PLEASE LEAVE UR REVIEW AFTER READ OR BEFORE U LEAVE THIS PAGE !
.
SORRY FOR MANY TYPO(S)
.
I'M GLAD IF ENJOY THIS STORY
.
[Insert New Story; bukan kelanjutan dari ff 'Erotic Scene From Lady ByunBae']
.
Note : Disini mengangkat tema OMEGAVERSE, kalau ada readers yg masih polos *mustahilanjay :(* atau gk ngerti trope ini silahkan baca penjelasannya di internet (gua saranin baca doujin yg ngangkat tema ini). Buat readers yg gk suka dgn tema ini atau yg kurang suka ukenya badass silahkan tinggalkan page ini XD
*maaf kalau ada kesalahan kata, pemilihan katanya krg pas atau gk enak dibaca, gua sdh berusaha memberikan bacaan yg berkualitas :')*
.
Please enjoy it~
.
.
.
Chapter 1
.
.
.
Seorang pemuda tengah berjalan sendirian di jalanan sepi. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, ia baru saja pulang bekerja dan bergegas untuk kembali pulang kerumah setelah seharian bekerja. Jalanan terlihat sepi, hanya ada dua atau tiga kendaraan yang berlalu lalang di jalan ini, itupun dalam jangka waktu yang lama.
Malam ini udara terasa dingin, jalanan basah, dan sesekali terdengar suara guntur dari langit. Ia mempercepat langkahnya saat dirasa rintik rintik air mulai turun semakin intens dari langit.
"Astaga hujannya semakin lebat!" pekiknya sambil mencari tempat berteduh.
Ia berteduh di bawah pohon besar di jalan lengang itu, tak ada satupun kendaraan yang lewat di jalan ini, rasanya sepi sekali hingga tak lama sebuah mobil hitam berhenti di hadapannya. Pintunya terbuka, ada tiga orang pria menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa ia mengernyitkan dahinya keheranan terlebih saat salah satu diantara mereka menodongkan pisau kearahnya.
"Ada apa ini?" ia bertanya kebingungan.
"Kau ikut dengan kami, atau kami akan melakukan cara kasar" salah satu dari mereka berkata dengan nada mengancam.
"Aku tidak mengerti, h—hey apa apaan ini?" ucapnya ketika dua orang lainnya menahan kedua tangannya.
"Bawa dia ke mobil, kita selesaikan sekarang, hujan semakin lebat" si pria yang menodongkan pisau itu berkata pada kedua anak buahnya.
Chanyeol, pemuda itu berontak mencoba menyelamatkan diri. Ia meronta sebisa mungkin agar kedua orang itu melepaskan genggamannya di kedua lengannya. Untuk antisipasi chanyeol menendang orang yang memegang pisau itu agar menjauh darinya terlebih dahulu sampai ia jatuh tersungkur ke tanah.
Dan langkah selanjutnya ia juga berhasil menjatuhkan dua orang di sisi kiri dan kanannya yang semula menahan pergerakannya, sampai akhirnya perkelahianpun tidak bisa terelakan.
Duagh!
Brugh!
"Sial, dia kuat juga" salah seorang berkata seraya menyeka aliran darah dari sudut bibirnya.
Ia menatap tubuh chanyeol yang ambruk di bawah kakinya, kemudian ia menatap kedua anak buahnya yang terlihat kelelahan setelah berkelahi.
"Ayo cepat bawa dia ke mobil" perintahnya, kedua anak buahnya mengangguk dan segera membawa chanyeol yang tidak sadarkan diri kedalam mobil.
.
.
.
Chanyeol meringis merasakan linu disekujur tubuhnya, rahang dan kepalanya juga tak luput dari rasa sakit yang mendera. Ia membuka matanya perlahan, saat kedua matanya sudah sepenuhnya terbuka ia baru menyadari bahwa kini ia sedang berada disebuah ruangan besar dan temaram dalam keadaan kedua tangannya terikat di sebuah kursi.
Aroma seperti lilin aroma terapi tercium menyeruak di dalam ruangan itu, ia mengedarkan pandangannya ke arah lain. Ada sebuah cahaya berasal dari lilin lilin yang berjejer apik di sebuah meja—ah mungkin aroma ini berasal dari lilin itu.
Matanya kembali beralih kearah lain, samar samar ia bisa melihat penampakan sebuah ranjang besar— ini kamar tidur, pikirnya. Tapi kenapa ia bisa ada disini? Apakah ia di culik? Tapi siapa yang menculiknya?
Chanyeol meringis lagi, rasa sakit dikepalanya kembali muncul, hal terakhir yang ia ingat hanyalah sebuah perkelahian yang terjadi saat itu ketika ia hendak membela diri dari orang orang misterius itu; ah! ia kalah rupanya, dan berakhir tak berdaya disini.
