DIA, TANPA AKU
Remake Story by Esti Kinasih
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Ocs
.
.
[DISCLAIMER]
Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.
.
.
Capter 4
.
.
Happy reading..
.
.
Di luar masih gelap gulita saat mata Kris mendadak terbuka. Meskipun baru beberapa detik terbangun, kesadarannya langsung pulih.
Akhirnya hari ini tiba juga. Hari akhirnya Baekhyun berseragam SMA!
Kedua mata Kris berbinar. Senyumnya merekah lebar. Ia melompat bangun. Dilihatnya Chanyeol masih meringkuk pulas. Kris segera menghampiri. Kedua tangannya sudah terjulur, siap membangunkan adiknya
itu saat matanya tidak sengaja menatap jam. Masih setengah jam lagi sebelum jam beker itu berdering.
Ia urungkan niatnya. Cowok itu berjalan mondar-mandir di kamar yang remang-remang itu. Gelisah. Di sibaknya gorden. Di luar masih gelap gulita. Kembali dia berjalan mondar-mandir. Hatinya semakin gelisah. Semakin tidak sabar. Semakin bergemuruh. Dan semakin terasa ingin meledak.
Ia ingin Chanyeol bangun secepatnya. Mandi secepatnya. Sarapan secepatnya. Lalu berangkat ke sekolah secepatnya. Supaya dirinya juga bisa mendapatkan kepastian bahwa Baekhyun memang sudah memakai seragam putih abu-abu. SECEPATNYA!
Kembali Kris berjalan mondar-mandir. Berusaha keras untuk bersabar. Satu menit kemudian dia menyerah. Dihampirinya Chanyeol yang masih tertidur pulas, lalu diguncang-guncangnya tubuh adiknya itu kuat-kuat.
"Yeol, bangun! Woi, Chanyeol! Bangun!" serunya.
Chanyeol bangun tergeragap dan langsung melompat dari tempat tidur. Guncangan tangan Kris membuatnya kaget. Sesuatu langsung muncul di dalam pikirannya: pasti telah terjadi sesuatu yang buruk.
"Ada apa!? Ada apa!?" tanyanya panik. Dihidupkannya lampu yang terang.
"Sekolah. Cepetan mandi," kata Kris tak sabar.
"Hah!?" Chanyeol menatap kakaknya dengan mulut ternganga.
"Cepetan mandi sana. Lo kan kudu sekolah."
"Maksud gue, ngapain tadi lo bangunin gue kayak gitu?"
Kris nyengir. Terlihat agak tidak enak.
"Sori deh. Kaget, ya? Gue bangunin lo supaya lo nggak telat."
"Bukan kaget lagi, tau! Gue pikir ada kebakaran atau gempa bumi," gerutu Chanyeol kesal. "Kalo nggak ada apa-apa, bangunin orang kira-kira dong." sedetik kemudian Chanyeol menatap kakaknya dangan pandangan curiga. "itu doang alasannya?"
"Iya. Ini hari pertama lo pake seragam SMA, gitu loh!" seru Kris. Ditatapnya adiknya dengan mata terbelalak lebar. "Lo akan memasuki tiga tahun masa paling indah dan paling heboh dalam hidup lo. Masa nggak semangat sih?"
"Siapa bilang gue nggak semangat? Tapi bukan berarti subuh-subuh gue udah sampe sekolah, kan?" Chanyeol balik badan, siap tidur lagi.
"Eh!? Eh!?" Kris langsung menarik adiknya menjauhi tempat tidur. "Udah pagi nih!"
"Masih dua puluh menit lagi!" tunjuk Chanyeol ke jam beker di meja.
"Nggak! Nggak! Bangun!" Dengan paksa Kris menyeret adiknya ke luar kamar. Cepat-cepat ia menutup pintu kamar lalu berdiri menghadang Chanyeol.
Melihat peluang untuk bisa masuk kembali ke kamar benar-benar sudah tidak ada lagi, akhirnya Chanyeol menyerah. Sambil berjalan menuju salah satu kursi makan, ia menguap lebar-lebar dan berhenti sebentar untuk mengulet.
"Cepet mandi sana!" perintah Kris saat dilihatnya adiknya itu duduk.
"Bentar. Mata gue belum benar-benar melek. Lo mau gue kelelep di bak mandi?"
"Ya jangan dong." jawab Kris langsung. "Jangan hari ini. Besok-besok aja. Hari ini penting banget soalnya."
"Sialan!" gerutu Chanyeol.
Kris nyengir lalu terkekeh geli.
Setelah kantuknya agak berkurang, Chanyeol bangkit berdiri, bersamaan dengan terdengarnya dering jam beker dari dalam kamar. Kris membuka pintu yang dari tadi dijaganya. Kemudian masuk kamar untuk mematikan beker tersebut.
"Ambilin anduk gue!" seru Chanyeol. "Siap, Bos!" langsung terdengar sahutan Kris. Ia muncul dengan handuk yang diminta dan memberikannya pada Chanyeol.
Begitu selesai mandi dan kembali ke kamar, Chanyeol mendapati segala sesuatunya telah disiapkan Kris di atas tempat tidurnya. Mulai dari baju seragam, kaus kaki, sampai pakaian dalam!
Tempat tidurnya bahkan sudah tertata rapi. Di lantai, didekat salah satu kaki ranjang, Chanyeol melihat sepatunya juga telah ready to use.
"Penjilat banget sih lo," ucapnya. Sama sekali tidak bersedia mengucapkan terima kasih, karena semua yang dilakukan Kris memang jelas-jelas tidak tulus. Ada maunya!
"Hehehe." Kris cuma tertawa-tawa. Setelah menyambar handuk dari senderan kursi, ia berjalan keluar kamar. "Sekarang gantian gue yang mandi. Tapi sebelumnya gue mau memastikan sarapan lo udah tersedia di meja."
