Seorang Demon Misterius

.

.

.

.

Character:

Exo Member

Red Velvet Member

BTS Member

(dapat bertambah seiring cerita)

.

.

.

Summary: Jongdae awalnya hanya seorang siswa biasa, namun setelah secara tidak sengaja terlibat sebuah pertarungan antara sekelompok orang aneh yang memiliki kekuatan super melawan makhluk yang sama anehnya, dia terpaksa membantu mereka menemukan "The Eve". Hidupnya jadi jungkir balik dan kekacauan mulai mengisi harinya.

.

.

.

Genre: Supranatural, SuperPower!AU, MamaEra!AU, Romance, Fantasy

.

.

.

.

.

Tinggal berdua dengan hyungnya membuat Jongdae berusaha membantunya dalam masalah keuangan. Minseok bekerja di sebuah minimarket dan gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dia berusaha membantu hyungnya dengan bekerja paruh waktu di toko bunga dekat sekolahnya. Dia bekerja hari jumat hingga minggu.

"Jongdae, bisakah paman meminta bantuanmu?"

Jongdae meletakkan pot bunga matahari yang di bawanya. Pemilik toko ini sudah paruh baya dan sangat baik padanya, Jongdae senang bekerja disini. "Tentu, tidak usah sungkan, paman."

"Maukah hari sabtu besok kau menjaga toko sehari penuh? Anakku baru saja melahirkan, aku ingin bertemu cucu pertamaku."

"Tentu saja, aku tidak keberatan membantu paman. Selamat atas kelahiran cucu paman."

"Hahaha, terimakasih. Maaf ya, merepotkan. Nanti paman beri uang jajan lebih."

"Tidak usah repot-repot, paman."

Paman hanya melambaikan tangannya, sebenarnya Jongdae tidak keberatan, dia tidak memiliki kegiatan di hari sabtu. Tapi sepertinya sendirian di toko agak membosankan. "Paman, bolehkah aku membawa seorang temanku?"

"Oh, tentu saja, justru itu sangat membantu. Masalah bayaran tenang saja."

'Bagus, akan aku seret Baekhyun.' Jongdae tersenyum pada dirinya sendiri, mungkin membawa Baekhyun bukan ide yang buruk. Jongdae menata pot bunga yang di pajang di luar toko untuk menarik pembeli. Saat akan masuk kembali ke dalam toko, dia seperti melihat sekelebat bayangan gelap di balik tiang listrik. Jongdae memperhatikan tiang itu sekali lagi, namun tidak ada apapun. Jongdae hanya mengangkat bahunya cuek dan menganggapnya angin lalu.

Malamnya Jongdae menelepon Baekhyun tentang tawaran bekerja sehari di toko bunga. Baekhyun langsung menyetujuinya tanpa banyak bertanya. Baekhyun mudah beradaptasi dan cepat belajar, mungkin ini adalah ide yang bagus untuk mengajaknya.

Atau mungkin tidak.

Ini adalah ide yang sangat buruk.

"Jongdae, tidak bisakah aku pulang lebih awal? Mereka membuatku gila. Bagaimana kau bisa tahan dengan mereka. Jongdae, tolong aku! Jongdae! Jongdae! Jongdae!"

Jongdae hanya bisa mendesah lelah. Seharusnya dia bisa memperkirakan hal ini akan terjadi. Seharusnya dia tidak lupa dengan pengunjung tetap setiap hari sabtu, ada sekelompok mahasiswa yang datang untuk membeli bunga Lily putih. Mereka memang pernah menggoda Jongdae, tapi berhenti setelah tiga kali tidak di pedulikan.

"Maaf, Baek." Jongdae hanya bisa menatap kasihan Baekhyun dari balik meja kasir. Baekhyun punya wajah yang manis dan imut, tidak heran mereka menggodanya.

"Jongdae, tolong hitung." Baekhyun menghampirinya dengan wajah masam, sekeranjang bunga lily putih yang tersusun rapi di sodorkannya ke hadapan Jongdae.

"Maaf, Baek." Bisik Jongdae, dia menghitung jumlah tangkai bunga. Setelah selesai dia mengembalikannya kepada Baekhyun untuk di serahkan kepada para mahasiswa yang sudah menunggu.

