DIA, TANPA AKU

Remake Story by Esti Kinasih

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Ocs

.

.

[DISCLAIMER]

Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.

.

.

Capter 5

.

.

Happy reading..

.

.

BANGKU itu telah kosong.

Sia-sia Suho terus menatap ke ambang pintu. Sahabatnya takkan pernah datang. Sia-sia dia berusaha menipu diri dengan menganggap realita itu adalah bagian dari mimpi. Namun di saat ia terjaga, saat mata itu telah terbuka, mimpi itu tidak berakhir.

Di bangkunya, Suho duduk mematung seperti orang yang tak sadarkan diri. Terjatuh dalam mimpi yang takkan berakhir itu. Mulai hari ini ia akan duduk sendiri. Kris sudah pergi, takkan pernah bisa ditemukan walaupun betapa keras Suho mencari.

Tinggal dalam kenangan. Hanya dalam ingatan.

Semua tawa dan pertengkaran. Semua lelucon dan keisengan konyol. Semua cerita dan rahasia. Semua dukungan dan pengertian. Sampai kesedihan ini akhirnya hilang. Sampai kekosongan ini berangsur-angsur tersembuhkan.

Suho mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Berusaha keras agar sakit dan sesak di dadanya tidak meledak keluar.

"Gue duduk sini ya, Ho?" Minho tiba-tiba saja sudah berada di samping meja. Suho mendongak kaget. "Gue duduk sini, ya?" Minho mengulangi permintaannya. Seketika Suho menolak.

"Nggak. Jangan! Biarin aja ini bangku kosong!"

Sesaat Minho menatap Suho, kemudian kembali ke bangkunya sendiri tanpa bicara apa-apa lagi. Ia tidak berusaha untuk memaksa. Begitu juga teman-teman sekelas yang lain. Mereka biarkan Suho tenggelam dalam kesedihannya. Karena, meskipun rasa itu juga dialami seisi sekelas, Suho merasakannya jauh lebih pekat dan lebih dalam. Karena dia dan Kris sudah bersama-sama sejak mereka bertemu di tahun pertama SMP dulu.

Menjelang bel pelajaran pertama berbunyi, Suho justru meninggalkan kelas. Tidak satu pun teman-temannya berusaha menghalangi. Tapi sebelum pergi ia sempat berpesan. "Gue minta jangan ada yang duduk di bangkunya Kris!" ucapnya dingin. Dengan wajah kaku dan kedua rahang mengeras, ia melangkah keluar kelas, menuju sisa-sisa bangunan lama yang masih berdiri. Suho kemudian memasuki salah satu ruangan.

Dipandanginya ruangan yang dulu pernah menjadi ruang kelas itu. Kini ruangan ini kosong, berdebu, lengang, dan ditinggalkan. Tetapi dulu ruangan ini pasti penuh siswa yang kini sudah bergelar alumni dan entah tersebar di mana saja.

Pasti banyak sekali kenangan di ruangan ini. Milik para alumnus itu. Berapa banyak dari mereka yang pernah tertangkap menyontek di ruangan ini? Berapa banyak yang telah kena marah guru? Berapa banyak yang pernah naksir teman sekelasnya sendiri? Seberapa konyol keisengan-keisengan yang pernah mereka lakukan? Seberapa riuh dan ingar-bingar keributan yang pernah mereka ciptakan?

Dan kenangan yang ditinggalkan Kris di ruangan ini adalah hari pertama ketika anak itu terpaksa harus membawa bekal makanan ke sekolah. Lontong dan bakwan udang. Yang dikeluarkannya dari dalam tas pinggang sambil berpromosi, bahwa judulnya memang "bakwan", makanan rakyat, tapi rasa dan kualitasnya standar hotel berbintang.

Jadi, meskipun mereka berdua tidak bisa jajan di kantin dan terpaksa kembali ke zaman TK -membawa bekal dari rumah- itu sama sekali bukan kondisi yang tragis atau mengenaskan.

Ada sebentuk senyum muncul di mata sedih Suho yang menerawang. Namun kenangan-kenangan itu kemudian membuatnya tidak sanggup lagi

menahan kepedihan. Karena tak mungkin berteriak, akhirnya Suho melepaskan rasa sesaknya dengan meninju dinding, kemudian menendang keras-keras meja-kursi rusak yang ditumpuk di salah satu sisi ruang.

