Umm… Hai? Masih ingat saja? :")) Terima kasih buat semua yang sudah baca dan review dan fave dan follow chapter kemarin, dan kemarin-kemarinnya juga /bows/ Senang rasanya kalau tau banyak yang minat membaca fic ini hehe. And by the way, I changed the title since I just realized that its grammatically wrong orz

Buat Ryuzaki Miki yang katanya males login, sankyuu sudah bilang fic ini keren aaa /seneng/ Dan selamat dugaan anda benar, haha. Silahkan dinikmati lanjutannya~


Words count: 2.594words

Rating: M, for the alcohol and slight suggestive adult themes

Warning: possible typo(s); chara(s) death; possibly OOC; alternate timeline; possibly BL/shonen-ai

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

The story belongs to me

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 5

-5th Bottle-

Kaito terus melangkahkan kakinya, semakin lama semakin cepat. Ia berlari, hanya terus berlari meskipun ia tak punya tempat tujuan. Rasanya ada gumpalan besar yang menyumbat tenggorokannya, membuat dadanya terasa sesak.

Ketika merah telah mewarnai langit dan lampu-lampu jalan mulai berkedip, Kaito mendapati dirinya terduduk di tepi sungai, terpaku pada aliran air yang entah kenapa tampak begitu menarik. Ia tak ingat bagaimana ia sampai disana, atau apa alasannya duduk disana. Rasanya ia berjalan secara auto-pilot sementara kesadarannya tertidur di sudut gelap jiwanya. Dan kini kesadarannya telah kembali, yang mau tak mau membuatnya harus mengingat persoalan itu lagi.

Ia baru beranjak dari sana ketika langit benar-benar telah menggelap. Namun yang dilakukannya pertama kali bukanlah mencari tahu ia ada dimana atau kemana arah jalan pulang, melainkan mencari mesin penjual minuman. Ia haus, dan ia belum ingin pulang, jadi yah... begitulah. Merogoh sakunya untuk mencari recehan, ia merasakan ada benda asing disana. Secarik kertas— ah bukan, lebih tepatnya selembar kartu nama.

Membaliknya, ia mengira akan menemukan nama dan kontak Hakuba disana, tapi tampaknya ia salah. Alisnya bertaut ketika melihat huruf-huruf yang terukir dengan tinta silver disana.

'Fántasma'

Ia mengabaikan alamat dan nomor telepon yang tercantum di bawahnya, lebih tertarik untuk mengetahui kartu nama apa itu. Ia yakin kartu nama itu bukan milik Shinichi. Jika memang kartu itu milik sang Detektif, itu artinya kartu itu pernah ikut tercuci bersama jaket yang baru dipinjamnya dari lemari Shinichi itu, sedangkan kartu nama itu tidak menunjukkan tanda-tanda pernah ikut tercuci. Ia juga cukup yakin ia tak menerima kartu nama apapun selama ia berjalan-jalan tadi. Hanya ada satu kemungkinan yang tersisa, kartu nama itu milik Hakuba. Ia pasti telah menyelipkan benda itu ke sakunya tadi.

Kerutan di dahi Kaito makin terlihat jelas. Ia akan mengerti kalau Hakuba memberikan kartu namanya sendiri, tapi kartu nama ini…. Ekor mata Kaito melirik logo kecil yang ada di sebelah kiri atas kartu itu, dan klik, pertanyaannya terjawab. Logo gelas wine yang seakan berkilau di tengah hitam yang merupakan warna dasar kartu nama itu telah menjadi petunjuk yang sangat jelas baginya.

"Bar, huh...," gumamnya.

Jujur saja Kaito tak pernah masuk ke bar sebelumnya. Ia pernah mencoba minuman beralkohol, ya, tapi ia tak pernah masuk ke bar. Dulu ia belum cukup umur untuk masuk kesana, dan ia toh tak berminat untuk menghabiskan waktunya disana.

"Oi Kuroba, apa kau tidak ingin tahu apa yang terjadi?!" kata-kata Hakuba kembali terngiang di telinganya, "Kalau kau berubah pikiran, temui aku disini."

Ia menimbang-nimbang pilihan yang dimilikinya. Ya, ia jelas penasaran tentang apa yang terjadi pada Aoko. Ia memiliki beberapa hipotesis mengenainya tapi ia tak akan puas jika tidak memastikan kebenarannya. Namun disisi lain, ia merasa takut. Takut mengetahui apa yang terjadi pada Aoko, takut mengetahui bahwa Aoko benar-benar tak akan mengingatnya lagi, dan takut... untuk mengetahui apalagi yang akan diambil darinya.

