DIA, TANPA AKU

Remake Story by Esti Kinasih

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Ocs

.

.

[DISCLAIMER]

Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.

.

.

Capter 6

.

.

Happy reading..

.

.

BESOKNYA, Baekhyun menunggu kedatangan Chanyeol dengan sengaja duduk di bangku cowok itu, di barisan kedua belakang. Dengan begitu tu cowok nggak bisa cuek lagi. Enak banget dia, pas mau dilabrak balik malah pura-pura cuek. Curang banget!

Ketika muncul, Chanyeol kaget banget mendapati bangkunya sudah berpenghuni. Ia surprise begitu tahu siapa yang sedang menghuni bangkunya itu. Dengan langkah cepat dan kening berkerut, dihampirinya Baekhyun. Sementara Baekhyun segera bersiap-siap begitu dilihatnya Chanyeol muncul di ambang pintu, dan langsung menyambut cowok itu dengan kata-kata ketus.

"Kemaren kenapa lo nggak marah-marah? Lupa? Apa udah bosen?"

"Itu pertanyaan buat gue?" tanya Chanyeol, kembali merasa surprise. Soalnya sampai terakhir kali ia marah-marah dua hari lalu, reaksi Baekhyun cuma bingung atau diam. Kalaupun mengeluarkan suara, pilihan kata dan intonasi suaranya begitu hati-hati.

"Iya, elo! Orang yang sekarang bangkunya lagi gue dudukin!" jawab Baekhyun.

Semua rasa yang ditahannya selama berhari-hari muncul sekaligus. Marah, kesal, dongkol, heran. Terlihat jelas dari ekspresi muka dan cara kedua matanya menatap Chanyeol. Namun Baekhyun juga berusaha agar tidak satu pun teman sekelasnya menyadari pertengkaran mereka. Ia segera mengubah air muka dan memunculkan senyum manis instan tiap kali seseorang mendekat atau melewati mereka berdua.

"Berdiri cepet! Pindah ke bangku lo sendiri sana!" perintah Chanyeol.

Baekhyun jadi tambah marah. "Nggak mau. Gue mau duduk di sini!" jawabnya. Sesaat Chanyeol tercengang dengan jawaban kasar dan ketus itu.

"Gitu ya? oke, nggak masalah," ucap Chanyeol enteng. Cowok itu lalu sedikit membungkukkan sedikit tubuhnya, melongok laci meja Kai. Dilihatnya teman sebangkunya itu udah datang karena tasnya ada. Chanyeol lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana.

"Kai, kayaknya lo harus pindah. Soalnya ada yang pengin semeja sama gue."

Tidak berapa lama Kai datang. Melangkah masuk kelas dengan ekspresi kesal.

"Siapa yang mau duduk di bangku gue!?" tanyanya.

"Gue. Soalnya bangku gue ada yang nempatin," jawab Chanyeol.

"Siapa?"

"Tuh." Chanyeol menunjuk Baekhyun dengan dagu.

"Elo, Baek?" kekesalan Kai seketika menghilang. Ditatapnya Baekhyun yang terbingung-bingung dengan mata melebar dan alis terangkat tinggi.

"Iya, dia!" Chanyeol yang menjawab.

"Serius lo mau duduk di belakang? Di sini nggak ada cewek lho."

"Serius!" lagi-lagi Chanyeol yang menjawab. "Udah dari tadi dia duduk di bangku gue. Gue suruh pergi, nggak mau. Terpaksa gue duduk di bangku lo, Kai. Dan elo…," Chanyeol tersenyum, "terpaksa duduk sama cewek-cewek." Ia menunjuk tempat duduk Baekhyun, di baris kedua dari depan, dengan pandangan mata. Selain baris terdepan, baris kedua juga dihindari para cowok.

Kai sudah akan menolak mentah-mentah, tapi kemudian tatapan Chanyeol membuatnya ingat akan sesuatu. Sesuatu yang beberapa kali dibicarakan dengan Chanyeol, yang awalnya rahasia tapi kemudian Kai mengatakannya terus terang. Sesuatu yang ditahannya mati-matian, bingung akan terus maju atau tidak, dalam tanda tanya besar akan kemungkinan sang topik pembicaraan masih sendirian atau sudah…

Ya, Kai naksir Kyungsoo, teman semeja Baekhyun!

"Oke!" Kai langsung menyetujui pertukaran bangku itu. Mukanya mendadak sumringah. Berseri-seri. Gila, ini dream come true banget! "Sekarang kan pindahnya?" tanyanya penuh semangat, sambil menarik keluar ranselnya dari laci meja.

"Iya, sekarang," Chanyeol menjawab sambil tersenyum geli. "Sekalian bawain ke sini tasnya Baekhyun, ya."

"Oke!" Kai melangkah menuju bangku barunya dengan girang. Sementara Baekhyun mengikuti renteten kejadian itu dengan agak-agak nggak sadar. Soalnya ini benar-benar di luar dugaannya. Begitu juga Kyungsoo. Cewek itu kaget banget karena mendadak sebangku sama cowok, yang datang dengan wajah bahagia pula.

