DIA, TANPA AKU

Remake Story by Esti Kinasih

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

OCs

.

.

[DISCLAIMER]

Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.

.

.

Capter 12

.

.

Happy reading..

.

.

CHANYEOL memasuki rumah dengan senyum cerah. Dengan wajah ceria dan bahagia, ia melangkah menuju kamar. Dibukanya pintu kamar lebar-lebar. Namun langkahnya terhenti seketika. Wajahnya sontak memucat. Tubuhnya membeku tegang. Kedua matanya menatap dengan sorot ketakutan, dan dengan gerakan liar ditelusurinya seisi kamar.

Chanyeol mencium bau parfum Kris!

Sedetik kemudian, tanpa sadar Chanyeol menutup pintu dengan bantingan. Dadanya berdetak sangat kencang. Suara keras itu membuat Bi Minah datang tergopoh-gopoh,

dan heran melihat anak majikannya itu membeku tegang di depan pintu kamarnya yang tertutup.

"Mas Chanyeol, ada apa?" tanyanya cemas.

Chanyeol tidak mendengar. Kedua matanya masih tertuju tajam dan lurus ke pintu tertutup di depannya.

"Mas Chanyeol, ada apa?" Bi Minah mengulangi pertanyaannya. Ia menghampiri Chanyeol lalu menepuk satu bahu karena pertanyaannya masih tidak terjawab. Tepukan itu membuat Chanyeol terlonjak kaget dan tanpa sadar melompat mundur.

"Bibi nih, bikin kaget aja!" serunya kemudian.

"Kok bisa? Wong Bibi nanyanya pelan. Ada apa toh?"

Mulut Chanyeol sudah terbuka, tapi kemudian ia urung mengatakan.

"Nggak ada apa-apa." ia menggeleng cepat. "Nggak sengaja pintunya tadi kebanting. Bibi masak apa? Aku makannya di dapur aja deh." Chanyeol berjalan ke dapur.

"Nggak ganti baju dulu, Mas?" Bi Minah menyusulnya dengan kening berkerut.

"Ng…" Chanyeol bingung menjawab. Kemudian, saat melewati ruang setrika di dekat dapur, ia bertanya, "Bibi lagi nyetrika, ya? Di keranjang situ ada baju sama celana pendekku, nggak?"

"Adanya celana katun yang udah bule itu."

"Apa aja deh. Yang penting judulnya aku nggak makan dengan badan telanjang."

Ketika Chanyeol keluar dari kamar mandi setelah berganti baju, Bi Minah sudah memindahkan piring-piring lauk di meja makan ke meja dapur, yang juga sering digunakan untuk makan bersama.

Meskipun heran, perempuan paru baya itu tidak bertanya. Sementara itu Chanyeol menyantap makan siangnya dalam kondisi yang bisa dibilang tidak sadar. Mulutnya mengunyah secara otomatis karena ada makanan masuk. Sementara indra pengecapnya seperti tidak bekerja. Seandainya tiba-tiba ia ditanya apa yang sedang dimakannya, pasti ia takkan bisa langsung menjawab.

Chanyeol saat ini benar-benar tegang. Dadanya berdegup kencang, karena baru saja, meskipun sesaat, kembali ia mencium wangi parfum yang biasa

dipakai Kris. Diliriknya Bi Minah yang sedang menyetrika. Perempuan itu terlihat biasa-biasa saja. Berarti dia tidak merasakan adanya keganjilan.

"Yeri mana, Bi?"

"Ke sebelah. Tadi Tzuyu dateng, bilang ada komik baru."

Berarti tidak ada teman yang bisa diajaknya menemani masuk ke kamar….

Tiba-tiba Chanyeol merasa malu pada dirinya sendiri. Dengan seragam sekolah yang sekarang sudah putih abu-abu, ia merasa sudah mulai dewasa. Namun ternyata ia ketakutan setengah mati hanya mencium bau parfum kakaknya yang sudah "pergi". Padahal orang yang sudah meninggal takkan pernah bisa kembali. Tapi kalaupun bisa, itu kan kakaknya sendiri.

