Chapter 2
"Seonho."
"Hmm?"
Hari itu Seonho dan kakaknya, Guanlin sedang berada di kamar Seonho. Seonho di atas kasur, Guanlin duduk di kursi belajar.
"Kau benar-benar suka pada barista hyung itu?"
Seonho membuka sebelah matanya. "Kau tahu aku tak pernah setertarik ini pada seseorang, Lin-ah."
Guanlin memainkan standing character yang berada di meja belajar Seonho.
"Tapi, kau tahu kan... dia jauh lebih dewasa darimu. Dan apa kau pernah berpikir kalau dia punya kekasih?"
Seonho bangkit dari posisi tidurannya, duduk menghadap Guanlin. "Dia tidak punya kekasih, aku yakin itu."
Guanlin terdiam, Yoo Seonho sangat jarang memakai nada itu dalam bicaranya. Dan itu mebuat ia lebih berhati-hati dalam memikirkan pilihan katanya.
"Geure, dia tidak punya kekasih, dia selalu merasa nyaman denganmu, tapi apakah kau pernah memikirkan kemungkinan orang yang suka padanya juga? Kurasa dia adalah tipe orang yang baik pada semua orang. Kau jangan sembarangan mengambil kesimpulan tentang perasaannya, Seonho-ya."
Seonho menghela nafas, memejamkan matanya. "Aku tahu apa yang aku lakukan, terima kasih telah mengkhawatirkanku. Kau hanya perlu melihat apa yang terjadi padaku nanti."
Kini Guanlin yang memejamkan matanya. Yoo Seonho bisa menjadi bedebah kecil keras kepala jika dia mau, dan itu adalah mode Seonho yang paling ia hindari.
Guanlin merasakan tangannya dilingkupi sesuatu yang hangat. Guanlin membuka matanya, menemukan mata Seonho yang menatap lurus pada matanya.
"Percaya padaku, Hyung."
Guanlin tidak mempunyai pilihan selain percaya.
/MS/
Dua hari yang lalu Seonho mengajak Guanlin ke Hills, alasannya sih, hang out biasa. Tapi, kalau bisa sekalian menunjukkan orang yang disukai pada kakaknya kenapa tidak?
"Lin-ah."
"Hmm?" Guanlin masih meneruskan coretan-coretan halus di buku sketsanya.
"Coba lihat barista yang disana."
Akhirnya Guanlin mengangkat kepalanya, mengikuti arah telunjuk Seonho. Barista disana terlihat tampan, meski dengan wajah tidak berekspresi dan hanya senyuman tipis yang tidak mencapai matanya.
"Kenapa?"
"Aku suka padanya."
Guanlin menatap Seonho. "Lalu?"
"Kemarin dia menginap di rumah."
Guanlin menjatuhkan pensil yang dipegangnya. "Apa? Aku tidak salah dengar?"
Seonho di depannya hanya tersenyum lebar memamerkan giginya sambil melirik barista favoritnya. "Ah, dia sangat tampan, baik pula."
"Yoo Seonho, katakan padaku sejak kapan kalian sedekat itu sampai dia bisa menginap di rumah."
"Kita dekat sejak... dua bulan lalu sepertinya."
"Dan dia bisa dekat padamu begitu saja? Dia tidak seperti tipe yang mudah didekati." Guanlin melirik Minhyun, yang mimik wajahnya seperti tidak ada semangat hidup. Mana mungkin pria yang pastinya jauh lebih dewasa dari mereka berdua bisa langsung dekat begitu saja dengan Seonho, kan?
Seonho menyedot frappucinonya, menatap lekat-lekat Guanlin. "Lin-ah, aku tahu ini terdengar tidak masuk akal. Tapi bahkan dari pertemuan pertama kita, ia selalu merespon positif apapun yang kulakukan. Aku bahkan, you know, flirt with him. And he didn't seem irritate by that."
Mulut Guanlin terbuka, cukup menggambarkan kalau ia terkejut. "Heol... itu sungguhan?"
"Tentu saja, mau ku tunjukkan?"