Tendangan itu menyebabkan kursi yang ditumpuk paling atas jatuh berdebam. Salah satu kaki kursi yang sudah rusak seketika patah. Suho meraih kusri itu dan mematahkan ketiga kakinya yang lain. Dibantingnya patahan-patahan kaki kursi itu kuat-kuat ke lantai.

Cowok itu mengamuk diluar kesadaran, dan baru berhenti setelah benar-benar lelah dan kedua kaki-tangannya terasa sakit. Tubuhnya kemudian meluruh lunglai. Jatuh terduduk di lantai. Sama sekali tidak peduli dengan tebalnya debu dan kotoran.

Ke mana perginya orang-orang yang sudah meninggal? desis hatinya perih.

Tanya yang tanpa jawab. Atau bisa jadi justru punya begitu banyak jawaban. Hingga akhirnya percuma saja ditanyakan. Karena hanya akan membingungkan hingga akhirnya berujung dengan –lagi-lagi– tanpa jawaban.

Kepala Suho tertunduk dalam. Susah payah ia menelan ludah. Tangis yang mati-matian ditahan membuat tenggorokannya sakit. Dengan letih ia menyandarkan tubuh dan kepalanya ke dinding. Perlahan kedua matanya terpejam.

Dalam kegelapan, ia paksakan hatinya untuk berhenti bertanya ke mana perginya orang-orang yang sudah meninggal. Namun gagal, karena sederet pertanyaan baru kemudian justru bermunculan.

Tidakkah mereka, orang-orang yang sudah "pergi" itu, juga merasakan kepedihan yang sama? Apakah meraka juga tetap mengingat dan menyimpan semua kenangan? Senyum terakhir orang-orang yang mereka tinggalkan. Pelukan terakhir. Tawa terakhir. Percakapan, pertengkaran, kemarahan, kesedihan. Canda dan tangis.

Apakah mereka juga berusaha menembus bagian yang terputus itu? Berusaha menggapai kembali orang-orang yang mereka cinta. Berusaha bicara. Sama seperti orang-orang yang masih hidup, yang mereka tinggalkan, berusaha terus "mencari" dan "menghidupkan kembali" mereka yang telah pergi. Dengan segala cara.

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab lainnya, yang luruh bersama air mata, akhirnya membuat Suho jatuh tertidur.

Cowok itu baru muncul kembali di kelas setelah jam istirahat pertama berakhir. Melihat kedua matanya yang agak memerah dan baju seragamnya yang kotor, tidak satu pun teman sekelasnya sampai hati untuk bertanya.

Begitu juga para guru, ketika mereka mendapati Suho lebih banyak melamun daripada menyimak pelajaran. Beberapa guru menegurnya dengan lembut. Beberapa membiarkan. Mereka memahami.

Tanya yang sama juga menekan dada Chanyeol sebelum Kris dimakamkan. Ketika tubuh sang kakak yang terbujur kaku dan diam dalam peti mati itu masih bisa ditatapnya. Masih bisa disentuh dan diraba. Ketika dirinya sudah letih menangis. Ketika telah terhenti semua histeria dan reaksi gila. Pertanyaan itu pun muncul.

Ke mana perginya jiwa-jiwa yang lepas dari badan?

Satu tanya tanpa jawaban.

.

.

.

Kematian Kris diumumkan pihak sekolah Chanyeol dengan pengeras suara. Namun karena baru satu hari bersama-sama dalam satu kelas, belum begitu saling kenal, hanya segelintir teman sekelas Chanyeol yang datang melayat.

Baekhyun tidak datang. Sempat timbul kemarahan dalam hati Chanyeol saat sampai malam menjelang larut, cewek itu tidak juga kelihatan. Bahkan keesokan harinya, saat Kris dimakamkan, Baekhyun tetap tidak datang.

"Dia yang matiin kakak gue, dan dia nggak dateng!" desisnya berang. "Kurang ajar tu cewek!"

Suho, yang duduk di sebelahnya, menepuk bahu Chanyeol pelan.

"Baekhyun nggak kenal Kris," bisiknya. "Jadi lo nggak bisa nyalahin dia."

"Katanya waktu itu udah sempet kenalan?"

"Udah lama banget. Gue nggak yakin Baekhyun masih inget."

