Penjaga dan Pengikut

.

.

.

.

Character:

Exo Member

Red Velvet Member

BTS Member

(dapat bertambah seiring cerita)

.

.

.

Summary: Jongdae awalnya hanya seorang siswa biasa, namun setelah secara tidak sengaja terlibat sebuah pertarungan antara sekelompok orang aneh yang memiliki kekuatan super melawan makhluk yang sama anehnya, dia terpaksa membantu mereka menemukan "The Eve". Hidupnya jadi jungkir balik dan kekacauan mulai mengisi harinya.

.

.

.

Genre: Supranatural, SuperPower!AU, MamaEra!AU, Romance, Fantasy

.

.

.

.

.

Jongdae memang bukan siswa yang religius, tapi dia cukup rajin ke gereja. Dia juga sering membantu hyungnya, dia selalu membuat sarapan untuk hyungnya, tidak pernah lupa membersihkan kamar, Jongdae juga selalu rajin mengerjakan pr.

"Tapi apa yang aku lakukan di sini?"

Jongdae menanyakan takdirnya yang sial, di hukum di tengah lapangan dengan cuaca panas membakar kulit.

"Kalau kau tidak kesiangan bangun tidak akan begini jadinya." Ucap Jongdae kepada Baekhyun yang sama sialnya dengannya.

"Enak saja! Kau yang paling lama di kamar mandi!" Elak Baekhyun.

"Aku sudah selesai mandi sebelum kau bangun! Jangan salahkan aku kalau kau tidur seperti kerbau!"

"Tahu begini aku tidak akan menginap di rumahmu."

"Suruh siapa menginap? Seenaknya masuk lewat jendela, memangnya kau itu pencuri?"

"Iya, pencuri hatimu..."

Jongdae melempar sepatunya ke wajah Baekhyun yang membuat ekspresi aneh. Dia sudah sering mendengar kalimat gombal Baekhyun yang sukses membuat hatinya luluh. Tapi terlalu sering mendengarnya membuatnya mual. Jongdae memegang rambutnya yang terasa panas, dia dan Baekhyun harus berdiri di tengah lapangan seperti ini sampai jam istirahat pertama.

"Sebenarnya aku khawatir, bodoh."

Jongdae melirik Baekhyun yang terduduk di tengah lapangan, Baekhyun memasang wajah serius yang jarang sekali di perlihatkan.

"Kemarin ponselmu tidak aktif, ku telepon Minseok hyung kau belum pulang. Jadi aku memutuskan untuk ke rumahmu. Tapi aku malah mendapati bajumu yang berlumuran berdarah."

Jongdae menelan ludahnya, dia lebih senang jika Baekhyun seperti biasanya. "Um... Kemarin ponselku mati, dan aku ada perlu sebentar ke toko buku. Tapi malah di serempet mobil, hehe." Jongdae tertawa canggung, rasanya tidak enak jika harus berbohong dengan teman yang dikenal sejak lama.

Baekhyun menghembuskan nafas lelah, "Kau itu terlalu ceroboh sejak SMP." Baekhyun menyentuh pinggang Jongdae yang terluka dengan sengaja.

"Yah!" Jongdae menepis tangan Baekhyun, namun tetap tersenyum lembut. Baekhyun memang terlihat cuek, namun jauh dalam hatinya Baekhyun sangat perhatian. Jongdae jadi teringat dengan sifat Chanyeol, pemuda aneh yang ditemuinya kemarin.

'Kemarin... Apa maksud mereka, ya?' Jongdae mengingat kembali percakapan Chanyeol dengan hyungnya.

Jongdae baru saja membuka pintu rumahnya saat hyungnya menerjangnya dengan berbondong pertanyaan. "Jongdae! Darimana saja kau baru pulang-OMO! Kau terluka! Apa yang terjadi? Kalian apakan dongsaeng manisku?"

Minseok memeluk Jongdae protektif, matanya menatap tajam dua sosok yang berdiri canggung di pintu rumahnya. "Lho? Chanyeol?" Ucap Minseok begitu mengenalinya.

"Chanyeol? Kenapa kau disini?" Tanya Minseok, dia melepas pelukannya pada Jongdae.

"Hyung mengenal mereka?" Tanya Jongdae bingung, bagaimana mereka bisa saling kenal? Mungkinkah mereka teman lamanya?

