Private IDOL

Gintama dan semua chara di sini milik

Sorachi-sensei, saya hanya pinjam

cerita asli milik saya

main chara: Okita Sougo Kagura

Rate: T

Romance/comedy

Warning (!): OOC, gajelas, bahasa acak-acakan, drama

.

.

.

.

Kagura mengamati ponselnya dengan kesal. Sudah setengah jam dia menunggu kehadiran Gintoki dan Shinpachi di luar gedung agensinya, tapi baru sekarang ia mendapat pesan dari Gintoki yang menyuruh gadis itu pulang duluan ke rumah.

Ingin rasanya ia mengumpat saat ini. Gadis itu meringis. Memegangi bagian bawah perutnya yang sudah terasa sangat sakit sedari tadi. Kakinya terasa gemetar. Ia ingin segera pulang, tapi ia tidak bisa.

Biasanya trio Yorozuya pulang ke kontrakan mereka menggunakan mobil karena jarak rumah ke studio yang cukup jauh. Tapi Gintoki, satu-satunya yang bisa menyetir sedang di tahan di dalam kantor. Dia dan Shinpachi sedang menjalani interogasi oleh pihak Shinsengumi.

Gadis itu menghela napasnya. Tidak baik jika dia pulang jalan kaki hari itu, apalagi setelah muncul berita mengenai hubungannya dan teroris seperti Katsura Kotaro tadi pagi. Jika ingin naik kereta atau naik bus pun sama saja. Terlalu banyak orang. Bagaimana cara dia pulang tanpa memancing perhatian? Persetan! Kagura sudah tidak peduli, perutnya sudah terlalu sakit untuk memikirkan hal yang tidak-tidak. Satu-satunya yang ada dalam pikirannya saat ini adalah membaringkan diri di rumah untuk meredakan rasa sakitnya.

Belum lama Kagura melangkahkan kaki, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik kasar lengannya. Tangan tersebut menutupi mulut Kagura dan bergerak menyeretnya untuk besembunyi di balik bayangan bangunan. Benar-benar seperti adegan penculikan.

Tetapi namanya bukanlah Kagura jika tidak melawan. Gadis itu berusaha melayangkan pukulan ke arah muka penculik kurang ajar tadi. Sayang, pukulannya dapat ditahan dengan mudah oleh sang penculik.

Melihat Kagura yang tak berhenti mencoba memberontak menimbulkan senyum tipis mampir di wajah sang penculik. Ia lalu melepaskan Kagura.

Kesempatan! Kagura hendak memukul penculik itu lagi, tetapi tangannya terhenti saat melihat wajah sang penculik tersebut.

"Sadist?!" Matanya melebar saat melihat sosok penculik di hadapannya.

"Berjalan sendiri di malam hari berbahaya bagi seorang idol top class sepertimu, China. Bagaimana jika ada seseorang yang menculikmu?" Kata si penculik-Okita Sougo. Pemuda itu berbicara dengan muka polos tapi seakan mencibir ketika mengatakan kata 'top class'.

"Satu-satunya yang berbahaya di sini adalah kau aru, aho no sadisto!" Seru Kagura. "Lagipula apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana dengan interogasi Gin chan dan Shinpachi?"

"Interogasi mereka sudah aku serahkan pada Zaki." Balas Sougo singkat.

"Kau membolos kerja aru ka? Ternyata memang benar Shinsengumi cuma segerombolan orang payah pemakan pajak rakyat aru ne."

"He? Aku tidak yakin orang sepertimu juga membayar pajak." Pemuda itu tersenyum miring. "Daripada itu kau mau ke mana?"

"Di mana letak matamu? Tentu saja aku mau pulang." Sahut Kagura ketus. Tanpa berpamitan gadis itu langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Sougo. Ia kembali meringis merasakan perutnya yang sakit.

Belum jauh Kagura berjalan, tangan gadis itu kembali di tahan oleh si iblis, Okita Sougo.

"Biar aku antar." Kata pemuda itu dengan nada datar.

