Halo~ Saya masih hidup dan ya, saya kembali X"D
Agak kaget tapi seneng karena ternyata banyak yang review ini, makasih semuanya~ Makasih juga yang udah baca dan follow dan fave, semuanya deh :")) Maaf atas update yang super lama, I don't have any excuse orz. Well assignments have been pilling up and haven't finished my costume for next Monday and well, I've been procrastinating too… Tapi semoga masih ada yang nungguin update-an fic ini ya www
Sankyu juga buat fanshikai & seerblood1800 yang udah nyempetin baca dan review~ Chapter 2-nya sudah disini jadi silahkan dibaca!
Anyway, douzo!
Words count: 3020 words
Rate: T, possible to change as the story develop
Warning: typo(s); chara(s) death; possibly OOC; alternate timeline; possibly BL/shonen-ai
Summary: Dua orang pemuda, mantan musuh bebuyutan, yang kini berusaha menyesuaikan diri untuk tinggal bersama, dengan masa lalu dan masalah masing-masing. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kaito? Apa mereka berdua bisa hidup rukun bersama?
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Disclaimer:
Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho
The story belongs to me
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Now, let the story begins...
o.O.O.o.o.O.O.o
Chapter 2
-2nd Chance-
[Shinichi's POV]
Jam di layar ponselku menunjukkan kurang 23 menit sebelum tengah malam saat aku sampai di depan rumahku. Kasus pembunuhan yang baru saja terjadi itu tidak terlalu rumit sebenarnya, hanya saja kami telat beberapa menit dan si pelaku yang merasa bahwa perbuatannya telah ketahuan itu memanfaatkan selang waktu itu untuk kabur. Terpaksa kami harus mencarinya keliling kota, menyusuri setiap tempat yang mungkin dijadikan sebagai tempat pelariannya. Dan setelah berhasil menangkapnya pun masih ada berkas-berkas yang harus diurus sebelum akhirnya kami diperbolehkan pulang. Melelahkan, tapi tak dapat kupungkiri kalau aku merasa pekerjaan ini juga menyenangkan.
Tak ada cahaya dari dalam rumah. Pintu depan juga terkunci. Sepertinya KID- maksudku Kuroba, sudah tidur. Yah tentu saja, tak ada alasan untuknya terjaga sampai selarut ini. Setelah mengunci kembali pintu depan dan menyampirkan jas dan meletakkan tas seenaknya di sofa ruang tamu, aku melangkahkan kaki ke dapur. Aku kehausan. Secangkir kopi hangat sepertinya enak, tapi gawat kalau sampai aku jadi tidak bisa tidur karenanya maka kubatalkan niatku. Air putih saja cukup.
Aku melangkah menuju kulkas, berniat mengambil sebotol air putih. Saat itulah aku merasakan ada orang yang mengawasiku. Aku tak menyalakan lampu saat masuk tadi sehingga ruangan ini pun masih gelap seperti ruangan lainnya di rumah ini. Meskipun begitu, instingku mengatakan bahwa ada seseorang yang tengah berada disana, mengawasiku. Melirik ke arah dimana tampak siluet yang lebih pekat dari kegelapan ruangan ini, aku memicingkan mata, balik mengawasinya.
"...Kuroba?" ujarku, setengah memanggil dan setengah menebak.
Sosok itu tampak melangkah mendekat sementara tangannya meraba-raba dinding, mencari saklar lampu.
Aku harus sedikit memicingkan mata saat lampu dinyalakan karena cahaya yang terlalu terang tiba-tiba menyerbu mataku yang dari tadi terbiasa di kegelapan. Tapi dugaanku benar, yang berdiri disana adalah KID– Kuroba Kaito, yang entah kenapa tampak tegang dan was-was. Butuh beberapa saat baginya untuk mengenaliku dan merespon panggilanku, .
"Tantei-kun," tanpa sadar ia menghela napas lega. Ketegangannya tampak perlahan memudar. "Kau mengagetkanku."
"Harusnya aku yang bilang begitu," ujarku sengit. Aku kembali membalikkan badan, sekarang secangkir kopi tampak lebih menggoda.