"Elo yang dateng ke sini ya, Baek. Bukan gue yang ngundang, apalagi ngajak. Jadi kalo lo ntar kenapa-kenapa, gue nggak tanggung jawab."

Peringatan pertama itu diucapkan Chanyeol dengan tenang. Cowok itu memasukkan ranselnya ke laci kemudian duduk di sebelah Baekhyun, di bangku Kai yang baru ditinggalkan pemilik sahnya. Baekhyun jadi mengernyitkan kening mendengar itu.

"Kenapa-kenapa gimana maksudnya?"

"Di belakang sini nggak ada cewek. Semua cewek ngumpulnya di barisan tengah sama depan. Jadi kalo ntar lo digodain, diisengin, dijailin, jangan ngambek apalagi nangis, ya? Gue paling males sama cewek-cewek kayak gitu."

Mulai terlihat keragu-raguan di muka Baekhyun.

"Jadi gue kasih tau dari sekarang. Jangan dikira kalo lo duduk di tempat gue, trus gue bakalan peduli atau harus peduli kalo lo kenapa-kenapa!" tandas Chanyeol.

Wah, kayaknya gawat nih! desis Baekhyun dalam hati.

"Baek, lo duduk di belakang sekarang?" tanya Kyungsoo. Kedua matanya menatap Baekhyun lebar-lebar. "Iiih. Di situ kan serem. Isinya perampok sama penyamun doang."

Kalimat Kyungsoo itu membuat Baekhyun menoleh ke Chanyeol. Cowok itu mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi. Tersenyum tipis tapi penuh kemenangan.

"Baek, bener sekarang lo duduk di belakang?" tanya Kyungsoo lagi. "Kok nggak bilang-bilang sih? Jadi kita udah nggak sebangku lagi nih?" Ada nada kesal dalam suaranya. Juga sedih dan tersinggung.

Baekhyun sudah akan bangkit berdiri dan kembali ke bangkunya, tapi Chanyeol menangkap pergelangan tangannya dan menahan geraknya. Peristiwa itu tidak terlihat oleh Kyungsoo dan Kai karena terhalang meja.

"Lo yang dateng ke sini, kan?" Chanyeol berbisik tajam. "Jangan pergi seenaknya!"

Baekhyun menoleh dan tertegun. Wajah Chanyeol… Ia melihat kemarahan di sana. Kemarahan dan kebencian. Dan genggaman tangan cowok itu di pergelangan tangannya benar-benar kuat hingga terasa menyakitan.

"Jangan seenaknya!" sekali lagi Chanyeol mendesis tajam, tatapannya menghunjam lurus ke kedua bola mata Baekhyun. Tapi saat ia menoleh ke Kyungsoo, semua ekspresi itu lenyap. Berganti senyum dan wajah ramah.

"Iya, Kyung. Sekarang Baekhyun duduk sama gue. Biar ada cewek di belakang sini. Jadi nggak garing-garing amat. Kai duduk sama elo. Biar di situ juga nggak garing-garing amat. Ada cowok kerennya gitu."

Cowok keren? Kyungsoo langsung menoleh ke cowok di sebelahnya. Seketika Kai menampilkan senyum yang -menurut cowok itu- paling manis. Juga ekspresi muka yang menurutnya paling ganteng dan paling charming.

"Kai, mana tas Baekhyun? Bawa ke sini dong. Kok jadi lupa sih?" tanya Chanyeol.

"Oh, iya!" Kai menepuk kening. "Iya nih, jadi lupa!" Dikeluarkannya tas Baekhyun, yang terdesak oleh ranselnya, dari dalam laci. Kemudian Kai

menghampiri Chanyeol dan Baekhyun dengan cengiran malu dibibirnya. "Iya, sori lupa. Soalnya gue lagi bahagia banget. Tengkyu ya, Baek." Ia menyerahkan tas itu kepada pemiliknya. Lalu buru-buru kembali ke tempat duduk barunya.

Baekhyun memerhatikan tingkah Kai dengan bingung. Ia menoleh ke Chanyeol dengan pandang bertanya.

"Kai udah naksir Kyungsoo dari MOS kemaren," ucap Chanyeol tak acuh.

"Oh!" Baekhyun tercengang.

.

.

.

Dua deret bangku paling belakang itu isinya memang cowok doang. Dan cowok deret belakang yang pertama kali menyadari ada member baru, cewek pula, adalah Jongdae. Dari Jongdae-lah Baekhyun menerima ucapan selamat datang yang pertama, dalam bentuk ungkapan keheranan.

"Eh, ada Baekhyun? Sekarang lo duduk di belakang, Baek? Kereeen! Ini baru cewek pemberani!"

Ucapan selamat datang dengan intonasi keheranan yang persis sama bertubi-tubi di terima Baekhyun lima menit menjelang bel masuk. "Eh, ada Baekhyun? Lo sekarang duduk di sini, Baek?" ucap para cowok itu sambil menuju bangku masing-masing.

Tapi ucapan welcome dari Derry agak mengundang kecemasan. "Eh, ada Baekhyun? Lo duduk di belakang sekarang, Baek? Asyiiik, sekarang di belakang ada ceweknya!"