Bukannya bahagia ketika mendengar kalimat perhatian tersebut, kening Kagura justru mengernyit tidak suka. Setelah pergi selama bertahun-tahun sekarang dia ingin bersikap manis? Pikirnya. Ia lalu menepis kasar tangan Sougo. "Jangan sentuh aku baka sadisto." Sahut Kagura, ia lalu meludah kurang ajar ke arah Sougo.

Sougo yang melihat tingkah laku buruk Kagura tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti, tetap datar."Astaga China, aku bisa menahanmu karna kau telah menyia-nyiakan tawaran polisi yang baik hati ini." Ucap Sougo. "Tapi soal panggilan 'sadist' aku mungkin menyukainya." Lanjut sang pemuda, kini dengan seringai sadisnya.

'Uuuhhhh'

Mata Sougo menatap heran Kagura, gadis itu terlihat kesakitan (?) Terlihat jelas tangan gadis itu memegang rapat perutnya seakan menahan sesuatu. Melihatnya Sougo pun tersenyum mengejek. "Oh.. pantas saja kau ingin segera pergi. Ternyata kau kebelet BAB kah, China? Sayang sekali aku tak akan memberitahumu letak toilet di sekitar sini-"

Belum selesai Sougo berbicara, kini ia kembali di kagetkan oleh Kagura. Gadis itu tiba-tiba pingsan di hadapannya! Karna tadi Sougo sedang asik mengejek Kagura, ia tidak menyadari gadis itu sudah terjatuh hingga menyentuh tanah.

"Oi China?" Panggil Sougo.

Tidak ada reaksi. Melihat hal itu, Sougo pun segera mengangkat tubuh mungil Kagura. Membawanya ke dalam mobilnya untuk mencari pertolongan pertama di klinik terdekat.

ooooooooooooooooooooooo

Mata Kagura perlahan-lahan terbuka. "Ini di rumah aru ka?" Pikir gadis itu. Ia yakin dirinya sedang berada di rumah, tepatnya di kamarnya. Bagaimanapun ia mengenal langit-langit yang dilihatnya sekarang.

Kepala gadis itu lalu menengok ke sisi kanan tempat tidurnya. "Are? Kenapa ada Sadist di sini?" Kening Kagura berkerut saat melihat bayangan mirip suaminya. Tunggu dulu.. entah kenapa bayangan tersebut terasa sangat nyata.

"Kenapa tanganmu menyentuhku seperti itu, China? Kau mau mencium suamimu ini kah?" Tanya Sougo saat tangan Kagura menyentuh pipinya.

"Sa-sadist?!" Kagura menjerit menyadari bahwa pemuda dihadapannya bukanlah bayangan, tapi benar-benar Sougo yang asli. "Teme!! Apa yang kau lakukan di sini?!" Lagi-lagi Kagura melepaskan serangan ke arah wajah Sougo. Tapi belum sampai pukulannya mengenai target, Kagura kembali dikajutkan oleh rasa sakit di perutnya.

Menyadari hal tersebut Sougo pun melemparkan suatu benda ke wajah Kagura. "Segera pakai itu." Kata Sougo.

Kagura menatap benda yang baru saja Sougo lemparkan. Sebuah pembalut. Tanpa basa-basi gadis itu segera membawa pembalut yang Sougo berikan lalu buru-buru menuju kamar mandi.

oooooooooooooooooo

Setelah keluar dari kamar mandi, Kagura kembali berbaring di ranjangnya. Ia bersyukur 'darah kotor' nya tidak bocor mengenai tempat tidur. Saat hendak memejamkan matanya, perhatian Kagura teralihkan oleh suara pintu kamar yang terbuka.

"Kenapa kau masih di sini?" Tanya Kagura ketus.

Tanpa mengindahkan ucapan Kagura, Sougo kembali mengejutkan Kagura dengan menempelkan suatu benda ke wajah Kagura. Gadis China itu sontak berteriak, "Panas!"