"Kau mau kopi?"
Kudengar suara kursi ditarik dan suara 'plop' saat kursi itu diduduki sebelum mendengar jawabannya, "Boleh. Sudah lama aku tidak merasakan secangkir kopi panas."
Aku hanya bergumam mengiyakan dan melanjutkan membuat secangkir lagi kopi. Tidak ada suara lain selain denting sendok yang beradu dengan cangkir. Dan ketika aku duduk di seberangnya dengan secangkir kopi di depan kami, aku bisa melihat kalau wajahnya terlihat lebih kacau daripada saat kutinggalkan tadi. Aku langsung meminum kopiku sementara ia masih terlihat ragu-ragu mengambil cangkir kopi di hadapannya.
"Geh– pahit," ia refleks mengerutkan mukanya dan menjauhkan cangkir kopi dari mulutnya. Aku hanya nyengir dan kembali menyesap kopi hitam kesukaanku.
"Kau tidak bilang mau yang manis 'kan?"
Ia menggerutu mendengar tanggapanku. Aku hanya tertawa kecil.
"Tambahkan saja gula atau susu," ujarku seraya mengisyaratkan ke arah lemari dapur dengan daguku.
Dengan canggung ia membuka satu per satu lagi untuk mencari toples gula, masih dengan agak menggerutu.
"Kenapa kau terbangun tengah malah begini? Karena mendengar aku datang? Atau karena mimpi buruk?" tanyaku sambil melirik ke arahnya. Kafein sudah agak mengurangi lelahku. Tapi pertanyaan main-main yang kulontarkan ternyata tampak cukup menusuknya. Tubuhnya tampak menegang, gerakannya terhenti beberapa saat, tapi semua itu berlangsung dalam waktu singkat. Jika tidak terbiasa mengamati hal-hal kecil semacam itu mungkin hal itupun akan luput dari pengamatanku. Namun aku menahan diri untuk tak berkomentar apa-apa.
Ia berhasil menemukan toples gula dan menambahkan beberapa balok gula ke dalam kopinya, menyesapnya untuk memastikan rasanya sudah pas, dan kembali duduk di depanku. Disaat kukira ia akan tetap diam dan mengabaikan pertanyaanku begitu saja, ia membuka mulut.
"Hanya melihat mimpi yang sama yang menghantuiku hampir tiap malam. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku masih selalu gemetaran setelah melihat mimpi yang sudah berkali-kali kulihat," ia tertawa, tawa yang terdengar ditujukan untuk dirinya sendiri
"Mungkin karena berapa kalipun mimpi itu terulang, teror dan kesedihan yang terpancing olehnya tetap sama," aku mencoba memberikan jawaban yang sekiranya dapat memberikan sedikit kelegaan karena satu pertanyaannya terjawab. Namun ia hanya tersenyum, separuh sinis dan separuh muram.
Keheningan kembali mengambil alih. Kopi yang terasa hangat ditenggorokan kami seakan menjadi satu-satunya yang peduli pada kami sementara pikiran kami melayang jauh menembus lembaran tahun yang telah berganti.
Delapan tahun yang lalu, sebuah 'perang' yang tak diketahui publik terjadi. Di Tokyo banyak korban yang berjatuhan, kekacuan menyebar, tapi pemerintah berhasil menutupinya dengan baik. Bertindak seakan semua peristiwa itu tidak berhubungan satu sama lain. Bahwa peristiwa-peristiwa itu bukan aksi terorisme tetapi hanya kejahatan lokal biasa. Mungkin memang itu tugas pemerintah, memastikan tidak terjadi kepanikan di masyarakat, memastikan bahwa meskipun terjadi kegagalan masyarakat tak perlu tahu. Dan, mengorbankan orang lain sebagai pengalih perhatian. Penangkapan Kaitou KID merupakan salah satunya.
