"Siapa... Esmeralda?"
Pertanyaan Leo menggantung dalam kebisuan bersamaan dengan tertusuknya perut Steven oleh sabit tajam yang dilayangkan si pemimpin elder.
secret room, secret heart
"STEVEN-SAN!"
Teriakan Leo menggema keras di sepanjang arena pertarungan itu begitu melihat Steven tumbang akibat serangan yang ia terima.
"Leonardo! Kau amankan Steven, biar aku yang melawan pemimpin elder itu dan menyegelnya! Cepat!"
"Aku mengerti, Klaus-san!"
Leo berlari kearah Steven yang jatuh telungkup dengan perut berlubang. Bahkan sekalipun ia seorang half blood breed, tubuhnya pasti akan kesulitan beregenerasi jika lukanya selebar ini. Susah payah Leo memapah tubuh Steven yang terluka untuk menjauhi arena pertarungan.
"Steven-san.. kumohon.. jangan tutup matamu." Leo menatap Steven dengan raut wajah takut. Bulir airmata pun menetes bebas melalui pelupuk matanya.
"L-eo-nar-do.."
Flashback
"Esmeralda! Hentikan, kau tidak akan bisa membantah perintah pemimpin! Jadi tetaplah diam dan mematuhi perintahnya!"
Steven kecil pun mengerti kalau ia tidak boleh melanggar aturan atau nyawanya yang menjadi taruhan. Wanita berhelai panjang sepinggang di hadapannya adalah orang yang mengajarkannya gaya bertarung Esmeralda Blood Freeze.
Wanita muda berparas cantik dengan luka melintang di sudut bibir dan juga pipi kanannya. Ia adalah pemegang gaya bertarung Esmeralda Blood Freeze sebelumnya. Sama seperti namanya, yang juga bernama Esmeralda. Wanita itu pandai sekali memanipulasi darahnya hingga dapat membekukan apapun yang ada di sekitarnya.
Dan wanita itu adalah seorang half blood breed, sama seperti Steven dan juga merangkap sebagai, kakak perempuannya. Esmeralda Ariana Starphase.
"Tidak apa-apa, Steven.. kakak melakukan semua ini untukmu. Jadi tetaplah diam dan biarkan kakak menjalankan rencana yang sudah kususun dengan matang ini."
Esmeralda mengusap surai ombak berwarna raven milik Steven. Menatap adik kandungnya penuh sayang. Ia akan mengorbankan apapun bahkan ia rela membunuh dirinya sendiri asalkan Steven, adiknya dapat keluar dari neraka yang saat ini mereka berdua tempati.
"Esmeralda!"
Steven dapat melihat setetes airmata turun melewati pipi Esmeralda. Hingga sebuah ucapan bisu menutup percekcokan antar saudara tersebut. Esmeralda membuat sebuah sayap yang terbuat dari kristal es tipis dan terbang menggunakan hal itu, meninggalkan Steven kecil yang masih terlalu terkejut untuk menangkap apa yang Esmeralda ucapkan padanya.
Satu hal yang pasti, Steven tahu apa kata-kata terakhir yang Esmeralda ucapkan padanya.
Steven.. tetaplah hidup.. kakak mencintaimu..
Dan hari itu pula, hari terakhir ia melihat sang kakak dan juga senyum hangatnya.
Flashback end.
Setelah itu yang Steven ingat semuanya adalah kegelapan. Ia mendapati tubuh Esmeralda dan teman-temannya yang lain bersimbah darah. Mereka melakukan sebuah pemberontakan terhadap pemimpin elder sebelumnya dan berakhir dengan kegagalan.
Begitu menyadari jika tubuh kakaknya sudah tidak bernyawa, Steven kecil pun lepas kendali. Ia mengamuk dan melukai para elder lain yang ada di sekitarnya termasuk sang pemimpin itu sendiri. Sesungguhnya yang menyimpan kekuatan terkuat dari elder adalah mereka yang merupakan setengah blood breed. Dalam keadaan tidak sadar, seorang half blood breed dapat meningkatkan kekuatannya hingga berkali lipat dari blood breed biasa.
