DIA, TANPA AKU

Remake Story by Esti Kinasih

.

.

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

OCs

.

.

[DISCLAIMER]

Cerita ini adalah milik penulis aslinya. Saya hanya me-remake kepada versi ChanBaek.

.

.

Capter 16

.

.

Happy reading..

.

.

MALAM itu, di kamar masing-masing, dua orang sama-sama dicekam satu perasaan yang tidak bisa mereka uraikan dengan kata apa pun yang pernah mereka kenal. Keduanya sama-sama duduk diam di depan jendela, memandang ke langit malam. Tidak bergerak. Hanya dada mereka yang bergerak teratur yang memberitahukan keduanya hidup, bukan patung lilin.

"Ah, udah ah. Ngapain dibahas sih? Nggak penting."

Kalimat yang diucapkan Baekhyun siang tadi, bergema berulang kali di dalam tempurung kepala Chanyeol.

Nggak penting….

Nggak penting….

Nggak penting….

Perlahan, kedua mata Chanyeol mengelam dan berkabut. Perlahan pula kepalanya kemudian tertunduk.

"Maaf,Kris," bisiknya serak.

.

.

.

Kalimat yang sama berdentam di kepala Suho. Berulang kali. Namun perlahan menghilang saat satu kalimat lain menyeruak pelan-pelan.

Kasih tau Chanyeol, gue titip Baekhyun…

Perlahan, sorot mata Suho mengelam. Perlahan pula kepalanya kemudian tertunduk.

"Lo bilang sendiri aja, Kris. Dia adik lo," bisiknya ke kegelapan malam.

.

.

.

Chanyeol menatap satu baris kalimat itu sejak beberapa menit yang lalu. Tanpa bicara. Tanpa bergerak. Kepalanya terus menunduk karena Suho meletakkan foto Baekhyun dengan posisi terbalik itu di atas meja.

"Tulisan ini tadinya ada, nggak?" suara Chanyeol terdengar samar.

"Nggak tau. Gue nggak pernah balik-balik tu foto. Nggak kepikiran," Suho menjawab pelan. "Kita tunggu apa kata Kris."

"Hah?" kepala Chanyeol terangkat perlahan.

Suho tertegun menatap wajah di depannya. Kesedihan, kerinduan, penyesalan. Semuanya terlihat jelas dan saling berperang.

"Kita tunggu apa kata Kris. Gue udah bilang, gue nggak mau ikutan. Ini urusan kalian berdua. Jadi dia yang harus ngomong."

Suho memasukkan foto itu ke dalam laci meja belajar Kris, tempat foto-foto Baekhyun yang lain disimpan. Tiba-tiba terdengar bunyi bel, lalu suara pintu pagar dibuka dan ditutup kembali.

"Baekhyun udah dateng," ucap Chanyeol pelan.

"Ngapain Baekhyun ke sini?"

"Mau belajar bahasa Inggris. Senin ulangan. Tu anak Inggris-nya parah banget. Makanya gue suruh ke sini."

"Pantes lo nggak ikut nyokap-bokap lo. Pilih jaga kandang."

"Bukannya pilih jaga kandang. Ikut juga percuma. Nggak bakalan enjoy. Senin ada ulangan dua. Berat-berat pula."

Tak lama terdengar bunyi pintu depan diketuk. Namun tidak ada yang bergerak. Suasana di dalam kamar itu masih terasa begitu emosional, hingga

keduanya merasa seperti terikat. Terdengar lagi pintu depan diketuk-ketuk, disusul suara Baekhyun yang mengucapkan rentetan salam keras-keras.

"HALOOO? PERMISIII! ASSALAAMU'ALAIKUM! ANNYEONGHASEYOOO! TTADAHAOOO! SPADAAA! EXCUSE ME? TOK-TOK-TOK? SHALOM? KULONUWUN? PUNTEEEN!"

Chanyeol dan Suho saling pandang lalu sama-sama tertawa geli sambil geleng-geleng kepala. Keduanya berjalan ke luar kamar.

"Iya, halo," kata Chanyeol sambil membuka pintu. "Satu aja cukup kali, Baek."

"Maaf deh. Maksudnya supaya cepet dibukain, gitu. Soalnya gue aus banget nih. Bagi minum dong. Yang dingin ya. Trus gelasnya yang gede," Baekhyun langsung nyerocos.

"Masuk dulu, kaliii."

"Oke!" cewek itu melompat masuk. Suho menatapnya, tak mampu menahan senyum. "Eh? Haiii!" sapa Baekhyun begitu melihat Suho.

"Hai juga," balas Suho, masih sambil tersenyum.

