Chapter 4

Warn: Mature Content, Mental Health Issue, Panic Attack, Intense Make Out, if you easily feel triggered, just skip.

Setelah momen berharga mereka terlewati, Minhyun dan Seonho berbaring berpelukan di sofa. "Hyung."

"Hmm?" Minhyun menelusuri wajah Seonho dengan jarinya. Ketika ujung jarinya sampai ke hidung Seonho, sebuah tangan menggenggam tangannya erat.

"Kau masih menyukaiku?"

"Pertanyaan apa itu?"

"Jawab, Hyung."

"Tentu saja, selamanya."

Seonho tersenyum mendengar jawaban Minhyun. Menempatkan wajahnya di bahu Minhyun, Seonho bertanya, "Meskipun aku tidak seperti dulu?"

Minhyun mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu, Seonho-ya? Kau tetap Seonho yang ku kenal."

Seonho menghela nafasnya, menjauhkan wajahnya dari bahu Minhyun. "Aku ini sakit Hyung, kau mau dengan pesakitan sepertiku?" Seonho menatap Minhyun yang terdiam.

Minhyun mengeratkan tangannya di sekeliling tubuh Seonho, mengecup dahinya. "Asalkan kau masih Yoo Seonho, aku akan selalu menyukaimu."

Air mata Seonho mengalir membasahi kemeja Minhyun, tangannya meremat kemeja Minhyun.

"I love you, and always do." Minhyun mencium bibir Seonho. Sekedar menempel, hanya untuk menunjukkan kesungguhannya.

Mata Seonho sudah memburam karena air mata, isakannya pecah. Seonho merasakan tangan Minhyun mengelus kepalanya, menariknya lebih dekat lagi, membuat wajahnya tenggelam di dada yang lebih tua.

Semenjak malam dimana Seonho menelponnya sambil menangis, Minhyun tahu, Seonhonya yang sekarang tidak baik-baik saja.

Dia sangat sensitif ketika dia mau, mengeluarkan tantrum di saat yang tidak tepat, dan paling parahnya, Panic Attack.

Dan entah kenapa Minhyun menjadi salah satu pemicunya setelah mereka bertemu. Bisa dibilang, untuk seseorang seperti Seonho, orang terkasihnya memegang peran besar dalam emosinya.

Itulah kenapa Seonho sangat bergantung pada kakak kembar tidak identiknya, Guanlin. Karena meskipun mereka lahir bersamaan, Guanlin tidak memilliki penyakit sepertinya. Guanlin adalah anak yang sehat dan ceria, seperti Seonho yang biasa dilihat oleh orang-orang. Guanlin menjadi orang yang paling mengerti akan dirinya dan menjadi tempatnya bersandar. Sepenting itulah keberadaan Guanlin di kehidupan Seonho yang sekarang. Karena di kehidupan sebelumnya, Seonho bahkan sudah kehilangan Guanlin semanjak kecil. Mungkin itulah kenapa, di kehidupan ini, Seonho seperti anak ayam dan Guanlin seperti induk ayamnya. Tidak pernah terpisah, selalu bersama.

Karena itu Minhyun mengerti tentang kekhawatiran Guanlin terhadap hubungannya dan Seonho. Minhyun bersyukur, di kehidupan ini, Seonho memiliki seseorang yang menyayanginya, dan bertanggung jawab penuh seperti kakaknya itu.

"Thank you so much, Hyung." Ujung hidung Seonho berada di leher Minhyun, menggelitik tapi tidak sampai membuatnya merasa geli, hanya ada debaran keras di dadanya. "Love you, too. Always." Seonho mengecup leher Minhyun, tepat dimana nadi besar Minhyun berada, membuatnya bisa merasakan denyutan nadi kekasihnya yang sudah meningkat dari beberapa saat yang lalu.

Minhyun membeku, ia merasa seperti perawan yang disentuh pertama kali. Dia tahu dia yang jauh lebih tua disini, tapi di kehidupan sebelumnya Seonho lah yang memimpin hubungan mereka, Seonho lah yang menjadi Hyung.

