Wah, udah setahun saya ga update fic :"3 /dibuang/ Sankyu buat yang sudah baca dan review dan yang masih nunggu kelanjutannya~ Sankyu for fanshikai for the guest review, semoga gam akin sedih ngeliat Kaito di chapter ini ya XD
Anyway, douzo~!
Words count: 2.232words
Rate: T, possible to change as the story develop
Warning: typo(s); chara(s) death; possibly OOC; alternate timeline; possibly BL/shonen-ai, mainly contain flashback
Summary: Ketika ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, ia tak lagi bisa membantah takdir. Dan kejadian malam itu perlahan mengalir kembali, memenuhi pikirannya dengan penyesalan dan duka yang mendalam. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa KID bisa tertangkap? Lalu apa yang akan dilakukannya sekarang?
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Disclaimer:
Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho
The story belongs to me
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Now, let the story begins...
o.O.O.o.o.O.O.o
Chapter 3
-3rd Movement-
[Shinichi's POV]
Untuk pertama kalinya aku melihat KI- Kuroba terpuruk. Ia terisak disana, menumpahkan semua emosi yang tertahan. Yang kutahu selama ini hanya sosok arogannya, yang sok hebat dan penuh percaya diri, hingga rasanya sosoknya yang terlihat lemah ini seakan tidak nyata. Yah, tidak berarti aku dekat dengannya selama ini.
Tak butuh waktu lama bagi langit yang sudah mendung semenjak tadi untuk menumpahkan airnya. Petir dan kilat bergantian menampilkan dirinya di langit yang kelabu, menjadi lead vocal dalam melodi hujan yang berjatuhan ke bumi. Tapi ia masih tetap disana, dengan tangan terulur meniti ukiran nama orang-orang terkasihnya yang kini tertidur di bawah tanah.
Air hujan mengalir deras bersama air matanya. Aku tak punya pilihan lain selain berdiri disana, menunggunya, dan mau tak mau ikut kehujanan. Aku menyesal tak membawa payung tadi. Tapi yah, apa boleh buat. Lagipula aku tak bisa memaksanya untuk beranjak dari sana, ia butuh waktu untuk menerima kenyataan, untuk melepaskan berbagai perasaan yang tertahan.
Jika aku disuruh menebak apa yang tengah dipikirkan Kuroba saat ini, aku akan bertaruh ia tengah mengingat kembali apa yang terjadi malam itu, malam dimana kekacauan pecah, malam saat semua yang dimilikinya seakan dirampas darinya.
.oOo.
–flashback–
Saat itu malam bulan baru, membuat langit terlihat gelap gulita dengan hanya beberapa bintang yang tampak mengintip ragu di balik awan. Saat itu keadaan Tokyo tengah kacau. Polisi disibukkan oleh kericuhan yang terjadi dimana-mana. Dan kejadian itu, tak lain dan tak bukan, menandai berlangsungnya pertarungan terbesar antara Organisasi Jubah Hitam dan pihak kepolisian serta FBI. Banyak korban berjatuhan, warga sipil maupun aparat kepolisian, semua tak luput dari teror yang 'mereka' ciptakan.
Hari itu, tanpa tahu akan 'perang' yang akan terjadi, Kaitou KID melancarkan pencuriannya seperti biasa. Persiapaannya sudah matang, ia 99% persen yakin hari itu pun ia akan sukses seperti biasa. Satu-satunya yang mengherankannya adalah jumlah polisi yang lebih sedikit dari biasanya. Namun ia mengesampingkan hal itu, toh jumlah polisi yang berjaga tak akan berpengaruh baginya. Ia berkonsentrasi, menunggu jarum jam menunjukkan waktu yang telah ditentukannya untuk memulai aksinya.
Ketika ruangan mendadak gelap, saat itulah ia bergerak. Menyelinap, menghindari setiap perangkap dan penjagaan yang ada di sekitar permata incarannya, dan dalam sekejap permata itu telah ada di genggamannya. Ia menyeringai seiring dengan kembalinya penerangan di ruangan itu, dengan bangga menunjukkan bahwa ia telah berhasil mengambil incarannya.
