DIA, TANPA AKU
Remake Story by Esti Kinasih
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Ocs
.
.
[DISCLAIMER]
Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.
.
.
Capter 7
.
.
Happy reading..
.
.
BEGITU bel istirahat berbunyi, cowok-cowok suporter Baekhyun langsung melejit keluar dari kelas menuju kantin. Cari minum. Mereka berlarian begitu saja. Sementara cewek-cewek teman sekelas berjalan keluar sambil menatap Baekhyun sesaat. Baekhyun jadi kesal.
"Apa sih liat-liat? Berantemnya udah kelar, juga!" gerutunya.
Baekhyun melirik orang di sebelahnya, masih dengan rasa marah. Kemudian dia berdiri dan berjalan ke luar kelas. Ketika melewati Kyungsoo, ditepuknya lengan temannya itu.
"Ke kantin yuk!"
Kyungsoo memasukkan buku-bukunya Ke laci, bangkit berdiri, lalu mengejar Baekhyun. Sambil membereskan buku-bukunya, Chanyeol mengikuti Baekhyun dengan pandangan mata. Sementara Kai, begitu kedua cewek itu hilang dibalik tembok kelas sebelah, segera bangkit berdiri dan menghampiri Chanyeol dengan langkah cepat.
"Sebenernya ada masalah apa sih antara lo sama Baekhyun?" tanyanya sambil menjatuhkan diri di sebelah Chanyeol. "Berantem kok sampe kayak gitu."
"Udah, nggak usah tanya-tanya deh." Chanyeol berdecak malas. "Yuk, ke kantin. Gue laper."
"Baekhyun juga lagi ke kantin. Bisa-bisa ntar lo berdua berantem lagi di sana."
"Ya kalo dia cari gara-gara lagi…," Chanyeol bangkit berdiri, "apa boleh buat!"
.
.
.
Di depan salah satu meja panjang di kantin, Baekhyun dan Kyungsoo duduk berhadapan. Masing-masing dengan sepiring gado-gado dan segelas es teh manis.
"Sebenernya lo ada apa sih sama Chanyeol? Berantem sampe kayak gitu." Kyungsoo membuka percakapan dengan topik yang membuat kekesalan Baekhyun jadi berkelanjutan.
"Aduuuuuh, ck!" Baekhyun mengeluh. "Elo tu ya. Kalau gue tau masalahnya, gue nggak akan teriak-teriak kayak tadi pagi, lagi."
"Masa sih lo nggak tau masalahnya? Kalo ngeliat tadi pagi Chanyeol marahnya sampe kayak gitu, kayaknya masalahnya serius, Baek."
"Nggak tau, ah." Baekhyun menggeleng, lalu memerhatikan gado-gado di piringnya. "Tadi kayaknya gue udah bilang sama ibu itu nggak pake tempe deh," katanya, lalu mulai memisahkan potongan-potongan kecil tempe dari gado-gadonya.
"Lo tanya deh, Baek, sama Chanyeol, apa sih masalahnya?"
"Udah. Tadi pagi itu gue kan tanya, trus jadinya berantem kayak gitu."
"Baik-baik nanyanya."
"Udah, Kyungjaaaa…" Baekhyun menghela napas lalu mengembuskannya kuat-kuat. Ia memandang Kyungsoo, capek dan putus asa. "Tadi pagi itu gue nanyanya udah baik-baik. Kemaren juga gitu. Lo kira gue nanyanya baru tadi trus langsung maen bentak-bentak, gitu? Nggak, lagi. Udah deh, nggak usah dibahas. Bikin gue jadi nggak nafsu nih. Atau gini aja, kalo lo penasaran, lo aja gih yang nanya. Ntar kasih tau gue."
"Nggak mungkin gue yang nanya, lagi." Akhirnya Kyungsoo menyudahi pembicaraan itu dan mulai menyantap gado-gadonya.
"Lagian juga kalo lo mau dapet jawaban, kayaknya nanyanya kudu pake gebukan kasur," kata Baekhyun sambil mengunyah. Kyungsoo jadi ketawa. Namun tawa itu langsung langsung lenyap begitu dilihatnya Chanyeol dan Kai memasuki kantin.
"Dia ke sini, Baek. Si Chanyeol," bisik Kyungsoo, langsung jadi tegang. Tapi Baekhyun tetap santai dan sama sekali tidak menoleh ke arah pintu kantin.