Selesai makan, mau tidak mau, Chanyeol harus ke kamar, karena PR fisika yang diberikan Pak Yunho minggu lalu dan harus dikumpulkan besok belum ia kerjakan. Ia tidak ingin mengalami nasib seperti Daehwi atau murid-murid lain yang namanya terekam dalam memori otak Pak Yunho karena pernah membuat masalah. Jangan sampai deh! Tanpa itu pun jam fisika sudah sangat mengesalkan.

Dengan perasaan yang semakin tegang dan dada yang berdetak semakin kencang, Chanyeol memberanikan diri melangkah menuju kamar. Dirasakannya tubuhnya mendingin saat perlahan dibukanya pintu kamar.

Tidak lagi tercium bau parfum Kris. Kamar itu lengang, seperti yang selalu dirasakan Chanyeol sejak kematian Kris. Kamar itu juga selalu dalam keadaan rapi, karena tanpa sadar Chanyeol tak ingin membuat kamar itu berantakan. Percuma. Sudah tidak ada lagi orang yang akan berteriak "Lo jangan naro baju kotor sembarangan dong!" atau "Kenapa sih lo kalo pulang sekolah, ngelempar tas sama buku-bukunya selalu ke kasur gue? Kenapa nggak ke kasur lo sendiri?"

Namun Kris kadang juga suka main tuduh seenaknya. Seperti pernah terjadi… "Kalo di luar ujan, jalan becek trus sepatu jadi kotor, tu sepatu taro di belakang dong. Jangan dimasukin kamar. Ubin kamar jadi kotor tuh!"

Namun detik berikutnya Kris sadar bahwa itu sepatunya sendiri. Dan saat adiknya kemudian menatapnya sambil mengangkat kedua alis tinggi-tinggi, Kris nyengir lalu terkekeh-kekeh geli. "Itu sepatu kets gue deng. Gue kirain sepatu elo," kilahnya enteng.

Chanyeol ingat ia cuma bisa mendegus kesal saat itu.

"Maap. Maap. Hehehe…" Kris malah semakin terkekeh-kekeh.

Kenangan-kenangan itu….

Chanyeol jatuh terduduk tanpa sadar. Ia menangis terisak. Ia kangen Kris. Ia kangen kakak satu-satunya itu. Seandainya bisa bertemu lagi, sebentar juga nggak apa-apa. Chanyeol memohon lirih, namun sadar permohonan itu musykil. Hanya akan semakin melukai dirinya sendiri.

Kemudian ia memaksa dirinya untuk menghentikan tangis. Sambil mengusap air mata dengan kedua lengan kaus, Chanyeol bangkit berdiri. Diraihnya kotak plastik di kolong tempat tidur, tempat ia menaruh seluruh koleksi CD, DVD, dan MP3-nya. Pilihannya jatuh pada kumpulan musik rock dan heavymetal, agar kamar ini tidak terlalu sepi. Namun begitu lagu pertama terdengar, langsung terngiang suara Kris: "Nyetel musik jangan kenceng-kenceng, kenapa sih? Emangnya yang punya kuping elo doang?"

Kenangan yang lain lagi….

Kembali air mata Chanyeol jatuh. Kali ini ia buru-buru menghapusnya karena didengarnya suara Yeri. Cepat-cepat ia menutup pintu kamar dan menguncinya perlahan. Ia tidak ingin adiknya itu melihatnya menangis, karena Yeri juga pasti sedih, sangat kesepian. Sekarang sudah tidak ada lagi kakak yang sering menggodanya, yang senang membuatnya menjerit-jerit dengan segala macam cara.

"PR fisika buat besok banyak banget nih, Kris. Jangan ganggu gue dulu, ya? Guru fisika gue galak soalnya," ucap Chanyeol, bicara pada kakak yang dibiarkannya tetap hidup dalam pikirannya.

Namun entah kenapa, penyangkalan atas kematian Kris yang dilakukan Chanyeol dengan sadar itu justru membuatnya tenang. Dari barisan buku di rak di depannya, Chanyeol mencari buku-buku yang diperlukannya. Diktat fisika, buku catatan, dan buku PR. Dengan mata sembap namun dengan hati yang perlahan menjadi tenang, Chanyeol mulai mengerjakan PR fisiknya.

.

.

.

