Chapter 5
Ketika Sujin berumur 7 tahun, ia pernah menggambar sebuah sketsa bangunan. Itu adalah bangunan bergaya Inggris Kuno yang di dekatnya ada sebuah danau. Entah mengapa saat itu ia menggambarnya, padahal ia tidak pernah melihatnya sama sekali. Hanya terlintas di benaknya.
Minhyun kecil menghampirinya, melihat gambaran yang ia buat. Matanya membulat, lalu ia tersenyum senang sambil bertepuk tangan.
Sujin menghentikan guratan pwnsilnya, beralih menatap Minhyun. "Minhyunie suka gambar Noona?"
Minhyun tersenyum lebar menunjukkan giginya, jari kecilnya menunjuk gambar Sujin. "Rumah..."
"Iya, ini rumah." Sujin mengusap kepala Minhyun.
"Rumah Min..."
"Oh, ini rumahmu?" Sujin tersenyum kecil. "Apa ini rumahku juga?"
"Rumah Jin... Rumah Hoho juga!" Minhyun mengangkat boneka yang sedari tadi dipeluknya. Boneka anak ayam kuning yang dibelikan orang tuanya setahun yang lalu.
Sujin tertawa gemas, mencium pipi gembil adiknya. "Geure, ini rumah kita."
Sujin tidak tahu saja perkataan Minhyun benar adanya.
/MS/
Terkadang Sujin berpikir adiknya itu seperti orang yang datang dari masa lalu. Dari hobi, kebiasaan, dan seleranya terhadap sesuatu benar-benar kuno? Tapi satu yang Sujin yakini, jika Minhyun datang dari masa lalu, dia sudah pasti seorang bangsawan.
Bukan tanpa alasan, meskipun terlihat normal sebenarnya perilaku Minhyun berbeda dengan anak seumurannya. Ia tidak bisa menjelaskan letak perbedaannya, hanya saja ketika Minhyun melakukan sesuatu terasa aura yang berbeda meskipun ia melakukan hal yang sama dengan orang lain.
Satu hal yang Sujin ingat, di ulang tahun ke sembilan belasnya, Minhyun yg berumur 17 tahun memberikan hadiah berupa makan di restoran mewah. Restoran itu menyediakan makanan yang hanya Sujin tahu beberapa saja, tetapi Minhyun seperti sudah familiar dengan hal di sekelilingnya.
"Minhyun-ah, kau pernah kesini?"
"Tak pernah, ini pertama kalinya."
"Hafal dari mana cara reservasi sampai menunya? Kau baru 17 tahun, Min!"
"Aku punya caraku sendiri, Noona."
Ketika makanan utama datang Sujin tidak dapat menahan rasa kagetnya. Ia memelototi Minhyun yang memakan steaknya dengan tenang. Bahkan table mannernya pun sempurna, seperti bangsawan yang setiap harinya biasa memakan makanan mahal.
Sujin mulai memakan steak di depannya. Ketika potongan daging masuk ke mulutnya, rasanya ia ingin menangis. Rasanya lezat sekali.
Minhyun melihat raut wajah Sujin sambil tersenyum kecil. "Noona suka?"
"Suka sekali."
"Baguslah."
Tapi ketika pulang, Sujin mengomeli Minhyun ketika ia tahu berapa uang yang sudah ia keluarkan.
"Kalau nanti aku ulang tahun lagi belikan saja hanwoo yang terenak. Meskipun mahal tapi tidak segila restoran tadi."
"Iya, aku mengerti. Adikmu ini kan hanya ingin menjadi orang pertama yang mengajakmu ke restoran mewah. Aku sukses, kan?" Minhyun bertanya dengan mata berbinar.
Sujin menatap Minhyun yang berjalan di sampingnya. Tangannya bergerak mengusap pucuk kepalanya.
"Hmm... Gomawo."