"Ceritanya panjang, ada hal penting yang harus kita bicarakan." Ucap Chanyeol, dia melirik Jongdae, Minseok yang mengerti maksud Chanyeol hanya mengangguk pelan.

"Jongdae, masuklah ke kamarmu." Perintah Minseok.

"Tapi-"

"Pergilah."

Jongdae tidak bisa menolak perintah Minseok jika dia sudah melembutkan suaranya dan mengelus rambutnya. Jongdae mengangguk dan berjalan ke arah tangga, namun dia sempat menguping di balik tembok karena penasaran.

"Ada apa?"

"Ini tentang Jongdae, dia bukan anak biasa, kan?"

"Selama aku merawatnya, dia hanyalah anak biasa. Kenapa?"

"Dia tidak terpengaruh oleh permen herbal Yixing hyung."

"Lalu kenapa?"

"Kenapa? Kau bilang kenapa?!"

Jongdae berjengit kaget saat mendengar suara Chanyeol yang meninggi. Dia menahan dirinya untuk tidak melabrak Chanyeol karena sudah membentak hyungnya dengan kalimat yang tidak sopan.

"Permen itu tidak berpengaruh kepada manusia yang memiliki kekuatan sihir. Dia tidak hilang ingatan setelah memakan permen itu sebanyak dua kali, itu membuktikan bahwa dia bukan manusia biasa."

"Dia adikku, Chanyeol, wajar saja jika dia memiliki kekuatan sihir yang lumayan karena aku mengajarinya untuk membangun mental yang kuat."

"Kau bilang pada kami dia hanya anak biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir sama sekali saat pemakaman orangtua kalian."

"Dia memang anak biasa, Chanyeol."

Jongdae dapat merasakan amarah di kalimat Minseok, hyungnya memang jarang marah, dan dia tidak pernah mau membuat hyungnya marah.

"Tapi kenyataan berbicara yang sebaliknya, Kim Minseok. Aku yakin ada sesuatu yang kau sembunyikan."

"Aku tahu posisiku, aku hanya seorang mantan Pengikut, keberadaanku memang sudah tidak diakui lagi, tapi aku tidak suka seseorang mengatakan hal yang tidak baik tentang keluargaku. Aku mohon padamu untuk meninggalkan rumahku, ini bukan wilayah kekuasaanmu."

"Sebagai seorang Penjaga, sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga kota ini dari keberadaan pengguna sihir yang tidak tercatat."

"Pergi sebelum aku memaksamu."

Jongdae berlari ke kamarnya saat keadaan semakin panas, seharusnya dia tidak menguping. Tapi sekarang dia tahu, selama ini Minseok hyung menyembunyikan sesuatu darinya.

'Hyung, sebenarnya apa yang terjadi?' Jongdae bertanya-tanya dalam hati, ada banyak pertanyaan yang selalu berputar di kepalanya, apa itu penjaga, apa itu pengikut, apa itu pengguna sihir, dia tidak tahu harus bertanya pada siapa.

"Aku bisa melihat kepulan asap di kepalamu. Berhentilah berfikir sebelum otakmu meledak." Suara Baekhyun mengalihkan pikiran Jongdae, dia sudah tersenyum lebar seperti biasa.

"Kau tahu bagaimana caranya merusak suasana."

"Perusak adalah nama tengahku."

Jongdae tidak bisa membantah hal itu, troublemaker dengan kapital T memang melekat dengan baik pada sahabatnya yang satu ini.

"Bukankah itu Suho Songsaenim?" Baekhyun menunjuk seseorang yang berjalan ke arah gerbang. Jongdae menatap pria itu dengan bibir yang ditarik ke bawah, dia masih menyimpan sedikit dendam karena guru killer itu membuat hidupnya menderita kemarin. Suho tampak mendekati sebuah mobil hitam, dari dalamnya keluar seorang pemuda yang seumur dengan mereka atau mungkin lebih muda. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang serius.

"Baek, kau tahu siapa yang bicara dengan Songsaenim?" Tanya Jongdae kepada Baekhyun.

Baekhyun malah memberikan tatapan aneh, "Kau tidak tahu anak itu? Selama ini kau tinggal dimana, sih? Gua? Atau bunker?"