"Aduh, Baek, jangan cemberut begitu. Jadi gemas melihatnya." Salah satu mahasiswa mencubit pipi Baekhyun dengan cukup kuat.

"Yah!" Baekhyun menepis tangan yang sudah sembarangan mencubit pipinya, wajahnya memerah entah karena malu atau marah.

"Ini bunga kalian!" Baekhyun mendorong keranjang yang di bawanya ke salah satu mahasiswa yang tertawa-tawa. "Kalau tidak ada perlu lagi silahkan pergi."

"Astaga, kejam sekali." Mahasiswa yang berjumlah enam orang itu tertawa, Baekhyun hanya bisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Maafkan teman-temanku, wajahmu mengingatkan kami dengan seseorang." Satu-satunya perempuan diantara mereka mengambil alih keranjang bunga yang di pegang salah satu temannya.

"Benar, wajahmu mirip dengan guru kami yang sudah meninggal."

"Guru?"

"Beliau adalah guru yang paling di hormati saat kami masih kecil, wajahnya sangat manis dan murah senyum. Sampai sekarang kami tidak akan pernah melupakannya." Wanita itu menatap bunga lily dengan sendu. "Beliau suka bunga lily, setiap hari sabtu kami bergantian mengunjunginya."

Mereka tersenyum kepada dua orang pelajar itu. "Saat melihatmu kami langsung teringat wajahnya, tapi sifatnya sangat mirip dengan Jongdae."

"Ingin lihat fotonya?" Seorang mahasiswa mengambil dompetnya, dia mengeluarkan selembar foto dan memberikannya kepada Baekhyun.

"Woah, manis sekali."

Jongdae yang penasaran ikut melihat foto tersebut. "Benar, dia sangat manis."

"Berarti aku semanis ini, ya?" Ucap Baekhyun percaya diri sambil memegang dagunya.

"Benar, kan. Hanya saja mata kalian berbeda." Salah seorang mahasiswa terlihat antusias, mereka mengobrol beberapa lama.

Sementara Jongdae terdiam di belakang Baekhyun. 'Kenapa orang itu terasa tidak asing?' Jongdae berusaha mengingat wajah itu, dia yakin pernah melihat atau bertemu dengannya.

Selebat cahaya putih terbentang di hadapannya. Dedaunan berwarna merah muda yang diterbangkan angin, ada seseorang yang berdiri memunggunginya. Semua terlihat begitu cantik dan tenang. Hingga tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap dan kelam. Jongdae melihat warna merah.

"Semuanya aku serahkan padamu."

Jongdae tersentak kaget, dia menoleh ke sana kemari. 'Apa itu tadi?' Pikirnya. Tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya. Matanya menatap foto seseorang yang masih di pegang oleh Baekhyun. Dia merasa ada sesuatu yang berhubungan dengan orang itu dan masa kecilnya, tapi dia tidak bisa mengingatnya.

Setelah sekelompok mahasiswa itu pulang, tidak ada hal lain yang terjadi hari itu. Kecuali keluhan Baekhyun yang sudah sudah kebal di telinganya, tentu saja. Saat Baekhyun hendak merapikan pot bunga anggrek di luar agar tidak terkena panas secara langsung, ada seorang pembeli yang masuk. Lelaki itu terlihat aneh dengan mantel hitam panjang dan masker hitam yang hanya memperhatikan matanya saja. Baekhyun berdoa semoga orang itu bukanlah grim reaper atau semacamnya.

"Selamat datang! Anda ingin bunga yang seperti apa?" Baekhyun menyambut pelanggan tersebut, sementara Jongdae kembali menata tumpukan pot kecil yang ada di dalam ruangan.

"Anda ingin melihat-lihat? Kami memiliki bany-"

Ucapan Baekhyun terputus bersamaan dengan suara benda yang ambruk. Jongdae langsung menghentikan kegiatannya, matanya membulat saat melihat Baekhyun yang tersungkur di lantai.

"Baekhyun!" Tanpa pikir panjang Jongdae langsung berlari menghampiri sahabatnya hingga menjatuhkan beberapa pot. Jongdae tidak melihat pria aneh di hadapannya menatapnya dengan mata yang seluruhnya hitam, dia terlalu khawatir dengan keadaan Baekhyun.

