Private IDOL
Gintama dan semua chara di sini milik
Sorachi-sensei, saya hanya pinjam
cerita asli milik saya
main chara: Okita Sougo Kagura
Rate: T
Romance/comedy
Warning (!): OOC, gajelas, bahasa acak-acakan, drama
.
.
.
.
Shinpachi menyuguhkan teh hangat buatannya pada tiga tamu yang telah duduk di ruang tamu bersama Gintoki. Ia kemudian duduk di samping bos pemalasnya tersebut.
Entah kenapa perasaan Shinpachi tidak enak. Tidak. Ia yakin ada yang ganjil di sini! Masalahnya ketiga tamu tersebut berkunjung mengenakan baju yang tidak wajar. Sebenarnya Shinpachi yakin Gintoki juga menyadari kejanggalan tersebut, tetapi mata bos payah itu kini telah dibutakan oleh hadiah murahan yang tamu-tamu tadi bawa.
Gintoki meletakkan sebuah piring berisi makanan di atas meja. "Maaf kami hanya punya ini saja, tuan." Ucap pria itu sambil menawarkan makanan di meja kepada tiga pria di depannya. "Aku dengar gorilla suka pisang, jadi kau bisa makan sepuasnya."
"Sudah kubilang aku bukan gorilla." Keluh pria yang duduk di tengah. Pria itu tahu Gintoki berbicara padanya. Pasalnya sedari tadi pria bersorot mata malas itu selalu memanggilnya Gorilla.
"Ano.. kalau boleh tahu kalian siapa dan ada keperluan apa ya kemari?" Sela Shinpachi.
"Maaf kami lupa mengenalkan diri. Nama saya Kondo Isao, komandan Shinsengumi."
"Hijikata Toshiro, wakil komandan Shinsengumi."
"Ah, kita pernah berjumpa sebelumnya, nama saya Yama-"
"Kau tidak perlu mengenalkan diri, aku mengenalmu." Gintoki menyela perkataan dari orang terakhir. "Kau itu kan.. si maniak badminton yang selalu bersama Okita kun, Jimmy Zakiyama!" Tebak Gintoki sok tau.
"Yamazaki Sagaru desu. Aku inspektur Shinsengumi." Pria itu kembali mengenalkan dirinya dengan wajah yang tersakiti.
"Kupikir kau maniak badminton karna kau selalu membawa raketmu kemarin."
Ucapan Gintoki barusan memicu munculnya urat kekesalan di kepala Hijikata. "Oi Yamazaki, jangan bilang kau bermain badminton lagi waktu bekerja? Aku akan benar-benar menyuruhmu seppuku kau mengerti?" Ujar pria itu dengan nada mengancam. Matanya menatap tajam pria bernama Yamazaki tadi.
"Te-tentu saja tidak! Danna mungkin salah lihat, itu bukan raket badminton, tapi Yakisoba pan pesanan Okita taichou!"
"Raket badminton dan Yakisoba pan bentuknya sangat berbeda! Jangan mencoba membuat alasan, seppuku sekarang juga teme!"
"Tenanglah dulu Toshi, kita sedang di rumah China san. Kau bisa menyuruh Yamazaki seppuku saat kita pulang ke Shinsengumi, oke?"
"Kyokucho, jadi kau mau menyuruhku seppuku juga?!"
Shinpachi hanya dapat sweatdrop melihat orang-orang di depannya mulai berdebat. Manik pemuda itu menatap pria ubanan di sampingnya yang tengah asik mencari harta karun di hidungnya, tanpa memperhatikan pertikaian tamu mereka. 'Ini akan menjadi malam yang melelahkan' kata pemuda itu dalam benaknya.
"Oh, jadi saat aku tidak ada kau menggunakanku sebagai kambing hitam kah, Yamazaki?" Suara barusan mengalihkan perhatian Shinpachi dan yang lainnya. Okita Sougo -sang pemilik suara- berjalan mendekati mereka.
"O-o-okita taichou?!"
