DIA, TANPA AKU
Remake Story by Esti Kinasih
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
OCs
.
.
[DISCLAIMER]
Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.
.
.
Capter 13
.
.
Happy reading..
.
.
KRIS datang! Dia kembali!
Chanyeol membeku di bangkunya. Di kelas yang dikosongkan oleh jam istirahat, ia merasa dunia di sekelilingnya mengabur. Ada dunia lain bergabung. Dunia tempat Kris kini tinggal. Kekalutannya kini jadi ketakutan yang nyata.
Tiba-tiba Chanyeol tersentak. Ia menyapukan pandangan ke sekeliling, lalu ke luar jendela. Baekhyun tidak terlihat, berarti masih di kantin. Chanyeol cepat-cepat berdiri lalu keluar kelas. Di kantin, Baekhyun sedang duduk di antara cewek-cewek teman sekelas lainnya, mengobrol dengan riuh sambil mengunyah tahu isi. Chanyeol bergegas menghampiri.
"Baek, sebentar." Diraihnya tangan kiri Baekhyun.
Cewek itu menoleh kaget. "Apa?"
"Ikut gue bentar."
Dengan paksa Chanyeol menarik Baekhyun sampai berdiri dan membawanya ke luar kantin, diiringi tatapan bingung cewek-cewek itu. Baekhyun berlari-lari kecil, mengimbangi langkah cepat Chanyeol. Begitu sampai di luar, Chanyeol melepaskan genggamannya dan langsung ke masalah yang tadi muncul mendadak di kepalanya.
"Baek, lo kenal Kris?"
"Kris siapa?"
"Kris siapa aja. Yang penting lo kenal dia. Ada nggak?"
"Mmm…" Baekhyun mengingat-ingat. "Ada sih."
Muka Chanyeol langsung pucat. "Ada?" desisnya tegang.
"Ada. Itu juga gue yang kenal dia. Dia sih bisa dipastikan nggak kenal gue sama sekali. Itu tuh, si Kristian ronaldo. Pemain bola," Baekhyun menjawab kalem. Lalu ia terkikik geli. "Siapa juga yang nggak kenal Kristian ronaldo?"
Chanyeol mendesis lagi. Kali ini karena kesal. Jantungnya sudah nyaris lepas, tapi ternyata Baekhyun cuma bercanda.
"Gue nanya serius banget nih, Baek."
Baekhyun akan meneruskan candanya, tapi batal saat dilihatnya muka keruh Chanyeol.
"Nggak." Dia menggeleng.
"Yakin? Coba lo inget-inget"
"Nggak." Baekhyun menggeleng lagi. "Temen-temen gue di SMP nggak ada yang namanya Kris. Kalo temen-temen SD…"
"Nggak perlu yang udah lama banget," Chanyeol langsung memotong. "Temen-temen yang lo kenal waktu SMP aja."
"Ya itu tadi. Nggak ada." untuk ketiga kalinya Baekhyun menggeleng.
"Yakin?"
"Yakin!"
Chanyeol terlihat lega. Baekhyun jadi tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Emang kenapa sih?"
"Nggak apa-apa." Chanyeol langsung menggeleng. "Yuk, balik ke kelas. Udah mau bel nih," ajaknya.
Baekhyun mengangguk. Ia melambai ke arah teman-temannya yang masih asyik ngobrol. "Gue dulan yaaa!" serunya.
Mereka menoleh dan berseru bersamaan, "Yaelaaaah! Ke kantin aja dijemput!"
Baekhyun nyengir lebar. Sekali lagi ia melambaikan tangan lalu menyusul Chanyeol.
.
.
.
Dia mungkin tidak lagi kasat mata. Dia kini maya. Abstrak. Tidak terlihat. Tidak teraba. Tapi dia adalah Kris! Kakak satu-satunya. Saudara cowok satu-satunya. Musuh bebuyutan di dalam rumah, namun sekutu sehati untuk urusan berkelahi di halaman rumah mereka. Sedetik mereka adu jotos, lima menit kemudian Kris bisa menghajar anak tetangga demi Chanyeol. Dan sepanjang ingatan Chanyeol, mereka belum pernah tidak sekamar.
Jadi Chanyeol mengenal sosok invisible itu lebih baik daripada siapa pun!
Tapi keyakinan itu tidak bertahan lama. Mengenal baik sosok invisible Kris bukan berarti tahu pula cara menghadapinya. Chanyeol justru sangat menyadari bahwa ia sama sekali tidak punya cara. Dan itu membuatnya putus asa.
Selain itu, Chanyeol tahu ia tak bisa membagi kekalutannya pada siapa pun. Hanya pada satu orang, tapi ia tidak yakin dengan respons orang itu.
Suho kaget saat membuka pintu depan dan mendapati Chanyeol berdiri di hadapannya dengan muka pucat.
"Ada apa?" tanyanya cemas.