"Terima kasih atas permatanya," ujarnya seraya membungkuk, kemudian menghilang dari hadapan para penjaga.
Ia berlari ke atap, menghindari kejaran polisi dengan apik. Sebenarnya ia agak kecewa karena tidak ada Tantei-kun ataupun Hakuba yang bisa menyemarakkan harinya. Tapi toh ia menghargai kemudahan yang belakangan ini jarang diperolehnya.
Aneh, ia merasa permata di tangannya bertambah berat seiring langkahnya. Dan ia merasa permata itu seakan bergetar ketika ia akhirnya sampai di atap, disambut dengan purnama penuh yang menghiasi langit.
"Mungkinkah...?"
Dengan perlahan, ia mengangkat tangannya, mengarahkan permata di genggamannya ke sorot sinar bulan. Dan waktu seakan berhenti. Ia terpaku disana, mata menatap lekat pada permata di tangannya- atau lebih tepatnya apa yang ada di dalamnya.
"Pandora...," gumamnya dengan suara tercekat, "Akhirnya ketemu."
Ia tidak tau berapa lama ia berdiri diam disana, terpesona sekaligus tersulut amarah. Siapa yang menyangka ia akan mendapat Pandora dengan mudah seperti ini. Bahkan penjagaan polisi tidak seketat biasanya. Seharusnya mereka memberikan perhatian lebih pada permata misterius ini, yang konon dapat memberikan keabadian bagi pemiliknya. Hah, bodoh. Kenapa ada orang bodoh yang mempercayai hal itu, ia tidak paham. Permata di tangannya masih tetap berkilau kemerahan , tidak terusik oleh angin malam maupun emosi yang berkecamuk dalam dirinya. Benda di tangannya ini adalah yang menjadi penyebab kematian ayahnya, yang telah mendorongnya menjadi Kaitou KID–
Yang menyadarkannya dari lamunannya adalah rasa panas yang menyebar di lengan kanannya. Dari sudut matanya ia melihat merah menodai kostum serba putihnya. Dan bukan, itu bukan ilusi karena terlalu lama menatap permata yang berkilau merah di tangannya, ia tahu apa yang dilihatnya adalah asli, seasli rasa sakit yang dirasanya. Detik selanjutnya ia telah merunduk, bersembunyi di balik pinggiran atap gedung. Ada sniper yang mengincarnya, bukan, lebih tepatnya mengincar permata di tangannya. Tampaknya tembakannya meleset dari telapak tangannya karena ia sempat menggerakkan lengannya ke arah lain, beruntung sekali.
–ya, permata itu juga menjadi incaran sekelompok orang. Snake, adalah salah satu yang ia tau, yang tampaknya juga telah merenggut nyawa ayahnya. Ia menggeretakkan gigi, berusaha memikirkan pilihan yang dimilikinya. Ia harus menghancurkan Pandora, itulah yang menjadi prioritasnya saat ini.
Bergegas ke sisi lain bangunan yang ia perkirakan takkan terjangkau tembakan sniper yang mengincarnya, ia menjatuhkan diri, dan tak lama kemudian terlihat melayang pergi bersama glidernya. Tapi ia belum bisa bersantai. Ia yakin orang yang mengincarnya itu tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Dan ia tak akan puas sebelum menghancurkan benda di tangannya ini.
Hari itu angin bertiup kencang, membuatnya mampu terbang lebih cepat. Ia menyisir tempat-tempat yang dilalui, berusaha mencari ide dimana dan bagaimana ia bisa menghancurkan benda itu. Ia melihat api, kerumunan polisi, dan kericuhan lain yang tak biasa terjadi, tapi ia mengabaikan semua itu dan hanya memfokuskan perhatiannya pada tujuannya.
