DIA, TANPA AKU

Remake Story by Esti Kinasih

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

OCs

.

.

[DISCLAIMER]

Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.

.

.

Capter 15

.

.

Happy reading..

.

.

KUNCUP mawar itu akhirnya menghentikan semua perlawanan Chanyeol. Orang yang dihadapinya muncul dari ketiadaan. Dia maya. Dia abstrak. Dan kemungkinan besar, dia memang tidak akan bisa dikalahkan.

Kini, setiap kali Chanyeol menatap Baekhyun, ada perasaan hubungan ini tidak selamanya. Akan ada hari terakhir, kemundian cewek itu takkan lagi dilihatnya. Sama sekali. Sama seperti kini ia tak lagi melihat Kris.

Chanyeol menghela napas. Panjang dan berat. Sebenarnya ia tidak ingin pasrah, tapi ia tidak tahu apa yang bisa dilakukan.

"Tinggal ngitung mundur aja," ucapnya dengan suara serak.

Ditatapnya Suho yang siang ini sengaja menjemputnya karena khawatir.

Suho menatap Chanyeol dengan nelangsa.

"Lo yakin?" tanyanya pelan. "Gue rasa karena selama ini elo terus di sebelah Baekhyun. Lo awasin dia sampe begitu. Kalo lo lepas dia, mungkin…"

"Percuma! Kalo gue lepas dia, nanti pasti ada cowok lain yang deketin dia. Sama saja." Chanyeol menggeleng lemah.

Suho terpaksa mengakui kebenaran kata-kata itu.

.

.

.

Hanya tinggal menghitung mundur….

Sepasang mata Chanyeol menatap nanar kegelapan di sekelilingnya. Kamarnya gelap gulita, juga di luar sana. Listrik padam dan satu-satunya cahaya yang terlihat olehnya hanya sebatang lilin yang menyala di rumah tetangga. Di balik tirai, cahaya itu begitu buram dan tidak menerangi apa-apa.

Buram….

Dan jauh….

Seperti itu yang terlihat olehnya sekarang. Baekhyun dan hari-hari mereka harus ditinggalkannya. Harus dilupakan. Semua yang pernah terjadi. Semuanya.

Chanyeol mengerti, Baekhyun memang milik Kris. Karena itu ia ikhlas berdiri di tempatnya sekarang, yang dulu adalah tempat Kris: menjaga Baekhyun. Tidak lebih dari itu.

.

.

.

Hanya menjaga Baekhyun.

Satu kalimat pendek, namun berat karena Chanyeol harus mematikan hatinya. Cowok itu memutuskan untuk melakukan dengan cepat. Drastis. Karena mati dengan cara cepat lebih baik daripada mati pelan-pelan.

Begitu memutuskan itu, Chanyeol langsung mengontak Baekhyun, mengatakan besok pagi ia tidak bisa menjemput. Chanyeol juga mengatakan ia tidak bisa lagi mengantar dan menjemput setiap hari. Hanya bisa sekali-sekali.

"Kenapa?" Ada nada kaget di dalam suara Baekhyun. Chanyeol mengatakan alasan yang paling masuk akal yang bisa ia temukan.

"Gue capek. Tiap hari kudu bangun lebih pagi. Trus pulangnya udah sore. Rumah lo kan lumayan jauh, Baek."

"Oh? Iya sih."

"Nggak apa-apa kan berangkat sendiri?"

"Nggak apa-apa. Santai aja."

"Sip kalo gitu." Chanyeol meletakan telepon. Kedua matanya perlahan terpejam. Kalau Kris bisa memberikan Baekhyun kuncup mawar itu, Kris pasti juga bisa menjaganya.

Alasan Chanyeol memang masuk akal, karena itu Baekhyun tidak berpikir apa-apa sampai kemudian ia mendapati Chanyeol menjadi orang yang benar-benar berbeda, yang nyaris tidak dikenalnya. Chanyeol tidak hanya tak pernah lagi menjemput dan mengantarnya pulang. Cowok itu juga menjaga jarak. Setiap kali Baekhyun akan meraih lengannya -satu tindakan yang kerap dilakukan Baekhyun tanpa sadar karena telah terbiasa- reaksi Chanyeol adalah menjauh seketika.