Bahkan kekuatan Steven cukup untuk melukai si ketua elder setelah sebelumnya ia juga sudah bertarung mati-matian melawan Esmeralda.
Satu hal yang tidak Steven ketahui, saat ia lepas kendali dan menyerang pemimpin rasnya di kala itulah ia sudah menang.
"..Brain Grid Style Blood Matrial Arts! Jimmu Hallavarru Shiie, Ku nyatakan kau disegel! Form #999 Ewigkeit Gefängnis!"
Pertarungan itu pun berakhir.
.
.
Steven mengalami luka terparah dan tentu langsung dilarikan ke rumah sakit Bradbrry bersama dengan anggota Libra yang lain. Dengan bantuan Dokter Luciana tubuh Steven kembali seperti semula namun tidak bagi Leo. Karena kedua mata miliknya sangat spesial, Dokter Luciana pun tidak bisa berbuat apapun untuk menyembuhkan mata Leo. Ia hanya bisa membantu meredakan sedikit pendarahan dan rasa sakit yang Leo rasakan.
"Bagaimana keadaanmu, Leonardo-kun?"
Leo berjengit begitu mendengar suara Klaus dan bertanya kearahnya. Saat ini, Leo tidak dapat melihat keadaan di sekitarnya akibat perban yang menutupi matanya dan kalau pun ia dapat melihat, kedua matanya akan berdenyut menyakitkan begitu ia mencoba untuk mengaktifkan kekuatan matanya untuk melihat dalam mata tertutup.
"Sudah lebih baik, Klaus-san.. A-ano.. bagaimana keadaan Steven-san?"
Klaus menghela nafas. "Ia masih belum sadarkan diri, tetapi semua luka-lukanya sudah disembuhkan oleh Nona Estevez. Tidak perlu khawatir, Leonardo."
Untuk sesaat, Klaus menyadari jika perlahan bahu si pemuda di sana berangsur turun dan terlihat rileks.
"OI INMO ATAMA! APA-APAAN KAU YANG HANYA MENGKHAWATIRKAN STEVEN-SAN, BAGAIMANA DENGAN SENPAIMU INI HAH?! LIHAT AKU JUGA TERLUK-ADUDUDUDUDUDUDUDUH—
Lelaki berkulit tan yang bernama Zapp Renfro merangkul leher Leo dengan tiba-tiba lalu berteriak di dekat telinganya dan seketika membuat dahi si purplenette mengerenyit tidak nyaman seraya mendesis kesal. Tak lama, muncul lah si gadis werewolf dengan kemampuan menghilangkan wujud yang tiba-tiba berjongkok di atas kepala si helai silver.
―TEME! OI, INU ONNA! BUKANKAH SUDAH KU BILANG UNTUK BERHENTI MUNCUL DAN BERDIRI DI ATAS KEPALAKU-ADUDUH."
Gadis itu mendecih kesal dan mencoba untuk menarik Zapp yang masih terus menempel pada Leo. "Kemari kau, lelaki bodoh. Jangan mengganggu Leo."
"Ahaha.. Terima kasih, Chain-san." Sumeragi Chain pun menunjukkan jempolnya ke arah Leo walaupun lelaki itu tidak dapat melihatnya karena kedua matanya terlilit perban.
"Memalukan sekali.." si manusia setengah ikan Zedd O'Brien mengkritik kelakuan Zapp dengan pedas dan membuat lelaki dim itu kembali naik darah dan sebelum ia kembali ribut, Klaus dengan bijaksana memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.
"Besok kami akan kembali kesini dan melihat keadaan kalian. Sampai jumpa Leonardo."
Leo mengangguk. Rasanya seperti diterpa angin ribut dan angin itu menghilang secara tiba-tiba. Keadaan yang tadinya ramai dan berisik mendadak menjadi sunyi. Leo tidak tahu Steven sudah sadar atau belum karena ia tidak dapat melihat, tetapi sepertinya ia masih belum sadarkan diri. Mungkin ...?
