DIA, TANPA AKU
Remake Story by Esti Kinasih
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
Ocs
.
.
[DISCLAIMER]
Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.
.
.
Capter 8
.
.
Happy reading..
.
.
KEESOKAN harinya, dengan berbagai cara Chanyeol berusaha memancing kemarahan Baekhyun. Minimal membuat cewek itu kesal dan akhirnya mau buka mulut. Sering alasan kemarahan Chanyeol itu seakan dicari-cari, tapi Baekhyun berusaha keras menahan diri tidak terpancing.
Sabar, sabar. Orang sabar disayang Tuhan, katanya dalam hati saat Chanyeol menegurnya tajam hanya gara-gara ia menggigiti tutup bolpoinnya.
Sabar, sabar. Orang sabar disayang Tuhan, Baekhyun berkata lagi dalam hati saat Chanyeol menegurnya ditengah pelajaran sejarah. Merasa bosan, cewek itu mengabaikan penjelasan guru di depan dan memilih sibuk mencoreti buku catatannya.
Jelas Chanyeol langsung memanfaatkan peluang itu. Ditegurnya Baekhyun dengan kata-kata tajam -tentu saja berupa bisikan karena kelas sedang hening dan guru sedang menjelaskan di depan. Cowok itu mengakhiri tegurannya dengan memerintahkan Baekhyun untuk menyimak pelajaran dan mencatat apa yang ada di papan tulis.
Daripada omelan Chanyeol ada bagian keduanya, Baekhyun memilih menuruti perintah itu. Tentu saja dengan tidak lupa menggumamkan kalimat andalannya dalam hati: Orang sabar disayang Tuhan. Amin! Amin! Amin!
Tidak sampai satu jam kemudian, di tengah pelajaran kimia, kembali Baekhyun harus mengumandangkan kalimat andalannya itu dalam hati. Chanyeol memarahinya dengan suara pelan, karena mengira Baekhyun sedang bengong saat jam pelajaran. Walaupun kelihatannya tidak peduli, tak urung Baekhyun
menggerutu juga. Nih cowok nggak bisa bedain orang bengong sama orang yang lagi mikir sih!
Secara keseluruhan, hasil akhir untuk hari ini -meskipun mati-matian menahan marah- Baekhyun sukses menahan diri dari semua pancingan Chanyeol dan tidak satu pun teman-teman sekelas mereka menyadari bahwa di antara Chanyeol dan Baekhyun sedang terjadi peristiwa "anjing menggonggong, kafilah masa bodo".
Begitu bel pulang berbunyi, Baekhyun menarik napas lega. Dibereskannya buku dan alat tulisnya lalu segera kabur. Cewek itu pulang ke rumah dengan perasaan lega dan tanpa beban. Semua kejengkelan dan kekesalannya lenyap begitu ia kabur dari sebelah Chanyeol dan memutuskan takkan memikirkan keanehan cowok itu.
Justru Chanyeol yang semakin emosi. Dengan geram, ditatapnya Baekhyun yang berjalan keluar kelas dengan langkah cepat. Sambil membereskan buku dan alat tulisnya, serta sesekali membalas lambaian tangan teman sekelas, Chanyeol bertekad besok harus bisa memaksa Baekhyun membuka mulut dan merespons semua tindakannya.
Di saat Baekhyun bisa pulang dengan perasaan lega, Chanyeol justru sebaliknya. Lagi-lagi ia merasakan suasana asing yang membuatnya gelisah.
Keesokan harinya, Chanyeol berangkat sekolah dengan tekad "harus bisa membuat Baekhyun buka mulut". Harus! Kebetulan hari ini ada mata pelajaran olahraga di jam pertama dan kedua. Jadi ada banyak kesempatan memaksa Baekhyun menghadapi dirinya tanpa menarik perhatian teman-teman sekelas.
Setelah mengganti seragam dengan kaus olahraga dan celana pendek, Chanyeol turun ke lapangan bersama cowok-cowok sekelas lainnya. Otaknya berpikir keras, mencari cara agar tekadnya bisa terlaksana. Semakin cepat semakin baik.
Tapi belum lagi cara itu ditemukan, Chanyeol keburu mematung di tengah anak tangga. Ia berhenti melangkah dan berdiri dengan tatapan tertuju lurus-lurus ke satu titik di lapangan.
Kalo ngiket rambut nggak pernah rapi. Asal keiket. Tapi itu malah bikin dia jadi tambah manis.
Salah satu poin dalam catatan yang ditinggalkan Kris, kini ada di depan mata. Menghantam Chanyeol dangan keras dan membuatnya kembali mengalami perasaan asing itu.
Dengan kedua rahang terkatup rapat, Chanyeol menghampiri Baekhyun yang sedang berada di lapangan voli bersama cewek-cewek sekelas lainnya. Tanpa
bicara, ditariknya karet pengikat kucir rambut Baekhyun sampai terlepas sehingga rambut cewek itu terurai.