Chanyeol menatap abangnya yang berjalan keluar kamar sambil berbicara penuh semangat itu. Ia jadi tidak bisa menahan senyum saat kakaknya itu telah hilang dari pandangan.
Bertengkar, terkadang berkelahi hebat, bercanda, berebut komik, berteriak saling menyalahkan gara-gara kamar yang sering berantakan, berbagi cerita
bahkan rahasia dan banyak hal lagi yang mereka lakukan bersama-sama sejak kanak-kanak. Chanyeol benar-benar mensyukuri keberadaan kakaknya itu.
Hari ini Chanyeol melanggar kebiasaan. Ia sarapan tanpa mengenakan baju. Hanya berselimut handuk. Ia tidak ingin seragam SMA-nya bau nasi goreng, apalagi terkena butiran nasi atau bumbu berminyak. Sama sekali tidak dihiraukannya omelan ibunya dan teguran ayahnya yang jelas-jelas juga setengah hati. Kedua orangtuanya itu bisa mengerti.
Selesai sarapan Chanyeol buru-buru masuk kamar untuk bersiap-siap. Tepat seperti apa yang dikatakan Kris, hari ini ia benar-benar bersemangat. Amat bersemangat.
Hari ini hari pertamanya mengenakan seragam SMA. Serangan SMA! Putih abu-abu!
Setelah berpakaian lengkap, Chanyeol menghampiri cermin besar di pintu lemari pakaiannya. Langkahnya perlahan, sambil menahan napas pula. Dan begitu sampai di sana, seketika Chanyeol berdiri mematung. Ia menatap terkesima pada refleksi pertamanya sebagai anak SMA. Sorot terpana dan tak percaya terpancar jelas di kedua matanya. Juga perasaan bangga dan percaya diri. Bersemangat menghadapi hal-hal baru yang –katanya– berawal di SMA, dan perasaan-perasaan lain yang tak bisa diucapkan.
"Kereeen. Jadi keliatan udah gede!" Kris melangkah masuk kamar sambil mengacungkan jari jempolnya. Chanyeol meliriknya.
"Tinggi lo sama gue cuma beda dua sentian, tau!"
"Tapi waktu itu lo kan masih SMP. Sekarang kita nggak masalah lagi jalan berdua pake seragam, soalnya kita udah sama-sama gede. Kemaren-kemaren mah gue malu jalan sama anak SMP. Masih kecil, meskipun tinggi lo hampir nyaingin gue."
"Cerewet lo, ah!" dengus Chanyeol. "Buruan, mau ngomong apa? Lo nyusul gue ke kamar pasti karena ada yang mau diomongin, kan?"
"Tauuu aja." Kris nyengir lebar. Dihampirinya Chanyeol yang sekarang sibuk menyiapkan buku-buku dan alat tulis. "Kalo dia udah pake putih abu-abu juga, kasih tau gue, ya?" pinta Kris dengan penuh harap.
Chanyeol menatap kakaknya dengan kedua alis terangkat dan mulut sedikit ternganga. "Elo bego, ya? Kalo gue udah pake putih abu-abu, ya jelas dia juga sama, lagi."
"Iya sih." Kris mengangguk lalu mengulum senyum malu. "Ya, gue nggak percaya aja akhirnya dia pake putih abu-abu. Gila, gue nungguinnya lama banget." kemudian dia berseru keras, "Akhirnya penantian gue selesailah sudah!"
"Gue juga ikut seneng, Fan. Sumpah! Akhirnya penderitaan gue yang kudu dengerin cerita lo yang itu-itu melulu, juga selesai sudah!" ucap Chanyeol sungguh-sungguh.
Kris tercengang, tapi hanya sesaat. Kemudian ia tertawa terkekeh-kekeh.
"Salamin buat dia, ya?" pintanya penuh harap.
"Hmm…," Chanyeol cuma bergumam, sibuk memasukkan buku-buku pelajaran ke tas ranselnya.
"Ya, Yeol. Salamin buat dia, ya?" ulang Kris.
"Iya," jawab Chanyeol sambil melangkah ke luar kamar.
Kris langsung membuntuti langkah adiknya. "Bilang sama dia, salam dari Kris, gitu. Ya?" pinta Kris lagi, dengan nada semakin penuh harap.
"Iyaaa," jawab Chanyeol menahan sabar. "Tadi kuping gue juga udah denger," sungutnya. Kemudian dia hentikan langkahnya di tangga teras. "Ada pesen lagi, nggak? Gue udah mau jalan nih."
"Nggak. Nggak. Itu aja." Kris menggeleng cepat. "Sampein aja salam gue buat Baekhyun. Jangan sampe nggak. Salam sayang, gitu. Sama salam kangen."
"Kacangan, tau! Norak!" cela Chanyeol. "Gue malu nyampeinnya."
Kris nyengir, lalu tertawa pelan. "Iya deh. Salam aja. Nggak pake sayang sama kangen."
"Ya udah. Gue jalan dulu, ya?"
"Oke. Ati-ati di jalan ya, Yeol."
"Tumben?"
"Ya kan kalo nggak ati-ati, lo bisa ketabrak mobil. Terus mati. Kalo lo mati, nggak ada yang nyampein salam gue buat Baekhyun dong."
Chanyeol ternganga. Kris tertawa melihatnya. Dengan wajah bahagia dilepasnya kepergian adiknya. Namun saat Chanyeol sudah hampir memcapai pintu pagar, Kris berubah pikiran. Buru-buru dikejarnya adiknya itu.
"Eh, jangan deng, Yeol! Jangan! Jangan!" serunya. Chanyeol menghentikan langkah. Ia menoleh dan mengerutkan kening. Kris yang sudah berada di hadapan adiknya menggeleng kuat-kuat. "Nggak jadi. Gue sendiri aja. Lo nggak usah bilang apa-apa ke dia."
"Gimana sih? Jadi nyalamin apa nggak nih?"
