"Steven-san... mengapa kau membekukan beberapa orang dan menyimpannya di ruangan itu? Apakah mereka masih hidup?"


secret room, secret heart


Steven memalingkan wajahnya, iris cokelat kemerahannya bergulir tidak nyaman. Sebenarnya ia tidak ingin menceritakan hal ini. Tetapi bagaimanapun juga, Leo sudah membagi darahnya untuk ia minum dan Steven telah berjanji untuk menceritakan semua hal tentang dirinya.

Meskipun Steven tidak mengucapkan hal itu secara lisan, setelah meminum darah Leo ia merasa jika dirinya telah berjanji.

"Mereka sudah mati."

Leo termangu. Ia bahkan tidak dapat menebak apa motif dari Steven melakukan hal itu. "Lalu, kenapa Steven-san?"

"Mereka diutus oleh pemimpin dari elder untuk menangkapku. Ironis sekali bukan? Diburu oleh mereka yang merupakan rasmu sendiri. Jika aku berhasil ditangkap, maka aku akan dibunuh. half blood breed adalah aib bagi mereka yang merupakan para elder."

Leo tidak mampu mengatakan sepatah kata apapun. Perjuangan hidup Steven bahkan lebih berat dari perkiraannya. Tetapi setidaknya, Leo bersyukur karena Steven bertemu dengan Klaus dan mereka membentuk organisasi rahasia penyeimbang dunia bernama Libra.

"Setidaknya kau masih memiliki tempat untuk berlindung, Steven-san."

Leo menangkup wajah Steven dan mengusapnya lembut. Telapak tangannya membelai sisi kiri pipi Steven dengan hati-hati.

"Terima kasih, nak."

Tanpa aba-aba, Steven menarik tangan Leo hingga pemuda itu limbung dan terjatuh di dada bidang Steven. Dengan hati-hati, Steven mendongakkan kepala Leo, menatapnya penuh kasih.

Kau adalah malaikatku, Leonardo.

"Tetaplah di sisiku, nak. Aku membutuhkanmu." Steven mengecup bibir Leo singkat dan membuat si helai dark purple di hadapannya membuka kedua mata lebar-lebar.

Di sisiku... di sisi Steven-san...

Tersenyum lebar dengan kedua mata terbuka menampilkan kilau biru jernih nan indah, Leo pun tertawa. "Tentu saja, Steven-san."

.

.

Keesokan harinya, Steven berangkat sendirian ke kantor Libra. Ia melarang Leo untuk ikut bekerja sebab luka di punggungnya masih belum sembuh total. Itu hanya alasannya tentu saja, sebenarnya Steven ingin Leo berlama-lama berada di mansionnya. Sebisa mungkin ia akan mencegah agar Leo tidak keluar dari mansionnya dan tinggal dengannya.

"Pagi, Steven. Bagaimana keadaan Leo?"

Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Steven bahkan tidak menyadari sapaan pagi yang di tujukan padanya oleh Klaus. Sehingga lelaki jangkung berhelai dark red itu melambaikan telapak tangannya di depan wajah Steven secara berulang.

"O-oh, Klaus? Hm.. keadaannya sudah lebih baik, mungkin aku meminta agar dia beristirahat selama seminggu untuk memulihkan tubuhnya. Itu juga jika kau tidak keberatan Klaus." Steven tersenyum kecil hingga kedua matanya terlihat menyipit.

Steven tidak perlu menebak apa jawaban yang di berikan Klaus padanya, karena lelaki itu selalu memilih pilihan yang terbaik untuk para anggotanya. "Tentu saja, Steven. Sampaikan salamku padanya."

"Tentu Klaus."

Pekerjaan mereka hari itu tidak terbilang berat. Hanya membasmi monster yang sibuk mengamuk di tengah kota. Steven yang saat itu berjaga di dalam kantor sementara yang lain pergi menjalankan misi pun tersentak begitu pintu didobrak keras dan menampilkan seorang lelaki bersurai silver.

"Ano.. Steven-san, semuanya kemana?" Zapp berjalan masuk dengan santai dan mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa sementara kedua tangannya memeluk kantung kertas berisi burger.

Steven menjawab pertanyaan Zapp seperlunya. Seperti memberitahu kemana semua orang pergi? Lagi pula ia tengah malas berbicara saat ini. Ia ingin cepat-cepat pulang dan bertemu Leo.

"Steven-san, bagaimana keadaan Leo?"

Leo?

Setelah dipikirkan kembali, hubungan Zapp dengan Leo itu seperti apa? Steven yang memikirkan pun tidak dapat memikirkan jawaban yang sekiranya tepat. Ataukah jangan-jangan..