Baekhyun menatap muka sumringah Derry. Kenapa ya, tu cowok seneng banget gitu? batinnya bingung. Dan seharian itu Baekhyun jadi bahan godaan cowok-cowok deret belakang. Sampai sejauh ini godaan-godaan itu bentuknya masih verbal dan dilakukan saat pergantian jam pelajaran. Bentuk godaan verbalnya juga masih yang basi-basi.

"Baekhyun rumahnya di mana? Kasih tau dong."

"Iya dong. Biar kita bisa main. Boleh kan kapan-kapan main ke rumah?"

"Baekhyun udah punya cowok, belom?"

"Baekhyun rambutnya bagus deh. Pake sampo apa sih?"

Godaan yang dilemparkan Derry malah jadul banget. Kayaknya sudah ada zaman bokap-nyokap anak-anak itu masih pada ABG. Bahkan mungkin sudah ada sejak para ABG di zaman penjajahan Belanda.

"Baekhyunaa. Baekhyunaa. Dipanggilin kok diam aja? Baekhyun sombong atau budek sih?"

Baekhyun mendesis geram. Sumpah, basi banget. Asli jayus. Tapi tetep aja nyebelin.

Cowok-cowok itu tertawa geli begitu Baekhyun menoleh dan menatap mereka dengan muka cemberut. Chanyeol, yang duduk di sebelah Baekhyun, ternyata benar-benar tidak peduli. Ia mengikuti peristiwa itu dengan senyum, bahkan ikut tertawa.

Sementara Kai kebagian godaan:

"Cieeeh, yang sekarang duduk sama cewek. Langsung lupa deh sama yang di belakang sini!" seru Daehwi disaat kelas kosong karena pergantian pelajaran. Kai menoleh kebelakang lalu nyengir lebar-lebar. Kemudian tanpa rasa malu, ia mengatakan bahwa itu takdir. Karena akhirnya dia bisa duduk semeja dengan Kyungsoo, cewek yang langsung dia sukai begitu melihatnya pertama kali di MOS kemarin. Masih kata Kai , mereka berdua kayaknya udah jodoh, soalnya nama mereka mirip. Cuma karena sama-sama dari K.

"Kwangsoo, kaliii?" kata Jongdae. "dari K juga tuh. Salah lo!"

"Kyungsoo, man, gak yang laiiiinnn!" ralat Kai langsung. "Sumpah, Kyungsoo. Bukan Kwangsoo! Tragis amat nasib gue, jodohan sama si Kwangsoo!" saat melihat teman-temannya tertawa, termasuk si Toni, Kai menegaskan sekali lagi, "KYUNGSOO!."

Kyungsoo ternganga! Ya jelaslah. Kalau cowok naksir cewek atau sebaliknya, kan harus ngomong dulu sama orang yang ditaksir, baru setelah itu buat pengumuman. Bukan begini, langsung diumumkan besar-besaran. Orang yang ditaksir sama orang yang mendengarkan pengumuman jadi sama kagetnya.

Teman-teman sekelas lainnya tadinya bingung saat mendadak Baekhyun pindah ke belakang. Mereka langsung berasumsi Baekhyun naksir Chanyeol dan pingin dekat-dekat cowok itu, atau Chanyeol naksir Baekhyun tapi malas duduk di depan, jadi Baekhyun yang disuruh pindah. Tapi sekarang mereka mengerti bahwa Baekhyun pindah ke belakang karena Kai naksir Kyungsoo. Kyungsoo nggak mau disuruh pindah, jadi terpaksa Baekhyun yang pindah. Begitu.

Tapi lalu muncul asumsi baru. Baekhyun nggak akan mungkin mau pindah kalau sama sekali nggak ada feeling sama Chanyeol. Jadi pasti Baekhyun juga naksir Chanyeol!

Jadi kesimpulannya -ajaib banget opini ini bisa terbentuk di benak setiap kepala tanpa melalui musyawarah mufakat sebelumnya- perpindahan itu terjadi karena Kai naksir Kyungsoo, dan Baekhyun naksir Chanyeol!

Jadi ruwet!

Tidak ada kesempatan bagi Baekhyun kembali ke bangkunya, karena Kai bercokol di sana seakan cowok itu bagian dari bangku itu sendiri. Sepertinya dia sedang mempersiapkan rohnya jadi penunggu tetap bangku itu, kalau nanti mendadak mati. Kai sama sekali tidak pergi!

Dua kali jam istirahat, Chanyeol yang membelikan Kai makanan. Setelah mengenyangkan perutnya sendiri di kantin, cowok itu kembali ke kelas dengan membawa pesanan mantan teman sebangkunya itu.

Hal yang sama juga dilakukan Baekhyun. Jam istirahat pertama ia tetap nongkrong di kelas, berharap Kai akan beranjak ke kantin. Tapi cowok itu tidak bergerak sedikit pun. Untuk meredam perut laparnya, Baekhyun titip somay pada Kyungsoo, plus air mineral.

Di jam istirahat kedua, menyadari Kai tidak akan meninggalkan bangku barunya, akhirnya Baekhyun keluar kelas menuju kantin.

"Makan tu bangku!" desisnya ketika melewati Kai , cowok itu tertawa geli.