/MS/
Sujin menunggu Minhyun di depan gerbang kampusnya. Ia ke Seoul untuk menghadiri pernikahan temannya. Ia sama sekali tidak memberi tahu adiknya tentang kedatangannya. Kejutan, pikirnya.
Sujin menghitung mahasiswa yang sejak tadi melewatinya, sampai ia bisa melihat siluet yang familiar.
Ketika sudah sampai jarak pandang, ia melambaikan tangannya. Minhyun terlihat kaget, tapi ia tersenyum.
"Kenapa tidak memberi tahuku?" Tanya Minhyun ketika sudah sampai di depan kakaknya.
"Kejutan?"
Minhyun berdecih, lalu melingkarkan tangan di tubuh Sujin memberikan pelukan singkat.
"Aku mau ke pernikahan temanku nanti lusa. Aku hanya ingin mengunjungi tempatmu sebentar. Aku menginap bersama teman-temanku." Papar Sujin.
"Ah, geure."
"Ya, kau pernah bilang padaku kau punya pacar. Kapan kau menunjukkannya padaku? Fotonya saja tidak kau berikan." Sujin menatap Minhyun tajam.
"Pacarku? Ahh... Ha... Ha... Ha..." Minhyun tertawa kikuk.
"Kau tidak ingin menunjukkannya padaku?"
"Siapa bilang, aku akan mengenalkannya padamu." Minhyun mengalihkan pandangannya ke arah jalan di depan kampusnya. "Itu dia!" Minhyun melambaikan tangannya pada Seonho.
Mata Seonho membulat panik, ia segera bersembunyi di balik mobil yang diparkir di pinggir jalan.
Sujin menoleh ke arah Minhyun melambai. Tidak ada siapapun.
"Slap!"
"Ya! Kau bercanda?"
"Slap!"
"Kau mau mati, ya?"
"Slap!"
"Beraninya berbohong padaku!"
Minhyun memegangi tubuhnya yang dipukul Sujin. "Aw.. ah... Aku tidak berbohong. Dia ada disana tadi!"
"Jangan mengada-ada!"
"A-annyeong haseyo..."
Sujin menghentikan pukulannya beralih pada suara yang menyapa. Seorang lelaki tinggi, tampan, berambut ash brown. Tapi entah mengapa ia memiliki kesan kekanakkan.
"Ah, ye. Annyeong haseyo..."
Minhyun berjalan ke samping Seonho merangkulnya erat sambil tersenyum lebar.
"Perkenalkan, aku Yoo Seonho. Teman..."
"Pacar!" Minhyun melotot pada Seonho di rangkulannya.
Seonho mencubit pinggang Minhyun sambil melotot balik.
"Ah, nde. Aku kekasih Minhyun hyung. Senang bertemu denganmu, Hwang Sujin-ssi." Seonho membungkuk.
"Ah, ye..." Sujin masih belum bisa berkata-kata. Terlalu kaget dengan kemunculan Seonho. Ia memperhatikan Seonho dari atas ke bawah. Dan dia pun merasa bodoh ketika menyadari Seonho memakai seragam. Itulah kenapa dia memberikan kesan kekanakkan. Karena dia anak-anak!
"MWO??!!!"
Seonho tersentak mendengar Sujin berteriak.
"Ya! Hwang Minhyun! Kita harus bicara!"
/MS/
Seonho memotong-motong sayuran di depannya. Ia kini memasak di apartemen Minhyun. Sujin dan Minhyun berbincang di ruang tengah.
Sepanjang perjalanan ke apartemen Minhyun di mobil tadi Sujin menginterogasi, maksudnya menanyakan semua tentangnya. Termasuk bagaimana ia bertemu dengan Minhyun dan memulai hubungan. Tentu saja ia melewati bagian ia mengingat kehidupan sebelumnya dan fakta Minhyun yang memang mengingatnya juga.