"Jawab saja pertanyaanku." Jongdae geram dengan ucapan Baekhyun yang terkadang menusuk di hati.

"Dia Kim Taehyung, adik dari Suho Songsaenim, dia adalah komposer muda yang berbakat. Dia masih sangat muda, tapi sudah punya studio sendiri karena dedikasinya terhadap musik. Lagu 'Go Go Go' yang sering kau nyanyikan saat mandi adalah hasil ciptaannya." Jelas Baekhyun, informasi seperti itu adalah hal yang mudah baginya. (ngarang dikit boleh lah -.-)

"Benarkah? Hebatnya..." Jongdae menatap kagum sosok pemuda bernama Taehyung itu. Jongdae bermimpi memiliki Coffe Shop sendiri, tapi dia tidak bisa meracik kopi dengan baik, semua kopi yang dia buat rasanya seperti air cucian beras. Hyungnya yang malang adalah korban pertamanya.

"Tapi ada rumor miring tentangnya." Jongdae menatap Baekhyun, Baekhyun menghembuskan nafas berat, "Aku tidak tahu rumor ini benar atau tidak, ada kabar yang mengatakan bahwa Taehyung lahir dari ibu yang berbeda, bisa di bilang selingkuhan ayah Suho Songsaenim."

"Jadi maksudmu-" Jongdae tidak berani melanjutkan perkataannya, tapi melihat anggukan Baekhyun membuat Jongdae mengunci bibirnya rapat-rapat.

"Karena itulah dia tidak sekolah dan selalu homeschooling, dia pernah di bully saat kelas tiga sekolah dasar. Dia mendapat perlakuan yang sangat buruk hingga dia berhenti sekolah saat kelas lima."

Jongdae tidak berkomentar, dia tahu rasanya di bully saat masih kelas satu SMP, tapi dia beruntung karena dia memiliki Baekhyun sebagai temannya sehingga dia selamat melewati 3 tahun.

"Kira-kira mereka akan pergi kemana?"

Baekhyun mendengus pelan mendengar ucapan Jongdae, "Siapa peduli, aku hanya bisa memikirkan bakso ikan dan kentang goreng saat ini. Aku lapar."

Jongdae kadang bertanya kenapa dia bisa berteman dengan makhluk semacam Baekhyun. Jongdae hanya memperhatikan Suho dan Taehyung yang masuk ke dalam mobil dan berlalu dari gerbang sekolah.

Tak lama setelah itu lonceng istirahat berbunyi, Baekhyun langsung loncat kegirangan seperti mendengar lonceng surga. Jongdae mengambil tas yang dia letakkan di dekat tiang bendera. Tanpa sengaja dia melihat ke arah gerbang, entah karena kepanasan atau kelelahan sekilas dia melihat seseorang yang mengintip.

"Jongdae, kau sedang apa? Aku kelaparan." Panggil Baekhyun saat melihat Jongdae hanya diam saja.

"Eh? I-iya." Jongdae berlari kecil menyusul Baekhyun, 'Mungkin aku salah lihat', pikirnya.

.

.

.

.

.

Ketegangan terasa begitu berat di sebuah ruangan luas dengan nuansa serba putih, meja konferensi setengah lingkaran di isi oleh beberapa orang yang duduk di kursi yang cukup megah dengan ukiran rumit. Hanya ada satu kursi kosong yang tampak istimewa di bagian tengah. Kursi pemimpin yang telah kosong selama sepuluh tahun. Empat kursi di kanan kirinya diisi oleh empat orang yang berekspresi keras, di belakang mereka berdiri pengikut masing-masing.

"Baiklah, karena semua sudah berkumpul, kita mulai saja pertemuannya." Seorang pria berkacamata mulai membuka pembicaraan pertemuan.

"Pertemuan kali ini akan membahas tentang masuknya pengguna sihir tanpa izin yang mulai meresahkan. Kami mendapat beberapa laporan tentang Demon mulai bergerak karena pelindung yang mulai melemah. Dalam hal ini kita perlu melakukan upacara penyucian untuk memperbaiki pelindung, tapi... Kekuatan kita saat ini tidak cukup."

