Words count: 2.206 words
Rate: T, possible to change as the story develop
Warning: typo(s); chara(s) death; possibly OOC; alternate timeline; possibly BL/shonen-ai
Summary: Matanya membulat. Seakan imaji yang ada dalam pikirannya menjadi nyata, di hadapannya terlihat sosok yang dirindukannya, sosok yang ia harap masih dapat tersenyum dan mengomelinya seperti biasa. Tapi… apa yang terjadi? Apa telinganya mempermainkannya? Ataukah matanya telah menipunya?
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Disclaimer:
Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho
The story belongs to me
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Now, let the story begins...
o.O.O.o.o.O.O.o
Chapter 4
-4th Crack-
Shinichi yang sudah basah kuyup dan kedinginan bergegas mengambil kunci dari sakunya, namun gerakannya terhenti ketika ia hendak membuka pintu. Ia menyadari ada sesuatu yang janggal. Ia melirik Kaito, dan tampaknya yang dilirik juga mengerti apa yang tengah terjadi. Ia ingat bahwa ia telah mengunci pintu saat pergi tadi, sementara kini pintu itu dalam keadaan tidak terkunci. Itu artinya ada orang di dalam sana. Pertanyaannya adalah, siapa?
Sekali lagi tatapan kedua pemuda itu beradu, membentuk kesepakatan tanpa kata. Keduanya perlahan menyelinap masuk, berusaha tak membuat suara sekecil apapun. Lampu ruang tamu dan dapur yang menyala semakin memperjelas kecurigaan mereka. Tetapi sejauh yang terlihat, tidak ada hal lain yang mencurigakan. Benda-benda disana masih tetap di tempatnya masing-masing, begitu juga buku-buku di lemari-lemari tinggi yang mengelilingi ruangan itu. Apa penyusup itu tidak berniat mencuri? Atau mungkin penyusup itu memang pencuri tetapi tidak berminat dengan ruangan ini?
Alis Shinichi berkerut. Mereka masuk lebih dalam, mencari dimana penyusup itu berada. Kaito mengikuti di belakangnya, tak kalah waspada dengan sang Detektif di depannya. Ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, berusaha mencari sesuatu yang janggal. Meskipun ia bukan detektif tapi tetap saja ia mantan pencuri, dan ia tahu apa yang biasa dilakukan pencuri ketika menyelinap. Ia memang baru tinggal disana selama beberapa hari saja, tapi ia sudah merasa cukup familiar dengan isi rumah itu –atau paling tidak ia sudah dapat mengingat apa ada dimana dalam rumah itu– dan ia merasa tak ada satupun yang terlihat aneh atau berbeda dari biasanya.
Ketika mereka kembali beringsut maju, mereka akhirnya menemukan hal yang menguatkan kecurigaan mereka. Suara langkah kaki. Seseorang tengah menuruni tangga. Tubuh keduanya menegang, masing-masing tengah bersiap menyergap penyusup itu. Atau kira-kira begitulah rencananya sampai mereka mendengar suara 'penyusup' itu.
"Are? Ada yang masuk? Aaah, jangan-jangan Shin-chan sudah pulang?" terdengar suara seorang wanita diikuti suara langkahnya yang dipercepat. Ia menyembulkan kepalanya dari balik tembok yang membatasi tangga dengan lorong tempat mereka berdiri, rambut pirangnya terlihat menyolok di tengah ruangan yang hanya diterangi cahaya temaram yang berasal dari lampu dapur yang terletak di sebelah tangga.
"I-Ibu?!"
"Shin-chan okaeri!" dan seiring dengan sapaan itu, wanita yang ternyata merupakan ibu Shinichi itu segera menerjang putranya dengan pelukan erat yang hampir membuat keduanya terjatuh menghantam lantai. Hampir, karena untungnya Shinichi berhasil menjaga keseimbangannya. Sementara itu Kaito hanya bisa sweatdrop melihatnya.
"Aku tidak bisa bernapas, Bu!" gerutu Shinichi, tapi wanita yang masih terlihat awet muda itu tak menggubris protes anaknya. Ia terus saja memeluknya erat, sesekali menyerukan betapa kangennya dia pada putranya dan bagaimana Shinichi telah tumbuh pesat selama mereka tidak bertemu.