Tapi pada akhirnya, rasa penasarannya memenangkan dilemanya. Lebih baik mengetahui kenyataan walau sepahit apapun daripada harus terus hidup dalam ketidakpastian, begitulah pikirnya. Toh selama ini ia menyangka bahwa Aoko telah tiada, jadi tak ada bedanya jika sekarang gadis itu mendadak tak mengingatnya lagi kan? Dan kakinya pun kembali melangkah.

Ia tak menyangka bahwa menemukan bar yang dimaksud ternyata cukup sulit. Apa mau dikata, Ginza yang memang ramai ditambah berbagai papan nama toko yang saling tumpang tindih seakan menjadi hutan belantara yang membuat seseorang mudah tersesat. Setelah hampir setengah jam bolak-balik disana, ia akhirnya menemukan bar yang dicarinya. Terletak di salah satu sudut Ginza, bar itu terlihat tidak mencolok dengan pintu kayu sederhana dan nama bar yang terukir di atasnya, wajar jika seseorang melewatkannya begitu saja.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, ia mendorong pintu itu terbuka dan segera masuk ke dalam. Matanya dengan cepat menangkap kepala pirang yang dicarinya tanpa perlu bersusah payah, bagaimanapun juga rambutnya itu cukup mencolok di antara orang-orang normal.

Pemuda itu duduk di depan counter, segelas cocktail berwarna merah bak rubi tampak ada di hadapannya. Kaito pun menyelinap di antara orang-orang yang tengah asik menikmati minuman mereka di dalam bar yang tak terlalu besar itu dan duduk di samping Hakuba dalam diam. Pemuda pirang itu menengok ke arahnya, dan ia tampak agak terkejut melihatnya. Namun dengan segera bibirnya menyunggingkan seulas senyum tipis, lega karena ia datang, tampaknya.

"Apa ada minuman yang bisa Anda sarankan untuk saya? Ini pertama kalinya saya masuk bar," ujar Kaito pada bartender di hadapannya, berusaha mengulur waktu sebelum memulai pembicaraan dengan Hakubu.

"Tentu, Tuan. Suatu kebanggaan bagi saya untuk menyiapkan minuman pertama yang akan anda cicipi di bar," jawabnya ramah dibarengi dengan seulas senyum. "Saya harap anda tidak keberatan dengan cocktail?"

Kaito mengangguk, "Aa. Apa saja boleh."

Bartender itu menyatakan bahwa ia mengerti dan memintanya menunggu sebentar sebelum mulai meracik cocktail yang akan disajikannya. Kaito mengamati setiap gerakannya dengan penuh ketertarikan. Gerakan pria yang mungkin telah berumur 50-60 tahun itu begitu halus, begitu indah ketika ia mengukur dan mencampur serta mengocok apa-apa yang menjadi bahan bakal minumannya. Suara Hakuba-lah yang akhirnya membuatnya mengalihkan pandangan dari bartender itu.

"Aku senang kau datang, Kuroba."

Kaito meliriknya sekilas, tak mau bertatap muka terlalu lama dengannya. "Aku tidak ada waktu untuk basa-basi, ceritakan saja apa yang perlu kudengar."

Hakuba menghela napas berat lalu berkata, "Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan menceritakan semuanya... Dan kuharap kau akan baik-baik saja setelah mendengarnya."

Kaito hanya melemparkan lirikan tajam sebagai isyarat untuk melanjutkannya. Hakuba menarik napas panjang sebelum ia membeberkan apa yang terjadi pada Aoko.

"Mungkin kau sudah mengetahui ini, tapi saat rumahmu meledak, Aoko juga terkena ledakan itu. Untungnya luka yang dideritanya tidak terlalu parah karena sepertinya ibumu telah melindunginya dengan mendorongnya ke lantai bawah," Hakuba berhenti sejenak, mengamati bagaimana Kaito menerima hal itu. Tak melihat perbedaan yang berarti pada ekspresi pemuda itu, ia pun melanjutkan. "Aoko terhindar dari efek ledakan yang serius, dan cukup beruntung hanya berakhir dengan tangan kiri yang retak. Sayangnya... benturan di kepalanya ternyata cukup keras karena balok kayu yang menghantamnya saat ledakan terjadi, dan ia juga mengalami syok karena ledakan itu. Ia pun mengalami amnesia total. Semua ingatan tentang masa lalunya hilang saat ia sadar tiga hari kemudian."

Hakuba menyesap cocktailnya, berusaha menekan rasa pahit yang selalu datang tiap kali mengingat apa yang terjadi pada gadis itu. Sementara di depan mereka, sang Bartender tampak telah menyelesaikan minuman Kaito.