Sampai kantin, Baekhyun memesan semangkuk es campur lalu mencari tempat kosong. Ia tidak ingin bergabung dengan siapa pun karena sedang malas bicara. Tapi baru saja ia akan duduk, terdengar panggilan Kyungsoo. Mantan teman sebangkunya itu sedang menyantap bakso. Sendiri.

"Lo makan sendirian?" tanya Baekhyun sambil meletakan mangkuk es campurnya di depan Kyungsoo.

"Iyalah!" Kyungsoo menjawab kesal. "Lo kira gue mau bilang apa kalo ditanya-tanya soal Kai ? Sarap tu cowok. Kok bisa mendadak ada kejadian begini sih, Baek?"

"Aduh, nggak tau deh, Kyung. Gue juga bingung. Ya gara-gara si Chanyeol aneh gitu, makanya gue tunggu dia di bangkunya tadi pagi. Cuma pengin minta penjelasan. Eh, jadi duduk sebangku."

"Nggak bisa balik lagi?"

"Lo liat sendiri, si Kai nggak ninggalin bangku gue sama sekali. Kalau dia mau ke toilet, pas jam pelajaran, kan ada guru. Jadi Nggak mungkin gue serobot lagi tuh bangku."

"Iya sih…" Kyungsoo mengangguk. "Besok lo dateng pagi-pagi aja."

"Gue juga udah mikir gitu." Baekhyun mengaduk es campurnya. "Makan tuh bakso. Keburu dingin."

Keduanya lalu terdiam. Menikmati bakso dan es campur tanpa mengeluarkan suara lagi.

Siang itu dua manusia pulang ke rumah masing-masing dalam kebingungan yang sama. Kok bisa ya, mereka tiba-tiba jadi teman sebangku? Teman sebangku yang ke depannya bakalan kisruh. Bakalan runyam. Dan dipastikan bakalan bikin emosi.

Turun dari bus, Baekhyun berjalan menuju rumahnya dalam keadaan setengah sadar. Ia sama sekali tak menyangka tindakannya menduduki bangku Chanyeol, supaya keanehan cowok itu yang bikin kesal cepat mendapatkan penjelasan, malah berakibat mereka jadi duduk sebangku begini. Dan ternyata, selain aneh, Chanyeol juga galak banget.

Baekhyun menarik napas lalu mengembuskannya kuat-kuat. Terpaksa besok ia datang ke sekolah pagi-pagi banget untuk merebut kembali bangkunya dari Kai . Cuma itu satu-satunya cara agar cukup hari ini dirinya sebangku dengan Chanyeol. Cukup hari ini!

Di saat yang sama, ditempat berbeda, begitu turun dari bus Chanyeol berjalan ke rumah dalam kondisi setengah sadar. Tiba-tiba saja ia sebangku dengan Baekhyun, cewek yang sangat ingin ia maki-maki sampai rasa sesak di dadanya berkurang. Atau kalau itu telalu kejam, akan digantinya dengan memeluk cewek itu sampai semua tulang-tulangnya patah.

Yang jelas, Baekhyun harus tetap jomblo sampai ia mengizinkan cewek itu punya pacar. Untuk satu hal ini Chanyeol merasa perlu mengatakannya secara lisan, dengan kata-kata yang jelas dan gamblang, agar tidak alasan bagi Baekhyun untuk berlagak tidak paham.

Chanyeol tidak mau menunggu. Ia langsung menegaskan soal itu tadi, dihari mendadak Baekhyun jadi teman sebangkunya.

"Inget ya, Baekhyun. Lo jangan berani-berani punya cowok tanpa izin gue!"

Baekhyun kontan ternganga.

"Bokap gue, yang ngasih gue duit jajan aja nggak ngelarang kok."

"Itu urusan bokap lo. Yang jelas gue ngelarang!"

Waaaah, sakit jiwa nih orang! desis Baekhyun dalam hati. Tapi ia berusaha tidak membantah lagi. Bukan karena takut, tapi kalau ia tetap ngotot protes, dijamin mereka berdua akan saling teriak dan saling bentak. Males banget belom-belom udah punya musuh.

Besoknya, Baekhyun tiba di sekolah pagi sekali, untuk merebut bangkunya kembali. Tapi ternyata ada yang datang lebih pagi lagi. Di bangku barunya, Kai

menyambut kedatangan Baekhyun dengan senyum geli yang segera berubah jadi tawa terkekeh. Baekhyun tercengang mendapati kenyataan itu. Dihampirinya Kai dengan langkah-langkah cepat.

"Elo nginep ya? Masa jam segini udah sampe sekolah?" tanyanya.

"Nah elo juga, jam segini udah sampe sekolah," balas Kai .

"Elo pasti disuruh Chanyeol datang pagi-pagi. Iya, kan?"

"Nggak. Gue sendiri yang mau."

"Bohong!"

"Iya. Gue udah tau lo hari ini pasti bakalan dateng pagi-pagi. Makanya gue dateng pagi-pagi juga."

Kalimat itu membuat Baekhyun jadi cemberut. Kai ketawa geli melihatnya.