Kaito hanya dapat tersenyum pahit. Afeksi orang tua adalah hal yang tak mungkin dirasakannya lagi.
"Okaeri, Shinichi," ujar seorang pria yang tampak baru saja keluar dari dapur.
"Ayah juga ikut pulang?"
"Begitulah. Sudah lama aku tidak pulang ke Jepang, jadi kurasa ini kesempatan yang tepat. Sekalian untuk bertemu dengan Kaito-kun," sang penulis novel misteri itu melemparkan senyum hangat pada Kaito.
Kaito membalas senyuman itu dengan senang hati. Rasanya sudah lama ia tidak melihat seseorang yang tersenyum tulus untuknya, apalagi senyuman sehangat itu. Untuk sesaat ia merasa iri dengan Shinichi.
"Kuroba Kaito desu. Salam kenal dan senang bertemu dengan anda," sapanya seraya membungkukkan badannya, "Maaf telah merepotkan kalian dan Shinichi-kun. Jujur saja aku merasa sangat tertolong sekali, padahal kalian tidak benar-benar mengenalku tetapi kalian telah mau menampungku disini…"
Apa yang dikatakannya bukan hanya pemanis bibir belaka, ia benar-benar merasa tertolong oleh mereka, oleh Shinichi yang mendadak menjemputnya, mengatakan bahwa ibunya menyuruhnya untuk menjemputnya, dan juga Kudo-san yang juga pasti telah menyetujui rencana untuk membiarkannya tinggal disini. Padahal mereka tahu bahwa dirinya adalah mantan narapidana, tapi mereka telah menerimanya, dirinya yang tak punya siapapun dan tak punya tempat untuk kembali ini.
"Jangan berkata seperti itu, Kai-chan," tegur Yukiko seraya berkacak pinggang, "Ini satu-satunya hal yang bisa kami lakukan untuk keluarga Toichi-sensei."
Senyuman keibuannya membuat Kaito teringat akan ibunya sendiri, dan mau tak mau hal itu membuatnya kembali tersenyum
"Terima kasih banyak, Kudo-san."
"Disini ada tiga orang Kudo lho, Kaito-kun," kata Yusaku, iseng.
"Aah benar juga—maaf," ujar Kaito buru-buru saat ia menyadari kesalahannya. "Sekarang aku jadi bingung bagaimana harus memanggil kalian…."
"Kalau begitu panggil saja Onee-chan, Kai-chan!" jawab Yukiko semangat.
"Ibu masih tetap saja tidak sadar umur," gerutu Shinichi pelan. Yah, tak cukup pelan karena ternyata Yukiko masih dapat mendengarnya.
"Shin-chan barusan bilang apa?" tanya Yukiko dengan senyuman plus aura membunuh di sekelilingnya.
"Geh— t-tidak bilang apa-apa kok, mungkin Ibu salah dengar!" elaknya.
Yusaku hanya tertawa santai melihat kejadian -yang tampaknya sudah biasa terjadi- itu. Kaito pun ikut tersenyum, terhanyut dalam suasana kekeluargaan yang mereka pancarkan.
"Maa maa, panggil saja Yusaku dan Yukiko kalau kau mau, Kaito-kun," akhirnya Yusaku menengahi pembicaraan, "Dan tidak perlu merasa sungkan, anggap saja ini keluargamu sendiri."
Ia menganggukkan kepalanya, "Aa, sekali lagi terima kasih banyak, Yusaku-san, Yukiko-san."
"Tidak perlu berterima kasih, Kai-chan~ Ngomong-ngomong, kalian dari mana? Kenapa kalian basah kuyup begini?" Yukiko, yang tampaknya baru menyadari keadaan mereka, mengerutkan dahi.
"Baru sadar soal itu sekarang padahal tadi sudah memelukku yang basah kuyup," gerutu Shinichi lagi, kali ini lebih pelan.
"Maaf, aku yang mengajak Shinichi untuk menemaniku berziarah," aku Kaito seraya melirik Shinichi dengan rasa bersalah.