"Silahkan, Margarita on the rocks untuk Anda."

Kaito mengagumi minuman di depannya itu untuk beberapa saat. Menyesapnya, ia merasakan untuk pertama kali bagaimana tequila dan Cointreau berpadu, yang rasanya diperkuat dengan perasan jeruk nipis dan garam yang bertengger di bibir gelas... Baginya minuman dingin yang agak asam itu terasa menyegarkan, tapi ia tak mengeluarkan komentar apapun.

Hakuba pun melanjutkan ceritanya, "Saat Aoko sadar, kondisinya sangat tidak stabil, dan untuk mencegah agar kondisinya tidak semakin memburuk. Keluarganya— semua orang di dekatnya akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan semua yang berhubungan denganmu, Kuroba."

Kaito tersenyum pahit. Jujur itu bukanlah sesuatu yang diluar dugaannya, tapi tetap saja ia merasa pernyataan itu bak pukulan telak baginya.

Aoko tidak mengingatnya. Semua orang tak menginginkan Aoko mengingatnya. Mengingatnya hanya akan membuat Aoko menderita. Lebih baik jika Aoko tak mengingatnya— tak mengenalnya. Itulah yang terus-menerus diulanginya dalam kepalanya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri akan kebenaran hal itu.

"Lalu? Apa hubunganmu dengan Aoko sekarang?" Kaito merasa dirinya sangat masokis, berusaha menggali lebih dalam meskipun ia tahu bahwa yang akan didapatnya hanya lebih banyak kepahitan. Tetapi instingnya, hatinya, tak mau berhenti bertanya sampai ia mengetahui kenyataan secara utuh, bukan secuil-secuil.

"Kami...," Hakuba terdengar ragu, tapi pilihan katanya telah cukup menunjukkan kedekatan mereka. Bukan 'aku dan Aoko', tapi 'kami'. Kaito merasa ada tawa yang seakan siap membuncah dari tenggorokannya, tapi ia menahannya.

"Kami sudah menikah, 6 bulan yang lalu."

Oh. Dugaan Kaito benar lagi. Tak salah jika ia memiliki IQ 400. Ia sempat melihatnya sekilas tadi, cincin emas putih yang menghiasi jari manis Hakuba.

"Kami mulai dekat sejak kejadian itu. Awalnya aku hanya ingin melindunginya, membantu rehabilitasnya, dan entah sejak kapan kedekatan kami berubah menjadi cinta..."

Kaito hanya mendengarkannya dalam diam, seakan tak peduli. Tapi jika diamati lebih dekat, akan terlihat bagaimana ia tengah menahan gejolak emosinya dari seberapa kuat genggamannya pada gelas margarita di hadapannya.

"Baru setahun yang lalu aku menyatakan perasaanku padanya, dan Aoko menerimanya. Enam bulan yang lalu kami menikah, dan kini ia tengah mengandung anak pertama kami."

Mata Kaito membulat. Kaget, jelas. Tidak hanya melupakannya, Aoko telah menikah sekarang, tak lain dan tak bukan dengan mantan teman sekelasnya, dengan detektif yang dulu selalu berusaha menangkapnya, pria yang duduk di sampingnya. Dan lebih dari itu, Aoko akan jadi seorang ibu. Ia menyesal telah bertanya lebih jauh. Hatinya yang telah hancur sejak bertemu lagi dengan Aoko yang tak mengenalinya, kini seakan kembali diinjak-injak hingga puing-puingnya menjadi serpihan-serpihan yang tak berbentuk.

"Siapa sangka kami malah bertemu denganmu ketika kami tengah merayakan anniversary pertama kami, miris sekali," Hakuba berhenti berbicara dan menatap Kaito, tajam. "Kami berhasil menghapusmu dari kehidupan Aoko dan membuat hidupnya lebih bahagia, jadi jangan sekali-sekali kau coba mendekatinya lagi dan mengacaukan semuanya, Kuroba. Jangan membuatnya menderita lagi," nada bicaranya tegas, memerintah.

Namun saat itu juga Kaito merasa kekangnya terlepas. Ia berdiri dari kursinya dan melayangkan tinjunya dengan penuh kemarahan tepat di wajah Hakuba. Pemuda itu –yang jelas tidak mengantisipasi serangan dadakan Kaito– hanya terpaku disana untuk beberapa saat, mengabaikan pekikan pengunjung yang melihat insiden itu. Dan ketika ia akhirnya sadar apa yang baru saja terjadi, Kaito sudah memotongnya.