Dua hari kemudian, ketika Chanyeol kembali masuk sekolah, teman-teman sekelas yang tidak datang melayat satu per satu mendatangi Chanyeol untuk mengucapkan belasungkawa. Ketika Baekhyun mendatanginya, tanpa sadar raut wajah Chanyeol mengeras. Ia masih marah karena cewek itu tidak datang untuk melihat Kris terakhir kali, sebelum tubuhnya disatukan dengan bumi.

Baekhyun, yang bisa melihat kemarahan Chanyeol dengan jelas, dengan rasa bersalah menerangkan penyebab dirinya tidak datang.

"Maaf, bukannya gue nggak mau dateng. Tapi temen-temen yang gue tanyain pada nggak tau alamat rumah lo. Gue telepon HP lo berkali-kali, tapi nggak aktif."

Amarah Chanyeol sedikit meluruh. Malas berkali-kali menjawab pertanyaan seputar kematian Kris, Chanyeol mematikan ponselnya, bahkan sampai pagi ini.

"Nanti pulang sekolah lo ke rumah gue ya. Mau, ya?" tanyanya. Chanyeol buru-buru menyambung kalimatnya melihat Baekhyun ragu. "Sebentaaar aja. Nanti pulangnya gue anter."

Baekhyun tidak sampai hati menolak. Meskipun dalam hati dia bingung, kenapa hanya dirinya yang diminta Chanyeol untuk ke rumahnya. Sementara teman-teman sekelas yang lain tidak.

Sepanjang perjalanan, keheningan mendominasi di dalam taksi. Baekhyun merasa canggung, juga bingung. Sementara Chanyeol tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia tidak lupa dengan cewek yang duduk di sebelahnya. Hanya sama sekali tidak ingin mengajaknya bicara.

Kris tewas di jalan raya gara-gara cewek satu ini. Semua orang bilang itu takdir yang tragis. Tapi bagi Chanyeol, itu sama sekali bukan tragis. Tapi konyol! Sia-sia!

Karena rumahnya masih agak rame dengan kedatangan saudara dan para tetangga, Chanyeol membawa Baekhyun ke teras samping.

"Mau minum apa?" tanyanya. Nada suaranya tetap dingin.

"Apa aja. Nggak usah juga nggak apa-apa," jawab Baekhyun pelan. Chanyeol berjalan ke dalam. Tak lama ia muncul dengan segelas sirop dingin dan sebuah foto berbingkai.

"Ini kakak gue, yang meninggal dua hari lalu." Chanyeol mengulurkan foto Kris. Baekhyun menerimanya, lagi-lagi dengan bingung.

"Kejadiannya ternyata di jalan raya di depan gang rumah gue," ucap Baekhyun pelan. "Gue sama sekali nggak nyangka kalo itu kakak lo. Tetangga-tetangga gue sih banyak yang keluar, ke jalan. Tapi gue nggak berani."

"Dia meninggal di tempat kejadian," ucap Chanyeol dengan nada yang tiba-tiba jadi tegas. Rasa ingin menyalahkan Baekhyun atas peristiwa itu kembali muncul.

Baekhyun jadi bingung harus bagaimana. Akhirnya ia menunduk, memperhatikan foto Kris. Melihat itu, kemarahan Chanyeol menguap. Berganti dengan rasa penasaran. Dengan tatap tajam, diperhatikannya wajah tertunduk Baekhyun.

"Kakak lo nggak mirip elo, Chan," ucap Baekhyun sambil mengembalikan foto itu dengan gerakan terburu-buru. Bukan apa-apa. Bulu kuduknya merinding.

Kakak Chanyeol itu, dari fotonya jelas orangnya asyik banget. Kayaknya kocak dan suka iseng. Matanya bandel. Tapi dia sudah meninggal…

Lagi pula gue nggak kenal, Baekhyun berkata dalam hati.

Chanyeol menerima foto Kris yang diulurkan Baekhyun. Perasaannya campur aduk mendapati kenyataan bahwa ternyata Baekhyun memang tidak mengenal Kris.

"Dia mirip adik gue, Yeri. Di antara kami bertiga, cuma gue yang mukanya beda."

"Oooh." Baekhyun mengangguk-angguk. Kemudian dengan perasaan tidak enak, ia mohon diri. "Mmm… gue pamit ya, Chan. Nggak apa-apa, nggak usah dianter. Gue bisa pulang sendiri."

Chanyeol menggeleng tegas.