"Ya iyalah. Mau nggak mau dia ke sini. Nggak mungkin dia ke kantinnya anak kelas dua, apalagi kelas tiga."
Begitu melihat Baekhyun dan Kyungsoo, Kai langsung mengajak Chanyeol duduk di depan meja panjang yang paling dekat dengan pintu. "Yeol, kita duduk sini aja. Lo mau makan apa? Gue pesenin."
"Gue mau duduk di situ," tunjuknya dengan dagu ke sebuah meja panjang yang berjarak dua meja dari meja tempat Baekhyun makan. Dari meja itu, Chanyeol bisa leluasa memerhatikan Baekhyun. "Gue somay aja. Nggak pake kentang, ya. Minumnya es teh tawar."
Kai langsung melesat ke sisi kanan kantin, tempat konter-konter makanan terletak berjajar. Tak lama ia kembali sambil membawa pesanan Chanyeol dan pesanannya sendiri. Diambilnya tempat di depan Chanyeol. Tapi begitu ia menyadari ke mana sepasang mata temannya itu tertuju, ia segara berdiri dan pindah posisi.
"Ngapain lo pindah?" tanya Chanyeol.
"Pencegahan," jawab Kai tandas. "Dari cara lo ngeliatin Baekhyun, kayaknya kejadian tadi pagi di kelas bakalan terulang di sini," sambungnya.
Chanyeol tidak membantah. Dalam hati ia justru membenarkan apa yang diucapkan Kai.
"Lo sengaja duduk sini biar bisa ngeliatin dia, kan?"
"Iya," Chanyeol terus terang.
"Kenapa sih? Dia duduk di sebelah lo, kan? Masih kurang?" saking herannya, Kai sampai menatap Chanyeol dangan kening berkerut rapat.
"Karena dia duduk di sebelah gue, jadi gue nggak bisa ngeliatin. Lain kalo dia duduk di depan gue," Chanyeol menjawab santai, lalu mulai menyuapkan potongan somay ke mulutnya.
Sementara itu Kyungsoo, yang juga cemas kalau-kalau pertengkaran Chanyeol-Baekhyun bakalan berlanjut di kantin, mengajak Baekhyun buru-buru kembali ke kelas. Baekhyun setuju karena tidak bisa makan dengan tenang di bawah tatap tajam Chanyeol yang sebentar-sebentar terarah padanya.
Tanpa menghabiskan gado-gado di piring masing-masing, keduanya berdiri dan bergegas berjalan ke luar kantin. Di ambang pintu, tanpa sadar Kyungsoo menoleh ke kedua cowok itu. Di saat bersamaan Kai juga tengah menatap mereka. Cowok itu tersenyum tipis, memandang Kyungsoo dengan sorot berterima kasih.
Sesaat Kyungsoo terkesima. Ini pertama kalinya ia melihat Kai dalam ekspresi serius begitu. Nggak norak dan geblek seperti biasanya. Cowok itu jadi kelihatan berbeda. Lain sama sekali. Dengan kikuk dibalasnya senyum itu.
Begitu kedua cewek itu sudah hilang, Kai mengembalikan tatapannya pada Chanyeol, yang sedang menikmati somaynya dengan santai, tapi jelas tahu bahwa Baekhyun sudah pergi.
"Gue balik ke bangku gue, ya? Kasian Baekhyun duduk di belakang gitu. Nggak ada temennya. Pasti bakalan jadi korban iseng anak-anak belakang pula."
"Kan ada gue?" kata Chanyeol tenang. "Boleh aja sih kalo lo pengin balik. Tapi duduk bertiga, ya? Dan si Baekhyun harus di tengah."
Mata Kai membulat lebar. Tapi ia tidak juga mengeluarkan suara, saking bingungnya mau ngomong apa.
Chanyeol jadi tertawa. "spechlees lo, ya?" tanyanya dengan nada geli. Tapi kemudian ia menggeleng kuat dan berkata tegas, jelas tidak ingin dibantah sama sekali. "Jangan! Gue mau dia duduk di sebelah gue."
"Biar bisa berantem terus, gitu?"
"Ya!" Chanyeol tersenyum lebar dan memainkan alisnya sesaat, sambil memandang muka bingung Kai. "Dan elo nggak usah tanya-tanya sebabnya. Nggak bakal gue jawab. Nggak sekarang-sekarang. Soalnya gue nggak bakalan bisa cerita tanpa emosi, tanpa marah-marah. Dan kalo lo tetep maksa gue untuk cerita juga, bisa-bisa abis cerita, gue bisa menyerang si Baekhyun lebih ganas!"