"Kan elo sendiri yang kemaren sukarela pindah ke belakang? Berarti ini udah bukan bangku lo lagi, Baek."

"Siapa bilang? Chanyeol aja tuh yang maksa."

"Ya kalo gitu kita tunggu Chanyeol aja. Nanti kita tanya dia, boleh nggak lo balik ke bangku lo lagi. Kalo gue sih mau aja pindah ke belakang lagi, asal Kyungsoo pindah juga."

"Itu mah sama aja, lagi. Tetep aja judulnya gue semeja sama Chanyeol. Kenapa sih mesti nunggu tuh orang dateng? Lo takut dimarahin ya?"

"Bukan. Itu sih nggak masalah. Gue takut dipeluk trus dicium! Hiiiyyy!" ucap Kai dengan ekspresi sungguh-sungguh. Kembali ia ketawa geli ketika dilihatnya Baekhyun makin cemberut. Cewek itu sudah akan menjatuhkan diri ke bangku Kyungsoo, tapi Kai buru-buru menghalangi dengan meletakan kedua telapak tanganya di sana.

"Eh! Eh! Ini bangkunya yayang gue."

Yayang? Ih, cuih cuih cuih! Baekhyun menatap Kai dengan ekspresi agak-agak gimana gitu, mendengar satu kata itu.

"Gue mau nungguin Kyungsoo," Baekhyun beralasan.

"Ya nunggunya di bangku lo sendiri dong sana. Jangan di sini, ntar kalo udah duduk, jangan-jangan lo nggak mau pindah lagi."

"Rese!" desis Baekhyun.

Gagal!

Baekhyun berjalan ke bangku barunya tanpa semangat. Percuma gue bangun sebelum subuh! gerutunya dongkol. Chanyeol ternyata juga punya pikiran yang sama.

Kai mengikuti langkah Baekhyun dengan tatapan dan senyum geli. Ia tidak tahu ada masalah apa antara Chanyeol dan Baekhyun. Chanyeol tidak mau bercerita banyak. Chanyeol cuma bilang, ada something yang harus dikelarin sama si Baekhyun. Yang pasti, Kai memang melihat Chanyeol benar-benar marah sama Baekhyun.

Tak lama Chanyeol datang. Cowok itu berjalan masuk kelas sambil menatap Kai sekilas. Dari seringai geli Kai yang menyambutnya, Chanyeol tahu dugaannya kemarin benar. Tapi tidak perlu melihat tanda yang diberikan Kai pun jawabannya sudah terpampang jelas.

Di bangku barunya, Baekhyun duduk tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tampangnya marah. Begitu Chanyeol muncul di pintu kelas, Baekhyun sudah langsung menatapnya tajam-tajam, dan terus mengikuti langkah cowok itu. Begitu Chanyeol tiba di samping meja, Baekhyun langsung menyambutnya dengan pertanyaan.

"Lo pasti nyuruh Kai dateng pagi-pagi, kan? Supaya gue nggak bisa balik ke bangku gue. Iya, kan?"

Chanyeol tidak langsung menjawab. Dengan tenang ia memasukan dulu ranselnya ke laci. Kemudian cowok itu duduk di bangkunya, di sebelah Baekhyun, baru kemudian ia menoleh. Ditatapnya Baekhyun tepat di manik mata.

"Iya!" Chanyeol menjawab tandas. "Kenapa? Mau protes?" tantangnya kemudian.

Tampang marah Baekhyun seketika berkurang. Chanyeol mengubah posisi duduknya jadi benar-benar menghadap Baekhyun.

"Gue kasih tau rencana gue, ya. Gue udah minta Kai dateng pagi-pagi sampe hari sabtu nanti. Setelah itu terserah dia. Jadi lo baru bisa balik ke bangku lo lagi hari senin. Tapi itu pun lo bisa duduk di sana lagi paling-paling cuma selama gue belom dateng. Begitu gue udah dateng, lo akan gue seret balik ke sini…."

Ekspresi marah di muka Baekhyun sekarang benar-benar hilang. Berganti dengan ketercengangan. Tadinya Chanyeol mau menyudahi kalimatnya, tapi ekspresi Baekhyun membuatnya ingin meneruskan.

"Lo pasti mau tanya kenapa. Iya, kan?"

Baekhyun mengangguk. Saking tercengangnya, ia sampai lupa dengan niatnya mau marah-marah. Chanyeol tersenyum tipis.

"Pertama, lo akan menganggu usaha PDKT temen gue. Itu juga bakalan bikin gue marah, Baek. Kedua, lo yang dateng ke sini. Jadi lo nggak bisa pergi seenaknya!"

Setelah menyelesaikan kalimatnya dan puas karena Baekhyun tidak bisa membantah, baru Chanyeol mengubah posisi duduknya. Baekhyun bukan saja tidak

bisa membantah, tidak bisa bicara lagi malah. Spechlees! Karena itu, selama beberapa saat cewek itu hanya mampu memandang Chanyeol yang mulai sibuk mengeluarkan alat tulis dan buku-buku untuk jam pelajaran pertama. Tapi ketika ketercengangannya sudah hilang, Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

"Kenapa sih lo suka marah-marah?"