"Aah, begitu ya..," Yukiko mengangguk, ia terlihat memahami apa yang telah terjadi tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. "Kalau begitu kalian harus cepat mandi dan ganti baju supaya tidak masuk angin!"
Dengan cepat wanita itu menyeret kedua pemuda itu ke kamar mandi, untuk yang kesekian kalinya ia tak menghiraukan protes putranya maupun Kaito.
.o0O0o.
Setelah keduanya bergantian untuk mandi dan berganti baju -dimana Kaito lagi-lagi meminjam baju Shinichi karena ia tak punya baju lain- mereka berempat berkumpul di ruang makan, menikmati hidangan makan malam yang telah dimasak Yukiko.
"Ayah dan Ibu akan disini berapa lama?" tanya Shinichi sebelum menyuapkan sepotong besar karaage ke dalam mulutnya.
"Kami cuma akan disini selama seminggu, setelah itu kami akan langsung terbang ke Paris," jawab Yusaku.
"Paris?" Shinichi mengangkat sebelah alisnya, "Tumben sekali. Ada acara apa memangnya?"
"Ayahmu diundang ke salah satu acara penghargaan penulis disana," jawab Yukiko riang, "Kebetulan kami juga sudah lama tidak mengunjungi Eiffel~"
"Oh," respon Shinichi singkat sementara Yukiko masih berkicau panjang lebar.
"Karena itu maaf kalau kami tidak bisa terus menemanimu disini, Kai-chan," ia memandang putra dari gurunya itu dengan tatapan bersalah.
"Ah jangan khawatir, aku sudah biasa sendiri. Ibuku dulu juga terus-terusan keliling dunia dan jarang sekali pulang," ujar Kaito seraya tersenyum santai, mengisyaratkan agar mereka tak terlalu mengkhawatirkan dirinya, meskipun ia tak cukup berhasil menyembunyikan kesedihannya saat membicarakan tentang ibunya.
"Ah, Chikage-chan memang suka jalan-jalan," ujar Yukiko, sebuah senyuman lembut menghiasi wajahnya saat ia mengenang wanita yang telah menjadi temannya itu.
"Yukiko-san mengenal ibuku juga?" tanya Kaito dengan agak terkejut. Ia ingat bahwa mantan aktris tenar itu pernah menjadi murid ayahnya, tapi ia tidak tahu bahwa ibu Shinichi juga akrab dengan ibunya.
Yukiko mengangguk riang, "Tentu saja. Dulu saat masih menjadi murid Toichi-sensei kami sering mengobrol. Setelahnya kami beberapa kali bertukar email," paparnya, "Dulu kita juga pernah bertemu kan, Kai-chan?"
"Eh? Benarkah? M-maaf, aku tidak ingat," Kaito mengerjap bingung.
"Yah, waktu itu Kai-chan masih kecil sih, wajar kalau tidak ingat," namun meskipun ia berkata begitu, tampak jelas bahwa ia agak kecewa. Dengan cepat wanita itu pun mengubah topik pembicaraan.
"Kalau Ayah sudah sering bertemu dengan Toichi-sensei kan?"
"Hm? Kurasa begitu..."
"Ne, Kai-chan, tahu tidak, bisa dibilang yang memberi nama Kaitou KID itu Yusaku lho!" ujar Yukiko dengan senyum lebar. "Awalnya gara-gara Yusaku salah membaca kode 1412 yang ditulis polisi menjadi KID, lalu media mulai memakai Kaitou KID untuk menyebutnya, haha."
Kaito sukses ber-oooh ria. Ia tidak tahu hal itu padahal ia menyandang nama Kaitou KID selama ini.
"Ah tapi Shin-chan tidak pernah bertemu Toichi-sensei dan Chikage-chan sebelumnya ya, sayang sekali..."
"Aku pernah bertemu dengannya sekali, atau lebih tepatnya, bertemu Kaitou KID generasi pertama," jawabnya santai.
Perkataannya pun sukses mendapat luapan keingintahuan ibunya dan tatapan ingin tahu Kaito.
