Suara dentingan piring yang sedang dicuci menjadi satu-satunya sumber suara di rumah besar bergaya tradisional tersebut. Sambil mengelap tangannya yang basah, sang pemilik rumah, Shimura Tae, mulai memindahkan piring-piring yang baru saja ia cuci ke dalam rak. Seketika kegiatannya terhenti ketika mendengar suara bel dari luar rumah. Gadis itu melirik jam dinding di dekatnya yang menunjukkan pukul 9 malam.

Dengan gerakan secepat kilat, Otae mengambil sapu lalu berlari menuju ke pintu utama. Tanpa ragu, gadis itu langsung membuka pintu sembari mengambil ancang-ancang untuk memukul tamu tersebut, ia berteriak, "Mati kau Gorilla!!"

"Tunggu sebentar, Aneue?!"

ooooooooooooooooooooooo

Di malam hari yang dingin itu, Otae tengah menyeduh tehnya yang hangat. Ia duduk santai di meja pendek ruang tengah. Di seberang mejanya terdapat 2 pemuda yang babak belur. Gadis itu lalu tersenyum. "Maaf ya Shin chan, aku tidak tahu malam ini kau akan datang."

"Ti-tidak apa Aneue." Balas Shinpachi. Adik semata wayang Otae tersebut hanya dapat menahan sakitnya sambil berusaha tersenyum.

"Tunggu sebentar.." sela Gintoki, "tidak apa bagaimana?! Kita babak belur begini karena kakakmu!"

Otae memanyunkan bibirnya saat mendengar ucapan ketus Gintoki. "Jangan bicara begitu Gin san, sebagai seorang gadis yang menghuni rumah seluas ini sendirian, tentu saja aku harus selalu waspada kepada penyusup." Bela Otae.

"Tetapi senjatamu terlalu ekstrim untuk sekedar penyusup! Apa-apaan dengan gagang sapu yang ujungnya mirip bambu runcing barusan?! Kita bisa mati jika terkena itu kau tahu?! Adikmu bisa mati!"

Mendengar protesan bertubi-tubi dari Gintoki membuat Otae menghela napasnya lelah. Ia kemudian melemparkan bambu runcing *coret* sapu yang masih ia pegang ke arah sudut ruangan.

Gintoki dan Shinpachi termenung melihat tumpukan sapu yang berlumuran darah di sudut ruangan tersebut.

"Shi-shinpachi, apakah dulu pernah ada kasus pembunuhan di rumah ini?" Bisik Gintoki.

"Tolong jangan tanya padaku, Gin san. Aku tidak tahu apapun." Balas Shinpachi ikut berbisik. Kedua lelaki itu mulai berkeringat dingin.

"Tumben sekali Shin chan berkunjung ke mari bersama Gin san. Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Otae, berusaha memecah suasana.

Dengan gusar, Gintoki menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Sebenarnya kami mau mengungsi di sini sebentar."

"Eh?"

"Di Yorozuya, Kagura chan sedang bertengkar hebat dengan Sougo san." Jelas kacamata Shinpachi. Otae dapat melihat sorot mata khawatir di wajah adik kesayangannya.

"Shin cha-"

Tiba-tiba ucapan Otae terpotong karena munculnya sosok yang entah sejak kapan duduk di sampingnya.

"Sougo bertengkar dengan China Musume? Itu tidak baik Yorozuya, seharusnya kalian melerai mereka. Bukannya berlindung di rumah kami. Benarkan, Otae san?" Ucap sosok itu santai, sambil meminum teh yang ia dapat entah dari mana.

"Oi! Itu teh milikku, author san!" Protes Shinpachi entah kepada siapa.

Gintoki hanya dapat menatap sosok itu dengan aneh. "Nee Otae, apakah sekarang kau memelihara jin atau semacamnya?" Tanya pria itu.

"Ck ck aku bukan jin." Sanggah sosok tadi. Ia mengayunkan jari telunjuknya ke kanan-kiri. "Aku suami tercintanya Otae san!"

"MATI KAU GORILLA!" teriak Otae sembari memukul sosok tadi menggunakan sapu.

"Tunggu sebentar Aneue!" Shinpachi berusaha melerai kakaknya. Pemuda itu baru saja menyadari wajah sosok tadi yang tidak asing. "Dia Kondo san bukan? Apa yang mau kau lakukan dengan membunuh komandan dari kepolisian elit seperti Shinsengumi?! Bisa-bisa besok pagi kepala kita yang akan melayang!"

"Ara Shin chan, coba perhatikan baik-baik, dia cuma gorilla lepas yang mirip dengan Kondo san." Balas Otae dengan senyumannya. Ia masih sibuk mencekik sosok tadi.