Baekhyun menoleh kaget. Chanyeol menyambut tatapan kaget itu dengan harapan akan keluarnya protes dari mulut Baekhyun, minimal gerutuan, sehingga ada alasan bagi dirinya untuk terus menyerang cewek itu dengan kata-kata. Namun Baekhyun tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Bukan saja karena cewek itu ingat dengan tekadnya sendiri untuk tidak terpancing, tapi juga karena kaget dengan tindakan Chanyeol itu.
Beberapa detik terlewat, dan Chanyeol merutuk dalam hati saat sadar Baekhyun tetap bungkam. Akhirnya ia meraih satu tangan Baekhyun dan meletakkan karet pengikat rambut itu di telapaknya. Kemudian Chanyeol balik badan dan pergi begitu saja.
Baekhyun hanya bisa menatap dengan mulut ternganga. Begitu juga teman-teman sekelas yang menyaksikan itu. Ketika kesadarannya telah kembali, Baekhyun menggerutu dalam hati sambil mengikat kembali rambutnya. Tetap dengan gaya khasnya. Asal mengikat. Berantakan.
"Ayo, lanjut! Giliran gue yang serve, kan?" serunya ke arah teman-temannya yang masih berdiri diam, terpesona dengan kejadian tadi. Mereka tersadar. Keenam cewek yang jadi tim lawan Baekhyun segera bergeser jauh-jauh ke luar lapangan.
"Kok pada mencar!?" seru Baekhyun heran.
"Elo kan biasa, Baek. Lapangannya di mana, serve-nya ntar ke mana!" seru Yuju.
Baekhyun terkikik. Sejak SMP, Baekhyun memang terkenal bego olahraga. Kecuali lari. Apalagi kalau olahraga itu berbentuk kerja sama tim, seperti basket atau voli. Teman-teman yang kebagian satu tim dengan Baekhyun biasanya langsung patah semangat. "Yaah, ada Baekhyun. Pasti kalah deh…," ucap mereka setiap kali selesai dilakukan pembentukan tim. Seterusnya yang biasanya akan terdengar adalah seruan-seruan yang seperti saat ini sedang dilontarkan teman-temannya.
"Baekhyun jangan disuruh serve deh. Bolanya ke mana-mana!"
"Netnya dinaekin aja deh. Atau diturunin aja sampai menempel di tanah. Baekhyun nih, kalo nggak bolanya nabrak net, pasti lewat kolong."
Itu kalau voli. Kalau basket biasanya…
"Bolanya ditendang aja, Cit. Abis lo kalo drible ngaco."
"Khusus buat Baekhyun, kalo dia bisa ngelempar bola sampe setinggi tiga perempat tiang, anggap aja tuh bola hampir masuk ring. Minimal kena bibirnya ring deh."
Baekhyun sih cuma ketawa-ketawa mendengarnya, soalnya sudah biasa. Namun di sisi lain lapangan, seseorang sama sekali tidak mengganggap itu sebagai sesuatu yang lucu. Justru sebaliknya.
Chanyeol berdiri mematung. Kembali dirasakannya sensasi asing yang menggelisahkannya. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, satu poin lagi dalam catatan yang ditinggalkan Kris, ada di depannya.
Bego olahraga. Nggak ada satu pun olahraga yang dia bisa. Kecuali lari atau kabur.
Dengan geram kembali dihampirinya Baekhyun. Ada satu cara agar cewek itu tidak menjadi cewek yang disebutkan Kris dalam catatannya itu.
"Sori! Sori! Break sebentar, yaaa!?" seru Chanyeol, sambil mengangkat kedua tangannya membentuk huruf T dan tersenyum lebar. Chanyeol memasuki lapangan. Cewek-cewek itu seketika menghentikan permainan. Tidak peduli dengan tatapan teman-temannya, Chanyeol menghampiri Baekhyun. Tanpa bicara, dirapikannya ikatan rambut Baekhyun. Benar-benar rapi, sampai tidak ada satu helai rambut pun yang tidak terikat kecuali poni.
"Kalo ngiket rambut yang bener!" Chanyeol menegur tajam dan dengan ekspresi galak.
Chanyeol sangat berharap Baekhyun mau buka mulut. Ia tidak lagi berminat memperpanjang pertengkaran mereka seperti kemarin-kemarin. Ia hanya ingin Baekhyun bicara.
Namun Baekhyun tetap bungkam. Meskipun dari ekspresi wajahnya jelas terlihat cewek itu benar-benar kesal, juga malu. Ini di lapangan, dan yang olahraga bukan cuma kelas mereka doang. Bikin malu aja!
