DIA, TANPA AKU

Remake Story by Esti Kinasih

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

OCs

.

.

[DISCLAIMER]

Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.

.

.

Capter 11

.

.

Happy reading..

.

.

USAI makan malam, Baekhyun mendekati mamanya yang sedang santai di depan TV, lalu duduk di sebelahnya.

"Ma, besok aku nggak sekolah, ya? Aku malu banget tadi."

"Ya jelas aja malu. Masa tembus sampai sebanyak itu sih?"

"Makanya. Aku besok nggak sekolah, ya? Malu banget nih."

"Memang ceritanya gimana sih?" tanya mama Baekhyun sambil melirik putrinya. Saat Baekhyun menceritakan kejadian itu, reaksi mamanya adalah tertawa terpingkal-pingkal.

"Mama kok ketawa sih?"

"Ya kamu o'on sih," jawab mamanya santai. "Kayak baru dapat mens pertama kali aja. Kayak mama nggak pernah ngajarin mesti gimana."

"Namanya juga salah perhitungan. Ya, ma? Besok aku nggak sekolah, ya?"

"Oke, satu hari aja. Nanti mama buatkan surat izin buat guru piket. Tapi lusa, mau nggak mau kamu harus hadapin. Biar nggak masuk setahun, orang tetap nggak akan lupa. Tetep akan ada yang ngeledekin kamu."

"Iya. Iya. Satu hari aja." Baekhyun cepat-cepat mengangguk. Lusa biar urusan lusa deh. Yang penting besok selamet!

Baru lima menit Baekhyun merasa gembira, telepon di meja kecil di sudut ruangan berdering. Dari Chanyeol, dan cowok itu langsung ke permasalahan.

"Baek, lo besok masuk, kan?"

"Hah?" Baekhyun tercengang.

"Lo besok masuk, kan?" ulang Chanyeol. "Nggak ngumpet di rumah?"

"Kenapa lo ngomong begitu?" tanya Baekhyun takjub.

"Nggak tau. Feeling aja. Kalo nggak gue telepon lo sekarang, kayaknya gue besok bakalan duduk sendirian."

Baekhyun makin tercengang. Akhirnya ia mengaku. "Iya sih. Besok gue nggak pengin masuk. Sehari aja kok. Abis malu banget."

"Benerkan feeling gue?" Di seberang Chanyeol tertawa. "Masuk dong. Ya?"

"Gue malu banget, Chan. Sumpah!"

"Yang dibikin malu kan kita berdua. Trus besok lo mau ngebiarin gue malu sendirian, gitu? Nggak bertanggung jawab banget lo."

"Yaaah…." Baekhyun bingung.

"Besok lo gue jemput deh. Kita berangkat bareng," ucap Chanyeol, mengagetkan Baekhyun. Cewek itu sampai tidak bisa bicara. "Oke, ya? Besok gue jemput."

"Naik apa?"

"Bus!" jawab Chanyeol pendek. "Sampe besok, ya. Bye!" terdengar suara telepon ditutup.

Baekhyun meletakan gagang telepon. Masih setengah tak percaya.

"Besok jadi bolos, nggak?" goda mamanya.

"Nggak." Baekhyun meringis. "Ada yang takut sendirian," sambungnya, malu.

"Baru aja masuk SMA, udah punya pacar. Awas kalau nilai-nilai kamu jadi jelek, ya," ancam mamanya.

Baekhyun tertegun. Bukan karena ancaman itu.

"Idih. Emang siapa yang bilang dia pacar aku sih?" ralatnya kemudian. Tapi setengah hati.

Mamanya berlagak tidak mendengar. Begitu Baekhyun berjalan ke kamarnya dan akan menghilang di sana, sang mama mengulangi ancamannya, "Awas ya kalau nilai-nilai kamu jadi jelek."

Baekhyun menutup pintu kamarnya. Tampangnya cemberut. Dan begitu sendirian, ia menyadari satu hal. Satu keadaan yang sama sekali baru.