"Oh, gorilla liar toh.. aku kira jin." Ucap Gintoki santai. Ia melanjutkan kegiatan minum tehnya.

"Jelas-jelas itu Kondo san bukan, iya kan Gin san?!"

"Daripada itu, aku lebih tertarik mendengar cerita mengenai Kagura chan dan Okita san." Otae kini sedang mengikat tubuh malang sosok tadi. "Nee Shin chan, bagaimana Kagura chan dan Okita san bisa bertengkar?"

Sepakat untuk mengabaikan nasib mengenaskan sosok gorilla liar itu, Shinpachi mulai bercerita, "Sebenarnya dari awal Kagura chan dan Sougo san memang sering bertengkar. Tapi hari ini sangat berbeda, dan ini semua bermula sejak pagi tadi..."

Private IDOL

Gintama dan semua chara di sini milik

Sorachi-sensei, saya hanya pinjam

cerita asli milik saya

main chara: Okita Sougo Kagura

Rate: T

Romance/comedy

Warning (!): OOC, gajelas, bahasa acak-acakan, drama

.

.

.

.

Sudah dua jam Sougo melakukan patroli di luar Budokan, sebuah bangunan multifungsi yang sering digunakan untuk melaksanakan konser di Jepang. Kenapa ia berpatroli di gedung seperti itu? Tentu saja karena hari ini HDZ48 ikut meramaikan konser anime Gintama di Budokan.

Misinya mengawasi HDZ48 masih belum selesai. Karna itulah ia berada di sini. Kaki pemuda itu berjalan menyusuri halaman gedung Budokan dengan langkah malas. Wajah tampannya sudah berkali-kali terlihat tengah menguap lebar. Biasanya kegiatan patroli, Sougo gunakan sebagai kesempatan untuk tidur siang. Tetapi semenjak muncul gosip mengenai hubungan dirinya dan Kagura 2 minggu lalu, membuat rutinitasnya terganggu. Pemuda itu tidak bisa tidur karna risih akan tatapan yang selalu orang-orang tujukan kepadanya. "Sialan.." gumam pemuda itu.

Saat ini tujuan Okita Sougo hanyalah 1, yaitu mencari mesin penjual minuman. Ia ingin membeli kopi untuk membantu matanya terus terjaga. Beruntung, sudut matanya langsung menangkap hal yang sedang ia cari. Terdapat mesin penjual minuman tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia kemudian berlari mendekati mesin tersebut.

Manik berwarna merah darah itu sibuk mengamati kaleng-kaleng kopi yang berada di balik kaca mesin penjual minuman. Setelah menemukan merk kopi yang ia inginkan, Sougo hendak memasukkan koin, hingga ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pemuda itu berdecih setelah mengetahui siapa gerangan yang meneleponnya.

"Halo, bisakah kau mati secepatnya Hijikata san?" Ucap Sougo setelah menerima telepon tadi.

'Oi, bukan begitu cara bicara setelah menerima telepon dari atasanmu, kuso gaki.' Balas Hijikata Toshiro dari sebrang telepon. Pria itu berusaha menahan emosinya. '

Aku hanya ingin mengingatkanmu untuk melakukan tugas dengan benar. Nanti aku akan mengecek apa yang kau lakukan di sana mengerti?'

"Astaga Okaa san kau terlalu khawatir. Aku di sini baik-baik saja. Lebih baik kau manfaatkan waktumu untuk mati dengan tenang Hijikata konoyaro." Cibir Sougo.

'Siapa yang kau panggil Okaa san?! Teme.. jika kerjaanmu tidak benar kau harus sep-'

Malas mendengarkan ocehan Hijikata, Sougo langsung mematikan teleponnya. Mendengar ceramah dari Hijikata hanya akan membuat mood Sougo bertambah buruk.

Tanpa Sougo sadari terdapat 2 sosok yang sedari tadi memperhatikan Sougo dari kejauhan.

"Oh.. jadi dia yang bernama Okita Sougo."

"Iya. Aku yakin dia polisi itu."

ooooooooooooooooooooo

"Stop! Sudah kubilang berapa kali Kagura chan? Berhenti mengucapkan logat 'aru' milikmu itu kedalam setiap lirik lagu!" Shinpachi melotot sebal ke arah Kagura. Sudah berjam-jam mereka latihan bernyanyi tetapi Kagura masih saja melakukan kesalahan yang sama.

"Tidak ada gunanya meributkan hal itu sekarang Patsuan, biarkan Kagura melakukan lipsing seperti biasanya saja." Kata Gintoki berusaha menengahi.

