"Apa yang kau lakukan di ruangan ini, Leonardo?" Steven membalikkan tubuh Leo dengan kasar. Raut wajahnya terlihat semakin menggelap dengan kedua iris yang berkilat merah menyala. Samar-samar, Leo dapat melihat dua buah taring yang menyembul dari mulut Steven.
secret room, secret heart
Mereka berakhir di sebuah ruang makan. Leo mengembuskan nafas lega begitu Steven tidak memutuskan untuk membunuhnya. Lagi pula, Klaus pasti akan curiga karena Leo tiba-tiba menghilang. Dan lagi, rasanya terlalu aneh jika Leo mati karena luka seperti itu.
Bukan berarti Leo meremehkan luka yang ia dapat akibat serangan blood breed. Namun, kemungkinan ia mati karena luka itu sangatlah kecil dan serangan itu tidak menyerang saraf ataupun organ vital di tubuhnya. Walaupun lain cerita kalau Leo mendapatkan penanganan yang lambat dan ia akan mati kehabisan darah.
"Ada apa, Leonardo?" Steven tersenyum tipis namun kedua matanya tidak demikian. Sepasang iris merah darah itu menatap Leo lurus.
"T-tidak.. A-ha-ha.. b-bukan apa-apa, Steven-san." Leo melanjutkan kunyahan makannya. Mencoba untuk menikmati satu porsi roast beef yang Steven masakkan untuk dirinya.
Sesekali, Leo mencuri pandang untuk melihat Steven yang asyik memutar-mutar gelas bertangkai panjang yang ia pegang. Leo penasaran, cairan merah di dalam gelas itu.. darah atau wine?
Flashback.
"Steven-san.. blood breed..?" Leo mendadak kehilangan tenaga untuk menopang berat tubuhnya hingga ia jatuh terduduk dengan kedua mata terbuka lebar, menampilkan keindahan dari bola mata yang di anugerahi oleh Tuhan.
"K-kenapa..." Leo bahkan tidak sanggup berbicara dengan benar. Intimidasi yang ia dapatkan dari Steven cukup membuatnya lumpuh untuk saat ini.
Si helai raven merendahkan tubuh, berjongkok untuk menyamai tinggi badannya dengan Leo. Meskipun Steven tetap menjulang tinggi di hadapan lelaki mungil itu.
"Kau salah Leonardo.. biar ku koreksi." Steven mendekatkan wajahnya ke arah Leo hingga tersisa beberapa inci. Tangan kirinya membelai pipi hingga leher Leo lembut.
"Aku adalah ...half blood breed." Steven berbisik lembut di telinga kiri Leo. Hidung bangirnya beralih untuk mengendus perpotongan leher Leo yang terlihat begitu menggoda tanpa adanya pertahanan.
"Aroma darah dari remaja memang yang terbaik... terlebih untuk pemilik eyes of god sepertimu, nak." Steven memainkan jari telunjuknya di sekitar pembuluh darah leher Leonardo.
"...half blood breed...?" Leo bergumam. Apakah karena itu Steven selalu terlihat berbeda? Entah yang lain menyadari atau tidak, namun Leo menyadarinya jika aura Steven berbeda dari yang lain.
Leo mendongak. Ia menatap wajah Steven lama. Mengapa selama ini ia tidak menyadarinya? Apakah karena ia adalah anggota Libra sama seperti dirinya?
"Apakah Steven-san adalah vampir? Salah satu dari anggota elder?"
Leo menyuarakan pertanyaan yang sejak tadi bercokol dalam benaknya. Kalau iya.. apakah Steven adalah mata-mata dan bagian dari elder itu sendiri?
Steven terdiam begitu mendengar pertanyaan dari Leo. Sudut bibirnya terangkat membentuk seringaian. Pintar sekali bocah yang ada di hadapannya ini.
"Kau salah nak, meskpun hanya half blood breed bukan berarti aku juga seorang anggota elder. Kalau soal vampir? Entahlah... aku memang mengkonsumsi darah manusia namun tidak dengan alergi terhadap matahari dan untuk saat ini, aku tidak akan membunuhmu. Lagi pula Klaus tidak akan suka jika hal itu terjadi." Steven bangkit seraya menarik lengan Leo untuk mengikutinya. Iris kemerahannya menatap Leo lama.
"Namun, jika kau mencoba berulah dengan membocorkan hal ini kepada Klaus dan anggota Libra yang lain, aku tidak segan untuk memisahkkan kepalamu dari tubuhmu, nak."
Steven mendesis rendah, membuat Leo bergidik. Seperti yang ia duga, kalau identitas Steven yang sebenarnya tidak diketahui siapapun, termasuk leader dari Libra itu sendiri, Klaus V. Reinhertz.
Flashback End.
Setelah makan malam, Leo pun diperintahkan Steven agar tidur di kamarnya. Sepertinya lelaki berhelai hitam legam itu tidak membiarkan Leo berada jauh dari jangkauannya Terlebih ia sudah mengetahui rahasia yang disimpan rapat oleh Steven.
Leo berjengit kaget begitu mendengar derit pintu yang terbuka. Di sana, ia mendapati Steven dengan kemeja biru yang biasa ia pakai masuk ke dalam kamar yang tengah Leo tempati. Tentu saja, kamar ini milik Steven sendiri.