Kai ternganga.
.
.
.
Begitu sampai rumah, Chanyeol langsung masuk kamar dan berdiri di depan tempat tidur Kris.
"Tadi pagi cewek lo gue marahin, gue bentak-bentak. Sampe gue puas!"
Setelah mengatakan itu, Chanyeol berganti baju. Disambarnya salah satu komik dari rak koleksi komiknya lalu berjalan di keluar kamar. Sambil tiduran di ruang tamu, Chanyeol membaca komik itu sampai jatuh tertidur.
Namun malam harinya, setelah mengerjakan PR untuk besok dengan konsentrasi yang cuma setengah, Chanyeol duduk tercenung di depan meja belajar Kris. Kalau mau berpikir tanpa menyertakan emosi, dan terus terang mau mengakui, sebenarnya jawabannya jelas.
Hanya puas sesaat. Hanya melegakan sementara. Setelah itu semuanya kembali seperti semula. Tidak ada yang berubah. Tetap sedih. Tetap sesak. Tetap kosong. Tetap terasa Kris sudah tidak ada. Dan tetap kesepian begitu hanya sendirian di kamar begini. Kecuali kalau saat ini juga dikontaknya Baekhyun lalu kembali dibentak-bentaknya cewek itu seperti tadi pagi.
Dangan mata nanar Chanyeol menatap sepotong kertas yang dulu ditempelkan Kris di dinding di depannya. Barisan kalimat itu, tulisan tangan Kris, madih bisa terbaca, walaupun tampak kabur karena Chanyeol membaca dengan pikiran menerawang. Kalimat-kalimat tentang Baekhyun. Hanya tentang cewek itu.
Sebenarnya ingin sekali dilepasnya kertas itu dari dinding. Tapi tidak tega, kerana kertas itu usaha Kris selama berbulan-bulan. Karena kertas itu adalah kegembiraannya selama berbulan-bulan juga. Sekaligus kecemasannya. Kegelisahannya. Ketidaksabarannya.
Yang pasti, kertas itu kenangan Chanyeol dan seluruh isi rumah ini pada bulan-bulan terakhir hidup Kris. Cuma selembar kertas yang disobek dari buku tulis sekolah, tapi sangat berharga bagi sang kakak saat dia masih hidup. Dan kini sangat berharga untuk orang-orang yang dia tinggalkan.
"Suka banget warna biru," desis Chanyeol pelan, membaca salah satu poin di kertas itu dalam keadaan setengah sadar.
"Usil banget. Tukang ngisengin orang." Chanyeol membaca poin di bawahnya.
Poin yang lain…
Kalau ada yang marah-marah karena udah jadi korban keisengannya, Baekhyun suka njulingin mata. Bikin tuh orang ditambah marah lagi.
Poin yang lain lagi…
Bego olahraga. Nggak ada satu pun olahraga yang dia bisa. Kecuali lari atau kabur. Karena biasanya kalo abis ngisengin orang, dia suka dikejar-kejar.
Poin yang lainnya lagi…
Kalo ngiket rambut nggak pernah rapi. Asal keiket. Tapi dengan rambut yang keiket asal-asalan gitu, berantakan, dia jadi tambah manis. Cakep!
"Masa?" Chanyeol tertawa mendengus. Tidak yakin dan sama sekali tidak percaya dengan kebenaran kalimat-kalimat itu. Terutama yang terakhir.
Namun tak lama tawanya menghilang. Cowok itu kemudian menghela napas dalam-dalam. Tercenung dalam keterdiaman yang lama.
.
.
.
Di saat yang sama, di kamarnya, Baekhyun juga sedang duduk dalam diam. Tercenung dalam. Tapi untuknya, tidak ada yang perlu di pikirkan tentang Chanyeol. Sama sekali. Percuma saja, ia nggak akan dapat jawabannya. Yang ada malah jadi emosi lagi kalau ingat kejadian tadi pagi.
Yang sedang dipikirkan Baekhyun dengan serius saat ini adalah, gimana caranya agar ia bisa nyaman duduk di deretan belakang yang sama sekali nggak ada ceweknya itu. Ditambah sebelahan sama cowok stres yang kayaknya bakalan sakit jiwa beneran. Tapi, sampai matanya meredup, karena kantuk, Baekhyun tidak juga mendapatkan ide.
