ceritanya aneh, ancur, sulit dimengerti.
Genre: supranatural, tragedy, horror, romance, drama
.
.
.
Readers, milda hanya membuat cerita dari imajinasi aja ya.. bukan realita
.
.
-I can see a ghost-
"chapter 6: Lost Memory 2"
~kediaman Uzumaki, ruang pertemuan~
"apa maksudmu? Jangan bercanda Kushina.. ini tidak lucu.." bentak Minato.
Sebuah Sewotan muncul di kepala gadis itu "dari tadi kan sudah kubilang aku tidak mengenalmu, kau siapa?!" ucap Kushina stengah marah 'apa apa-an sih.. ni orang sok kenal sama aku… kalau bukan di depan Kaa-san, pasti sudah kutendang' gerutu Kushina dalam hati.
"UZUMAKI…SAN…!" Yanbi tiba tiba muncul dan memeluk Kushina dengan erat. "syukurlah~ kau baik baik saja" ia lalu melepaskan pelukannya. "apa ini? Darah?" Tanya Yanbi saat melihat cairan merah di seragam Kushina.
"bukan.. jus tomat" jawab Kushina dengan singkat, padat, dan jelas.
"oh~.. begitu.." Yanbi lalu berpaling menatap Minato. "eh?" ia terkejut melihat Minato menunduk dengan pandangan kosong "Namikze-san.. ada apa?" Tanya Yanbi.
Minato sedikit mengangkat kepalanya, "bukan apa apa" jawabnya datar lalu mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
-skip time-
~besoknya, taman belakang sekolah~
Yanbi berjalan menelusuri pepohonan sambil membawa dua kaleng minuman soda di tangannya. dia berhenti sejenak di pinggir pohon yang selalu menjadi markas Minato. namun pria itu tidak ada disana. Yanbi mengadahkan kepalanya keatas lalu menemukan Minato sedang duduk bersandar di atas dahan pohon yang cukup besar diatasnya.
"ah! Namikaze-san.. ini minumanmu" teriak Yanbi dari bawah dan langsung melempar kaleng itu.
Dengan sigap, Minato menangkapnya "arigatou" katanya dengan nada datar.
"hah~ aku tau kau sedang memikirkan Uzumaki-san. aku juga tidak menyangka bagian terburuknya akan terjadi. Pada akhirnya.. Uzumaki-san benar benar melupakan kita berdua.. bahkan pertunanganmu dengannya sudah ia lupa.. sekarang, kita hanya orang asing bagi Uzumaki-san" Yanbi lalu bersandar pada batang pohon.
"kalau kau kemari untuk mengejek ku.. lebik baik pergi saja sana" usir Minato.
"kau ini.. benar benar kejam.. aku jadi ingat saat kita pertama bertemu.. kau sama skali tidak berubah.. kita diberikan misi untuk menjaga sekolah ini.. kau memilih untuk tidak berteman lagi, jadi kau bisa bebas berkeliaran di sekolah. Sedang aku mendapat peran sebagai ratu gossip untuk mendapatkan informasi tentang apa saja yang terjadi disekolah. Dan kita juga punya perjanjian hanya akan bicara kalau ada sesuatu yang genting"
"memangnya kenapa?"
"tidak apa apa.. oh ya! Aku sudah menemukan markas persembunyian Aktsuki di dimensi astral.. tempatnya di stadion. Merekalah yang menculik Kushina. Ketua kelompok mereka adalah Kabuto Yakushi.." Yanbi lalu terdiam memikirkan sesuatu, pandangannya menunjukan sorot keseriusan. Ia menggigit bibirnya "dan juga.. kemarin, dia sudah meninggal. Penyebab kematian, karena kehabisan darah" sambung Yanbi.
Minato sedikit terkejut "lalu?"
"dia meninggal kehabisan darah karena tangan kanannya terpotong. saat aku menginstrogasi anak buahnya, kau tahu.. dalang dari penculikan Uzumaki-san.. adalah mantan temanmu.. Fugaku Uciha" Yanbi menengok ke atas dan melihat ekspresi terkejut Minato yang berlanjut dengan suara decihan dari mulutnya "dia melaporkan tentang Kushina pada Kabuto. Kau tahu kan.. Kabuto sangat membencimu. Mungkin dia menculik Kushina agar bisa melemahkanmu"
"dan.. bagaimana dengan orang yang membunuh Kabuto. Kehilangan tangan kanan, bukanlah secara kebetulan ini perbuatan hantu kan?" Tanya Minato.