"Jangan pikir aku bodoh," geramnya. "Tentu saja aku tahu apa yang harus kulakukan dan tak boleh kulakukan. Mana mungkin aku mau membuat Aoko menderita kan?! Aa, aku tidak akan menganggu kalian, jangan khawatir. Tapi...," Kaito menatapnya tajam, "jangan pernah muncul di hadapanku lagi."

Hakuba tak berkata apapun, tapi detik selanjutnya ia langsung berdiri. Setelah meninggalkan sejumlah uang di counter –cukup untuk membayar minumannya dan Kaito– ia pun melangkah menjauh dari sana. Dan meskipun ia tak menengok kea rah pemudia itu lagi, ia tak melewatkan bisikan lirih Kaito.

"Jaga Aoko baik-baik."

"Aa."

Dan selama beberapa jam selanjutnya, Kaito menenggelamkan dirinya dalam pelukan alkohol. Beer. Wine. Vodka. Ia sendiri tak tahu berapa botol yang telah habiskan, maupun kapan ia kehilangan kesadarannya.

Sementara Shinichi yang terpaksa lembur karena kasus penculikan yang terjadi tak menyadari bahwa Kaito tidak pulang malam itu.

.o0O0o.

Ketika pagi datang baik-baik atau lebih tepatnya siang, ia melihat matahari telah cukup tinggi dari celah jendela yang tak tertutup tirai baik-baik ia merasa kepalanya sangat berat dan sakit, terima kasih pada alkohol yang dikonsumsinya semalam. Ia mengerang sambil menggelung tubuhnya, berusaha menahan perasaan mual karena merasa ruangan seakan berputar. Melirik meja di samping tempat tidur, ia menemukan segelas air dan sebotol aspirin. Dalam hati ia berterima kasih pada Tuhan dan siapapun yang meninggalkan obat itu disana dan segera menelan beberapa butir. Ia pun kembali berbaring, menunggu obatnya bekerja.

Ketika sakit kepalanya mulai mereda dan pikirannya tak lagi kabur, ia sadar bahwa ia tak tahu ia tengah berada dimana. Yang jelas ini bukan di rumahnya, bukan di sel penjara, dan juga bukan di rumah Shinichi. Keningnya berkerut, berusaha mengingat apa yang terjadi semalam setelah Hakuba pergi, tapi usahanya gagal.

Ia akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat tidur itu dan mencari tahu. Namun ia menyesalinya beberapa saat kemudian. Begitu ia berdiri, ia segera diserang rasa mual yang intensitasnya lebih besar dari sebelumnya. Ia pun segera berlari ke kamar mandi yang untungnya cepat ditemukannya dan memuntahkan isi perutnya. Ini adalah hangover terparah yang pernah ia alami, dan rasanya ia kapok minum sebanyak itu lagi.

Setelah merasa lebih baik, ia membersihkan muka dan melanjutkan usahanya mencari tahu dimana ia berada sekarang. Menuruni satu-satunya tangga disana, ia turun dan melihat jajaran meja-kursi yang tertata rapi serta lemari-lemari yang penuh berisi botol-botol dari berbagai jenis minuman.

"Ah, bar yang kemarin?"

"Oya? Sudah bangun?" terdengar suara seseorang dari bawah tangga.

Kaito mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu dan menemukan wajah bartender yang kemarin ditemuinya tersenyum padanya.

"Ya. Saya benar-benar minta maaf telah merepotkan Anda," ujar Kaito seraya membungkuk.

Pria itu hanya tertawa kecil, "Tidak masalah, hal seperti ini bukan pertama kalinya terjadi."

"Anda seharusnya menendangku keluar saja, tidak perlu repot-repot membiarkanku istirahat disini. Bagaimana kalau sebenarnya aku orang jahat yang sebenarnya ingin mencuri atau menghancurkan bar Anda?" tanya Kaito dengan dahi berkerut. Bukan ia tidak berterima kasih, ia hanya heran.

Pria yang rambutnya mulai memutih itu kembali tertawa. "Tapi kenyataannya kau tidak melakukan apapun pada barku kan? Melihatmu semalam, aku tak tega menendangmu keluar begitu saja. Aku sempat memeriksa sakumu -maaf soal itu- tapi aku tidak menemukan ponsel ataupun alamat rumahmu, jadi aku membiarkanmu istirahat disini."

Pria itu masih tersenyum ramah, sementara Kaito hanya terhenyak akan kebaikan orang yang bahkan tak mengenalnya itu.

"Terima kasih banyak," ujar Kaito pada akhirnya, sebuah senyum kecil terlihat di wajahnya.

Bartender tua itu hanya mengangguk, menerima ucapan terima kasihnya. "Kau belum makan kan? Ayo ikut sarapan denganku. Yah, meskipun ini sudah cukup siang sebenarnya haha."