"Tadi gue udah janji mau nganter lo pulang, kan? Bentar gue ganti baju dulu."

Begitu Chanyeol menghilang ke dalam, Baekhyun menarik napas panjang. Di luar suasana duka di rumah ini, dia merasa ada suasana yang lain. Yang aneh. Yang beda.

Tak lama Chanyeol kembali, sudah berganti dengan T-shirt dan celana jins. Namun bukan itu yang membuat Baekhyun semakin merasakan adanya suasana yang aneh itu. Melainkan buket bunga ditangan Chanyeol, juga ekspresi mukanya yang kelam.

Chanyeol meletakan buket bunga yang sudah mulai layu itu di meja, persis di depan Baekhyun. Dengan bingung Baekhyun menatapnya. Yang pasti, buket bunga itu tadinya bagus. Kemudian mungkin membentur atau terbentur sesuatu, atau jatuh, karena beberapa tangkainya patah dan berusaha ditegakkan kembali dengan selotip.

Sesaat Chanyeol menatap Baekhyun tanpa bicara. Sorot matanya yang pekat dengan kesedihan membuat Baekhyun tak tega bertanya.

"Gue minta, mohon malah, please banget, Baek, tolong lo terima buket bunga itu. Dan jangan tanya apa-apa. Nanti kalo gue udah siap, gue akan cerita," ucap Chanyeol lirih. Baekhyun mengangguk. Chanyeol terlihat lega."Yuk, gue anter pulang."

Keduanya kembali menempuh perjalan yang dibalut keheningan total. Untuk Chanyeol, perjalanan kali ini membuatnya emosional. Pergi ke tempat saat-saat terakhir hidup Kris. Dan Chanyeol benar-benar tidak sanggup meneruskan. Menjelang taksi berbelok ke ruas jalan tempat Kris tewas terkapar, cowok itu minta taksi berhenti. Dadanya sakit, dia tidak sanggup lagi menahan.

"Stop di sini sebentar, Pak!" suaranya bergetar. "Gue turun di sini, Baek. Berani kan, sendirian? Udah deket kok."

Belum sempat Baekhyun menjawab, Chanyeol sudah membuka pintu di sebelahnya. Setelah meletakan beberapa lembar uang sebesar jumlah argo berikut tip di kursi depan yang kosong, cowok itu segera turun.

"Lho, kok? Chan…" kalimat Baekhyun tidak sempat selesai, karena Chanyeol sudah menutup pintu dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Baekhyun menatap kepergian cowok itu dengan kening berkerut, kemudian membuat sopir taksi melanjutkan perjalanan. Di sisa perjalanan yang tinggal sepuluh menit itu, Baekhyun tepekur menatap buket bunga cacat dipangkuanya. Bingung. Tidak mengerti.

.

.

.

Malamnya Chanyeol menelpon Suho.

"Gue tunjukin foto Kris ke Baekhyun tadi sore."

"Terus?"

"Kayaknya dia nggak inget pernah kenalan."

"Ya wajarlah. Cuma satu kali mereka pernah sama-sama. Udah lama banget pula."

"Tapi gue nggak rela. Dia harus tau!"

Di seberang, Suho menghela napas.

"Terus kalo dia udah tau, lo mau apa? Biar dia merasa bersalah, gitu? Padahal dia sama sekali nggak salah."

Chanyeol terdiam. "Pokoknya dia harus tau!" ucapnya kemudian. Final!

.

.

.

Ketika kemudian diawasinya Baekhyun tanpa kentara namun dengan kesiagaan setara sipir penjara, Chanyeol sadar, ini kemarahan–tidak terima dan keinginan untuk menyalahkan cewek itu atas kematian kakaknya.

Baekhyun harus mengenal Kris. Tidak bisa tidak! Harus!

Suho berusaha memberikan pengertian bahwa itu sama sekali bukan kesalahan Baekhyun. Sedikit pun cewek itu tidak bersalah. Tidak ada yang bisa disalahkan atas peristiwa tragis itu. Bahkan pengemudi sedan itu pun tidak bersalah.

Namun Chanyeol tidak mau mendengar. Pembicaraan mereka kemudian berubah menjadi tarik urat sengit.

"Si Baekhyun itu nggak kenal Kris, Yeol!"

"Kris sering nongkrongin SMP-nya, kan? Masa tu cewek masih nggak kenal juga? Nggak mungkin! Pasti dia cuma lupa!"