"kau benar.. tapi saat kutanya tentang itu.. bawahan Kabuto Yakushi terlihat sangat ketakutan. Hei.. Namikaze-san.. apa kau mau ikut denganku.. menginstrogasi mereka kembali?" Tanya Yanbi balik.
"baiklah.. terserah kau.." jawab Minato. "lalu bagaimana dengan perintahku tentang Kurama dan orang tua kushina?" sambungnya datar.
"ah, itu.. kalau Kurama, tidak bisa kupastikan sih tapi yang kudengar dia adalah makhluk kuno, iblis paling tua yang masih hidup hingga sekarang. Hanya itu yang kudapat tentangnya. Soal orang tua Uzumaki-san, aku menemukan sesuatu yang menarik" jawab Yanbi yang sengaja menunda perkataanya sambil melihat ekspresi penasaran Minato.
Ia lalu melanjutkan "orang tua Uzumaki-san, dulunya adalah anggota Kurayami no Hikari juga tapi sudah lama pensiun. Lalu mereka membangun perusahaan yang kini mendanai langsung Kurayami no Hikari. Mereka seperti anggota belakang layar. Karena itulah kemarin, pertemuan besar seluruh anggota Kurayami no Hikari diselenggarakan di kediaman Uzumaki. Selain itu, tentang Uzumaki-san sendiri… dia bukan anak kandung dari Mito Uzumaki" dan pernyataan ini langsung membuat Minato tersentak kaget.
"bukan anak kandung?"
"betul.. dia diadopsi sejak masih bayi bersama kakaknya. Kalau tentang kakaknya sendiri, namanya Yushina Uzumaki. Dia sudah meninggal 8 tahun yang lalu. Dibunuh oleh salah satu anggota kita. Saat aku mencari tahu lebih dalam lagi tentang asal usul Uzumaki-san dan kakaknya, juga tentang siapa anggota kita yang membunuhnya? apa alasannya? Aku menemukan kalau itu semua sangat dirahasiakan. Jadi aku tidak mendapatkan apa apa. Hanya itu"
Minato terlihat berpikir keras. Ia memikirkan berbagai keterangan tentang Kushina yang baru dia dapatkan. Kushina dan Yushina. Saudara yang diadopsi. Entah siapa mereka sebelum diadopsi. Melihat kondisi Kushina sekarang, apa dia juga tahu tentang kakaknya.
Yanbi lalu melangkahkan kakinya "aku harus pergi sekarang. oh ya! jangan bolos lagi.. sensei jadi marah marah tau.." katanya lalu pergi menjauh.
Saat Yanbi sudah menghilang dari pandangannya, Minato melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat terganngu. Apalagi kalau bukan tidur. Minato menutup matanya perlahan "sensei marah marah.." ucapnya pelan.
"benar juga.. sensei dan ketua OSIS sekolah ini juga anggota Kurayami no Hikari. Mereka mengenalku.. tapi siswanya takut padaku.. dunia yang sangat kejam.." sepintas muncul bayangan Kushina di benaknya.
"khu!khu!"
Minato langsung bangun dengan mode siaga "siapa disana?!"
"khu!khu!" terdengar lagi, suara tawa seorang gadis yang menggema disekitarnya. Minato memejamkan mata ikut merasakan hembusan angin yang menerpanya. 'dimana?' batin Minato sambil terus mempertajam insting cakranya. Lalu ia mulai merasakan kumpulan cakra yang sangat besar berada..
"diatas!" Minato mendongakkan kepalanya dan menemukan seorang gadis berpakaian sma bergelantungan diatasnya. Bajunya basah dan kulitnya sangat pucat. Rambut hitam panjangnya terurai kebawah, tepat di atas puncak kepala Minato. setetes air mengenai ubun ubun pria bersurai pirang itu.
Minato menegang dengan mata terbelalak. Wajah gadis diatasnya tidak terlihat jelas, namun sebuah senyuman lebar bagai iblis terukir di atas dagunya. Bergelantungan seperti itu sudah bisa dipastikan..