Dirinya gelisah. Sangat gelisah. Mendadak semuanya jadi serbasalah. Tidak satu pun usahanya untuk menghilangkan kegelisahan pekat itu -untuk membuat dirinya tenang sebentar saja- berhasil.

Usaha pertama, nonton TV. Dengan volume untuk orang yang kurang pendengaran, dan nontonnya dengan jarak yang cocok untuk orang yang matanya kena katarak. Tapi gagal! Baekhyun tetap gelisah.

Usaha kedua, belajar. Persiapan buat esok. Baekhyun meraih salah satu buku dari tumpukan di depannya. Bahasa Inggris. Pelajaran besok yang paling berat. Dibukanya bab yang telah dipelajari minggu sebelumnya. Kemudian ia mencoba berkonsentrasi untuk mengingat kembali pelajaran terakhir yang diberikan guru. Jelas lebih gagal! Nggak ada masalah aja, masuk ke otaknya susah. Apalagi ditambah ada masalah. Dengan kesal Baekhyun menutup buku di depannya.

"Belagu banget sih gue!" desisnya, mencela diri sendiri.

Kemudian dipandangnya seisi kamar, mencari-cari usaha lain. Dan matanya tertumbuk pada keranjang rotan kecil di kolong tempat tidurnya. Terkadang mamanya suka menemaninya belajar sambil menyulam.

"Coba nyulam, ah!" serunya, dan lansung bangkit dari kursi. Ditariknya keranjang itu dari kolong tempat tidur. Tak lama, Baekhyun sudah asyik menyulam, berbekal pelatihan singkat yang pernah diberikan mamanya dengan paksa.

Dan ternyata…. berhasil! Berhasil membuat sulaman mamanya yang sudah hampir selesai itu jadi kacau!

Baekhyun buru-buru meletakkannya kembali ke dalam keranjang. Tentu saja dengan bagian yang rusak itu tersembunyi dengan sangat baik.

Akhirnya cewek itu menyerah dari usaha menenangkan diri. Gantinya, ia duduk di lantai dengan punggung bersandar di dinding. Mencoba mencari akar penyebab kegelisahannya itu.

Besok pagi Chanyeol akan menjemputnya dan untuk pertama kalinya mereka akan berangkat sekolah bersama. Cuma itu sih sebenarnya. Baekhyun tercenung. Tapi kok gue jadi nggak jelas gini ya? Keluhnya dalam hati.

Baekhyun tidak menyelesaikan analisisnya, karena tiba-tiba teringat hal lain yang menurutnya lebih mendesak.

"Wah, besok gue pake apa, ya?" desisnya sambil buru-buru berdiri.

Dibukanya lemari tempat ia menyimpan semua tasnya. Lalu bibukanya laci tempat semua aksesoris tersimpan. Kemudian Baekhyun berjalan ke sudut ruangan, ke rak sepatu. Ditatapnya koleksi sepatunya satu per satu. Mendadak semua tas yang dimilikinya nggak ada yang bagus. Semunya jelek! Semua sepatu berikut kaus kakinya juga jelek. Semua koleksi aksesorinya nggak ada satu pun yang keren.

Baekhyun menatap semua propertinya dengan mata terbelalak.

"Gila!" desisnya. "Jadi selama ini gue ke sekolah pake barang-barang jelek ini? Kok gue nggak sadar, ya?" Ia menggelengkan kepala sambil berdecak-decak.

Kalau tadi Baekhyun gelisah karena besok Chanyeol akan menjemputnya, sekarang cewek itu kebingungan karena merasa tidak ada satu pun barang-barangnya yang keren dan layak dipakai jalan bareng cowok!

Sayangnya, untuk masalah yang satu ini, yang menurut Baekhyun malah lebih gawat, tidak ada solusinya sama sekali. Ia terpaksa menerima keadaan, karena kalaupun ia minta uang sama mama dan dikasih, ia tidak tahu apa yang harus dibeli lebih dulu. Soalnya ya itu tadi, barang-barangnya nggak ada yang keren.

Akhirnya Baekhyun mengalihkan perhatiannya pada hal lain.