Jantung Leo berdebar begitu melihat Steven membuka kemeja yang ia pakai, memperlihatkan tubuh kokoh yang terlihat atletis. Terlebih tato yang tersemat di sepanjang sisi kiri tubuh Steven. Entah sejak kapan, Leo merasa jika perhatiannya selalu terpaku pada sosok lelaki pemegang gaya bertarung Esmeralda Blood Freeze tersebut. Ia menyukai tiap inchi dari tubuh lelaki itu, gaya bertarungnya ataupun perlakuannya yang lembut.
"Leonardo?" Steven melambaikan telapak tangannya di hadapan wajah Leo. Nampaknya ia melamun.
"A-AH! Y-YA? A-ADA APA S-STEVEN-SAN?" Leo memekik panik begitu ia dikejutkan oleh perlakuan Steven yang tiba-tiba.
"Kau melamun?" Steven naik ke atas ranjang yang sama dengan yang Leo tempati. Iris cokelat kemerahannya menatap Leo dalam.
"Steven-san.. mengapa Steven-san tidak memberi tahu yang sebenarnya kepada Klaus-san? Kupikir ia pasti menerima keadaan Steven-san apa adanya. Terlebih Steven-san juga ikut mempertaruhkan nyawa ketika melawan elder saat itu."
Leo menatap wajah Steven yang terlihat kacau dengan mata tertutup. Walaupun kedua matanya terpejam, Leo dapat melihat jelas raut wajah khawatir yang Steven tunjukkan padanya.
"Entahlah, aku terlalu takut menerima kenyataan jika Klaus dan mereka membenciku karena aku bukan seorang manusia, melainkan blood breed. Meskipun aku tidak mengingkari jika hanya memiliki setengah dari kekuatannya saja."
Untuk alasan lain Leo merasa lega. Ia tidak dapat merasakan niat buruk dari Steven. Sepertinya, aura berbeda yang selama ini ia rasakan adalah karena Steven selalu tidak tenang di waktu tertentu, terlebih ketika sedang membahas blood breed. Lelaki berhelai hitam ikal itu akan memasang raut wajah yang aneh. Kalaupun Klaus dan yang lain tidak menyadari, tetapi satu hal yang pasti.
Leo menyadarinya. Karena ia selalu, setiap saat memerhatikan Steven.
"Apakah Steven-san dapat mengendalikan sebuah monster dari tempat yang jauh?"
Steven tertawa renyah. Sepertinya ia tidak perlu takut jika Leo membeberkan rahasianya kepada yang lain. "Kau dapat menjaga rahasia, nak?"
Steven menarik tangan Leo agar lebih dekat kepadanya. Sementara si surai dark purple sibuk mengatur degup jantungnya, Steven menyeringai kecil seraya membawa punggung tangan Leo ke dekat bibirnya lalu mengecupnya.
"Sebagai jaminan, mungkin kau mengijinkanku untuk meminum sedikit darahmu, nak?"
Leo merona. Entah mengapa, jantungnya selalu lepas kendali jika berada di dekat Steven. Seluruh darahnya terasa naik dan berkumpul di wajah hingga berwarna merah pekat.
Mengangguk setuju. Mungkin tidak salahnya jika Leo menyumbangkan sedikit darahnya untuk diminum Steven. Lagi pula, ia jauh lebih penasaran terhadap apa yang ingin Steven ceritakan padanya saat ini.
"Sebuah kehormatan untukku, nak."
Tangan Steven menopang dagu Leo agar mendongak dan memperlihatkan perpotongan lehernya yang jenjang. Iris cokelat kemerahan Steven berkilat buas. Ia bahkan dapat merasakan derasnya aliran darah yang berada di bawah kulit Leo.
"Selamat makan."
Tanpa aba-aba, Steven menancapkan sepasang taring tajam miliknya di leher Leo. Menghisap darahnya rakus. Samar-samar, ia dapat mendengar suara pekikan sakit dari si helai ungu di hadapannya.
"...S-Steven-s-san.." Leo membuka separuh kelopak matanya. Kemilau jernih dari eyes of god yang dimilikinya memancar indah bersamaan dengan mengalirnya sedikit airmata yang turun dari peraduannya.
Steven melepaskan gigitannya. Ia menjilat bibir bawahnya begitu menyadari ada sedikit darah Leo yang menempel di sana. Wajahnya menunjukkan kepuasan yang sangat dalam.
"Leonardo... darahmu, nikmat sekali.." Steven mengatakan itu tanpa sadar. Bahkan ia masih merasakan bagaimana kuat dan manisnya darah yang baru saja ia tenggak. Berbeda sekali dengan darah yang biasa ia minum, hambar dan tidak memiliki gairah.
Leo tersenyum tipis. "Syukurlah jika Steven-san menyukainya."
.
.
Setelah itu, Steven pun menceritakan segala hal tentang dirinya pada Leo. Ia bercerita jika beberapa pewaris gaya bertarung Esmeralda Blood Freeze adalah half blood breed. Leo mendengarkan apa yang diceritakan Steven dalam diam. Ia terlalu bingung ingin menanggapi cerita yang baru saja didengar. Semua ini begitu tiba-tiba..
Tapi,
"Steven-san... mengapa kau membekukan beberapa orang dan menyimpannya di ruangan itu? Apakah mereka masih hidup?"
Will be continued at next chapter.
a/n : Yosh! Ao berniat upload semua chapternya hingga tamat. Jadi, mohon kritik dan sarannya dalam kolom reviewnya yap!
note :
[]Blood breed : Salah satu jenis ras yang memiliki kekuatan luar biasa dan dapat disebut monster, vampir dan lain-lain
[]Elder : Organisasi jahat yang berisi kumpulan blood breed yang buas dan ganas. Berniat mengacaukan Hellsalem's Lot