Sayangnya aku tidak benar-benar tahu keadaan pasca kekacauan itu, karena aku tergeletak tak sadarkan diri di rumah sakit selama hampir 2 minggu, koma. Tapi dari informasi yang kudapatkan setelahnya, KID sendiri juga ikut merasakan 'perang' itu, sebelum ia tertangkap. Tapi aku tak akan bertanya soal itu, tidak sekarang.
"Aku besok libur," ujarku akhirnya. "Apa perlu kuantar kesana?"
Ia mengalihkan perhatiannya dari cangkir kopinya ke arahku, menatapku dengan penuh pertanyaan. "Kemana?"
"Kau belum sempat kesana kan? Untuk menjenguk ibumu."
Ia terdiam, memproses kata-kataku sebelum akhirnya meng-'oh' pelan. "...kalau kau tidak keberatan," jawabnya dengan senyum kecil.
Aku mengangguk. "Tapi berhubung mobilku sedang rusak, mau tidak mau kita harus kesana dengan jalan kaki."
Kuroba tersedak. Aku hanya mengangkat alis, heran.
"Kau sudah punya mobil?! Sepertinya karirmu sukses ya? Apa menjadi detektif swasta sebegitu menjajikan?" tanyanya dengan cengiran lebar. Aku tidak tahu itu hanya poker face kebanggaannya atau ia benar-benar telah berhasil mengendalikan diri dari depresinya, dan aku tak terlalu peduli sebenarnya.
"Anggap saja begitu. Dan aku detektif polisi, tau," sanggahnya dengan tak acuh dan lanjut menyesap kopiku.
Dan ia tersedak untuk kedua kalinya. Aku hanya menatapnya, menunggu respon darinya.
"Tantei-kun jadi detektif polisi?! Tidak kusangka. Yah meskipun aku tau kau dekat dengan kepolisian dan sering membantu mereka, kukira kau akan lebih memilih menjadi detektif swasta atau detektif konsultan seperti Holmes kesayanganmu itu. Siapa sangka kau malah bergabung dengan kepolisian," ujarnya panjang lebar. Di tengah sindiran dalam ucapannya, terdengar pula keterkejutan dan kegeliannya. Sejujurnya aku tidak paham kenapa.
Aku memang pernah berpikir untuk jadi detektif swasta saja seperti katanya, atau seperti saat SMA dulu, tapi setelah semua yang terjadi kupikir tak ada salahnya membantu meningkatkan kinerja polisi. Pihak kepolisian juga telah sejak lama mengharapkanku bergabung dengan mereka. Jadi begitulah, aku menjadi seorang detektif polisi sekarang. Dan kini dengan pangkat yang cukup tinggi setelah lebih dari 3 tahun bergabung.
"Menurutku tidak ada yang aneh dengan itu KI- Kuroba," ujarku seraya memutar bola mata. Ia masih terus memandangiku dengan cengiran lebar.
Kopi kami habis tak lama kemudian. Kelelahan kembali menyerangku. Tubuhku sudah sangat merindukan empuknya kasur setelah seharian berlari kesana kemari. Kuroba juga tampak lebih baik sekarang. Kulirik jam di atas kulkas, sudah hampir dini hari. Beberapa jam lagi matahari sudah terbit. Aku butuh tidur, sekarang juga. Kuharap kafeinnya tidak terlalu bekerja malam ini, karena walaupun mataku terbuka lebar, tubuhku masih merajuk meminta istirahat.
"Lebih baik kita tidur sekarang dak memikirkan rencana untuk besok setelah mendapat cukup tidur," ujarku seraya beranjak dari kursiku. Kuletakkan cangkirku di bak cuci piring lalu keluar dari dapur dengan gumaman 'selamat tidur', yang dijawab dengan 'selamat tidur, Tantei-kun' oleh Kuroba.
Aku menuju kamarku, mengganti baju dengan kaus dan celana pendek dan langsung merebahkan diri di atas tempat tidur yang kurindukan. Dan tak butuh waktu lama bagiku untuk tenggelam ke alam mimpi.