Sementara itu teman-teman mereka menyaksikan adegan itu dengan ternganga dan pandangan bertanya. Tapi mereka juga harus mengakui, untuk pasangan tukang berantem model Chanyeol sama Baekhyun, sumpah, tadi itu adegan yang romantis abis!
Tidak ada satu pun yang tahu bahwa alasan Chanyeol melakukan itu adalah karena Baekhyun melancarkan aksi diam, juga karena kali ini Chanyeol sadar usahanya kembali gagal.
Setelah sekali lagi meyakinkan ikatan rambut cewek itu benar-benar rapi, Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun dan mengancam pelan, "Kalo lo nggak mau gue dateng terus ngiket rambut lo lagi, jangan dilepas!" ancamnya pelan. Kemudian dia balik badan, "Oke, silakan lanjut!" serunya sambil meninggalkan lapangan.
"Bego olahraga"-nya Baekhyun memang hopelees. Tidak bisa dibenahi saat ini juga. Tapi paling tidak, ikatan rambutnya kini rapi. Jadi ini bukan Baekhyun yang dilihat Kris.
.
.
.
Sekali lagi kali ini Baekhyun pulang dengan perasan lega dan tanpa beban. Ternyata kalau nggak ditanggepin dan nggak dipikirin memang nggak bikin emosi ya? Katanya dalam hati. Cewek itu berjalan menuju halte dengan langkah ringan. Sementara Chanyeol justru semakin emosi, dan tambah emosi lagi saat melihat Baekhyun berdiri diantara kerumunan siswa yang sedang menunggu bus di halte.
Lewat sudut mata, Baekhyun juga mengetahui kehadiran Chanyeol. Cewek itu bersyukur banget karena bus yang ditunggunya sudah datang. Jadi ia bisa selamat. Begitu bus berhenti di hadapan,Baekhyun buru-buru naik dan menghilang di dalam perut kendaraan umum yang sarat penumpang itu.
"Kurang ajar tuh cewek! Sialan!" Chanyeol memaki pelan. Tetapi begitu bus yang ditumpangi Baekhyun melaju pergi, entah kenapa lagi-lagi Chanyeol merasakan itu… rasa asing yang selalu membuatnya gelisah.
Kegelisahan itu ternyata bertahan. Menemaninya selama perjalanan pulang. Menyertainya saat menyantap makan siang, hingga Chanyeol nyaris tidak merasakan apa yang sedang disantapnya.
Menjelang malam, kegelisahan itu membuat Chanyeol semakin kacau dan meledak tepat di saat hari tengah gelap. Dan Chanyeol terenyak.
Kini ia tahu pasti apa yang membuatnya gelisah belakangan ini. Karena Baekhyun sudah tidak lagi mengeluarkan suara. Karena cewek itu benar-benar bungkam. Karena cewek itu terang-terangan bersikap seakan ia tak terlihat, seakan ia tak ada.
Kini Chanyeol juga yakin, perasaan asing yang merambati hatinya belakangan ini, karena Baekhyun telah membuatnya berdiri di tempat yang sama seperti Kris!
Menempatkannya di luar lingkaran. Hanya bisa melihat. Hanya bisa mengawasi. Dan hanya bisa diam.
Kemudian Chanyeol menyadari dirinya mulai dikecam ketakutan. Ketakutan yang ternyata membuat kemarahannya menyurut sampai benar-benar ke titik terendah, dan akhirnya hilang.
Tidak bisa! Chanyeol menggeleng kuat tanpa sadar. Baekhyun tidak bisa menempatkan gue di tempat yang sama seperti Kris, pikir Chanyeol. Kris sudah pergi. Dia sudah tidak ada lagi.
.
.
.
Keesokan harinya Chanyeol berangkat sekolah kembali dengan tekad harus bisa membuat Baekhyun buka mulut. Namun kali ini tidak dengan kemarahan. Sengaja Chanyeol datang lebih pagi, berharap akan ada lebih banyak kesempatan sebelum penghuni kelas keburu berdatangan.
Tapi tidak berguna. Baekhyun datang hanya sepuluh menit menjelang bel, dan langsung membuat Chanyeol terpaku di bangkunya.
Ada begitu banyak warna biru melekat pada Baekhyun pagi ini. Chanyeol mematung menatap nuansa biru itu, dan seketika teringat pada satu kalimat yang tertulis pada lembar catatan tentang Baekhyun yang ditinggalkan Kris.
Suka banget warna biru.
"Lo suka warna biru ya, Baek?" mulut Chanyeol terbuka begitu saja.
Baekhyun belagak tidak mendengar. Ia juga tidak mau menoleh. Setelah memasukkan tasnya ke laci, cewek itu langsung berjalan lagi ke luar kelas. Karena tidak mau menoleh itulah Baekhyun jadi tidak tahu perubahan yang terjadi pada Chanyeol. Yang jelas-jelas tertangkap di otaknya adalah Chanyeol belum menyerah.