"Nggak apa-apa deh barang-barang gue nggak ada yang oke, yang penting besok gue keliatan cakep!" putusnya setelah bercermin, mengamati wajahnya beberapa saat.

Jadi malam ini Baekhyun tidak belajar, karena sibuk mempercantik diri. Sibuk dan heboh, hingga menarik perhatian kedua orangtuanya, apalagi sang mama. Mama Baekhyun hanya memperhatikan tingkah anaknya itu dengan senyum. Tidak berusaha melarang, karena ini bagian dari proses yang memang harus dilalui setiap anak perempuan.

Jatuh cinta untuk yang pertama kali kadang membuat cewek dengan sadisnya menghakimi diri sendiri, menganggap diri jelek sementara semua cewek di seluruh dunia cakep-cakep. Selanjutnya, mereka berusaha keras

menjadi orang lain. Pengin kayak si A yang artis, si B yang model, atau yang lain, tapi tetap dalam kategori cewek populer.

Cewek yang bijak biasanya menyadari kelebihan diri sendiri, bahkan bangga dan akhirnya mengerti bahwa cantik, keren, atau oke, bentuk dan versinya ternyata bisa banyak sekali. Bahkan sering kali nggak ada hubungannya sama wajah atau bodi.

Proses ini bisa terjadi berulang kali. Bisa sebentar, tapi bisa juga makan waktu bertahun-tahun. Yang pasti, bisa sangat menyakitkan. Namun, itulah hidup. Mencari dan menemukan.

Mama Baekhyun kemudian meninggalkan anaknya yang sedang menggeletak. Telentang di karpet di depan radio, dengan muka tertutup masker tebal. Wanita itu tahu, sebentar lagi anak perempuannya akan membutuhkan bukan saja pendengar yang baik, tapi juga penasehat yang tepat.

.

.

.

Di saat yang bersamaan, di dalam kamarnya yang kini hanya dihuninya sendirian, Chanyeol berdiri di depan meja belajar Kris. Ada perasaan bersalah menyusupi hatinya, karena ia mulai naksir cewek kakaknya. Sebenarnya nggak bisa dibilang cewek Kris juga, karena Baekhyun tidak pernah mengenal Kris.

Chanyeol kaget sendiri ketika hati kecilnya kemudian langsung meralat. Bukan nggak pernah kenal, tapi nggak sempat. Kecelakaan itu membuat Baekhyun tak sempat mengenal Kris. Namun logikanya segera memberikan bantahan. Tidak sempat atau apa pun namanya, yang jelas Baekhyun tidak mengenal Kris. Titik! Jadi dirinya tidak bisa dibilang telah merebut pacar sang kakak.

Chanyeol menghela napas. Panjang dan berat. Masalahnya adalah, ia tahu banyak setiap usaha Kris demi cewek yang sudah lama diincernya itu. Meskipun pengamatan itu lebih sering dilakukan Kris sendirian -kadang-kadang ditemani Andika- Kris selalu menceritakan perkembangannya. Sekecil apa pun.

Kalau sedang merasa sangat gembira, Kris bahkan akan menceritakannya pada Yeri. Meskipun adik bungsunya itu jelas-jelas tidak tertarik. Kalau sedang sangat bahagia, Kris akan menceritakan semua kisah yang sudah pernah ia ceritakan. Dengan heboh dan berapi-api pula. Bukan hanya tentang pengamatannya yang terakhir, tapi juga pengamatan-pengamatan yang

sebelumnya. Lengkap dengan semua perkembangannya. Kris sama sekali tidak peduli meskipun pendengarnya sudah muak dengan ceritanya itu.

Masih terngiang di benak Chanyeol percakapannya dengan Kris waktu itu, ketika tenyata Baekhyun satu sekolah dengan Chanyeol.

"Awas kalo lo berani-berani naksir cewek gue!"

"Emang dia cewek lo! Kenal juga nggak."

"Ya kan ntar kalo dia udah nggak pake putih-biru lagi, udah kelar MOS, gue mau ke rumahnya. Kenalan."