Pukul lima dini hari, beker berdering. Jadwal yang biasa, tapi hari ini tidak biasa. Hari ini berbeda. Begitu membuka mata, Chanyeol langsung bisa merasakan ia tidak sendirian di dalam kamar. Tempat tidur Kris masih rapi, tidak pernah digunakan sejak hari kematiannya, namun sang pemilik ada di dalam kamar ini!

Tanpa sadar bulu kuduk Chanyeol meremang. Tetapi tidak seperti kontak pertama kemarin sore, kali ini dia tidak lagi ketakutan. Yang muncul justru

perasaan kangen. Kangen bertengkar dengan Kris. Kangen berebut komik. Kangen saling memekik dan meneriakkan tuduhan karena masing-masing merasa lebih sering merapikan kamar, sementara yang lainnya lebih sering membuat kamar jadi berantakan. Kalau sudah begitu, biasanya mereka akan membuat garis di lantai dengan kapur tulis. Membagi kamar itu menjadi dua teritori. Masing-masing dengan otonomi penuh.

Seluruh sisa ketakutan Chanyeol kini menghilang. Saat memandangi dinding kamar, cowok itu tersenyum tanpa sadar. Kalau pertengkaran mereka sedang menghebat, biasanya dengan penuh nafsu mereka berdua akan membuat garis batas teritorial itu sampai ke dinding. Akibatnya, mereka harus keluar-masuk kamar dengan posisi badan dimiringkan, karena masing-masing hanya berhak atau jarak setengah ambang pintu.

Suara ketukan di pintu menyadarkan Chanyeol. Kepala Yeri, adiknya yang masih di bangku SD kelas tiga, menyembul di sana.

"Sekolah nggak sih? Udah jam setengah enam nih," katanya, lalu langsung menghilang tanpa menunggu jawaban sang kakak.

Chanyeol bangkit dari posisi berbaring, lalu ia tepekur di tepi tempat tidur.

"Sialan!" desisnya pedih. "Gue bener-bener kangen Kris."

Perasaan pedih dan kehilangan yang mendadak sangat terasa itu membuat Chanyeol berangkat ke sekolah dengan langkah gontai. Memang, kontak-kontak itu hanya sesaat, namun Chanyeol merasa seperti Kris kembali. Ia bisa merasakan kehadirannya walaupun kakaknya itu kini tidak lagi kasat mata.

Sesampainya di kelas, Chanyeol mendapati Baekhyun sedang duduk di bangkunya. Ekspresi muka cewek itu agak aneh. Seperti bingung.

"Ada apa?" tanya Chanyeol cemas.

Baekhyun tampak ragu. Mulutnya sudah terbuka tapi segera tertutup kembali. Kemudian ia menggeleng.

"Perasaan gue aja kali, ya? Tapi emang rada aneh sih. Gue kan kalo ngerjain PR suka sambil dengerin radio. Cari yang penyiarnya kocak atau cari lagu-lagu yang asyik gitu. Tapi semalem, masa setiap kali gue pindah channel, selalu lagu itu yang lagi diputer atau mau diputer. Sama! Lo tau nggak, Chan, itu lagunya siapa?!" Baekhyun berdecak lalu mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat. "Oh iya!" serunya kemudian. "Lagunya Glenn Fredly sama Dewi Sandra. Itu tuh, yang judulnya When I Fall in Love. Iya. Iya. Bener!"

Chanyeol tersentak. Wajahnya sontak memucat. Karena naksir cewek ini, Kris yang fans fanatik 50 cent, Ludacris, dan semua rapper kulit hitam, mendadak jadi melankolis abis! Dan lagu duet Glenn Fredly-Dewi Sandra itu memang jadi lagu favorit Kris menjelang kepergiannya.

"Bener lagu itu, Baek? Lo yakin?" desis Chanyeol dengan suara tetcekat.

"Ya yakin lah!" Baekhyun mengangguk. "Lo pasti nggak percaya kalo semalem, selama gue nyetel radio dan pindah-pindah channel, cuma lagu itu yang gue denger. Barangkali tujuh atau delapan kali. Sumpah!" Baekhyun mengangkat tangan kanannya. "Atau… jangan-jangan sekarang lagu itu jadi lagu wajibnya stasiun-stasiun radio? Kudu diputer serentak, gitu?"

Chanyeol menggeleng. Kalut. Ingin mengatakan bukan, tapi berucap lain.