[Kaito's POV]
Aku beranjak dari tempatku tak lama setelah Tantei-kun pergi tidur -setelah aku mendengar ia menutup pintu kamarnya, lebih tepatnya. Pikiranku masih memikirkan tawaran Tantei-kun tadi. Benar katanya, aku belum pernah kesana. Dan 8 tahun sudah berlalu sejak saat itu. Memang benar aku telah mendengar apa yang terjadi, merasakannya- tapi aku tak pernah melihat buktinya. Apa aku siap melihat fakta itu terpampang di hadapanku, mengancam menggores luka batin yang bahkan belum sembuh sampai sekarang?
Kucoba mengalihkan pikiranku ke hal lain. Mencuci cangkir-cangkir bekas kopi ini, contohnya. Tapi pengalih perhatian ini tak bertahan lama. Memangnya bisa berapa lama mencuci dua cangkir?
Aku menghela napas berat. "Mungkin aku harus mengikuti saran Tantei-kun untuk tidur," gumamku tanpa sadar.
Perlahan aku melangkahkan kaki kembali ke kamarku. Hah, sudah delapan tahun sejak aku punya kamar sendiri. Entah kenapa hal itu terdengar lucu bagiku. Setelah menutup pintu dan mematikan lampu, aku hanya berbaring di atas tempat tidur, memandangi langit-langit yang warnanya tidak dapat terlihat karena gelap. Tempat ini sunyi dan gelap, tapi dengan aura yang sangat berbeda dengan penjara tentunya. Disana udaranya selalu terasa menyesakkan, kotor, tegang- dan yang lainnya yang berusaha untuk kuhiraukan selama terkurung disana. Membandingkan keadaan disana dan kenyamanan disini membuatku terlena, sampai tanpa sadar aku telah kembali terlelap.
o.O.O.o.o.O.O.o
Aku terbangun oleh sinar mentari yang menerobos dari jendela yang tak tertutup tirai. Rasanya aneh. Mungkin karena sudah 8 tahun tidak pernah bangun pagi karena terganggu oleh sinar matahari? Biasanya aku terbangun oleh suara orang-orang lain yang juga baru saja terbangun, atau karena bel tanda waktu bangun pagi terdengar, kadang juga karena teriakan para sipir untuk membangunkan para tahanan. Yah meskipun aku lebih sering terbangun sebelum bel berbunyi maupun orang lain terbangun, karena aku merasa tidak nyaman untuk tertidur sementara ada kemungkinan diserang. Dan percayalah, hal itu bukan sesuatu yang tidak biasa, terutama jika teman seselmu tidak menyukaimu.
Melirik jam yang ada di dinding- jamnya mati. Tentu saja, ruangan ini kan tidak terpakai dulu, Tantei-kun pasti tak peduli jam disini mati atau tidak.
Berusaha menepis rasa enggan untuk bangun, perlahan aku beringsut keluar dari hangatnya selimut. Rumah ini masih tetap sepi. Mengintip ke lantai atas, kulihat pintu kamar Tantei-kun masih tertutup. Kemungkinan besar ia masih tidur. Dan saat aku tengah bingung apa yang harus kulakukan, perutku memutuskan untuk memberiku petunjuk dengen berkeruyuk, cukup keras. Aku baru ingat aku belum makan sejak keluar dari penjara, dengan seharian kuhabiskan dengan tidur -dan menjelajah rumah sejenak- setelah ditinggal Tantei-kun. Jadi kuputuskan untuk melangkahkan kaki ke dapur. Sudah lama aku tidak memasuki dapur, dan bahkan sebelum itu pun aku hampir tak pernah ke dapur. Setidaknya aku bisa membuat roti bakar, atau mungkin sandwich. Aku melihat beberapa roti di lacinya kemarin.
Dan ternyata isi kulkas Tantei-kun tidak bisa diharapkan. Memang ada beberapa buah di dalam, tapi tidak ada sayur. Tidak ada daging. Dan tidak ada ikan, untungnya. Hanya ada beberapa butir telur. Kurasa menu pagi ini cuma roti bakar, kalau begitu.
Aku baru saja menghabiskan roti-bakar-dengan-selai-coklat keduaku saat kulihat Tantei-kun datang dengan mata masih terpejam.