"Emang kalo udah kenalan trus langsung jadi pacar, gitu? Jadi temen dulu, lagi. Di mana-mana juga gitu. Lagian juga belom tentu dia mau jadi cewek lo."

"Harus mau!" tandas Kris. "Enak aja. Gue udah nungguin lama-lama. Sering gue tongkrongin di sekolahnya pula."

"Kalo ternyata tu cewek nggak mau juga?"

Chanyeol masih ingat benar. Pertanyaan yang terakhir kemudian membuat Kris mendekatkan mukanya, sambil mendesis, tajam, dan berang.

"Pokoknya tu cewek harus mau jadi cewek gue. Gimana kek caranya!"

Saat teringat kembali percakapan itu, tanpa sadar Chanyeol tersenyum sendiri. Namun kemudian senyumnya menghilang perlahan.

Bagi Chanyeol, awalnya Baekhyun adalah bagian dari Kris yang masih tertinggal, yang masih hidup, yang masih bisa dilihat dan disentuhnya. Kadang, saat rasa kangennya pada Kris tak bisa lagi ditahan, Chanyeol berkhayal kakaknya itu muncul tiba-tiba di hadapannya, lalu berteriak di depan mukanya, "Hei! Jangan di pegang-pegang. Itu cewek gue!" seperti yang selalu dilakukan Kris tiap kali Chanyeol menyentuh foto-foto Baekhyun yang diambilnya dengan diam-diam. Kini, meskipun rasa itu masih ada, Chanyeol sudah tidak ingin mengelak lagi.

Sekarang tidak lagi murni seperti itu. Ia tidak ingin melepaskan Baekhyun, tapi terlebih, tidak ingin lagi menjaganya sebagai Kris's legacy.

Perlahan, Chanyeol melangkah mendekati potret Kris yang tergantung di dinding tepat di atas kepala tempat tidur sang kakak. Beberapa saat Chanyeol hanya berdiri diam di sana.

"Gue suka cewek lo," ucapnya kemudian. Suaranya lirih dan bergetar, sambil berusaha menantang foto Kris.

"Boleh nggak, dia buat gue?" Chanyeol meneruskan kalimatnya dengan susah payah.

Hening. Tidak ada suara apa pun yang terdengar di malam yang mulai larut itu, kecuali suara jantungnya sendiri yang berdetak sangat kencang. Namun, ada perasaan lega dan tenang saat akhirnya kalimat itu telah terucapkan.

.

.

.

Besoknya, Baekhyun bangun sebelum subuh. Ritualnya agak berbeda. Kalau biasanya selesai mandi ia merapikan diri dulu baru sarapan, sekarang agak lain. Selesai mandi dan masih di balut mantel handuk -tentu saja sebelumnya ia memakai underwear- Baekhyun langsung sarapan. Kali ini hanya dengan teh manis dan roti tawar. Mamanya, yang baru saja bangun jadi terheran-heran melihat anaknya sudah selesai mandi dan sarapan.

"Kayak tukang sayur aja, subuh-subuh udah siap," goda mamanya saat Baekhyun meletakan piring dan gelas bekas sarapan di bak cuci piring. Cewek itu melirik mamanya sambil meringis malu.

Selesai sarapan, Baekhyun menghabiskan waktu yang masih tersedia dengan berkutat di dalam kamar. Sibuk memusingkan diri dengan masalah-masalah yang baru ia sadari pagi ini.

Kira-kira hari ini pake tas yang mana ya? Yang pasti yang paling mendingan di antara tas-tasnya yang jelek itu. Begitu juga sepatu dan kaus kaki. Terus, bagusnya hari ini rambutnya digimanain? Dikucir, dijepit, atau dibandana? Atau dibiarin terurai gitu aja, tanpa hiasan. Baekhyun langsung mengenyahkan pilihan yang terakhir. Kok miskin banget ya kesannya? Rambut nggak dikasih hiasan apa-apa. Tapi sesaat kemudian cewek itu meralat sendiri pendapatnya. Bukan miskin deng. Tapi sederhana. Miskin sama sederhana itu beda.