Bel masuk berbunyi. Baekhyun melangkah masuk dengan malas. Selalu begitu. Momen-momen menjelang dirinya harus berada di sebelah Chanyeol selalu bikin Baekhyun bete. Apalagi saat berada di sebelah Chanyeol, bikin bete lagi. Dan, benar saja. Baru juga dua detik ia duduk, Chanyeol sudah menyambutnya dengan pertanyaan.
"Baek, lo suka warna biru ya?"
Lagi-lagi Baekhyun tidak menoleh, apalagi menjawab, karena di kepalanya sudah muncul berbagai dugaan. Chanyeol pasti mau bilang: "Apaan tuh? Selera jelek! Warna yang keren tuh silver. Warna milenium. Warna kuat. Biru? Norak! Pasti orangnya melankolis nggak jelas. Sensi. Suka berkhayal. Gampang tersinggung!"
"Iya, kan? Lo suka warna biru?" tanya Chanyeol lagi, suaranya terdengar lunak.
Di saat yang bersamaan, Baekhyun teringat tiga buah stabilonya -kuning, hijau dan biru- yang kemarin dipinjam Jongdae. Cewek itu langsung merasa lega karena ada alasan untuk tidak mengacuhkan Chanyeol.
"Jongdae, stabilo gue mana? Gue mau pake nih!" serunya, bangkit berdiri dan menghampiri meja Jongdae. Kemudian Baekhyun sengaja berlama-lama di sana, dan baru kembali ke bangkunya setelah guru datang.
Chanyeol menabrak dinding!
Tiba-tiba cowok itu menyadari ia melakukan tindakan yang persis seperti yang dulu dilakukan Kris. Mengamati Baekhyun dan tingkah lakunya dari kejauhan. Seperti yang sedang dilakukannya saat ini.
Di kantin, Chanyeol memilih duduk di antara siswa-siswa kelas lain yang tidak dikenalnya agar tidak perlu bicara. Dengan begitu ia bisa tenang memerhatikan Baekhyun. Dengan piring gado-gado ditangan masing-masing, Baekhyun dan Kyungsoo menghampiri salah satu teman sekelas mereka, Hana, lalu duduk di depannya.
Hana itu religius banget. Anak-anak lain sih kalau mau makan ya makan aja. Kalaupun sebelumnya pake acara berdoa, paling berdoa ala kadarnya. Kalau Hana lain. Berdoanya khusyuk. Pakai acara nunduk segala. Matanya merem, lagi. Sudah begitu bacaannya banyak pula. Selain berterima kasih karena Tuhan telah memberinya berkat makanan ini, ia juga berdoa untuk orang-orang disekitarnya, terutama mereka yang kesusahan. Memohon pada Tuhan agar mereka juga diberikan berkat makanan.
Hana lupa bahwa di depannya ada setan. Dua, lagi. Begitu cewek itu selesai berdoa dan membuka mata… berkat makanannya sudah hilang!
Yang raib bagian yang paling enak, lagi. Nasi sama sayurnya sih masih utuh. Tapi ayamnya telah menghilang. Tanpa meninggalkan jejak.
Dengan bingung Hana menatap piringnya, kemudian mencari-cari di lantai dan kolong meja. Tatapannya beralih ke Baekhyun dan Kyungsoo yang duduk di depannya. Ia ingin bertanya tapi urung, karena dilihatnya kedua temannya itu sedang berdoa. Lebih khusyuk daripada doanya sendiri tadi. Saking baiknya si Hana ini, sampai tidak terlintas dalam pikirannya bahwa orang yang sedang berdoa dengan sangat khusyuk pun patut dicurigai. Apalagi kalau yang berdoa si Baekhyun.
Baru setelah Baekhyun dan Kyungsoo selesai berdoa dan membuka mata, Hana menanyakan ayamnya yang telah menghilang itu. Tentu saja jawaban yang diterimanya adalah gelengan kepala.
Baekhyun dan Kyungsoo lalu membantu Hana mencari ayam gorengnya yang raib itu. Baekhyun yang paling semangat. Ia sampai mencari-cari keluar kantin segala. Alasannya, "Kan lo tau sendiri, ayam suka lari-larian."
"Inikan ayam goreng gitu lho, Baek," kata Hana kesal.
Dari tempat duduknya, Chanyeol menyaksikan peristiwa itu. Cowok itu tersenyum geli tanpa sadar. Namun tak lama senyum itu menghilang.
Chanyeol merasa tidak seharusnya ia melakukan hal yang sama seperti yang pernah dilakukan Kris. Kalau Kris sih punya alasan kuat. Baekhyun kan tidak kenal dia. Sementara Chanyeol mengenal Baekhyun. Lagi pula, masa sih harus mengamati terus cewek yang setiap hari duduk bersamanya, cuma setengah meter di sebelahnya!