Cklek
Tuk
Tuk
Tuk
Indera pendengarnya menangkap sebuah suara decitan engsel pintu yang terbuka disusul dengan suara seperti ketukan sepatu hak tinggi yang menggesek lantai. Chanyeol memicingkan matanya, menatap lurus kearah siluet seseorang yang tengah berjalan kearah sebuah meja atau entahlah apa itu chanyeol tidak terlalu jelas karena suasana ruangan disisi itu cukup gelap. Detik berikutnya ia mendengar suara air yang dituangkan kedalam gelas.
Pada saat itulah indera penciumannya menangkap bau feromon familiar yang bercampur aduk dengan wewangian sebangsa parfum, aroma terapi, dan wangi— wine?
Suara ketukan sepatu hak tinggi kembali terdengar, siluet itu datang menghampirinya. Chanyeol mengerutkan dahinya mana kala bau feromon campuran itu mulai terasa menajam di penciumannya—terlalu pekat sampai ia merasa pusing; seseorang tengah dalam masa heat nya.
Chanyeol boleh merasa panik sekarang.
"Kau sudah sadar?"
—Suara itu terdengar tidak asing di telinganya tapi ia tidak bisa benar benar mengingatnya, ia disibukan dengan wewangian yang membumbung tinggi di udara, menggoda indera penciumannya secara terus menerus.
Tuk
Tuk
Chanyeol membulatkan matanya ketika melihat wajah yang tak asing muncul dari kegelapan, berdiri dengan senyum arogan di hadapannya.
"HMMPHH!"
Chanyeol mencoba berteriak, ia ingin menyerukan sebuah pertanyaan pada orang itu; dalang dibalik penculikannya—chanyeol yakin itu namun sialnya mulutnya di bungkam oleh kain yang melintang di antara kedua belah bibirnya.
"Kau masih ingat aku?" ucapnya sambil memainkan cairan berwarna merah di dalam gelas bertangkai tinggi itu lalu menenggaknya sedikit, mengecap rasa wine itu sedikit demi sedikit.
Ia tertawa, "aku yakin kau belum melupakanku, begitu kan?"
Chanyeol menatap tak suka orang dihadapannya, ia tertawa seperti seorang maniak—apapun yang ia tertawakan, chanyeol tidak suka suara tawa itu, terdengar seperti terlalu dipaksakan, orang itu jelas memanipulasi sesuatu lewat suara tawanya.
Tubuh ramping berbalut kemeja putih oversize, dan kedua kakinya yang tertutup stocking suspenders berwarna hitam itu menghampirinya diiringi suara ketukan hak stiletto merah darah yang membalut kedua kakinya.
Fetish...
Penampilan itu terkesan nakal dan menggoda, namun chanyeol mencoba tidak terpengaruh dengan penampilan itu. Ia melayangkan tatapan membunuh kearah si pemuda manis yang kini tersenyum padanya, ia bersumpah akan membunuh orang ini nanti.
"Kau ingin mengatakan sesuatu huh?" ia menyeringai, setelah itu jemari manisnya bergerak ke belakang kepalanya lalu menarik simpul tali yang membekap mulutnya.
"Sudah aku duga kau jalang" ucapnya tajam sesaat setelah kain putih itu terlepas dari mulutnya.
Orang itu menjilat bibirnya dan tersenyum—"Aku yakin kau menyukai jalang sepertiku, chanyeol"
Ia tertawa kecil sambil membelai halus wajah chanyeol dengan jari lentiknya, Baekhyun tersenyum saat chanyeol merespon tak suka perlakuan itu.
"Mereka terlalu kasar padamu" ucapnya kemudian menyentuh lembut luka terbuka di wajah chanyeol.
"Jauhkan tangan kotormu itu" chanyeol menggeram namun hal itu disambut tawa jenaka dari pemuda itu. Seakan akan geram ancaman itu hanyalah sebuah lelucon yang menggelitik perutnya.
"Hmm..jangan begitu, kau akan menyukai tangan kotor ini nanti" chanyeol berdecak.
Jemarinya menari disekitar dagu chanyeol, mengusap belahan bibir kering chanyeol dengan ibu jarinya lalu menarik dagu chanyeol kasar hingga manik matanya bertemu pandang dengan milik pemuda itu. Berkilat tajam, menjeritkan nafsu yang tak tersalurkan dengan baik.
"B—baekhyun" chanyeol menatap tajam kearah baekhyun yang semakin menutup jarak diantara mereka.
"Hm?"
Baekhyun terkejut ketika chanyeol memanggil namanya, namun sebisa mungkin ia tidak menunjukan keterkejutan itu. Ia mendekati wajah chanyeol, menjulurkan lidahnya untuk menjilati darah yang sudah mengering di sudut bibir chanyeol.
Chanyeol tersentak atas perlakuan tak senonoh itu.