"Berhenti mengeluh dan segera ambil air ini, China." Sougo lalu mengambil tangan Kagura, menyuruh tangan gadis tersebut untuk memegang segelas air yang ia bawa. "Air hangat dapat sedikit meredakan nyeri haidmu." Lanjutnya. Lelaki itu lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang Kagura. Ia tersenyum tipis/sangat tipis/ melihat gadisnya meminum air yang ia bawakan.

Mendapat perlakuan manis bertubi-tubi dari Sougo membuat hati Kagura sedikit tergerak. Dia merasa agak bersalah karena memperlakukan lelaki itu dengan buruk. "Bagaimana kau tahu.. kalau aku sedang datang bulan?"

"Tentu saja karena wajahmu jelek sekali ketika menahan sakit." Balas Sougo sekenanya. Melihat tatapan sebal Kagura membuat Sougo mati-matian menahan tawa. "Aku bercanda. Tadi sebelum membawamu ke sini, aku sempat membawamu ke klinik. Dan saat bertemu dokter ia bilang kau hanya sedang nyeri haid saja. Benar-benar membuang waktu saja." Jelas pemuda itu.

Mendengar penjelasan dari sang pemuda membuat urat-urat kekesalan muncul di dahi Kagura. "Kau bilang 'hanya' aru ka?! Lelaki sepertimu tidak akan tahu seberapa sakitnya datang bulan!" Seru Kagura tidak terima.

"Ya, aku memang tidak tahu. Tapi mungkin aku sedikit mengerti saat melihat wajah kesakitan wanita yang sedang mengalaminya. Begitu pula saat hal itu terjadi pada Aneue."

Saat itu Kagura merasa melihat senyuman tipis yang mampir di wajah Sougo. "Oh iya, bagaimana kabar Mitsuba nee? Dia sehat-sehat saja kan?" Tanya Kagura. Ia tersenyum antusias. Berbeda dengan rasa bencinya pada Sougo, Kagura sangat menyukai Mitsuba. Jujur ia iri pada Sougo karena memiliki kakak yang cantik dan baik hati seperti Mitsuba, tidak sepertinya yang hanya memiliki kakak laki-laki psikopat dan siscon garis keras.

"Daripada memikirkan kesehatan orang lain, sebaiknya kau banyak istirahat. Paling tidak itu yang dokter katakan padaku." Ujar Sougo, tangannya bergerak mengusap rambut Kagura.

"Oi apa yang kau lakukan sadist?! Kau hanya akan mengotori rambutku aru! Aku tak mau rambutku disentuh oleh sampah masyarakat sepertimu aru ne!"

Kesal mendengar ocehan Kagura, Sougo lalu mencubit kedua pipi istrinya. "Sakit! Lepaskan teme!" Tangan Kagura berusaha melepaskan tangan milik Sougo dari pipinya, tapi tidak berhasil, efek nyeri haidnya membuat ia lemah tidak bertenaga.

Mata Sougo menatap pipi Kagura yang bersemu merah, entah? Mungkin karena cubitan Sougo terlalu keras?

Pipi itu terlihat agak cacat akibat dari goresan kasar wajahnya dengan aspal jalan sewaktu gadis itu tadi terjatuh. Tanpa Sougo sadari tangannya yang tadi mencubit pipi Kagura kini sedang mengusap pipi kanan sang gadis dengan lembut. "Karena jatuh, pipimu menjadi tergores seperti ini. Padahal kau adalah seorang idol. Apa yang akan terjadi jika fans melihat keadaanmu sekarang?" Tanya lelaki itu.

Wajah Kagura terasa memanas. Ia mengalihkan pandangannya, tidak mau menatap mata sang pemuda."Yang sudah terjadi mau bagaimana lagi? Tenang saja, karna kau telah menolongku, aku tidak akan menyalahkanmu tentang hal ini. Aku akan mengatakan pada Gin chan bahwa aku terjatuh saat kau tidak ada aru."

"Baguslah. Lagipula aku tidak berniat minta maaf." Ujar Sougo dengan senyuman sadisnya.

"Brengsek.." umpat Kagura.

Hening beberapa saat. Kagura kemudian kembali bersuara. "Sadist, ada yang ingin kukatakan padamu." Kata gadis itu. Ia menatap Sougo dengan tatapan serius. "Ayo kita bercerai." Pintanya.