"Lo istirahat sebentar, trus kita langsung mulai ya? Biar lo pulangnya nggak kemaleman," kata Chanyeol sambil berjalan ke dapur.

"Oke!" Baekhyun mengangguk. Ia berjalan menuju sofa panjang, meletakkan tasnya di sana, lalu duduk dengan nyaman.

Jam lima lewat lima belas, Chanyeol dan Baekhyun siap-siap belajar. Suho menyingkir ke teras. Karena malam ini Chanyeol sendirian di rumah, Suho memutuskan untuk menginap dan pulang besok siang.

"Setel radio dong. Kalo belajar suasananya sepi, gue malah cepet ngantuk."

Baekhyun merosot dari sofa, kemudian duduk bersila di lantai. Ia menghadap ke meja tamu yang rendah. Di atas meja buku cetak bahasa Inggris-nya sudah dalam keadaan terbuka.

Chanyeol menggeser sofa panjang di belakang Baekhyun sampai menempel di dinding agar tercipta ruang lapang, kemudian cowok itu berjalan ke dalam. Malas menggotong radionya yang besar dari kamar, dipinjamnya radio-tape kecil milik Bi Minah.

"Radio apa?"

"Apa aja. Yang penting penyiarnya asyik."

Chanyeol memutar-mutar tunning. Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti. Samar-samar ia mendengar lagu Glenn-Dewi, When I Fall in Love. Dibesarkannya volume.

"Bosen, ah!" Baekhyun langsung protes. "Ganti yang lain deh."

Chanyeol tidak mengacuhkan. Intuisinya mengatakan sesuatu akan terjadi, karena jantungnya berdetak lebih cepat tanpa sebab. Lagu itu berakhir. Suara sang penyiar, cewek, langsung menyusul. Dengan nada riang penyiar itu mengatakan di studio telah hadir seorang tamu yang khusus diundang atas permintaan pendengar.

"Nih orang punya story yang waktu itu bikin terharu. Trus banyak yang minta dia cerita ulang. Makanya kami undang dia ke studio."

Sang penyiar kemudian menambahkan bahwa selama setengah jam ke depan, hanya satu lagu itu yang akan diputar. Karena lagu itulah yang jadi lagu kenangan.

"Oh iya," sambungnya. "Dia nggak mau ngasih tau nama aslinya. Malu, katanya. Takut ada yang ngenalin. Jadi di sini dia pake nama Tom. Oke? Yuk, kita dengerin sama-sama ceritanya."

Tom!

Nama itu menghantam Chanyeol seperti pukulan godam. Di teras Suho juga mendengarnya. Ia tersentak. Sesaat tubuhnya diam menegang, kemudian ia melompat berdiri dan berlari ke dalam.

Melalui sebuah gelombang radio, dari suatu tempat entah di mana di luar sana. Seseorang bernama Tom memulai ceritanya.

Dan suara itu…. membekukan aliran darah Chanyeol dan Suho. Merenggut setengah kesadaran mereka. Menusuk tepat di pusat emosi keduanya, lalu merobeknya, hingga jubah berlapis yang selama ini mereka kenakan -ketegaran, ketabahan, kesabaran, keikhlasan- semuanya terkoyak dan menampakan isi yang kesungguhannya.

"Eh, itu cowok yang waktu itu!" seru Baekhyun, lalu meletakan buku yang sedang dipegangnya. "Gue apal suaranya. Gedein! Gedein!"

Baik Chanyeol maupun Suho sama-sama tidak bergerak, jadi Baekhyun mengulurkan satu tangannya. "Kok sore-sore sih? Waktu itu kan malem? Asyiiiik, bisa dengerin cerita lengkapnya!" katanya senang, tidak menyadari sesuatu telah menimpa kedua cowok yang saat ini berdiri di belakangnya. Ia besarkan volume radio.

Suara volume yang diperbesar itu seolah menghadirkan Kris kembali ke tengah-tengah Chanyeol dan Suho. Rasanya benar-benar tak bisa dipercaya, mereka bisa mendengar lagi suara Kris. Sungguh-sungguh suara Kris.

Cowok yang mengaku bernama Tom itu menuturkan satu cerita yang baik Chanyeol maupun Suho terlibat di dalamnya. Cinta pertamanya. Pengamatannya. Penantiannya. Kecemasannya. Kesabaran sekaligus ketidaksabarannya. Dan harapannya.

