Chapter 3

"DOORRR."

"Seonho-ya, a-aku harus membawamu pergi."

"Jangan..."

"Kenapa jangan, bodoh? Kalau kau mati bagaimana denganku?"

"Kakimu terluka..."

"Aku tidak peduli! Asal kau tetap bersamaku, aku tidak peduli pada kakiku."

"Uhhuukk."

"Seonho-ya, kita harus pergi! Kau percaya padaku? Kita harus pergi sekarang!"

"Aku menyayangimu, Minhyunie. Hiduplah dengan baik... Uhhuk.."

"Hyung... Seonho hyung! Buka matamu, bodoh! Yoo Seonho!"

Minhyun terbangun dengan keringat membanjiri tubuhnya. Ia memejamkan matanya, mengatur nafasnya. Tangannya segera meraih gelas yang berada di nakas untuk dihabiskan dalam sekali tegukan.

Mimpi itu datang lagi, mimpi dimana orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya. Setelah bertemu Seonho, mimpi itu selalu menghantui setiap malam. Ia tahu apa penyebabnya.

Ia tidak ingin ditinggalkan lagi.

Karenanya setiap malam, ia mengirimkan doa kepada Yang Kuasa, semoga di kehidupan yang ia jalani kali ini, ia bisa hidup bahagia dengan orang yang ia sayangi.

Yoo Seonho.

Di kehidupan yang ia jalani sebelumnya, Seonho adalah anak seumurannya yang kehilangan keluarga di karenakan kebakaran rumah. Ia pun dititipkan di panti asuhan.

Minhyun pertama kali bertemu dengannya di taman dekat mansionnya. Hari itu ia sedang bermain sendirian, diawasi oleh pelayan suruhan orang tuanya. Ia bosan bermain sendirian, kakak perempuannya, Hwang Sujin tidak bisa diajak bermain. Ia pasti sibuk menerima pelajaran privat sebagai anak perempuan duke.

Karena kesal, Minhyun melemparkan pesawat kertas buatan pelayannya, yang akhirnya ia sesali karena pesawat itu terbawa angin.

Minhyun kecil pun mengejar pesawat kertas itu, yang akhirnya mendarat di dekat seorang anak yang sedang membaca buku di sisi lain taman itu.

Anak itu menyerahkan pesawat kertasnya pada Minhyun yang terengah sehabis berlari.

Minhyun yang penasaran pun bertanya, kenapa dia baru melihatnya di lingkungan ini.

Anak itu menjawab dia memang baru pindah ke panti asuhan di lingkungan itu. Setelah itu mereka pun berkenalan.

Yoo Seonho, lahir di awal tahun di tahun yang sama dengannya. Kehilangan orang tua dan kakak laki-lakinya dalam kebakaran. Hobinya membaca dan memasak.

Setelah pulang ke mansion, Minhyun merengek pada orang tuanya agar mengadopsi Seonho, yang akhirnya dikabulkan setelah ia mengurung diri di kamar selama dua hari penuh.

Sejak saat itu, Yoo Seonho menjadi Hwang Seonho, anak angkat duke. Memegang peran sebagai kakak laki-laki Minhyun, sekaligus butler pribadi Minhyun.

/MS/

Seonho mengangkat kepalanya menatap Minhyun yang meletakkan mug berisi coklat panas di meja.

"For you."

Seonho tersenyum lebar menangkup mug dengan tangannya. "Thanks."

Minhyun mengangguk singkat sebelum mendudukan diri di depan Seonho.

Siang itu, Seonho berkunjung ke Hills, membawa buku pelajaran dari sekolah, dan buku bacaan dari perpustakaan kota. Ia membaca bukunya, sesekali mencuri pandang pada Minhyun yang berada di belakang konter.

Menurut pengamatannya selama ini, Minhyun tidak sedatar itu. Maksudnya meskipun tidak di depan Seonho ia bisa memberikan senyum manis, menunjukkan ekspresi lelah, mengerutkan hidung, mengerutkan dahi ketika bingung, dan satu yang paling menarik perhatiannya, menjilat bibir ketika merasakan exited.

Mungkin terdengar erotis, tapi sebenarnya jika dilihat langsung itu terlihat imut. Minhyun jadi terlihat seperti anak anjing, oh, atau anak rubah? Sudahlah, toh mereka masih satu keluarga, hanya berbeda mata.

Ketika pandangan mereka tidak sengaja beradu, Minhyun akan memberikan senyumnya, atau mengangkat alisnya, yang membuat Seonho membalas senyumannya, atau malah tertawa kecil menyembunyikan wajahnya di balik buku.