Ketika kembali ke kelas, kembali Chanyeol bertekad harus harus bisa membuat Baekhyun bicara padanya. Harus bisa membuat Baekhyun menoleh dan menatapnya. Harus bisa!
Dan apa yang diinginkan Chanyeol terjadi, tapi sama sekali tidak seperti yang diharapkannya. Sehun, teman sebangku Jongdae, minta izin untuk pulang. Sekarang Jongdae duduk sendiri. Cowok itu lalu mengajak Baekhyun duduk bersamanya. Baekhyun jelas langsung setuju karena ia bisa terbebas dari Chanyeol. Sesuatu yang indah banget!
Chanyeol jadi gusar saat mendadak sendirian dan sekarang Baekhyun sekarang ada di pojok, di sebelah Jongdae. Baekhyun, cewek yang ditaksir Kris. Karena sang kakak itu sekarang sudah tidak ada, bagi Chanyeol satu-satunya tempat untuk Baekhyun adalah di sebelahnya.
"Baekhyun, balik sini. Jangan duduk di situ!" perintahnya.
"Apa sih tu orang?" Baekhyun melirik malas.
"Nggak bagus cewek duduk di belakang gitu. Di pojok, lagi. Balik sini!" perintah Chanyeol lagi, jadi semakin gusar.
"Lo kenapa sih, Yeol? Segitu galaknya. Biarin aja. Terserah dia mau duduk di mana, lagi," kata Jongdae, Chanyeol tidak menggubris ucapan Jongdae.
"Kalo lo nggak mau duduk di sini, balik ke bangku lo sana!"
"Gimana bisa, lagi?" Baekhyun menjawab dengan kesal. "Gue mau duduk di mana? Bangku gue ditempati temen lo gitu. Kan elo yang nyuruh dia dudukin bangku gue."
Chanyeol langsung mengarahkan tatapannya ke Kai. Teman-teman sekelas lainnya juga menatap ke arah Kai dengan bingung.
"Kai, lo balik sini!" seru Chanyeol.
"Nggak, ah!" Kai menolak seketika.
"Balik sini, Kai. Please banget. Biar Baekhyun duduk di situ."
Intonasi suara Chanyeol menurun, berusaha membujuk Kai agar bersedia pindah. Tapi Kai tatap menolak. Jelaslah. Yang membuatnya jadi bersemangat
berangkat ke sekolah setiap pagi kan karena duduk sebangku sama Kyungsoo, cewek pujaannya itu. Balik ke belakang lagi, duduk di antara kaum sejenis lagi, bakalan bikin garing dan bego, karena kebanyakan bercanda daripada belajar.
Guru datang. Chanyeol terpaksa menghentikan usahanya, terpaksa pasrah membiarkan Baekhyun sebangku dengan Jongdae, dan terpaksa ia duduk sendirian.
Sementara itu seisi kelas kembali bingung saat melihat Chanyeol begitu marah hanya karena Baekhyun menolak duduk di sebelahnya. Berarti asumsi yang dulu itu, bahwa Baekhyun naksir Chanyeol, salah. Yang betul adalah sebaliknya. Chanyeol yang naksir Baekhyun!
Untuk menghindari Chanyeol dan kemarahannya yang tidak jelas itu, lima menit sebelum bel pulang Baekhyun sudah membereskan buku dan alat tulisnya.
"Lo mau langsung kabur, ya?" bisik Jongdae.
"He-eh." Baekhyun meringis. "Gue lagi males berantem. Mending pulang. Makan trus tidur."
"Kenapa sih dia? Segitu marahnya?"
"Tau tuh. Nggak jelas."
Begitu bel pulang berbunyi, Baekhyun lansung ngibrit ke luar kelas. Chanyeol hanya bisa menatapnya geram. Ia tidak bisa mengejar karena propertinya masih berantakan, ditambah belum selesai mencatat pula.
.
.
.
Kesempatan itu datang keesokan harinya. Chanyeol mendapati Baekhyun sedang berdiri di depan Kyungsoo dengan tampang panik. Dari pembicaraan kedua cewek itu yang tidak sengaja tertangkap olehnya, ternyata Baekhyun lupa membawa buku cetak Pendidikan Kewarganegaraan. Sialnya, hari ini jelas yang punya jadwal pelajaran itu cuma kelas mereka.
Baekhyun pantas panik. Soalnya Bu Sunny, guru PKN, memang paling antipati dan paling ngamuk kalau ada murid yang tidak membawa buku cetak pada jam pelajarannya. Tidak peduli apa pun alasannya. Informasi itu berdasarkan sumber-sumber yang sangat bisa dipercaya, yaitu para murid yang pernah tidak membawa buku cetak PKN karena berbagai alasan kemudian merasakan amukan Bu Sunny.