Kaito hendak menolak, sungkan untuk merepotkannya lagi, tapi perutnya sudah menjawab sebelum ia mampu mencari alasan. Wajahnya memerah, sementara sang Bartender malah tertawa. Keduanya akhirnya sarapan bersama sambil bertukar cerita. Kaito bersyukur ia bisa mengalihkan pikirannya dari kenyataan yang diterimanya semalam, walau hanya sementara.

.o0O0o.

Sementara itu di Beika, Shinichi tengah dalam proses pengejaran penculik yang dengan lihainya mengelabui polisi di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Mereka masih bisa melacaknya melalui GPS sampai akhirnya penculik itu memutuskan untuk memindahkan uang tebusannya ke tas lain, membuat GPS tergeletak tak berguna bersama tas yang lama. Cukup pintar.

Sudah hampir 3 jam mereka berlarian kesana kemari sebelum akhirnya mereka memutuskan mengganti strategi. Shinichi memeras otaknya, berusaha menemukan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin diambil si pencuri dan presentase keberhasilannya. Sayangnya otaknya yang kurang tidur -ia hanya sempat tidur selama 15 menit semalam- dan staminanya yang cukup terkuras tak membuat otaknya bekerja lebih cepat. Baru satu jam kemudian mereka menemukan rute pelarian penculik dan memulai lagi pengejaran.

Usaha mereka akhirnya berhasil. Kawanan penculik itu berhasil diringkus dan korban berhasil diamankan. Yah, meskipun kenyataannya tidak semulus rencana mereka. Lengannya sempat terkena tusukan pisau salah satu penculik yang berusaha kabur, untung luka tusukan itu tidak terlalu dalam karena ia berhasil menghindar di saat terakhir, tapi nyerinya masih tetap sama. Ia pun meminta ijin untuk pulang dan berganti pakaian sebelum kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporannya. Kadang menjadi polisi memang melelahkan.

Begitu sampai di rumah, ia sempat heran karena tak menemukan Kaito disana. Sandwich sisa sarapan kemarin juga tak tersentuh. Apa itu artinya Kaito tidak pulang sejak kemarin? Atau pemuda itu makan diluar? Tak mau berprasangka buruk, Shinichi memutuskan untuk tidak memikirkannya dan menghabiskan sandwich itu, mencuci muka, berganti pakaian, dan kembali ke Markas Besar Kepolisian Beika.

Ketika akhirnya ia pulang kembali ke rumah, matahari sudah terbenam. Pintu depan tidak terkunci, artinya Kaito sudah pulang. Syukurlah, pikirnya. Tapi dahinya berkerut melihat ruang santai –dimana Kaito biasa menghabiskan waktu dengan membaca salah satu koleksi bukunya atau sekedar menonton tv di sore hari– gelap, hanya ada cahaya dari tv yang menyala, dan bau alkohol yang cukup menyengat.

"Kuro—"

Perkataannya terpotong ketika ia merasakan seseorang mendorong tubuhnya, membuat punggungnya menghantam tembok dengan cukup keras. Ia merasakan sepasang tangan mencengkeram lengannya, menahannya di tempat, dan mau tak mau membuatnya mengerang pelan karena merasa lukanya yang bahkan belum kering dicengkeram dengan begitu kuat. Berusaha memfokuskan matanya dalam ruangan yang gelap itu, ia menatap wajah orang di hadapannya. Ia tak terlalu terkejut untuk melihat wajah Kaito. Manik birunya tampak lebih gelap dari biasanya, lebih berkabut dengan emosi yang tak dikenalnya. Bau alkohol jelas menguar darinya.

"Lepaskan, Kuroba," desis Shinichi.

"Nee, Shin, apa nantinya kau juga akan meninggalkanku sendiri?"

"...ha?" hanya kata itu yang melintas di pikirannya. Ia tidak mengerti apa yang dikatakannya, atau apa yang menjadi alasan dibalik pertanyaan –yang menurutnya konyol– yang tiba-tiba terlontar darinya itu. Dan ia semakin tidak mengerti ketika pemuda di hadapannya itu mendadak mempertemukan bibir mereka.

.

To be continued

.


Happy birthday to our beloved Shinichi Kudo~ (ノ´ヮ´)ノ*:・゚✧

Maaf atas ke(super)terlambatan updatenya dan maaf atas pem-bully-an saya ke Kaito ahahaha /kabur/. Anyway, terima kasih yang sudah menyembatkan baca/review/fave/follow, I love you all! Seperti biasa ditunggu kritik dan saran dan curhatan atau apapun (?) lewat review~ See you soon ^w^)/