"Nak, aku bukanlah orang yang suci. Sesekali aku membunuh dan meminum darah manusia di luar sana. Walaupun kebanyakan dari mereka adalah sampah masyarakat."

Leo membisu. Apakah ia salah telah bertanya hal ini?


secret room, secret heart


"Steven-san.. tidak perlu enggan jika kau ingin meminum darahku. Anggap saja aku membayar hutang atas apa yang Steven-san perbuat padaku selama ini."

Leo tersenyum seraya menatap lembut Steven yang masih memunggunginya. Tak tahu kah kau, hei pemilik eyes of god? Saat ini Steven sedang mati-matian untuk tidak berbalik dan menerkam dirimu sekarang juga.

Steven berdeham pelan. Mencoba untuk menghilangkan rasa serak yang tiba-tiba melanda tenggorokannya. Rasa membakar apa ini? Mengapa tiba-tiba tenggorokan hingga dasar perutnya terasa panas.

"Leonardo. Sepertinya aku salah."

Steven bangun dan berbalik menatap Leo dengan sepasang iris merah menyala miliknya. Samar-samar, Leo dapat melihat dua buah taring tajam yang memanjang dan berkilat. Setelah itu, semuanya berlangsung cepat. Bahkan Leo sendiri tidak menyadarinya.

Ia didorong hingga telentang di atas tempat tidur dengan Steven yang berada di atas tubuhnya. Menatap perpotongan leher Leo dengan lapar. Salah satu tangannya memegang tangan Leo dan meletakkannya di pipi yang memiliki bekas luka memanjang.

Steven-san.. dingin.

Leo hampir saja lupa bahwa fakta jika Steven seorang half blood breed, tetapi apakah memang suhu tubuhnya sedingin ini? Steven mengendus pergelangan tangan Leo dengan rakus. Demi Tuhan, ia bahkan dapat merasakan bagaimana derasnya aliran darah yang berada di bawah kulit putih gading milik Leo.

"Nak, kuharap kau tidak keberatan."

Leo mengangguk pelan. Kedua matanya menatap Steven dengan sayu. Ia mengerti kemana arah pembicaraan yang Steven maksudkan. Kalau begitu..

"Selamat makan.."

Sepasang taring tajam milik Steven sukses menembus pergelangan tangan Leo dan menghisap darah. Tentunya ia berhati-hati agar tidak sampai mengenai pembuluh nadinya. Kalaupun sampai terjadi, Steven dapat menyembuhkan luka di pergelangan tangan Leo dengan menjilatnya.

Setelah puas meminum darah Leo, Steven pun jatuh telungkup di atas tubuh Leo. Wajahnya memancarkan kelelahan yang mendalam. Samar-samar, Leo dapat mendengar gumaman 'terima kasih' yang sepertinya Steven tujukan padanya.

"Steven-san.. have a nice dream."

Dengan lembut dan penuh kehati-hatian, Leo memindahkan tubuh Steven dari atas tubuhnya dan merebahkan lelaki itu di samping dirinya.

.

.

Libra Office at 09.48 A.M

Leo terduduk di sofa kantor Libra seraya menatap keseluruhan ruangan dengan sangsi. Alisnya berkedut kesal. Memang benar jika ia berkata kepada Steven jikalau pun ia masuk kantor, Leo pasti tidak akan melakukan apapun. Tetapi setidaknya..

"MENGAPA AKU HANYA BERDIAM DIRI SEPERTI INI?! GILBERT-SAN! TOLONG IZINKAN AKU MELAKUKAN APAPUN! BERSIH-BERSIH KAH? ATAU MEMBUAT MAKAN SIANG? OH AYOLAH!"

Leo mengacak helai keunguannya gemas. Ia bosan. Ia butuh sesuatu untuk mengusir kebosanannya saat ini. PSP yang biasa ia mainkan tertinggal di mansion Steven, jadi saat ini ia sangat senggang dan tidak ada kesibukan.

Rasanya sangat ... MENYEBALKAN.

"Tenanglah, Leonardo-sama. Silahkan minum teh hangat yang baru saya buatkan. Karena Leonardo-sama sedang dalam masa pemulihan, maka saya sarankan agar Leonardo-sama jangan terlalu banyak bergerak."

Lelaki tua yang merangkap sebagai combat butler itu meletakkan secangkir teh earl grey hangat untuk Leo dan ditanggapi oleh si purplenette dengan embusan nafas lelah.

"A-a.. u-um.. t-terima kasih, tehnya Gilbert-san.."

Leo menyeruput teh itu sedikit demi sedikit. Saat ini hanya ada Leo dan Gilbert di kantor utama Libra. Jika kalian bertanya, kemanakah yang lain? Jawabannya adalah mereka semua pergi mengerjakan misi penting yang sudah disusun jauh-jauh hari.

"Hah... aku bosan.." Leo kembali menghela nafas.

Ia memperhatikan meja kerja milik Steven yang berada jauh dari tempatnya. Tumpukan berkas memenuhi meja itu dan membentuk gunung yang terbuat dari kertas-kertas berisi laporan penting. Tak heran jika setiap pulang dari tempat ini Steven selalu terlihat lelah.

Karena selain mengerjakan laporan yang ada, ia pun ikut bertarung bersama yang lain untuk melindungi kedamaian dunia. Sungguh pengorbanan yang luar biasa, menurut Leo. Terlebih ia adalah seorang setengah blood breed dan sudah ditakdirkan untuk saling membunuh rasnya.