"kau bukan manusia…"ucap Minato. diapun segera sadar, bahwa tempatnya kini berubah total. Sosok gadis di atasnya naik dan melompat di ikuti Minato yang juga melompat turun. Sesampai di atas tanah, barulah terlihat jelas dimana ia saat ini.
"dimensi astral? Sejak kapan?" Minato langsung memasang pose siaga dihadapan sosok itu. tempatnya masih sama, taman belakang sekolah. Namun, Suasanya berbeda, sangat sepi dan juga sedikit gelap. Jika saja malam dimensi astral tidak dihiasi bulan merah, maka dimensi ini akan dalam keadaan gelap total karena tidak ada satupun lampu yang menyala.
"siapa kau?" Tanya Minato. setetes keringat meluncur dari pelipisnya 'cakra sebesar ini dimiliki sosok itu. dia bukan manusia, itu berarti hantu.. atau kah iblis?' pikir Minato.
Rambut hitam sepanjang lutut milik sosok itu bergerak tidak karuan "aku.. hantu.." ucapnya pelan dan sangat halus serasa ingin membuat bulu kuduk merinding. "juga…. Iblis" sambungnya.
Mata sapphire Minato menyipit "apa tujuanmu membawaku ke dimensi ini?" Tanya Minato lagi.
Sosok itu memiringkan kepalanya. Semakin miring hingga kulit lehernya robek "hihi.."
sebuah bola cahaya muncul di antara mereka dan tiba tiba meledak menciptakan ledakan cahaya yang menyilaukan. Minato memejamkan matanya.
SRINGG
"Minato!"
"Namikaze-san!"
Kilauan cahaya itu mulai memudar di iringi dua panggilan gadis yang saling bersahutan. Minato membuka kembali matanya, melihat Kushina dan Yanbi berada di sampingnya. Ia perlahan bangun sambil memegang kepalanya yang terasa sakit "apa yang terjadi?"
"tadi kau jatuh dari pohon dan langsung pingsan. Aku akan ambilkan air" ucap Kushina yang terlihat panic dan mulai berdiri meninggalkan mereka.
Minato menengok kesamping melihat Yanbi yang masih stay disana "dan kau.. kenapa kau disini lagi?"
BUGHH
"dasar beg*! Itu yang kau katakan setelah aku menolongmu hah!?" bentak Yanbi yang juga sangat panic
"ada apa sebenarnya ini?" Tanya Minato lagi yang masih bingung sambil mengusap kepalanya akibat jitakan gadis berambut biru pendek disampingnya itu.
Yanbi mulai menenangkan dirinya sambil mebuang-menarik nafas perlahan. Ia lalu mengambil kaca berwarna hijau tembus pandang seukuran kamus yang ada di belakangnya "aku merasakan cakramu dan cakra lain yang sangat besar ada disini. kupikir kau bertemu sesuatu yang sangat mengerikan, tapi entah mengapa aku tidak bisa masuk ke dimensi astral. Saking paniknya, aku kembali kekelas dan mengambil kaca ini lalu kembali kesini. Aku bisa melihat jelas kau bersama sosok itu. kupanggil panggil tapi kau tidak dengar. Jadi aku memasukan tanganku kedalam kaca ini menarikmu paksa keluar. Akhirnya kau kembali dengan keadaan jatuh dari atas pohon."
"Kushina?" Tanya Minato singkat.
"sepertinya dia lewat sini dan melihatmu jatuh tadi. Makanya dia panic. Dan juga… saat Uzumaki-san datang, aku merasa cakra sosok itu langsung menghilang" jawab Yanbi. "sosok gadis berpakaian seragam sma dulu, dengan sekujur tubuh basah. Rambutnya hitam sampai lutut. Hanya penampilan biasa tapi cakranya luar biasa. Cakra sebesar itu seharusnya dimiliki sosok yang lebih menyeramkan lagi, tapi dia.."