Sekarang shift Minhyun sudah selesai, jadi sekarang ia bisa menghampiri Seonho dan memberikan coklat panas buatannya.

Seonho mendekatkan mug pada mulutnya, meminumnya perlahan. Minhyun tidak melepaskan tatapannya pada Seonho. Sampai anak itu meletakkan mugnya kembali, menatap Minhyun balik.

"Kenapa melihatku terus, Hyung?"

"Tidak boleh?"

Seonho tersenyum simpul. "Boleh tentu saja. Aku hanya ingin tahu alasannya."

"Cause you looked breathakingly beautiful." 'Dan aku mau merekam wajahmu sebaik mungkin di pikiranku.'

Seonho terkekeh. "Wow, aku tidak salah dengar? You just flirt me?"

"Tidak, aku mengatakan yang sebenarnya." Minhyun berkata sambil menatap dalam mata Seonho.

Seonho terdiam, perasaan itu datang lagi. Perasaan yang asing tapi terasa familiar di saat bersamaan. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Seonho menutup matanya.

"Kau baik-baik saja, Seonho-ya?" Minhyun menggenggam tangan Seonho. Ketika ia membuka matanya, terlihat Minhyun yang berwajah khawatir.

"Aku, aku tidak tahu, Hyung." Seonho menggelengkan kepalanya. Sumpah ia tidak tahu kenapa ia tiba-tiba merasa seperti ini. Tanpa ia sadari air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya.

Minhyun bangkit dari duduknya panik, menggenggam tangan Seonho lebih erat. "Aku antar kau pulang, hmm?" Minhyun bersimpuh, menyamakan pandangannya dengan Seonho yang masih duduk di kursi.

"Hyung, jangan seperti ini." Seonho berkata lirih. Mereka menjadi pusat tatapan pengunjung Cafe. Tapi, Minhyun tetap pada posisinya.

"Asal kau mau aku antar pulang, aku akan bangkit."

"Tidak." Air mata Seonho mengalir ketika mengatakannya. "Aku ingin bersamamu, Hyung."

Minhyun menghapus air mata Seonho dengan ibu jarinya. "Baiklah, ayo ke tempatku."

/MS/

Seonho terus menggenggam erat tangan Minhyun di perjalanan ke tempatnya. Minhyun sampai merasa tangannya kebas dan lembab. Tapi karena ini Seonho, ia tidak masalah.

Di dalam bus, Seonho memejamkan matanya sambil berusaha bernafas teratur. Ia bingung sungguh, sebelumnya ia tidak pernah seperti ini. Ini hampir seperti terkena panic attack, tapi ia tidak tahu kenapa ia bisa seperti ini.

Seonho merasakan seseorang mengelus dahinya. Ia membuka mata, mendapatkan jari-jari panjang Minhyun menghalangi pandangannya. "Hyung..."

"Jangan mengerutkan dahimu seperti itu, Seonho-ya. Tenanglah, relax, i'm here with you."

Mendengar perkataan Minhyun, Seonho menjadi lebih tenang. "Uh, Hyung... Bolehkah aku bersandar padamu?"

Minhyun terdiam, tangannya yang berada di dahi Seonho bergerak ke belakang kepalanya dan mendorong kepala Seonho bersandar di bahunya.

"Thanks."

"No problem, just sleep now."

Seonho memejamkan matanya. Sesaat sebelum melanglangbuana ke dunia mimpi, ia merasakan kecupan di pucuk kepalanya.

/MS/

Seonho memakan kacang dari toplesnya sambil menonton tv di depannya. Hari ini hari Minggu, dan sekarang ia berada di flat Minhyun, semalam ia menginap di sana.

Tuan rumah semenjak tadi mondar-mandir di sekeliling ruangan sempit itu, membersihkan debu yang terlihat oleh mata. Seonho yang melihatnya merasa pusing seketika.

"Hyung, sinilah, duduk denganku. Kau tidak lelah semenjak tadi beres-beres? Ruangan ini sudah bersih, lho."

"Tidak, sedikit lagi, Seonho-ya."

Seonho mendengus. "Ya ya ya, jika kutanya lagi nanti, kau pasti akan menjawab seperti itu."

Minhyun menatap Seonho, bukannya takut atau bagaimana anak itu membalas tatapan Minhyun dengan ekspresi yang dibuat-buat. Diakhiri dengan Seonho yang mengirim kecupan jarak jauh, telak membuat Minhyun tertawa, jangan lupakan wajahnya yang memerah.