"Berdoalah supaya kau masih bisa bangun dengan tenang besok pagi, Zaki." Sahut Sougo dengan tatapan dingin. Yamazaki merasa ingin pingsan di depan/bukan karena ketampanan Sougo/tetapi karena ia telah mencari masalah dengan polisi paling sadist di jagat raya, Okita Sougo!
"S-sougo san?!" Shinpachi juga ikut terkejut melihat Sougo. Matanya membulat karena rasa kagetnya. Tapi berbeda dengan Yamazaki, Shinpachi menganga karena melihat pakaian yang Sougo kenakan.
Sudah Shinpachi duga ada yang tidak beres. Awalnya Sougo memang datang ke Yorozuya menggunakan baju kerjanya yang biasa ia pakai. Tapi saat ini ia telah berganti pakaian menggunakan hakama berwarna putih! Pantas saja ketiga tamu mereka datang menggunakan hakama hitam. Pakaian itu kan terlalu formal jika untuk kunjungan biasa!
"Okita kun apa maksud semua ini?" Tanya Gintoki. Kini sorot matanya memandang Sougo dengan tatapan serius. Pengaruh dari rayuan parfait ataupun susu strawberry sudah seuutuhnya menghilang dari pikiran pria itu.
"Tepat seperti yang danna pikirkan." Balas Sougo. Ia memandang Gintoki datar.
Kondo yang merasa suasana di ruang itu menjadi tegang langsung beranjak dari tempat duduknya dan merangkulkan lengannya pada pundak Gintoki. "Ayolah.. kali ini kami ingin melakukannya dengan cara yang benar. Kalian tidak perlu memikirkan biayanya. Malam ini kami sudah memesan restoran yang enak untuk acara itu." Bujuk Gori-Kondo.
Gintoki menghela napasnya. Ia terpaksa menyetujui permintaan dari Kondo. Lagipula mereka tidak bisa menolaknya karena cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi pada Kagura dan Sougo.
"Patsuan, hubungi kakakmu. Minta ia kemari, sekarang." Perintah pria tersebut yang langsung dihadiahi anggukan dari Shinpachi
oooooooooooooooo
Mulut Kagura tidak bisa berhenti merapalkan kata-kata kasar. Kebiasaan ini memanglah tidak bagus bagi gadis (ralat: idol) seperti dia, tapi apalah daya Okita Sougo selalu saja berhasil membuat Kagura kembali mengucapkan kata-kata kasar untuk suami tercintanya tersebut.
Kini gadis itu tengah berjongkok di depan mesin cuci. Tangannya bergerak memasukkan tumpukan baju dalam keranjang pakaian secara satu per satu. Tak lupa ia mengecek seluruh kantung yang ada pada pakaian tersebut. Lumayan kan jika di pakaian itu ada uangnya. Kagura bisa membeli lebih banyak sukonbu.
"Cih si sialan itu menipuku. Tidak ada uang sama sekali di saku pakaiannya." Keluh gadis itu. Ia menggenggam erat potongan baju terakhir milik Okita Sougo.
Sesaat setelah memaksa masuk ke Yorozuya, Sougo langsung masuk ke kamar Kagura. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, pemuda itu melemparkan tumpukan baju di dalam koper besarnya kepada Kagura. Dengan alasan mesin cuci di Shinsengumi rusak, sehingga pemuda itu tidak bisa mencuci bajunya, Sougo menyuruh Kagura untuk mencuci baju-baju tersebut. Awalnya Kagura tidak mau/sebenarnya dia tidak sudi/tapi ketika Sougo membujuk gadis itu dengan mengatakan bahwa ia boleh mengambil berapapun uang yang tertinggal dalam saku pakaiannya, gadis itu terpaksa menyetujui permintaan tersebut.
