Words count: 2.213 words

Rate: M, for alcohol and slight suggestive adult theme

Warning: possible typo(s); chara(s) death; possibly OOC; alternate timeline; possibly BL/shonen-ai

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

The story belongs to me

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 6

-6th Shake-

Shinichi merasakan sepasang bibir asing menabrak bibirnya dan sensasi aneh segera merambat ke seluruh tubuhnya. Bukan, ini bukan ciuman pertamanya atau apa, tapi yang ini terasa berbeda. Lebih panas, lebih mendominasi— Merah langsung menjajah wajahnya begitu menyadari apa yang baru saja dipikirkannya. Dengan panik ia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk mendorong pemuda itu menjauh, membuat Kaito limbung dan tersungkur ke belakang.

"Apa yang kau lakukan hah?!" bentak Shinichi. Dengen refleks ia mengusap bibirnya dengan lengan kemejanya, berusaha menghapus sensasi aneh yang dirasakannya dengan sia-sia.

Masih menatap Kaito dengan sengit, ia semakin merasa heran melihat pemuda itu hanya duduk disana. Kepalanya tertunduk, samar-samar ia mendengar 'tidak mengingat' dan 'si brengsek Hakuba', tapi sisanya hanya terdengar seperti gumaman tanpa arti. Shinichi mengerutkan kening, tak mengerti kenapa pemuda itu terlihat lebih depresi daripada saat ia pertama tinggal dengannya. Dengan ragu Shinichi mendekatinya, mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Kaito. Dan tiba-tiba saja ia berdiri. Hal itu membuat Shinichi dengan cepat mengambil langkah mundur dan sikap waspada.

"Oi, aku tidak akan segan-segan untuk meninjumu kalau kau melakukan hal aneh lagi," ancamnya.

Tapi Kaito tak menggubrisnya. Ia melangkah mendekat, dua langkah, tiga, dan tanpa disangka-sangka ia ambruk ke depan, tak sadarkan diri.

.o0O0o.

Ketika Kaito sadar, pagi sudah datang lagi. Bedanya kali ini ia tengah berada di kamarnya –atau lebih tepatnya kamar tamu rumah Shinichi– dan hangovernya tak separah malam sebelumnya. Ia ingat kali ini ia hanya meneguk 4-5 kaleng bir. Ia memutuskan untuk bangun dan beranjak ke dapur, mengambil segelas air dan bertanya pada Shinichi –ia mendengar mesin kopi menyala yang artinya pasti Shinichi ada di dapur– apa ia punya obat sakit kepala atau tidak.

"Pagi, Shin. Apa kau punya obat sakit kepala?" sapanya begitu memasuki dapur, jemarinya memijat pelipisnya untuk sedikit meredakan sakit kepala yang menyerang. Meskipun begitu ia tidak melewatkan bagaimana pundak pemuda yang telah menampungnya itu menegang saat mendengar sapaannya, yang jelas membuatnya heran.

"Kalau tidak salah ada sebotol obat sakit kepala di laci kedua," jawabnya tanpa membalikkan badan.

Kaito menggumamkan terima kasih, membuka laci yang dimaksud, dan dengan mudah menemukan obat itu. Ia segera menyambar gelas di rak dan mengisinya dengan air sebelum meneguknya dengan obat. Kaito akhirnya memutuskan duduk di meja makan, dimana Shinichi dan secangkir kopi hitamnya sudah mendahului.

"Tidak ada kopi untukku?"

"Ambil saja sendiri," jawab Shinichi cepat. Entah kenapa ia terlihat lebih tegang dari biasanya.

Kaito yang sudah biasa dengan keketusan Shinichi hanya tertawa kecil seraya beranjak mengambil secangkir kopi untuk dirinya sendiri. Sedikit demi sedikit sakit kepalanya mulai menghilang, dan ia mulai mengingat apa yang terjadi kemarin.