"Nggak tau deh. Iya mungkin."

"Iya kali, ya?" Baekhyun mengangguk-angguk. Ia tidak menangkap kekalutan Chanyeol, karena cowok itu buru-buru memalingkan mukanya.

Tak salah lagi. Kris memang datang. Dia kembali. Dia pulang. Dan sudah bisa dipastikan… itu untuk Baekhyun!

.

.

.

Chanyeol jadi kacau. Konsentrasinya pada pelajaran benar-benar hilang. Jangankan bisa menyimak setiap penjelasan guru, memindahkan apa yang sudah tertulis rapi dan jelas di papan tulis ke buku catatan saja bisa berantakan tidak karuan.

Kekacauan itu terus menyerang Chanyeol sampai bel pulang berbunyi. Sedikit pun cowok itu tidak berhasil membuat dirinya tenang, meskipun hanya untuk sesaat. Baekhyun yang bisa merasakan kegelisahan Chanyeol itu akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Lo kenapa sih?" tanyanya pelan.

"Mmm… mendadak gue nggak enak badan nih." Chanyeol memilih berbohong. Baekhyun menghentikan kesibukannya menyalin catatan dari papan tulis. Ditatapnya Chanyeol dengan pandang khawatir.

"Pulang aja gih."

"Tanggung." Chanyeol menggeleng. Ketika Baekhyun masih juga menatapnya dengan pandang khawatir, cowok itu menegaskan dengan kalimat yang dibarengi senyum. "Cuma nggak enak badan dikit. Nggak terlalu masalah."

Namun saat mereka berjalan bersisian menuju halte sepulang sekolah, Chanyeol tidak sanggup lagi berpura-pura.

"Baek, kalo nanti nemuin sesuatu yang aneh-aneh, ceritain ke gue, ya? Jangan sampe nggak."

"Yang aneh-aneh gimana maksudnya?"

"Yah, misalnya lo denger lagunya Glen-Dewi di radio sampe berkali-kali."

"Oh? Iya sih, aneh banget. Tapi untuk apa?" Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol dengan kening berkerut.

"Pengin tau aja. Soalnya aneh," Chanyeol berkilah. "Bener, ya?"

"Gitu, ya?" kerutan di kening Baekhyun semakin rapat. "I-iya deh," sambungnya.

Bus yang ditunggu Baekhyun telah datang, dan mereka harus berpisah. Baekhyun lalu menaiki tangga bus. Dilambaikannya tangan sambil tersenyum saat bus mulai bergerak. Chanyeol membalas senyum dan lambaian tangan itu.

Ketika Baekhyun sudah tak terlihat lagi, Chanyeol juga tak lagi berusaha menekan keresahannya. Dibiarkannya rasa itu keluar dan terlihat jelas pada raut wajah dan sorot matanya. Meskipun berasal dari sekolah yang sama, ia tidak mengenal satu pun siswa-siswa yang menunggu bus bersamanya. Jadi ia tidak perlu merasa cemas akan ada yang bertanya.

Ketika turun di halte tidak jauh dari rumahnya, keresahan Chanyeol berubah menjadi waswas yang menusuk. Terlebih saat kedua kakinya menapaki halaman. Ia tak mampu menahan debar jantungnya. Kedua matanya menatap waspada. Kedua telinganya juga tanpa sadar berada dalam kondisi yang sama. Siap menangkap bunyi atau suara yang tidak biasa. Sekecil atau sesayup apa pun.

Kewaspadaan Chanyeol semakin meningkat saat ia membuka pintu rumah, dan memuncak saat membuka pintu kamar. Tanpa sadar kedua matanya bergerak liar menatap ke sekeliling. Namun tidak terjadi sesuatu yang aneh. Semuanya terlihat seperti biasa. Normal. Wajar. Tidak tercium bau parfum Kris. Tidak terasa suasana yang berbeda.

Malam harinya Chanyeol mengikuti kebiasaan Baekhyun, belajar sambil mendengarkan radio. Sebentar-sebentar cowok itu memutar tuning dan berhenti di setiap stasiun yang ada. Namun tetap, ia tidak menemukan sesuatu yang ganjil. Semuanya normal. Ia sama sekali tidak mendengar lagu When I Fall in Love yang kata Baekhyun diputar serentak dan berkali-kali di seluruh stasiun radio.