Pemandangan itu tidak terlewat oleh mata Seonho, membuatnya berbangga diri. Siapa lagi sih, orang yang bisa membuat Minhyun seperti terbakar begitu selain dirinya?

Seonho tahu, Minhyun bukanlah tipe orang yang akan terbuka dan langsung merespon positif terhadap godaan dan pujian langsung. Itulah mengapa ia yakin yang lebih tua juga memiliki rasa yang sama sepertinya.

Lagipula menurut Seokmin, pelayan part time di Hills, ia baru melihat Minhyun tersenyum secerah itu ketika ada Seonho. Dan, lagipula anehnya mereka tidak seperti orang yang baru mengenal. Itu benar adanya ketika Seonho mengatakan merasa familiar dengan Minhyun. Seperti ada yang menariknya mendekati yang lebih tua, sesuatu yang mengikatnya? Seonho hanya berpikir, Minhyun adalah orang yang memang sudah ditakdirkan untuknya.

Mungkin pemikiran Seonho benar, tapi yang sebenarnya terjadi siapa tahu.

Seonho menarik Minhyun duduk bersamanya. Cairan desinfektan dan lap di tangan Minhyun disimpan asal-asalan olehnya, membuat yang lebih tua protes. Tetapi Seonho mengabaikannya, toh Minhyun pasti lebih memilihnya daripada meneruskan kegiatan favoritnya.

Seonho mendorong Minhyun duduk di karpet, setelah itu ia merebahkan diri meletakkan kepalanya di paha Minhyun. Minhyun mengeluarkan suara tercekat ketika Seonho melingkarkan tangan di pinggangnya dan menenggelamkan kepala di perutnya.

"Hei, hei kenapa kau manja sekali, hmm? Yoo Seonho?" Minhyun mengelus rambut Seonho.

Seonho mengeluarkan gumaman nyaman merasakan tangan Minhyun di kepalanya. "Sekarang kan, aku dan hyung ada waktu kosong. Harusnya kau menghabiskan waktu denganku. Alasanku menginap bukan untuk melihatmu merapikan tempatmu, Hyung."

"Apa alasanku menghabiskan waktu denganmu?" tanya Minhyun, mengangkat alis.

"Karena kau menyukaiku?" Seonho menjawab disertai cengiran.

"Hmm, siapa yang bilang aku menyukaimu? Jangan terlalu percaya diri, Yoo Seonho." kata Minhyun dengan nada menggoda. Minhyun mendapatkan kilatan exited dari mata Seonho yang ia tatap.

Tanpa ia sadari jarak wajahnya dan Seonho sudah kurang dari sejengkal, karena anak itu setengah bangkit dari tidurannya. Tangan kiri berada di bahu Minhyun, sedangkan tangan kanannya berpegangan pada permukaan karpet, menunjang dirinya.

Minhyun membulatkan mata terkejut, sebelum tersenyum tipis. Tangannya melingkar di pinggang Seonho, membantunya menegakkan diri.

"Bagaimana kalau aku menyukaimu, Hyung?"

Minhyun menatap mata Seonho di depannya. "Itu terserahmu, Seonho. Aku akan menerima apapun yang kau putuskan."

"Tanpa terkecuali?"

Minhyun mengangkat tangannya yang bebas, mengusap sisi wajah Seonho. "Tanpa terkecuali."

Seonho memajukan wajahnya, mengecup sudut bibir Minhyun. "Aku mau Hwang Minhyun jadi kekasihku."

Minhyun tersenyum mendapati rona merah di pipi Seonho. "Baiklah."

"Yes!" Seonho memeluk Minhyun, menenggelamkan kepalanya di bahu lelaki yang kini sudah jadi kekasihnya.

Minhyun terkekeh, balas memeluk Seonho. Menenggelamkan hidungnya di rambut lembut yang lebih muda.

'Akhirnya. Terima kasih, Tuhan.'

/MS/

Seonho membuka album foto di tangannya. Album itu berisikan foto-foto Minhyun ketika kecil. Seonho tertawa kecil melihat Minhyun yang berfoto dengan kadal di halaman rumahnya. Tidak menyangka kalau Minhyun di masa anak-anaknya sangat menggemaskan.

Tangan Seonho berhenti membuka, matanya tertuju pada satu foto. Foto Minhyun bersama kakak perempuannya. Di sana mereka memakai pakaian formal ala vintage. Minhyun seperti berumur 8-10 tahun disana, dengan rambut di keataskan menampakkan dahinya. Kakak Minhyun, Hwang Sujin, sangat cantik dengan rambut hitam tergerai. Ketika itu tinggi Minhyun hanya sebatas dagu Sujin.