Sougo terdiam sejeneak, ia kemudian menjawab, "Aku tidak mau." Jawaban lelaki itu sontak membuat kening Kagura berkerut. "Kenapa?" Tanya gadis tersebut.

"Karena aku tidak mau mendapat julukan duda." Balas Sougo. Ia tidak peduli akan tatapan sebal yang ditunjukan kepadanya.

"Aku juga tidak mau mendapat julukan janda aru ne! Tapi pernikahan ini tidak akan berjalan lancar, hanya akan menyusahkan kita berdua." Gadis itu berusaha meyakinkan pemuda dihadapannya untuk bercerai.

"Aku tidak peduli jika kau tidak suka disebut janda, tapi aku tidak akan pernah mau menjadi duda."

Mendengar jawaban egois dari Sougo membuat amarah Kagura meledak. "Berhenti bersikap seenaknya konoyaro! Tidak kah kau tahu seberapa susahnya hidupku karna pernikahan kita?!"

"Tidak."

"Aku jadi susah mendapatkan pekerjaan!"

"Lalu?"

"Karna itu ceraikan aku!"

"Tidak mau."

"Dasar egois!"

"Un."

(Note: Un= Ya)

"Sadist brengsek!!"

"Un."

"Aku membencimu aru!!"

"Kujuga."

"Bisakah kau lenyap dari kehidupanku?"

"Tidak."

"Sialaann!!"

Sougo melihat jam tangannya, ia mengabaikan Kagura yang masih sibuk mengumpat. Lelaki tersebut kemudian kembali mengusap rambut Kagura. "Sudah hampir jam 12, babi yang baik harus segera tidur."

Cup.

Kagura menyentuh dahinya. Wajah gadis itu memerah ketika beberapa detik lalu bibir Sougo menyentuh dahi miliknya.

Sougo lalu menutupi wajah Kagura dengan selimut yang sudah membungkus tubuh gadis itu sedari tadi. Membuat gadis itu kesal. Ia kemudian bergegas keluar dari kamar Kagura, tanpa mengindahkan umpatan-umpatan yang kembali gadis itu lontarkan.

"Awas saja aru, konoyaro! Aku tidak akan tidur sebelum aku dapat memukul wajahmu!!"

"Terserah apa katamu, China." Pemuda itu tiba-tiba berhenti. Ia lalu menengok untuk menatap Kagura. "China aku lupa bertanya sesuatu."

"Apa?" Tanya Kagura penasaran.

"Apakah kau masih perawan?"

Moment selanjutnya wajah tampan Sougo sudah terkena lemparan jam wekker dari Kagura.

oooooooooooooooooooooooo

Sougo mengambil jasnya yang tergeletak di atas kursi ruang makan kontrakan milik Yorozuya. Ia lalu segeran memakai jas itu. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Sougo kembali masuk ke dalam kamar Kagura. "China, aku mau pulang dulu." Sayang sekali bukannya jawaban, yang Sougo dapati hanyalah wajah pulas milik istrinya yang sudah tertidur. "Padahal tadi kau bilang tidak akan tertidur sebelum memukulku." Gumam lelaki itu.

Sougo mengeluarkan ponselnya. Mengotak-atik ponsel tersebut, kemudian menempelkannya di telinga. Sambil menunggu teleponnya tersambung, lelaki itu memilih duduk di pinggir ranjang Kagura. Mata merahnya sibuk mengamati gadis yang sedang tidur di hadapannya.

Ia memanglah gadis yang Sougo kenal sedari kecil. Mukanya masih terlihat sama, imut, hanya terlihat lebih dewasa dan cantik. Berbeda dengan dulu, kini gadis itu memiliki rambut yang sangat panjang. Sougo kembali mengelus rambut vermillion panjang itu. Halus.

Tangannya kini mengusap lembut pipi sang gadis. 'Halo, Okita Taichou?' Terdengar suara dari seberang setelah telepon tersambung.

"Kau bisa membebaskan danna dan megane sekarang."