Tetap itu tak mampu menghilangkan kewaspadaan Chanyeol. Sampai saat tubuhnya terbaring di tempat tidur, menjelang jam sebelas malam, cowok itu masih memerhatikan keadaan di sekelilingnya dengan cermat. Kewaspadaannya mengendur pelan-pelan seiring sepasang matanya yang perlahan menutup karena kantuk.

.

.

.

Keesokan paginya, saat Chanyeol terbangun karena jeritan beker, kewaspadaannya langsung muncul kembali. Dengan tatap tajam dicermatinya seisi kamarnya di pagi dini hari itu. Sekali lagi, tidak ada sesuatu yang ganjil. Semua terlihat wajar dan biasa. Akhirnya kewaspadaan Chanyeol mengendur. Sebagai gantinya, muncul sedikit perasan malu terhadap diri sendiri.

"Kayaknya gue nih yang terlalu parno," desisnya sambil meraih handuk lalu berjalan ke luar kamar.

Ketika sampai di sekolah, kewaspadaan Chanyeol semakin menguap. Cowok itu malah mulai yakin bahwa kemarin sampai tadi pagi ia memang terserang paranoid akut. Dan ia tahu pasti penyebabnya. Rasa bersalahnya terhadap Kris!

Ketika memasuki kelas dan mendapati Baekhyun sedang ngobrol asyik dengan Kyungsoo sambil tertawa-tawa, kewaspadaan dan keresahan Chanyeol lenyap sama sekali. Ia benar-benar yakin itu hanya ketakutannya sendiri. Apalagi setelah lima belas menit sebelum bel, Baekhyun meninggalkan Kyungsoo lalu duduk di sebelahnya. Masih dengan sisa-sisa tawa. Sepertinya semuanya memang baik-baik saja.

"Ngobrolin apaan sih? Seru banget," tanya Chanyeol sambil mengeluarkan buku-buku untuk pelajaran jam pertama.

"Oh, itu. Acara semalem di radio," jawab Baekhyun sama tertawa kecil.

"Ada apa di radio?" Pelan, alarm di kepala Chanyeol mulai berdering.

"Cerita-cerita lucu gitu. Sebenernya sih itu radio untuk dewasa. Untuk orang-orang yang udah pada kerja atau udah merit gitu. Tapi acaranya semalem lucu banget. Tentang nostalgia. Orang-orang bergiliran nelepon trus cerita gimana mereka ketemuan pertama kali sama istri atau suami meraka. Atau sama pacar mereka, buat yang belom merit. Gimana cara mereka PDKT atau gimana mereka waktu zaman pacaran dulu." Ucapan Baekhyun terhenti. Ia sibuk menggores-goreskan bolpoinnya yang macet ke selembar kertas.

"Terus?"

"Terus ada satu penelpon. Cowok. Dia cerita, waktu SMA dia pernah naksir cewek tapi nggak berani PDKT. Takut diledekin temen-temennya soalnya tu cewek masih SMP. Jadi dia cuma berani ngeliatin tu cewek dari jauh."

Chanyeol tersentak. Kepalanya menoleh cepat.

"Apa!?" desisnya tajam. "Lo yakin begitu yang lo denger!?" Ditatapnya Baekhyun dengan mata melebar. Sesaat Baekhyun tertegun, karena inilah sorot mata Chanyeol yang paling tajam yang pernah dilihatnya.

"Mmm…" Baekhyun tergagap.

"Baekhyun!? Lo yakin itu yang lo denger!?" tanya Chanyeol lagi. Terdorong oleh rasa kaget, nada suaranya jadi agak membentak.

"Iya. Lo kenapa sih?"

"Dia cuma merhatiin dari jauh?"

"Iya."

"Dia catet semua kebiasaan tu cewek? Semua ciri-ciri fisiknya? Dan dia juga motret cewek itu diem-diem. Iya?"

"Iya. Kok tau sih? Dengerin juga ya?" sepasang alis Baekhyun terangkat. Kemudian ia tertawa geli. "Lucu ya tu orang? Maksud gue, sampe segitunya. Trus dari suaranya ketauan kalo dia malu banget waktu nyeritainnya. Lama lho dia ngamatin diem-diem gebetannya itu. Iya, kan?"