Chanyeol tidak menjawab. Sibuk memeriksa kembali PR biologi yang baru dikerjaannya subuh-subuh tadi. Baekhyun menunggu beberapa saat. Ketika Chanyeol tidak juga menjawab, ia ulangi pertanyaannya.

"Hei! Halo? Halo! Kenapa sih lo suka marah-marah?"

Baru Chanyeol menoleh dan sorot matanya langsung tidak menyenangkan.

"Gue lagi ngecek PR nih, Baek. Jangan ganggu. Ntar gue marah."

"Ya itu maksud gue. Kenapa lo doyan banget marah sih? Duit jajan lo dikit, ya? Atau lo sebenernya anak pungut, jadi di rumah teraniaya. Disuruh kerja melulu. Kayak Cinderella. Soalnya gue masih inget, lo bilang muka kakak sama adik lo mirip. Muka lo doang yang beda. Jadi bisa aja lo ini sebenernya anak pungut. Jadinya teraniaya, dalam tanda kutip lho. Kurang kasih sayang gitu. Dan kerena di rumah lo nggak berani protes, jadi lo marah-marahnya ke gue. Iya, kan? Pasti begitu!" Baekhyun menyerocos panjang dan diakhiri dengan mengambil kesimpulan.

Chanyeol meletakan bolpoinnya dengan geram.

"Pagi-Pagi udah bikin fitnah!" Ia menoleh sambil mendesis. Mulai marah. "Kalo tiba-tiba gue marah-marah, mending lo terima. Dengerin aja. Nggak usah nanya macem-macem. Apalagi balik marah-marah!"

"Kok gitu? Enak aja. Mana bisa begitu?"

"Supaya gue nggak tambah marah, tau!" bentak Chanyeol. Belum-belum sudah marah-marah.

Wah!? Baekhyun tercengang.

"Yang namanya marah atau kesel, pasti ada alasannya, tau! Ntar lo keselnya sama orang lain, trus gue yang kena, lagi!"

"Nggak. Kalo gue marah-marah, udah pasti itu gara-gara elo. Jadi mending terima aja. Jangan tanya-tanya lagi. Jadi gue nggak tambah marah!"

Baekhyun dan Chanyeol tidak menyadari bahwa sebentar lagi bel masuk berbunyi dan semua penghuni kelas sudah menempati bangku masing-masing, jadi seisi kelas menyaksikan pertengkaran mereka.

Dan pertengkaran terbuka itu jelas merupakan tontonan menarik sebelum dua jam pelajaran biologi disusul dua jam pelajaran kimia yang bisa bikin rambut ngejagrik.

Baekhyun sibuk melotot dan setengah mati berusaha agar kejengkelannya tidak meledak. Sementara itu Chanyeol juga sibuk menahan diri agar kemarahan dan kebenciannya pada Baekhyun yang sudah dalam bentuk lahar, mendidih, dan merah, tidak menggelegak keluar.

Mereka baru berhenti bersitegang setelah menyadari suasana kelas yang hening. Senyap. Keduanya lalu menatap berkeliling dan mendapati semua mata sedang tertuju lurus-lurus ke arah mereka berdua. Penuh perhatian dan ketertarikan.

"Apa liat-liaaaat!?" seru Chanyeol. "Seneng ya liat orang berantem?"

Seruan Chanyeol itu membuat semua teman sekelasnya, terutama yang cowok, nyengir lebar. Sementara yang cewek-cewek memberikan beragam reaksi. Ada yang tertawa kecil, ada yang senyum-senyum, tapi ada juga yang geleng-geleng kepala dengan ekspresi yang seolah mengatakan, "Nggak tau malu banget sih berantem di kelas!"

.

.

.

Besoknya, Baekhyun sudah tidak berusaha lagi datang ke sekolah pagi-pagi. Begitu tiba di kelas, cewek itu langsung menuju bangku barunya. Sepertinya ia sudah bisa menerima takdirnya, yaitu duduk di belakang. Sambil berjalan menuju bangkunya, Baekhyun menarik napas panjang-panjang.

"Home sweet home…," desahnya pelan, lalu menjatuhkan diri di sana. Dikeluarkannya ponsel dari tas dan dicarinya nama Kyungsoo dari daftar kontak.

"Kyung, lo di mana?"

"Koperasi. Bolpoin gue abis. Kenapa?"

"Pinjem PR matematik dong. Nyontek nomer delapan sama sepuluh doang. Susah banget."

"Di tas. Ambil sendiri gih."

"Oke. Tengkyu, ya!"

"Eh! Eh! Baekhyun. Tunggu dulu!"

Baekhyun batal akan mematikan ponselnya.

"Apa?"

"Lo jangan berantem kayak kemaren lagi, ya? Malu-maluin banget, tau!"

"Bukan gue yang cari gara-gara. Chanyeol tuh!" Baekhyun langsung bete. "Udah, ah. Jangan diingeitin. Bikin broken morning aja. Gimana perkembangan lo sama si Kai ?"

"Jangan diingeitin. Bikin broken morning aja!" ganti Kyungsoo yang jadi bete.