Adalah saat ia pulang dari tempat Kawahara-san –bartender tua sekaligus pemilik Fántasma– yang mengawali depresi tahap dua-nya. Saat itu ia tidak sengaja melihat Aoko dan Hakuba yang baru saja keluar dari salah satu toko pakaian yang banyak berjajar di Ginza. Ia sempat merutuki pilihannya menolak tawaran Kawahara-san untuk beristirahat lebih lama disana.

Pada akhirnya ia segera berbalik dan pulang lewat jalan lain, mampir ke sebuah konbini yang dilewatinya dan membelanjakan sisa uang recehnya untuk membeli beberapa kaleng bir. Ah, mungkin ia memang minum lebih dari 5 kaleng. Begitu sampai di rumah, ia segera menenggak minuman itu. TV yang dinyalakannya hanya berfungsi sebagai pengusir sunyi, hanya untuk menghindari suara detik jam yang menyakitkan. Dan saat ia baru saja meneguk habis isi kaleng terakhirnya, ia mendengar suara pintu yang terbuka.

Saat itu alkohol sudah sangat memengaruhinya dan perasaannya yang kalut membuatnya bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Jadi ketika Shinichi datang, dan menolak menjawab pertanyaannya, rasa takut akan ditinggalkan orang-orang terdekatnya mendorongnya untuk—

"—aku menciumnya," tanpa sadar ia menggumamkan bagian itu –dan bukan hanya menyimpannya dalam pikirannya saja– seraya setengah membanting cangkirnya ke atas meja. Untungnya cangkir itu tidak pecah, hanya menumpahkan sebagian isinya. Kopi panas itu menodai linen biru muda yang menutupi meja makan dan juga memercik ke tangannya, membuatnya sadar akan keadaan sekitarnya.

Shinichi memelototinya karena mengotori taplak meja, tapi kemudian ia kembali memalingkan muka. Samar, Kaito bisa melihat wajah pemuda itu bersemu merah.

"Maaf, Shin, yang semalam itu...," ia berusaha meminta maaf, berusaha mencari alasan yang membuat tindakannya terdengar masuk akal. Sayangnya ia gagal. Ia sendiri tak tahu mengapa ia melakukannya, bagaimana mungkin ia menjelaskannya pada orang lain? Jadi ia diam. Noda kopi di meja mendadak terlihat sangat menarik baginya.

"Lupakan saja," pada akhirnya Shinichi-lah yang memecahkan keheningan itu. "Kau mabuk semalam, kau pasti tidak sadar dengan apa yang kaulakukan."

Kaito sedikit mengangkat kepalanya saat mendengar suara Shinichi. Ia melihat pemuda di hadapannya dengan tatapan bak seorang anak kecil yang ketahuan menyimpan majalah dewasa, atau begitulah pikir Shinichi. Kaito baru saja membuka mulutnya untuk kembali meminta maaf, tapi gerakannya terhelat saat melihat perban yang mengintip dari balik lengan kaos Shinichi. Tubuhnya menegang. Tatapannya terpaku pada lengan Shinichi.

"Shin, itu... Apa itu karena semalam? Apa aku melukaimu?" tatapannya kini terarah ke iris biru Shinichi. Panik dan rasa khawatir serta rasa bersalah terpancar dari matanya.

"Ha?" Shinichi menyipitkan mata, berusaha menangkap apa maksud perkataan pemuda di hadapannya itu sebelum ia akhirnya menyadari bahwa yang dimaksud adalah perban di lengannya,

"Ah, ini. Bukan salahmu. Ini karena ketidakhati-hatianku saat bertugas," jawabnya kalem sembari menyesap kopi hitamnya lagi.

Namun meskipun Kaito telah mendengar luka itu bukan karena ulahnya, ia tidak dapat berkata bahwa ia lega. Ia tidak mungkin bisa lega melihat pemuda yang telah baik padanya itu terluka.

"Luka karena apa? Sudah dibawa ke dokter? Sudah dibersihkan? Lebih baik kau ijin tidak masuk kerja hari ini," ujarnya dengan dahi berkerut.