Bisikan mulai terdengar di ruangan luas itu, kemudian pria itu melanjutkan perkataannya. "Kita akan meminta bantuan dari Kim Minseok, jika dia bersedia hadir di pertemuan kali ini."

"Kim Minseok? Kim Minseok yang itu, ya?"

"Bukankah dia mantan Pengikut Penjaga Gerbang Tengah?"

"Aku belum pernah melihat wajahnya sama sekali, konon hanya para Penjaga dan Pengikut saja yang pernah melihatnya."

"Apa mungkin kali ini dia akan muncul? Selama ini dia selalu menolak, kan?"

"Ini masalah pelindung kota, tidak mungkin dia menolak masalah sepenting ini."

Suasana di ruang pertemuan semakin ramai, mereka berdebat apakah Kim Minseok akan muncul memenuhi panggilan pertemuan, karena Minseok selalu menolak mentah-mentah surat panggilan yang pernah diajukan padanya.

"Suho, apakah Kim Minseok dipastikan akan datang?" Seseorang yang duduk di kursi sebelah kiri kursi pemimpin bertanya kepada seseorang yang duduk di sebelah kirinya.

"Dia sudah berjanji akan datang." Jawab Suho dengan wajah kaku.

"Dia sudah datang." Ucap seorang pemuda berambut pirang yang duduk di kursi sebelah kanan kursi pemimpin.

Tiba-tiba saja pintu besar ruangan itu terbuka lebar, keheningan langsung mengisi ruangan luas itu. Tampak seorang pemuda dalam balutan hoodie biru berjalan santai ke tengah ruangan dengan kedua tangan di saku celana. Para peserta lain terkejut melihat kedatangannya, Minseok terlihat terlalu muda untuk posisinya.

"Kim Minseok. Senang melihatmu datang." Chanyeol yang duduk di salah satu dari empat kursi khusus penjaga menyeringai melihat kehadiran Minseok.

"Aku tahu apa yang akan kalian katakan, aku akan mempercepat ini karena aku sudah berjanji pada adikku akan pulang cepat." Ucap Minseok to the point.

"Like the old time, huh?" Celetuk Chanyeol. Pemuda yang duduk di sebelah Suho tersenyum miring, dia menyilangkan tangannya di depan dada dan bersender pada kursi.

"Aku bersedia membantu untuk memperbaiki pelindung, namun kekuatanku saja tidak akan cukup untuk menambal keretakannya. Aku tidak bisa menjamin keberhasilan kita 100%, hanya 60%, itu saja tidak akan kuat untuk menahan Demon tingkat menengah seperti yang menerobos masuk kemarin." Ucap Minseok dengan lantangnya.

"Tidakkah kau tahu siapa penerus Penjaga Gerbang Tengah? Hanya dia yang memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan penyucian besar ini." Tanya Suho.

Minseok terdiam cukup lama, dia beradu pandang dengan empat penjaga. Dia tahu mereka berniat untuk membuatnya bicara.

"Entahlah. Aku juga penasaran." Minseok menyeringai, "Penjaga yang sebelumnya tidak meninggalkan wasiat tentang pewarisnya karena dia tidak sempat."

"Tapi menurut penglihatanku semuanya berbeda dari ucapanmu, tuan Kim. Kau menyembunyikan sesuatu."

Minseok menatap tajam sosok berambut pirang yang duduk di sebelah Chanyeol. "Mungkin kau salah lihat, tuan Oh."

"Oh, ya?"

Seluruh peserta pertemuan mulai gusar, mereka mulai merasakan hal yang tidak enak karena perdebatan antara para penjaga dan mantan pengikut. Tidak ada seorang pun yang berani melawan para penjaga, hanya Kim Minseok seorang lah karena dia memiliki kekuatan yang setara dengan keempat penjaga gerbang itu.

"Hentikan Sehun, itu tidak membantu sama sekali." Tegur Suho. "Kau punya saran, D.O yah?"

"Tidak ada cara lain untuk mendapatkan kekuatan tambahan?" Tanya D.O.

"Ada, kita harus mencari The Eve dan meminta bantuannya tanpa memakai kekuatan Penjaga Gerbang Tengah." Jawab Minseok.

"The Eve? Bukankah itu mitos?" Sanggah Sehun.