"Semua kemeja miliknya berwarna putih aru ne." Gumam Kagura. Ia masih memegang potongan kemeja terakhir milik Sougo. Entah kenapa matanya tak bisa beralih dari kemeja tersebut. Tanpa Kagura sadari ia mulai mendekatkan wajahnya dengan kemeja tersebut. "Pasti bau Sadist sekarang busuk seperti Gin chan aru." Lirihnya. Hidung gadis itu mulai membaui kemeja yang ia bawa. Mencium aroma dari kemeja milik Sougo. Kemeja putih itu tidak berbau busuk seperti yang Kagura duga. Justru baunya terasa memabukkan, membuat Kagura tidak bisa berhenti muncium bau dari kemeja tersebut.
"Baunya sudah berbeda dengan 14 tahun lalu." Gumamnya lagi. Astaga Kagura, bagaimana mungkin kau masih ingat bau Sougo 14 tahun lalu?
"Kagura chan?"
Mendengar namanya dipanggil, Kagura reflek melepaskan kemeja milik Sougo. Dengan gerakan cepat ia langsung memasukkan kemeja tadi ke mesin cuci. Gadis itu menoleh, maniknya menemui orang yang seharusnya tidak berada di Yorozuya hari ini. "Anego? Ada apa? Kenapa kau kemari malam-malam?"
Shimura Tae--perempuan yang dipanggil anego oleh Kagura tadi tersenyum. "Gin san memanggilku." Ucapnya.
"Gin chan?" Kagura memiringkan kepalanya tanda tak mengerti.
"Katanya malam ini kita akan makan malam di restoran mahal. Karena itu dia mengundangku kemari."
Mendengar penjelasan dari Tae, mata Kagura seketika berbinar. "Kita akan makan-makan aru ka?" Tanya gadis itu antusias.
"Iya, tapi. Sebelumnya aku harus meriasmu dulu Kagura chan."
"Kenapa aku harus berias aru?" Masih dengan senyumannya, Tae langsung membawa Kagura ke kamar gadis itu tanpa memedulikan Kagura yang masih kebingungan.
ooooooooooooooooooooooo
Pagi ini cuaca di Tokyo sangatlah cerah. Orang-orang mulai menjalankan rutinitas mereka dengan semangat. Salah satu dari orang-orang tersebut adalah perempuan berambut ungu yang kini tengah asik bernyanyi, melatih suaranya agar selalu siap menghibur para fansnya. Berbeda dengannya, rekan gadis tersebut terlihat lesuh hari ini. Gadis itu berkali-kali terlihat menguap lebar.
"Kagura chan, apakah kau begadang tadi malam, kecoa rumahan?" Otsu-- gadis bersurai ungu tadi mendatangi rekannya.
"Ya.. semacam itulah." Jawab Kagura seadanya.
"Apa yang kau lakukan sampai begadang begitu, kotoran raksasa?" Tanya Otsu kembali.
"Eh? Um.. tidak.. aku kemarin hanya begadang karena berkeliling kota untuk mencari toko sukonbu yang masih buka tengah malam" Balas Kagura beralasan. Kagura tidak bisa jujur. Ia tidak mungkin jujur kepada Otsu, mengatakan bahwa semalam ia harus berhadapan dengan keluarga suaminya. Gadis itu sendiri bahkan tidak menyangka ia akan kembali dilamar setelah 14 tahun usia pernikahannya.
"Uwahhh.. Kagura chan sekarang kau memakai cincin, monyet hutan?" Tiba-tiba mata Otsu menangkap sebuah benda yang melingkar di jari manis milik Kagura. Sebuah cincin putih dengan berlian berwarna biru kecil di atasnya. Itu adalah cincin kawin yang Sougo berikan pada acara lamaran kemarin malam. "Cincin ini bagus sekali.. di mana kau membelinya, rem motor?"
Kagura terdiam. Tubuhnya sudah banjir keringat dingin. Lidahnya terasa kelu, tapi ia harus mengatakan sesuatu jika tidak mau Otsu menaruh curiga kepadanya. "Oh.. i-ini? Cincin ini aku beli seharga 1000 dapat 3 di pasar aru!" Ujar Kagura cepat. Ia tidak peduli lagi jika ucapannya terdengar tidak masuk akal. Toh, sekarang Otsu justru membulatkan mulutnya, seakan omongan Kagura barusan masih dapat diterima oleh akal sehatnya.