"Nggak. Nggak. Gue sendiri aja. Pokoknya lo jangan nyebut-nyebut nama gue. Ntar gue mau dateng sendiri ke rumahnya. Kasih tau aja dia udah pake putih abu-abu apa belom, trus keliatannya jadi gimana. Udah itu aja."
Chanyeol mengangkat bahu.
"Ya udah. Gue jalan dulu. Ntar telat, lagi. Cuma gara-gara elo lagi nggak jelas."
"Iya. Iya. Sori. Gih sana berangkat."
"Giliran udah nggak titip salam, nggak bilang ati-ati lagi." gerutu Chanyeol sambil balik badan.
Kris tertawa geli. "Ati-ati di jalan ya!?" serunya karena Chanyeol udah hilang di balik pagar.
"Telat!" langsung terdengar seruan balik Chanyeol.
Kembali Kris tertawa geli. Kemudian ia balik badan dan berjalan masuk rumah dengan senyum sumringah.
.
.
.
Chanyeol tiba di sekolah masih pagi sekali, tapi ternyata kelas sudah ramai. Semangat itu sepertinya menghinggapi semua anak baru. Wajah-wajah itu adalah sebagian dari wajah-wajah yang kemarin dikenalnya selama MOS. Nama-nama mereka pun masih sama. Namun Chanyeol nyaris tidak mengenali.
Hanya karena mereka semua telah berseragam putih abu-abu!
Chanyeol takjub. Bukan cuma anak kecil di kamarnya yang sekarang sudah menghilang. Semuanya anak ingusan yang kamis kemarin masih berkeliaran di lapangan sekolah, sekarang juga sudah tidak ada lagi.
Semuanya wajah yang sedang menuju kedewasaan. Yang harus berpikir dua-tiga kali sebelum berlari-lari atau melompat-lompat di lapangan, atau pas jam olahraga.
Chanyeol terduduk diam di kursi yang dipilihnya. Menatap seisi kelas dengan mata melebar. Terpukau. Sampai kemudian dilihatnya Baekhyun melangkah memasuki kelas. Kembali Chanyeol takjub.
Itu anak kecil yang ditaksir kakaknya mati-matian. Namun pagi ini Baekhyun bukan anak kecil lagi. Dia sudah jadi cewek yang pantas untuk didatangi setiap malam minggu. Yang sudah pantas digandeng tanpa harus merasa malu.
Chanyeol jadi ingat bahwa Kris saat ini sedang menunggu informasinya. Baekhyun dalam seragam SMA. Chanyeol jadi ingin balas dendam atas ulah Kris yang membangunkannya setengah jam lebih awal subuh tadi.
Dibiarkannya sang kakak menunggu. Biar dia senewen. Biar dia blingsatan. Biar dia jadi emosi sampai serasa mau gila. Chanyeol tersenyum sendiri membayangkan keadaan Kris saat ini. Dan dugaannya memang tepat. Kris sedang gelisah. Amat sangat gelisah!
.
.
.
.
Kris meletakan ponselnya di meja, lalu memandangi benda itu dengan intensitas tinggi. Seolah-olah benda itu datang jauh dari angkasa luar dan baru diterimanya dari alien tadi malam. Teman-teman sekelas Kris terheran-heran melihat tingkahnya, dan jadi ikut-ikutan. Bergantian mereka menundukkan kepala rendah-rendah, memperhatikan ponsel cowok itu, sambil mengajukan pertanyaan yang sama.
"Lo lagi ngeliatin apaan sih?"
Kris mendongakkan kepala sambil mendesah kesal untuk yang ke sekian kalinya.
"Bisa nggak sih elo-elo pada nggak gangguin gue?"
"Siapa yang gangguin sih? Orang cuma nanya. Lo lagi ngeliatin apaan? Dari tadi serius banget," kata seorang temannya.
"Oh, gue tau!" seru yang lain. "Kris lagi nunggu kiriman gambar atau rekaman porno!"
"Wuiiih, asyik! Ntar forward ke gue ya!"
"Gue jugaaa!"
Langsung terdengar seruan riuh dan antusias. Seruan anak-anak cowok pastinya. Sementara para cewek menatap Kris dengan pandangan jijik.
Taemin, salah seorang teman sekelas Kris, segera memberikan pembelaan. Meskipun dengan kalimat yang rada menghina, tetap saja judulnya sudah membela.
"Nggak mungkinlah dia terima gambar. Orang HP-nya aja HP konvensional gitu. Mana bisa buat terima yang canggih-canggih."
Kris menatap Taemin dengan sorot mata berterima kasih, tapi juga dongkol dan agak tersinggung karena ponselnya dibilang konvensional. Memang iya sih. Tapi kan nggak perlu diumumkan terang-terangan begitu.
"Tengkyu, Tae, untuk pembelaan lo yang pait banget," katanya.
Taemin mengangguk sambil menyeringai geli. Sementara Suho terawa tanpa suara.
Dengan berat hati, terpaksa Kris mengubah ringtone ponselnya ke posisi silent, karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Dan sepanjang pelajaran pertama dan seterusnya, ia gelisah luar biasa. Kegelisahan pekat yang benar-benar membuat dadanya sesak dan jadi ingin teriak-teriak.
Penjelasan dari setiap guru lewat begitu saja. Tidak tersangkut di kepala. Setiap uraian pelajaran yang ditulis para guru di papan tulis, dicatatnya asal-asalan. Dan begitu bel istirahat pertama berbunyi, Kris langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, berharap di layarnya tertera pemberitahuan bahwa ada SMS masuk. Missed call, tidak mungkin, karena Chanyeol pasti juga sedang belajar.
Dan betapa kecewanya Kris saat mendapati layar ponselnya tidak menampakkan apa-apa. Sama sekali tidak ada SMS yang masuk! Dengan geram akhirnya dia mengontak adiknya.
"Kok elo nggak ngontak-ngontak gue sih? Gue tunggu-tunggu, juga!" serunya begitu Chanyeol mengangkat telepon.