Cowok itu berusaha keras agar Baekhyun tidak dapat menyentuhnya. Setelah itu Chanyeol akan berpura-pura itu tidak terjadi. Seakan-akan penolakan itu dilakukannya tanpa sadar.

Chanyeol telah menciptakan jarak. Tinggal Baekhyun yang kebingungan. Ia ingin bertanya, tapi urung. Malu.

Keanehan Chanyeol yang lain yaitu cara kedua matanya menatap Baekhyun. Terkadang, Chanyeol menatap dengan sorot seakan Baekhyun jauh di batas horizon sana, bukan di depan matanya. Terkadang, cowok itu menatap dengan sorot sedih dan putus asa.

Namun untuk satu hal ini, Chanyeol tidak berusaha menyembunyikannya. Ia tidak bisa mengelak setiap kali Baekhyun memergoki tatapannya. Untuk satu keanehan ini, Baekhyun berani bertanya.

"Lo kenapa sih?"

Namun jawaban Chanyeol juga tidak berarti apa-apa untuknya.

"Nggak apa-apa. Cuma pengin ngeliatin elo aja. Nggak apa-apa, kan? Atau nggak boleh juga?"

Kening Baekhyun sontak mengerut rapat. Sementara kedua matanya yang menatap Chanyeol jadi menyipit. Cuma itu reaksi yang bisa ia berikan. Keanehan Chanyeol yang lain lagi-lagi membuat Baekhyun tidak tahu harus memberikan reaksi apa.

"Baek, lo tuh manis, ya? Bandel, tapi manis."

Baekhyun tertegun. Chanyeol tengah menatapnya. Dengan sorot putus asa itu. Namun kini sorot itu seakan menembusnya.

"Lo kenapa sih?" Baekhyun bertanya lirih. Lagi-lagi ia mengajukan pertanyaan yang itu-itu juga, karena ia tidak tahu bentuk bentuk pertanyaan bagaimana yang bisa mendapatkan jawaban. Blur tidak apa-apa, daripada gelap sama sekali.

Namun lagi-lagi, jawaban Chanyeol tidak memberikan penjelasan apa pun.

"Nggak apa-apa. Cuma pengin ngomong gitu aja. Nggak apa-apa, kan? Atau itu juga nggak boleh?"

Lama-lama Baekhyun juga jadi ikut putus asa, dan akhirnya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Chanyeol padanya. Menjauh. Mencipta jarak. Baekhyun malu bicara terus terang, apalagi mencecar seperti saran Kyungsoo. Karena kalau diingat-ingat, Baekhyun dan Chanyeol dekat tanpa komitmen apa-apa. Tanpa ungkapan apa pun. Tanpa pernyataan. Dekat begitu saja, lalu merasa nyaman satu sama lain.

Akhirnya Baekhyun sampai pada kesimpulan bahwa mungkin Chanyeol ingin di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa.

.

.

.

Esok paginya,saat berjalan dari halte ke sekolah, sendirian, Baekhyun masih merenungkan hal itu.

"Ya udah. Mau gimana lagi?" desisnya lirih. Entah kenapa merasa sedih.

Cewek itu menghela napas tanpa sadar. Ditelusurinya trotoar dengan langkah lambat dan kepala tertunduk. Sekarang berangkat ke sekolah jadi sesuatu yang membuat sedih. Di mana-mana terasa sepi. Muram. Kosong. Bahkan di saat kelas ingar-bingar karena cowok-cowok di bangku belakang bikin ulah, Baekhyun merasa keramaian itu jauh di tempat lain.

Kalau ada bangku yang kosong karena penghuninya tidak masuk, di mana pun posisinya, Baekhyun pasti akan langsung pindah. Toh tidak ada bedanya, di mana-mana terasa sepi dan sedih. Cewek itu juga tidak lagi bersemangat melakukan keisengan. Sudah tidak ada lagi orang yang akan melindunginya kalau ia dapat masalah gara-gara keisengannya itu.

Chanyeol menyaksikan semua perubahan Baekhyun itu. Walaupun itu sudah diduganya, tak urung dia terpukul juga. Namun ia tidak bisa apa-apa selain tetap berdiri di tempatnya.