"Lihatlah Okita san, Kagura chan membeli cincin ini di pasar seharga 1000 dapat 3!" Otsu berseru ketika melihat Sougo berjalan melewati mereka. "Sulit dipercaya bukan, cicin sebagus ini ternyata sangat murah."
"Oh.. ternyata cincin seperti itu murah sekali ya. Bodohnya aku karna membeli cincin seperti itu seharga ribuan yen dulu." Balas Sougo dengan intonasi dingin.
"Eh?? Okita san pernah membeli cincin seperti ini juga? Untuk siapa, ayunan reok?"
Entah kenapa Kagura merasa tidak berani menatap Sougo saat ini. Ia merasa keringatnya bercucuran semakin deras.
"Untuk kakakku."
Manik Kagura memandang pemuda yang tengah berdiri di depannya. 'Sadist membelikan cincin ini untuk Mitsuba nee?'
"Tapi lihatlah, bukankah cincin ini sangat manis dipakai Kagura chan, lampu bohlam?" Ujar Otsu. Ia mengangkat tangan Kagura, menunjukkan jemari sang Gadis yang dihias indah oleh cincin emas putih tersebut.
Sougo terdiam memandang cincin tersebut, tak lama ia pun mengeluarkan seringai sadisnya "Monster seperti gadis China itu tidak akan terlihat manis dengan apapun yang ia kenakan."
Kagura yang sebal tidak dapat menyembunyikan emosinya "Apa katamu? Katakan sekali lagi teme!" Tantang gadis itu. Ia mengambil ancang-ancang ingin memukul Sougo, tetapi berhasil dihentikan lebih dahulu oleh Otsu.
Melihat keagresifan gadis itu, Sougo pun tersenyum. Kali ini bukanlah senyum sadis. Tetapi senyum ikhlas yang sangat jarang ia perlihatkan. "Apapun yang gadis itu kenakan tidak akan terlihat manis, tetapi akan bagus jika cincin itu terus menempel pada jari manismu, China." Ujar Sougo sebelum meninggalkan kedua gadis tersebut.
Otsu menutup mulutnya ketika mendengar ucapan Sougo barusan. "Aku merasa Okita san sedang berbicara dengan istrinya sendiri. Ah tapi dia kan belum punya istri, iya kan Kagura chan, kacamata payah?"
Kagura tidak menjawab. Ia sibuk menutupi wajahnya dengan rambut panjang miliknya. Ini gawat, ia merasakan wajahnya memanas. Jantungnya pun berdegup kencang. Perasaan yang sama ketika Sougo mencium keningnya beberapa hari lalu. Tunggu dulu, apa yang Kagura pikirkan! Gadis itu segera menggeleng cepat, mengusir pikiran-pikiran bodoh itu dari otaknya. 'Ini gawat aru, kenapa jantungku terus berdebar seperti ini? Apakah ini efek karena terlalu sering makan sukonbu aru ka?'
/dipikir kaya efek kebanyakan minum kopi aja Gur, bikin deg2an :((
oooooooooooooo
Hari ini sudah berkali-kali Gintoki menghela napasnya. Kini ia bersama Shinpachi dan Yamazaki tengah berdiri di lorong agensi mereka. Tangan pria tersebut tengah memegang poster suatu anime.
"Jadi ini anime yang mengundang HDZ48 pada konsernya kah, Gin san?" Tanya megane.
"Iya." Gintoki menatap malas poster tersebut. "Aku benar-benar tidak semangat." Kata pria tersebut.
Shinpachi menautkan alisnya tidak paham. "Apakah ada sesuatu Gin san?"