Seonho berpikir Sujin yang sekarang terlihat lebih ceria, lebih santai, dan lebih kasar mungkin. Wajar saja lingkungan ia dibesarkan berbeda dengan di masa lalu. Tapi ia tetap kakak yang penyayang. Seonho lega noonanya itu sudah menjadi wanita dewasa yang mandiri, cantik tentu saja. Kecantikannya tidak berbeda dengan yang Seonho ingat. Dia tetap menjadi putri cantik yang hangat.
Seonho tersenyum mendengar perbincangan kakak-adik di ruang tengah.
'Ah, aku jadi kangen Lin-ah.'
/MS/
"Jadi benar kau bertemu dengannya di Hills?" tanya Sujin.
Minhyun mengangguk malas. "Hmm."
"Jadi siapa yang suka duluan?"
"Hmm? Ah, itu... aku." Minhyun tersenyum kecil. Dimana pun kapan pun selalu dia yang jatuh pertama. Well, pesona Seonho memang tidak terelakkan.
"Yang mengajak pacaran?"
"Seonho." Ya, meskipun tidak bisa dibilang mengajak pacaran, sih. Tapi setidaknya yang mendeklarasikan hubungan mereka pertama kali, ya Seonho.
Sujin membulatkan matanya. "Wahh, kau memang luar biasa Hwang Minhyun. Aku tahu kau tipenya memang yang imut-imut. Tapi aku tak menyangka kau memacari anak-anak sungguhan."
"Dia bukan anak-anak. Dia sudah SMA."
"Tetap saja, masih anak-anak!"
'Yah, setidaknya dia anak yang manis.' Pikir Minhyun sambil menghela nafas panjang.
"Tapi kau hebat juga dapat yang begitu. Dia bisa memasak. Skill memasakmu kan payah."
"Jangan mengingatkanku, aku tahu."
"Kau bahkan mencuci beras dengan detergen."
"Geumanhae."
"Lalu menyalakan rice cooker tanpa menambahkan air."
"Noona, geuman."
"Kau memecahkan telur, tapi sebagian besarnya jatuh ke lantai."
"Noona..."
Setelah itu Sujin tertawa terbahak-bahak.
Telinga Minhyun memerah, ia memang tidak pernah terlepas dari sasaran blackmail kakaknya.
'Ah, jinjja! Kenapa aku punya kakak seperti ini?'
/MS/
Minhyun memberikan mug berisi coklat panas pada Seonho yang sudah duduk di couch menghadap ke jendela besar yang menunjukkan suasana malam kota Seoul.
"Thank you."
"Anytime."
Minhyun duduk di sampingnya sambil menyesap coklat panasnya. Mereka berdua saling berdiam diri menatap pemandangan di depan. Bukan diam yang menyesakkan. Suasana diam yang nyaman yang bisa dirasakan dengan seseorang yang mengerti tentangmu.
"Apa kita akan baik-baik saja?" Suara Seonho memecah keheningan.
Minhyun menatap Seonho di sampingnya. Matanya terlihat blank menghadap ke depan, tapi tangannya yang memegang mug terlihat bergetar.
Minhyun mengambil mug di tangan Seonho dengan hati-hati, meletakkannya di meja kecil di sampingnya.
Minhyun menangkup wajah Seonho membuatnya menatap wajahnya. "Dengarkan aku baik-baik. Kita akan baik-baik saja. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Cerita kita di masa lalu tidak menentukan kita yang sekarang. We love each other. I'm happy with you. Our second meet is a blessing for me. I will be the happiest person if you feel the same. Just remember that, hmm?"
Seonho mengangguk. Ia menenggelamkan kepalanya di dada Minhyun. Melingkarkan tangannya erat di pinggang yang lebih tua. "I'm happy now. With you, here."
Minhyun memeluk erat Seonho, memberikan kecupan di pucuk kepalanya. "I'm glad."
"Sorry."
"What for?"
"For make you remember the past..."
"Don't mind it, it's worth it." Seonho menarik dirinya. Memberikan kecupan di rahang Minhyun. Minhyun membalasnya dengan kecupan singkat di dahi.