Perubahan dratis keduanya sudah pasti membuat bingung seisi kelas. Chanyeol-Baekhyun mungkin memang pasangan paling unik. Paling membingungkan. Waktu baru jadian (asumsi orang-orang, padahal aslinya 'kan enggak jadian sama sekali), hebohnya minta ampun. Sebentar-sebentar berantem. Sebentar-sebentar ribut. Tapi begitu bubaran, adem ayem. Sepi, tanpa sedikit pun huru-hura. Kebalikan dari pasangan pada umumnya. Meskipun begitu, semua bisa melihat kesedihan keduanya. Baekhyun berusaha melarikan diri, dan Chanyeol tetap di tempatnya.

Mendung yang muncul sejak pagi membuat udara hari ini terasa lebih sejuk. Namun bagi Baekhyun, mendung cuma membuat hatinya tambah nelangsa. Ia kangen banget sama Chanyeol. Kangen sama cowok yang hanya duduk setengah meter darinya itu, kangen sama suaranya saat berbicara pada siapa pun juga, kangen sama setiap gerak tubuhnya yang tertangkap oleh ekor mata. Saat suasana kelas sedang hening, ingin sekali Baekhyun menoleh ke sebelah. Takut Chanyeol ternyata sudah nggak ada. Namun saat jam istirahat, jam kosong, atau saat-saat bebas lainnya, terpaksa cowok itu dijauhinya. Soalnya ia nggak tahu mau ngomong apa. Chanyeol sekarang udah nggak asyik lagi buat diajak ngobrol. Jawabannya pendek-pendek, kadang malah sekenanya. Sering juga dia nggak ngomong apa-apa. Cuma mendengarkan dengan diam, dan menatapnya dengan sorot yang kadang sedih, putus asa, atau nggak fokus itu. Pokoknya nggak jelas dan bikin bingung, serta akhirnya membuat Baekhyun seperti ini. Putus asa juga.

Menjelang siang, mendung bertambah pekat dan berubah menjadi hujan lebat. Baekhyun menatap tetes-tetes air itu dengan perasaan yang semakin

nelangsa lagi. Chanyeol masih di sebelahnya, tapi rasanya sepi banget. Sedih. Kosong.

Tak lama menjelang bel pulang, hujan berhenti. Perasaan Baekhyun tidak berubah menjadi lebih baik. Sebentar lagi ia akan mendengar kalimat yang mulai akrab di telinganya akhir-akhir ini. Ucapan perpisahan Chanyeol.

"Gue duluan ya, Baek. Ati-ati di jalan."

Lima menit setelah bel pulang berbunyi, Baekhyun berjalan pelan ke arah gerbang. Sendiri. Hujan lebat tadi telah menciptakan kubangan air kotor di depan trotoar sekolah. Mendadak keinginan itu muncul.

Ngisengin orang, ah. Kali aja bikin gue jadi bahagia dikit. Gila, udah lama banget gue nggak ngusilin orang, ujar Baekhyun dalam hati.

Keinginan itu kemudian memang memberinya sedikit kegembiraan. Cewek itu melangkah menuju gerbang sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan.

.

.

.

Flashback on, last night

Suho sedang merapikan rak bukunya, saat matanya tertumbuk pada sebuah komik yang tergeletak di rak paling atas. Dengan perasaan heran diambilnya komik tersebut. Ia langsung ingat, komik itu dibawa Kris saat datang ke rumahnya untuk pinjam motor.

"Pinjem motor lo bentar, Ho. Mau jemput adik gue sekalian mau ngeliat Baekhyun. Udah tinggal tiga hari nih, dia pake putih-biru."

Suho masih ingat dengan jelas. Begitu ia serahkan kunci motor, Kris langsung berlari ke luar sambil berseru,

"Titip komik, ya? Di dalemnya ada fotonya Baekhyun tuh!"

Suho tersentak. Tidak perlu mencari di anatara halaman-halaman komik, karena foto yang diselipkan itu sudah membentuk sedikit celah. Suho menarik keluar foto itu. Seketika kenangan itu datang. Memunculkan rasa sedih, juga rindu yang menyakitkan.

Foto ini diambil di hari ia menemani Kris ke sekolah Baekhyun. Dihari ketika dilihatnya cewek itu untuk yang pertama kali. Diambil sesaat sebelum momen satu-satunya itu terjadi. Ketika itu Kris memutuskan untuk mengejar Baekhyun, menemaninya berlari kemudian melindunginya. Momen ketika akhirnya mereka saling menyebutkan nama.