Minato kembali mengingat kejadian yang baru saja menimpanya itu dia menunduk sesaat "sosok gadis sma itu, tidak memiliki niat untuk bertarung denganku. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan hingga harus mengekang wilayah ini. Hingga dia tidak ingin ada orang luar yang masuk kesini"
"jadi karena itu saat kupanggil kau tidak dengar. Mengekang wilayah ini sehingga tidak ada seorang pelintas yang bisa memasuki dimensi Astral. Cakranya benar benar membuatku panic. Syukurlah kau tidak apa apa"
Minato memegang dagunya terlihat sedang berpikir "kalau di ingat lagi, wajahnya memang tidak terlihat jelas.. tapi sosok gadis sma itu mirip dengan.."
"Minato.. ini airnya, cepat minum!" Kushina datang dan duduk di sebelah Minato sambil menyodorkan sebotol air mineral ditangannya.
"Kushina" ucap Minato.
Yanbi langsung memiringkan kepalanya "heh?"
"a-apa?!" Tanya Kushina bingung.
-skip time-
~03:15, sore~
Teriknya panas matahari telah berkurang diiringi bayangan gedung yang telah miring jauh ke arah timur. Bertolak belakang pada garis lintas sang surya yang berada di barat. Bersiap menenggelamkan dirinya di belahan bumi lain sehingga kegelapan akan menyelimuti gemerlapnya kota Tokyo.
Seorang gadis terlihat berjalan di tengah kompleks perumahan yang sepi. Gadis berambut merah yang tidak lain adalah Kushina Uzumaki. Putri dari sepasang pengusaha kaya. Ia terlihat murung "si Minato itu.. sejak pertama aku melihatnya di ruang aula rumah. Rasanya kenal, tapi tidak ada ingatanku yang menjelaskan perasaan ini. Kenapa ya.. aku sangat panic pas lihat dia jatuh dari pohon tadi?" gadis itu menggelengkan kepalanya pelan "sudahlah! Lebih baik cepat pulang, lewat jalan pintas tentunya.."
Kushina melajukan langkahnya melewati persimpangan kecil, melompati dinding dan berjalan di atasnya lalu melompat lagi memasuki gang kecil. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang pria dengan rambut hitam mencuat berdiri di ujung gang "preman? Tapi seragam itu, Suna Gakuen ya.." pikir Kushina dan mulai berjalan santai bermaksud melewati pria tadi.
"sepertinya kau kehilangan ingatanmu?"
Kata itu langsung menghentikan langkah Kushina. sebelum benar benar dekat dengan pria asing didepannya, yang kini berdiri di tengah gang se akan-akan menghalangi jalan Kushina.
"apa maksudmu? Hilang ingatan? Aku tidak amnesia.. lagipula kau siapa?" Tanya Kushina jengkel.
"aku Fugaku Uciha. Orang yang pernah menghajar Minato dan hampir membunuhmu di dunia Astral jika saja si white strap tidak menolongmu" jawab pria bernama Fugaku itu dengan pandangan merendahkan.
"aku tidak mengerti.. menghajar Minato? hampir membunuhku? Dimensi Astral? Apa itu?" Tanya Kushina lagi mulai bingung
Fugaku tersenyum lebar "tentu saja kau tahu itu kan.." matanya menunjukan sorot tajam "Kurama..?"
WUSSS!
Angin kencang tiba tiba berhembus di sekitar Kushina. Rambut merahnya menyala, beterbangan tidak karuan. Fugaku hanya diam tidak bergeming seakan akan angin ini bukanlah masalah untuknya. Sedang Kushina sendiri, ia kini memandang pria itu dengan tatapan sinis. Matanya berubah menjadi merah terang. "bocah! Jadi kau yang sudah membuat kushina ditangkap orang orang Akatsuki itu!?" ucap Kushina dengan suara aneh. Bukan suara seorang gadis remaja, melainkan suara serak khas bapak bapak yang menggema keras.
"benar sekali.. dan kau juga yang sudah membunuh Kabuto, kan?" balas Fugaku santai, meski di selimuti angin kencang yang terus berhembus berulang kali.
"apa kau juga ingin bernasib sama sepertinya hah!?"