"Dia baik-baik saja, Zapp. Leo dalam masa penyembuhan jadi ia mendapat cuti selama seminggu dari Klaus."

Sadar atau tidak, nada bicara Steven terdengar lebih dingin dari biasanya. Namun, untuk lelaki brengsek dan bodoh macam Zapp mana menyadari perubahan sekecil itu pada intonasi suara Steven. Lelaki itu malah semakin membuat Steven menjadi-jadi.

"Steven-san, Leo sekarang berada di mansionmu kan? Boleh aku menjenguknya? Aku sudah membelikannya set burger yang ia sukai dari Jack Rockets Burger." Zapp tertawa geli mengingat betapa Leo suka sekali dengan makanan cepat saji itu. Mengingat makanan yang ada di Hellsalem's Lot kebanyakan adalah makanan yang nyaris abnormal dan tidak dapat dimakan oleh mereka, huma.

"Tidak perlu, Zapp."

Untuk sekejap, hanya sekejap saja. Zapp merasakan bahwa ia seolah dicekik dari belakang. Mendadak insting binatangnya menyuruhnya untuk menjauh dari Steven yang menatapnya lurus.

"Maksudku, jika kau menjenguk Leonardo pasti akan ada pertengkaran di antara kalian bukan? Kalau kau tidak keberatan, burger yang sudah kau beli akan kuberikan pada Leonardo." Steven tersenyum dan hal itu semakin membuat Zapp bergidik. Ia berpikir keras. Apakah perkataannya telah menyinggung orang nomor dua di Libra?

"O-ou.. k-kalau begitu terima kasih, Steven-san."

Zapp meletakkan sebungkus Jack and Rockets Burger yang ia beli di meja dan segera berdiri dari tempat. "Steven-san, hari ini tidak ada pekerjaan kan? Kalau begitu aku akan pergi ke tempat Tracy."

Belum sempat Steven berkata 'iya', Zapp sudah berjalan cepat dan menutup pintu kantor dengan tergesa. Iris abu-abunya bergulir tidak nyaman. Perasaannya mengatakan kalau Steven tidak seperti Steven yang biasanya.

.

.

"Tadaima."

Steven membuka pintu. Tangannya bergerak untuk menggantungkan coatnya dan melonggarkan dasi. Ia dapat mendengar suara derap langkah yang semakin mendekat ke arahnya. Hingga perhatiannya tersita pada pemuda mungil yang tiba-tiba muncul di tikungan ruang tamu.

"Okaerinasai, Steven-san."

Leo memakai apron dengan kemeja berwarna hitam milik Steven yang terlalu besar pada tubuhnya. Wajar saja, Steven memiliki tinggi badan sekitar 180 senti sementara Leo, 165 senti pun tidak sampai.

"Oh, Leonardo, kau memasak, nak?" Steven mendekat kearah Leo dengan tatapan tertarik. Begitu ia telah sampai di hadapan si helai dark purple, salah satu tangannya mengacak helai keunguan milik Leo gemas.

"Tidak juga Steven-san. Aku hanya membantu sedikit Mrs. Veded." Leo tersenyum canggung. Sejujurnya Leo sama sekali tidak bisa memasak, mengingat selama ini ia selalu memakan makanan cepat saji.

"Kalau begitu ayo kita makan siang." Steven berjalan beriringan bersama Leo menuju ruang makan. Di sana sudah tertata berbagai hidangan lezat yang memanjakan mata. Ah.. sudah lama sekali Leo tidak memakan makanan seperti ini.

.

.

Setelah selesai makan siang, Steven memberikan bungkusan yang Zapp titipkan padanya kepada Leo. Pewaris eyes of god itu nampak bingung? Tumben sekali Zapp memberikannya sesuatu? Bukankah biasanya malah Leo yang selalu memberi dia sesuatu walaupun secara paksa dan sedikit tidak ikhlas.

"Ini untukku, Steven-san? Dari Zapp-san?"

Steven mengangguk dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Nampak tidak perduli dengan kelakuan Leo yang hanya berdiri di pinggiran ranjang dengan memegang bungkusan Jack and Rockets Burger.

"Zapp-san... yang itu?"

Leo tersenyum sangsi. Oke, ini mulai tidak masuk akal. Karena sibuk dengan pemikirannya, Leo tidak menyadari jika Steven mendudukkan tubuhnya dan menatap Leo lurus.

"Nak, hubunganmu dengan Zapp.. seperti apa?"

Mendengar Steven bertanya hal seperti itu, Leo mengerenyitkan kedua alisnya. Mengapa lelaki di hadapannya ini harus bertanya? Bukankah sudah jelas sekali. Mereka berdua hanya—

"Partner?" Leo meletakkan bungkusan Jack and Rockets Burger itu ke atas meja nakas dan mendudukkan dirinya di ranjang milik Steven seraya menopang dagu. Sepertinya ia harus memeras kerja otaknya lebih keras lagi jika ditanya hubungan ia dengan Zapp seperti apa.