"Emang sekarang, ya?" Chanyeol berlaga bego. "Gue kirain laporannya di rumah."
"Sekarang, tauuu!" deru Kris jengkel. "Malah harusnya tadi pagi. Begitu lo sampe sekolah, begitu lo ngeliat dia, langsung lapor ke gue! Lo nggak tau, gue udah hampir sinting gara-gara nunggini telepon dari lo!"
"Kalo lo marah-marah, nggak gue kasih tau nih," ancam Chanyeol.
Kris langsung tersentak. "Ya jangan dong, iya deh. Sori…," buru-buru dia minta maaf dan intonasi suaranya melunak. "Jadi, dia gimana? Udah pake putih abu-abu juga?"
Di seberang Chanyeol tertawa geli tanpa suara mendengar perubahan dratis sikap kakaknya.
"Dasar bego, lo! Ya jelas dia pake putih abu-abu jugalah…."
Seketika mata Kris terbelalak.
"Terus? Terus? Dia keliatan gimana?" tanyanya antusias, dan tanpa sadar ia menahan napas.
"Jadi keliatan agak dewasa. Nggak keliatan kayak anak-anak lagi."
"Bener!?" seru Kris tanpa sadar. "Pasti keliatan tambah cakep deh!"
"Iya, jadi tambah manis." Chanyeol mengiyakan dan itu memang harus diakui.
"Terus? Terus?"
"Terus apa lagi? Lo kan cuma minta info itu doang. Katanya lo mau langsung nemuin dia nanti?"
"Oh, iya, ya?" Kris tersadar. "Ya udah deh. Thanks banget, Yeol. Lo emang my best-best brother ever!"
"Ya jelaslah. Emangnya lo punya sodara cowok yang lain, apa?"
Kris meringis geli. Diucapkannya terima kasih sekali lagi, kemudian ditutupnya telepon.
"Thanks banget ya, Yeol, brother."
"He-eh." Chanyeol menutup ponselnya sambil tersenyum kecil. Ia ikut bahagia mendengar kakaknya kedengarannya begitu bahagia.
Setelah mendapatkan kabar itu, Kris jadi tenang, sekaligus tak sabar menunggu jam sekolah usai. Nanti malam dia akan melaksanakan rencana yang telah disusunnya selama berbulan-bulan, yang dinantikannya sungguh-sungguh dengan segenap kesabaran.
Ia akan mendatangi rumah Baekhyun. Langsung di hari pertama cewek itu mengenakan seregam SMA. Ia akan muncul dihadapan cewek itu. Utuh, jelas, nyata, dan gamblang. Dan Kris akan mengatakan semuanya. Keseluruhan cerita. Pengamatannya, penantiannya, dan harapannya. Dan akan dimintanya Baekhyun agar bersedia jadi ceweknya.
Seharian itu Kris sangat ceria. Begitu gembira. Terlihat bahagia. Banyak tertawa. Sedikit-sedikit tersenyum. Di mata Kris, semuanya jadi terasa menyenangkan. Siapa bilang diomelin guru di depan kelas gara-gara nggak bisa menjawab soal-soal memalukan? Biasa-biasa aja tuh. Yang penting budek.
Itu yang terjadi pada jam biologi. Bu Yuri sudah berpesan bahwa dia akan mengulangi semua materi pelajaran di kelas dua dalam bentuk rentetan pertanyaan esai. Bahkan juga materi kelas satu. Materi kelas satu? Siapa juga yang masih ingat!
Ternyata rentetan pertanyaan itu benar-benar rentetan. Sampai-sampai tidak ada ruang kosong yang tersisa di papan tulis. Seluruh papa tulis itu isinya cuma pertanyaan dan pertanyaan.
Dan nasib tidak berpihak kepada Kris. Ia terkena giliran pertama. Dengan marah Bu Yuri memanggilnya ke depan kelas, karena tidak satu pun rentetan pertanyaan itu yang bisa dijawab Kris. Bahkan soal yang paling sederhana.
Sebenarnya Kris bukan tidak bisa menjawab. Hanya saja ia tidak ingin hari romantis dan terindah dalam hidupnya ini jadi rusak. Ia ingin hari ini berjalan sempurna, dan berakhir dengan kebahagian dan keindahan yang juga sempurna.
Ia tak ingin kalimat-kalimat romantis yang sudah disiapkannya untuk diungkapkan pada Baekhyun nanti, tergeser dari dalam kepalanya gara-gara anatomi manusia, hewan, dan para tumbuhan itu. Masih ada hari esok buat biologi!
Karena itu, Kris diam saja saat Bu Yuri mengomel panjang-lebar di depan mukanya.
"Tuh anak kok bahagia ya, diomelin di depan kelas gitu?" kata Kibum heran, yang juga mewakili keheranan teman-teman lainnya.
Masih ada lagi perubahan Kris yang membuat teman-teman sekelasnya semakin bertanya-tanya, terutama yang cewek-cewek. Selama ini Kris selalu menganggap cewek selalu membesar-besarkan masalah, atau hobi membuat hal-hal yang bukan masalah menjadi masalah. Bahwa cewek itu makhluk irasional, yang berpikir dengan cara serumit mungkin, ribet, cengeng, nggak jelas, moody, dan lain-lain. Sekarang Kris justru menganggap semua "keanehan" cewek itu sebagai sesuatu yang unik.
Cowok yang biasanya paling malas kalau melihat segerombolan cewek sedang bergosip itu sekarang juga menganggapnya sebagai sesuatu yang unik dari dunia cewek. Selama ini kalau mendengar cewek-cewek sekelasnya saling curhat, Kris sering merecoki dengan komentar-komentar: "Begitu aja jadi masalah." Atau… "Soal kecil gitu aja dimasalahin. Buang-buang energi dan waktu aja." Atau yang paling sering membuat para cewek itu kesal: "Dasar cewek! Nggak logis. Senengnya nyakitin diri sendiri!"