"Jangan begitu." Suara Minhyun lirih, tercekat di tenggorokannya. "Hmm?" Seonho bergumam, menatap Minhyun di depannya. "Tidak seharusnya kau melakukan itu Yoo Seonho. Kau masih 17 tahun."

Seonho di depannya terlihat tidak tahu apa-apa, dahinya berkerut sebelum ia berekspresi tahu. "Ahh, Hyung... Umur itu hanya sekedar angka kau tahu." Seonho bangkit menumpu tubuhnya dengan sikunya, membuat posisinya lebih tinggi dari Minhyun. Menatap Minhyun dalam Seonho memajukan tubuhnya perlahan, menumpukan tangannya pada dada bidang Minhyun. "Hyung, kau telah menunggu lama. Tidakkah kau menginginkanku?"

Tubuh Minhyun kaku, otaknya serasa berhenti bekerja. Wajah Seonho terlalu dekat sungguh, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.

Seonho mengecup bibir Minhyun, sekali, dua kali, ketika akan memberikan untuk ketiga kalinya, tubuhnya sudah ada di bawah kungkungan Minhyun. Membuatnya terkaget sesaat, sebelum tersenyum miring. Wow, Hwang Minhyun tidak sesabar yang ia kira. Ia kira Minhyun akan menolaknya, ternyata sebaliknya, ia menerima ajakan Seonho dengan baik.

Minhyun mendekatkan wajahnya ke telinga Seonho, tangannya sudah memeluk Seonho tanpa membuat Seonho merasa sesak. "Beraninya kau menggodaku Yoo Seonho, kau hanya bocah yang bahkan belum melewati mimpi basahmu."

Seonho ingin protes. "Aku su-" nafasnya tercekat. Ia merasakan sesuatu yang basah menyentuh daun telinganya. Minhyun mengulum cuping telinga Seonho pelan. Membuat anak di bawahnya mengeluarkan helaan nafas berat. Kedua tangan Seonho dengan refleks melingkari leher Minhyun di atasnya, menarik yang lebih tua mendekat.

"Hyunghhh, Minhyunie..." Seonho memejamkan matanya erat.

Minhyun memberikan kecupan-kecupan kecil di sekitar pipi dan rahang Seonho, sebelum mencium penuh bibir Seonho. Bibirnya memagut pelan bibir bawah Seonho, mengeluarkan lidahnya mengetuk bibir Seonho yang terbuka dengan mudah kemudian. Membiarkannya masuk, menjelajah mulut kekasihnya. Lidahnya berpagutan dengan lidah Seonho, mendominasi ciuman mereka. Saliva bercampur mengalir keluar melewati bibir Seonho ke pipinya.

Seonho merasa frustasi, ciuman Minhyun terasa pelan, lembut, dan penuh perasaan. Tapi dia ingin yang lebih dari ini. Seonho membalas ciuman Minhyun, mempercepat tempo ciuman mereka, membuat Minhyun mengikuti tempo ciuman Seonho yang terkesan tidak sabaran dan putus asa.

Minhyun menjauhkan wajahnya setelahnya, menatap wajah Seonho di depannya tanpa jarak. Nafas mereka bertubrukan, menciptakan suasana hangat setelah sesi ciuman tadi. Mata Seonho masih tertutup, poninya terjatuh cantik di dahi, kulit putihnya bersinar cantik dengan rona merah di pipi. Bibir bengkak dengan liur di sekitarnya membuatnya mengkilat, terlihat seksi untuk ukuran bibir anak 17 tahun. Seonho benar-benar definisi kecantikan yang nyata, dan Minhyun bangga ialah yang bisa membuat Seonho begini.

Minhyun membersihkan liur di sekitar mulut Seonho dengan sapu tangannya, membuat Seonho membuka matanya.

"Hyung."

"Hmm?"

"Yang tadi itu..."

Minhyun menatap Seonho yang terlihat polos dengan mata besarnya. Matanya mengerjap berulang kali, membuat Minhyun gemas.

"-luar biasa. Aku menyukainya."