"Tidak, itu bukan mitos." Perhatian semua orang mulai tertuju kepada Minseok. "Selama beberapa dekade, Penjaga Gerbang Tengah meminta bantuan Eve untuk membuat pelindung yang kokoh. Dengan bantuan Eve, pelindung menjadi dua kali lipat lebih kuat. Demon bisa merasakan kekuatan sihir yang dimiliki Eve, karena itulah sebagai gantinya para Penjaga terdahulu menjamin keselamatan Eve. Setelah perang besar sepuluh tahun yang lalu, Eve menghilang begitu saja dan pelindung menjadi melemah."

Seisi ruangan menjadi heboh, selama mengabdi di sini, ini adalah hal baru bagi mereka.

"Kau tahu hal ini, tapi kau tidak mengatakan apapun?" Chanyeol berujar marah.

"Aku hanya boleh mengatakan hal ini saat keadaan genting." Minseok mencoba membela diri.

"Tapi ini informasi yang penting. Tidak seharusnya kau menyembunyikan hal ini." D.O yang biasanya tenang juga merasa tidak senang.

"Ini perintah dari Luhan, aku hanya menjalankan tugas." Minseok menggertakkan giginya, dia sangat menjaga kesetiaannya pada Penjaga terdahulu.

Keempat Penjaga Gerbang terdiam, mereka sangat menghormati Luhan, pemimpin terakhir mereka yang meninggal sepuluh tahun yang lalu.

"Aku mengatakan hal ini karena Luhan sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, dia tahu bahwa jika dia meninggal, tidak akan ada yang bisa memperbaiki pelindungnya. Karena itulah dia memerintahkan untuk mencari Eve jika Penjaga selanjutnya belum bisa menggantikan."

"Kenapa dia tidak memerintahkan untuk mencari The Eve sebelum hal ini terjadi?" Tanya Suho.

"Aku juga tidak tahu, tidak ada yang tahu apa yang di pikirkan oleh Luhan. Untuk saat ini kita hanya bisa berusaha untuk mencari Eve." Minseok menatap jam tangannya, kemudian dia berbalik ke arah pintu. "Maaf, aku ada perlu."

"Kau ingin lari lagi, Minseok?"

Ucapan tegas Chanyeol membuat Minseok menghentikan langkahnya, "Apa maksudmu?"

"Kau selalu lari dari tugasmu, tidak seharusnya kau datang dan pergi dari pertemuan ini sesuka hatimu."

Minseok tetap diam, tidak menyanggah ucapan Chanyeol. Ketiga Penjaga yang lain hanyalah menatap Minseok.

"Mungkinkah kau menyembunyikan sesuatu? Contohnya seperti... Adikmu..."

Kedua mata Minseok bersinar biru sebelum dia berbalik dan menatap tajam keempat Penjaga. Dalam sekejap puluhan jarum es berukuran besar berada di hadapan mereka. Semua orang terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Minseok. Para pengikut masing-masing Penjaga langsung bersikap waspada, mereka mengarahkan senjatanya ke arah Minseok.

"Aku tahu kalian masih tidak mempercayaiku, tapi jangan pernah berpikir untuk menyentuh adikku. Atau aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri." Minseok menekan setiap kalimat yang diucapkannya.

Suho mendengus pelan, dia melambaikan satu tangannya, memerintahkan para pengikut untuk menurunkan senjata mereka. "Kau terlalu serius jika menyangkut adikmu, tentu saja kami masih memiliki kehormatan untuk tidak menyentuhnya."

Minseok menatap Suho, dia tidak mempercayai ucapannya, tapi tidak baik baginya jika terlalu lama berada disini. Minseok berbalik dan menutup matanya, puluhan jarum es itu pecah menjadi serpihan es yang berkilauan di terpa cahaya lampu. "Aku akan berusaha mencari The Eve, mohon bantuannya." Ucap Minseok sebelum dia keluar dari ruang pertemuan. Suasana begitu hening di ruang besar itu, peserta lain tidak ada yang berani berbicara.

"Pertemuan selesai, persiapkan semua informasi dan data untuk mencari The Eve." Perintah Suho, para peserta pertemuan yang lain langsung bergegas membereskan barang-barang mereka dan melaksanakan perintah Suho.