Namun, ternyata tidak hanya itu. Suara yang sudah sangat mereka kenal itu juga bercerita tentang sang adik. Satu-satunya saudara cowok yang dimiliki. Tentang tiada hari tanpa pertengkaran. Saling meledek, saling tuduh, saling berteriak, saling tendang, saling jotos, saling jitak. Dan biasanya pertengkaran itu berakhir dengan pemulihan fisik. Bisa di mana saja. Di sofa, di tempat tidur, di lantai, di ambang pintu, hingga membuat orang jadi susah lewat, bahkan di atas tanah dan rumput halaman.

Sesaat cerita itu terputus oleh tawa. Kemudian suara itu melanjutkan bahwa gulat fisik itu bisa berlangsung cukup lama. Hingga mama mereka kemudian memanggil kedua anak laki-lakinya itu dengan panggilan "Tom and Jerry". Tokoh kucing dan tikus di film kartun yang jadi favorit mama sejak kecil sampai jadi mahasiswi.

Tatapan Chanyeol mengabur. Cerita itu tervisualisasi di sana, di fokus matanya yang kini kembali ke hari-hari dulu itu.

Dia dan Kris.

Beda usia mereka kurang dari dua tahun. Sejak kecil sampai saat-saat terakhir, Kris hanya sedikit lebih tinggi darinya. Pertengkaran dan perkelahian mereka mulai berkurang setelah Kris masuk SMP. Perbedaan seragam itu penyebabnya. Dengan seragam putih-biru, Kris merasa sudah besar dan ogah lagi meladeni Chanyeol yang waktu itu masih berseragam putih-merah.

Satu yang bisa dirasakan dengan jelas tidak hanya oleh Chanyeol, tapi juga oleh Baekhyun dan Suho, kasih dan cinta dalam cara suara itu menuturkan ceritanya. Cowok itu menyayangi adiknya. Sangat.

Kontras dengan Baekhyun -yang tertawa-tertawa geli saat mendengar bagian cerita yang lucu, mendesah pelan dengan kepala menggeleng ke samping, atau kedua tangan tertangkup di depan dada saat cerita berada pada bagian yang mengharukan- di kiri-kanannya, Chanyeol dan Suho membeku. Keduanya pucat pasi, menggigil dalam keterdiaman.

Samar, kemudian terdengar lagi lagu When I Fall in Love. Kali ini lagu itu cuma sebagai latar, rupanya tanda bahwa Tom akan kembali berkisah tentang cinta pertamanya. Kali ini cowok itu tidak lagi menyebut "cewek gebetan gue", tapi langsung menyebutkan namanya. Bukan Baekhyun, tetapi Nona Byun.

Nama lengkap Baekhyun memang Byun Baekhyun!

Baekhyun memekik, tapi tetap tidak tahu apa-apa. Hal itu malah membuat Chanyeol dan Suho merasakan sakit di dada kiri mereka, seakan ditikam. Namun puncak dari semua hantaman bertubi yang diterima keduanya di sore

menjelang malam itu adalah saat Tom mengatakan bahwa… dia menyerahkan cinta pertamanya itu untuk sang adik!

Seketika Chanyeol limbung. Dia terhuyung. Suho buru-buru menangkap tubuhnya lalu menopangnya dari belakang.

Chanyeol benar-benar shock dan nyaris tak sadarkan diri. Suho yang tidak kuat menopang berat badannya, dengan hati-hati kemudian mendudukkan Chanyeol di lantai, di belakang Baekhyun, agar cewek itu tidak tahu telah terjadi sesuatu. Baekhyun memang tidak tahu, karena dia sedang mendengarkan dengan serius, dan cerita itu membuatnya semakin larut. Suho kemudian duduk bersila di sebelah Chanyeol.

Tiba-tiba suara sang penyiar yang bernada riang itu menyeruak, mengatakan bahwa siapa pun yang ingin berinteraksi langsung dengan Tom, ada satu nomer telepon yang bisa dihubungi.

Berinteraksi langsung!?

Chanyeol dan Suho hanya mampu bereaksi dengan sisa-sisa kesadaran yang masih mereka miliki.

Ini mimpi. Pasti mimpi. Satu-satunya mimpi tapi mereka bisa tetap sadar dan terjaga. Namun tetap saja, ini pasti cuma mimpi!

Baekhyun langsung ribut.

"Pinjem telepon dong, Chan. Hp gue kayaknya pulsanya udah sekarat." cewek itu meraih tasnya, mengeluarkan ponselnya, lalu mengecek pulsa. "Tinggal seribu!" keluhnya. "Nggak cukup dong."

Karena Chanyeol sama sekali tidak beraksi, Suho mengeluarkan ponsel miliknya dari saku kemeja.