Dan tiba-tiba ia merasakan getaran di kantongnya. Mengernyit, ia berusaha mengambil ponselnya sambil tetap mempertahankan keseimbangan glidernya yang melayang di atas Tokyo. Melihat nama 'Ibu' berkedip di layar, ia langsung men-swipe untuk menjawab panggilan itu.
"Ada apa, Bu? Aku sedang sibuk-," jawabnya tanpa basa-basi, tapi perkataannya segera dipotong oleh suara diujung sana.
"Kaito, cepat lari! Kota ini sedang kacau, dan orang-orang itu memanfaatkan kesempatan ini untuk memburumu!" seru ibunya, panik. Ia hampir tak pernah mendengar ibunya sepanik ini. Bagaimanapun juga wanita yang telah melahirkannya itu telah merasakan bagaimana menjalani kehidupan menantang bahaya selama menjadi Phantom Lady. Dan ia mengerutkan kening, tak mengerti kenapa ibunya sepanik itu.
"Ada apa sih, Bu? Memangnya Ibu sedang di Jepang?" tanyanya seraya mengerutkan kening, "Daripada itu… aku akhirnya menemukannya," lanjutnya sebelum ibunya memutuskan untuk memotong perkataannya lagi.
Jeda. Ia bisa mendengar ibunya menarik napas, kaget. "Pandoranya… sudah ketemu?" tanyanya dengan suara gemetar, memastikan apakah pendengarannya mempermainkannya atau tidak.
"Ya, aku sudah menemukannya. Dan aku akan menghancurkannya sekarang," jawabnya seraya mengeratkan genggamannya pada permata itu, seakan berniat meremukkannya saat itu juga.
"Dengarkan baik-baik, Kaito, lebih baik sembunyikan dulu permata itu dan cari tempat bersembunyi! Apapun yang terjadi jangan pulang dulu, mengerti? Saat ini ada banyak orang yang mengawasi rumah kita—"
"Itu dia! Di dekat rumah ada fasilitas pengolahan sampah kan? Aku bisa menghancurkan permata ini dengan peralatan disana!" serunya penuh kemenangan, sepenuhnya mengabaikan peringatan ibunya. "Terima kasih, Bu! Aku akan baik-baik saja, tidak usah khawatir!"
Ia pun memutuskan sambungan telepon itu. Teriakan ibunya diujung sana yang berusaha menarik perhatiannya menghilang terbawa angin. Sementara ia merasa kemenangannya sudah dekat, ibunya tengah khawatir setengah mati akan apa yang akan terjadi. Perasaannya tidak enak, sangat tidak enak. Dan ia tahu selama ini instingnya hampir tidak pernah meleset…
Sementara itu Kaito sudah mengganti haluannya menuju tempat pengolahan sampah yang terletak tak jauh dari rumahnya. Meskipun angin membawanya cukup cepat kesana, ia masih bisa merasakan sepasang mata yang lekat mengawasinya. Adrenalinnya mengalir deras, memacu jantungnya berdetak lebih cepat. Tinggal sedikit lagi, batinnya.
Jika ia ditanya apa yang terjadi waktu itu, ia tak akan mampu menggambarkannya dengan jelas. Kenapa? Karena dalam ingatannya, hanya tersisa potongan-potongan peristiwa dan rincian buram akan kejadian yang seakan meruntuhkan dunianya itu.
Ia ingat telah melemparkan pandora ke dalam lubang pengolahan sampah, melompat ke dalam ruang kendali dan mengoperasikan mesin besar itu untuk meremukkan pandora, dan ia juga ingat telah memastikan bahwa permata itu telah remuk, hancur. Serpihan biru dan merahnya berkilau ditimpa sinar rembulan malam itu.