Sebelum Guanlin sempat mencegah, adiknya sudah bangkit terlebih dahulu, berjalan menuju konter tempat Minhyun berada.
Mata Guanlin membulat melihat Minhyun dengan mudahnya memberikan senyumnya pada Seonho. Ia bahkan menepuk kepala Seonho mengelusnya sesekali. Eyesmile dari barista itu adalah hal yang paling menarik darinya yang ia perlihatkan hari ini, bisa dinilai dari pengunjung wanita yang melihat ke arah konter dengan pekikan tertahan dan sorot kagum, serta tatapan iri pada Seonho.
Seonho memperlihatkan senyum asimetrisnya pada Gunlin, yang dibalasnya dengan dengusan tidak percaya. Benar-benar adiknya itu.
/MS/
Seonho membereskan alat tulisnya. Bel istirahat sudah berbunyi beberapa saat yang lalu.
Matanya menangkap seseorang di luar jendela kelas melambaikan tangan padanya. Ia pun membuat isyarat tunggu pada orang itu, yang dibalas dengan ok sign.
Seonho mengambil kotak bekal yang ia sudah bawa dari rumah. Meninggalkan satu kotak lagi di tasnya.
Ia pun berjalan menghampiri orang yang menunggunya di luar kelas.
"Hai, Jin-hyung. Mana Daehwi hyung?" Seonho melingkarkan lengannya di bahu kakak kelasnya itu.
"Daehwi sedang ada urusan dengan anak ekskulnya, dia menyusul katanya." Jawab Jinyoung.
"Oh."
Mereka berjalan menuju gazebo di taman belakang sekolah. Beberapa saat kemudian datang Daehwi membawa kotak bekalnya beserta keresek yang berisi minuman yang dibelinya.
"Nih, kubelikan. Benar kan, Seonhonie? Susu stroberi?" Daehwi memberikan susu kotak pada Seonho.
"Benar, kok. Apapun yang kau belikan bisa aku minum sebenarnya."
Daehwi tersenyum kecil, memberikan minuman kotak pada Jinyoung, setelah itu membuka kotak makannya menyusul teman-temannya makan.
"Seonho-ya." Jinyoung berkata diantara kunyahannya.
"Kenapa Hyung?"
"Kau tadi membawa dua kotak bekal, kan? Untuk siapa?"
"Huh, benarkah?" Mata Daehwi berbinar. "Untuk siapa itu?"
Seonho menelan makanannya sebelum menjawab. "Untuk seseorang."
"Seseorang disini itu siapa? Orang yang menolongmu? Orang yang memintamu membuatkan bekal? Atau... orang yang kau suka?" Daehwi berkata cepat.
"Uh... yang terakhir." Seonho menjilat bibirnya.
"Woaaahhh..." Jinyoung dan Daehwi berkata bersamaan.
"Siapa?"
"Kau bertemu dengannya dimana?"
"Apakah kami mengenalnya?"
"Tampan atau cantik?"
"Stop!" Seonho mengangkat tangannya. Menghela nafas lelah, terkadang dua kakak kelasnya ini bisa lebih cerewet dari biasanya dan itu menyebalkan.
"Namanya Hwang Minhyun. Barista di Hills. Akhir-akhir ini kami dekat. Dan dia tampan pastinya." Seonho mengatakannya dengan senyum lebar.
"Umur?"
"23 tahun."
"Kalian beda tujuh tahun?" Tanya Jinyoung dengan mata membulat.
"6,5 tahun lebih tepatnya."
"Keren, Seonhonie!" Daehwi mengangkat tangannya mengajak tos, yang disambut Seonho dengan baik.
"Heol, bertambah satu temanku penyuka ahjussi." Jinyoung menggelengkan kepala dramatis.
Daehwi menepuk paha Jinyoung keras, membuat yang ditepuk meringis. "Dongho-hyung bukan ahjussi, tahu! Dia masih muda dan tampan."
"Minhyun-hyung, juga! Kalian kalau melihatnya pasti akan terkagum dengan ketampanannya." Seonho berkata dengan berapi-api.