Merasa telah menemukan celah untuk meruntuhkan dinding yang dibangun Baekhyun, Chanyeol tidak lagi mencoba mengajaknya bicara. Baru setelah pergantian jam pelajaran dan giliran PKN tiba, Chanyeol buka mulut.
"Kenapa?" tanya Chanyeol. "Lo nggak bawa buku cetak PKN, ya?"
"Lupa!" jawab Baekhyun. Suara pertama yang ditunjukan untuk Chanyeol, setelah berhari-hari bungkam. Ketus. Kasar. Namun Chanyeol bersyukur karena bibir cewek itu akhirnya terbuka juga untuknya.
"Sama saja. Tetap aja judulnya nggak bawa, kan?"
Baekhyun semakin kesal. Kalau tadi ia meladeni Chanyeol dengan tatapan ke depan, sekarang cewek itu menoleh dan menatap mata Chanyeol langsung.
"Trus kenapa? Lo mau ikutan marahin gue juga? Boleh aja. Nggak apa-apa. Tapi tunggu giliran, ya? Bu Sunny duluan, baru elo."
"Nih!" Chanyeol meletakan buku cetak PKN-nya di depan Baekhyun. "Lo pake aja. Sekarang cariin gue pinjeman buku cetak apa aja. Yang penting depannya bersampul."
Baekhyun terpana menatap Chanyeol. Tampang judesnya langsung hilang.
"Buruan!" perintah Chanyeol galak. "Malah bengong, lagi. Nanti keburu Bu Sunny dateng!"
"Iya! Iya!" cepat-cepat Baekhyun bangkit berdiri. Tidak sulit mencari buku cetak yang bersampul. Tak lama ia kembali dengan buku cetak matematika milik Hana.
"Stroberi!?" Chanyeol melotot. "Ada pita-pitanya, lagi. Lo gimana sih? Ini sama aja langsung ngasih tau Bu Sunny kali ini bukan buku gue."
"Lo bilang tadi yang depannya bersampul?"
"Ya jangan stroberi pake pita dong, Baek. Mana warnanya pink pula. Ini kan cewek banget. Kecuali kalo selama ini gue punya gejala homo."
"Nggak ada lagi. Bukunya Lisa, sampulnya gambar permen warna-warni. Bukunya Yuju, sampulnya malah Winnie The Pooh."
Chanyeol memandangi buku cetak matematika milik Hana lalu mendecakkan lidah. "Ampun deh!" katanya sambil geleng-geleng kepala. Senyum pasrah tergambar dibibirnya. Melihat ekspresi Chanyeol, Baekhyun jadi tidak bisa menahan geli. Tiba-tiba tawanya lepas berderai. Chanyeol meliriknya.
"Ketawa, lagi!" Chanyeol mendengus, membuat Baekhyun semakin terkekeh-kekeh.
"Oh, iya!" seru Baekhyun kemudian. "Semua bukunya Jeno kan disampul cokelat tuh."
"Oh, iya!" Chanyeol menjentikkan jari. "Buruan, Baek. Pinjemin satu. Buku cetak apa aja. Tapi jangan matematika. Angka doang soalnya."
"Iya, udah tau. Buku cetak yang banyak hurufnya, kan?" seru Baekhyun, yang saat itu sudah berjalan dengan langkah-langkah cepat menuju bangku Jeno.
"Sip!" Chanyeol berseru balik.
Berhubung Jeno selalu menuliskan namanya dan nama buku pelajaran yang bersangkutan di sampul depan, terpaksa Chanyeol dan Baekhyun melepaskan sampul cokelat dan membaliknya -bagian dalam jadi bagian luar- untuk menyembunyikan nama sang pemilik buku dan tulisan "Bahasa Indonesia" yang tertera di sana. Beres sudah! Buku tersebut sekarang sedang berpura-pura sebagai buku PKN.
Chanyeol dan Baekhyun mengembuskan napas lega bersamaan. Tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa ketegangan di antara mereka telah mencair. Kemarahan menghilang dan semua pertengkaran yang pernah terjadi terlupakan.
Namun beberapa saat kemudian keduanya tersadar. Dengan meminjam buku Jeno, itu sama saja langsung mengatakan pada Bu Sunny bahwa buku yang sekarang ada ditangan Chanyeol itu bukan buku PKN. Karena di kelas mereka, yang buku-bukunya disampul cokelat cuma bukunya si Jeno. Dan Jeno tidak mungkin punya dua buah buku PKN. Jadi salah satu dari dua buku yang saat ini bersampul cokelat pasti palsu. Dan bisa dipastikan, buku yang sedang berpura-pura sebagai buku PKN adalah buku yang sekarang sedang dipegang Chanyeol!