Udah deh. Liat gimana situasinya aja nanti, putusnya kemudian. Ia bangkit berdiri sambil menguap lebar-lebar sambil menuju. Tempat tidurnya, menjatuhkan diri di sana, dan tak lama kemudian ia jatuh terlelap.
.
.
.
Keesokan paginya, sambil menyiapkan diri berangkat ke sekolah, Baekhyun meneruskan berpikir soal semalam. Ketika akhirnya cewek itu membuka pintu rumah, siap berangkat ke sekolah, ia telah mengambil satu keputusan.
"Cuekin aja si Chanyeol. Daripada gue ketularan sarap!"
Meskipun begitu, belajar dari pengalaman kemarin, Baekhyun telah menyiapkan langkah pencegahan. Semua PR untuk hari ini telah ia kerjakan. Jadi Chanyeol tidak bisa lagi mengatakan, "Ngerjain PR tuh di rumah, bukan di sekolah. Ngapain aja lo di rumah semalem?"
Baekhyun juga telah menyiapkan langkah pencegahan tambahan, kalau-kalau langkah pertama tidak berhasil. Ia sengaja berangkat ke sekolah dalam waktu yang benar-benar mepet. Yang kira-kira nanti sampai sekolah udah mau bel.
"Kalau perlu kurang semenit dari bel. Jadi tuh orang nggak punya kesempatan buat ngomel," katanya, ngomong sendiri sambil berjalan dengan langkah cepat ke halte bus.
Akibat berangkat terlalu mepet itu, jarum jam sudah menunjukan tujuh kurang lima saat bus yang ditumpanginya sampai ditujuan. Susah payah Baekhyun menyeruak di antara para penumpang yang menyesaki perut bus, resiko kalau berangkat siang, dan berusaha mencapai pintu bus secepat mungkin.
Begitu berhasil mencapai pintu, Baekhyun langsung melompat turun dan berlari secepat-cepatnya menuju sekolah. Cewek itu sampai di ambang pintu kelas dalam keadaan mandi keringat dan napas terengah. Dan tepat seperti dugaannya, waktu sudah menujukkan jam tujuh kurang satu menit!
Sambil mengatur napas, Baekhyun cepat-cepat berjalan ke bangkunya dan langsung mengempaskan tubuhnya di sana. Capek. Selain habis berlari, selama di bus dia juga terus berdiri, nggak dapat duduk.
"Baru dateng jam segini!?" Chanyeol menyambut kedatangan Baekhyun dengan teguran galak. "Lo kira emang bisa, belajar dalam kondisi keringetan begitu? Pasti tadi dari halte ke sini lari. Iya, kan? Lo berangkat dari rumah jam berapa sih? Besok berangkat lebih pagi dong!"
Baekhyun terkesima. Bibirnya sampai melongo. "Gue udah ngerjain PR di rumah," lapornya. Akibat ketersimaan itu, Baekhyun mendadak jadi polos dan bego.
"Bagus!" ucap Chanyeol singkat.
Tak lama kemudian Baekhyun tersadar. Ngapain juga gue lapor ke dia kalo udah ngerjain PR, ya? desisnya dalam hati. Emang apa urusannya? Gue mau dateng jam berapa kek, terserah gue, kan?
Tapi baru saja Baekhyun membuka mulut, mau balik marah-marah, bel masuk sudah berbunyi. Terpaksa cewek itu mengatupkan kembali mulutnya. Dalam hati ia bertekad, nanti jam istirahat pertama akan ia balas. Tapi tekad baru itu hanya bertahan sepuluh menit. Baekhyun segera teringat kembali tekad awalnya yang ia putuskan saat berangkat sekolah tadi: Cuekin aja si Chanyeol!
Kemudian ia memutuskan dalam hati, kali ini dengan niat bulat. Ya, cuekin aja! Soalnya kalo nggak gitu, kayaknya bakalan panjang urusannya. Sekarang aja, selagi masalahnya masih benar-benar gelap dan status mereka juga masih teman baru, mereka udah bentak-bentakan sampe parah banget gitu. Gimana nanti? Ih, serem! Baekhyun bergidik tanpa sadar.
"Kenapa?" bisik Chanyeol tajam. Lamunan Baekhyun memang tertangkap jelas olehnya, karena seisi kelas saat ini sedang sibuk mencatat dan cuma Baekhyun satu-satunya yang sibuk menggigit ujung bolpoinnya. Dengan serius pula.