Keduanya tertawa. Baekhyun mematikan ponselnya lalu bangkit berdiri dan berjalan ke bangku Kyungsoo. Dikeluarkannya buku PR matematika Kyungsoo dari tasnya.

Dan saat didapatinya Kai mengamati dengan pandang curiga, Baekhyun langsung berkata, "Gue udah izin sama Kyungsoo. Ntar lo tanya dia aja kalo nggak percaya." kemudian segera kembali ke bangkunya.

Ketika datang, Chanyeol melihat Baekhyun sedang menunduk serius di bangkunya. Pasti PR matematika, gumamnya dalam hati. Tiba-tiba saja Chanyeol merasa senang, karena ada alasan untuk memarahi cewek itu.

"Ngerjain PR tuh di rumah. Bukan di sekolah," tegurnya tajam. "Ngapain aja lo di rumah semalem?"

Baekhyun mendongak dan kaget mendapati Chanyeol sudah ada di samping meja. Ia juga kesal karena cowok itu baru datang langsung marah-marah. Baekhyun sudah hendak membuka mulut, mau balik marah-marah, tapi batal. Bukan saja karena pagi-pagi marah-marah bikin jauh dari rezeki, tapi juga bikin dia jadi nggak selesai menyalin PR.

"Urus aja urusan lo sendiri deh!" jawab Baekhyun ketus.

Chanyeol tidak peduli. "PR siapa yuh yang lo sontek? Banyakan salahnya daripada benernya."

Baekhyun diam, tidak bereaksi, sibuk menyalin. Chanyeol melanjutkan kecamannya.

"Lo kalo nyontek nggak pernah sambil mikir ya?"

Baru Baekhyun terusik. Ia berhenti menulis. Ditariknya napas panjang lalu diembuskannya dengan kesal.

"Lo tau definisi nyontek nggak sih?" Ditatapnya Chanyeol. "Nyontek itu sinonimnya nyalin. Menyalin itu artinya menduplikasi, atau membuat sesuatu yang persis sama. Jadi jelas nggak perlu pake mikir, tau!" sepasang mata Baekhyun menatap Chanyeol tepat di manik mata. "Rese!"

Mata Chanyeol sontak berkilat.

"Kayaknya gue udah pernah ngomong deh. Kalo gue lagi marah, terima aja. Jangan tanya-tanya apalagi balik marah. Ntar gue jadi tambah marah!" intonasi suara Chanyeol mulai naik.

"Alasannya!? Orang marah tuh pasti ada alasannya!"

"Nggak perlu alasan kalo udah menyangkut elo!"

"Emang gue kenapa?"

"Karena elo selalu bikin gue pengin marah!"

"Alasannya!? Orang marah tuh pasti ada alasannya, tau!"

"Nggak perlu alasan kalo udah menyangkut elo!"

Balik lagi. Lingkaran setan, kayaknya.

Apaan tuh begitu? Baekhyun menggerutu dalam hati.

"Bukan elo aja, gue juga bisa marah!"

"Gue bisa jadi tukang jagal, Baekhyun!" bentak Chanyeol.

"Lo kira gue takut sama elo!?" Baekhyun tidak mau kalah, ganti membentak. "Nggak sama sekali!"

Pertengkaran memanas!

Padahal saat ini jarum jam menunjukan angka sepuluh menit menjelang bel masuk berbunyi. Dan pada jam segitu biasanya isi kelas sudah lengkap. Sebagian menunggu bel di dalam kelas, sebagian lagi di koridor. Dan pertengkaran yang memanas itu jelas merupakan tontonan yang asyik banget, sebelum delapan jam pelajaran yang bikin boooring.

"Cepet! Cepet! Beli cemilan!" seru Jongdae. "Nggak asyik nih kalo nggak sambil ngemil!"

"Patungan, oi! Patungan! Ceceng-ceceng!" seru Derry sambil mengeluarkan selembar seribuan dari kantongnya sendiri. Kemudian ia berkeliling di antara cowok-cowok untuk meminta seribu per orang.

"Buruaaaan! Sebelum pertunjukan dramanya kelar nih!" seru ia tak sabar.

Derry berlari ke luar kelas menuju kantin. Sementara itu Daehwi, yang belum masuk kelas, cepat-cepat meraih tasnya. Dikeluarkannya keripik singkong dari sana. Seplastik gede!

"Gue ada nih!" serunya. "Ini sebenernya buat ntar, jam kosong. Tapi nggak apa-apa, ntar beli lagi!" Ia melempar keripik singkong ke Jongdae. Jongdae menangkapnya dengan sigap kemudian berteriak keras.

"DERRY, WOOOIIII! NGGAK JADI! UDAH ADA!"

Derry yang sudah berlari sampai melewati kelas sebelah, cepat-cepat balik lagi dan langsung bergabung dengan teman-temannya yang sudah asyik menikmati pertengkaran Chanyeol-Baekhyun.

Kubu cowok berada di pihak Baekhyun, bukan Chanyeol. Iyalah…. Ngapain juga belain sesama cowok? Rugi!