'Ini belum jam 1 pagi, seperti yang kau perintahkan. Apa kau yakin Taichou?'

"Ya. Bilang pada danna bahwa anaknya sedang sakit. Karena itu ia harus segera pulang sekarang."

'Eh? Apakah terjadi sesuatu pada China san?'

Telinga Sougo menangkap samar suara deru napas halus milik Kagura. Ah, gadis itu seakan memiliki medan magnet yang dapat menarik Sougo mendekatinya. Tubuh pemuda itu membungkuk, untuk memperpendek jarak wajah mereka.

'Okita taichou?'

Cup. Bibir keduanya akhirnya bersentuhan. Perasaan Sougo seakan meledak-ledak. Ini adalah moment ciuman pertamanya dan moment itu telah ia berikan kepada istrinya. Persetan jika gadis itu meminta bercerai! Sougo tidak peduli. Mungkin benar kata Hijikata Toshiro, meski terpisah selama 14 tahun, Sougo masih memendam perasaan pada istrinya. Entahlah.

"Berhenti bertanya dan lakukan saja apa yang aku perintah, Zaki." Ucap pemuda itu.

'Soal itu.. ta-taichou.. Se-sebenarnya danna dan Shinpachi kun sudah pulang daritadi.' Kata Yamazaki dengan suara gemetar ketakutan.

"Apa katamu?"

'Ma-maafkan aku!!' Yamazaki dapat merasakan aura membunuh dari telepon di seberang.

"Sejak kapan?"

'Setengah jam yang lalu mungkin?'

"Jadi begitu.. Bersiaplah menerima hukumanmu nanti, Yamazaki."

'Ehh-'

Tuut tuut.. Sougo sudah mematikan telepon tadi secara sepihak.

Jika danna pulang setengah jam yang lalu, kemungkinan sekarang dia sudah sampai di sini. Pikir Sougo. Pemuda itu kemudian bergegas keluar dari kamar Kagura. Tetapi saat keluar dari kamar Kagura, lelaki itu dikagetkan oleh sebuah pedang kayu yang diarahkan kepadanya. Hari ini memang banyak kejutan ya, Sougo.

"Apa ini sikapmu dalam menyambut kedatangan menantu yang sudah lama tak kau temui Danna?" Tanya Sougo pada pria ubanan di hadapannya.

"Haha lucu sekali Souichiro kun. Sayang sekali aku tidak pernah menganggapmu sebagai menantuku."

Dengan gerak cepat, Sougo mengambil payung ungu yang diletakkan di depan kamar Kagura. Ia lalu menangkis pedang kayu milik Gintoki sehingga membuat pedang itu terlempar. Hal tersebut membuat pria ubanan tadi sedikit terkesan. "Hee.. gerakanmu bagus juga Souichiro kun."

"Sougo desu. Semenjak pindah aku mulai rutin belajar kendo, Danna. Jika tidak serius kau tak akan bisa mengalahkanku dengan mudah"

"Shinpachi, periksa Kagura." Perintah Gintoki pada kacamata bermanusia yang sedari tadi melihat perdebatannya dengan Sougo.

"Baiklah, Gin san." Shinpachi lantas berlari masuk ke kamar Kagura. Ia melihat Kagura yang terbangun karena kebisingan di depan kamarnya.

"Shinpachi?"

"Kau baik-baik saja Kagura chan?"

ooooooooooooooooo

"Untuk menyuruh Megane memeriksa China, sepertinya kau tidak percaya kepadaku, Danna."

"Bagaimana aku bisa percaya pada polisi yang menyuruh bawahannya untuk mengintrogasi seseorang sampai malam hanya untuk membiarkan polisi gila itu bermesraan dengan anak gadisnya?! Kau bahkan mencuri ponselku untuk menyuruh Kagura pulang!"

"Oh. Kau dengar itu dari Yamazaki?" Tanya Sougo. Ia mengambil ponsel milik Gintoki dari dalam sakunya kemudian menyerahkan ponsel itu pada pria di depannya.