"Kau!" Jongdae mengangkat kepalanya, menatap marah orang asing yang membuat sahabatnya pingsan. "Apa yang-"

Jongdae merasakan kepalanya di pukul dengan keras membuat pandangannya buram, rasa sakitnya sangat tidak tertahankan hingga dia pingsan menimpa tubuh Baekhyun. Pria asing itu menurunkan maskernya, memperlihatkan wajahnya yang rupawan. Matanya yang hitam kelam tanpa pupil menatap tajam dua orang pelajar yang tidak sadarkan diri di hadapannya. Bibirnya tersenyum miring, "Gotcha..."

.

.

.

.

.

"Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan setelah aku pergi dari sana, tapi aku sangat menentang hal ini." Minseok mengurut pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa sakit.

"Suho sudah memberi izin pada kami untuk melihat-lihat." Chanyeol menampilkan deretan giginya, matanya berkilat jenaka.

Minseok menatap tajam sosok pengendali air di sebelahnya, Suho mengangkat tangannya defensif, "Jangan salahkan aku, oke." Ucapnya pelan.

Minseok hanya bisa mendesah lelah, saat ini mereka bertamu di rumahnya tanpa diundang. Minseok sedang bekerja di minimarket seperti biasa, setelah jam kerjanya selesai dan sudah membeli barang yang di pesan oleh Jongdae, Minseok yang baru saja mencapai gerbang rumahnya disambut oleh enam orang yang menunggunya.

Minseok menatap Chanyeol yang sedang mengamati foto-foto yang berjejer rapi di lemari kaca, Suga duduk di sofa panjang menikmati kopi yang disuguhkan oleh Minseok. Taehyung duduk di samping Suga sambil memainkan ponselnya, sesekali Seokjin ikut menimpali di sebelahnya. D.O duduk di single sofa dengan buku yang diambilnya dari rak buku di tangan kanannya. Suho duduk di sebelah Minseok, dengan beberapa lembar kertas di kedua tangannya.

Mereka menyamankan diri seolah-olah ini rumah sendiri. Mereka bilang hanya mampir sebentar setelah melakukan pengawasan singkat. Minseok tahu mereka ingin bertemu adiknya, namun tidak ada yang menyinggung hal itu sedikitpun. Sehun tidak ikut karena ada sesuatu hal yang harus dia lakukan di wilayahnya, wilayah timur.

Minseok menatap jam yang tertempel di dinding, sudah lewat pukul tiga, seharusnya Jongdae sudah di rumah limabelas menit yang lalu. Minseok mengambil ponselnya, dia berusaha menghubungi nomor Jongdae, tapi tidak dijawab. Minseok merasa gusar, Jongdae tidak pernah pulang terlambat sampai selama ini.

Suho yang duduk di sampingnya merasakan Minseok bergerak tidak nyaman, "Ada apa?"

Suara Suho membuat semua orang menoleh ke arah mereka. Dengan kening berkerut, Minseok menatap ponselnya, "Jongdae seharusnya sudah pulang dan dia tidak mengangkat ponselnya."

Minseok berdiri dan mengambil jaket biru yang tergantung di dekat pintu. "Aku akan menjemput Jongdae, kalian lakukan saja yang kalian suka." Minseok mengambil sepatunya yang ada di rak. Suho berdiri dari sofa hendak menghampiri Minseok, namun ponselnya berbunyi nyaring di kantong celananya. Suho mengerutkan keningnya saat melihat ID penelepon.

"Joy, ada apa?"

'Oppa! Ini gawat, kami menemukan retakan besar di wilayahmu. Sepertinya ada satu Demon yang menerobos masuk! Kami berusaha melacaknya, tapi dia sangat gesit, dia berpindah dengan cepat, dia menyandera dua orang, dia- ya ampun, ada seorang lagi terluka, Sehun Oppa berusaha menolong mereka, ya ampun!'

"Joy! Tenanglah dan ceritakan dengan benar." Suho pusing mendengar ucapan Joy yang terburu-buru.