"Ohayou, Tantei-kun. Tidurmu nyenyak?" tanyaku riang. Tapi ia hanya melewatiku sambil menggumam 'kopi...'.
Mengangkat alis, aku mengamatinya mengutak-atik mesin kopi, lalu duduk di depanku dengan secangkir kopi hitam. Dan sepertinya mobil yang baru diisi bensin, ia terlihat lebih 'hidup' sekarang. Aku tak bisa tidak tertawa geli melihatnya.
"Jadi ternyata Tantei-kun tipe orang yang tidak bisa memulai aktivitasnya sebelum minum kopi, eh?"
"Ada masalah dengan itu?" jawabnya tak acuh seraya mengambil sepotong roti bakar di piring di hadapannya.
"Selai coklat?" tawarku, menyodorkan toples selai coklat.
"Terima kasih," gumamnya. Dengan cepat ia mengoleskan –banyak– selai coklat ke atas rotinya dan menumpuknya dengan roti lain. Ia tampak sangat menikmati sarapannya. Aku menunggunya selesai dengan membaca kemarin. Yah, berita-berita yang ada tak jauh berbeda dengan 8 tahun yang lalu. Tipikal sekali.
"Jadi? Sudah kau pikirkan?" tanya Tantei-kun tiba-tiba. Aku hampir bertanya apa maksudnya saat aku ingat pembicaraan kami semalam. Aku membalik-balik koran, berusaha menyembunyikan kegugupanku.
"Ya. Kalau kau tidak keberatan mengantarku kesana, tentunya," jawabku. Ia tersenyum, dan entah kenapa aku merasa senang melihatnya.
"Aku yang menawarkan untuk mengantarmu, mana mungkin aku keberatan kan? Baka."
"Mungkin saja kau berubah pikiran," sanggahku.
"Sayangnya dugaanmu salah."
"Yah mungkin karena aku bukan detektif sepertimu."
"Kuanggap itu sebagai pujian."
Aku tertawa geli atas adu mulut tidak penting itu. Rasanya sudah lama aku tidak bertingkah kekanakan begini. Dan tanpa sadar aku sudah bukan lagi murid SMA, aku sudah hampir 25 tahun sekarang. Kadang aku merasa waktu berjalan sangat lambat, tapi kadang -seperti saat ini- aku merasa waktu berlalu dengan cepat. Secepat roti bakar di hadapan kami habis, mungkin.
"Kau sudah mandi?" tanyanya.
"Nah, tentu saja belum. Aku tak bisa mengambil baju ganti karna kau masih tidur," jawabku santai.
"Ternyata kau masih punya sopan santun, padahal selama ini kau sering menerobos masuk dan mencuri permata sembarangan," katanya dengan rasa kaget yang dibuat-buat.
Aku mendengus. "Tidak sia-sia aku dipenjara selama ini 'kan?"
Dan sepertinya ia menganggap sarkasme itu lucu karena ia tertawa. Aku hanya memutar bola mata sementara Tantei-kun membersihkan meja, dengan masih tertawa.
"Mandilah dulu," ujarnya akhirnya, "Ambil saja baju yang kau suka dari lemariku."
Tidak dapat kusangkal bahwa aku senang mengetahui aku akhirnya bisa mandi di kamar mandi yang benar-benar kamar mandi, bukan sekedar bilik untuk mandi yang digunakan bergantian dan dengan waktu sangat terbatas.
"Kau bisa menyalakan air panasnya kalau mau," ia menatapku dengan cengiran lebar, jelas ia menyadari apa yang kupikirkan.
"Tch—" aku buru-buru memalingkan muka sebelum ia tahu aku merasa malu karena ia bisa dengan mudah membaca apa yang kupikirkan. Tampaknya aku harus kembali melatih poker face -ku, apalagi aku akan mulai tinggal dengannya. Aku hampir lupa betapa menyebalkannya detektif itu. Tunggu saja pembalasanku, Tantei-kun…
Ketika aku keluar dari kamar mandi, jam dinding di dapur menunjukkan bahwa sudah hampir satu jam berlalu. Aku bahkan tidak sadar telah berada selama itu di kamar mandi. Aku mencoba mencari Tantei-kun di kamarnya, tapi ia tidak disana. Ia tidak juga di dapur ataupun ruang tamu. Mungkin di ruang baca? Aku segera kesana, dan dugaanku benar.