Namun hari ini berbeda. Mendadak Kris jadi penuh empati. Begitu penuh belas kasih. Begitu perhatian. Begitu lembut. Dan begitu bijaksana.
Cewek-cewek sekelas yang biasanya dongkol banget kalau Kris ikut nimbrung dalam kerumunan mereka, dan langsung mengusir cowok itu jauh-jauh, kali ini terkesima. Terpukau. Takjub dengan pendapat dan advis-advisnya yang begitu bijaksana. Begitu penuh pengertian dan begitu paham akan dunia cewek.
"Okay, ladies…." Kris tersenyum lembut pada cewek-cewek di sekelilingnya. "Kalo ntar ada masalah lagi, cerita aja sama gue. Kali aja gue bisa bantu cari solusinya. Oke?" kemudian dia bangkit berdiri. Ditinggalkannya kerumunan teman sekelasnya itu, yang menatap kepergiannya dengan mulut ternganga.
Bukan hanya teman-temen sekelasnya, para guru pun dibuat terheran-heran dengan perubahan sikap Kris itu.
Pak Kang, guru fisika yang hobi banget membawa tumpukan kertas fotokopian berisi soal-soal ciptaannya untuk dibagikan ke para murid, kali ini
tidak perlu membawa tumpukan fotokopian itu. Kris yang membawakan, dan dia datang ke ruang guru khusus untuk itu!
Sementara Bu Sooyong, guru bahasa inggris yang cantik dan bersuara lembut, masih lajang pula, yang kerap jadi bahan godaan murid-muridnya dengan belagak tidak mendengar saat beliau mengabsen, kali ini boleh merasa lega. Kris yang melakukan tugas itu.
Berdiri di depan kelas, Kris mengabsen temannya satu per satu. Dengan suara volume yang bisa terdengar sampai ke Bogor. Cowok-cowok bengal, yang duduk di deret paling belakang, terpaksa mengacungkan tangan. Tentu saja dengan kesal, karena Kris sudah menyebabkan meraka kehilangan kesempatan menggoda guru cantik yang lembut itu.
Dan masih banyak lagi perubahan Kris yang menakjubkan. Tapi perubahannya yang terakhir membuat Pak Lee, guru sejarah yang jatah mengajarnya di 2 x 45 menti terakhir, kesal. Bel pulang masih lima belas menit lagi, tapi Kris sudah sibuk membereskan buku dan alat tulisnya. Dengan cuek pula, alias mencolok. Hingga beberapa teman sekelasnya ikut-ikutan, segera beres-beres pula. Maklum, penyakit malas memang lebih cepat menular ketimbang penyakit rajin.
"Kamu mau ke mana, kok sudah beres-beres?" tanya Pak Lee heran.
"Pulang, Pak. Kan sebentar lagi bel," Kris menjawab kalem.
"Masih lima belas menit lagi belnya."
"Ya kan nggak apa-apa saya beres-beresnya sekarang. Jadi nanti begitu bel bisa lansung pulang. Bapak sekarang pasti tinggal menjelaskan aja, kan? Udah nggak ada lagi yang harus dicatet, kan? Soalnya sudah tinggal lima belas menit lagi, pak."
Kris bicara dengan nada memohon. Hampir semua teman sekelasnya menahan senyum. Sisa waktu tinggal lima belas menit lagi, sementara pembicaraan kedua orang itu hampir menghabiskan sepuluh menit sendiri. Akhirnya, baru lima menit Pak Lee memulai kembali penjelasannya, bel pulang sudah berbunyi. Dengan kesal beliau terpaksa mengakhiri pelajarannya.
"Gara-gara kamu, bab hari ini jadi nggak selesai."
"Maaf, Pak. Abis saya ada urusan penting banget hari ini. Harus cepet-cepet pulang." Kris meringis.
.
.
.
Begitu Pak Lee keluar kelas, Kris langsung berdiri dan cepat-cepat keluar kelas. Tergopoh-gopoh Suho mengikuti langkah cepat Kris.
"Mau ke mana sih buru-buru banget? Ntar malam lo jadi ke rumah Baekhyun, kan?"
"Iya. Tapi kan kudu nyiapin dari sekarang, lagi. Gue mau mampir ke toko bunga dulu. Memastikan karangan bunga yang mereka bikin sesuai sama permintaan gue. Trus, kaus sama jins baru itu, mau gue setrika lagi. Biar benar-benar licin dan rapi."
"Emang sama Bi Minah belum disetrika?"
"Nggak. Mau gue setrika sendiri!" tandas Kris. "Untuk urusan satu ini gue nggak mau campur tangan orang lain."
"Ih, segitunya." Suho geleng-geleng kepala.
"Abis itu gue mau tidur sebentar. Biar ntar malam penampilan gue jadi segar." Kris mendesah. Puas dengan urutan persiapan yang telah disusunnya.
"Eh, ntar malam gue ikut ya, Fan?"
"Jangan dong! Ganggu aja."
"Ikut nganter aja. Nggak ikut ngebuntuti elo sampe rumah Baekhyun. Gila, apa? Gue juga tau diri, lagi. Lagian gue juga bisa ngebayangin, pasti bakalan norak abis!"
"Sialan!" Kris mendengus. "Maksud lo, ntar lo nggak turun dari taksi, gitu?"
"Iya. Gue langsung balik. Ya? Gue boleh ikut, ya?"
Suho meminta dengan penuh harap. Entah kenapa, ingin sekali terlibat dalam hari terpenting Kris ini. Ingin ikut merasakan ketegangan dan kecemasan sahabatnya. Dan seandainya semua berjalan lancar, ia juga ingin ikut merasakan kebahagiaan Kris.
"Trus, ongkos taksi baliknya siapa yang bayar?" Kris langsung cemas.