Setelah hampir menghabiskan waktu satu jam, Baekhyun tidak juga bisa memutuskan. Bukannya mendapatkan jalan keluar, ia malah tambah pusing. Akhirnya Baekhyun menyerah.

"Ah, udah deh. Biasa-Biasa aja kayak kemaren-kemaren. Ntar kalo mendadak heboh, malah ketauan kalo gue nervous, lagi. Lagian ini Chanyeol, gitu loh. Tiap hari juga ketemu." Baekhyun bicara sendiri. Dirapikannya barang-barangnya yang berserakan.

Mamanya, yang diam-diam mengawasi dari celah pintu yang terbuka, tersenyum tipis, kemudian pergi tanpa suara.

Baekhyun duduk menunggu Chanyeol di teras dengan hati tenang. Soalnya ia yakin banget, wajahnya pagi ini pasti tampak cerah, kencang, bersih tidak bernoda, seperti janji produsen masker yang tertulis di pembungkus produk mereka. Kegelisahan dan kegugupannya agak berkurang. Apalagi semalam, setelah selesai maskeran ia juga langsung luluran. Menghabiskan waktu hampir satu jam di kamar mandi, dan membuat seluruh isi rumah terpaksa menunggu giliran.

Baekhyun masih belum tahu bahwa efek masker dan lulur itu tidak sama dengan operasi plastik. Tidak bisa membuat orang yang melihat langsung pangling alias tidak mengenali, apalagi kalau pake masker dan lulurnya baru sekali ini, seajaib apa pun masker dan lulur itu.

Chanyeol muncul lima belas menit kemudian. Penampilannya tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Baekhyun jadi bersyukur dirinya nggak jadi tampil beda.

"Hai, pagi," cowok itu menyapa. Tersenyum seperti biasanya.

Ternyata masker dan lulur semalam nggak berefek. Baekhyun langsung gugup. Bukannya menjawab salam Chanyeol, ia malah langsung masuk ke rumah, mencari mamanya. Chanyeol jadi mengernyitkan kening, tapi kemudian tersenyum tipis. Ia mengira sikap aneh Baekhyun itu masih ada kaitannya dengan peristiwa kemarin. Tak lama Baekhyun keluar bersama mamanya. Kegugupannya agak berkurang.

"Ini Chanyeol, Ma," katanya, memperkenalkan Chanyeol yang berdiri di teras, yang lupa ia persilahkan duduk.

Chanyeol tersenyum dan mengangguk sopan. Ia mengulurkan tangan sambil menyebut nama, dilanjutkan dilanjutkan dengan basa-basi menanyakan kabar mama Baekhyun.

Mama Baekhyun balas tersenyum. Agak lega karena kesan pertama yang ia peroleh adalah Chanyeol bukan model cowok tengil.

"Kami mau langsung berangkat, Tante. Waktunya mepet, takut telat."

"Titip Baekhyun, ya?" pesan mama Baekhyun.

"Iya, Tan. Permisi." kembali Chanyeol tersenyum dan megangguk sopan.

"Dah, Mamaaah!"

Baekhyun melambaikan tangan sambil mengekor langkah Chanyeol ke luar pagar. Ia mulai gugup dan gelisah lagi. Sang mama cuma tersenyum geli sambil membalas lambaian putrinya.

Baekhyun dan Chanyeol melangkah menuju halte dalam diam.

Ini Chanyeol! Ini Chanyeol! Please dooong!

Berkali-kali dalam hati Baekhyun mengecam dirinya sendiri. Tapi tidak berhasil membuat hatinya menjadi lebih tenang. Sekarang malah ditambah malu. Padahal cowok ini selama hampir dua bulan terakhir duduk di sebelahnya. Dan tanpa disadarinya, Chanyeol telah menjadi orang yang paling dekat, yang pertama kali dicarinya setiap kali tiba di sekolah, apalagi kalau lagi dapat masalah.