"Tentu saja Patsuan. Kenapa kita harus mengisi konser anime tidak jelas semacam ini? Kenapa kita tidak mengisi konser anime yang lebih terkenal semacam On* piece atau N*ruto saja?"
"Mau bagaimana lagi, HDZ48 baru saja mengisi untuk opening anime itu. Karna itu kita diundang dalam konsernya. Lagipula anime ini cukup terkenal kok, Gin san."
"Tetap saja, Shinpachi. Lihatlah tokoh utama anime ini. Ia terlihat pemalas dengan mata ikan dan rambut keriting acak-acakannya. Dan ada apa dengan baju yang ia kenakan? Memakai lengan kimono hanya sebagian tidak akan membuatmu terlihat keren, bakayarou!"
"Hm.. kau benar, Gin san. Tokoh utama seperti dia kurang bagus. Kalau aku mungkin lebih suka kalau pemuda surai hitam berkacamata itu yang menjadi tokoh utamanya."
"Tidak. Karakter megane ini terlihat cupu sepertimu Shinpachi. Memang lebih baik karakter pemalas tadi yang jadi tokoh utama."
"Oi apa maksudmu Gin san?!" Protes Shinpachi.
"Kalau aku mungkin lebih suka inspektur kepolisian itu yang menjadi tokoh utama." Yamazaki menatap satu per satu karakter dalam poster tersebut. "Are? Dia tidak ada di poster."
"Pasti dia diciptakan sebagai karakter yang tidak dinotis." Ujar Gintoki, ia mulai menggulung poster tadi. "Daripada itu apa yang kau lakukan di sini, Kondo san?" Tanya pria itu sembari menatap sinis Yamazaki.
"Kyokuchou meminta kami untuk mengawasi kalian lebih lama. Tunggu apakah tadi kau memanggilku kondo san, Danna? Namaku bukan kondo, aku Yamazaki Sagaru."
"Are? Bukannya Yamazaki si pria rambut v alay itu?" Tanya Gintoki kembali.
"Itu Hijikata san, dia wakil komandan kami!"
"Jadi Hijikata san bukan nama Gorilla kemarin?"
"Gorilla itu namanya Kondo san!" Seru Yamazaki yang mulai emosi. "Ah gawat aku memanggil kyokuchou dengan nama gorilla!!"
Shinpachi memandang sengit ke arah bosnya yang sekarang tengah tersenyum puas melihat wajah frustasi dari Yamazaki.
"Oiya, omong-omong bagaimana Yamazaki san bisa tahu mengenai pernikahan Kagura chan dan Sougo san?" Tanya Shinpachi. Pemuda kacamata itu mulai berkepo ria.
"Yah.. sebenarnya aku baru tahu beberapa hari lalu. Saat aku pertama kali di beri misi ini. Kyokucho dan Fukuchou menceritakannya padaku." Jelas Yamazaki.
"Eh? Mereka tidak meminta persetujuan Sougo san untuk memberitahumu?"
"Kyokuchou dan Fukuchou sudah seperti keluarga bagi Okita taichou. Jadi aku yakin mereka berdua pasti memiliki pertimbangan sendiri untuk menceritakan rahasia itu kepadaku." Yamazaki tersenyum seraya menggaruk pipinya yang tak gatal. "Awalnya aku tidak percaya jika Okita taichou sudah menikah dengan China san, tapi jika mengingat tingkah lakunya dulu, semuanya jadi masuk akal."
"Apa maksudmu 'semuanya jadi masuk akal'?" Tanya Gintoki.
"Sebenarnya aku adalah fans dari Terakado san. Bukan fans berat sih, tapi aku kadang menonton konsernya."
"Bukan fans berat? Cuih. Dasar tidak setia." Yamazaki menatap heran wajah kurang ajar Shinpachi. Tanpa mengacuhkannya, ia melanjutkan ceritanya. "Jadi suatu hari, Okita taichou tiba-tiba memaksa ikut menonton konser bersamaku. Awalnya aku agak terkejut."