Telinga Minhyun memerah, dengan cepat menjalar ke pipinya. "Te-tentu saja. Apapun untukmu." Minhyun menyembunyikan wajahnya ke leher Seonho.

Kenapa ia tiba-tiba malu astaga, padahal ia yang memulainya.

Seonho tertawa, "Ahhh, kau manis sekali sih, Minhyunie."

"Panggil aku Hyung!"

"Minhyunie, Minhyunie, Minhyunie yang termanis sedunia!"

Minhyun mengerang.

/MS/

"Seon-ah."

Seonho yang sedang bercakap dengan Jinyoung diantara rak buku di perpustakaan menoleh ke arah sumber suara.

Terlihat Guanlin berdiri di sana memasukkan tangan kanannya ke saku celana sekolahnya. Di belakangnya terlihat Jihoon yang melambaikan tangan ke arah Jinyoung.

"Emm, ada apa?" Seonho yang merasa canggung karena di antara mereka bertiga bertanya cepat.

"Ikut aku, ada yang ingin kusampaikan."

"Ah," Seonho mengalihkan pandangannya pada Jinyoung. "Aku ikut Lin-ah dulu, Jin-hyung."

Jinyoung mengangguk sambil tersenyum. Jihoon secara tiba-tiba sudah berdiri di samping Jinyoung menariknya bergeser ke sisi kanan rak buku di bagian astronomi.

"Jinnie, ambilkan ensiklopedia yang itu, dong."

Jinyoung menghela nafas. "Yang biru itu?"

"Yaps."

Jinyoung berjinjit untuk mengambil ensiklopedia yang Jihoon maksud. Setelah berhasil mendapatkannya ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan, membuatnya terhuyung ke belakang.

Sebelum bokongnya sempat mencium lantai, Jinyoung merasakan sepasang tangan yang menahan pinggangnya.

"Careful, Bae." Jihoon membantu Jinyoung menegakkan diri. "Kalau tidak ada aku kepalamu pasti sudah benjol." Jihoon berkata mencemooh.

'Siapa juga yang membuatku hampir terjatuh.' Jinyoung menggerutu dalam hati.

"Lalu kenapa kalau nanti kepalaku benjol?" Jinyoung berkata malas sambil meneruskan membaca buku yang sedari tadi ia pegang.

"Cup."

Jinyoung menatap Jihoon yang mengecup pipinya tiba-tiba dengan wajah polos.

Jihoon memajukan wajahnya lagi mengecup kening berponi Jinyoung, hidung mancung kelasihnya, dan berniat mengecup bibirnya kalau saja Jinyoung tidak menahan Jihoon dengan memegang bahunya.

Wajah Jinyoung seperti terbakar. "Apa sih, Hyung?! Kita sedang di perpustakaan!" Kata Jinyoung dengan suara pelan.

"Aku kan hanya menjawab pertanyaanmu." Jihoon mengangkat bahunya. "Kalau kau nanti benjol, akan kuciumi kau sampai sembuh."

Jinyoung menunjukkan ekspresi jijik, memutar bola mata malas. Pacarnya ini terkadang menggelikan sewaktu-waktu.

Jinyoung merasakan buku yang ia pegang tiba-tiba menghilang dari genggamannya. Menghadap ke samping, wajah Jihoon sudah berada di depannya. Tidak lama kemudian Jinyoung merasakan bibir Jihoon di bibirnya. Melumatnya cepat sebelum ia akhiri dengan kecupan singkat.

"Huh?" Wajah Jinyoung berubah blank, kejadian tadi terjadi begitu saja, ia bahkan tidak menyangka pacarnya akan melakukan itu.

Jihoon menyerahkan buku ke tangan Jinyoung kembali. Mengusap rambut Jinyoung perlahan. "Nanti istirahat kedua, datanglah ke kantin, Bae."

Lalu Jihoon pergi meninggalkan Jinyoung yang masih blank di tempat.

"A-apa tadi?" Jinyoung menyentuh bibirnya. Bayangan peristiwa tadi berputar di kepalanya.