"Apa tujuanmu melakukan hal ini padaku?"
Baekhyun melepaskan tangannya dari wajah chanyeol, berjalan mundur sambil menatap chanyeol dengan tatapan dingin.
"Apa aku harus mengatakannya?"
"Jika kau tidak mengatakannya, aku bersumpah akan mencarimu dan membunuhmu setelah ini, tidak perduli siapa kau"
Baekhyun tersenyum kecut, buruk sekali. Kata kata chanyeol benar benar seperti bilah pisau tajam yang menyayat hatinya tanpa ampun—tetapi ia menyukainya. Ia terasa dua puluh kali lipat lebih menarik, jauh dari kesan lembut dan penuh sopan santun saat terakhir kali mereka bertemu.
"Baekhyun!?"
Baekhyun menjentikan jarinya, ruangan berubah terang, kali ini seisi kamar terlihat dengan jelas. Baekhyun berjalan menjauh kearah meja kecil yang diatasnya berjejer lilin lilin aroma terapi lalu meniup api di atas sumbu lilin itu sampai padam. Ia kembali melangkah kearah meja, meletakan gelas berisi wine itu diatasnya.
"Kau—benar benar jalang, apakah setiap omega bisa bertransformasi menjadi seorang jalang murahan?"
Prang!
Cairan merah menggenang diatas lantai dingin itu ketika baekhyun melempar gelas berisi wine itu ke arah cermin seukuran tubuh di hadapannya hingga meninggalkan retakan di permukaan cermin itu, ia tertawa lalu menatap chanyeol nyalang, dari sini ia masih bisa melihat jelas mata yang semula menatapnya rendah mulai berkaca kaca.
Kenapa kau berkata seperti itu?—Baekhyun menangis.
Ia kembali berdebat dengan dirinya sendiri; mengapa ia harus melakukan ini? — sejujurnya ia juga tidak tahu.
Hal itu membuat chanyeol keheranan tapi tak lama rasa keheranan itu berubah menjadi sebuah kengerian saat baekhyun tertawa seakan seperti ada dua jiwa yang mengendalikannya, tangan baekhyun bergerak menyeka air matanya kasar. Ia menyambar sebuah kotak berwarna emas yang ternyata berisi batangan rokok, ia mengapit sebatang rokok di antara kedua belah bibirnya lalu mengambil pemantiknya.
Kepulan asap terlihat mengapung diudara— ia bukan baekhyun, pemuda manis bersuara lembut itu.
Salah satu tangannya bergerak mengusap tengkuknya, ia berkata dengan suara lirih— "Ah! ini menyebalkan, aku juga tidak suka, udara terasa tak bersahabat lagi denganku"
Ia kembali menyesap rokoknya, memenuhi seluruh rongga paru parunya dengan asap beracun itu, kemudian berjalan menghampirinya.
Chanyeol tak suka pemandangan ini, baekhyun terlihat sangat berantakan sekali. Jauh dari kesan manis saat pertemuan pertama mereka, kulitnya pucat sekali, tidak bersinar seperti waktu itu. Untuk ukuran seorang omega, baekhyun bisa dengan lihai menyembunyikan hasrat birahinya, mungkin ia sudah antisipasi dengan supresan untuk menekan nafsu birahinya.
Baekhyun cukup pintar, ia mungkin sudah merencanakan ini.
Tetapi chanyeol masih tak habis pikir, apa yang memotivasi baekhyun untuk melakukan hal seperti ini?
Baekhyun memang selalu mendatanginya tiga sampai empat kali dalam satu minggu sejak saat itu, ia selalu menolak kedatangannya dan baekhyun membalasnya dengan senyuman pengertian; ia sangat baik dengan tutur katanya yang lembut, seakan ia tidak pernah merasa sakit hati atas penolakan chanyeol. Sudah 1 minggu ini ia menghilang, chanyeol pikir ia sudah menyerah dan pergi mencari alpha nya; seseorang yang ia maksud orang yang bisa melindungi dan membahagiakan baekhyun.
Sekarang ia tidak habis pikir bahwa kini baekhyun adalah dalang dibalik semua ini. Sangat disayangkan bahwa asumsinya selama ini tentang baekhyun sepenuhnya salah.
"Kenapa chanyeol? Kenapa kau menatapku seperti itu hm?"
Chanyeol memalingkan wajahnya ketika baekhyun menatapnya dengan tatapan seduktif, menjilati bibir merah ranumnya dengan sensual, chanyeol masih ingat rasa bibir ranum itu.
Manik matanya teralihkan oleh bercak merah yang menginfeksi pandangannya dari leher mulus baekhyun yang mengintip malu malu dibalik kemeja putih itu, bercak merah yang kontras dengan putihnya kulit baekhyun terasa seperti mengolok oloknya.