Mulut Chanyeol sudah terbuka, tapi perlu waktu cukup lama sebelum akhirnya Suho mendengar suara serak keluar dari sana.
"Kris pulang."
Seketika wajah Suho tampak kaget, bingung, dan reaksi-reaksi shock lainnya. Tumpukan reaksi yang membuatnya tak bisa bicara, hanya mampu menatap Chanyeol dengan mulut ternganga dan mata terbelalak. Anak itu sampai lupa menyuruh Chanyeol masuk sehingga sang tamu menceritakan semuanya dengan berdiri di ambang pintu.
Cerita yang dituturkan Chanyeol tidak keruan. Suaranya yang serak kadang terbata, dan kadang meluncur deras begitu saja.
Ketika Chanyeol selesai, Suho sedikit lega. Tadinya ia mengira Kris "pulang" dalam bentuk penampakan, dalam aura mistis atau horor, seperti di film atau sinetron. Ia tidak sanggup membayangkan sahabatnya menjadi arwah gentayangan, hanya karena soal cinta yang belum dimulai.
Masih berdiri di ambang pintu, Chanyeol menatap Suho. Tatapannya yang seakan berkata "Gue mesti gimana?" jelas-jelas terbaca di kedua matanya.
"Masuk dulu." Suho melebarkan pintu. "Lo udah makan?"
"Nggak tau. Lupa." Chanyeol menggeleng.
"Makan dulu kalo gitu. Abis itu baru kita omongin. Kalo perut kenyang, otak juga kerjanya lebih bener." Suho lalu berjalan ke dalam. Ia sengaja mengulur
waktu karena tak tega mengatakan bahwa penyebab kekalutan Chanyeol sebenarnya cuma dua hal. Rasa bersalah dan kenangan.
.
.
.
Walaupun Suho menganggap sumber kekalutan Chanyeol berasal dari diri Chanyeol sendiri, toh itu membuatnya tidak tenang juga. Terpaksa terus dipantaunya kondisi adik almarhum sahabatnya itu, yang semakin dianggap sebagai adiknya sendiri sejak kematian Kris. Langkah pertama yang diambil Chanyeol untuk mengatasi ketakutannya itu cukup membuat Suho kaget.
"Lo apain si Baekhyun?"
"Cuma gue protect doang."
"Dengan cara yang lo sebut tadi, itu namanya dikerangkeng."
"Belom ketemu cara lain." Chanyeol malas berdebat.
Ia sadar usaha yang dilakukannya mungkin sia-sia. Tapi ia tidak tahu cara lain. Untuk saat ini, hanya ini. Memastikan Baekhyun tetap berada pada fokus pandangannya, dan terus memastikan keadaanya lewat kontak telepon begitu cewek itu harus dilepasnya.
Bukan hanya Suho yang bingung melihat sikap Chanyeol terhadap Baekhyun. Teman-teman sekelas mereka juga bertanya-tanya. Ke mana pun Baekhyun pergi, Chanyeol pasti mengikuti, kalo ia tidak bisa ikut, Baekhyun harus lapor sebelumnya. Pergi ke mana, dengan siapa, berapa lama.
Kalau Baekhyun melanggarnya, Chanyeol pasti blingsatan mencari-cari Baekhyun. Kalau tidak menemukan Baekhyun di mana pun, Chanyeol bisa panik, senewen, dan ujung-ujungnya cowok itu marah-marah karena Baekhyun menghilang tanpa izin darinya.
Pemandangan Baekhyun melakukan protes pun kemudian menjadi pemandangan yang sering disaksikan teman-teman sekelas mereka.
"Gue udah bilang, kalo mau ke mana-mana, ngomong dong. Jangan ngilang gitu aja!" ujar Chanyeol suatu hari.
"Orang gue cuma ke toilet. Masa mesti ngomong juga? Toiletnya keliatan dari sini. Tuuuh!" Baekhyun menunjuk toilet di ujung koridor dengan jengkel. Chanyeol tidak peduli.
"Toiletnya emang keliatan. Tapi kalo lo udah masuk ke situ, mana keliatan, lagi? Mana gue tau lo ada di dalam sana?"
"Ya udah, lo ikut masuk aja, Yeol," kata Jongdae dengan tampang bosan. "Lo kelewatan juga sih. Masuk daerah orang aja lapor ke Pak RT-nya 1 x 24 jam. Sekali doang. Nah kalo elo, masa tiap lima menit Baekhyun kudu lapor sih?"
Chanyeol menoleh dan menatap Jongdae dengan ekspresi tidak suka. "Kalo nggak tau masalahnya, mending nggak usah ngomong deh."
Kali lain, di jam istirahat, teman-teman sekelas mereka menemukan Baekhyun terduduk lesu di bangkunya, sambil memegangi perut. Di sampingnya, Chanyeol sedang sibuk menulis sesuatu dengan cepat.
"Kenapa lo, Baek?" tanya Kai, yang baru saja memasuki kelas.
"Laper bangeeet!" Baekhyun langsung menjawab dengan suara melengking keras.