Shinichi menatapnya aneh untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia tertawa kecil. "Kau terdengar seperti Ibu. Ini cuma luka gores kecil, tidak perlu pergi ke dokter segala. Lagipula aku sudah membersihkannya, jangan khawatir."

"Kau yakin? Kau tahu kalau sampai lukanya infeksi bisa berbahaya kan?" Kaito masih tampak tidak puas dengan jawaban Shinichi. Ia telah beranjak dari kursinya dan berdiri di sisi sang Detektif untuk memeriksa luka itu dengan mata kepalanya sendiri.

"Kaito!" Shinichi setengah memekik, khawatir pemuda itu akan melakukan hal bodoh lagi ketika ia merasakan pemuda itu mencengkeram tangannya dan membuka perbannya. Setelah akhirnya ia merasa puas melihat luka Shinichi memang tidak parah dan memang sudah dibersihkan dengan benar, Kaito menghela napas berat.

"Jangan membuatku khawatir begitu, Shin," ujarnya.

"Aku sudah bilang aku baik-baik saja, kenapa kau masih khawatir?" protes Shinichi, berusaha menahan diri untuk tidak memutar bola matanya sebal. "Kau sendiri membuat orang khawatir dengan tidak pulang semalaman."

Kaito tampak sedikit menegang karenanya, ingatannya kembali ke malam sebelumnya dan semua yang mengakibatkannya tidak pulang.

"Maaf, ada beberapa hal yang terjadi dan aku tidak sempat menghubungimu," hanya itu alasan yang mampu dikeluarkannya. Ia tak ingin menceritakan apa yang terjadi pada siapapun, toh mereka juga tak akan bisa melakukan apapun itu mengubahnya.

Ia mendengar Shinichi mendengus sebelum akhirnya beranjak dari kursinya, membawa cangkir kopi yang sudah kosong ke tempat cuci piring.

"Kau punya ponsel tidak?" tanyanya di sela kegiatan mencuci piringnya.

Kaito yang telah kembali duduk di kursinya menengok ke arah Shinichi, "Tidak. Ponselku yang dulu sudah lama mati. Lagipula tidak ada yang akan menghubungiku kan?"

"Untuk sekarang, ya, tapi aku yakin kau akan membutuhkannya nanti. Paling tidak itu akan memudahkanmu memberitahuku kalau kau sedang ada urusan dan tidak bisa pulang, atau sebaliknya."

Kaito menimbang-nimbang perkataan Shinichi sebelum akhirnya mengangguk, "Kurasa kau benar. Akan kulakukan."

"Baguslah," jawab Shinichi singkat tapi terdengar puas. Ia lalu beranjak keluar dari dapur setelah meletakkan cuciannya yang telah dikeringkan ke dalam rak.

"Kau mau kemana? Kerja?" Kaito mengerutkan dahi, matanya mengikuti sosok Shinichi.

"Ya. Aku bahkan belum menyelesaikan laporan tentang kasus kemarin," jawab Shinichi tanpa berhenti.

"Padahal kau sedang terluka, rajin sekali," gerutu Kaito, "Ah dan nanti malam aku akan pulang larut jadi tidak usah menungguku!"

"Kau mau keluyuran kemana?" suara Shinichi terdengar semakin samar, tampaknya ia tengah menaiki tangga ke lantai 2 tempat kamarnya berada.

"Enak saja, aku kerja tahu!"

"Mencuri?" tanya Shinichi skeptikal.

"Hei aku sudah pensiun di bidang itu."

Kaito tidak tahu apa Shinichi mendengarnya atau tidak, dan kalaupun Shinichi mendengarnya dan menanggapinya, ia juga tak mendengarnya. Mereka telah tenggelam dalam rutinitas pagi masing-masing. Meskipun begitu, entah kenapa, mereka merasa sedikit lebih dekat pada satu sama lain sekarang.

.o0O0o.