"Astaga!" Jinyoung menyembunyikan wajahnya dengan tangan. Sial, dia malu kawan.

Suara dua pasang langkah kaki mendekati Jinyoung.

"Lho, Jin-hyung kenapa?" Tanya Seonho sambil ikut berjongkok di samping Jinyoung.

Jinyoung memindahkan tangannya memperlihatkan wajahnya yang seperti dibakar.

"Hyung, wajahmu merah sekali. Kau sakit?" Tanya Seonho khawatir. "Lin-ah, sebaiknya kau bawa Jin-hyung ke ruang kesehatan."

"Ayo, Hyung-ah." Guanlin membantu Jinyoung berdiri. Jinyoung yang masih shock belum bisa berkata apapun.

"Kau tak akan ikut?" Tanya Guanlin.

"Aku masih harus mencari sumber untuk tugasku, Lin-ah. Antarkan Jin-hyung sampai ke ruang kesehatan dengan selamat, ya."

"Iya, tenang saja. Kau pikir aku akan mencelakakan pacarku sendiri apa?"

Mata Seonho membesar mendengar perkataan Guanlin. Sayangnya Jinyoung tidak mendengarnya karena tidak memperhatikan, masih dalam keadaan shock.

Guanlin dan Jinyoung berlalu dari situ meninggalkan Seonho yang terdiam dengan banyak pikiran di kepalanya.

Seonho duduk di bangkunya sambil membereskan alat-alat tulisnya ke dalam tas. Satu persatu teman-teman sekelasnya meninggalkan kelas, menyisakan ia seorang diri di ruangan tersebut.

Seonho termenung, tangan kanannya memegang permukaan blazernya, di bagian dada sebelah kiri. Terdapat sesuatu di sana. Seonho mengambilnya dari saku dalam blazernya.

Sebuah kotak, berukuran sebesar telapak tangan Seonho. Seonho membuka kotak itu, terlihatlah gelang perak dengan hiasan kepala rubah kecil.

Seonho menghela nafasnya, entah kenapa perasaannya tidak enak.

Flashback

"Ada apa kau sampai menemuiku?" Tanya Seonho ketika mereka sudah ada di bagian paling barat perpustakaan. Tempat paling ujung, paling gelap, dan paling dihindari oleh murid yang datang ke perpustakaan.

Guanlin menyandarkan punggung pada rak buku di belakangnya. "Kemarin barista hyung itu menemuiku."

Seonho mengerutkan dahinya. "Minhyun hyung? Untuk apa?"

"Dia menungguiku selesai latihan basket asal kau tahu." Guanlin menghela nafasnya. "Ia tidak perlu sekhawatir itu padahal, aku sudah percaya padanya sejak aku melihatnya waktu itu. Dia orang yang tepat untukmu, Seon-ah."

Seonho menatap Guanlin dengan pandangan tak terbaca. Mungkin terlihat seperti sedang blank, tapi nyatanya di kepala Seonho terputar berbagai pikiran yang hanya ia sendiri yang tahu.

Guanlin maju mendekati Seonho, membawa adik kembarnya itu ke pelukannya. "Sstt, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Kau dan dia akan baik-baik saja Seonho-ya. Dia pekerja keras dan sangat menyayangimu, itu cukup menjadi jaminan untukku." Guanlin mengelus bagian belakang kepala Seonho, tangan satunya menepuk-nepuk punggung bagian bawah Seonho.

Seonho memejamkan matanya, membalas pelukan Guanlin. Hidungnya ia tenggelamkan pada bahu Guanlin yang terlapisi blazer. Ia mencoba mengusir pikiran-pikiran aneh di kepalanya. Ia selalu saja berpikir buruk tentang Minhyun. Padahal kan belum tentu benar.

Hwang Minhyun secara baik-baik telah menunjukkan niatnya di depan Guanlin untuk menjaga Seonho dan menjalani hubungan dengannya. Harusnya Seonho senang saat ini, tapi mengapa ia merasa tidak enak?