"tidak tidak! Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari ketuaku, Madara. Katanya dia masih menerima kunjungan kalian. kau dan gadis itu tentunya. dia juga akan membantu tujuanmu tercapai asal kau mau bergabung. Itu saja"
"Madara. Kapan bocah itu mengerti yang namanya menyerah. Katakan padanya, dari dulu hingga nanti, aku tidak akan memberikan Kushina"
"baiklah.. aku tidak mengerti urusanmu dengan ketua.. tapi, kurasa penolakanmu akan berdampak buruk untuk gadis itu" Fugaku membalikan badannya "iblis kuno bersemayam pada tubuh manusia biasa. Menarik juga.." ucap pria berambut hitam itu lalu melompat dan menghilang entah kemana.
Perlahan angin kencang tadi mulai mereda, di iringi warna merah pada mata kushina yang mulai kembali normal menjadi permata lavender nan indah. Matanya terpejam sebentar lalu terbuka lagi "eh? Are? Dimana pria tadi.." kata Kushina bingung, dengan suara lembut ala anak remaja.
~kediaman Uzumaki, 07:00 PM~
"Kushina! Waktunya makan malam.. cepat keluar!" triak Mito sambil memukul mukul sebuah pintu geser di depannya. Tak butuh waktu lama, yang dipanggil segera keluar. "ya ampun Kushina.. jam begini kau sudah memakai piyama.. ada apa?" kaget Mito menatap heran pada putri satu satunya itu.
Dengan malas Kushina meregangkan tangannya "entahlah Kaa-san, setiba dirumah rasanya badanku sangat capek. Persis seperti beberapa hari lalu.."
"beberapa hari lalu?" Mito mulai bingung mendengar jawaban Kushina.
"hoam~ iya.. beberapa hari lalu, saat ada pertemuan di aula. Aku pulang dan Kalian malah mengira aku diculik. Hari itu rasanya sama capeknya dengan hari ini"
Mito sedikit menunduk menyembunyikan rasa cemasnya, ia lalu berbalik "ayo makan" lalu pergi menuju ruang makan bersama Kushina.
Hanya perlu melewati satu tangga dan beberapa lorong, mereka telah sampai di ruang makan yang terlihat sederhana itu. Hashirama juga sedang duduk di depan meja makan. "ah~ akhirnya putri tomboy-ku datang" ejek Hashirama.
"Tou-san!" balas Kushina dengan mencubit pipi ayahnya "barusan bilang apa?" Tanya gadis itu dengan aura gelap di sisinya.
Hashirama hanya menelan ludahnya pelan melihat kelakuan anaknya yang sama persis dengan ibunya itu "bukan apa apa.. hehe.."
"kalian berdua hentikan.. ayo makan" pinta Mito lalu duduk di kursi samping hashirama. "oh iya, Kushina.. kau masih ingat Minato kan?"
"Minato? oh.. Minato yang sok kenal denganku itu… aku tidak sangka ternyata dia di kelasku juga. Kaa-san tau, tadi rambut duren itu habis jatuh dari pohon belakang sekolah.."
Mito terhentak kaget "jatuh.."
"iya.. jatuh.. dan dia langsung pingsan. Kalau dipikir pikir, lucu juga.." balas Kushina sambil terkikik geli mengingat kembali kejadian itu (padahal dia sempat panic, aneh.. *PLAKK*)
"bagus, kalau begitu besok kau harus panggil dia datang ke rumah" pinta Mito sambil tersenyum
"kenapa harus..?" Tanya Kushina bingung.
"kenapa? Karena kau adalah tunangannya.." goda Hashirama.
"eh?" kepala gadis berambut merah panjang itu terasa kacau. Bagai ada badai, longsor, gempa bumi, dan tsunami yang menghantamnya sekaligus "tunangan.. tunggu.. APAAAA!..."
-skip time-
~KSHS, jam istirahat~
kushina memasuki kelas setelah pergi membantu guru membawakan barangnnya tadi, ia terhenti setelah menangkap sosok pria berambut kuning yang sedang duduk sambil membaca buku. Saat ini kelas sedang sepi, jadi kushina membranikan diri mendekatinya. Sejak bertemu dengan pria itu, dia terlihat berbeda. tatapannya selalu dingin dan dia juga tidak pernah mengatakan sepatah kata pun lagi setelah kejadian di ruang aula rumahnya beberapa hari yang lalu.
"hey kau! Jadi benar kau orangnya?" Tanya kushina. Pria itu menatapnya kemudian membaca kembali bukunya.