"Yang kau lakukan tadi sangat tidak baik, Chanyeol. Jangan memancing amarahnya." Nasihat Suho saat ruangan benar-benar kosong, hanya ada para penjaga dan pengikutnya.

"Aku bertemu adiknya kemarin, dia cukup menarik." Chanyeol mengeluarkan sebungkus pocky rasa matcha dari saku jasnya. "Bukankah dia salah satu murid sekolahmu, Suho?" Chanyeol membuka bungkus pocky favoritnya, Sehun tanpa suara mengulurkan tangan kanannya.

"Ya, namanya Kim Jongdae, dia siswa kelas dua dan tidak ada yang aneh dengannya. Tidak seharusnya kau memancing Minseok, kau tahu bagaimana sifatnya sejak perang besar."

"Aku yakin ada sesuatu tentang si Jongdae ini." Chanyeol menggigit sebatang pocky, "Suga, kau bawa bola putih yang kemarin?" Tanya Chanyeol kepada Suga yang berdiri di belakangnya, Suga mengeluarkan bola seukuran genggaman tangan dari saku celananya dan memberikannya kepada Chanyeol.

"Kalau kalian tidak percaya coba lihat hal yang terjadi kemarin." Chanyeol melempar bola itu ke arah D.O yang langsung menangkapnya dengan mudah. D.O menatap Chanyeol sebentar, D.O memegang bola itu dengan kedua telapak tangannya.

Kedua matanya memancarkan sinar berwarna ungu, di tengah ruangan muncul sebuah proyeksi tiga dimensi seperti hologram, menampilkan potongan adegan yang terjadi kemarin di sekolah Yeong Do. Cuplikan hologram itu terlihat begitu nyata, seolah olah mereka berada di sana saat itu. Saat D.O mengedipkan matanya, sinar dimatanya padam, hologram tersebut juga menghilang.

"Begitu..." Ucap D.O.

"Sekarang kalian percaya, kan?" Chanyeol menunjuk tiga orang lainnya dengan pocky yang dipegangnya. Chanyeol menatap Suho yang terlihat berpikir keras. "Bagaimana kalau Suho dan Taehyung saja yang mengawasinya? Lagipula itu wilayah kalian."

"Kita tidak tahu hal apa yang disembunyikan anak itu, aku bisa saja mengawasinya dari jauh, tapi aku yakin Minseok tidak akan membiarkan anak itu keluar rumah tanpa pengawasan."

"Kalau begitu, izinkan kami untuk berjalan-jalan di wilayahmu, Suho. Aku berniat melakukan kunjungan kecil."

"Tapi jangan membuat masalah."

"Maaf, aku tidak bisa menjamin hal itu."

.

.

.

.

.

"Aku pulang."

"Hyung, selamat datang. Makan siang sudah siap, makanlah dulu."

Minseok melepas sepatunya dan merapikannya di rak sepatu, dia tidak suka melihat sepatu yang tidak tertata. Dia langsung menuju dapur dimana adiknya sedang menata piring dan sendok.

"Aromanya sedap, kau masak apa?" Minseok duduk di salah satu kursi, Minseok bisa memasak, tapi Jongdae memaksa untuk menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Awalnya masakan Jongdae sangat buruk, tapi 'practice makes perfect', Jongdae mahir memasak setelah beberapa wajan hangus dan piring pecah kemudian.

"Hanya kari ayam, kita kehabisan telur, sayuran dan susu, dan corn chips, dan permen jeli." Jongdae memberikan Minseok porsi nasinya seperti biasa.

"Aku tidak mengerti kenapa kau terobsesi dengan camilan manis tapi tidak bertambah gemuk." Minseok terkekeh saat melihat Jongdae berwajah masam.

"Hyung, kau tahu kan, makanan itu bagian dari jiwaku."

"Ya ya ya, terserah."

Mereka makan dengan tenang di selingi obrolan ringan tentang sekolah Jongdae. Minseok senang mendengar semua cerita Jongdae, meskipun dia tidak memahami setengah dari ucapannya, dia senang mendengar suara adiknya. Suara Jongdae membuat suasana di rumah ini menjadi lebih hidup.

"Jongdae-yah." Panggil Minseok saat Jongdae sedang mencuci piring, dia menyender di dekat pintu dengan sekaleng bir di tangannya. Jongdae hanya menggumam pelan.