"Oh, akhirnya kau keluar dari kamar mandi juga. Kukira kau berniat tidur disana," komentarnya saat menyadari aku memasuki ruangan.
"Aku lebih suka tidur di tempat tidur yang empuk. Tapi air panasnya memang benar-benar menyegarkan," jawabku santai.
Tantei-kun tampaknya tak berminat untuk membalasnya dengan kata-kata sinis lain. Ia mematikan laptopnya dan beranjak keluar ruangan, ke kamar mandi dugaanku.
Hanya butuh waktu sekitar 15 menit bagi Tantei-kun untuk mandi. Mungkin karena polisi terbiasa harus bekerja cepat? Yah, kami punya waktu lebih sedikit dari itu untuk mandi selama di penjara.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya seraya melirik lembaran yang ada di tanganku.
"Hanya membaca laporanmu. Tidak banyak kasus menarik," jawabku. Kuletakkan kembali kumpulan laporan itu di rak tempatku mengambilnya, tersusun rapi sesuai tanggal dibuatnya.
"Polisi tidak memilih-milih kasus untuk ditangani, baka."
"Ho? Sayang sekali ya."
"Setidaknya kami tidak direcoki oleh pencuri arogan sepertimu lagi."
"Apa itu artinya aku harus melakukan debut lagi?"
"Hah, aku tidak yakin kau bisa," ia melirikku. Tidak merendahkan, tapi seperti berusaha menarik keluar apa yang kusembunyikan. Aku tak ingin memperpanjang pembicaraan ini, jadi aku bergegas keluar dari sana, terus melewatinya menuju pintu depan.
"Bisa kita berangkat sekarang, Tantei-kun?"
Aku mendengar langkah kakinya tak lama kemudian. Dan kami pun mulai menelusuri jalanan yang lengang di hari Minggu pagi ini. Aku masih sedikit ingat jalanan yang kami lewati, tak jauh berbeda sejak bertahun-tahun yang lalu. Cuaca hari pertama di bulan September ini tak terlalu cerah. Bau musim panas telah semakin memudar, digantikan oleh hawa musim gugur. Angin yang berhembus cukup keras menerbangkan daun-daun yang berguguran kesana kemari.
"Jadi kenapa dengan mobilmu, Tantei-kun?" tanyaku, berusaha menghilangkan kegugupanku dengan memulai percakapan.
"Hah? Oh, aku membuatnya menyerempet pagar jalan saat mengejar pelaku yang kabur. Sialnya dia adalah seorang pembalap jalanan dan aku cukup kesulitan mengejarnya," jawabnya dengan sedikit rasa sebal, tapi terlihat jelas bahwa ia bangga berhasil menangkap pelaku itu pada akhirnya. Aku hanya bisa sweatdrop mendengarnya.
"Kau terdengar seperti pengemudi yang mengerikan, Tantei-kun," komentarku sambil melemparkan tatapan tidak yakin padanya.
"Bukan urusanku kalau kau tidak mau naik mobilku nantinya," jawabnya dengan sinis. Aku hanya tertawa.
Kami melanjutkan perjalanan diiringi cekcok ringan tentang berbagai hal kecil dan tidak penting. Sepertinya kami benar-benar tidak cocok bersama ya?
"Sudah kubilang ka—," ucapanku terpotong karena aku melihatnya tiba-tiba berhenti. "Ada apa, Tantei-kun? Mencium bau kasus?"
Ia hanya mengedikkan bahunya kea rah kiri, "Apa kau tidak ingin membeli sesuatu dulu?"