"Loudspeaker." Ucap D.O, Suho mengaktifkan mode loudspeaker, mereka mendengar suara gaduh teriakan dan letusan senjata dari seberang sana. Minseok menghentikan gerakannya mengikat tali sepatu karena sepertinya ini adalah hal yang gawat.

'Ada seorang Demon yang menerobos masuk dari daerah utara, kami melacaknya hingga ke daerah timur. Dia-KYAAA'

"Joy?!" Suho panik saat mendengar jeritan gadis itu.

'Dia kuat sekali! Kami tidak bisa melawannya, dia menyandera dua orang dan-'

Suara Joy terputus dan terdengar suara gemerisik dari seberang, seperti seseorang yang mengambil ponselnya secara paksa.

'Suho, kalau kau tidak datang dalam sepuluh menit akan aku terbangkan pakaian dalammu saat kau menjemurnya.'

Sehun terdengar marah dengan nafas memburu, "Sehun, apa yang terjadi?" Tanya Chanyeol, dia mendekati Suho yang berdiri di tengah ruangan.

'Kalian lebih baik datang ke pabrik besi di dekat kawasan industri yang tidak beroperasi lagi. Seorang Demon menyandera dua orang dan dia ingin membicarakan sesuatu dengan Penjaga Gerbang Selatan.'

Tempat itu tidak terlalu jauh dari sini, Suho memberi isyarat kepada yang lain untuk segera bergerak, mereka bergegas meninggalkan rumah Minseok. Para pengikut pergi lebih dulu, Minseok berada di belakang bersama Suho. Jika Sehun tidak bisa mengalahkannya, berarti Demon itu sangat kuat. Dia bisa masuk tanpa terdeteksi, belum lagi dia menyandera dua orang sekaligus. "Apa yang dia inginkan dari Chanyeol?" Tanya Suho.

'Entahlah, dia menolak untuk bicara sebelum bertemu dengannya. Dia mengancam akan membunuh sandera jika Chanyeol menolak.'

"Siapa yang menjadi sandera?" Tanya Suho lagi, dia mempercepat larinya.

'Aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi... Wendy sempat melihat ke dalam dan mengenal salah satu sandera, yaitu adiknya Minseok.'

Suho berhenti berlari, begitupun Minseok. Suho melirik Minseok takut-takut, ekspresinya tidak terbaca.

"Jongdae...?" Minseok menggeram marah, matanya bersinar biru toska. Temperatur udara menurun drastis, kepalan tangannya di selimuti es tipis. "Akan kubunuh Demon itu kalau dia berani menyentuhnya." Minseok berlari ke arah pabrik besi tempat Demon itu menyandera adiknya.

'Suho? Tolong katakan padaku itu bukan suara Minseok. Dia akan mengulitiku hidup-hidup kalau aku gagal menyelamatkan adiknya.'

Suho yang masih tertegun membalas ucapan Sehun, "Jangan khawatir, aku selanjutnya." Sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon dan menyusul yang lain.

Di sebuah kawasan industri tua yang tidak terpakai lagi terdengar suara gaduh yang memekakkan telinga. Letupan senjata api bersahutan menembaki ratusan laba-laba seukuran bola kaki yang muncul terus menerus dari dalam tanah.

Sehun menerbangkan puluhan laba-laba yang mendekatinya, mereka langsung hancur begitu menghempas tanah. Dengan ganas Sehun mengayunkan tombak panjang berwarna putih untuk menciptakan angin berkecepatan tinggi yang mematikan, kesal karena Chanyeol belum datang juga. "Jimin! Belum ada tanda-tanda Chanyeol atau Suho?!" Teriak Sehun kepada seorang pemuda yang mengayunkan kedua pedangnya.

"Belum!" Balas Jimin.

"Sialan!" Umpat Sehun. Dia menginjak seekor laba-laba untuk melampiaskan kekesalannya. "Kita tidak bisa berlama-lama membiarkan anak-anak itu di sandera." Sehun menatap gedung kosong tempat mereka di sandera di lantai dua.

"Aku ingin bicara dengan Penjaga Gerbang Selatan! Jika dalam sepuluh menit dia tidak muncul, aku akan membunuh salah satu dari anak ini!"