"Gue pinjam lagi bukunya Hana yang tadi deh. Nih, buku lo." Baekhyun mengembalikan buku PKN Chanyeol lalu bangkit berdiri.
Terlambat!
Bu Sunny sudah muncul di ambang pintu. Baekhyun langsung duduk kembali.
"Udah, lo pake aja," bisik Chanyeol sambil menggeser kembali bukunya ke depan Baekhyun.
"Trus lo gimana?" bisik Baekhyun. Ditatapnya Chanyeol dengan kecemasan sarat.
"Ya doain aja mudah-mudahan ntar nggak ketauan. Soalnya kalo ketauan, gue bakalan abis diomelin."
Kemudian, mengikuti seisi kelas, Chanyeol membuka buku di depannya pada halaman yang diperintahkan Bu Sunny.
"Muka lo jangan keliatan cemas gitu dong. Ntar gue malah langsung ketauan," bisiknya saat tak sengaja menoleh sekilas dan melihat Baekhyun sedang meliriknya dengan ekspresi cemas yang terlihat jelas. Cewek itu buru-buru mengubah air mukanya.
Selanjutnya adalah bagian yang paling berat. Kalau sedang menerangkan pelajaran, Bu Sunny tidak pernah diam di satu tempat. Selalu sambil jalan ke sana kemari. Makanya Chanyeol kembali menutup bukunya, karena susunan paragraf dan letak subjudulnya yang berbeda akan membuat siapa pun yang melihat -bahkan dari kejauhan- tahu bahwa yang ada di depan Chanyeol itu bukan buku PKN.
Tapi sampul cokelat memang sudah menjadi trademarks Jeno. Jadi begitu di kelas itu ada dua buku bersampul cokelat, Bu Sunny langsung tahu, buku yang dipegang Chanyeol adalah buku Jeno. Entah buku cetak pelajaran apa, yang jelas buku tersebut sekarang sedang menyamar sebagai buku cetak pelajaran PKN.
Dengan wajah yang perlahan berubah dingin, Bu Sunny menancapkan pandangannya pada Chanyeol lalu memberi perintah dengan nada tajam.
"Kamu yang di belakang, siapa namamu?" Bu Sunny yang berdiri bersandar di meja guru segera meraih buku absensi murid dari meja di sebelahnya. "Chanyeol. Coba kamu baca tiga paragraf pertama!"
"Mampus gue!" desis Chanyeol. "Ketauan juga. Cepet, lagi!"
Diiringi Baekhyun yang meliriknya dengan tatapan cemas dan rasa bersalah, Chanyeol mengangkat kepala.
"Saya lagi sakit gigi, Bu," ucapnya dengan suara dibuat semelas mungkin.
Jelas Bu Sunny tidak percaya. Selain karena beliau sudah tahu yang dipegang Chanyeol bukan buku mata pelajaran yang diajarkannya, juga karena tampang Chanyeol tidak sepeti tampang orang yang lagi sakit gigi.
"Membaca pelan-pelan saja kalau begitu," ucap Bu Sunny dengan nada manis.
"Eeemmm…." Chanyeol kebingungan.
"Kamu tidak bawa buku, kan? Buku yang kamu pegang sekarang itu bukan buku pelajaran saya, kan?" Nada manis dalam suara Bu Sunny menghilang dan berubah galak. Tatapannya lurus dan tajam ke arah Chanyeol.
Chanyeol sadar, percuma mengelak. Hanya akan memperburuk keadaan.
"Iya, Bu. Saya lupa bawa buku." Diiringi keterperangahan Baekhyun, Chanyeol mengangguk.
Begitu Chanyeol mengaku, Bu Sunny langsung ngomel panjang lebar dan dengan nada berapi-rapi pula.
Dimulai dengan mengatakan Chanyeol tidak menghargai pelajaran yang dia berikan, dan berujung pada kenyataan bahwa Chanyeol adalah model generasi muda yang sama sekali tidak menghargai nilai-nilai perjuangan para pahlawan dan arti kemerdekaan bagi suatu bangsa.
Chanyeol baru tahu, juga Baekhyun dan seluruh isi kelas yang mengikuti jalannya peristiwa Bu Sunny mengomel itu dengan sangat seksama, bahwa tidak membawa buku PKN ternyata termasuk bentuk penghianatan terhadap perjuangan para pahlawan yang rela gugur demi Kemerdekaan Negara Indonesia.
Kesimpulannya, tidak membawa buku cetak pada jam pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah satu bentuk kejahatan yang sangat serius, dan kalau saja ada undang-undangnya, mungkin Chanyeol sudah masuk penjara.
Setelah mengomel panjang lebar begitu, ternyata masih belum cukup. Bu Sunny kemudian memerintahkan Chanyeol untuk meninggalkan kelas.