Sekarang, jangankan untuk meraih lalu memeluk lengan Chanyeol seperti kemarin-kemarin, untuk berjalan terlalu dekat saja mendadak Baekhyun jadi malu banget. Cewek yang biasanya senang berceloteh itu mendadak jadi pendiam.

Jauh tersembunyi di dalam sikap tenangnya, Chanyeol sebenarnya sama gugupnya. Tapi ia memang tidak separah Baekhyun. Mungkin karena ia sudah "mengenal" cewek ini berbulan-bukan sebelum akhirnya melihat Baekhyun untuk pertama kalinya.

Sama sekali bukan tanpa alasan jika selama ini Chanyeol membiarkan sifat iseng Baekhyun merajalela. Karena hanya dengan cara itu ia mendapatkan kepastian bahwa cewek itu tidak akan berada terlalu jauh darinya. Sifat usil dan isengnya yang kadang keterlaluan membuat Baekhyun memerlukan perisai yang selalu siap setiap saat. Dan seperti itulah Chanyeol memosisikan dirinya selama ini. Membiarkan Baekhyun datang atau berlari padanya setiap kali butuh perlindungan atau pembelaan.

Kalau kemarin-kemarin demi Kris, maka mulai pagi ini Chanyeol melakukannya demi dirinya sendiri!

"Elo kenapa sih, Baek? Kok diem aja dari tadi?" Chanyeol mengusik cewek itu, yang sampai mereka akan turun dari bus pun tetap belum mengeluarkan suara. Baekhyun sibuk menghindar agar tidak menatapnya, dengan cara menunduk atau melihat sesuatu entah apa di luar jendela. Baekhyun cuma menoleh sebentar. Tersenyum tanpa makna, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela.

"Takut diledekin lagi kayak kemaren, ya? Kan ada gue?" Chanyeol menepuk lengan Baekhyun pelan. "Yuk, turun. Udah sampe."

Dari halte ke sekolah, lagi-lagi Baekhyun tidak mengeluarkan suara. Ia juga lebih sering berjalan dengan kepala menunduk. Karena Baekhyun terus menunduk itulah akhirnya Chanyeol menggodanya dengan mengarahkan jalan mereka tepat ke sebuah dahan pohon melintang tidak jauh di depannya, sambil tetap mengajak cewek itu ngobrol. Sedikit demi sedikit Chanyeol menggeser langkah, hingga akhirnya dahan pohon itu tepat berada di jalur Baekhyun melangkah.

Tepat menjelang kepala Baekhyun dan dahan pohon itu akan berbenturan, Chanyeol menjentikkan jari di depan wajah tertunduk Baekhyun dan langsung merentangkan lengan kirinya di depan kepala cewek itu. Baekhyun tersentak. Ia mengangkat kepala dan langkahnya terhenti saat itu juga. Tercengang saat mendapati dahan pohon, besar dan kasar, melintang tepat di depan mukanya.

"Kenapa sih dari tadi nunduk aja? Lo sadar nggak kalo gue ajak muter? harusnya kita udah sampe sekolah dari tadi." Chanyeol menatap dengan kedua alis bertaut heran.

Baekhyun memandang berkeliling.

"Eh, iya. Kita sekarang ada di mana nih?" tanyanya bingung.

"Tuh, kan? Nggak sadar, kan?" Chanyeol geleng-geleng kepala. "Lo kenapa sih jadi aneh begini? Pendiam banget. Kayak bukan elo aja."

"Nggak apa-apa." Baekhyun menggeleng.

"Ya kalo nggak apa-apa jangan diem aja dong. Gue jadi kayak jalan sama cewek yang nggak gue kenal nih." Tiba-tiba Chanyeol teringat sesuatu. "Oh iya. Gue bawa sweter. Buat antisipasi."

"Jangan diingetin lagi kenapa sih?" muka Baekhyun langsung memerah. "Lagian juga nggak akan dua kali lah. Bego bener gue kalo sampe kejadian kayak kemaren lagi. Malunya bisa dua kali lipat." seketika Baekhyun menutupi mukanya dengan kedua tangan. Chanyeol menatapnya, tersenyum geli.