Kai melirik Chanyeol dengan kesal, tapi wajahnya tetap ke arah Baekhyun.
"Kalo laper ya ke kantin sana. Buruan. Udah mau bel nih."
"Nggak boleh pergi sendiri," ujar Baekhyun sambil mencebik.
"Ya ampuuun! Ya udah, sini sama gue." Kai berjalan menghampiri Baekhyun sambil geleng-geleng kepala. Digamitnya lengan cewek itu. "Yeol, Baekhyun gue temenin ke kantin. Lo ngapain sih? Nggak liat cewek lo udah mau semaput gitu, apa?"
"Ngerapiin catetan bio. Anak 1-3 diperiksa mendadak. Eh, Baek, lo kan udah gue kasih kue tadi?" Chanyeol menghentikan kesibukannya dan menatap Baekhyun. "Sementara buat ganjel perut kan cukup? Ntar istirahat kedua, gue traktir."
"Kue kecil gitu, mana kenyang? Dibagi dua sama elo, lagi. Cuma sampe di tenggorokan nih, sama ngotor-ngotorin gigi. Nggak nyampe perut!" Baekhyun bersungut-sungut sambil berdiri, lalu mengikuti Kai.
Chanyeol berseru saat kedua orang itu sampai di ambang pintu, "Kalo gitu gue titip…"
"Bodo!" tanpa menoleh, Baekhyun langsung menolak. Kai tertawa dan menghentikan langkahnya.
"Titip apa lo?" tanyanya.
"Apa aja. Yang penting bisa bikin perut gue rada terisi. Lemper kek, tahu isi kek. Bakwan juga boleh."
"Oke." Kai mengangguk, sementara Baekhyun langsung menggerutu.
"Sendirinya kelaperan, tapi gue disuruh nunggu sampe jam istirahat kedua!"
"Jangan protes, Baek. Ntar lo nggak gue kasih izin ke kantin nih!" ancam Chanyeol.
Kai buru-buru mengajaknya pergi, "Buruan, Baek. Udah mau bel." cowok itu berjalan ke luar kelas dengan langkah-langkah cepat. Baekhyun buru-buru mengikuti.
Teman-teman sekelas yang menyaksikan adegan itu lagi-lagi tampak bingung. Karena terlalu seringnya mereka menyaksikan itu, kemudian merebaklah beberapa versi dugaan kenapa Chanyeol sampai overprotektif begitu. Mereka menginterogasi Baekhyun ketika cewek itu balik dari kantin.
"Lo pasti pernah nyolong ya, Baek, waktu main ke rumah Chanyeol. Makanya lo diawasin terus sama dia. Takut lo nyolong di tempat lain," ujar Daehwi.
"Jangan-jangan lo cewek tukang selingkuh ya? Nggak bisa dipercaya. Makanya ke mana-mana dibuntutin terus." Ini kata Mingyu.
"Lo punya penyakit ayan ya, Baek? Makanya Chanyeol nggak tega ngebiarin lo sendirian. Takut lo kumat di jalan, trus nggak ada yang nolongin." Kalau ini Derry yang ngomong.
Diiringi tawa geli seisi kelas, Baekhyun lalu berdiri dan bertolak pinggang. "Iyaaa, sebutin aja yang jelek-jelek. Gue tukang nyolong, tukang selingkuh, ayan. Trus apa lagi?"
"Abis, kenapa dong Chanyeol sampe kayak gitu?" tanya Daehwi.
Chanyeol yang sedang asyik duduk di bangkunya, baru saja hendak menjawab, tapi Baekhyun sudah lebih cepat.
"Ya karena dia cinta banget sama gue!" tandas Baekhyun. Langsung seisi kelas bersuit-suit dan bertepuk tangan riuh.
"Cieeeh! Keren!" seru Kwangsoo.
"Romantis, bo!" timpal Seongwoo.
"Emang!" jawab Baekhyun, dengan nada makin tandas tapi muka makin bete. "Makanya lo-lo jangan pada berisik! Mengganggu kemesraan kami aja, tau!"
Kembali seisi kelas jadi ketawa-ketawa geli.
Baekhyun berjalan ke arah bangkunya, sambil terus menatap Chanyeol. Cowok itu balas menatap Baekhyun dengan tampang bingung.
"Hai, darling honey!" seru Baekhyun, dengan nada yang dibuat riang. "Mereka pada ngiri tuh. Katanya kita mesra banget!"
Ketika Baekhyun sudah duduk di sisi Chanyeol, cowok itu meraih Baekhyun dengan satu tangan lalu mencium puncak kepalanya. Sontak teriakan histeris memenuhi ruang kelas mereka.
"CUIH! BETE!"
"NORAK!"
"KAMPUNGAN!"
"UDIK!"
.
.
.