Sementara yang cewek-cewek menyaksikan kejadian itu dengan ekspresi bingung. Ada tanda tanya besar di kepala mereka. Baru jadian kok berantem melulu? Nggak ada mesra-mesranya. Berantemnya di kelas, lagi. Nggak peduli banyak orang, lagi. Teriak-teriak, lagi! Namun kemudian muncul tanda tanya baru. Kali ini sampai terlontar dari muluk salah satu cewek.

"Emang mereka udah jadian, ya? Apa baru PDKT? Baru PDKT aja berantemnya udah parah gitu, apalagi kalo udah jadian? Bunuh-bunuhan, kali!"

Sementara para cowok pendukung Baekhyun, tidak peduli dan sama sekali tidak ingin tahu alasan di balik pertengkaran itu. Yang penting ada tontonan seru. Dengan riuh mereka memberikan support untuk Baekhyun. Dan tak lupa, sambil ngemil keripik.

"Lawan aja, Baek!" seru Jongdae. "Ntar kalo lo kalah, gue belain!"

"Iya. Hajar aja si Chanyeol, babe!" teriak Daehwi.

"Kalo Chanyeol mukul, pukul balik, Baek!" teriak Kwangsoo.

"Kalian teriaknya jangan kenceng-kencang dong! Jadi nggak kedengeran nih!" teriak Derry, dengan volume suara mengalahkan teman-temannya.

"Nah elo, sendirinya juga teriak. Paling kenceng malah!" Kepala Derry kemudian dijitakin dari segala arah. Sambil meringis, cowok itu cepat-cepat melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

Dari bangku mereka, Kai dan Kyungsoo menyaksikan pertengkaran Baekhyun dan Chanyeol dengan mulut ternganga. Chanyeol tidak pernah cerita dan Baekhyun juga tidak bilang apa-apa sebelumnya. Jadi keduanya benar-benar tidak tahu, persoalan apa sebenarnya yang terjadi di antara mantan teman-teman sebangku mereka itu.

Bel masuk berbunyi dan tidak ada satu pun yang menyadari. Teriakan riuh dan kasak-kusuk itu baru berhenti setelah sseseorang dari kelas sebelah mendatangi kelas mereka lalu berteriak di pintu.

"UDAH BEL, WOOOI! JANGAN BERISIK! MAU PADA BELAJAR NGGAK SIHHH!?"

Kelas langsung hening. Semua bergegas kembali ke bangku masing-masing. Chanyeol dan Baekhyun juga menghentikan pertengkaran mereka. Sesaat keduanya saling tatap dengan sorot kesal, dongkol, marah, benci, juga malu karena sudah jadi objek tontonan seisi kelas.

"Aduh, leher gue seret nih!" Jongdae terbatuk-batuk. "Ada minum nggak?"

Setelah berhenti teriak-teriak memberikan support, baru cowok-cowok itu sadar kalau tenggorokan mereka kering. Semuanya lalu ribut mencari minum.

"Lo gimana sih, Daehwi? Bawa keripik nggak bawa minum. Se-ret niiih!" semuanya lalu menyalahkan Daehwi. Tidak ada cara lain, cowok-cowok suporter Baekhyun terpaksa menahan haus sampai jam istirahat pertama nanti.

"Ssst! Bu Sam dateng!" seru Seulgi, yang duduk dekat pintu.

Kelas langsung hening. Semua duduk manis dibangku masing-masing. Tanpa sadar, Chanyeol dan Baekhyun duduk di ujung bangku masing-masing, berusaha sejauh-jauhnya menjaga jarak. Namun dua kali pertengkaran terbuka itu kemudian memunculkan asumsi baru seputar perpindahan bangku tersebut.

Kai pindah ke bangku Baekhyun karena naksir Kyungsoo. Itu udah pasti, karena cowok itu sudah mengumumkan perasaanya. Dan meskipun sudah duduk sebangku, seisi kelas tahu status mereka masih PDKT. Dari pihak Kai , pastinya.

Sementara Kyungsoo sendiri, sepertinya cewek itu sedang berusaha (dengan sangat keras) menerima kondisi itu, dan berusaha menjalaninya dengan ikhlas. Karena sudah tidak ada lagi bangku kosong di kelas, maka pilihan Kyungsoo memang cuma dua: tabah atau nggak sekolah!

Asumsi berikutnya adalah Baekhyun pindah ke bangku Chanyeol karena dia naksir cowok itu. Tapi sayangnya Chanyeol sama sekali nggak naksir Baekhyun. Makanya tu cowok jadi galak sama Baekhyun. Baekhyun jadi balik galak juga, karena dia frustasi dan patah hati.

Nah, makin ruwet, kan?

.

.

.

TBC

.

.

.

Ada yang masih nungguin update ff ini?

rorororonoaa baper ya inget mantan :'). Sama :D. Haha iya aku juga pengen ketawa sama tingkah Chanyeol, tapi kasian juga Baekhyun. Iya sama-sama.. aku ikut seneng kalau reader seneng..

pcy61 iya aku juga sedih banget pas baca novelnya, nangis kejer aku.

B dongsaeng iya kasian banget uri Baekhyunie, untung dia strong hehe.

Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~

So, how about this chapter?

RnR juseyooo~

Follow my ig: baekhill_byun

_Hill_ 030218