Suho menghela napas. Tatapannya meredup. Masih bisa diingatnya dengan jelas wajah bahagia Kris saat itu, dan celotehan ramainya di sepanjang perjalanan pulang. Kembali Suho menghela napas. Disisipkannya lagi foto itu di antara halaman-halaman komik, lalu diletakkannya komik itu di atas meja. Cover depannya yang sedikit tersibak memperlihatkan pemilik sah komik tersebut. Ia meraih kembali komik itu dan membuka halaman pertamanya.

Ternyata itu milik Chanyeol. Bukan hal yang mengherankan, mengingat Kris dan Chanyeol sama-sama penggila komik. Keterbatasan dana membuat keduanya lalu melakukan kesepakatan. Masing-masing akan membeli judul yang berbeda, kemudian saling meminjam.

Suho langsung memutuskan akan mengembalikan komik itu besok siang. Kalau ditunda, takutnya malah lupa. Cowok itu berjalan ke luar kamar dan menuju meja telepon. Dikontaknya Chanyeol. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, Suho mengatakan maksudnya.

"Besok siang ketemu ya, Yeol. Mau balikin komik lo sama ngobrol bentaran."

"Komik yang mana?"

"Yang waktu itu dibawa Kris ke rumah gue trus ketinggalan."

"Oh. Oke."

Flashback off

.

.

.

Hari ini udara terasa sejuk, karena mendung sudah membayang sejak pagi. Dua jam menjelang bel berbunyi, mendadak langit menjadi sangat pekat dan turun hujan lebat. Suho menatap tetes-tetes air itu, mempertimbangkan untuk membatalkan rencananya ke sekolah Chanyeol. Namun lima belas menit menjelang bel, mendadak hujan berhenti sama sekali.

Begitu bel pulang berbunyi, Suho segera bangkit dan berjalan ke luar kelas. Dianggukkan kepala pada guru mata pelajaran terakhir, yang masih sibuk mengemasi buku dan kertas-kertasnya. Ia meminta maaf dengan senyum karena keluar kelas lebih dulu.

Dua puluh menit kemudian, karena menumpang mobil seorang teman, Suho sudah sampai di tujuan, di sebuah warung makan merangkap toko stationery di seberang sekolah Chanyeol. Setelah memilih bangku dan memesan minuman, Suho mengirimkan SMS pada Chanyeol, memberitahukan dirinya sudah di tempat.

Sambil menunggu kedatangan Chanyeol, Suho memperhatikan gedung sekolah di depannya. Tatapannya lalu beralih ke trotoar di depan gedung itu. Hujan yang cuma sesaat tapi sangat lebat telah memenciptakan genangan air

kotor di beberapa tempat di depan trotoar itu. Tak lama Chanyeol datang. Sendirian.

"Di mana Baekhyun?" tanyanya.

Chanyeol mengedikkan bahu. "Tadi sih ada," jawabnya sambil lalu.

Suho jadi menyesal telah mengucapkan pertanyaan yang maksudnya hanya untuk basa-basi itu, karena ia sudah tahu perkembangan terakhir hubungan Chanyeol dan Baekhyun.

"Itu Baekhyun!" desis Suho tiba-tiba sambil menunjuk ke seberang jalan. "Panjang umurnya tuh anak!"

Chanyeol menoleh. Dilihatnya Baekhyun berjalan sendirian menuju gerbang dengan langkah-langkah santai. Cara Baekhyun berjalan dan ekspresi wajahnya yang tampak wajar, cenderung polos malah, tanpa sadar membuat Chanyeol waspada. Walaupun kini mereka telah saling asing, Chanyeol terlalu mengenal cewek itu.

"Sori, Bang. Ngobrolnya ditunda dulu, ya." Chanyeol memutar kursi yang ia duduki. Kini cowok itu duduk membelakangi Suho, menghadap ke jalan raya. Suho jadi mengerutkan kening melihat tingkah Chanyeol, dan perhatiannya jadi ikut tertuju pada Baekhyun.

Sementara itu, masih dengan langkah santai dan ekspresi biasa-biasa saja, Baekhyun menghampiri kerumunan teman-teman sekelasnya yang sedang berdiri di tepi trotoar, menunggu jemputan atau bajaj kosong yang lewat, atau menunggu orang yang akan bersama-sama berjalan ke halte bus.