"HEY! AKU BERBICARA DENGANMU! APA KAU MENDENGARKU" triak kushina emosi. pria itu tetap membaca bukunya. Amarah kushina ingin meledak-ledak, namun segera ia tahan. Kushina menghela nafas panjang.
"minato.. aku tahu kau sudah ditunangkan denganku, jika kau tidak menyukaiku aku ingin kau untuk_"
"Jika kau memang tidak menyukaiku, sebaiknya kau menolak perjodohan ini"~
Kushina terdiam 'apa ini.. rasanya aku pernah mengalaminya' dia lalu memandang ke seluruh kelas yang sepi. Lalu memalingkan wajahnya kembali melihat minato yang masih membaca bukunya. Kushina berjalan dengan kaku menuju pintu kelas. Tiba tiba dua pria masuk, langkah mereka terhenti melihat kushina yang terlonjak kaget "ohayo, uzumaki-san" sapa mereka yang ternyata adalah teman sekelas kushina.
Gadis itu menunduk dengan tatapan aneh 'bukan, seharusnya yang muncul dua preman dari kelas 12.. lalu minato akan melempar bukunya dan membawaku'
NGINGGG
"akh!" kushina memegang kepalanya dan jatuh terduduk. Telinganya berdenging sangat keras, seperti gendang telinganya akan pecah. " " ucapnya dengan suara tercekat.
Teman sekelas kushina yang baru masuk tadi segera mendekatinya "uzumaki-san, kau tidak apa-apa?"…"apa yang terjadi? Kau sakit?"… "ada yang luka? Dimana?"
"ayo ku kuantar ke uks" minato segera menarik lengan kushina ke belakang lehernya dan membawa gadis itu pergi.
Saat mereka melewati kantin, kushina menyuruh minato berhenti "sudah.. aku tidak apa apa" dia lalu melepaskan tangan kanannya yang melingkar di leher minato pelan. Kemudian duduk di bangku yang tidak jauh dari mereka. "aku sudah merasa baikan. Trima kasih" ucapnya tulus.
Minato hanya diam dengan perasaan aneh dalam hatinya "apa kau merasa sakit?"
Kushina menatap pria yang berdiri tidak jauh darinya itu, terlihat jelas kehawatiran terpancar di mata blue sea –nya. entah mengapa kushina merasa tenang melihat minato mengkhawatirkannya. Dia lalu tersenyum manis "sudah kubilang aku tidak apa-apa, dattebane.."
Garis garis merah langsung menghiasi pipi minato. rasanya segala beban yang ada di pikirannya menghilang seketika. Senyuman yang hanya ditujukan kushina untuknya ini, juga sekaligus memberikan rasa perih di hatinya jika mengingat kembali bahwa ia telah dilupakan.
"minato.. minato! minato namikaze!"
"ha? Ah.. ada apa?"
"justru balik nanya.. kau melamunkan apa sambil melihatku?"
"aku tidak melamun"
"tidak melamun? Namanya saja di panggil dari tadi, responnya malah lambat"
"ayo makan dulu. kau juga pasti belum makan"
"hei! Jangan mengalihkan topic pembicaraan datebane!"
"aku traktirin ramen"
"HAYOO!"
Dan untuk pertama kalinya, minato terkikik geli melihat tingkah kekanakan kushina. Dia pun akhirnya tersenyum setelah sekian lama. Kushina yang melihat hal paling langka itu langsung merona. "ternyata dia tampan juga" gumam kushina.
"hm? Kau bilang apa tadi?" Tanya minato penasaran.
Kushina tersentak kaget lalu tersenyum lebar"aku bilang kau tampan juga kalau tersenyum. Jadi tersenyumlah setiap saat seperti ini. Ok"
Ekspresi wajah minato menjadi datar kembali "aku tidak bisa"
Senyum di pipi gadis itu langsung pudar "hm.. kenapa tidak?"
"kenapa aku harus menurutimu?" balas minato kembali dengan pertanyaan
Kushina meremas kain roknya menahan perasaan aneh dihatinya. Seperti kecewa yang teramat sangat setelah mendengar penolakan pria tinggi di depannya itu. "karena aku… adalah tunanganmu.." jawabnya dengan sangat pelan
Minato sedikit kaget mendengar penuturan gadis itu, namun ia mengingat satu hal pasti "tapi, kau ingin membatalkannya kan?"