"Ketahuan nggak nyatet, bisa abis lo diomelin…," bisik Chanyeol lagi. Jenis bisikan yang merupakan volume minimalis dari bentakan.
Baekhyun cemberut. Tapi tidak berusaha membantah. Iyalah. Meladeni orang gila di saat kelas sedang sunyi senyap begini berarti dirinya sama nggak warasnya.
Dangan senyum puas tertahan, Chanyeol melirik cewek di sebelahnya. Baekhyun mencatat dengan bibir cemberut maju beberapa senti. Chanyeol jadi semangat menunggu jam istirahat pertama. Karena ia yakin, pertengkaran mereka akan berlanjut. Jadi bisa dibentak-bentak dan dimarahinya Baekhyun seperti kemarin. Tapi kali ini, ia tidak ingin pertengkaran mereka terlalu terbuka. Tidak perlu terlalu heboh. Yang penting bisa membuat hatinya lega. Puas. Tidak peduli meskipun cuma sesaat.
Chanyeol tidak tahu Baekhyun sudah tidak ingin lagi bertengkar. Sama sekali. Karena itu, saat bel istirahat pertama berbunyi dan Chanyeol langsung mengubah posisi duduknya jadi benar-banar menghadap ke arahnya, Baekhyun sudah tahu cowok itu pasti mau ngomel lagi. Dan dugaannya seratus persen tepat!
"Lo nggak punya beker, ya? Kok bisa telat banget kayak tadi!?" pacing Chanyeol.
Baekhyun langsung bersyukur. Meskipun intonasi suara Chanyeol tinggi, volumenya sama sekali tidak tinggi. Jadi tidak sampai mengundang perhatian teman-teman sekelas. Dan sesuai tekadnya, Baekhyun memilih diam. Sebenarnya ia pingin langsung kabur ke kantin, tapi Kyungsoo ada urusan sama anak kelas sebelah.
"Pasti lo nggak sempet sarapan," lanjut Chanyeol. Tetap dengan nada menusuk.
Baekhyun tetap diam. Dimasukkannya buku-buku pelajaran di atas meja ke dalam tasnya. Chanyeol tidak memedulikan kebungkaman Baekhyun. Justru ada perasaan senang karena Baekhyun tidak membantah kata-katanya.
"Emang bisa ya, belajar dalam kondisi perut laper dan badan keringetan? Gue jamin nggak!"
Baekhyun tidak tahan lagi, tapi tetap tidak ingin buka mulut. Dan Chanyeol tetap meneruskan kalimatnya. Cowok itu semakin senang. Tanpa ia sadari, perasaan senang itu muncul karena ia dalam keadaan benar-banar dapat melupakan kesedihannya, bukan karena sedang memarahi Baekhyun.
"Lo bangun kesiangan karena semalem ngerjain PR, ya?" ucap Chanyeol lagi, lalu tertawa geli. "Gue jadi nggak tau mendingan yang mana. Lo datang nggak
telat tapi begitu sampe sekolahan langsung nyontek PR, atau lo ngerjain PR di rumah tapi jadi dateng telat…," Chanyeol terdiam sejenak, kemudian meneruskan kalimatnya dengan anda yang kembali tajam. "Menurut gue dua-duanya nggak bener!"
Niat banget sih nih cowok ngomelnya! desisnya Baekhyun dalam hati. Akhirnya ia memutuskan untuk cepat-cepat pergi. Daripada kesabarannya habis lalu ia langgar tekadnya dan akhirnya mereka saling bentak dan saling teriak seperti kemarin pagi.
Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dengan gerakan tiba-tiba, dan sikap garang Chanyeol sontak menghilang. Cowok itu menatap pemandangan di depannya dalam ketersentakan hebat.
Baekhyun menjulingkan kedua matanya!
Hanya itu…. Ya, hanya itu… tapi itulah yang ditulis Kris! Itulah yang ditinggalkannya dalam catatan!
Baekhyun berdiri lalu berlari ke luar kelas. Ia tidak memedulikan ekspresi kaget di wajah Chanyeol. Tidak memedulikan kondisi Chanyeol yang mendadak berubah jadi arca hidup.
Sendirian di kelas yang terasa lengang, mendadak Chanyeol merasa di tempat yang asing. Rasa lega sesaat yang tadi dirasakannya saat memarahi Baekhyun tadi kini juga hilang.