"Kris nongkrongnya di luar, bukan di dalem sekolahkan!"

"Mau di luar atau di dalem, Kris itu bukan laler. Dia orang, manusia. Jadi, nggak mungkin kalo nggak keliatan!"

"Elo tau? Di depan sekolahnya Baekhyun itu ada taman. Banyak orang dagang di situ. Jadi banyak orang nongkrong tiap hari. Mana mungkin tuh cewek merhatiin?"

"Jumlah orang yang nongkrong di taman itu sebanyak jumlah orang yang lagi demo, nggak? Atau sebanyak suporter persib yang baru pulang nonton bola?" Chanyeol tetap ngotot.

"Si Baekhyun itu nggak bisa disalahin, Yeol!" bentak Suho, mulai putus ada menghadapi kekeraskepalaan Chanyeol.

"Dia salah!" Chanyeol balas membentak. "Meskipun nggak sadar, nggak sengaja, dia salah!" tandasnya. "Udah deh. Nggak usah ikut campur. Yang meninggal bukan kakak lo!"

"Apa lo bilang!?" Suho berang. Tapi tak lama kemudian, suara Suho melunak. Ia sadar saat ini Chanyeol sedang labil.

"Yeol, denger ya? Gue sebangku sama kakak lo udah hampir enam taun! Dari hari pertama kami masuk SMP. Lo sekarang sekamar sendirian. Gue semeja sendirian. Biasa ada orang yang lo ajak berantem. Gue juga begitu. Biasanya ada kepala yang bisa gue jitakin begitu sampe sekolah. Sekarang nggak ada lagi."

Kemudian, tanpa sadar Suho jadi emosional. Suaranya mulai bergetar.

"Kalo gue lagi bete di kelas, pengin cabut, biasanya ada orang yang mati-matian ngotot ke guru. Bilang kalo gue sebenernya lagi sakit parah, dam menurut petunjuk dokter, meskipun di sekolah kudu tetep sering-sering istirahat. Lebih sering istirahat lebih bagus. Ada orang yang mati-matian belagak nggak tau di mana gue nongkrong kalo lagi cabut. Sekarang tu orang sudah nggak ada lagi, Yeol. Jadi bukan cuma elo yang sedih. Gue juga sedih.

Gue juga ngerasa ditinggal. Malah gue ngerasa bersalah, karena gue yang ngedukung perburuan kakak lo. Ngikutin setiap perkembangannya. Dengerin semua ceritanya."

Rentetan kalimat panjang Suho itu tanpa sadar telah membuat Chanyeol terbungkam. Saat Suho menarik napas. Panjang dan dalam. Kemudian ia melanjutkan dengan nada berat…

"Balik ke masalah Baekhyun. Oke kalo lo tetep ngotot, mau dia tau soal kakak lo. Tapi nggak perlu sampe dia harus tau semuanya," sesaat Suho terdiam. "Kasian."

.

.

.

Setelah pembicaraan dengan Suho lewat telepon itu, Chanyeol duduk tepekur di depan meja belajar Kris. Dipandanginya secarik kertas yang ditempelkan Kris berbulan-bulan yang lalu di dinding di depannya.

Di kertas itu, bersebelahan dengan kertas berisi ke-16 formula tense bahasa Inggris, semua data tentang Baekhyun tertulis lengkap.

Tempat tanggal lahir, golongan darah, alamat rumah, hobi, warna favorit, pelajaran favorit, makanan dan minuman favorit, acara tv favorit, lagu dan group band favorit, sampai binatang peliharaan favorit. Paragraf-paragraf seterusnya berisi tentang data-data Baekhyun yang lebih spesifik lagi. Uraian karakternya panjang dan rinci. Usil, jail, periang, gampang ketawa, bawel, dst-dst.

Uraian fisik Baekhyun juga tercatat lengkap. Tinggi badan sedang, kulit putih susu, rambut hitam agak bergelombang. Punya poni. Mata sipit, bola matanya berwarna cokelat tua. Kalau ketawa sepasang mata itu berbinar-binar, membentuk bulan sabit dan sudut yang memperlihatkan dengan jelas karakter usil dan iseng pemiliknya. Dst-dst.

Chanyeol kemudian menarik salah satu laci meja, tempat Kris menyimpan setumpuk foto Baekhyun yang di-shoot dari kejauhan. Karena sasaran bidik tidak menyadari, seluruh pose cewek itu terlihat natural. Alami.