Dering telepon mengusik Leo yang masih asyik mengarungi pikirannya. Hingga ucapan sanggahan yang Gilbert utarakan begitu mengganggunya. Apakah ada yang salah?

"Ha'i, saya akan segera kesana." Gilbert menutup telepon itu dan bergegas mengambil sebuah kunci mobil miliknya.

"Leonardo-sama, bisakah anda ikut saya? Saat ini keadaan Klaus-sama dan yang lain begitu terdesak dan mereka membutuhkan bantuan Leonardo-sama."

Leo terdiam. Terdesak? Memangnya apa yang terjadi? Bukankah tugas mereka hanya membongkar para mafia penjual organ dalam manusia dan narkoba saja?

"Mereka terdesak karena bertemu dengan pemimpin elder, Leonardo-sama. Saat ini, Steven-sama sedang mencoba mengulur waktu dengan bertarung satu lawan satu melawan pimpinan elder tersebut."

Leo membatu. Tidak mungkin.. hal yang ia takutkan benar-benar terjadi.

"Bawa aku kesana sekarang, Gilbert-san!"

.

.

Dengan kecepatan mengemudi Gilbert yang bisa terbilang gila, tidak sampai tiga puluh menit, Leo pun sudah sampai di tempat kejadian. Lebih tepatnya saat ini ia berada di kawasan bekas industri Hellsalem's Lot. Pemandangan sekitarnya sungguh mengerikan. Bangunan yang sudah bobrok terlihat semakin mengerikan karena dijadikan arena pertarungan antar blood breed.

"Leonardo, bagaimana keadaanmu? Maafkan aku karena meminta pertolonganmu disaat kondisimu sendiri belum pulih benar."

"Aku tidak apa-apa, Klaus-san. Dimana Steven-san? Apakah ia baik-baik saja?"

Klaus tidak menjawab pertanyaan Leo, namun arah tatapannya menjawab semua pertanyaan Leo. Dari jarak seratus meter, Leo dapat melihat dua orang bertarung dengan sengit.

"Kau tahu apa tugasmu, nak?"

Leo mengangguk mantap dan saat itu juga ia sudah berada di gendongan Klaus untuk turun langsung ke arena pertarungan dan mengalahkan pemimpin elder.

Kunci kemenangan Libra ada di tangan Leo. Ia harus mengetahui nama dari pemimpin elder tersebut, ia akan melakukannya walaupun kedua bola matanya sampai retak bahkan hancur sekalipun.

Semuanya demi Steven. Orang yang ia ...cintai.

"Kau sudah mendapatkan namanya nak?"

Setetes darah mengalir dari bola mata kanan Leo dan terdengar suara retakan pada bola mata kirinya. Ia memekik begitu menyadari kedua bola matanya berdenyut menyakitkan.

"Leonardo, jangan memaksakan dirimu!"

Leo menggeleng pelan. "Aku sudah mendapatkan namanya, Klaus-san." Tanpa membuang banyak waktu, ia meberikan secarik kertas berisi nama pemimpin elder yang tengah Steven lawan.

"Steven! Cukup, mulai dari sini, aku yang akan menyegelnya!"

Klaus mencoba untuk menghentikan Steven, namun pria itu tidak berhenti. Ia seolah menggila dengan pertarungannya sendiri. Ia terlihat ...menikmatinya.

"Bagus sekali, Steven A. Starphase. Kembalilah bersamaku, kau adalah orang yang cocok untuk menggantikanku."

Perkataan pemimpin elder itu membuat Klaus dan yang lain termasuk Leo terdiam membisu. Pengganti katanya? Apa maksudnya?

Iris kemerahan Steven berkilat buas, kuku dan sepasang taringnya memanjang. Ia menatap lawan di hadapannya dengan nafsu membunuh yang pekat.

Ah.. sudah berapa lama semenjak aku mengamuk seperti ini?

Panggilan Klaus bahkan Steven abaikan, seolah ia tuli. Ia terus menyerang pemimpin elder di hadapannya dengan membabi buta tanpa memikirkan sekujur tubuhnya yang sudah penuh luka dan darah.

"Kembalilah nak. Kau adalah seorang pewarisku! Karena pewaris seorang pemimpin elder hanya dapat diturunkan pada seorang half blood breed sepertimu!"

Lelaki itu tertawa. Lelaki yang merupakan pemimpin elder tertawa terbahak-bahak menyaksikan Steven yang menyerangnya mati-matian. Tanpa menyadari perubahan air muka setiap anggota Libra.

Steven memang menceritakan kepada Leo jika beberapa keturunan pemilik gaya bertarung Esmeralda merupakan half blood breed, tetapi Steven tidak menceritakan jika half blood breed seperti Steven akan menjadi pengganti dari pemimpin elder sebelumya!

"Atau kau ingin menyia-nyiakan kematian Esmeralda?"

Begitu mendengar nama 'Esmeralda' diucapkan, pergerakan Steven pun terhenti. Ia menatap musuhnya dengan penuh kebencian yang bahkan lebih dalam dari sebelumnya.

"Siapa... Esmeralda?"

Pertanyaan Leo menggantung dalam kebisuan bersamaan dengan tertusuknya perut Steven oleh sabit tajam yang dilayangkan si pemimpin elder.


Will be continued at next chapter.


a/n : review onegaishimasu^^