Sampai menjelang bel pulang, Chanyeol masih mencoba memancing kemarahan Baekhyun. Mencoba membuat cewek itu merespons setiap kata-kata tajamnya. Tapi Baekhyun benar-benar melaksanakan tekadnya, sama sekali tidak mengacuhkan Chanyeol dan semua pancingannya.
Cukup di kelas aja gue sebangku sama dia. Gue nggak mau menemani dia sampe ke rumah sakit jiwa gara-gara barengan gila! desis Baekhyun dalam hati.
Baekhyun lebih memusatkan perhatiannya pada cowok-cowok yang duduk di belakang. Mana yang asyik diajak temenan, mana yang mendingan say hello doang. Hari ini ia juga tahu ternyata cowok-cowok itu asyik-asyik.
Sesaat sebelum istirahat kedua berakhir, Jongdae, Daehwi, Kwangsoo dan semua cowok yang duduk di deretan paling belakang, kompakan menyembunyikan buku catatan Bahasa Indonesia Mingyu, yang duduk di deretan yang sama dengan Baekhyun.
"Iseng aja," kata Jongdae, sang pencetus ide.
Baekhyun yang baru saja balik dari kantin tidak sengaja mendengarkan perkataan Jongdae itu dan langsung tertarik.
Pelajaran apa pun, kalau itu ada di dua jam tarakhir, selalu memerlukan kemauan yang lebih keras. Tekad yang lebih kuat dan semangat yang lebih membaja. Kedengarannya memang hiperbolis, tapi itu kenyataan. Fakta. Boleh tanya sama semua pelajar yang masuk pagi pulang siang. SMP maupun SMA. Dijamin nggak ada yang masih fresh di jam-jam itu. Kalaupun ada, cuma sebagian keciiil. Mungkin di jam pelajaran sebelumnya dia sukses cabut, atau berhasil mikir tanpa ketahuan.
Jam setengah satu siang, saat matahari sedang terik-teriknya, saat kerja otak sudah menurun tajam karena belajar sejak jam tujuh pagi, wajar kalau niat iseng Jongdae itu langsung mendapat sambutan antusias. Bisa hahahihi -minimal nyengir lebar selama sepuluh menit sebelum memulai belajar lagi sampai tepat jam dua siang- jelas merupakan anugerah terindah.
Karena masih jam istirahat, kelas nyaris kosong, dengan leluasa Jongdae menarik keluar tas Mingyu dari dalam laci lalu mengeluarkan buku cetak Bahasa Indonesia dari sana. Dilemparnya buku itu ke Derry, yang menangkapnya dengan sigap dan langsung menyembunyikannya di dalam laci.
Mingyu ternyata langsung tahu. Begitu membuka tas hendak menyiapkan buku-buku dan mendapati buku cetak Bahasa Indonesia-nya raib, ia sudah bisa menebak oknumnya pasti anak-anak yang duduk di bangku deretan paling belakang. Cuma ia tidak tahu pasti siapa pelakunya. Cowok itu kemudian berdiri dan bertolak pinggang.
"Siapa yang ngumpetin buku gue? Elo, Jong?"
"Nggaaaaak!" Jongdae menggeleng kuat-kuat.
"Elo, Kwang?" pandangan Mingyu beralih ke Kwangsoo. Kedua matanya mulai melotot.
"Nggaaaaak!" Kwangsoo membeo jawaban Jongdae, juga sambil menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Nggaaak!" belum ditanya, Daehwi sudah menjawab. Teman semejanya, Derry, jadi tetawa geli.
Baekhyun. yang menyaksikan jalannya peristiwa itu sejak awal jadi terkikik juga, semenatara sebagian teman-teman yang lain tidak menyadari peristiwa itu. Mingyu mulai gusar.
"Mana buku gue? Balikin cepet! Bentar lagi Bu Seohyun dateng nih!"
"Emangnya siapa sih yang ngumpetin buku lo? Jangan asal nuduh dong," kata Derry. Sampai Bu Seohyun memasuki ruangan, tetap tidak ada satu pun yang mau mengaku.
"Buku gue, woi! Buruan! Bu Seohyun udah dateng tuh!" seru Mingyu dengan suara tertahan.
Cowok-Cowok yang duduk di deretan paling belakang itu tetap tidak ada yang mau mengaku. Mereka memandangi Mingyu sambil senyum-senyum. Daehwi malah memeletkan lidahnya.