.
.
Tengah malam Steven terbangun dengan kondisi tubuh yang luar biasa terasa sakit, terutama daerah perutnya. Ah, ia masih ingat.. perutnya tertusuk oleh sebuah sabit dan bahkan ia sempat lepas kendali. Bagaimana jika Klaus dan yang lainnya melihat wujud anehnya?
Selain itu.. bagaimana keadaan Leo?
Steven menolehkan kepalanya dan mendapati Leo terbaring di ranjang tepat di samping ranjang miliknya dengan kondisi mata tertutup perban. Ia berusaha untuk turun dari ranjang dan mendekat kearah Leo. Tangannya menyentuh helaian dark purple milik Leo dan mengusapnya lembut.
"Maafkan aku, Leo.. maaf, maaf."
Kedua tangan Steven berpindah untuk menggenggam telapak tangan Leo yang tersemat infus. Ia meremasnya pelan seraya menggumamkan kata maaf berkali-kali.
"Steven...san?"
Leo memanggil Steven lirih. Nampaknya ia terbangun begitu Steven mengelus lembut rambutnya. Tubuhnya berusaha untuk duduk, rasanya sedikit susah dan merepotkan ketika tidak bisa melihat cahaya sedikit pun.
"Bagaimana keadaanmu, nak?"
Leo tersenyum. "Aku baik-baik saja Steven-san, tidak perlu khawatir."
"Tetapi.. matamu?"
Leo tertawa lirih. "Tidak apa-apa, kedua mataku baik-baik saja. Dokter Luciana sudah memeriksakannnya untukku. Tetapi ia bilang kalau mata kananku tidak dapat berfungsi kembali.."
Steven mematung.
"Kau mencoba untuk membaca nama dari pemimpin elder?" Steven berdiri tiba-tiba dan membuat Leo tersentak. Kedua tangan lelaki paruh baya itu mengguncangkan bahu Leo keras.
"Kenapa?! Bukankah itu berbahaya?! B-bagaimana kalau kau—"
Perkataan Steven terhenti begitu ia merasakan punggung tangannya disentuh oleh telapak tangan Leo yang hangat. "Aku baik-baik saja, Steven-san.. yang terpenting kau selamat. Lagi pula dengan dikalahkannya pemimpin elder, itu artinya musuh umat manusia berkurang satu bukan? Ah.. Ano.. Steven-san? Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja." Ujarnya.
Leo pun bertanya mengenai siapakah Esmeralda dan apa hubungannya dengan Steven sendiri. "Nak, aku sedikit ingin menceritakan kisah masa laluku, kau mau mendengarnya?"
Leo mengangguk setuju dan mendengarkan Steven bercerita mengenai masa kecilnya, sejarah keturunannya dan Esmeralda yang merupakan kakak perempuannya. Sesungguhnya Leo tidak menyangka jika Steven mempunyai kakak perempuan terlebih ia juga pernah memberontak untuk melawan pemimpin elder demi kebebasan adiknya, meskipun Steven merasa pengorbanan kakaknya sia-sia karena sang pemimpin elder masih tetap hidup kala itu.
"Ano.. maafkan aku, Steven-san.." Rasanya Leo merasa bersalah ketika bertanya seperti itu. Rasanya ia seperti mengorek kembali luka lama yang sudah dikubur dalam-dalam.
Steven tertawa kecil. "Tidak apa-apa, nak. Selain itu, bolehkah aku melihat kedua matamu?"
Leo terdiam. Saat pemeriksaan sore tadi Dokter Luciana berpesan padanya jika perban yang menutupi matanya sudah boleh dibuka ketika jam makan malam. Yah.. karena ini sudah melewati jam makan malam mungkin tak apa?
"Silakan, Steven-san."