"Eh-- tidak. Aku ingin Kagura chan tidak melakukan lipsing khusus konser kali ini. Bagaimanapun juga ini debut kami mengisi konser sebuah anime, megane cherry boy!" Pinta Otsu.

"Kalau begitu bagaimana kalau Otsu juga menyanyi menggunakan aksen 'aru'? Dengan begitu para fans akan mengira bahwa 'aru' adalah bagian dari lirik lagu." Usul Gintoki.

"Usulan macam apa itu Gin san?!"

"Wahh ide yang bagus, otaku menjijikkan! Sekarang masalah sudah terpecahkan, cowok kacamata cupu! Arigatou Sakata P!"

"Itu bukan Solusi yang bagus Otsu chan. Tidak seharusnya idol papan atas sepertimu harus mengikuti keegoisan idol gadungan seperti Kagura chan!"

"Lupakan tentang usulan tadi, kurasa barusan kau dihina olehnya, Shinpachi."

"Tolong jangan diperjelas, Gin san."

Shinpachi mengalihkan pandangannya, berusaha terlihat cuek. Padahal ia ingin menyembunyikan matanya yang memerah karna menahan tangis. 'Tenang saja Shinpachi, Otsu chan hanya terlalu polos. Ia tidak berniat menghinamu.' Batin Shinpachi berusaha meyakinkan dirinya.

"Kalian terlalu berisik aru. Aku sudah menjadi idol selama 1 tahun. Jangan panggil aku idol gadungan. Panggil aku ratu Kabukichou mulai dari sekarang." Perintah Kagura dengan tatapan dingin.

"Jangan mengaku menjadi idol selama 1 tahun jika menyanyi saja belum betul, Kagura chan. Pokoknya aku tetap tidak setuju dengan penambahan aksen 'aru' sebagai lirik lagu."

"Hmm.. memang itu bisa membuat fans kebingungan. Baiklah aku akan memakai lirik yang asli." Otsu menatap langit-langit, sambil membayangkan reaksi para fansnya. "Kagura chan mohon bantuannya ya. Satu jam lagi kita akan tampil, sekarang berlatihlah dahulu. Aku harus mengurusi beberapa hal." Kata gadis itu lagi sebelum keluar dari ruangan yang khusus disediakan untuk grup HDZ48.

"Huft. Aksen ini mulai menyebalkan aru ne."

oooooooooooooooooooooo

"Permisi, anda pasti Okita Sougo san?"

Sougo menatap datar dua perempuan yang berada di hadapannya. Kedua perempuan tadi menatapnya dengan semangat. Meski salah satu dari mereka terlihat agak ragu saat mendekatinya. "Iya," Sougo menanggapi dengan malas, "Maaf nona, toilet di sekitar sini sedang mampet semua. Untuk mencapai toilet terdekat kalian harus berjalan 5 km dari atmosfer terluar bumi." Ucap Sougo menanggapi sekenanya. Tidak peduli jika perkataannya tidak nyambung sama sekali dengan hal yang hendak kedua perempuan di depannya tanyakan.

"Ah Sougo-sama bisa saja! Kami tidak sedang mencari toilet kok hehe" Balas salah satu gadis. "Maaf kami lupa mengenalkan diri, nama saya Urara." Ucap Gadis bersurai pink. Ia kemudian menunjuk rekannya yang bersurai coklat "Dan dia adalah kakak saya."

"Kirara desu." Perempuan berambut coklat lantas membungkuk dengan sopan.

"Kami adalah jurnalis." Sambung Urara dengan senyum lima jari miliknya.

Ekspresi Sougo tidaklah berubah. Ia tidak terlalu kaget. Style dari kedua perempuan itu memang cukup memberikan kesan sebagai seorang jurnalis. Lihat saja kamera, catatan dan pena, serta perekam suara yang mereka bawa ke mana-mana. Meski awalnya Sougo sempat berpikir mereka stalker yang ingin mendekati HDZ48, sih. Ya, dari awal Sougo sudah menyadari kehadiran mereka. Sedari awal Sougo berpatroli, mereka memang selalu mengikutinya. "Aku tidak ada urusan dengan seorang jurnalis." Kata Sougo sambil berlalu.

Sougo tersentak saat tangannya ditarik dengan kasar oleh Urara. Kirara yang memperhatikan adiknya pun mulai memasang wajah khawatir. 'Ah, dia akan mulai lagi.' Pikir gadis itu dalam benaknya.