Chanyeol menutup kembali laci itu dengan empasan keras. Kedua rahangnya mengatup rapat. Kesepuluh jarinya bertaut kuat.

Kedua mata Chanyeol meredup. Kembali ditatapnya tulisan tangan Kris tentang Baekhyun. Perlahan kelopak matanya menutup. Beberapa saat ia tetap menutup matanya.

Sudahlah!

Sudahlah!

SUDAHLAH!

Itu takdir! Nasib! Garis hidup! Suratan! Dan hak Tuhan, yang sama sekali tidak boleh dipertanyakan!

Ada begitu banyak kata untuk peristiwa itu. Untuk cara Kris meninggalkan keluarga dan semua temannya. Namun tetap, kemarahan Chanyeol tidak berkurang.

Tidak bisa keluar! Tidak bisa hilang! Tidak bisa dilupakan! Kemarahan ini… tidak bisa dienyahkan!

Tidak ada cara lain. Satu-satunya cara, Baekhyun harus menerima kemarahan ini. Mau cewek itu tidak mengerti atau bahkan tidak tahu, Chanyeol tidak peduli!

Mata Chanyeol terbuka mendadak. Cowok itu menarik napas dan mengembuskannya kuat-kuat. Setelah mengambil keputusan itu, hatinya langsung terasa lega. Seakan telah mendapatkan legitimasi untuk memperlakukan Baekhyun seperti keinginannya.

.

.

.

Keesokan paginya, untuk pertama kalinya sejak kematian Kris, Chanyeol berangkat ke sekolah dengan perasaan ringan karena ada seseorang yang bisa dijadikannya sebagai sasaran untuk melampiaskan semua kesesakan.

Cowok itu sama sekali tidak menyadari bahwa tindakannya menyalahkan Baekhyun dan mengharuskan cewek itu "mempertanggung jawabkan perbuatannya" sebenarnya adalah caranya untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Karena Chanyeol sebenarnya membutuhkan sandaran untuk mengatasi rasa kehilangan itu. Sesuatu atau seseorang, yang akan mengingatkannya pada sang kakak. Atau bahkan bagian dari sang kakak.

Dan Baekhyun memenuhi keduanya.

Begitu sampai kelas, Chanyeol langsung menghampiri Baekhyun dan duduk di depannya.

"Lo tau nggak kalo kakak gue itu satu-satunya saudara cowok yang gue punya!?" tanyanya, dengan intonasi yang langsung terasa tegas.

"Mmm…. iya," Baekhyun menjawab dengan jeda cukup lama. "Lo udah pernah cerita, waktu gue ke rumah lo itu."

"Bagus kalo udah tau," tandas Chanyeol. Kemudian cowok itu berdiri dan pergi begitu saja. Meninggalkan Baekhyun terbengong-bengong sendirian.

Namun cewek itu segera memaklumi. Chanyeol baru saja kehilangan kakaknya. Jadi kesimpulan Baekhyun untuk keanehan Chanyeol tadi… tu cowok masih sedih.

Besoknya terjadi lagi. Begitu datang, Chanyeol langsung menghampiri Baekhyun dan menjulangkan tubuh di depannya.

"Buket bunga yang waktu itu gue kasih, masih lo simpen?" tanyanya, dengan intonasi suara persis seperti kemarin. Tegas. Tajam.

Sambil mengerut kening, Baekhyun mengangguk. "Masih."

"Bagus! Awas kalo sampe gue denger lo berani buang tu buket bunga!"

Setelah melontarkan ancaman itu, Chanyeol langsung pergi. Kerutan di kening Baekhyun semakin rapat. Dengan bingung terus dipandanginya Chanyeol sampai cowok itu duduk di bangkunya. Baekhyun memang masih menyimpan buket bunga itu, walaupun sekarang sudah layu dan mengering, hanya karena satu alasan: aneh!

Dan hari ini keanehan itu terbukti. Sudah lebih dari seminggu yang lalu ia terima buket bunga itu, sekarang ia ditanya buket bunga itu masih ada atau nggak. Aneh banget, kan?

Kesimpulan Baekhyun atas keanehan Chanyeol di hari kedua ini: pasti tu cowok nggak sempet sarapan dan sekarang udah terlalu mepet buat turun ke kantin. Jadi sekarang si Chanyeol itu lagi kelaperan, makanya jadi emosi membabi buta gitu.