Gintoki tidak menjawab pertanyaan dari Sougo. Sambil merebut kembali ponselnya, mata pria itu tidak dapat berhenti melotot menatap pemuda kurang ajar yang duduk di sebrang kursi meja makannya.

"Sudahlah Gin san, yang terpenting Kagura chan baik-baik saja. Justru kita harus berterima kasih pada Okita san. Yang menolong Kagura chan adalah Okita san kau tahu?" Ujar Shinpachi sambil menyuguhkan teh hangat buatannya.

Gintoki menggaruk kepalanya yang tak gatal. Meski menyebalkan tapi kata-kata Shinpachi ada benarnya. Dengan sangat terpaksa ia harus berhutang budi pada Sougo. "Untuk kali ini aku berterimakasih karena kau sudah menolong Kagura dan mengantarkannya pulang, Okita kun." Tatapan Gintoki kini melembut.

Tangan Sougo diangkat ke udara, semacam memberi kode untuk menyela pembicaraan tersebut. "Danna, Megane, saat ini nama China juga Okita, panggilan kalian agak membuatku bingung."

"Lihatlah Shinpachi, dia memang tipe orang yang seperti itu! Percuma kita memperlakukan orang ini dengan baik, dia tetap saja kurang ajar!" Gerutu Gintoki sambil menunjuk-nunjuk emosi ke arah Sougo.

Pemuda itu memperhatikan jam di ponsel miliknya, "Ah, sudah tengah malam. Aku harus kembali ke markas."

"Hoi apa kau mendengarkanku Okita kun?!"

Sougo berdiri dari duduknya, dengan mengabaikan seluruh ucapan Gintoki, Sougo hendak melangkahkan kaki keluar dari rumah kediaman trio Yorozuya.

"Okita kun, kau tetap harus minta maaf soal pernikahan ini." Sela Gintoki sebelum Sougo benar-benar keluar dari rumah tersebut. "Kau tahu sendiri kan, karna pernikahan itu kami benar-benar direpotkan."

"Kalau masalah tentang pekerjaan yang direpotkan cuma China saja. Selama ini Danna menganggur murni karena salahmu sendiri."

'Ugh. Dia bisa menebakku.' Batin Gintoki. Shinpachi sweatdrop melihat reaksi tertebak Gintoki.

"Tetap saja kau harus minta maaf.. paling tidak kepada Kagura." Kata Gintoki lagi, ia berusaha mengalihkan pembicaraan yang dapat berujung menyalahkan dirinya sendiri. "Ajaklah Mitsuba juga. Aku tidak akan puas jika cuma adiknya yang meminta maaf."

"Itu mustahil danna." Sougo menggerakkan tubuhnya untuk berdiri memunggungi Gintoki dan Shinpachi. "Aneue.. dia sudah meninggal."

Mata Gintoki dan Shinpachi membelalak lebar, tidak percaya akan berita yang baru saja mereka dengar.

"Sejak kapan?" Tanya Gintoki.

"Tujuh tahun yang lalu." Jawab Sougo. Pemuda itu sedikit menengok untuk menatap wajah 2 orang di belakangnya. "Kumohon jangan menatapku seperti itu."

Kata Sougo. Ia dapat melihat wajah iba milik Gintoki dan Shinpachi. Meski kehilangan kakaknya sangat menyakitkan, tapi Sougo tidak suka dikasihani. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, bayangan Sougo menghilang di balik pintu keluar rumah tersebut.

"Okita san.. pasti sangat berat kehilangan keluargamu satu-satunya."

Gintoki terdiam sejenak. "Shinpachi, jangan beritahu ini pada Kagura."

"Gin san?"

"Dia sedang mengalami masa-masa sulit sebagai idol, jangan menambah bebannya dahulu." Ujar pria ubanan tersebut. Tapi tanpa kedua orang itu sadari, ada pihak ketiga yang sedari tadi mendengar perbincangan mereka dengan Sougo.

"Kakak sadist.. Mitsuba nee meninggal?"

-bersambung-

Kagura belum kelihatan jadi idol ya? wkwk maaf deh :'v

Fav and Review? :3