"Kalo muka lo ditutupin gitu, ntar tercebur comberan gue nggak tanggung jawab, ya?" ucapnya sambil berjalan pergi.

Baekhyun menurunkan kedua tangannya. Dikejarnya Chanyeol, tapi tetap ia tidak berani bila posisi tubuh mereka terlalu sejajar. Menjelang sampai gerbang sekolah, Chanyeol menoleh ke Baekhyun.

"Perlu punggung gue buat ngumpet, nggak?" tanyanya.

"Nggak." Baekhyun menggeleng dan menjawab pelan.

"Oke kalo gitu."

Begitu keduanya sampai di gerbang sekolah, beberapa anak yang sedang nongkrong di sisi lapangan menyambut dengan senyum lebar.

"Pasangan Jepang udah dateng nih."

"Yo'i. Pagi." Chanyeol balas tersenyum lebar dan menyapa singkat.

Begitu sampai kelas, reaksi teman-teman mereka lebih meriah. Komentar, pertanyaan, seruan, suitan-suitan menggoda bahkan tepuk tangan, seketika menyambut keduanya.

"Cieeeh, yang kemaren sore bikin sekolah heboh!"

"Kemaren waktu ditanya ngeles melulu. Nggak jadian, nggak jadian. Nggak taunya…"

"Emang jadiannya sebenarnya kapan sih? Cerita dong! Pasti bukan sejak masih sering berantem itu, kan?"

"Ah, nggak usah! Bikin bete aja dengerin cerita orang jadian. Traktir aja!"

"Iya dong! Traktir dong!"

"Kira-Kira hari ini ada bendera Jepang lagi, nggak?"

"Si Baekhyun suka iseng, jangan-jangan otaknya elo ya, Yeol?"

"Berarti besok-besok kalo Baekhyun iseng, yang kita gebukin Chanyeol aja!"

Chanyeol menanggapi reaksi teman-temannya dengan santai sambil cengengesan. Sementara Baekhyun sibuk mengatasi rasa malunya yang, sayangnya, tidak begitu sukses.

Akibatnya, di kelas pun ia jadi pendiam. Tidak banyak bicara apalagi melakukan keisengan seperti hari-hari biasanya. Akibat yang lain, Baekhyun terus jadi bahan ledakan, dari pagi sampai jam pulang. Chanyeol jadi tak tega meninggalkannya sendirian. Terpaksa dikawalnya Baekhyun ke mana pun, dan kalau dilihatnya cewek itu mulai kewalahan, Chanyeol segera pasang badan, menanggapi ledakan itu dengan senyum, tawa, atau komentar-komentar asal.

.

.

.

Siang itu mereka pulang bersama. Dan perjalanan seperti pagi tadi terulang. Perjalanan yang hening. Sesak dengan rasa malu, jengah dan asing. Baekhyun hari ini bukan lagi Baekhyun yang kemarin-kemarin. Mungkin mereka berdua sudah tidak bisa kembali lagi ke hari-hari kemarin.

Chanyeol tidak lama di rumah Baekhyun. Hanya menemui mama Baekhyun untuk pamit dan mengantarkan anak perempuannya. Baekhyun sama sekali tidak keberatan Chanyeol nggak mampir. Kebeneran malah. Ia betul-betul ingin secepatnya bebas dari rasa gugup dan malu yang sudah menekannya sejak tadi malam. Begitu Chanyeol sudah pamit dan hilang dibalik pagar, Baekhyun langsung menarik napas. Panjang dan dalam. Sikap tubuhnya langsung rileks, membuat mamanya jadi tersenyum geli.

"Gimana komentarnya?"

"Komentar apa?" tanya Baekhyun sambil mengekor langkah mamanya ke dalam.

"Ya komentar soal muka sama kulit kamu dong."

"Wah!" Baekhyun tersentak. Langsung inget lagi. "Wah, iya. Lupa! Dia nggak komentar apa-apa tuh."