Seseorang sudah menyentuhnya sebelumnya, che! Dia benar benar seorang jalang! —chanyeol tersenyum masam.
Kemudian baekhyun berjalan kearahnya sambil mengerling manja, ia kemudian menempatkan dirinya diantara kedua paha chanyeol, membiarkan benda sensitif diantara selangkangan kakinya saling bergesek dengan milik chanyeol. Baekhyun menatap intens pemuda tinggi itu, wajahnya memerah ketika mencium feromonyang menyeruak dari tubuh baekhyun tersamarkan oleh wangi parfum dan bau rokok yang menyengat.
—Aroma tubuhnya tercemar.
"Apa yang tengah merasukimu saat ini?" chanyeol bertanya setenang mungkin.
Menyembunyikan hasratnya yang telah membuncah merasuki otaknya. Ditambah penampilan baekhyun saat ini membuatnya ingin sekali menyerangnya dan membuat wajah arogan itu berhenti menatap merendah padanya.
Jauh dari topeng wajah arogan itu, chanyeol yakin baekhyun sangat membutuhkannya saat ini, meskipun supresan sudah cukup untuk menekan birahinya tetapi 'omega tetaplah omega' ; pada akhirnya baekhyun akan menyerah pada nafsunya, hanya menunggu waktu saja.
Tch!
Chanyeol memekik terkejut ketika baekhyun menarik kasar rambutnya hingga kepalanya mendongak menatap paras baekhyun. Pemuda manis itu menyesap rokoknya dalam dalam lalu membuangnya begitu saja kelantai dan menginjaknya. Perlahan lahan ia hembuskan asap rokok itu kewajah tampan chanyeol. Ia menutup matanya erat erat terlebih lagi ketika bibir baekhyun tanpa permisi mulai bergerak ke lehernya.
"Kau akan tahu nanti" ucapnya berbisik di kuping kanan chanyeol lalu mengecup pipi kanannya lembut.
Chanyeol mengutuk dirinya sendiri saat perasaan senang dan tak senang yang beraduk jadi satu kesatuan tengah bergejolak dalam dirinya. Ia lemah, terlalu lemah, ia menyesali keputusannya hari itu untuk membiarkan tubuhnya menjamah omega itu.
Harusnya ia tak menyerah pada ego dan hasrat seksualnya sesaat. Seharusnya ia tetap berpegang teguh pada komitmenya. Apalagi setelah ia tahu niat baiknya saat itu malah membuat omega itu berharap lebih padanya.
Chanyeol menyakitinya dan baekhyun mencoba menutup kembali lubang didalam hatinya.
"Aku mencoba untuk meyakinkanmu— hanya itu"
Baekhyun mengusap kepala chanyeol lembut, menyalurkan afeksinya. Menarik perlahan kepala chanyeol, membiarkan pemuda itu membenamkan kepalanya di ceruk lehernya. Air mukanya berubah sendu, chanyeol adalah kekuatan sekaligus kelemahannya—ia menyadari itu.
Chanyeol mencium feromon milik baekhyun, menyesapnya seolah ia tak akan pernah lagi mencium feromon milik sang omega. Chanyeol membencinya, akan tetapi ia mulai menyadari mengapa ia ada disini.
Karena jauh sebelum ini, ia tahu apa yang dirasakan omega itu. chanyeol hanya terlalu naif, ia takut. Ia takut , jika sewaktu waktu ia menyadari perasaannya yang sesungguhnya adalah bukan karena ingin melindunginya.
.
.
.
.
Hoolllaaa!
Gua lagi mumet bgt aslinya, harusnya gua ngelanjutin ff chanbaek yg 'A Silent Soul' tp pas gua ngetik ditengah tengah langsung buyaarrr. Gua butuh hiburan, jadi gua baca beberapa rekomendasi manhwa yaoi dan akhirnya kepikiran buat bikin ff laknat ini mueheheh... :v
Ini harusnya beda judul dan gak di post di sini, tp gua males bgt kudu bikin baru jd kalau disini kan tinggal post new chapter aja, males gua mikir judulnya jd ya begini jadinya. Ini bakal panjang jd gua bagi jd 2/3 chapter..kalau penasaran silahkan di tunggu update-an selanjutnya..
Duh gua bingung mau ngomong apalagi, karena jujur gua agak merinding kalau baca baca hal apapun yg berhubungan dengan trope ini. Sebenernya ide ff ini udh muncul 2 bln yg lalu wkwk tp gua agak ragu" (berhubung sebenernya gua agak ngeri kalau soal mpreg) yah pokoknya liat ajalah ntar..
Ok last word! Gua bakal update cpt kalau gua dpt reviewnya banyak haha XD so.. DON'T FORGET TO LEAVE UR REVIEW! And then, see u at the next chapter :*
Zaijian~ :* :*
**psstt sorry kalau ukenya kurang badass, ini msh chapter awal wkwk