"Nggak tau!" tanpa sadar Chanyeol menjawab dengan nada getas.

"Lho? Elo bukannya dengerin juga?"

"Nggak!"

"Kok lo tau ceritanya?"

"Mirip cerita sodara gue!"

"Ooooh." Baekhyun sama sekali tidak menyadari arti kalimat terakhir yang baru saja terucap dari mulut Chanyeol. Bagi Chanyeol, mengucapkan kalimat itu telah membuatnya terguncang, sehingga cowok itu tak sanggup menatap Baekhyun dan terpaksa memalingkan muka.

"Jam berapa lo denger acara itu?"

"Biasa, jam tujuh. Biasa jam segitu gue mulai belajar."

Chanyeol terenyak!

Waktu yang sama. Gelombang-gelombang yang sama. Bukan cuma dua-tiga kali ia memutar tuning bolak-balik. Berkali-kali. Bagaimana bisa dirinya tidak menangkap siaran itu?

Ketenangan sesaat yang tadi sempat hadir, seketika menghilang. Kembali Chanyeol dicekam kegelisahan yang kini mulai bercampur dengan ketakutan.

Tapi belum tentu, bisiknya kemudian dalam hati. Barangkali tu orang punya story yang sama kayak Kris. Itu jenis cerita yang klasik kok.

"Siapa nama tu cowok?" tanyanya kemudian.

"Nggak tau. Gue dengerinnya udah telat."

"Trus, ending-nya gimana? Mereka jadian?"

"Itu dia yang gue kesel! Huh!" Baekhyun mengetuk-ngetukan bolpoinnya ke meja. "Di rumah gue semalem mati lampu! Cuma sebentar sih. Kira-kira sepuluh menit. Tapi begitu listriknya nyala lagi, cerita tu cowok udah selesai. Yang cerita udah penelpon berikutnya. Sebel! Padahal gue penasaran banget sama ending-nya."

Sementara muka Baekhyun cemberut karena kesal tidak mengetahui ending cerita yang didengarnya semalam, muka Chanyeol justru pucat pasi.

Ketiadaan nama dan ketiadaan ending….

Tidak diragukan lagi. Semuanya sudah jelas. Kris memang telah kembali!

Chanyeol kacau. Jauh lebih kacau daripada kemarin. Cowok itu berusaha menutupinya, meskipun dengan susah payah. Saat bel istirahat berbunyi, Chanyeol segera berdiri. Tanpa peduli mejanya masih berantakan dan tanpa mengatakan apa-apa pada Baekhyun, cowok itu berjalan ke luar kelas. Baekhyun mengikutinya dengan pandangan heran dan bertanya-tanya.

Chanyeol berjalan dengan langkah cepat menuju toilet. Dimasukinya salah satu bilik lalu dikuncinya dari dalam. Kemudian ia menyalakan keran agar tidak ada orang yang tahu bahwa ia tidak melakukan apa-apa. Hanya ingin berdiam diri. Merenung. Berpikir. Tanpa khawatir mengundang keheranan dan pertanyaan.

Cowok itu berdiri diam dengan punggung bersandar di salah satu sisi dinding. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Di tengah kecemasan, kegalauan, juga ketakutan yang semakin menikam, Chanyeol terus berpikir dan bertanya-tanya dalam hati, apakah Kris memang betul-betul datang kembali namun tak lagi kasatmata. Tak lagi terlihat. Tak lagi teraba.

Pertanyaan itu jelas takkan menemukan jawaban yang pasti. Meskipun Chanyeol sudah menghabiskan seluruh jam istirahat dengan berdiam diri di salah satu bilik toilet, ketika ia keluar toh pertanyaan itu tetap menjadi pertanyaan. Tidak ada jawabah yang berhasil ia dapatkan kecuali kalau ia mau percaya intuisinya sendiri.

Menjelang jam istirahat berakhir, Baekhyun kaget melihat Chanyeol berjalan masuk kelas dengan muka sangat pucat.

"Lo sakit, ya?" tantanya cemas. "Muka lo pucet banget."

"He-eh." Chanyeol menjawab singkat. "Punya makanan, nggak? Gue nggak sempet ke kantin tadi."

"Ada, Bengbeng. Tapi tinggal dua menit lagi bel nih."