Tiba-tiba, dengan gerakan yang begitu cepat dan tidak terduga, Baekhyun melompat ke tengah genangan air kotor, tepat di depan kerumunan teman-temannya. Tak ayal, cipratan air kotor melayang ke segala arah. Mendarat di baju, tas, tangan, kaki dan semua objek yang berada tepat dijalur cipratannya. Seketika terdengar pekikan dan jeritan keras.

"BAEKHYUUUNNNN…..!"

Sambil terkikik, Baekhyun langsung mengambil jurus langkah sejuta. Langkah seribu sih masih kurang cepat. Cewek itu berlari secepat-cepatnya. Terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Para korban keisengannya jelas tidak tinggal diam. Mereka berlari mengejar, sambil menjerit dan berteriak-teriak. Melontarkan ancaman dan sumpah serapah.

"Bener, kan!?" desis Chanyeol dan segera bangkit berdiri. "Bentar, Bang!" ditepuknya bahu Suho tanpa menoleh, dan cowok itu langsung berlari keluar dari warung makan.

Sesaat Suho cuma bisa terkesima melihat peristiwa itu. Namun sedetik kemudian ia tertegun saat menyadari peristiwa yang sama pernah terjadi. Dulu sekali.

Déjà vu!

Tanpa berpikir lagi, Suho segera ikut berdiri dan berlari keluar. Disusulnya Chanyeol. Di dalam kepalanya berkelebat peristiwa lampau, dan tanpa sadar ia membandingkannya dengan apa yang saat ini sedang terjadi di depannya.

Baekhyun melakukan keisengan yang persis sama. Akibatnya juga persis sama. Cewek itu dikejar-kejar para korban keisengannya.

Dulu Kris berlari mengejar Baekhyun. Kini Chanyeol juga berlari untuk mengejar cewek yang sama. Bedanya, Chanyeol berlari di bawah bayang-bayang pepohonan atau lindungan mobil-mobil yang terparkir di pinggir jalan.

Dulu Kris berlari menyebrangi jalan tepat di pertigaan untuk menghadang Baekhyun. Kini Chanyeol juga melakukan hal yang pasti akan persis sama.

Dugaan Suho tepat. Di depan mereka ruas jalan bercabang tiga. Setelah sesaat menengok ke belakang untuk meyakinkan Baekhyun sudah tertinggal jauh di belakangnya, Chanyeol berlari menyeberang dan langsung berbelok. Suho segera menyusulnya.

Mendadak Chanyeol berhenti berlari. Suho seketika juga menghentikan larinya, dan menghentikan dugaan-dugaan di kepalanya. Chanyeol mengamati pepohonan peneduh jalan tidak jauh di dekatnya, lalu menghampiri salah satunya dengan langkah cepat. Batang pohon itu lumayan besar dan ada semak-semak rimbun di kakinya.

Kemudian Chanyeol berdiri menunggu, di balik batang pohon itu, di sisi yang tidak terlihat dari arah tikungan tempat Baekhyun akan muncul nanti. Suho berdiri mematung. Ia menyadari betapa miripnya jalinan peristiwa ini dengan peristiwa lain yang pernah terjadi.

Setelah beberapa detik tubuh Chanyeol hilang di balik batang pohon, Suho tersadar. Ia segera menghampiri Chanyeol. Chanyeol menyambutnya dengan meletakan satu telunjuk di bibir, sambil tersenyum, lalu menunjuk ke seberang dengan dagu.

Ini sedikit berbeda. Hanya sedikit.

Suho mengangguk mengerti. Tak lama Baekhyun muncul dari tikungan. Masih berlari secepat-cepatnya. Napasnya terengah, namun bibirnya meringis geli. Juga kedua matanya. Kilatan tawa itu muncul jelas-jelas di sana.

Suho tertegun. Ada sesuatu yang terasa luruh di dalam dadanya. Ekspresi itu juga masih ekspresi yang sama.

Chanyeol yang juga mendengar suara orang berlari dan sudah menduga itu pasti Baekhyun, segera bersiap-siap. Ia menegakkan tubuh. Sesaat menjelang Baekhyun akan melewati pohon yang jadi tempatnya bersembunyi, Chanyeol mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan tiba-tiba.