Perlahan, Steven berusaha melepas perban yang melilit kepala Leo dan menutupi kedua matanya. Begitu seluruh kain putih itu terlepas, Leo mengangkat kelopak matanya perlahan dan memperlihatkan sepasang bola mata indah berkekuatan luar biasa.
"Steven-san?"
Steven terperangah. Ia menatap bola mata kanan Leo yang terlihat pecah seperti kaca menjadi serpihan. Meskipun begitu, mata kanan Leo tidak kehilangan kilauannya. Ia masih menampilkan iris sewarna lautan yang mengagumkan.
Tanpa sadar, Steven membawa Leo ke dalam pelukannya. Sementara yang dipeluk pun hanya diam mematung. Leo merasakan jika darah yang ada di sekujur tubuhnya berpindah haluan menuju ke wajahnya.
"Leonardo.. jadilah mateku." Steven mengangkat dagu Leo agar kedua mata si purplenette menatap balik iris cokelat kemerahannya seraya berucap tegas.
Leo tersenyum mendengarnya, itu bukanlah permintaan melainkan sebuah perintah. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menyutujuinya bukan?
Fin.
a/n : Yosh, tamat dan publish dalam satu hari untuk semua chapter muehehehehe~ semoga tidak mengecewakan! Terima kasih sudah membaca!
Omake!
Semenjak menjadi mate dari Steven, Leo pun resmi tinggal di mansion keluarga Starphase. Setelah kejadian hal itu rasanya tidak ada yang berubah dari Hellsalem's Lot. Tetap berisik dan gaduh seperti biasanya.
Selain itu. ternyata para anggota Libra yang lain menerima keadaan Steven yang merupakan half blood breed dengan tangan terbuka. Bahkan ternyata Klaus sudah tahu lama perihal seorang Steven yang merupakan half blood breed sejak ia memutuskan untuk merekrutnya ke dalam Libra. Sungguh tidak terduga.
"Aku menunggumu untuk berbicara terlebih dahulu, Steven."
Itu adalah kalimat yang Klaus ucapkan padanya ketika Steven membuka identitas dirinya yang sebenarnya di markas Libra yang dihadiri oleh anggota intinya. Rasanya sia-sia saja ketika menyimpan rahasia dari seorang Klaus V. Reinhertz.
Tanpa Steven sadari, Gilbert tertawa kecil di sudut ruangan.
"Steven-san, apakah kau memiliki taring seperti vampir-vampir elder itu?" Si pemilik helai silver bertanya penasaran.
"Tentu saja, Zapp. Tetapi untuk soal vampir, aku tidak tahu karena aku tidak alergi matahari." Steven membuka mulutnya dan menunjukkan kedua taring panjangnya kepada seluruh anggota Libra lainnya yang malah berseru kagum.
"Oh, selain itu.. Aku sudah memiliki seorang mate—"
Steven sengaja menggantung ucapannya dan sebelah tangan beralih menarik seorang bocah lelaki dengan eyepatch di mata kanan untuk mendekat dan bersandar di dalam pelukannya.
"—dia adalah mateku, Leonardo Watch." Lanjutnya dan mendapatkan seruan heboh dari para penghuni markas Libra. Leo yang mendadak ditarik ke dalam pelukan Steven pun hanya bisa merona tanpa berkata-kata.
"E-EH?! L-LEO? SI PENDEK INI?!" Zapp berteriak histeris.
Steven tersenyum. Ia tersenyum secerah matahari di musim panas yang malah membuat seisi markas bergidik termasuk Zapp sendiri.
"Kalau kalian berani menyentuhnya—
Kedua mata Steven berkilat merah berbahaya dengan seringai mengerikan terpampang di wajahnya.
—kalian semua pasti tau maksudku 'kan?" lanjutnya.
Sungguh sesuai dugaan ketika para penghuni markas Libra mengangguk kaku begitu disodorkan ancaman senyum manis Steven yang bahkan terlihat mengerikan ketimbang disebut manis.
Secret room, secret heart stories end.