"Ya guelah. Takut amat sih. Gue tau lo miskin. Udah tau nggak punya duit, pake beli buket bunga segala. Yang lumayan mahal, lagi. Miskin tapi belagu."
"Ini bukan masalah miskin atau kaya, tau! Tapi image!" Kris menyeringai. "Kesan pertama kudu yang bagus-bagus dulu yang dikasih liat."
"Trus ntar balik dari rumah Baekhyun, lo pake taksi lagi, gitu?"
"Mau nggak mau. Makanya gue nggak bisa bayarin taksi lo balik nanti."
"Iya. Kan gue udah bilang tadi. Gue bayar sendiri."
Selain buket bunga dan yang lainnya, soal taksi juga sudah masuk dalam rencana yang disusun Kris. Karena mau nembak gebetan yang udah lama jadi incaran, plus akan mengenakan kaus dan celana jins baru, masih ditambah akan membawa sebuket bunga yang harganya mahal pula, mau tidak mau dirinya harus naik taksi. Tidak mungkin menggunakan bus, angkutan umum yang selama ini jadi sobat karibnya, karena bisa merusak image.
Sementara bajaj juga mesti dilupakan. Karena selain suara mesinnya nggak merdu banget, bodi depannya yang monyong itu juga nggak matching dengan buket bunga cantik yang dibawanya.
Begitu sampai rumah, Kris langsung melepas baju seragamnya. Hanya dengan bercelana pendek, cowok itu segera menuju meja makan. Tidak seperti biasanya, kali ini Kris langsung melahap masakan yang sudah disiapkan Bi Minah di atas meja. Tidak ada komentar atau protes lantaran masakan yang terhidang tidak sesuai dengan seleranya. Karena kali ini ada hal yang jauh lebih penting daripada makan, yang harus dilakukannya dengan segera. Yaitu, menyetrika!
Tukang sayur langganan hari ini tidak lewat. Terpaksa Bi Minah manfaatkan bahan-bahan yang ada di kulkas. Dan satu-satunya sayuran yang ada di dalam kulkas adalah jenis yang paling dibenci Kris. Kacang panjang!
Makanya Bi Minah, pembantu yang sudah lama ikut keluarga itu, mengawasi dengan perasaan waswas saat Kris membuka tudung saji. Di kepalanya langsung terngiang-ngiang ucapan Kris tiap kali ada masakan kacang panjang di meja makan : "Udah jelas-jelas sayuran, kok maksa ngaku-ngaku kacang?" Makanya Bi Minah jadi heran melihat Kris makan dengan lahap.
"Itu kan oseng kacang panjang, Mas. Kok tumben doyan?"
Seketika Kris berhenti mengunyah. Diperhatikannya sayur di piringnya. "Wah, iya ya!" serunya, baru tersadar. "Ah, udalah. Ternyata rasanya lumayan juga kok." sambungnya cuek, lalu meneruskan makannya dengan lahap.
Tinggal Bi Minah menatapnya semakin bingung. Begitu selesai makan, Kris langsung mengambil kaus dan jins barunya dari kamar dan membawanya ke tempat menyetrika di belakang.
Chanyeol tiba di rumah satu jam kemudian, dan takjub melihat kakaknya yang sedang menyetrika sendiri bajunya, dengan ekspresi sangat serius pula. Dengan penuh minat, Chanyeol langsung menghampiri.
"Duileeeh. Nyetrikanya serius amat sih?" godanya. Kris tidak mengacuhkan. "Setrikain baju gue juga dong. Bi Minah kayaknya lagi repot. Nggak tega mau minta tolong."
"Ya udah. Mana sini!" Kris mengangguk ringan.
Mata Chanyeol kontan terbelalak. Tidak menduga.
"Serius nih?"
"Serius. Mana bajunya? Bawa ke sini. Trus ntar mau digosongin bagian mananya? Depan? Belakang? Atau tangannya dua-duanya?"
Chanyeol tidak jadi gembira.
"Kirain serius."
"Gue kakak lo. Tau nggak sih, nyuruh orang yang lebih tua itu nggak sopan?"
"Nggak. Kalo nyuruh orang tua, baru nggak sopan." Chanyeol menggeleng bego, lalu tertawa geli saat sang kakak meliriknya tajam.
Kelar menyetrika, sesuai urutan rencana, jadwal Kris berikutnya adalah tidur sebentar. Biar kalau bangun nanti badan jadi fresh.
"Jangan ganggu ya. Jangan kenceng-kenceng nyetel DVD-nya," pesanannya pada Chanyeol, yang memang biasa melewatkan istirahat pulang sekolah kalau tidak dengan membaca komik, ya dengan memutar DVD. Film atau musik.
"Okeee. Sleep well, ya."
Kris hanya tidur sebentar, itu juga gelisah. Berkali-kali dia mengubah posisi atau menarik napas panjang. Berkali-kali dia juga bergumam dalam tidurnya. Kalau tadi ia berpesan agar jangan diganggu, justru Chanyeol yang terganggu. Tapi dia tidak tega membangunkan, sampai akhirnya Kris terbangun dengan sendirinya.
"Gimana tidurnya?"
"Aduh. Gue gelisah banget. Jadi ngimpi yang nggak jelas gitu, Yeol."
"Lo tidur sambil mikir sih."
"Iya, kali ya?" Kris turun dari tempat tidur lalu meregangkan badan.
"Udah…. pasrah aja. Diterima ya syukur…," Chanyeol mengangkat kedua alisnya, "kalo ditolak ya udah, mau gimana lagi?"
"Iya sih. Ya udah deh, gue mau mandi." Kris meraih handuknya.
Tidak seperti biasanya, kali ini Kris juga menghabiskan waktu sangat lama di kamar mandi. Sampai Yeri, adik bungsunya, yang sudah tiga kali bolak-balik, terpaksa mengetuk pintunya.
"Kak Kris kok lama sih? Pingsan, ya?"