Kushina terbelalak mendengar pernyataan itu, ia menggigit bibirnya. 'padahal suasananya sudah bagus tadi, tapi kenapa jadi begini? Kenapa minato..' kushina memandang kembali minato. tatapan mereka saling bertemu. Sebuah ingatan terlintas di kepala kushina. Ingatan yang menunjukan kebersamaannya bersama pria itu. ingatan yang terasa terlupakan bagi kushina. Samar sama tapi pasti, ia merasa sudah mengenal minato sejak lama, bahkan sebelum pertemuan di aula rumahnya. Kushina berpikir keras, ada sesuatu yang terjadi padanya. Sepertinya ada ingatan yang terlupakan olehnya. Sesuatu yang sangat penting.
"aku tidak akan membatalkannya" jawab kushina spontan
"tapi tadi di kelas, kau ingin memintaku membatalkannya kan?" Tanya minato lagi memastikan.
Kushina berdiri tepat di depan minato "itu tadi. Aku juga tidak tahu kenapa.. ada yang terasa aneh bagiku. Minato, kupikir kita sudah saling kenal sejak lama tapi.. tidak ada ingatanku yang menjelaskan itu"
Minato membelalak kaget "kenapa kau berpikir seperti itu?"
"perasaanku yang mengatakannya. Terlebih, kalau di ingat lagi.. di aula rumahku kau langsung berbicara se akan akan kita sudah saling kenal kan? Apa kau bisa menjelaskan sesuatu padaku, minato?!" pinta kushina dengan pikiran yang kacau. Ingatan demi ingatan masuk kedalam kepalanya samar samar. Ingatan mengenai minato, yanbi, orang tuanya, seorang gadis berambut hitam panjang, dan sebuah dunia yang berantakan.
Minato hanya menundukan kepalanya, kushina menautkan alisnya tidak percaya. Dia hanya menghela nafas panjang berusaha menyingkirkan berbagai pemikiran yang muncul di kepalanya. Ia lalu memutuskan untuk menyampaikan tujuan utamanya mendatangi pria itu.
"hah…. Begini, ayah dan ibuku ingin kau datang kerumah sepulang sekolah hari ini" jelas Kushina.
Minato menegakkan kepalanya kembali "mereka ingin berbicara denganku?" dan dijawab anggukan kepala oleh kushina.
"baiklah" jawab minato
-skip time-
~Kediaman Uzumaki,10:45, malam~
Di sebuah ruangan yang cukup luas, tampak seorang gadis berambut merah tertidur pulas. Dengan kasur ukuran queen size itu, dia justru memilih tidur di bawah menggunakan futon. Namun sesosok makhluk muncul dan mendekati gadis yang tidak lain adalah Kushina. sosok yang menyerupai rubah dengan 9 ekor melambai lambai di belakangnya. Sosok sebesar singa itu merebahkan tubuhnya disamping Kushina. Mulutnya mulai membuka
"kushina, aku akan melepaskan sedikit segel di ingatanmu. Sepertinya tidak lama lagi, kau yang dulu akan kembali"
Ia lalu memandang keluar jendela, ke arah bulan sabit yang ditutupi sedikit awan "tidak lama lagi tujuan kita akan tercapai"
TBC~
gak nyangka i can see a ghost udah sampe chapter 6, moga reader gak bosan ya sama cerita ini...
oh ya reader, sadar gak sadar, chapter 1-5 itu kata sambutan dan penutupnya menghilang. ini karena milda habis ngerubah besar besaran cerita ini. soalnya chapter yang lalu masih banyak kesalahan seperti banyak typo-nya, penulisan nama yang tidak sesuai, dll...
untuk itu milda minta maaf banget, saking capeknya.. milda ngerubahnya, tanpa liat liat dulu langsung main post aja... hasilnya kata sambutan dan penutupnya menghilang... gomen ne minna (T T)
review oh review tak lupa milda sampaikan makasih banyak... hanya reviewer-lah yang menjadi penyemangat buat milda ngelanjutin fic ini... thanks all and see you soon...by by... (my bed.. i'm coming~~ *_*Zzz)