Besoknya, Chanyeol baru menghampiri Baekhyun saat istirahat kedua, karena baru saat itulah Baekhyun benar-benar sedang sendirian. Begitu melihat Chanyeol datang menghampiri dengan ekspresi dingin, Baekhyun langsung tahu bakalan mendapat pertanyaan aneh lagi.

"Kalo lo diperhatiin orang, meskipun diem-diem, meskipun tu orang berbaur diantara kerumunan, kira-kira lo akan merasa, nggak?"

Bener, kan? Baekhyun lansung kesal.

"Ng… nggak deh kayaknya." pertanyaan itu juga dijawabnya dengan sopan, meskipun sambil menahan dongkol.

"Kalo tu orang merhatiinya hampir setiap hari?" kejar Chanyeol.

"Ooh, kalo tiap hari sih pasti akan terasa, lah. Meskipun sedikit."

"Pasti terasa, ya? Meskipun sedikit." Chanyeol menegaskan jawaban Baekhyun. "Oke!" ia mengangguk. Lalu seperti kemarin-kemarin, ia pergi begitu saja.

Karena kelas mereka baru saja belajar matematika selama empat jam pelajaran, full tanpa jeda, dicekoki rumus-rumus dan angka-angka, Baekhyun mengambil keputusan bahwa… Chanyeol mabok! Dan itu juga berarti, tu cowok IQ-nya dibawah rata-rata alias kurang cerdas. Karena baru belajar matematika 2 x 45 menit aja langsung ngaco.

Besoknya Chanyeol kembali mendatangi Baekhyun. Dengan pertanyaan aneh yang lain lagi. Begitu juga besoknya dan besoknya. Sampai pada akhirnya, hari ini, Baekhyun kehabisan stok kesabarannya. Pertanyaan Chanyeol dinilainya sudah kelewatan. Bukan cuma makin aneh, tapi juga mulai menganggu banget.

"Lo udah punya cowok?" Chanyeol mengajukan pertanyaan yang sangat sensitif itu, tetap dengan tampang dingin.

"Hah!?" Baekhyun ternganga. Mata sipitnya membulat memandang Chanyeol terbelalak maksimal. "Belom," jawabnya kemudian dengan polos, saking kagetnya.

"Bagus!" Chanyeol mengangguk puas. "Lo jangan punya cowok dulu ya. Daripada ntar tu cowok gue gamparin!"

Kemudian seperti biasa, Chanyeol pergi begitu saja. Baekhyun mengikuti kepergiannya dengan mata yang perlahan mulai menyipit. Marah!

Begitu sampai di rumah, Baekhyun buru-buru ganti baju kemudian makan siang. Selesai makan siang, cewek itu mengurung diri di kamar. Mamanya memperhatikan keanehan anaknya itu dengan heran, namun memilih untuk tidak mengusik, karena biasanya nanti Baekhyun akan bercerita dengan sendirinya.

Di kamarnya, Baekhyun tidur telentang di tempat tidur. Kedua matanya menerawang menatap langit-langit. Ia sibuk berpikir bagaimana cara membalas keanehan Chanyeol.

Ia sama sekali tidak tertarik memikirkan penyebab keanehan cowok itu. Jangan-jangan memang Chanyeol orangnya aneh. Kalaupun tadinya bukan orang aneh terus sekarang jadi aneh, itu sama sekali bukan urusannya.

Karena tidak juga menemukan ide, akhirnya Baekhyun menemui mamanya dan menceritakan masalah yang sedang dihadapinya.

"Yah, dia masih sedih mungkin. Kakaknya kan baru meninggal."

"Terus apa hubungannya sama aku?"

"Mama juga bingung. Kamu tanya dia dong. Tapi tanyanya pelan-pelan. Baik-baik. Kalo perlu kamu ajak makan. Trakir dia di mana, gitu."

"Iiiih, rugi banget! Mama kok tumben sih sarannya nggak oke banget?"

"Lho, nggak oke gimana? Justru karena kamu nggak tau masalahnya, makanya kamu tanya dia baik-baik. Perlakukan dia baik-baik juga. Siapa tau kamu nggak sengaja udah bikin salah sama dia. Bisa aja, kan?"