"Oke, mereka bukan ahjussi. Perkara selesai."
"Masih lebih baik kita menyukai yang jauh lebih tua tapi hanya satu. Daripada seseorang yang menyukai dua orang tampan sekaligus." Daehwi berkata dengan nada menggoda.
"Dan jangan lupa, salah satunya adalah kakak sahabatnya sendiri." Seonho menambahkan.
Jinyoung mengerang. "Sudahlah, jangan bicarakan itu." Wajah Jinyoung memerah sampai ke lehernya.
"Tapi, Hyung... Kau benar-benar menjalani hubungan dengan mereka berdua begitu? Maksudku Jihoon sunbae dan Guanlin menerima begitu saja?" Tanya Seonho penasaran.
"Kau kan adiknya, bodoh! Kenapa kau tidak tanya sendiri pada kakakmu?" Daehwi berkata cepat.
"Lin-ah belum mau cerita, dan aku tidak mau memaksanya. Nanti kalau dia mau dia akan menceritakannya padaku. Jadi untuk sekarang aku mau dengar cerita Jin-hyung dulu."
Jinyoung menghela nafas. "Ya, ceritanya agak aneh sih, mengingat hubungan kita bertiga saja tidak lazim. Sebenarnya Jihoon hyung yang mengusulkan untuk menjalani hubungan seperti ini. Aku pertamanya berpikir itu gila, tapi sepertinya aku sama gilanya karena menyetujuinya. Sampai sekarang aku masih merasa bersalah pada Guanlin, karena menariknya pada hubungan aneh ini, hanya karena aku dan pacarku sama-sama suka padanya. Tapi, untuk sekarang, kami hanya menjalaninya tanpa memikirkan status atau bagaimana hubungan kami ke depannya. Toh, kalau nanti Guanlin suka pada seseorang, aku dan Jihoon hyung melepasnya dengan sukarela."
Seonho dan Daehwi menatap Jinyoung prihatin. Pasti berat untuknya memutuskan menjalani hubungan seperti itu. Apalagi perasaan Guanlin belum jelas terhadap mereka berdua. Tidak mungkin untuk Guanlin menolak keinginan dua hyung favoritnya. Jadi Jinyoung maupun Jihoon pasti merasa bersalah pada Guanlin.
Daehwi mengusap punggung Jinyoung. "Semoga kau bahagia dengan apa yang kau jalani, Jinyoungie."
"Guanlin juga suka padamu dan Jihoon sunbae, kok. Meski aku tidak tahu dalam konteks apa. Tapi sebelum kalian bertiga, ehhmm, jadian, dia selalu bercerita tentang kau dan Jihoon sunbae dengan senyum bodohnya itu. Jadi kupikir ia senang menjalaninya dengan kalian. Maksudku, kalian hyung yang luar biasa untuknya, jadi meskipun dia tidak menganggap kalian pacarnya, dia senang bisa menjadi orang yang kalian sukai. Jadi, jangan khawatirkan Guanlin, Jin-hyung." Seonho menggenggam tangan Jinyoung.
"Terima kasih, aku lega sekali sudah menceritakannya pada kalian." Kata Jinyoung sambil tersenyum.
"That's what friends for, right?" Kata Daehwi, membuat mereka bertiga tersenyum.
Mereka segera menghabiskan makan siangnya sebelum bel masuk berbunyi
/MS/
Seonho menunggu Minhyun di pintu belakang Hills sambil mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya. Tangannya sampai berkeringat memegang kain tempat kotak bekal untuk Minhyun.
Meskipun terlihat ceroboh dan seenaknya, sebenarnya Seonho mempunyai kemampuan memasak yang lebih tinggi dibanding anak-anak seumurannya. Itulah mengapa ia memasak makan siang untuk Minhyun dengan penuh semangat. Meski sekarang gugup melanda, karena siapa tahu Minhyun malah tidak suka dengan masakannya.
Pintu di depan Seonho terbuka, menampakkan sosok yang ia tunggu sejak tadi.