Ia menangkap tubuh Baekhyun dan menariknya ke semak-semak rimbun di dekat pohon. Baekhyun kaget dan seketika berontak, tapi langsung diam begitu didengarnya suara bisikan.

"Sst! Ini gue!"

Sambil menarik Baekhyun ke tengah rerimbunan semak, Chanyeol menoleh ke arah Suho dan mengingatkan pesannya tadi dengan bahasa isyarat. Suho mengangguk sambil tersenyum. Senyum yang dipaksakan karena tak lama kemudian senyum itu menghilang tanpa sisa.

Sepasang mata Suho berubah nanar. Menyaksikan apa yang terjadi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Chanyeol dan Baekhyun merunduk dalam-dalam di balik semak. Karena Baekhyun tidak bisa menahan tawa, dengan gemas Chanyeol terpaksa memeluknya dengan tangan kiri. Sementara tangan kanannya membekap mulut cewek itu kuat-kuat.

Tiba-tiba Suho terpaku. Tubuhnya membeku saat menyadari sesuatu.

Persamaan setting tempat, persamaan situasi. Usai jam sekolah, hujan yang baru saja reda meninggalkan genangan air kotor di depan trotoar sekolah. Baekhyun melakukan keisengan. Menciprtatkan genangan air kotor itu ke arah teman-temannya, lalu terbirit-birit untuk menyelamatkan diri!

Dulu, Kris berlari mengejar untuk melindungi Baekhyun. Dan kini ganti Chanyeol yang melakukannya!

Namun ada perbedaan ending!

Dulu Kris hanya bisa melindungi Baekhyun dengan berdiri untuk menutupi. Tidak bisa lebih. Sementara kini, Chanyeol bisa lebih dari itu karena Baekhyun mengenalnya.

Suho tersentak dari keterpakuannya saat didengarnya suara-suara orang berlari dan tak lama kemudian beberapa cewek muncul di tikungan. Seragam sekolah mereka penuh bercak cokelat. Enam atau tujuh cewek itu, semuanya teman sekelas Baekhyun, berlari sambil mengomel. Mereka berhenti tidak jauh dari Suho, lalu memandang berkeliling. Mencari-cari. Masih sambil marah-marah.

"Si Baekhyun tuh iseng banget deh. Heran! Tu anak kalo nggak ngisengin orang sebentar aja langsung mati, kali ya?"

"Tapi sekarang isengnya dia nggak lucu. Pasti abis deh ntar gue diomelin nyokap nih. Rok gue sampe kotor banget gini."

"Kalo sampe ketangkep, bakalan gue celupin tu anak di kubangan air tadi. Sumpah!"

Suho buru-buru bertindak, karena salah satu cewek sudah bergerak mendekati semak tempat Chanyeol dan Baekhyun bersembunyi.

"Nyari cewek yang lari sambil ketawa-ketawa, ya?" tanyanya.

"Iya!" langsung terdengar jawaban kompak.

"Tadi lari ke seberang." Suho menunjuk ke seberang jalan. Ke arah kompleks perumahan. Tanpa berpikir lagi, cewek-cewek itu langsung berlari ke seberang jalan begitu lalu lintas di depan mereka sepi.

"Makasih, kak!" seru mereka bersamaan.

"Oke!" Suho balas berseru, sambil menahan senyum. Begitu keadaan sudah benar-benar aman, dia berseru ke arah semak-semak. "Oke, aman!"

Chanyeol keluar dari semak, menggandeng Baekhyun yang mukanya memerah karena menahan tawa. Chanyeol lalu menegurnya dengan nada kesal.

"Elo isengnya kadang suka kelewatan deh, Baek. Baju mereka sampe kotor gitu."

"Alaaah, direndem sebentar trus dicuci juga ilang," Baekhyun menjawab ringan.

"Ya udah. Lo cuciin gih sana!" Chanyeol melotot gemas.

"Hehehe." Baekhyun menyuarakan tawanya dalam bentuk tiga suku kata, tapi langsung didusul tawa yang benar-benar geli. Rasanya ingin sekali Chanyeol menjitak kepala Baekhyun. Rasa asing di antara mereka dengan cepat mencair. Keduanya kembali seperti sebelum Chanyeol memutuskan untuk menjauh.