"Oh ya." Minhyun memberikan ponselnya pada Seonho. Memperlihatkan chatnya dengan Sujin. "Coba lihat ini."
Sujinie Noona
'Minhyun-ah'
'Kau harus melamarnya ketika ia lulus. HARUS!'
Me
'Iya, iya. Kau terlihat seperti akan menangis memakan masakannya tadi.'
Sujinie Noona
'Sumpah, itu seperti makanan dari surga. Aku merasa terberkati.'
Me
'Kau berlebihan, Noona.'
Sujinie Noona
'Sungguh! Kau tahu aku jujur, kan?'
Me
'Hmm'
Sujinie Noona
'Aku berharap kau akan selalu bahagia dengannya. Long last,too...'
Me
'Hmm, thank you.'
Sujinie Noona
'I never see you that happy in my life. You two seem sparkling? Shining? You become the happiest with him. I hope that you always like that with him.'
Me
'Thank you. You're the best! Kau harus menyusul temanmu juga, noona. Coba gencar memberi kode, dong ke Aron.'
Sujinie Noona
'Yah, kau dong yang bilang padanya, kkk.'
Seonho tersenyum membaca chatnya. "Soojin noona memang terbaik. Dia tidak berubah. Dia selalu mendukung kita." Seonho menatap Minhyun. "Aku kaget, tahu. Dia tiba-tiba ada di depanku. Aku belum ada persiapan."
Mihyun mengangkat bahunya."Ya, mana ku tahu. Dia tiba-tiba muncul di depanku, tanpa pemberitahuan. Jadi aku tidak bisa memberi tahumu."
"Tapi aku senang bertemu dengannya. Dia benar-benar cantik, dan baik juga. Sepertimu." Seonho tersenyum lebar.
"Hmm, tentu saja." Minhyun bergumam setuju.
"Yah, Minhyunie, bagaimana kalau kau mengubah warna rambutmu?" Senho berbalik menatap Minhyun dengan mata berbinar.
"Untuk apa?" Dahi Minhyun mengerut.
"Aku ingin melihatnyaaa. Kau tampak membosankan." Seonho menggenggam tangan Minhyun. "Eung? Eung?"
Minhyun memelototi Seonho yang menyengir tidak berdosa di depannya. Ia menghela nafas. "Baiklah. Warna apa?"
"Platina!"
"No way!"
"Aahh, tapi kan kau tampan sekali dengan rambut platina. Kau paling seksi juga dengan rambut itu!" Rajuk Seonho.
Telinga Minhyun memerah. "Jangan bilang begitu..."
"Memang benar kok!"
"Baiklah aku akan mengubahnya."
"Yes!"
"Tapi bukan platina."
"Yaaaahhh... Kau tidak seru!"
/MS/
"Bungoppangnya enak, lhoo." Seonho menggigit makanan di tangannya. "Hyung tidak mau?"
"Kau saja yang makan. Aku sudah kenyang melihatmu makan."
"Hmm, baiklah."
Mereka berdua sedang berjalan di pinggiran sungai Han di Sabtu sore itu. Kata Minhyun sih namanya jalan-jalan alias hangout, kalau kata Seonho namanya date dengan kata lain kencan. Minhyun mengiyakan saja, yang penting mereka jalan berdua.
"Seonho-yaa!!"
"Huh?" Seonho menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Terlihat seorang lelaki dengan rambut brunette melambaikan tangan padanya dengan semangat.
"Lee Daehwi!" Seonho berjalan menuju Daehwi memberikan pelukan singkat.
"Ya, kau disini juga? Dengan siapa?" Tanya Daehwi.
"Aku dengan Minhyun hyung."
"Ahhh."
Minhyun berjalan menyusul Seonho. "Temanmu?"
"Eum."
"Ah, annyeong haseyo. Aku Lee Daehwi. Sunbae Seonho di sekolah, senang bertemu denganmu." Daehwi membungkuk.