"Iya," dari dalam terdengar jawaban Kris sambil tertawa.
"Buruan dooong! Yang mau ke kamar mandi banyak nih."
"Kamar mandi belakang emang kenapa sih?"
"Nggak enak. Lagian Bi Minah lagi nyuci. Makanya cepetaaan!"
"Iya. Iya. Cerewet!"
Selesai mandi, dilanjutkan dengan dandan. Ini juga makan waktu lama. Chanyeol memperhatikan abangnya sambil sesekali geleng-geleng kepala atau menahan senyum geli. Aneh banget soalnya. Selama ini, kalau mau keluar rumah, Kris jarang menyisir. Paling-paling rambut pendeknya itu cuma dia rapikan dengan tangan.
Sekarang? Sudah lima menit cowok itu berdiri di depan cermin, menyisir rambut dengan berbagai macam cara, tapi masih belum puas juga. Kris baru berhenti menyisir setelah sadar, mau disisir sampai besok pagi juga hasilnya sama.
Begonya, setelah menyisir rapi rambutnya, Kris baru ngeh kalau dia belum pake baju. Alias persiapannya salah urutan. Terpaksa ia ikhlaskan rambutnya jadi berantakan lagi saat dipakainya kaus barunya.
Lucunya, walaupun sudah yakin penampilannya oke dan keren dalam balutan kaus dan jins baru, tetap saja pada hari "H" ini Kris kehilangan keyakinan itu. Ia terus berkutat di depan cermin sampai lama untuk mendapatkan keyakinan itu kembali.
Setelah itu ia menyisir rambut lagi. Dan lama lagi. Terakhir, ia memakai sepatu. Kris menarik keluar sepatu ketsnya dari bawah tempat tidur. Chanyeol sempat terkesima, karena sepatu kets abangnya yang biasanya dekil itu sekarang jadi bling-bling. Pasti Kris menyikatnya sampe setengah mampus tuh, gumam Chanyeol.
Setelah rambut oke, baju oke, sepatu juga oke, berikutnya adalah parfum. Kris menyemprotkan parfum kesayangannya. Seketika aroma wangi memenuhi kamar. Akhirnya selesailah sudah semua persiapan. Kris menatap refleksi dirinya di cermin untuk yang terakhir kali.
"Sip. Oke," desahnya puas. Ditariknya napas panjang-panjang. Lega banget.
"Akhirnya!" Chanyeol ikut menarik napas lega. "Cuma ngeliatin lo dandan aja gue udah capek banget."
Kris menatap adiknya lewat cermin lalu menyeringai.
"Ntar kalo lo naksir cewek untuk pertama kali, lo juga akan kayak gue gini. Jadi nggak waras. Sinting!"
"Nggak bakalan!" tandas Chanyeol yakin.
"Taruhan!" tandas Kris balik, lebih yakin.
Acara terakhir sebelum pergi, Kris pamit pada seisi rumah. Ditambah lagi, ia juga meminta doa restu. Lagi-lagi di luar kebiasaan. Biasanya Kris akan langsung berjalan ke arah pintu, menoleh dan melambaikan tangan sabil
berseru, "Berangkat ya! Daaah, semuanya." kali ini Kris benar-benar pamit. Bahkan Yeri pun dia pamiti dan mintai doa restu.
"Kakak pergi dulu ya, Ri. Doain Kakak semoga sukses, ya?"
"Sukses apaan?" tanya Yeri bingung.
"Pokoknya sukses deh."
"Iya deh. Semoga sukses," jawab Yeri malas-malasan, karena dia benar-benar tidak mengerti. Lagi pula, bagi Yeri, urusan Kris itu nggak penting.
Kris merogoh salah satu kantong celana panjangnya, lalu mengeluarkan selembar lima ribuan.
"Nih, buat jajan."
Dia ulurkan uang itu pada Yeri. Mata adik bungsunya yang masih duduk di kelas tiga SD itu berbinar-binar. Yeri langsung mengulangi doanya. Kali ini dangan penuh semangat. "Semoga sukses ya, Kak!" Dipeluknya sang kakak dengan kedua tangan, lalu diberinya cipika-cipiki.
Kris menyeringai geli. Ia menyambut pelukan dan ciuman itu. Chanyeol menyaksikan adegan itu juga dengan senyum geli. Namun, ada rasa haru yang kemudian muncul. Apa yang terjadi di depan matanya itu sangat indah. Membuat dada jadi merasa hangat.
Setelah itu Kris pamit pada Bi Minah, tentu saja plus minta doa restunya. Mama mereka, yang biasanya sudah pulang kerja saat jam sekolah anak-anaknya, tumben-tumbenan kali ini pulang sore hari. Ia ditelepon Kris, juga dipamiti dan dimintai doa. Kalau ini penting banget. Soalnya doa ibu biasanya manjur.
"Sukses apa sih, Nak?" tanya mamanya heran.
"Ya pokoknya doain Kris sukses aja deh, Ma." Kris tidak mau menjelaskan. Dia hanya tertawa malu.
"Iya deh. Sukses ya," ucap mamanya sambil tersenyum geli di seberang sana. Ia bisa mendengar tawa malu anak lelakinya. Selain itu, diam-diam ia memang mengikuti perkembangan anak sulungnya itu akhir-akhir ini.
"Makasih banyak, Ma."
Belum lama Kris menutup telepon, terdengar suara klakson. Taksi sudah datang. Ia segera menghampiri satu-satunya orang yang belum dipamiti di rumah. Chanyeol. Dipeluknya adik cowoknya itu erat-erat. Tubuh Chanyeol sempat menegang, karena sama sekali tidak mengira. Namun kemudian dibalasnya pelukan kakaknya itu.
"Thanks banget ya, Yeol. Doain gue sukses, ya?"
"Pastilah."
Kris melangkah meninggalkan rumah. Sebelum hilang di balik pagar, ia menoleh, tersenyum dan melambaikan tangan pada kedua adiknya yang melepas kepergiannya.