Gintoki menautkan alisnya. "Bukankah itu bagus? Kau jadi memiliki teman untuk mengidolakan Otsu bukan?"
"Bukan begitu danna. Waktu itu memang Okita taichou beralasan bahwa ia ingin membolos kerja. Tapi dia bukan tipe orang yang mau menghabiskan waktu dengan menonton konser ataupun melihat idol." Yamazaki berujar kembali. "Konser yang kami datangi bersama saat itu adalah konser perdana HDZ48. Konser di mana China san pertama kali muncul."
ooooooooooooooooooooo
"Nee Gin san.."
"Apa?"
"Tidak kusangka Sougo san adalah tipe yang mau menonton konser idol."
"Maa.. dia memang bukan tipe lelaki cherry boy otaku bermegane yang suka menonton konser idol sih. Ah, bisakah kau ambilkan double tape itu Shinpachi?" Gintoki menunjuk double tape di atas meja dekat pemuda itu.
"Bahasamu jelas-jelas menyindirku Gin san. Tolonglah, aku sedang serius saat ini." Shinpachi lalu menyerahkan double tape tadi kepada bosnya. Mereka sekarang sedang memasang poster anime Gintama. Anime yang mengundang HDZ48 untuk meramaikan konsernya.
"Seperti dugaanku, apakah Sougo san etto... menyukai Kagura chan?" Pemuda itu menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Jika memang benar, mereka sepasang suami-istri sih.. jadi ya.."
"Entahlah. Konser pertama Kagura, berarti setahun yang lalu bukan?"
"Iya." Shinpachi mengangguk pelan.
"Meski tahu di mana istrinya berada, Okita kun memilih tidak menemuinya selama setahun. Tidak.., aku yakin ia sudah lama mengetahui keberadaan Kagura."
"Gin san?" Tubuh Shinpachi mematung ketika Gintoki mulai berjalan meninggalkannya.
"Dengan semua hal yang ia lakukan itu, aku tidak yakin apakah itu yang dinamakan 'cinta'"
Tubuh Shinpachi mematung. Maniknya menatap ekspresi yang tidak biasa dari Sakata Gintoki. Ekspresi yang sulit diartikan. Semacam kemarahan ataupun kekecewaan, Shinpachi tak tahu pasti.
"--Paling tidak itu yang aku pikirkan. Shinpachi.." Pemuda itu menoleh dan mendapati Bosnya sedang menatapnya dengan tatapan yang serius. "Kau... apakah kau tahu toilet di sekitar sini? Perutmu terasa mules sedari tadi."
"JADI DARITADI ITU CUMA EKSPRESI NAHAN BAB SAJA KAH, GIN SAN?!"
-bersambung-
Hmm.. scene lamarannya di skip ya wkwk perlukah aku bikin jd chapter bonus suatu hari nanti?
Btw maaf saya ga jadi apdet cepet gara2 nulis ulang cerita buat chapter ini heuheu. Sebenernya kmrn ceritanya dh jadi dan tinggal aplot, cm Author memutuskan untuk ganti cerita, jd yha nulis ulang. :((
Oiya.. sebenernya nih ya.. Kan author udah nyempetin nulis ff ini dari awal liburan (karna waktu itu author kena artblock, makanya nulis). Nah.. tugas gambar saya skrg jd terbengkalai wkwk. Karena itu, saya pengen istirahat bentar buat ngurus gambaran2 itu.
Kenapa ga nulis sambil gambar aja thor? Ga bisa :(( Author tipe yang suka gambar aslinya. Jadi klo dah gambar, ntar jd gabisa fokus nulis :'v
Kalau tiba2 aku ga mood gambar bakal aku sempetin lanjut ff ini kok (semoga).
Intinya.. ff ini bakal apdet agak lama heuheu. Ga selisih beberapa hari lagi buat apdet :') Tapi bukan hiatus jg si.
Chapter depan kemungkinan lebih fokus ke cerita Kagura sebagai idol kok! ditunggu ya :3
Fav and Review? :3