"Jangan dingin begitu, Sougo-sama. Kita sudah meluangkan waktu untuk menemuimu" Ujar Kirara dengan manja, sambil memeluk lengan Sougo. "Paling tidak biarkan kami mewawancarai mu sebentar, oke, Sougo-sama?" Pinta gadis bersurai pink tadi dengan wajah imut bagai idol gadungan kw super miliknya. Yah.. meski kw super, wajah seperti itu sudah mampu membuat otaku cherry boy bermegane melayang karena mimisan. Sayang sekali wajah seperti itu tidak berpengaruh pada Sougo.

"Cih, aku sudah terlibat dengan perempuan yang merepotkan." Gumam Sougo lirih. Sungguh dia sangat risih dengan perempuan yang tengah memeluk lengannya sok akrab ini. Ia kemudian melepas pegangan Urara dengan kasar. "Maaf aku tidak punya waktu untuk cewek barbar seperti kalian. Lagipula apakah begini cara kalian selama ini bekerja? Sangat tidak professional."

Melihat mata dingin Sougo cukup membuat kakak beradik tadi merinding seketika. Urara menggiggit bibirnya. Tangannya mengepal erat, merasa jengkel karena pesonanya tidak mempan pada polisi yang sialnya sangat tampan, tapi ucapannya bajingan itu. Ia sibuk memutar otak untuk merayu Sougo agar mau diwawancara.

"A-ano!" Urara dan Sougo sontak menoleh ke arah suara yang nampak ragu, tapi ingin menyampaikan sesuatu. "Biarkan kami mewawancaraimu, Okita san! Kumohon." Pinta Kirara dengan suara yang bergetar.

"Oh? Sepertinya sang kakak masih memiliki sopan santun." Sougo tersenyum miring. "Tapi sayangnya aku tidak mau. Jaa~" Pemuda itu kembali melangkah menjauh sambil melambaikan tangannya. Tetapi belum ia benar-benar pergi, ia kembali dihentikan oleh kedua jurnalis tadi.

"Okita san, setelah kakakku memohon seperti tadi kau tetap saja menolak? Ayolah apakah kau benar-benar pelayan masyarakat?" Urara menarik lengan baju Sougo. Jika merayu pemuda itu adalah hal mustahil, ia hanya harus melakukan pemaksaan! Yang jelas ia tidak boleh melewatkan uang bonus yang akan diberikan oleh bosnya jika berhasil mendapat berita dari Okita Sougo.

"Kumohon Okita san, pertanyaan kami cuma sedikit!" Pinta Kirara. "Kau dengar dia kan, Okita san?!" Ujar Urara yang masih sibuk menarik lengan Sougo. Sayangnya Sougo masih tidak memberi reaksi.

Sial.. mungkin saatnya Urara mengeluarkan senjata pamungkasnya. "Kumohon biarkan kami mewawancaraimu, lalu aku akan memberimu boneka figure Kagura HDZ48!!" Serunya.

Sougo terdiam melihat boneka figure Kagura yang sedang dipegang oleh Urara. Untung saja gadis itu kepikiran untuk membawa boneka figure milik teman kantornya. Lihat saja, usahanya tidak sia-sia bukan? Okita Sougo saja sampai kehabisan kata-kata.

Senyum Urara merekah ketika Sougo menerima boneka figure tersebut. Mata sang pemuda asik mengamati boneka figure Kagura yang berada di tangannya. Boneka itu terlihat cantik dengan rambut vermillion panjang yang diikat dua. Benar-benar persis dengan penampilan Kagura saat dipanggung. Boneka itupun terlihat seksi dengan rok mini dan baju yang menampilkan seluruh lekuk tubuhnya. Sayang di detik selanjutnya..

PRAAKKK

Boneka figure Kagura tersebut hancur karna lemparan kuat Sougo ke lantai.

Hampir saja Sougo tergoda tawaran tadi. Jika ia miskin seperti Gintoki, mungkin ia akan langsung menerima boneka figure itu dengan senyuman bodoh. Tetapi orang kaya seperti Sougo bisa membeli boneka figure kapanpun kalau ia mau. Eits.. jangan salah paham, seumur hidup Sougo tidak akan membeli boneka figure Kagura, okay?

'Persetan dengan boneka figure. Aku sudah memiliki China yang asli di genggamanku.' Batin Pemuda itu dengan penuh rasa percaya diri. 'Lagipula siapa orang yang membuat action figure China baju seperti itu? Kuso. Lihat saja. Akan aku bakar pabriknya.' Lamunan Sougo terhenti saat melihat wajah shock dari dua jurnalis tadi.