Seonho mengusapkan jari tangannya pada foto itu.

"Hwang Sujin... Hwang Minhyun... Hwang... Seonho?" Seonho terdiam menyadari apa yang ia katakan. Ia memejamkan matanya, lalu menatap lagi foto di depannya.

"Siapa namamu?"

"Aku Yoo Seonho."

"Seonho hyung, aku ingin tidur denganmu."

"Noona jahat! Dia tidak menyayangiku lagi... uh. Huuu.. huuu..."

"Ayah, aku tidak mau! Aku sudah besar, biarkan aku pergi bersama Seonho berdua saja!"

"Seonho-ya!"

"Hyuuunnggg."

"Seonho-hyung..."

"Yoo Seonho."

Seonho memejamkan matanya, baru kali ini ingatan dari mimpinya muncul ketika ia merasa sadar. "Hwang Minhyun, Hwang Minhyun..." Seonho bergumam berulang kali dengan gesture gelisah. "Minhyunie..."

"Aku menyayangimu, Minhyunie."

"Hyung... Seonho-hyung!"

Tiba-tiba dalam bayangan Seonho anak tak berwajah dengan rambut platina itu menjadi Minhyun. Minhyun versi kecil seperti di foto dengan rambut platina, Minhyun dewasa masih dengan rambut platinanya.

"Aku menyayangimu tentu saja."

Minhyun memajukan wajahnya mengecup bibir Seonho. "Terima kasih..."

Seonho memegang kepalanya. Semuanya terasa berputar, telinganya berdenging, semua ingatan itu membuat kepalanya sakit.

"ARGHH!"

Seonho terjatuh ke lantai dari sofa dengan debuman keras. Air matanya mengalir, jantungnya serasa diremas. Seonho menangis tanpa suara.

Terdengar langkah terburu-buru mendekatinya.

"Seonho!"

Seonho merasakan tubuhnya diangkat, dibaringkan di atas sofa. "Seonho-ya, dengarkan Hyung." Tangan Seonho digenggam erat oleh Minhyun. "Tarik nafas dalam, ayo Seonho kau bisa." Seonho merasakan tangan menyentuh pipinya hangat. Mulai menarik nafas walaupun tenggorokannya masih seperti dicekik.

"Keluarkan perlahan, tarik nafas kembali, keluarkan." Suara Minhyun membimbingnya menenangkan diri. Secara perlahan nafas Seonho mulai normal. Penglihatannya semakin menjadi jelas kembali.

Ketika melihat Minhyun di depannya, Seonho menangis lagi.

"Mengapa Seonho-ya, hmm? Kau tidak perlu menangis seperti ini. Katakan sesuatu padaku."

Seonho mengangkat tangannya yang terasa masih lemas ke wajah Minhyun di depannya. Menangkup pipi Minhyun dengan kedua tangannya.

"Hwang Minhyun." Seonho terisak. "Minhyunie... Minhyun-ah..."

Minhyun membulatkan matanya. "Seonho-ya..."

"Maafkan aku telah meninggalkanmu dan membuatmu menunggu, maafkan aku." Air mata Seonho mengalir bertambah deras.

Minhyun di depannya membeku. Air mata dengan cepat menggenangi pelupuk matanya, siap meluncur jatuh.

"Tidak, tidak." Seonho menggeleng. "Jangan menangis. Cukup aku saja. Aku menyesal membuatmu selalu menanangis. Kali ini kumohon, jangan."

Tapi apa daya, air mata Minhyun juga sudah meluncur bebas.

"Kau mengingatku... kau ingat padaku Yoo Seonho!" Tangisan Minhyun pecah. Minhyun menangkup tangan Seonho di pipinya. "Bagaimana bisa aku tidak menangis kalau kau akhirnya mengingatku, bodoh!" Minhyun terisak.

Tangisan Seonho bertambah deras mendengar ucapan Minhyun. "Tetap saja, jangan menangis Tuan Muda." Tangan Seonho bergerak menghapus air mata Minhyun. "Jangan menangis lagi... Ada aku disini..."

Minhyun menarik Seonho ke pelukannya. Membenamkan kepalanya di rambut Seonho. 'Terima kasih, Tuhan. Terima kasih banyak. Kau telah memberikanku kesempatan.'

TBC

Author's Note :

Woaa... apakah ini terlalu cepat?

Tidak kan?

Alurnya maksudku. Bukan updatenya ya. Aku baru bisa update sekarang karena kemarin-kemarin aku sibuk ujian. Akhirnya setelah selesai, aku langsung merampungkan bagian tiga.

Eottae?