Tidak hanya itu. Chanyeol juga menjeput dan mengantar pulang Baekhyun. Setiap hari. Sementara bentuk proteksi lain yang dilakukan cowok itu begitu Baekhyun tidak lagi bersamanya adalah dengan mengiriminya SMS atau menelponnya, untuk memastikan cewek itu dalam keadaan baik.
Tadinya Baekhyun patuh. Ia membalas setiap SMS dan menjawab setiap telepon. Tapi lama-lama cewek itu bosan juga. Karena bunyi setiap SMS dan telepon Chanyeol selalu "Lo baik-baik aja, kan?", minimal sehari dua kali, lama-lama Baekhyun jadi stres. Jadinya malah nggak baik-baik aja, kan?
Pernah Baekhyun mematikan ponselnya untuk melarikan diri sebentar saja dari overprotektif Chanyeol. Tapi usahanya itu malah membuat telepon rumahnya terus berdering. Kemudian didengarnya suara mamanya menjawab pertanyaan, setelah itu mamanya muncul di kamar, menanyakan ada masalah apa antara Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun tak bisa menjawab karena ia sendiri juga tidak tahu. Cewek itu jadi dapat masalah baru, karena mamanya mengira ia punya masalah gawat tapi tidak mau cerita.
Membiarkan ponselnya begitu saja tanpa memedulikan SMS dan telepon dari Chanyeol, ternyata juga bukan jalan keluar. SMS yang masuk jadi bertubi-tubi dan ponsel itu jadi berdering terus. Bikin kepala mau pecah. Emosi Baekhyun akhirnya memuncak. Ketika kemudian diangkatnya telepon, siap marah-marah, Chanyeol ternyata lebih galak lagi.
"Kenapa SMS gue nggak dibales!?" dari seberang langsung terdengar nada tajam.
"Bosen, tau! Isinya sama melulu. Telepon nanyanya itu-itu juga."
"Baekhyun, denger ya!?" Chanyeol mendesis dengan nada yang semakin tajam. "Gue kuatir sama elo, Baek. Makanya gue SMS, gue telepon. Kalo lo nggak bales SMS gue, nggak ngangkat telepon, lo bikin gue tambah kuatir."
"Kan tiap hari lo nganter gue sampe rumah? Kenapa juga lo masih ngirim SMS dan nelepon?"
"Gue cuma nganter, Baek. Nggak nginep. Dan itu kan tadi sore. Sekarang udah mau jam sembilan. Selisih berapa jam tuh? Bisa terjadi banyak hal, tau!"
"Tapi gue kan di rumah sendiri!"
"Nggak peduli lo ada di mana!" tandas Chanyeol. "Pokoknya, bales SMS gue ya! Kalo gue telepon, angkat!" Chanyeol langsung mematikan telepon. Baekhyun menghentakkan kakinya.
"Hiiih! Dasar otoriter!" makinya sambil melempar ponsel itu ke kasur.
Di seberang, Chanyeol tercenung. Masih dengan ponsel di tangan. Ia tahu, ketakutannya telah menyebabkan dirinya bersikap terlalu keras terhadap Baekhyun. Tapi ia tidak tahu cara lain. Ia berharap, dengan begini Kris tidak bisa "mengambil" Baekhyun. Cewek itu terus berada dalam pengawasan kedua orangtuanya dan pengawasan Chanyeol.
Kalaupun bisa, apa pun wujud kakaknya itu kini, jiwa adalah kekal. Chanyeol berharap hati juga kekal sama seperti jiwa.
.
.
.
Esok paginya, ketika hendak berangkat sekolah dan memeriksa isi dompetnya, Chanyeol baru menyadari bahwa uang sakunya cekak banget. Ia nggak sadar bahwa setiap hari meng-SMS dan menelpon Baekhyun telah menguras isi dompetnya untuk membeli pulsa. Sedangkan jadwal mendapatkan uang saku bulanan masih jauh.
Otak Chanyeol terus mengalkulasi sisa uang saku yang ada, plus sedikit tabungan, kira-kira ia bisa bertahan berapa lama. Bisa saja ia menghemat transpor dan mengurangi jajan, tapi sampai kapan?
Karena sibuk memikirkan ini-itu, Chanyeol jadi tidak ingat sarapan. Akibatnya saat ini, saat menelusuri trotoar menuju rumah Baekhyun, perutnya melilit kelaparan.
Enak nggak ya, kalo numpang sarapan di rumah Baekhyun? Gila, laper banget! Katanya dalam hati. Kemudian cowok itu berdecak dan tersenyum sumbang. Semalem gue marah-marahin tu cewek, dan sekarang gue minta makan? Tragis banget!
Kelaparan dan kepala sibuk mempertimbangkan untuk numpang makan membuat Chanyeol tidak fokus pada jalanan di depannya. Tiba-tiba satu pukulan keras mendarat di punggungnya. Cowok itu berteriak keras, kaget dan kesakitan. Seketika ia balik badan. Seorang bapak menyambutnya dengan tatapan marah.
"Kamu tau nggak kalo semennya belum kering!?" bentaknya.