"Ada perlu apa, Seonho-ya?" Tanya Minhyun, disertai dengan senyum manisnya.
"Uh, aku mau memberimu ini, Hyung." Seonho menyodorkan kotak bekal yang sedari tadi ada di belakang tubuhnya.
Minhyun menerimanya dengan wajah terkejut. setelahnya, dada Seonho menghangat melihat Minhyun yang tersenyum cerah karenanya.
"Aku membuatnya sendiri. Kau kan selalu makan kimbap dari supermarket, pasti bosan. Jadi aku berinisiatif untuk memasaknya untukmu. Kalau nanti rasanya tidak sesuai ekspektasi, maafkan aku." Seonho berkata sambil menunduk.
"Jangan berkata seperti itu." Minhyun mengelus rambut Seonho, membuat Seonho mengangkat pandangannya. "Aku senang kau membuatnya untukku. Bagaimanapun rasanya, aku akan memakannya. Terima kasih, Seonho-ya."
Seonho tersenyum lebar. "Sama-sama, Hyung."
/MS/
Mimpi itu datang lagi, tapi sekarang tidak seseram sebelumnya. Aku yang berusia 20 tahun disana, menemani seseorang tak berwajah yang menangisi kematianku di mimpi sebelumnya. Kami duduk di pinggir danau, di belakang mansion tempat kami tinggal.
Dia menghela nafas berat, aku bertanya mengapa. Dia bilang, dia lelah.
Aku menarik kepalanya ke bahuku, mengusap rambut platinanya pelan
Dia bertanya padaku, apa aku tidak merasa lelah. Aku bertanya balik padanya mengapa aku harus lelah. Dia berkata, harusnya aku lelah karena menjaganya yang manja dan merepotkan.
Aku mengatakan padanya, aku menjaganya dengan sepenuh hati, tanpa mengeluh karena dialah yang sudah menolongku, menarikku dari kesedihan yang mendalam. Jadi, hanya menjaga dan selalu ada di sampingnya bukan masalah. Dia bertanya padaku, apa aku menyayanginya. Aku menjawab dengan yakin, tentu aku menyayanginya.
Setelah itu aku membeku, merasakan kecupan mendarat di bibirku disertai ucapan terima kasih lirih.
Mimpiku berhenti sampai di situ.
"Seonho-ya, makan malam sudah siap, ayo turun nak!"
Seonho menghentikan tulisannya. "Iya, Eomma. Aku menyusul, aku akan turun sebentar lagi."
Ia lalu melanjutkan tulisan jurnalnya yang tertunda.
Sampai hari ini pertanyaanku masih sama.
Siapa dia?
Benarkah ini hanya sekedar mimpi?
Dan yang terpenting, seluar biasa itukah dia, membuatku mencintainya begitu dalam, sampai mengorbankan nyawaku untuknya?
Ah, benar-benar... Aku tidak mengerti dengan semua ini. Aku ingin menganggap ini hanya bunga tidur belaka, tapi mengapa hatiku berkata sebaliknya? Seolah-olah aku harus mencari kebenaran dari semua mimpi aneh yang kualami akhir-akhir ini.
Tuhan, tunjukkanlah padaku kebenarannya suatu saat nanti.
TBC
Author's Note :
Akhirnya aku bisa fast update T T.
Nah, jadi sudah dapat clue, kah? Hubungan Seonho dan Minhyun sebelumnya apa ada yang bisa menebak? Yang punya pendapat bisa tulis di review ;).
DongHwi dan PanWinkDeep pun dimention. Kalau DongHwi, pokoknya sepaket sama MinSeon. Nah, kalau untuk PanWinkDeep, aku bahkan pernah menulis ficnya, tapi akhirnya dihapus T T. Polymory PanWinkDeep itu paling gemesin lah, jadi diselipin disini bukan masalah, ya.
Semoga aku bisa update cepat untuk chapter 3.
Terima kasih untuk yang sudah review, follow, dan favorite fic abal ini. ILY 3