"Apa yang kau lakukan, Okita san?! Itu kan barang milik Takeshi yang aku pinjam! Bonus kami bisa hilang semua hanya untuk ganti rugi boneka figure tadi, kau tahu?!" Urara berteriak kesal.

Kalau memang ga punya duit, kenapa mereka justru memberi Sougo boneka figure tadi? Sougo tak habis pikir seberapa bodoh otak gadis manis kw super tersebut. Tapi biarlah. Ia tidak menyesal merusak boneka figure sialan itu.

Di lain pihak Urara sudah kehabisan ide. Ia mulai menggigit kuku ibu jarinya. Kepalanya mulai berpikir keras. Ternyata kabar burung yang ia dengar tidaklah salah. Meski wajahnya tampan seperti Yoshizawa Ryo *coret* bak seorang Idol, Okita Sougo merupakan Polisi paling sadis di jagat raya, juga bermulut pedas dan super bajingan untuk seorang pelayan masyarakat. Perempuan bersurai pink itu tidak habis pikir, bagaimana jika Sougo menjadi seorang idol lalu ada yang membuat boneka figure nya? Sialan.. Meski tidak sudi, tapi Urara tidak dapat mengelak kalau ia sangat ingin membeli boneka figure pemuda tampan itu. Pasti boneka figure Okita Sougo akan sangat pas untuk dipajang di meja kantornya. Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat. Hampir saja ia terperangkap pada pesona Sougo.

"Ka-kau tidak bisa menolak kami, Okita san!" Ucapan dari Kirara menyadarkan lamunan adiknya. Dengan cepat Kirara membuka kameranya. Melihat itu, senyuman mulai tersungging di wajah cantik Urara. 'Benar juga, masih ada satu senjata pamungkas lagi!'

"Lihat ini Okita san." Ucap Kirara sambil menyodorkan sebuah foto di kameranya tepat di depan wajah Sougo. Pemuda itu kini benar-benar speechless. Matanya membelalak tidak percaya. "Ini.."

"Ya. Kami sudah mendapatkan berita bombastis. Bagaimana kalau foto ini tersebar ya?" Urara mulai tersenyum licik. "Kagura HDZ48 tinggal bersama dengan seorang polisi, Okita Sougo."

"Tolong jangan remehkan kami! Asal anda tahu saja, yang selama ini mendapatkan berita mengenai hubungan Kagura san dengan Katsura, bahkan sampai saat Kagura san pertama kali mengenalmu, semua berita itu didapat karena foto yang kami ambil!" Tambah Kirara.

Saat pertama kali Kagura mengenal Sougo? Ayolah.. Kagura dan Sougo adalah teman masa kecil. Kakak-beradik itu memang belum mengenal Kagura dan Sougo rupanya.

Melihat Okita Sougo yang masih terdiam mengamati foto-foto itu membuat Urara terkekeh pelan. Ia merasa di atas angin sekarang. "Jangan berpikir kau dapat menghapus foto itu, Okita san. Kami sudah menggandakan semua foto itu. Tinggal kau mau bekerja sama dengan kami atau tidak.

"Kalian stalker tingkat dewa, ya." Ucapan pertama dari Sougo membuat kedua jurnalis tadi terheran. Pasalnya nada yang diucapkan pemuda itu terdengar sangat cuek dan santai. Sungguh aneh, padahal rahasia utama miliknya diancam untuk disebarkan ke publik. "Kemampuan stalker kalian mungkin setingkat Kondo san. Pantas saja kalian mirip dengan gorilla.

"Apa kata--?!"

"Menarik juga. Jadi kalian sekarang sedang mengancamku?" Sougo mulai terkekeh. Entah kenapa aura Sougo saat ini terasa berubah drastis. Kedua jurnalis tadi merinding seketika saat seringai sadist milik Sougo terpatri di wajahnya. "Karna kalian sudah bersusah payah, aku akan memenuhi permintaan kalian. Mari kita bermain sebentar."

Sougo sadist mode.. ON!

"Ta-taichou jangan bilang ia akan--?!" Yamazaki yang sedari tadi menguping pembicaraan Sougo dengan kedua gadis tadi dari balik semak-semak mulai menganga lebar. Dengan tangan bergetar dan peluh yang membasahi tubuhnya /bukan karna bermain badminton/ Yamazaki mulai mengambil ponselnya.

'Aku harus memberitahu Fukuchou!'

-bersambung-

Halo lama tak jumpa :') maaf chapter ini ga ada Okikagu huhu :'v harap bersabar ya.

Kira-kira chapter lanjutan bakal banyak drama ga ya? Masih menjadi rahasia perusahaan :3

Fav and Review?