Chanyeol menunduk. Tidak jauh dari kakinya, ada satu area kecil berupa lapisan semen yang masih basah, untuk menutupi lubang agar tidak semakin lebar dan membahayakan pengguna jalan. Kedua jejak sepatunya tercetak jelas di sana. Pantas saja bapak itu jadi berang.
"Maaf, pak. Maaf…" Chanyeol membungkukkan badan. "Saya nggak ngeliat."
"Makanya kalo jalan jangan sambil ngelamun. Jadi bisa liat-liat. Sana pergi!" usir bapak itu. Sambil meraih ember kecil berisi adukan semen ia memelototi Chanyeol.
Chanyeol buru-buru pergi dari situ. Ketika ia sampai di rumah Baekhyun, cewek itu sedang menunggunya di teras. Tampangnya cemberut.
"Yuk!" Baekhyun langsung mengajak Chanyeol berangkat. Tapi saat melihat wajah Chanyeol yang pucat, Baekhyun jadi bertanya, "Kok tampang lo kusut begitu? Belum sarapan ya?"
"Mmm…." Chanyeol berdeham. Ditatapnya Baekhyun dengan senyum kikuk. "I-iya."
"Hah!?" Baekhyun ternganga. "Gimana sih lo? Gimana bisa belajar kalo nggak sarapan?"
"Yaaah…" Chanyeol melebarkan senyumnya. Kemudian ia juga menceritakan peristiwa ia dipukul tadi. Singkat tapi dilebih-lebihkan. Maksudnya jelas, supaya Baekhyun tambah kasihan, sekaligus melupakan soal marah-marah semalam.
"Sumpah, Baek. Sakit banget." Chanyeol menyentuh punggungnya hati-hati dengan satu tangan. Baekhyun meliriknya, masih dengan tampang kesal.
"Roti aja, ya? Makan sambil jalan. Soalnya kalo makan di sini, ntar kita telat."
"Oke. Lo sweet banget emang," Chanyeol langsung melontarkan pujian.
"Semalem lo udah marah-marah, sekarang gue yang ngasih sarapan. Kalo lo masih bilang gue jelek, bener-bener gue kasih racun di roti lo ntar!" gerutu Baekhyun sambil balik badan dan berjalan ke dalam. Chanyeol menatapnya sambil nyengir. Namun cengiran itu langsung menghilang begitu Baekhyun sudah tidak terlihat. Chanyeol tetap merasa apa yang menimpanya hari ini bukan kebetulan. Tak lama Baekhyun keluar, dengan satu tangkup roti dan segelas air mineral. Chanyeol buru-buru mengubah air mukanya.
"Isinya selai kacang. Adanya cuma ini," kata Baekhyun sambil mengeluarkan roti. Chanyeol menerimanya dengan sigap.
"Ini juga udah oke banget. Yuk, jalan. Nyokap lo mana? Mau pamit."
"Lagi di kamar mandi. Udah gue pamitin tadi."
Keduanya pun melangkah keluar.
.
.
.
Sampai siang menjelang sore, saat Chanyeol menyusuri jalan menuju rumahnya, rasa sakit di pungguang akibat pukulan tadi pagi tidak juga hilang. Chanyeol kembali berpikir, apa yang menimpanya hari ini pasti bukan kebetulan.
Tiba-tiba saja ia melihat "tanda" itu, dulu sekali, di suatu hari saat ia dan Kris masih SD. Pertengkaran serius mereka yang pertama. Chanyeol sudah lupa apa penyebabnya, dengan sebatang ranting kayu Kris memukulnya keras-keras di punggung.
Chanyeol ingat, kejadian itu membuatnya menangis, setelah sebelumnya ia menjerit keras dan Bi Minah tergopoh-gopoh menghampiri. Perempuan paruh baya yang biasa sabar itu sampai marah-marah. Dia merebut ranting itu dari tangan Kris dan mengancam akan melakukan hal yang sama jika sekali lagi Kris berani memukul adiknya seperti itu.
Kenangan samar yang mendadak teringat lagi dengan sangat jelas itu membuat Chanyeol tersentak. Langkahnya terhenti mendadak. Tanpa bisa dicegah, jantungnya berdebar keras saat menyadari penyebab semua kejadian yang menimpanya hari ini. Kris marah!
.
.
.
Sudah lima belas hari berlalu sejak Chanyeol memasuki kamar dengan jantung deg-degan dan pikiran campur aduk. Sudah selama itu pula ia berdiri di depan foto Kris. Tatapannya terpaku pada dua mata di dalam foto itu. Sepasang mata yang sedang tertawa, tapi Chanyeol tidak menangkap kesan itu saat ini.
Ada banyak kalimat yang telah terlontar dalam diam yang cukup lama itu. Chanyeol tidak ingin menyebut sikap yang diambilnya saat ini sebagai tantangan. Ia tidak berniat menyakiti Kris. Sama sekali.