Aku melihat kea rah yang dimaksud, dan melihat sebuah toko bunga –yang tampaknya baru saja buka karena penjualnya tengah menyapu di depan toko– dengan papan bertuliskan 'Winter Bud' yang diukir dengan indah di atas pintunya. Ah, bunga. Benar juga.
Sang florist –seorang wanita paruh baya yang tengah menyapu itu– menyadari kedatangan kami dan menyapa kami dengan senyum hangat, "Ara, Keiji-san, selamat pagi. Silahkan masuk. Ada bunga yang anda inginkan, tuan-tuan?"
Bibi penjual bunga itu mengajak kami masuk ke dalam toko. Tantei-kun yang tampaknya mengenal bibi penjual bunga itu tengah mengobrol dengannya sementara mataku tak lepas dari warna-warni bunga yang ada terlihat memenuhi tempat itu. Sudah lama aku tidak melihat bunga-bunga seperti ini. Aku bukan seseorang yang menyukai bunga, tapi aku memang mengagumi bagaimana setiap bunga memiliki warna dan keindahannya masing-masing, dan bagaimana setiap bunga dapat mengungkapkan hal yang berbeda-beda.
'Dan bunga yang cocok untuk hari ini adalah…'
Tanganku otomotis terulur pada serumpun bunga berwarna ungu, bunga yang kurasa tepat untuk menyampaikan perasaanku.
"Hyacinth, tuan?" sang florist tersenyum ke arahku seraya berpindah ke belakang counter, siap menyiapkan bunga sesuai pesanan.
Aku mengangguk singkat, "Apa anda punya sweatpea juga? Dan beberapa tangkai mawar merah, kalau bisa…," ujarku dengan mata masih lekat menatap rumpun hyacinth ungu itu. Aku tak menyadari tatapan bersimpati yang diberikan Tantei-kun kepadaku, tak juga mendengarkan apa yang sang penjual bunga katakan. Otakku hanya mampu melihat bunga-bunga itu dan pesan yang tak mampu kusampaikan secara langsung.
Yang kusadari selanjutnya adalah bahwa kami sudah sampai di tempat tujuan kami, dengan sebuket bunga hyacinth ungu bercampur sweatpea dan beberapa tangkai mawar, tampak tidak cocok dengan cuaca mendung dan suasana muram tempat ini. Tapi apa peduliku? Mereka yang ada disini tidak bisa protes, mereka yang ada disini tak bisa apa-apa lagi.
Kakiku tanpa sadar melangkah ke tempat yang sudah kuhafal, tetapi yang terlihat di depanku beda dengan apa yang ada diingatanku. Kini tidak hanya satu nama yang terukir disana, tetapi tiga. Tiga orang keluarga yang kumiliki, semuanya ada di hadapanku. Perlahan kakiku melangkah mendekat, tanganku bergetar saat meletakkan buket bunga itu di altar. Berbagai emosi campur aduk, aku bahkan tak bisa membedakannya. Sedih, rasa bersalah, marah… Untuk beberapa saat aku hanya berdiri disana, seperti orang hilang. Tenggorokanku rasanya disumbat, dadaku sesak, dan detik selanjutnya pandanganku menjadi buram. Tanpa sadar air mata sudah berkumpul di pelupuk mataku, dan perlahan bergulir menuruni pipiku.
'Ayah… Ibu… Jii… Maaf," jeritku dalam hati.
.
To be continued
.
Well that's it! Akhirnya saya bisa nulis fic yang lebih dari 2k words wwww *terharu* Ngomong-ngomong, ada yang ga bisa buka ffn lewat hp kaya saya juga engga ya? TwT) Oh ya, udah bisa nebak Kaito ada dimana kan? Ada yang tau maksud bunga yang dipilih Kaito? Kalau belum nantikan di chapter berikutnya~! /desh
Anyway terima kasih bagi yang udah menyempatkan baca~ Bagaimana bagaimana? Chapter ini engga mengecewakan kalian kan? Tehehe. Ditunggu kritik/saran/pesan/kesan/curahan hati(?) kalian soal chapter ini di review ya! Matta ne ^^)/ *kembali menyelam ke tumpukan tugas*