Suho ternyata sudah membuka pintu belakang taksi untuk Kris. Sambil tersenyum, Suho mempersilahkan sahabatnya itu naik.
"Silakan," ucapnya khidmat.
"Terima kasih. Terima kasih," Kris menjawab khidmat pula. Suho tertawa geli.
Suho duduk di depan, di samping sopir, karena buket bunga yang nanti akan mereka ambil dipastikan akan menghabiskan sisa ruang di jok belakang.
Setelah mengambil buket bunga, sepanjang jalan bisa dibilang Kris nyaris tidak mengeluarkan suara. Ia sibuk gelisah. Sibuk gugup. Sibuk menghela napas. Sibuk menggigit bibir. Sibuk melihat ke luar jendela. Dan sibuk memegangi buket bunganya agar tidak rusak karena guncangan taksi. Suho, yang sesekali menatapnya lewat kaca spion dalam, jadi tersenyum geli. Sampai akhirnya mereka tiba ditujuan.
Taksi berhenti di tepi jalan. Namun Kris tidak bergerak. Tetap duduk di tempatnya. Hanya menatap lurus-lurus ke seberang jalan, ke satu jalan kecil di sana, tempat penantian panjangnya yang menguras banyak emosi itu akan berakhir. Dengan penerimaan atau… penolakan.
Karena Kris tetap tidak bergerak juga, akhirnya Suho turun dari taksi lebih dulu. Perlahan dibukanya pintu di sebelah Kris.
"Hai, kawan," tegurnya halus. "sudah sampai."
Kris mendongak. Dia mengangguk, lalu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kuat-kuat. Dengan hati-hati diulurkannya buket bunga yang sedari tadi dipeganginya kepada Suho. Tanpa sadar, Suho juga menerimanya dengan sangat hati-hati. Kemudian Kris turun dari taksi.
"Rambut gue gimana? Nggak berantakan, kan?" tanyanya cemas.
"Nggak," Suho menggeleng. "Lagian lo malah lebih keren kalo rambut lo berantakan."
"Belakang kaus gue lecek, nggak?"
"Nggak. Gimana bisa lecek kalo duduk lo nggak yandar ke jok? Sibuk megangin kembang. Tenang aja. Penampilan lo udah oke banget kok. Kalo gue cewek, gue pasti udah naksir elo!" ucap Suho sungguh-sungguh.
Kris tertawa lebar tanpa suara. Ditepuknya satu bahu Suho.
"Thanks banget, Ho," ucapnya, dengan ketulusan yang terlihat jelas dalam suara dan cara menatap sahabatnya itu. Suho jadi terharu.
"It's okay," Suho tersenyum lebar. Diserahkannya buket bunga itu pada Kris, kemudian ganti ditepuknya bahu sahabatnya itu. "Mudah-mudahan sukses. Gue pengin liat elo bahagia."
Sesaat mereka bertatapan. Kemudian Kris balik badan dan berjalan menjauh sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
"Good luck!" seru Suho.
Kris menoleh, kembali tersenyum lebar. Kemudian ia acungkan jempol kirinya. Suho membalas. Ia acungkan kedua jempolnya. Sambil tersenyum, terus ditatapnya tubuh Kris yang menjauh.
Bisa dirasakannya kegugupan sahabatnya itu. Kegelisahannya. Kecemasannya. Ketakutannya. Seluruhnya memuncak di hari ini, setelah penantian yang begitu panjang, yang tidak bisa dirasakan Suho, bahwa itu tidak akan lama lagi.
Tidak akan lama….
Semua rasa itu telah menghilangkan konsentrasi dan kewaspadaan Kris terhadap apa pun di sekelilingnya. Fokus pada tujuan, ia benar-benar tenggelam dalam semua rasa yang telah mengepungnya begitu lama itu.
Tidak dipedulikannya hal lain. Tidak dirasakannya "sesuatu" datang. Tidak juga Suho. Yang masih mengiringi Kris dengan tatapan mata. Tidak dirasakannya "sesuatu" itu bergerak semakin dekat.
Tidak juga pengemudi sedan itu, yang memanfaatkan kelengangan jalan dengan langsung menambah kecepatan. Sama sekali tidak diduganya bahwa seseorang akan muncul begitu saja dari antara mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan. Seseorang yang sibuk membawa buket bunga besar kemudian menyeberang tanpa menoleh kiri-kanan.
Dan "sesuatu" itu kemudian melakukan tugasnya. Rem berdecit sia-sia!
Semua bisa mendengar kerasnya bunyi hantaman itu. Logam yang beradu dengan daging dan tulang. Hanya beberapa detik. Tidak ada yang bisa dilakukan. Orang-orang hanya bisa tersentak. Terkesima. Menatap dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.
Tubuh itu rebah. Tanpa sedikit pun suara. Darah mengalir. Buket bunga itu terlepas dari tangan. Terlempar. Menghantam aspal jalan dengan keras. Rebah dan… patah!
Namun satu kuncup tertinggal. Tergenggam erat dalam jemari Kris. Mawar putih. Warna tanpa warna, hingga segala macam warna yang diinginkan bisa diimpikan.
Suho berlari seperti kesetanan. Sesaat setelah tubuh Kris menghantam kerasnya aspal jalan, ia menangkap tubuh itu dan memeluknya kuat-kuat.
Namun sekuat apa pun pelukan, tidak bisa menghalangi kematian.
Suho duduk bersimpuh di tengah jalan, dengan Kris dalam pelukan. Sepasang mata yang tadi menatapnya dengan sarat kecemasan namun begitu hidup dalam nyala semangat dan harapan, kini telah tertutup.
"Sesuatu" itu telah selesai melakukan tugasnya. H.C. Andersen pernah menyebutkan namanya. Elmaut!
.
.
.
TBC
.
.
.
Ada yang nangis bareng aku nggak? TTTT