Namun Baekhyun milik dunia ini, dan cewek itu tidak tahu apa-apa. Jadi biarkan Baekhyun tetap di sini. Itulah permohonan Chanyeol pada sang kakak. Permohonan yang digemakan dalam hati tapi ia yakin Kris bisa mendengarnya.
Biarkan Baekhyun tinggal. Yang artinya, Chanyeol juga memohon agar sang kakak juga mau melepaskannya….
Pagi ini, sekali lagi dengan kedua mata menatap lurus pada kedua mata di dalam foto itu, Chanyeol mengulangi permohonnanya, dalam diam dan dengan sikap tubuh yang menantang.
Setelah sepuluh menit tegak di depan foto Kris, Chanyeol membalikan badan. Dilihatnya jam di pergelangan tangan. Astaga! Sudah lewat lima menit dari jadwal ia harus berangkat. Diraihnya tas sekolahnya, tanpa memeriksa isinya, kemudian bergegas keluar rumah.
Bus yang pertama lewat, penuh sesak. Chanyeol nekat berdiri di pintu. Sampai di rumah Baekhyun, cewek itu sudah senewen berat.
"Kok telat banget sih? Telepon gue nggak diangkat-angkat, lagi." sambutnya begitu Chanyeol muncul di depan pagar.
"Mana nyokap lo? Mau langsung pamit nih," ucap Chanyeol langsung.
Baekhyun berlari ke dalam, tak lama muncul bersama sang mama. Chanyeol langsung pamit, juga Baekhyun. Diiringi tatapan mama Baekhyun, Chanyeol dan Baekhyun balik badan dan berlari ke luar halaman. Keduanya terus berlari di sepanjang gang dan trotoar tepi jalan raya. Setiap kali Baekhyun tertinggal, Chanyeol langsung meraih satu tangannya dan menariknya.
Ditikungan, mereka melihat bus jurusan sekolah mereka baru saja meninggalkan halte. Serentak keduanya memanggil. Chanyeol berteriak, Baekhyun menjerit. Bus itu berhenti. Meskipun pelajar adalah jenis penumpang yang sama sekali tidak potensial memberikan keuntungan, histeria kedua pelajar itu membuat sang sopir tak tega untuk meninggalkan mereka di belakang.
Bus itu penuh, tapi keduanya tidak peduli. Yang penting bisa memperkecil persentase keterlambatan. Chanyeol menyuruh Baekhyun naik lebih dulu, kemudian ia menyusul. Untuk kedua kalinya di pagi ini, cowok itu harus berdiri di pintu. Kali ini dengan Baekhyun yang harus dijaganya. Yang harus ditahananya dengan punggung setiap kali bus itu berbelok ke arah kanan.
Begitu bus berhenti di halte depan sekolah, keduanya langsung melompat turun dan berlari sekencang-kencangnya menuju sekolah. Ternyata pintu gerbang telah tertutup. Bel baru saja berbunyi. Keduanya memohon dengan amat sangat pada Pak satpam agar bersedia membuka gerbang sedikit saja, karena masih ada sedikit waktu sebelum guru piket datang dan sebelum guru jam pertama sampai di kelas.
Dengan berat hati petugas sekuriti itu menggeser pintu gerbang yang berat itu. Hanya sedikit, cukup untuk kedua anak itu menyelinap masuk. Keduanya mengucapkan terima kasih, lalu berlari secepat-cepatnya menuju kelas.
Untung saja, guru belum datang. Keduanya masuk kelas dengan tubuh basah oleh peluh tetapi lega karena berhasil selamat. Godaan teman-teman sekelas mereka tanggapi hanya dengan cengengesan.
Selamat untuk Baekhyun, tapi tidak untuk Chanyeol. Saat istirahat pertama, cowok itu baru sadar bahwa ia tidak membawa buku pelajaran PKN!
"Mampus gue, Baek!" desis Chanyeol. "Buku PKN gue ketinggalan!"
"Yaaah!" Baekhyun memekik tertahan. "Kok bisa? Hari ini yang ada PKN cuma kelas kita, nggak bisa cari pinjeman."
"Makanya, ck!" Chanyeol berdecak.
"Ya udah. Kita pake cara kayak waktu itu lagi. Tapi jangan pinjem bukunya Giri. Ntar nggak sukses lagi."
"Percuma!" Chanyeol menggeleng. "Yang ketinggalan bukan cuma buku cetaknya. Semuanya. Buku catetan, PR, latihan."
"HAAAH!?" kali ini Baekhyun memekik keras. "Ketinggalan, apa lo sengaja nggak bawa sih?"
"Ketinggalanlah!" jawab Chanyeol dengan intonasi yang tanpa sadar jadi ketus. Ia enggan menceritakan alasan kenapa ia bisa lupa.
"Ya udah. Mendingan ntar lo jujur sama Bu Sunny," usul Baekhyun kemudian. Chanyeol manggeleng.
"Percuma!"
"Iya sih." Baekhyun mengangguk lemah. "Jadi?"