Malam itu Shinichi benar-benar menemukan rumahnya dalam keadaan kosong ketika ia pulang dari kerja. Kaito tengah bekerja di Fántasma atas tawaran Kawahara-san, kebetulan salah satu pegawainya baru saja mengundurkan diri beberapa hari yang lalu. Ia berusaha melupakan rasa sakit hatinya dengan membenamkan diri dalam pekerjaan. Yah, dari dulu ia memang cukup ahli dalam berinteraksi dengan orang lain. Tidak sulit baginya untuk beradaptasi dan berbaur dengan orang-orang di tempat kerjanya. Sedikit demi sedikit ia juga mulai tertarik dengan seni bartending, meskipun tentu saja kemampuannya masih jauh di bawah teman-teman sekerjanya yang telah mendapatkan pendidikan yang layak sebagai seorang bartender dan pengalaman yang tidak bisa dibilang sedikit. Bagaimanapun juga bar tempatnya bekerja itu memang cukup terkenal, walaupun tempatnya tidak terlalu besar, jadi wajar kalau bartender-bartender hebatlah yang dipekerjakan disini.

Dan entah sejak kapan, ia mulai kembali bermain sulap. Hanya trik-trik kecil sebenarnya, namun cukup membuat orang terkesima. Hanya dalam beberapa hari dan gosip kebiasaan antiknya itu telah tersebar, menarik banyak wanita-wanita muda untuk mampir dan melihat sendiri sang 'Pesulap Tampan yang Bekerja Sebagai Pelayan di Fántasma'— atau begitulah orang menyebutnya.

Sementara pertama kali Shinichi mengetahui ia bekerja di Fántasma, itu terjadi karena murni sebuah kebetulan. Saat itu Shinichi dan rekan-rekannya tengah merayakan pernikahan salah satu teman mereka disana. Tentu saja ketika ia diminta untuk mengantarkan beberapa botol minuman ke meja mereka, ia tidak menyangka akan melihat Shinichi.

"Kuroba?!" adalah reaksi pertama Shinichi ketika melihatnya. Kaito sendiri sempat cengo melihat Shinichi duduk di depannya. Sejujurnya ia tidak memperhatikan siapa saja yang duduk disana.

"Shin? Sedang apa kau disini?"

Sedetik kemudian ia menyadari itu pertanyaan bodoh. Siapapun yang datang ke bar pasti ingin minum kan?

"Jadi kau bekerja disini, eh?" Shinichi balik bertanya, mengabaikan pertanyaan bodoh Kaito.

"Begitulah," jawab Kaito dengan senyuman lebar. "Silahkan wine pesanan anda" ujarnya ketika meletakkan botol terakhir di meja mereka. Lalu dengan bunyi 'pop', setangkai mawar muncul di tangannya, "Dan selamat menikmati."

Ia meninggalkan mawar itu disana dan melangkah pergi. Ia sempat melihat Shinichi tersenyum kecil dari sudut matanya. Mungkin sang Detektif tengah mengingat masa-masa saat ia mengejar Kaitou KID? Entah. Yang pasti Kaito yakin ia telah sukses membuat Shinichi kerepotan selama beberapa saat karena rentetan pertanyaan dari para polisi wanita yang tampak penasaran dengan dirinya, dan itu membuatnya tersenyum puas.

Sudah hampir 2 bulan berlalu sejak hari itu, dan sejauh ini Kaito menikmati pekerjaannya. Hanya satu kekurangannya, pekerjaannya itu membuatnya sangat jarang bertemu Shinichi. Bagaimana tidak, ia pulang dini hari saat Shinichi tengah terlelap dan berangkat sebelum Shinichi pulang kerja, sementara detektif itu berangkat saat Kaito baru saja tidur dan pulang ketika rumah dalam keadaan kosong.