"Ah, nde. Aku Hwang Minhyun. Kau pasti sudah tahu dari Seonho."
Daehwi tersenyum cerah. "Geuromnaeyo, dia banyak cerita tentangmu."
"Kau sendiri saja kesini?" Tanya Seonho.
"Ah, tidak. Aku bersama-"
"Minhyun-ah!" Minhyun mengangkat kepalanya menghadap ke asal suara. Terlihat laki-laki berbadan besar, dengan potongan rambut cepak. Dia tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya.
"Oh? Dongho?!"
Ternyata Dongho dan Minhyun saling mengenal. Mereka adalah teman semasa SMA yang dekat sampai sekarang, bersama dua orang lainnya mereka selalu meluangkan waktu untuk berkumpul berempat.
Dan akhirnya mereka pun double date.
/MS/
"Yah, kau tidak bilang kalau akhirnya kau jalan dengan tetanggamu dari kecil itu." Minhyun berkata sambil menyenggol tangan Dongho yang duduk di sampingnya.
"Belum sempat."
"Alasan."
"Tapi aku tidak menyangka pacarmu ternyata temannya Daehwi. Aku sering bertemu dengan Seonho kalau dia main ke rumah Daehwi." Papar Dongho.
"Yah, dunia memang sempit." Minhyun menatap Seonho dan Daehwi yang sedang bersepeda di depan sana.
"Kapan-kapan kita harus hangout berenam dengan Jonghyun dan Minki. Sekalian mengenalkan mereka juga." Usul Dongho.
"Hmm, ide bagus." Minhyun tersenyum tipis. "Mereka pasti terkejut."
"Pastinya."
Seonho dan Daehwi berjalan ke arah mereka berdua dengan dua es krim di tangan mereka.
"Nih, hyung. Es krim stroberi yogurt." Daehwi menyodorkan es krim pada Dongho.
"Emm, gomawo. Sini duduk." Dongho menarik tangan Daehwi untuk duduk di sampingnya.
Seonho memberikan es krim pada Minhyun, yang dibalas dengan senyum tipis. Seonho duduk di sampingnya sebelum memakan es krimnya.
"Bagaimana main sepedanya? Seru?" Tanya Dongho.
"SERU!!" Jawab Seonho dan Daehwi berbarengan.
"Nanti kita kesini lagi kalau begitu." Kata Minhyun sambil mengusap kepala Seonho.
"Pasti menyenangkan." Kata Daehwi di sela-sela memakan es krimnya.
Mereka berempat berdiam di sana sampai matahari tenggelam di ufuk barat.
/MS/
"Bukan Pengemis Cinta"
DaehwiLee
'Coba kau ikut juga Bae, pasti seru'
128Seon
'Hmm, pasti seru bareng Lin dan Jihoon sunbae juga'
Baebae05
'Kapan-kapan kalau begitu'
Jinyoung mengunci ponselnya sebelum menyimpannya di meja belajarnya. Ia segera membawa tumpukan selimut yang sudah ia siapkan ke ruang keluarga.
Senyumnya terkembang melihat pemandangan di depannya. Jihoon yang terkantuk-kantuk dengan kepala Guanlin di pangkuannya yang sudah tertidur.
Jinyoung menyelimuti Guanlin sebelum memberikan kecupan di dahi. Ia segera memposisikan diri di samping Jihoon, menyelimuti tubuh mereka berdua sampai ke leher.
Jihoon menyandarkan kepalanya ke bahu Jinyoung. "Ngantuk."
"Tidurlah."
"Hmm." Jihoon menengadahkan kepalanya menatap wajah Jinyoung. "Kau juga." Jihoon memberikan senyum mengantuknya.
Jinyoung menatap Jihoon dengan senyuman di wajahnya. 'Cute' pikirnya. Ia memiringkan kepalanya memberikan kecupan di sudut bibir Jihoon. "Good night, Hyung."