Suara teriakan mengalihkan perhatian mereka, seorang pemuda berambut hitam berdiri di sebuah bingkai jendela besar. Mata hitamnya menatap tajam sekelompok manusia yang memakai jas hitam dengan logo berwarna putih di dada kanannya. Matanya menangkap sosok Sehun, dia tahu Sehun memiliki pangkat yang tinggi karena jubah hitam dengan motif abstrak berwarna hijau yang dikenakannya.

Sehun balas menatap tajam pemuda Demon tersebut, sebenarnya Sehun dan anggota kelompok yang lain bisa mengepung dan menyerangnya, tapi dia memikirkan dua orang sandera yang bisa saja terluka sebelum mereka berhasil menangkapnya. Demon ini sangat pintar, dia menjadikan adik dari seorang pengikut yang terkuat sebagai sandera dengan taruhan nyawa.

Demon itu tersenyum meremehkan, "Waktu kalian hanya sepuluh menit." Ucapnya kepada Sehun sebelum kembali menghilang ke dalam. Darah Sehun mendidih diremehkan seperti itu, dia melampiaskan kekesalannya dengan menghancurkan puluhan laba-laba yang mendekatinya.

"Kenapa Chanyeol hyung belum datang juga?" Ucap Jimin yang berdiri di dekatnya.

"Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, jika mereka tidak cepat nyawa kita bisa-bisa terancam."

"Hah?"

Sehun mengabaikan ekspresi bingung Jimin, pemuda berambut merah itu tidak tahu apa yang akan terjadi jika Minseok mengamuk.

"Hm? Perasaan apa ini?" Tiba-tiba saja Sehun merasakan aura kemarahan beserta hawa dingin yang begitu menusuk dari arah belakangnya. "Jangan bilang Kim Minseok-"

Sehun menarik kerah belakang Jimin dan melompat menjauhi laba-laba tepat pada waktunya sebelum mereka ikut terkena serangan Minseok yang mengubah semua laba-laba itu menjadi patung es.

"Dimana... Adikku...?" Dari kejauhan dia bisa mendengar desisan Minseok. Tangannya diselimuti lapisan es, udara tiba-tiba saja menjadi dingin. Semua orang menatap horor Minseok yang terlihat begitu mengerikan, dengan mudahnya dia mengubah ratusan laba-laba menjadi es.

"Kim Minseok, tahan dirimu. Adikmu ada di dalam, jika kau gegabah dia akan terluka." Seokjin yang baru saja sampai bersama Suga dan Taehyung menepuk pundak Minseok. "Kau harus bisa mengontrol emosimu."

Minseok mencoba menenangkan dirinya, dia tidak ingin kehilangan adik satu-satunya. Tak lama setelahnya Chanyeol dan D.O datang, disusul oleh Suho yang terengah-engah.

"Keluar kau! Penjaga Gerbang Selatan sudah ada di sini!" Sehun berteriak keras.

"Bebaskan Demon yang kau tangkap dua hari yang lalu, maka aku akan membebaskan kedua anak itu." Demon itu tersenyum licik.

"Apa?!" Chanyeol terkejut mendengar permintaan Demon tersebut, "Kau! Dasar licik. Melibatkan anak yang tidak tahu apa-apa menjadi korban."

"Bukankah itu adil, satu Demon untuk menebus dua nyawa." Mata Demon itu berkilat merah. "Kalau semakin lama, mungkin kalian hanya akan menebus satu nyawa, atau mungkin tidak sama sekali."

"Kau-" Minseok menjadi geram, tangannya sudah gatal ingin menghajar makhluk terkutuk itu, namun sebuah tangan terentang menghalanginya.

"Suho?" Minseok mengerutkan keningnya, Suho hanya menggelengkan kepalanya. Dia maju beberapa langkah. Menghadap langsung kepada Demon tersebut.

"Kau bilang, menukarkan seorang Demon dengan dua anak itu, kan?"

Demon itu hanya menatap Suho, bingung dengan hal yang dia maksudkan.

"Bagaimana jika kami menolak?"

.

.

.

.

~~Apa yang Suho rencanakan?!~~

.

.

.

To Be Continue