"Aku bertemu dengannya waktu SD...," Shinichi pun menceritakan pengalamannya, dengan melewati beberapa bagian yang dianggapnya memalukan. Sesekali ia melirik ayahnya, yang tampak sudah dapat memecahkannya sejak awal ia bercerita. Lagi-lagi ia merasa bodoh karena bisa-bisanya salah mengartikan teka-teki itu. Tapi mau bagaimana lagi, saat itu ia masih SD.
"Tapi menarik juga ya, bagaimana Yusaku adalah rival KID terdahulu yang ternyata adalah Toichi-sensei, dan Shin-chan adalah rival KID yang sekarang yaitu Kai-chan. Mungkin seperti peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya? Atau mungkin kalian jodoh?" Yukiko tertawa geli, yang lain hanya tersenyum simpul menyadari korelasi yang bisa dibilang cukup ruwet itu.
Keempat orang itu akhirnya menghabiskan malam dengan saling bertukar cerita, mengenang masa lalu dan juga menceritakan kehidupan yang mereka jalani selama mereka tidak bertemu satu sama lain.
.o0O0o.
Satu minggu berlalu dengan singkat. Shinichi tetap bekerja seperti biasa, berangkat di pagi hari dan pulang menjelang malam, beruntung baginya tak ada keadaan darurat yang memaksanya kerja lembur minggu itu. Di siang hari Yusaku pergi mengunjungi beberapa teman lama yang sudah entah berapa lama tak ditemuinya. Sementara itu Yukiko akan menemani Kaito di rumah, hanya mengobrol santai dengan berbagai topik yang berbeda tiap saat. Wanita berambut pirang itu bahkan mau membagi foto Toichi dan Chikage yang dimilikinya untuknya, yang tentu saja kebaikan itu disambut dengan senang hati oleh Kaito yang tak punya foto mereka barang satu lembar pun, semua habis dilalap api.
Ketika tirai malam turun, keempat orang itu akan duduk mengelilingi meja makan, bercengkerama sambil menikmati makan malam. Pada saat-saat seperti itu, Kaito mau tak mau merasa rindu dengan keluarganya sendiri. Ayahnya, ibunya, Jii... orang-orang yang telah meninggalkannya belasan tahun silam. Dan pada saat-saat seperti itu, ia akan memasang senyuman tercerahnya dan sekuat tenaga menahan luapan air mata yang berusaha kabur dari bendungan kelopak matanya.
Ketika Yusaku dan Yukiko pergi, mungkin yang paling merasa kesepian adalah Kaito, tapi ia tak menunjukkan hal itu. Meskipun mereka sangat baik padanya, mereka bukanlah keluarganya. Mereka adalah keluarga Shinichi. Begitulah pikirnya. Jadi ia diam, menjalani hari-harinya senormal mungkin.
Dan tanpa sadar hari Senin telah datang. Hari itu ia memutuskan untuk jalan-jalan, berniat untuk kembali mengakrabkan diri dengan dunia luar sekaligus berbelanja -dengan 'uang saku' yang diberikan Yukiko, dan yang membuatnya berjanji dalam hati untuk segera mencari pekerjaan dan mengembalikannya- beberapa keperluan, karena selama ini hampir semua yang dipakainya adalah pinjaman dari Shinichi.
Ia berkeliling dari satu toko ke toko lain, berinteraksi dengan berbagai macam orang seiring perjalanannya. Sedikit demi sedikit, ia merasa ia menemukan lagi dirinya yang dulu, dengan kemampuannya memikat orang dan dengan poker facenya andalannya. Namun bagaimanapun, ia merasa masih ada yang kurang. Jika ia telah mampu menerima kenyataan bahwa ibunya dan Jii telah tiada, ia tak bisa menahan rasa rindunya pada sosok gadis cerewet yang dulu hampir selalu ada di sisinya setiap saat. Gadis yang telah menjadi temannya sejak kecil, yang tanpa disadarinya telah menjadi cinta pertamanya.
Andai saja saat itu ia mencegah gadis itu berkunjung ke rumahnya, pasti gadis itu masih—
Dan matanya membulat. Seakan imaji yang ada dalam pikirannya menjadi nyata, di hadapannya terlihat sosok yang dirindukannya, sosok yang ia harap masih dapat tersenyum dan mengomelinya seperti biasa.