"Hmm... Night, sayangku." Kata Jihoon setengah sadar.
Jinyoung segera menutup matanya, menyusul Guanlin dan Jihoon yang sudah ke alam mimpi.
'Aku bahagia seperti ini.' Pikir Jinyoung sebelum kesadarannya menghilang.
/MS/
Seonho mengunci ponselnya sebelum memasukkannya ke saku.
"Siapa?" Tanya Jinyoung.
"Minhyun hyung. Dia bilang sudah menungguku di depan."
"Oh, benarkah?" Kata Jinyoung. "Ciee, pertama kali dijemput nih."
"Ih, benar juga. Kapan aku dijemput Dongho hyung..." kata Daehwi sambil mengerucutkan bibirnya.
Mereka bertiga berjalan ke arah gerbang sekolah. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu.
Ketika sudah dekat gerbang, terlihat lelaki tinggi dengan rambut auburn dengan masker di wajahnya melambaikan tangan ke arah mereka bertiga. Seonho tersenyum cerah, segera mempercepat langkah kakinya mendahului Jinyoung dan Daehwi.
Minhyun menarik maskernya ke bawah dagu, menunjukkan senyumnya pada Seonho yang beberapa langkah di depannya. Seonho menabrakkan diri, melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Minhyun.
"Miss you."
"Miss you, too."
Mereka berdua memang sudah beberapa minggu tidak bertemu. Hanya bertukar sapa lewat ponsel dikarenakan Minhyun disibukkan oleh ujian tengah semester.
Seonho menarik dirinya dari pelukan Minhyun. "Kau mengubah rambutmu?"
"Hmm, ottae?"
"Bagus, kau tampak segar. Ah, tampannya." Seonho menangkup wajah Minhyun sambil tersenyum lebar.
"Eehhheemm! Uhhukhmmm... Hmmm." Suara deheman Daehwi yang sudah pasti dibuat-buat merusak momen ala-ala film India mereka berdua.
Seonho menjauhkan diri dari Minhyun, menghadap Jinyoung dan Daehwi yang sudah ada di dekatnya.
"Annyeong, Minhyun-ssi." Sapa Daehwi.
"Ah, ne. Daehwi-ya, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik."
Minhyun beralih pada anak di samping Daehwi. "Ah, kau pasti Jinyoung."
"Nde, Bae Jinyoung imnida. Senang bertemu denganmu, Minhyun-ssi." Jinyoung memperkenalkan diri.
"Jin-hyung ini pacarnya Lin, Hyung." Kata Seonho.
"Ahh, begitu rupanya." Minhyun menggangguk.
"Paman Min!"
"Huh?" Mereka berempat menoleh pada sumber suara. Terlihat anak berambut merah berlari ke arah mereka.
"Park Jihoon!" Minhyun memeluk Jihoon yang terengah setelah berlari.
"Paman?" Daehwi bergumam.
"Sejak kapan Jihoon hyung jadi keponakan Hwang Minhyun?" Jinyoung menyenggol tangan Seonho.
"Memangnya aku tahu!" Seonho menyenggol balik tangan Jinyoung.
"Mau apa paman ke sini?" Tanya Jihoon setelah melepaskan pelukannya.
"Aku menjemput Seonho."
"Huh? Paman kenal dengan Seonho?" Tanya Jihoon heran.
"Dia... kekasihku." Kata Minhyun sambil tersenyum malu.
"Oh! Jinjja?! Wah, kau akan segera jadi keluargaku kalau begitu. Hmm, Yoo Seonho."
"Ahh, ne." Seonho yang masih bingung menjawab seadanya.
"Minhyun-ssi ini pamanmu sunbae?" Tanya Daehwi.
"Em! Dia adik sepupu ibuku. Kami terakhir kali bertemu chuseok tahun kemarin."
"Ah, begitu ternyata."