Yang ia ingat selanjutnya adalah merah. Merah mengalir dari kaki kanannya yang baru saja tertembak. Merah dari lampu belakang mobil snipernya, yang hampir saja lolos tapi ia berhasil menghentikannya dengan menembak ban mobil itu dengan pistol kartunya. Merah, dari lampu sirine mobil polisi yang mendadak sudah mengepungnya. Lalu merah, dari api yang tengah mengamuk tak jauh dari tempatnya berdiri.
Matanya melebar, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia merasa mengenal area tempat api itu berasal. Sepintas harap bahwa dugaannya salah berkelebat di pikirannya, tapi ia sendiri tidak yakin harapannya akan terwujud.
Ia tidak tahu sejak kapan ia menahan napas, ia tak tahu seberisik apa orang-orang di sekitarnya, saat itu ia belum tahu... bagaimana bisa ia membiarkan itu terjadi, dan bagaimana hidupnya setelah itu. Yang ia tahu adalah saat ia melepaskan napas yang tidak sadar telah ditahannya, kakinya telah membawanya berlari, menerobos blokade polisi yang berusaha menangkapnya. Meskipun diperlambat oleh tembakan di kakinya, entah bagaimana ia masih tetap berhasil melewati mereka. Mungkin tubuhnya telah hapal bagaimana melarikan diri dari polisi karena terlalu sering melakukannya? Mungkin. Ia tidak sedang dalam keadaan yang mampu –ataupun berniat untuk– berpikir logis.
Ketika sampai di rumahnya api telah berkobar di seluruh bagian. Dugaannya benar, api itu berasal dari rumahnya. Dan yang selanjutnya dirasakannya adalah horor, ketakutan, dan ketidakberdayaan. Dengan sedikit menyeret kaki kanannya yang mulai mati rasa dan lengan kanannya yang nyeri, ia menguatkan dirinya mendekati rumah yang telah dilalap api itu, memasukinya malah.
"Ibu! Jii!" teriaknya dengan panik. "Kalian dimana? Jawab aku!"
"Kaito!" ia mendengar suara ibunya dari suatu tempat, tapi ia tak tau dimana. Api mengelilinginya, dan asap membuatnya sesak napas, tapi tekadnya untuk menyelamatkan mereka belum pudar.
"Kaito cepat keluar! Dengar, Aoko ada disini-"
Matanya membulat mendengar hal itu. Aoko juga ada disini? Kenapa bisa? Kalau sampai terjadi apa-apa pada Aoko, itu adalah salahnya. Ia menyebabkan Aoko terlibat semua ini. Jika terjadi apa-apa pada Ibu dan Jii, itu juga salahnya. Padahal ia telah berjanji akan melindungi mereka, tapi ternyata...
"-tapi kami akan berusaha mengeluarkannya. Kamu juga cepatlah keluar!"
Saat itu ia ragu. Haruskah ia menuruti ibunya? Tetapi ia tidak ingin meninggalkan mereka di dalam sana.
Dan seakan tak memberikannya waktu lebih lama untuk berpikir, sebuah ledakan terjadi. Ia tak ingat dengan jelas, tapi ia merasa mendengar ibunya meminta maaf padanya saat itu. Kenapa? Bukankah harusnya ia yang meminta maaf? Ia tak pernah tahu jawabannya, karena yang selanjutnya diingatnya hanya gelap. Ia kehilangan kesadaran.
Ketika ia membuka mata lagi, ia telah berada di rumah sakit dengan tangan diborgol. Mereka bilang ia berada di luar radius ledakan dan hanya terpental sebagai efeknya, tanpa luka serius dan hanya beberapa luka bakar yang tak berarti. Ah, dan bahwa keluarganya tak ada yang selamat.
Masih setengah sadar karena efek obat penenang dan karena shock akan berita yang diterima, ia menangis tanpa suara sepanjang malam itu.
.oOo.