"Aku salah apa sama dia, Ma? Jadi temen selekas juga belom ada sebulan."

"Makanya tanya baik-naik. Ngeyel! Nggak ada ruginya ngalah sedikit. Lagipula pasti ada alasan kuat kenapa dia aneh begitu, siapa namanya tadi? Chanyeol?."

Baekhyun terdiam. Tapi tampak jelas ia tidak setuju saran mamanya itu. Kalau harus menanyakan akar permasalahannya ke Chanyeol, ia setuju. Tapi sambil nraktir? No way! Bisa nahan diri untuk nggak menganiaya tu cowok aja udah bagus banget.

Besoknya Baekhyun bersiap-siap menunggu kedatangan Chanyeol. Cewek itu duduk di bangkunya tegak-tegak. Sebelum Chanyeol sempat marah-marah nanti, ia akan marah-marah duluan.

Enak aja, tiap hari dapet omelan. Salahnya apa nggak dikasih tau. Apalagi masalahnya. Gelap! Kalo abis diomelin trus ditraktir atau dikasih duit sih nggak apa-apa, gerutu Baekhyun dalam hati.

Baekhyun tidak perlu menunggu terlalu lama. Dua menit kemudian Chanyeol muncul di ambang pintu kelas. Baekhyun langsung bersiap-siap. Namun ternyata Chanyeol langsung melangkah ke bangkunya sendiri. Jangankan menghampiri Baekhyun, menoleh ke arah cewek itu pun tidak.

Lho? Baekhyun menatap heran. Bingung terhadap ketidakbiasaan Chanyeol itu. Tapi ia tetap menunggunya. Paling-paling nanti jam istirahat pertama atau kedua. Baekhyun menunggu penuh keyakinan.

Tapi ternyata Chanyeol tetap tidak menemuinya. Sampai bel pulang berbunyi, Baekhyun masih menunggu, masih belum kehilangan semangat untuk ganti marah-marah. Tapi kemudian dilihatnya Chanyeol berjalan ke luar kelas bersama cowok-cowok yang duduk di deretan bangku paling belakang. Lagi-lagi tanpa menoleh sedikit pun.

Kurang ajar! desis Baekhyun berang. Giliran gue siap perang, dia malah mundur!

Sebenarnya Chanyeol bukan mundur. Ia hanya kehabisan stok intimidasi. Lagipula yang terpenting baginya adalah Baekhyun nggak punya cowok. Jangan sampai punya cowok.

Jadi, selama dilihatnya cewek itu masih sendirian, Chanyeol memutuskan tidak perlu marah-marah atau bersikap galak setiap hari.

.

.

.

TBC

.

.

.

Karena chapter kemarin aku nangis kejer dan gak sempet bales review dari chapter 3, aku balesnya sekalian sama chapter kemarin ya..

BXoel46 pertanyaan kamu udah kejawab ya di chapter kemarin. Selamat, Cuma kamu yang peka sama spoiler dan summary yg aku kasih. Kris beneran meninggal hikseu :'(((.. soal arwahnya kris gentayangan itu kurang tepat, lihat aja ya ke depannya..

SexYeol ini udah mulai moment ChanBaek nya ya.. dari chapter ini udah jelas ya, Kris beneran meninggal :'((.. sama aku juga sedih, bener2 gak nyangka pokoknya..

Penggemar esti kinasih (guest) kalo gitu selamat membaca ya.. oh emang jingga ada buku ke-4? Aku kira itu Cuma trilogy?

rorororonoaa maafkan daku, di novel aslinya Kris emang meninggal.. apalah daya diriku yang hanya meremake :'(.. ya, Chanyeol emang jadi benci Baekhyun.. tebakan kamu bener.

Jang Ha Na mungkin jalan cerita yg kayak gitu udah terlalu mainstream hehe. Ini udah next ya..

B dongsaeng (gueat) sayangnya Kris beneran meninggal, bukan Cuma koma :'(.. iya bener, karakter kris bener2 bikin jatuh cinta. Ini dudah next ya..

Pcy61(guest) ini udah next ya..

Tadinya chapter ini mau aku publish sabtu kemarin, tapi karena aku lagi study tour dari kampus ya jadi baru sempet sekarang. Untuk ke depannya, aku update tiap malam minggu ya..

Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~

So, how about this chapter?

RnR juseyooo~

Follow my ig: baekhill_byun

_Hill_ 270118