"Pasrah. Mau gimana lagi?"
Untuk Bu Sunny, tidak membawa buku PKN adalah pelanggaran yang sifatnya absolut. Meskipun cerita di balik tidak terbawanya buku tersebut sedramatis kisah Anna Karenina atau Romeo-juliet, beliau tidak peduli. Nggak bawa, ya nggak bawa. Titik!
"Waktu itu, cuma nggak bawa buku cetak aja, lo dikeluarin dari kelas. Sekarang lo bukan cuma nggak bawa buku cetak, tapi juga buku catetan, buku PR, sama buku latihan!" Baekhyun memandangi keempat jarinya. Kedua matanya terbelalak saat menyadari betapa gawat masalah yang dihadapi Chanyeol. "Kayaknya lo bakal dikeluarin dari sekolah!" Chanyeol melirik jengkel, tapi tidak jadi marah ketika mendapati sorot cemas di kedua mata Baekhyun.
Ternyata Bu Sunny masih ingat bahwa sebelumnya Chanyeol juga pernah tidak membawa buku PKN. Tidak mengherankan sih sebenarnya. Bedanya, dulu beliau menganggapnya sebagai kasus ringan atau kasus umum, tapi sekarang Bu Sunny menganggapnya sebagai kasus khusus.
Karena Chanyeol tidak membawa seluruh buku yang berhubungan dengan PKN -Bu Sunny menekankan kata "seluruh" itu dengan menyebutnya tiga kali- berarti Chanyeol memang tidak tertarik untuk mengikuti pelajarannya. Jadi dengan sangat berat hati, beliau membebaskan Chanyeol dari pelajaran PKN selama satu bulan. Satu bulan?
What a wonderfull life!
Beneran, sumpah! Kalau saja PKN bukan salah satu mata pelajaran yang nilainya wajib berwarna biru di rapor. Dengan adanya kejadian ini, Chanyeol tidak yakin sekeras apa pun ia berusaha dirinya akan punya peluang untuk mendapatkan nilai biru.
Chanyeol tidak tahu bagaimana cara Kris melakukannya, atau bagaimana semua peristiwa yang menimpanya selama dua hari terakhir ini terhubung dengan almarhum kakaknya itu. Yang jelas, hari ini nasibnya lebih sial daripada kemarin. Jauh lebih sial!
.
.
.
Chanyeol berjalan memasuki halaman rumah dengan muka kaku dan rahang terkatup rapat. Ia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga -tidak seperti biasanya- ia masuk rumah begitu saja, tanpa memberi salam. Ia langsung menuju kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Chanyeol lalu berdiri di kaki tempat tidur Kris. Karena hanya di situ satu-satunya tempat ia bisa "berdiri berhadapan" dengan Kris.
Masih dengan ransel tersandang di punggung, Chanyeol berdiri tegak di sana. Ditantangnya sepasang mata Kris yang berada di dalam foto berbingkai. Sesaat hanya ada keheningan. Kemudian Chanyeol bicara dengan suara tenang. Sangat tenang. Jenis ketenangan yang biasa terjadi sesaat menjelang badai.
"Sekarang Baekhyun sama gue. Bukan sama elo!"
.
.
.
Kalimat yang sama, sikap yang sama, diulangi Chanyeol keesokan paginya, sesaat sebelum berangkat ke sekolah. Tindakan yang tidak perlu sebenarnya. Satu kali, cukup. Tapi dua kali, terlalu banyak!
Chanyeol pamit pada seisi rumah, lalu berangkat. Tidak sampai berdiri lima menit di halte, bus yang ditanggungnya datang. Namun bus itu tidak pernah sampai di halte tujuan. Di tengah jalan, bus yang sarat penumpang itu mogok. Segala upaya yang dilakukan sopir berikut kondekturnya tidak berhasil membuat mesin kendaraan itu menyala.
Akhirnya kedua orang itu pasrah dan memindahkan seluruh penumpang ke bus-bus pada trayek yang sama. Tapi saat ini jam sibuk. Seluruh angkutan umum dalam keadaan penuh. Bus pertama yang lewat cuma bisa memuat tujuh orang lagi. Bus kedua malah lebih parah, hanya tiga orang yang bisa naik. Itu pun sudah pasti di pintu.
Tak ayal, tiap kali sebuah bus muncul lalu berhenti di hadapan, terjadi saling dorong di antara penumpang. Semua berebut naik. Chanyeol pilih mengalah. Akibatnya, ia jadi tidak bisa menjemput Baekhyun. Waktunya tidak cukup. Terpaksa diteleponnya cewek itu. Memintanya untuk tidak menunggu dan berangkat ke sekolah lebih dulu. Sebenarnya hal itu membuat Chanyeol sangat cemas. Tapi tidak ada jalan lain.