Guanlin melepaskan pelukannya. "Hei." Guanlin menepuk pipi Seonho, membuatnya membuka sebelah matanya. "Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Cukup ingat dia menyukaimu sebesar kau menyukainya." Guanlin memajukan wajahnya, memberikan kecupan di dahi dan hidung Seonho.

"Selamat, adikku sayang." Guanlin mengeluarkan sesuatu dari blazernya. Sebuah kotak.

"Hwang Minhyun memberikan ini padaku. Katanya jika aku merestui hubungan kalian, aku harus memberikan ini padamu." Guanlin menggenggamkan kotak itu pada tangan Seonho.

"Ayo kita kembali."

Seonho mengangguk.

Flashback End

Seonho menghela nafas, mengambil gelang dari dalam kotak. Memakainya di tangan kirinya, pas. Seonho tersenyum, menyentuh hiasan rubah di gelangnya. Benar-benar seperti Hwang Minhyun.

Yah, mungkin ia memang terlalu banyak berpikir.

/MS/

Seonho menggusak rambutnya sekeluarnya ia dari kamar mandi. Handuk masih terlilit di pinggangnya, beberapa tetesan air menelusuri tubuhnya dari atas sampai terserap ke handuk.

"You make me go insane, she gives me so much pain. I won't be back again..."

Seonho melirik ponselnya di atas kasur. Layarnya berkedip, lalu ia pun menyadari kalau ia hanya memasang nada dering ini khusus untuk satu orang.

Seonho segera mengambil ponselnya, mengangkat panggilannya, membuatnya jadi mode speaker.

"Yeoboseyo."

"Yeoboseyo, Minhyun hyung. Kau sudah di flatmu?"

"Sudah kok. Omong-omong apa kau menerima sesuatu dari kakakmu?"

"Hmm? Sesuatu apa?" Seonho mencoba menahan kekehannya.

"Oh... tidak, aku hanya mengasal."

Hening setelahnya.

"Hyung, kau tahu aku mencintaimu kan?"

"Aku tahu."

"Kakakku juga mengetahuinya. It's impossible for him to ignore you. You've been becoming a source of happiness to me. There aren't reason to reject you, Hwang Minhyun."

Seonho mendengar helaan nafas di ujung sana. Ia menyelesaikan memakai pakaiannya lalu tiduran di kasur.

"Di pergelangan tanganku sekarang ada suatu benda yang menghiasinya."

"Benarkah?"

"Tentu saja, dan benda ini mengingatkanku padamu."

Di seberang sana terdengar Minhyun menghela nafas lega. "Beraninya kau, Yoo Seonho. Kalau aku bersamamu aku akan menciummu sampai kehabisan nafas."

Seonho tertawa geli. "Tawaran bagus. Mungkin ketika kita bertemu malah aku yang menciummu sampai kehabisan nafas. I miss you so much, Minhyunie."

"Miss you too, so much. Let's meet at my campus!"

Seonho tersenyum lebar.

"Okay."

/MS/

Seonho tersenyum cerah ketika ia turun dari bus. Dari halte ia segera berjalan cepat ke arah universitas tempat Minhyun menuntut ilmu. Hyungnya bilang, ia sudah ada di dekat gerbang kampus. Seonho mempercepat langkahnya, tidak sabar ingin bertemu.

Ketika sudah sampai di dekat gerbang Seonho mengedarkan pandangannya, mencari sosok tinggi, berbahu lebar dengan rambut hitam.

Seonho menemukannya di dekat pagar gerbang. Seonho segera menghampiri Minhyun.

Tapi, pemandangan di depannya membuat matanya membesar.

Hwang Minhyun, ia...

TBC

.

.

.

.

.

Author's Note:

Yeaayy, 2kwords!

Ini chapter paling panjang dari fic ini.

Dan, PanWinkDeep pun terselip. :"

Btw, ada yang tahu ringtone Seonho buat Minhyun itu lagu apa? (:

Duh janjinya pas malam tahun baru malah ketiduran :". Gapapa ya pagi di tahun baru juga. *kaya ada yang nungguin, aja.

How do you feel 'bout this chap?

Feel free to tell me at review box!