"Yuk, cabut, Bang. Keburu mereka nongol nanti," ajak Chanyeol.

Ketiganya segera meninggalkan tempat itu, berlari cepat ke arah tikungan depan, menuju halte. Berlari di antara Chanyeol dan Suho, mendadak membuat Baekhyun teringat kembali akan peristiwa yang dialaminya. Cewek itu tiba-tiba berhenti. Chanyeol dan Suho yang mengapitnya seketika menghentikan laju langkah-langkah cepat mereka. Baekhyun berdiri di hadapan Suho. Ditatapnya cowok itu lurus-lurus.

"Kayaknya dulu gue pernah lari bareng elo juga deh, Kak."

Kata-katanya itu membuat kedua cowok di dekatnya membeku.

"Iya, bener elo!" Baekhyun mengangguk. "Trus, kayaknya ada cowok satu lagi deh."

"Akhirnya lo inget juga." suara Suho tercekat di tenggorokan.

"Siapa ya nama tu cowok? Temen lo itu, Kak?"

"Siapa? masih inget, nggak?" suara Suho kini bergetar.

"Mmm…." Baekhyun mengerutkan keningnya. Sesaat kemudian ia menggeleng.

"Coba tolong diinget-inget, Baek. Inget bener-bener." Suho benar-benar memohon.

Sementara itu Chanyeol membeku di tempatnya berdiri. Kedua matanya yang menatap Baekhyun lurus-lurus mulai berkabut. Inikah hari itu? Hari terakhir Kris bertemu Baekhyun, seperti yang ditulis Kris di catatan hariannya?

Baekhyun mengerutkan keningnya lagi. Tampak jelas ia berusaha mengingat. Namun tak lama ia menyerah.

"Nggak inget." Ia menggeleng.

"Sama sekali?"

"Iya."

"Kalo tampangnya kayak gimana, masih inget, nggak?" nada suara Suho mulai melemah.

"Apalagi itu," jawab Baekhyun sambil mengedikkan bahu dengan sikap santai. "Ah, udah ah. Ngapain dibahas sih? Nggak penting."

Terputus!

Suho merasa satu-satunya mata rantai yang masih menghubungkan cewek ini dengan Kris telah terputus.

Chanyeol juga merasakan hal yang sama, tapi dengan emosi yang membadai kedua arah yang berlawanan. Senang, tapi juga sedih. Lega, tapi sesak juga. Bersyukur, tapi menyesal. Ingin memeluk, namun sekaligus juga ingin melepaskan.

Sesaat hanya ada keheningan. Chanyeol terdiam. Suho terdiam. Baekhyun menatap keduanya dengan bingung.

"Kok jadi pada diem? Kenapa sih?" tanya Baekhyun. Chanyeol dan Suho tersentak bersamaan. Keduanya lalu berusaha keras menetralkan perasaan masing-masing.

"Bang, katanya ada yang lo mau omongin?" suara Chanyeol terdengar mengambang.

"Besok-besok aja. Nggak terlalu penting." suara Suho juga terdengar jauh. Saling pengertian yang tidak diucapkan.

"Kalo gitu gue duluan ya. Mau ngaterin si tukang iseng nih." Chanyeol melirik Baekhyun yang berdiri di sebelahnya. "Ntar keburu temen-temennya nongol, lagi."

Baekhyun terkikik geli. Tapi tak lama tawa itu menghilang.

"Lo mau nganter gue pulang lagi?" Ditatapnya Chanyeol dengan heran, tapi mengandung binar senang. "Kemaren-kemaren gue disuruh pulang sendiri."

"Udah, diem. Nggak usah cerewet. Gara-gara tadi, besok pagi kayaknya lo juga mesti gue jemput." Chanyeol melotot. Baekhyun langsung terkekeh-kekeh geli. Terlihat jelas kegembiraan di wajahnya.

"Asyiiiik. Besok selamet," katanya tanpa dosa. Dua cowok yang berdiri di dekatnya menatapnya dengan perasaan campur aduk.

"Oke deh." Suho menepuk bahu Chanyeol. "Ntar gue kabarin lagi kalo mau ketemu."

Mereka berpisah. Saat Chanyeol dan Baekhyun sudah berjalan menjauh itulah Suho teringat kembali apa tujuannya menemui Chanyeol siang ini. Sambil mengeluarkan komik yang disisipi foto Baekhyun, Suho mengejar keduanya. Namun tak lama langkahnya terhenti. Ia membatalkan niatnya.