"Oh, ya Paman. Jinyoungie ini pacarku." Daehwi, Jinyoung, dan Seonho melotot mendengar perkataan Jihoon.
"Hah? Tapi Jinyoung-ssi itu pacarnya Guanlin?" Minhyun mengerutkan dahinya.
Jinyoung membuka mulutnya. "Ah, ya sebenarnya..." Ia menutup matanya, merutuki Jihoon dalam hati.
"Guanlin juga pacarku." Jihoon berkata santai mendahului Jinyoung.
"What?" Minhyun berkata tak percaya. "Kids these days." Minhyun berdecak terkagum campur heran.
Jihoon menyengir tak berdosa, sementara Jinyoung meringis malu.
"Ahhaahaahaa..." Seonho tertawa canggung. "Sepertinya aku dan Minhyun hyung harus duluan. Sampai ketemu nanti." Seonho menarik Minhyun.
"Oohh, sampai ketemu nanti Jihoon-ah." Minhyun berkata sambil menolehkan kepalanya ke belakang karena Seonho sudah melangkah cepat sambil menariknya.
"Hati-hati di jalan." Jihoon melambaikan tangannya.
"Uhh, aku juga sepertinya harus segera pulang." Kata Daehwi. "Aku duluan, Jinyoung-ah, Jihoon-sunbae." Daehwi segera mengambil langkah seribu dari mereka berdua.
Jinyoung menempelkan dahinya pada bahu Jihoon. "Aku malu..."
"Lho, kenapa harus malu?" Tanya Jihoon sambil merangkul Jinyoung.
"Hyung, sih! Malu-maluin aja!" Jinyoung mengangkat kepalanya tiba-tiba. Untung Jihoon sudah menjauhkan kepalanya, kalau tidak hidung cantiknya bisa berdarah ditabrak kepala kecil pacarnya.
Jinyoung menghentakkan kakinya. "Sebel ah, sama Hyung!" Jinyoung melangkahkan kakinya lebar-lebar meninggalkan Jihoon.
"Malu-maluin dari mananya? Aku tampan begini, kan?" Jihoon bergumam sendiri.
"Jinyoungie! Tunggu aku!"
/MS/
Seonho membuka matanya, tersenyum melihat pemandangan di depannya. Wajah tidur Minhyun yang tenang dengan nafas teratur.
Seonho menelusuri fitur wajah kekasihnya dengan matanya. Dahinya sempurna, alisnya... yah meskipun hampir tidak beralis tetap yang terbaik, matanya cantik bahkan saat tertutup, bulu matanya meskipun tidak panjang sekali atau lentik tetap pas, hidungnya akan Seonho berikan nilai penuh, pipinya halus tempat favorit tangan Seonho menempel, philthrumnya cantik, philthrum paling cantik yang pernah Seonho lihat langsung, dan bibirnya... well, cantik juga. Bibir atasnya membentuk m sempurna meskipun tidak tebal, bibirnya tetap yang terbaik, terasa meng-
"Tampan, kan?" Bibir yang diperhatikan Seonho bergerak.
Seonho tersenyum menatap mata Minhyun yang masih tertutup, sebelum membukanya perlahan.
"Terlalu pagi untuk mabuk oleh wajahku, hmm..."
"Can't help it. Still going awe by your beauty." Seonho tersenyum cerah.
"The same goes for you." Minhyun berkata sebelum memajukan kepalanya memberikan lumatan singkat di bibir Seonho.
"Yah." Seonho memukul bahu Minhyun pelan. "Aku belum sikat gigi..."
"Can't help it. Your lips is too tempting." Minhyun mengangkat satu sudut bibirnya.
Seonho menarik ujung selimutnya menutupi sebagian wajahnya, hanya matanya yang terlihat. Wajahnya terasa panas.
Minhyun terkekeh pelan, memberikan kecupan di dahi Seonho. "Good Morning, baby."
"Mornin'." Jawab Seonho teredam oleh selimut.