Ketika bus berikutnya muncul, Chanyeol memaksa naik karena waktu sudah benar-benar mepet. Begitu sampai di halte tujuan, cowok itu langsung melompat turun. Ditelusurinya trotoar dengan setengah berlari, karena bel masuk sudah berbunyi dua menit yang lalu. Tapi Chanyeol lega karena tadi Baekhyun sudah mengirim SMS yang mengatakan dia sudah sampai di sekolah. Paling tidak cewek itu tidak ikut terlambat.
Langkah setengah berlari Chanyeol mendadak terhenti. Seorang laki-laki yang sepertinya tidak waras tiba-tiba muncul dari tikungan di depannya. Laki-laki itu kurus, kumal, dekil dan bajunya compang-camping. Di kepalanya bertengger helm rusak. Tapi bukan itu yang membuat Chanyeol mematung. Melainkan benda yang tergenggam di tangan kanan laki-laki itu. Pentungan besi!
Orang gila itu menghampiri Chanyeol dengan mata melotot dan muka marah. "Mau gue abisin lo!?" teriaknya.
Chanyeol memucat dan semakin tak mampu bergerak. Orang gila itu mengayunkan pentungan besinya. Sesaat Chanyeol mengira dirinya sudah tewas, tapi satu tangan menyambar lengan kiri Chanyeol dari belakang.
"Lari, goblok!" si pemilik tangan berteriak dan menariknya dengan sentakan.
Chanyeol tersadar. Ia balik badan, mengikuti tangan yang menariknya. Ternyata Jongdae. Keduanya lari pontang-panting. Orang gila itu mengejar sambil berteriak-teriak dan mengacung-acungkan pentungan besinya.
Kedua cowok itu terpaksa nekat memanjat pagar sebuah rumah, lalu melompat masuk ke halamannya setelah tiga kali bunyi bel yang mereka tekan dengan kalap tidak membuat satu orang pun keluar. Jongdae pucat. Chanyeol lebih pucat lagi. Keduanya bersembunyi di belakang kursi teras, sambil mengintip ke arah jalan. Tak lama orang gila itu muncul. Berlari melewati rumah tempat mereka bersembunyi. Masih sambil berteriak-teriak dan mengacung-acungkan besi yang di pegangnya. Setelah teriakan orang gila itu tidak terdengar lagi, baru kedua cowok itu menarik napas lega.
"Bego, lo!" bentak Jongdae kemudian. "Bukannya langsung kabur! Lo bisa mati kalo tadi sempet kena sabetan!"
"Biasanya di situ nggak pernah ada orang gila. Kenapa tiba-tiba ada? Terus kok sama sekali nggak ada polisi yang nangkep?" suara Chanyeol terdengar mengambang. Seketika ia teringat kalimat yang dua kali diucapkannya di depan foto Kris.
"Namanya juga orang gila, suka berkeliaran." Jongdae berdiri. "Yuk, ah. Buruan. Keburu yang punya rumah nongol. Ntar kita dikira mau nyolong, lagi. Lagian udah telat banget nih. Untung ada alesan yang oke!"
Keduanya kembali memanjat pagar, melompat keluar dan segera berlari ke arah semula.
Siangnya, sepulang sekolah, saat menyusuri kembali trotoar itu menuju halte bersama Baekhyun, Chanyeol mengawasi sekelilingnya dengan waspada. Baekhyun melakukan hal yang sama, juga semua murid yang berjalan menuju halte. Kejadian yang menimpa Chanyeol dan Jongdae tadi pagi memang menjadi pembicaraan ramai.
Chanyeol menarik napas lega setelah bus yang mereka tunggu datang dan orang gila berbahaya itu tidak terlihat sama sekali.
.
.
.
TBC
.
.
.
fauziah agustina waduh kasian,, aku yg baca bareng temen aja merinding, apalagi kamu..
rorororonoaa ini yang aku maksud di summary itu loh,, jadi ya gini 'gentayangannya' si Kris,,
haha,, kamu orang sunda juga?
Fujisaki B-Rabbit New hehe,, gak nyangka ya?
agnesnes aku aja yang baca rame'' merinding, apalagi kamu yang baca sendiri..
udah kejawab kan pertanyaannya? Jadi Kris ganggunya emang gak secara langsung..
ini udah next yah.. sama-sama,, makasih juga selalu review dan selalu kasih semangat.. saranghae..
kokogirl614 iya, tapi emang Kris gak ngehantuin secara langsung gitu..
iya, aku juga suka banget sama cerita ini, makanya aku sampe kepikiran buat remake, syukur deh kalo banyak yang suka juga.. makasih ya udah baca, udah review sampe kasih semangat juga,, ini udah next ya,, nado saranghae.. :*
leorna haha iya kayaknya Kris belum rela lepasin Baek buat orang lain
Jang Ha Na gak nyangka ya? Sama aku juga gak kebayang bakal jadi gini pas baca novelnya..
Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff remake ini, apalagi yang review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~
So, how about this chapter?
RnR juseyooo~
Follow my ig: baekhill_byun
_Hill_ 160318