Baekhyun tersentak. Ia sudah hendak buka mulut, akan mengakui dialah yang tidak membawa buku. Namun Chanyeol segera mengulurkan tangan. Disentuhnya tangan kanan Baekhyun yang terletak dipangkuan, lalu diremasnya sesaat dan pelan, mengisyaratkan agar jangan bicara apa-apa.
Kemudian Chanyeol bangkit berdiri dan berjalan ke luar kelas, diiringi tatapan bersalah Baekhyun dan tatapan iri cowok-cowok di deretan belakang. Asyik banget si Chanyeol, nggak belajar. Curang tuh anak, nggak ngajak-ngajak.
Jam pelajaran PKN berakhir bertepatan dengan istirahat kedua. Begitu Bu Sunny meninggalkan kelas, Baekhyun langsung berlari menuju kantin. Dugaannya tepat. Chanyeol ada di sana. Cowok itu menyambut kedatangan Baekhyun yang tergesa-gesa itu dengan senyum. Senyum yang terlihat masih agak kikuk, karena ini pertama kali Baekhyun menghampirinya tanpa raut dingin, cemberut, marah atau ekspresi-ekspresi nggak enak lainnya.
"Maaf ya tadi? Maaf banget. Seharusnya tadi biar aja gue ngaku." ucap Baekhyun begitu sampai di depan Chanyeol. "Trus, lo nongkrong sendirian di sini selama dua jam pelajaran, ya? Apalagi tadi kepsek lewat. Trus, lo langsung ngumpet, kan?" seru Baekhyun seketika.
"Nggak ada gunanya. Emang nggak ada laporan, apa? Gue dikeluarin dari kelas gini," ucap Chanyeol, mendengar itu Baekhyun jadi semakin merasa bersalah. "Bayarin somay sama minum gue deh. Biar tampang lo nggak feeling guilty banget gitu."
"Oke!" Baekhyun langsung mengangguk. Dia tersenyum dan balik badan. Tak lama dia kembali dengan sepiring somay dan segelas air mineral. "Nih!" Dia sodorkan seplastik kacang kulit ke hadapan Chanyeol. "Buat iseng sambil nemenin gue makan."
Kata-kata Baekhyun itu membuat Chanyeol tercengang. Kebetulan banget! Chanyeol juga sedang memikirkan alasan untuk menemani Baekhyun makan.
"Bego ya kita? Kok bisa-bisanya nggak sadar kalo Jeno itu mungkin satu-satunya anak SMA diseluruh Indonesia yang buku-bukunya disampulin cokelat," ucap Chanyeol sambil mebuka plastik pembungkus kacang kulit.
Mendengar itu, Baekhyun batal menyuapkan potongan somay ke mulutnya. Dia mengangguk kuat-kuat.
"Iya emang. Ini semua gara-gara Jeno!"
Keduanya lalu tenggelam dalam obrolan tanpa sekat. Pertama kali berdekatan tanpa bertengkar. Pertama kali makan di kantin berdua. Dan pertama kali merasa dekat satu sama lain.
.
.
.
TBC
.
.
.
almaepark mereka emang bikin greget ye kan wkwkwk.. awas hati-hati, sebelum yuh tangan nyampe buat ngelus udah dipitek duluan sama baekhyun haha
rorororonoaa pokoknya ikutin aja terus ya ceritanya.. ntar kamu juga bakalan tau #smirk 😏. Kayaknya emang udah mulai terpesona tuh anak haha. Ini udah update ya..
Byuniebee tau tuh si Chanyeol absurd banget dah wkwkwk. Ini udah update ya.. makasih udah kasih semangat
B dongsaeng telat kasih peringatannya, tuh anak udah mulai jatuh cinta wkwk. Ini udah next ya..
.9047 wahhh banyak team baekhyun nih, okelah biar aku aja yang team Chanyeol, kasian dia gak ada pendukung haha
agnesnes annyeong juga.. aduh kalo ngomongin chapter-chapter awal, aku tuh suka baper sendiri. Bener-bener nyesek inget sama Kris :'(((. Chanyeol emang nyebelin, tapi dia kayak gitu juga sebenernya karena terlalu ngerasa sedih dan nyari pelampiasan buat ngelupain kesedihan dia. Ini udah next ya, makasih loh udah mampir dan sempetin baca, makasih juga semangatnya ya..
SexYeol kayaknya emang udah ada benih-benih daun eceng wkwk. Ini udah next ya..
Sebenernya bahan mentah udah ada sampe chapter 13, tapi aku gak bisa fast update karena tugas kuliah yang numpuk. Aku Cuma bisa update seminggu sekali, maaf ya reader-nim.. semoga kalian tetep nunggu update story ini..
Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff remake ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~
So, how about this chapter?
RnR juseyooo~
Follow my ig: baekhill_byun
_Hill_ 160218