"Nih, pake punya gue aja," ucapnya pelan. Diulurkannya benda itu kepada Baekhyun.

"Makasiiih." Baekhyun menerima tanpa menoleh. Langsung ditekannya sederet angka yang disebutkan sang penyiar berulang-ulang.

"Halo? Ini Baekhyun," katanya begitu telepon tersambung.

"Hai, Baekhyun."

Melalui radio kecil di depan mereka, Chanyeol dan Suho bisa mendengar suara 'Kris' melembut saat menjawab sapaan itu.

"Hai jugaaa," Baekhyun menjawab penuh semangat. Radio kecil itu menggaungkan tawa geli. "Eh, nama gebetan lo itu kayak nama gue lho. Nama gue juga ada "Byun-nya!" ucap Baekhyun kemudian.

"Gitu ya? Bagus deh. Seneng dengernya."

"Kenapa sih elo nyerah gitu? Kenapa gebetan lo itu lo kasih ke adik lo?" Baekhyun bertanya polos. Sama sekali tidak menyadari dampak pertanyaan itu terhadap Chanyeol. Keheningan yang menghancurkan, hadir sebagai jawaban sementara.

"Karena gue nggak bisa jaga dia," jawab Kris' sesaat kemudian.

"Emangnya lo kenapa?" kejar Baekhyun.

Kembali keheningan yang menghancurkan tercipta. Chanyeol memejamkan kedua matanya. Baekhyun, please, bisik hatinya pedih.

"Soalnya gue harus pergi."

"Jauh?"

"Jauh banget."

"Ke mana?"

"Ke tempat cewek itu nggak bisa nyusul."

"Ke mana tuh? Manusia paling jauh baru bisa sampe ke bulan tuh. Bisa disusul. Asal punya duit banyak. Dan gue jamin, lo nggak mungkin pergi ke sana. Pasti masih di bumi.''

Terdengar tawa geli 'Kris'. "Di bumi itu banyak tempat yang nggak bisa disusul lho, Baek." katanya lunak.

Baekhyun terdiam. Kemudian ia bicara dengan nada yang juga melunak, "Maaf deh. Bukannya gue mau ikut campur. Abis gue sedih nih dengernya."

"Gue malah lebih sedih lagi."

"Iya sih. Ya udah. Thanks ya ngobrolnya."

"Sama-sama," jawab Tom lembut. "Baik-baik ya, Baek."

"Iya." Baekhyun mengangguk tanpa sadar.

"Sekarang kasih teleponnya ke orang di sebelah kanan elo."

"Iya." Baekhyun menyerahkan telepon itu pada Chanyeol. Setelah benda itu berpindah tangan, baru cewek itu merasa heran. Bagaimana Tom bisa tahu ia tidak sendirian? Keherannya makin bertambah saat kemudian didengarnya percakapan itu.

"Nggak ada yang mau lo omongin sama gue?" tanya Tom.

Chanyeol menelan ludah dengan susah payah. "Maaf, Bang," ucapnya serak. Chanyeol sangat jarang memanggil Kris dengan sebutan kakak/abang, namun kali ini ia sangat ingin memanggil Kris dengan sebutan itu.

Hening. Keheningan yang membuat tubuh Chanyeol menggigil hebat.

"Bang, maaf," bisiknya, dengan lebih susah payah, karena tenggorokannya terasa sangat sakit.

"Nggak apa-apa. Nggak usah merasa bersalah gitu. Daripada tu cewek gue bawa ke sini. Mendingan dia sama elo."

Hening. Kemudian 'Kris' meneruskan dengan kalimat yang membuat pertahanan Chanyeol akhirnya runtuh. "Gue sayang elo. Titip cewek itu, ya?"

Tak terjawab. Chanyeol tidak mampu lagi menahan isaknya. Ponsel di tangannya terlepas dan hampir saja membentur lantai kalau saja Suho tidak buru-buru menangkapnya.

"Hai, kawan," Tom menyapanya.

Suho mendengar suara 'Kris' melalui radio kecil itu. Suho membeku, tidak mampu menjawab.

"Thanks banget. Buat semuanya. Baik-baik, ya? Bye."

Acara itu berakhir. Kembali lagu Glenn Fredly-Dewi Sandra mengalun. Hanya di bagian akhir. Mengiringi suara penyiar yang mengucapkan terima kasih lalu menutup acara itu dengan salam perpisahan. Kemudian hening. Radio kecil itu tidak lagi mengeluarkan suara apa pun.

Chanyeol dan Suho tersadar. Keduanya bergerak bersamaan. Seperti kesetanan, mereka mengguncang-guncang radio itu. Nihil. Mereka periksa kabel. Masih tersambung ke stop kontak. Mereka pukul-pukul dengan telapak tangan. Tetap tanpa hasil.