Beberapa puluh menit berlalu sebelum akhirnya ia berhasil menenangkan diri. Ia berdiri, memandangi nisan dengan nama Kuroba Toichi, Kuroba Chikage, dan Jii Konosuke terukir indah di atasnya. Suara hujan menutupi bisikan suaranya, tapi aku sempat mendengar beberapa patah kata yang diucapkannya. 'Maaf', 'terima kasih', dan 'semoga kalian bahagia disana'. Ia melirik buket bunga di depan nisan itu sekali lagi.
Ah, yang diucapkannya sesuai dengan buket bunga yang dibelinya tadi ya. Hyacinth ungu, dalam bahasa bunga menggambarkan permintaan maaf dan duka. Sweatpea, adalah ucapan selamat tinggal. Lalu mawar merah –yang kini terlihat berwarna lebih gelap karena hujan– menyatakan bahwa ia masih mencintai mereka, dan sekaligus menggambarkan rasa berkabungnya ketika warnanya berubah. Aku kembali meliriknya, memperhatikan ekspresi wajahnya. Dari samping, ia terlihat seperti tengah menahan tangis. Tetapi berbeda dengan saat pertama kali menatap nisan itu, tatapan matanya terlihat lebih hidup. Mungkin akhirnya ia telah berhasil menerima kenyataan. Mungkin ia telah menemukan tujuan baru untuk hidup, atau setidaknya semangat untuk melanjutkan hidup, atau itulah yang kuharapkan.
Menghela napas, aku memutuskan untuk menyibukkan diri menyingkirkan rambut basah yang melekat di wajahku daripada mengamatinya. Ia pasti merasa tidak nyaman jika terus-terusan diperhatikan 'kan? Belum selesai berkutat dengab rambut, aku merasakan seseorang menepuk pundakku.
"Maaf sudah membuatmu kehujanan, Kudo," ujarnya dengan sebuah senyuman di wajahnya, tetapi nadanya menunjukkan rasa bersalah yang tidak dibuat-buat.
Aku hanya menganggung singkat, menandakan aku tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi aku menatapnya dengan alis terangkat. "Sudah tidak memanggilku dengan Meitantei-san lagi sekarang?"
Ia tertawa ringan. "Ya, aku sudah bosan dengan panggilan Meitantei-san ataupun Tantei-kun, jadi kupanggil Kudo saja ya. Lagipula itu lebih singkat," jawabnya santai, seakan ia tidak baru saja menangis beberapa detik yang lalu, seakan kami tak sedang kedingingan diguyur hujan.
"Dingiiiin. Lebih baik kita cepat pulang sebelum masuk angin!" serunya. "Ayo cepat, Kudo!"
Dan ia mulai berlari. Hanya sekali ia melirik ke belakang, ke arah nisan itu, dan kemudian ia terus berlari pergi dari sana. Aku berlari selangkah di belakangnya, tapi ia tak berbicara apapun lagi setelah itu. Dan kami terus berlari sepanjang jalan pulang, tak sekalipun berhenti untuk mencari tempat berteduh. Toh kami sudah basah kuyup. Saat sampai di depan rumah, bajuku telah sepenuhnya basah dan terasa berat. Kuroba juga sepertinya dalam keadaan yang sama.
Aku berusaha mengambil kunci di sakuku secepat mungkin. Rasanya air hujan ini sudah meresap sampai ke tulangku. Namun ketika aku hendak membuka kunci pintu, aku menyadari ada hal yang janggal. Aku melirik Kuroba, dan tampaknya ia mengerti apa yang tengah terjadi. Aku yakin telah mengunci pintu saat berangkat tadi, tapi sekarang pintu ini dalam keadaan tak terkunci. Itu artinya ada orang di dalam sana. Pertanyaannya adalah, siapa?
.
To be continued
.
So that's it. Yang penasaran Kaito kenapa jadi begitu atau gimana ketangkepnya, sudah terjawab ya hoho. Semoga chapter ini memuaskan, saya usahakan updatean selanjutnya ga terlalu lama /peace sign/. Ditunggu kritik/saran/pesan/kesan/curahan hati(?) kalian soal chapter ini di review ya! Matta ne ^^)/