"Masa?" mama Baekhyun berlagak kaget juga. "Nggak sopan juga cowok itu, ya? Padahal kamu udah hampir ngabisin lulur mama. Sampe mama harus beli lagi tadi. Apalagi semalam kamu maskerannya tebel banget. Jatah untuk tiga kali kamu pakai."

"Wah, iya, ya?" Baekhyun sampai berhenti melangkah. "Kok dia nggak ngomong apa-apa ya, Ma? Berarti dia nggak merhatiin aku dong?"

"Memangnya dia bilang kalau muka sama kulit kamu belang, jadi perlu digosok biar warnanya rata, gitu?"

"Nggak sih."

"Ya udah. Santai aja kalau begitu. Buktinya, walaupun kamu udah maskeran dan luluran, dia tetap nggak sadar, kan?"

"Iya sih. Emang dasar tu cowok nggak sensi."

"Dia ada yang berubah nggak hari ini?"

"Ng…." Baekhyun mengingat-ingat. "Nggak ada sih kayaknya."

"Berarti kamu juga nggak merhatiin dia dong? Siapa tau rambutnya agak pendekan. Atau kaus kakinya baru. Atau mungkin seragamnya disetrika lebih licin dibandingkan kemarin-kemarin." ucapan mamanya itu membuat Baekhyun tertegun. Mamanya menoleh, menatapnya sambil mengangkat alis, lalu tersenyum.

"Kamu nggak merhatiin dia, atau yang penting buat kamu… dia ada?"

Baekhyun makin tertegun. Ditatapnya sang mama dalam keterpanaan. Wanita itu tersenyum semakin lebar, kemudian balik badan, berjalan ke arah dapur sambil bicara, lagi-lagi dengan nada sambil lalu.

"Buat cowok itu begitu juga. Yang penting kamu ada."

.

.

.

TBC

.

.

.

AN:

Untuk pemilihan cast selain member EXO khususnya ChanBaek, aku milih asal-asalan, jadi maaf ya kalo kurang dapet feel-nya. Sejujurnya, aku kurang tau sama nama-nama member k-pop. Taunya member EXO doang karena aku EXO-L HARD. Hanya EXO, One and Only. Aku masukin cast pake nama-nama yang pernah aku denger aja, gak tau orangnya yang mana, gak tau member boygrup apa. Aku harap gak ada yang tersinggung ya..

Big thanks to:

fauziah agustina haha, jangan lebar-lebar kamu ketawa, ntar ada lalat masuk aku nggak tanggung jawab ya.. wkwkwk

sesama cewek mah pasti tau alat perang yang wajib dibawa pas lagi pms hehe.. aku padamu jua reader-nim

almaepark pengen juga ya? Berdoa aja yg rajin moga ada duplikatnya Chanyeol haha

rorororonoaa sama. Aku juga suka nyesek kalo baca ff yang baekhyun-nya makan ati mulu :'(.. dan aku juga suka sama ff yang Chanyeol-nya naksir duluan. Kayaknya kita satu selera ya hehe

si daehwi emang kejem banget balas dendamnya, itu 'kan menyekiti harga diri Baek sebagai cewek,, untung ada aa Chanyeol

hyuniee86 hati'' ketawa sendiri depan orang lain ntar dikira yang enggak'' haha

hunhanshin iya kah? Mungkin karena Baek-nya jail dan pecicilan banget jadi gak kerasa ya? Gak apa'', makasih ya udah sempetin baca

agnesnes eaaakkk baperr eaakk hahaha.. makasih semangatnya

SexYeol sayangnya Chanyeol Cuma milik Baekhyun seorang

Khusus buat .9047, gak tau kenapa nama kamu yang muncul tuh Cuma angkanya doing, padahal aku ngetik pake kim-jin kok.. maaf ya..

Iya cocok banget makanya aku ngerasa pengen banget remake ff ini.. baek kasian, Daehwi kasian juga, baek-nya iseng banget sih, dan aku juga rasa iseng-nya Baek kali ini emang kelewatan..

Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff remake ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~

So, how about this chapter?

RnR juseyooo~

Follow my ig: baekhill_byun

_Hill_ 020318