Jarum indikator masih di sana. Di tempat yang persis sama. Namun stasiun radio itu menghilang. Tidak ada sedikit pun suara yang tertangkap. Hening. Radio-tape kecil itu membisu.

Keduanya segera teringat nomer telepon tadi. Meskipun sudah bisa menduga apa yang akan mereka dengar, Chanyeol menekan juga deretan angka itu. Pada posisi speaker aktif, terdengar suara monoton dari mesin operator.

"Nomer yang anda tuju, tidak terdaftar…"

.

.

.

Hampir seperempat jam berlalu sejak radio-tape itu benar-benar membisu. Dengan sorot mata sangat kebingungan, Baekhyun menatap dua cowok yang duduk tidak jauh di belakangnya itu. Chanyeol yang menangis tanpa suara. Suho yang pucat dan seperti tidak sadar sepenuhnya. Hanya pada kedua mata mereka, segala gejolak emosi yang ditahan mati-matian itu jelas-jelas terbaca.

"Ada apa sih?" Baekhyun bertanya lirih dan hati-hati. "Kalian berdua kenapa?"

Sesaat tidak ada sedikit pun reaksi. Kemudian Chanyeol bergerak. Tangan kanannya menghapus air mata, sementara tangan kirinya melambai pelan.

"Duduk sini, Baek," katanya pelan. Sambil menggeser tubuh, ditepuknya tempat di sebelah kirinya. Baekhyun tampak ragu, tapi kemudian bergerak juga. Ia duduk di tempat kosong yang di berikan Chanyeol. Di antara cowok itu dan Suho.

"Ada apa sih?" Baekhyun bertanya lagi, karena lagi-lagi kedua cowok di kiri-kanannya bungkam. Chanyeol kemudian merangkulnya. Sementara Suho mengusap pelan kepalanya.

"Nanti gue ceritain," ucap Chanyeol lirih.

.

.

.

Beberapa saat yang lalu, kuncup mawar diletakkan dengan sangat hati-hati di batu nisan Kris.

Dan kini, di sisi nisan, Chanyeol duduk bersila di atas rumput. Kepalanya tertunduk dan kesepuluh jarinya bertaut. Di sebelah kirinya, Baekhyun duduk bersimpuh. Di atas pangkuannya, sebuah amplop cokelat tergenggam di antara kesepuluh jarinya. Amplop itu berisi foto-foto dirinya dan secarik kertas yang pernah ditempelkan Kris di dinding di atas meja belajarnya.

Chanyeol mengangkat kepala lalu menoleh ke cewek yang duduk di sebelahnya itu. Sama seperti dirinya, Baekhyun sama sekali tidak mengeluarkan suara.

"Udah?" tanya Chanyeol lirih.

Baekhyun menoleh. Kedua matanya sembab, masih berkabut. Ia mengangguk. "Yuk, pulang."

Chanyeol bangkit berdiri. Diulurkannya tangan kirinya. Lembut, ditariknya Baekhyun sampai berdiri.

Keduanya meninggalkan tempat itu dalam diam, namun mereka yakin Tuhan dan alam akan menyampaikan apa yang ternyata tadi tidak sanggup mereka sampaikan selain dengan bahasa diam. Untuk seseorang yang kini dipeluk bumi dan tidur dalam diam.

.

.

.

.

.

Untuk Kris, terima kasih dan seluruh cinta…..

.

.

.

.

.

END

.

.

.

fauziah agustinasama, aku juga bacanya merinding..

masadepanceyenano nano deh ya rasanya..

Fujisaki B-Rabbit New iya sama, aku juga padahal udah baca beberapa kali, tetep aja nangis.. baper berat..

agnesnesnyesek banget ya Baekhyun malah gak inget sama Kris.. makasih semangatnya..

rorororonoaawah.. mahasisiwa semester akhir ya kak.. semangat nugasnya..

almaeparkudah kejawab ya pertanyaannya sama chapter ini..

byunhyunaduh, ini kan emang novel say.. novel-nya mbak Esti Kinasih,, aku Cuma remake doang..

Akhirnya udah end,, yeeaayyy..

Ada yang nungguin chapter terakhir ini gak?

Maaf ya baru sempet update malem-malem..

Gomawo buat yang udah nyempetin baca ff remake ini, apalagi yang nyempetin review, follow/fav.. nomu nomu gamsahamnida~

Sampai bertemu di lain cerita,,,

Annyeong...

_Hill_ 060418