"Cukup kok. Mana?"

Baekhyun mengeluarkan Bengbeng yang tadinya akan dibawanya pulang itu dari dalam tas dan menyerahkannya pada Chanyeol. Cowok itu segera merobek bungkusannya lalu melahap isinya dengan cepat.

"Thanks," Ia tersenyum dikunyahan terakhir. Ditepuknya bahu Baekhyun. "Sekarang gue udah sehat," katanya, untuk mengakhiri sorot cemas di kedua mata itu.

"Cepet amat? Cuma pake Bengbeng doang, lagi."

Chanyeol tertawa pelan.

"Gue bukan sakit, tapi kelaperan… banget!" katanya berbohong. "Ulangan Inggris nih. Siap?"

"Siap nggak siaplah," dengus Baekhyun. Cewek itu memang lemah di semua mata pelajaran yang ada judul "bahasa"-nya. Chanyeol tertawa tanpa suara.

Bel berbunyi. Seluruh isi kelas segera menuju bangku masing-masing. Mereka langsung mengeluarkan kertas ulangan. Bu Nana, guru bahasa Inggris, memang sudah memberi tahu perihal ulangan ini sejak dua minggu lalu.

Tak lama Bu Nana memasuki kelas. Satu tangannya memeluk sebuah map berisi fotokopian soal-soal. Tanpa banyak bicara, beliau langsung membagi tumpukan soal itu menjadi empat bagian dan menaruhnya di empat meja terdepan. Delapan murid yang duduk di meja terdepan segera mengopernya ke teman mereka di belakang, setelah meninggalkan selembar untuk diri mereka sendiri.

Seisi kelas langsung bersiap-siap dan Bu Nana duduk tegak-tegak di kursinya. Ia memastikan setiap murid di depannya mengerjakan soal hanya dengan menggunakan otak mereka sendiri.

Kelas hening. Meskipun sempat merasa heran karena soal yang berjumlah dua puluh itu keseluruhannya berformat jawaban B-S (Benar-Salah), seisi kelas langsung berkonsentrasi dengan keras di hadapan masing-masing.

Termasuk Chanyeol. Cowok itu juga segera tenggelam dalam keseriusan menjawab deretan soal di depannya. Ketika akhirnya selesai mengerjakan kedua puluh soal tersebut, Chanyeol mendapati kenyataan bahwa seluruh jawabannya adalah… Benar!

Ini belum pernah terjadi. Chanyeol membaca ulang seluruh soal dari awal. Tetap, jawaban yang ia dapatkan adalah "Benar" untuk seluruh soal. Masih tidak yakin, sekali lagi Chanyeol membaca ulang seluruh soal. Sekali lagi pula, jawaban keseluruhan untuk soal itu adalah "Benar".

Seketika wajah Chanyeol memucat. Kini ia menyadari, inilah jawaban dari pertanyaan yang diajukannya dalam hati saat mengurung diri di dalam bilik toilet jam istirahat tadi.

'Apakah Kris memang kembali?'

Di depan matanya, jawaban pertanyaan itu diberikan dalam dua puluh kali perulangan.

BENAR!

.

.

.

TBC

.

.

.

AN:

Chapter depan, Kris mulai bener-bener muncul *smirk*

fauziah agustina namanya juga mau jalan sama doi ye kan.. wah… pengalaman kamu miris banget sih, kalo bahasa sunda-nya mah ''haneueul'' itu haha.. sabar ya..

agnesnes ini para reader udah pada punya pengalaman serupa ya kayaknya, beda sama aku wkwkwk.. iya Chanyeol nya gentle banget meskipun dia juga pas ngomong gitu agak gemeteran hehe.. ini udah next ya.. makasih semangatnya sayang..

rorororonoaa haha.. tenang aja,, Baekhyun Cuma buat Chanyeol seorang wkwkwk

.9047 sekali lagi maaf ya,, hehe.. lebih suka yang mana nih? Baekhyun yang manis atau Baekhyun yang iseng? Hmmm mungkin pengalaman pribadi kak Esti? Soalnya ini kan remake, hehe..

Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff remake ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~

So, how about this chapter?

RnR juseyooo~

Follow my ig: baekhill_byun

_Hill_ 090218 (Happy anniversary my beloved parents :* )