"Yah, kenapa kau malu-malu begitu? Biasanya juga malu-maluin."
"Aku tidak." Seonho akhirnya menarik selimutnya.
"Kau iya." Minhyun menarik Seonho ke pelukannya. "It's okay. You're cute, tho."
Seonho tersenyum di dada Minhyun sebelum mengangkat kepalanya. "Omong-omong... Kau benar-benar akan melamarku setelah aku lulus, Hyung?"
"Hmm, kalau kau mau."
"Mau, kok! Sekarang juga boleh!" Kata Seonho semangat.
"Jangan sembarangan begitu. Aku masih belum mau mengikatmu. Asalkan kau masih sayang padaku itu sudah cukup. Jika perlu aku akan menunggumu sampai lulus kuliah baru aku akan melamarmu. Jika di masa lalu kau berakhir denganku bukan berarti kau harus berakhir denganku juga sekarang, Seonho-ya. Aku takut tidak bisa membahagiakanmu, jadi selagi kau bisa carilah kebahagianmu sendiri. Jika kau merasa paling bahagia denganku dan ingin berada di sisiku, aku akan selalu menerimamu kapanpun." Minhyun mengelus pipi Seonho, matanya terpaku pada mata Seonho. "Aku sudah menunggumu selama 23 tahun, menunggumu lagi selama tujuh tahun tidak ada apa-apanya bagiku."
Seonho membuka mulutnya. "Kau tidak percaya padaku?" Tanyanya lirih.
"Aku percaya padamu. Sangat percaya. Tapi aku tidak ingin membuatmu terikat denganku. Aku ingin kau yakin dulu dengan hatimu. Sekarang kau merasa yakin, tapi tidak dengan besok. Manusia selalu berubah, Yoo Seonho. Jika hatimu tetap padaku selama tujuh tahun. Aku akan segera melamarmu." Minhyun menggenggam tangan Seonho. "Aku berjanji."
Seonho meneteskan air matanya, menyadari betapa dalam perasaan lelaki di depannya. "Okay. Kita akan sama-sama menunggu, hmm?"
"Kau juga jangan memaksakan hatimu, hmm? Be honest, yeah?"
Seonho mengangguk. "Aku akan memberitahumu semuanya, perasaanku, tak akan ada yang kusembunyikan. Meski itu akan menyakitimu..." Air mata Seonho meluncur semakin deras. "Akan kulakukan."
"Bagus. Itu baru Yoo Seonho." Minhyun menghapus air mata Seonho dengan ibu jarinya. "Aku percaya padamu."
Seonho mengangguk. "Aku juga. Kau tahu aku akan berusaha tidak menyakitimu kan?"
Minhyun tersenyum. "Hmm, aku tahu."
"Love you." Seonho memajukan kepalanya mencium pipi Minhyun lama.
"Love you, too."
'Always.'
END
Author's Note:
Akhirnya selesai jugaaaaa...
Hutangku terbayar, dong ya. Maaf sekali buat yang sudah capek-capek nunggu. Updatenya malah tujuh bulan kemudian :".
Semester kemarin padat sekali, aku tidak bisa menemukan waktu untuk mencari inspirasi atau menuangkan ideku dalam bentuk tulisan.
Akhirnya terbayar ketika liburan semester. Semoga tidak mengecewakan, yaaa. Aku berharap readers yang membaca akan puas.
Kalau belum puas, timpukin aja authornya di review box. Aku terima, kok :"
Makasih banget yang udah capek-capek baca sampai a.n. Mau yang sider, yang pernah review, atau yang selalu review, dan yang sampai follow and favorite ficnya atau authornya, makasih banyak.
Semoga aku bisa terus nulis dan menghibur kalian semua.
P.S. Btw, gaya rambut Minhyun itu kaya pas jaman tahun 2014, I'm bad era itu. Tapi warna rambutnya yang i'm promise you era. Ganteng, kan? Ganteng, dong. ;)