Kalau Baekhyun melihat foto dirinya saat masih di SMP itu, pasti ia akan ribut bertanya. Saat ini Suho dan Chanyeol sudah terlalu letih untuk menjawab. Sambil menatap dua orang yang semakin jauh itu, Suho mengeluarkan foto Baekhyun dari halaman komik. Tatapannya kemudian bergerak turun. Mendadak ia terkejut saat menyadari sesuatu. Dengan cepat diangkatnya kepala. Ditatapnya Baekhyun, yang walaupun sudah berjalan cukup jauh tapi masih bisa dilihatnya dengan jelas.

Tatapan Suho lalu kembali ke foto di tangannya, kemundian ke sosok Baekhyun yang menjauh. Lalu sekali lagi kembali ke foto di tangannya.

Tidak salah.

Anting-anting yang sama, jam tangan yang sama, tas yang sama, ikat pinggang yang sama, kaus kaki yang sama dan sepatu yang sama! Bahkan saat ini Baekhyun mengikat rambutnya dengan ikatan yang jadi ciri khasnya: asal-asalan.

Satu-satunya yang tidak lagi ada di dalam foto itu adalah seragam putih-biru.

Suho terpaku. Instingnya mengatakan, ini bukan kebetulan. Karena, ini terlalu sempurna. Perlahan Suho menyisipkan kembali foto itu ke tengah-tengah halaman komik. Saat dimasukkannya ke tas, komik itu tersangkut di ritsleting. Lembaran-lembarannya terbuka tepat di halaman tempat foto Baekhyun diselipkan, menampakan bagian belakangnya. Ada sebaris kalimat di sana.

Seketika Suho batal memasukkan komik itu ke tas. Diambilnya lagi foto Baekhyun lalu dibaliknya dengan cepat.

Cowok itu terkesiap. Keterkejutannya yang teramat sangat membuat tubuhnya limbung. Cepat-cepat disambarnya dahan pohon terdekat. Sambil menyandarkan tubuh ke batang pohan yang kuat, ditekannya dadanya dengan satu tangan. Gemuruh jantungnya bahkan sanggup menggetarkan kelima jarinya.

Diiringi kesadaran yang sepertinya sudah menurun jauh dari posisi seratus persen, tatapan Suho turun perlahan, ke foto Baekhyun yang masih ada di tangannya. Tanpa sadar tangannya mencengkeram kuat. Sekali lagi dibacanya tulisan di balik foto, dengan kesadaran yang tidak lagi seratus persen itu.

Kasih tau Chanyeol, gue titip Baekhyun.

.

.

.

TBC

.

.

.

Yuhuuu.. akhirnya UTS udah beres,,, dan aku bisa bawa chapter ini.. adakah yang masih nunggu ff ini?

Oke, waktunya balesin review kalian di chapter sebelumnya..

fauziah agustina Baek-nya lucu banget ya,, semoga chapter ini sedikit menjawab pertanyaan kamu di chapter sebelumnya ya..

agnesnes chanbaek so sweet bikin baper ya, wkwkwk.. ini udah next ya.. makasih loh buat semangat dan do'anya,, :*

almaepark dari chapter ini udah ada sedikit gambaran kan?

byunhyun iya aku juga suka banget sama karakter-karakter yang ada di cerita ini, makanya aku tertarik buat remake. Kak esti emang kereeennn.. ini udah next ya..

Byuniebee dugeun-dugeun ya? Sama. Aku juga pas pertama kali baca cerita ini merinding gimana gitu.. semoga chapter ini sedikit ngasih gambaran ya buat pertanyaan kamu di chapter kemarin..

Banyak yang nanya: "ini Kris emang beneran ada, atau Cuma Chanyeol aja yang parno dan ngerasa bersalah?"

Mungkin dari chapter ini kalian udah dapet sedikit gambaran atas pertanyaan kalian itu, dan pertanyaan kalian itu bakalan terjawab sepenuhnya di chapter depan karena chapter depan adalah LAST CHAPTER/CHAPTER TERAKHIR YEEEAAAYYY.. HAHA *alay

So, how about this chapter? RnR juseyooo~

_Hill_ 300318