"Kau sudah punya kekasih?"

Pertanyaan tiba-tiba dari Minseok membuat Jongdae hampir menjatuhkan piring yang dipegangnya. "Kenapa tiba-tiba..." Jongdae yakin wajahnya memerah sekarang, dia tidak punya pengalaman tentang hal seperti itu.

"Hanya bertanya. Usiamu sebentar lagi 17 tahun, kan? Biasanya diusia seperti itu sudah mulai melirik lawan jenis."

"Saat ini... Aku ingin fokus belajar, setelah lulus dan mendapat pekerjaan tetap, aku akan mencari istri saat sudah siap nanti." Jongdae tersenyum dreamy, dia senang membayangkan bagaimana jika dia sudah memiliki keluarga kecil sendiri.

Minseok meneguk bir kalengnya dalam diam, wajahnya memerah tapi dia tidak mabuk, hanya merasa ringan. "Kau akan meninggalkan hyung sendirian?" Ujar Minseok sedih.

"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkan hyung sebelum hyung menikah." Jongdae tersenyum tipis, dia meletakkan gelas terakhir di rak dan mengeringkan tangannya. "Hyung, besok jangan lu-"

Ucapan Jongdae terpotong, seseorang memeluknya dari belakang. Jongdae harus berpegangan pada pinggiran wastafel supaya tidak terjatuh.

"Umm... Hyung? Kau tidak apa-apa?" Tanya Jongdae bingung, Minseok memang sering memeluknya, tapi tidak dalam keadaan setengah mabuk. Jongdae berusaha melihat wajah Minseok dari balik pundaknya, namun Minseok malah membenamkan wajahnya di tengkuk Jongdae.

"Jangan tinggalkan hyung, hanya kau satu-satunya yang kumiliki di dunia ini..." Minseok berbisik, kalimat itu terdengar sangat tulus dan seperti memohon. Jongdae tersenyum lembut, dia menepuk pelan tangan Minseok yang melingkar di perutnya.

"Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum kau bahagia, hyung..."

"Hmm..." Minseok hanya berdengung malas, dia meletakkan dagunya di pundak Jongdae. "Rasanya lebih mudah memelukmu saat kau masih kecil..."

Jongdae jadi teringat masa kecilnya, dia ingat saat usianya 8 tahun, dia menangis karena iri melihat anak seusianya bermain dengan orangtuanya. Minseok memangkunya di kursi dan memeluknya dari belakang, mengelus rambutnya dan membiarkannya menangis dan merengek sesuka hatinya. Sekarang dia sudah besar, tidak mungkin menangis dan merengek di pangkuan hyungnya. Tanpa sadar Jongdae tertawa pelan saat membayangkannya.

"Kau lucu sekali, hyung. Semua manusia pasti akan berubah, kan."

.

.

.

.

.

A/N :

Sebenarnya ngerasa nggak enak update cerita ini saat ada kabar duka dari 100%... Meski bukan fans, saya turut berduka cita... :(

Anyway, HBD uri Minnie :D (sengaja dibanyakin partnya)

Mungkin pada ngerasa aneh karena saya pake istilah 'penjaga' dan 'pengikut', awalnya mau pake kata Guardian biar agak kerenan dikit, tapi untuk kata 'pengikut'nya, masa pake kata Followers... Malahan ada yang nyaranin pake kata 'pelayan' atau Servant, malah kesannya kasar. Butler? Tapi ini bukan era victorian. -_-

And yes, tokoh BTS disini memang pengikut semua, don't blame me. Tugas para pengikut lebih mirip seperti asisten pribadi yang selalu menemani para penjaga, mereka dibekali wawasan luas dan ilmu bela diri plus muka ganteng. Macam Butler dari fandom sebelah :3 #ooopsss

Untuk yang merasa tidak nyaman dengan masa lalu V... Ini sebagai salah satu pendukung cerita, I really am sorry (╥_╥)

Mereka memang gak pake bahasa formal, karena usia mereka memang gak jelas. Disini para penjaga dan pengikut tidak dapat bertambah tua, tapi mereka bisa meninggal karena beberapa hal. Karena ini tema fantasi jadi agak nyeleneh dikit boleh lah ya...

Dan memang ada Luhan. Kris. Tao.

Try me.