"Hmm.. Kupikir hanya partner? Selain itu, mungkin teman?"

Geh. Ketika kata teman terlintas di pikirannya, Leo pun segera membuang pemikiran itu jauh-jauh. Apanya yang teman? Lelaki berkulit tan itu selalu memeras isi dompet Leo dengan permintaan yang tidak-tidak.

"Apakah kau menyukainya?" Steven bertanya secara tidak sadar. Kedua irisnya berkilat merah samar.

Leo terdiam lima detik dan menatap Steven bingung. "Tentu saja! Meskipun begitu, Zapp-san orang yang baik, kupikir aku tidak membencinya. Menyukainya pun tidak terlalu?"

"Begitu?" Steven kembali merebahkan dirinya kembali dan menatap langit-langit kamar. Mengabaikan air muka penuh tanda tanya yang dilontarkan pemuda mungil di sampingnya.

"Bagaimana keadaan luka di punggungmu?" Steven mengalihkan topik pembicaraan dan langsung ditanggapi tanpa pikir panjang oleh Leonardo. Sepertnya ia lupa terhadap topik pembicaraan sebelumnya.

"Sudah lebih baik Steven-san, rasa sakitnya sudah hilang secara sempurna dan kupikir aku bisa berangkat ke kantor esok hari?" Leo menunduk, tidak memiliki keberanian untuk menatap Steven secara langsung.

Selain itu, Leo tidak ingin berlama-lama di mansion milik Steven dan merepotkan lelaki itu. Sejujurnya, setiap malam Leo sulit sekali untuk memejamkan mata. Apakah kau bisa tenang jika orang yang kau sukai berada tepat di sampingmu? Tidur bersamamu?

Tentu saja tidak! Setidaknya bagi Leo. Jantungnya berdetak tidak terkendali. Bahkan ia sesekali merutuk suara degup jantungnya yang kelewat keras. Semoga saja Steven tidak mendengarnya ketika itu.

"Kau mendapat izin cuti dari Klaus selama seminggu. Bukankah lebih baik jika tetap berada di sini hingga tubuhmu benar-benar pulih?" Steven menatap Leo dengan pandangan sendu. Ia tidak rela jika pemuda mungil itu pergi dari mansionnya.

Leo membuka kedua matanya separuh membiarkan cahaya kebiruan dari eyes of god menerobos keluar. Menatap Steven nanar dengan sorot mata memohon. Oh ayolah, bahkan Leo memiliki sistem kekebalan tubuh yang bagus, setidaknya lebih kuat dibanding adik perempuannya, Michella.

"Masih tetap dengan pendirianmu?" Steven terkekeh pelan. Merasa bujukannya tidak berguna ketika menghadapi bocah keras kepala macam Leo.

"Baiklah, kau boleh berangkat besok. Jika ada misi yang berat, biar aku saja yang menggantikanmu. Kau tetap di kantor bersama dengan Gilbert-san. Mengerti?"

Leo mengangguk pelan, mengiyakan perintah Steven.

"Steven-san.. apakah kau tidak haus?"

Sadar atau tidak, Leo menanyakan hal itu tanpa sadar dan membuat Steven menegang. Ekspresi terkejutnya bahkan terlihat jelas tergambar di wajah tampannya. Leo menarik kerah kemeja milik Steven yang ia pakai, memperlihatkan perpotongan leher jenjang yang mulus minta dijamah.

"Kau menggodaku, nak? Tidak. Aku belum haus, darahmu yang kuminum kemarin masih cukup untuk mengganjal rasa laparku." Steven membuang muka dan enggan untuk melihat ke arah Leo. Hell.. ia bukanlah salah satu orang yang memiliki ketahanan diri yang bagus.

"Steven-san.. apakah kau selalu meminum darah manusia di luaran sana? Bukankah peraturan memakan dan meminum darah manusia sudah dilarang?"

Leo membetulkan kembali kerah kemeja yang ia pakai. Setelah dipikir-pikir, masuk akal juga. Bagaimana Steven dapat bertahan hingga selama ini sementara ada peraturan yang mengekangnya untuk meminum darah manusia?

"Nak, aku bukanlah orang yang suci. Sesekali aku membunuh dan meminum darah manusia di luar sana. Walaupun kebanyakan hampir dari mereka adalah sampah masyarakat."

Leo membisu. Apakah ia salah telah bertanya hal ini?


Will be continued at next chapter.


a/n : review jika berkenan^^