Ketika ia melihat sosok itu berbalik dan seakan bersiap pergi dari hadapannya, tanpa berpikir dua kali apakah yang dilihatnya adalah bias semu kerinduannya ataukah memang Tuhan telah mengabulkan harapannya, ia bergegas berlari ke arahnya.
"Aoko!" serunya seraya meraih lengan gadis itu sebelum sosoknya semakin menjauh, menghilang dari hadapannya.
Gadis itu memandangnya terkejut, alisnya bertaut tanda ia merasa terganggu dengan apa yang dilakukannya. "Maaf, kenapa kau tahu namaku? Apa kita saling kenal?"
Satu detik. Dua detik. Kaito masih tak memberikan respon, ia hanya melihat gadis itu dengan tatapan nanar. Lidahnya kelu. Otaknya seakan berhenti bekerja.
Apa telinganya mempermainkannya? Ataukah matanya telah menipunya? Tidak, ia yakin bahwa wajah dan suara itu adalah milik gadis yang dirindukannya. Tapi kata-kata yang diucapkannya dan nada bicaranya yang seakan tak mengenalnya itu...
"Kuroba—," ia mendengar namanya dipanggil, tetapi bukan oleh gadis yang masih menatapnya bingung.
Pandangannya dengan terpaksa ia geser ke sumber suara itu. Dan saat itulah ia baru sadar ada seseorang yang berdiri di belakang Aoko sedari tadi, seorang pemuda gagah berambut pirang bak pangeran yang ada di dongeng- dongeng klasik.
"Hakuba...," suaranya tercekat, ia tak menyangka ia akan bertemu dengan satu lagi wajah familiar. Dan lebih tidak menyangka akan melihat mereka bersama. Dan tampaknya Hakuba juga tak menyangka akan bertemu dengannya.
"Oh, apa dia teman Saguru-kun?" pertanyaan Aoko hanya dijawab dengan diam dan ketegangan diantara kedua pemuda di hadapannya.
Ketika ia menatap keduanya dengan penuh tanda tanya, sudut matanya menangkap bagaimana jemari mereka saling bertautan. Dan semuanya pun menjadi jelas bagi Kaito.
"Oh...," gumamnya lirih. Detik itu juga ia melepaskan genggamannya pada lengan Aoko seraya memaksakan sebuah senyuman di wajahnya. Senyuman yang gagal menyembunyikan rasa sakit hatinya.
Ia berbalik, berniat untuk segera meninggalkan tempat itu, meninggalkan mereka. Tapi cengkeraman Hakuba menahannya.
"Kuroba tunggu, aku bisa menjelaskan apa yang terjadi—"
"Tidak perlu," potongnya, "kuharap kalian bahagia."
Kaito berusaha mengucapkannya setulus mungkin, namun kata-kata itu berakhir terdengar seperti sarkasme.
"Oi Kuroba, apa kau tidak ingin tahu apa yang terjadi?!" Hakuba mempererat cengkeramannya, tapi Kaito menarik paksa lengannya agar terlepas darinya. Hakuba menatapnya kecewa, meskipun sebenarnya pria pirang itu dapat memaklumi reaksi Kaito. "Kalau kau berubah pikiran, temui aku disini," ujar Hakuba dengan lebih kalem, disaat yang bersamaan ia pun menyelipkan sebuah kartu nama ke saku jaket Kaito.
Namun lagi-lagi Kaito hanya menanggapinya dengan dingin. Tanpa berkata sepatah katapun, ia melanjutkan langkahnya untuk pergi dari sana, seraya berharap semua ini hanyalah mimpi buruk belaka.
.
To be continued
.
Ended with a broken hearted Kaito yay /smirk /slapped. Yah, lagi-lagi maaf updatenya lama. Tugas-tugas semester ini lebih horror dari dugaan. Terima kasih banyak yang sudah baca/review/follow/fave di chapter kemarin /bows/ Buat yolanda edogawa-san yg tanya soal Ran, masih rahasia yaa fufufu. Anyway, semoga chapter ini memuaskan. Ditunggu kritik/saran/pesan/kesan/curahan hati(?) kalian soal chapter ini di review ya! See ya ^w^)/