Mingyu jadi semakin kesal. Akhirnya cowok itu mengempaskan tubuh ke bangkunya lalu berseru lantang, tepat di saat Bu Seohyun akan membuka mulut untuk meminta murid-muridnya membuka buku.
"BUUUU…! BUKU SAYA DIUMPETIN SAMA ANAK-ANAK BELAKANG….!"
Cowok-cowok di deretan paling belakang kontan tercengang, kemudian tertawa gelak-gelak. Seisi kelas ikut tertawa. Semua mata menatap ke arah Mingyu dengan penuh minat.
"Mingyu tukang ngadu! Jangan ditemenin!" seru Derry, ikut mengimbangi tingkah Mingyu yang kayak anak SD.
"BUUUU! KATA DERRY SAYA TUKANG NGADU, TRUS NGGAK BOLEH DITEMENIN!" seru Mingyu lagi.
Seisi kelas tertawa lagi. Tapi tawa mereka kali ini terdengar berbeda. Mata mereka juga memandang Mingyu dengan sorot berbeda, sedikit menerawang. Bila dipastikan, sebagian besar murid kelas itu jadi ingat waktu zaman-zaman SD dulu. Ngadu ke guru gara-gara buku, bolpoin, atau barang-barang mereka yang lain disembunyikan teman dan nggak ada satu pun yang mengaku telah melakukan.
"Apa sih kalian ini?" Bu Seohyun memandang ke belakang dengan kening berkerut. "Kayak anak SD aja. Kembalikan buku Mingyu. Kita akan memulai pelajaran. Jangan buang-buang waktu!"
Derry mengeluarkan buku cetak Bahasa Indonesia milik Mingyu dari dalam laci mejanya. Diopernya buku itu pada Daehwi, yang kemudian memberikannya pada Mingyu.
"Mingyu tukang ngadu!" katanya.
"Biarin, wee!" Mingyu menyambar bukunya dari tangan Daehwi lalu menjulurkan lidahnya.
Baekhyun terkekeh. Ia teringat teman-teman dan hari-harinya di SMP dulu. Kejadian itu membuatnya merasa lega. Berarti musibah yang dialaminya cuma satu: sebangku dengan Chanyeol. Lainnya nggak ada. Malah kayaknya duduk di belakang, bareng cowok-cowok iseng tadi, bakalan bikin hari-harinya di sekolah jadi seru. Karena itu -setelah pelajaran Bahasa Indonesia usai dan Bu Seohyun berjalan ke luar kelas- Baekhyun tidak peduli saat didengarnya Chanyeol bicara dengan nada tajam.
"Jangan tidur malem-malem, jadi besok nggak telat kayak tadi!"
Baekhyun menjawab dengan menghadapkan mukanya ke arah Chanyeol lalu menjulingkan kedua matanya. Kemudian cewek itu bangkit berdiri dan berjalan ke luar kelas dengan langkah cepat.
Chanyeol mengikuti kepergian Baekhyun dengan pandangan mata. Sikap garangnya langsung hilang. Kembali ia merasakan itu. Perasaan asing yang tidak dikenalnya, namun membuatnya gelisah.
.
.
.
TBC
.
.
.
ParkYooAh ini udah next yah..
almaepark #TeamBaekhyun mana suaranyaaaa hehe. Mana tega nyakar muka gantengnya Chanyeol apalagi jidat bangsatnya wkwk
rorororonoaa yok mana lagi suporternya baekhyun angkat tangaaaannn hehe. Gentayangan? Hhmmm kurang tepat sih, liat aja ya kedepannya hehe. Sabar ya,, biar greget wkwk
Pcy61 ini udah next ya..
Jang Ha Na haha iya, kasian Baekhyun nya jadi kambing hitam wkwk.
kimyjoy95 iya ini remake, aku Cuma ganti cast sama beberapa hal aja. Aku juga suka banget, iya emang alurnya gak ketebak banget..
B dongsaeng iya Chanyeol emang nyebelin, tapi itu karena dia merasa kehilangan banget.
Karena kuliah udah mulai, jadwal update jadi gak tentu, bisa fast update kayak sekarang, bisa juga agak ngaret beberapa hari, Tapi pokoknya aku usahain update seminggu sekali deh.
Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~
So, how about this chapter?
RnR juseyooo~
Follow my ig: baekhill_byun
_Hill_ 090218