Meskipun mereka tinggal serumah, email dan beberapa telepon singkat menjadi penghubung mereka sekarang, walau cuma untuk sekedar meminta tolong agar Kaito belanja karena persediaan makanan mereka menipis atau untuk mengeluarkan sampah ketika Shinichi lupa melakukannya di hari pengambilan sampah. Kadang juga Kaito meminta tolong pada Shinichi untuk mengantarkan dompetnya yang tertinggal ke bar, yang kemudian akan dibalasnya dengan mentraktir detektif itu minum segelas cocktail kebanggaan Fántasma. Dan meskipun ia tidak akan mengakuinya, ia beberapa kali meninggalkan dompetnya di rumah dengan sengaja hanya agar Shinichi datang kesana.

Satu hari, ketika angin musim gugur tengah berhembus, Kaito tengah merapikan counter ketika ia mendengar Kawahara-san memanggilnya. Ia pun segera menghampiri pria tua sekaligus bosnya itu. Tampak seseorang tengah berdiri di sampingnya, padahal saat itu bar seharusnya belum buka. Wajah pria itu serius, ia hanya membalas senyuman Kaito dengan anggukan singkat.

"Ada apa, Kawahara-san?" tanyanya ketika ia telah berdiri di depan pemilik Fántasma itu.

"Pria ini mencarimu, Kuroba-kun," jawab bartender itu seraya menepuk pundak pria di sampingnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari jas sakunya dan menunjukkannya pada Kaito. Ah, lencana polisi. Tidak heran Kaito merasa pernah melihat wajah orang itu, pasti ia teman Shinichi yang dulu minum-minum disini. Tapi kenapa seformal itu?

"Maaf menganggumu, Kuroba-san. Kau tinggal bersama Kudo-san bukan?"

"Ya," jawabnya singkat. Otaknya tengah menebak-nebak masalah apa yang membuat pria itu datang mencarinya kesini dan apa hubungannya dengan Shinichi.

"Apakah kau tahu dimana Kudo-kun berada sekarang?"

Pertanyaan itu membuat alisnya terangkat. "Tidak, tapi bukankah biasanya ia masih berada di kantor pada jam-jam ini?"

Pria itu menghela napas berat, jelas sekali tampak kecewa dengan jawaban Kaito. Ia kembali memasukkan lencananya sebelum menjawab, "Ya, biasanya. Tetapi Kudo-kun tidak kembali ke kantor sejak kemarin siang."

Air muka Kaito berubah tegang. Ia merasakan sesuatu yang buruk tengah mendekat.

"Kami sudah ke rumahnya tetapi ia tidak ada disana. Kapan terakhir kali kau bertemu dengannya?"

"Aku tidak terlalu ingat kapan," jawab Kaito jujur, "Kami hampir tidak pernah bertemu di rumah. Ia bekerja ketika aku di rumah dan aku bekerja ketika ia di rumah, sementara beberapa jam saat kami sama-sama di rumah kami habiskan di tempat tidur kami masing-masing. Kalian para polisi tidak libur di akhir minggu, begitu juga pekerjaanku di bar ini. Jadi yah, begitula," Kaito mengedikkan bahu. "Kenapa tidak mencoba menghubungi ponselnya?"

" Ya, tentu saja itu yang pertama kami lakukan," Kaito bersyukur detektif itu tidak terdengar sebal dengan pertanyaannya –yang setelah dipikir lagi itu cukup bodoh, tentu saja para detektif ini tahu prosedur yang tepat menghadapi situasi macam ini– itu, "Sayangnya kami tidak bisa menghubunginya sejak kemarin selepas makan siang. Kami berharap paling tidak ia akan memberitahumu kemana ia pergi, tapi sepertinya dugaan kami salah."

"Tunggu, jadi maksudmu... Shinichi menghilang?"

Dan oh, Kaito sama sekali tidak menyukai hal ini.

.

to be continued

.


Hai hai~ Sudah ga pada brokoro bareng Kaito kan? XD Chapter ini lebih ke penjelasan dan pengembangan keadaan mereka sih, next chapter balik konflik lagi, tee-hee. Ngomong-ngomong, kalau kalian lebih prefer ini dibawa ke KaiShin alias BL atau mau tetep friendship? Mohon komennya~ Komen kalian memungkinkan saya merupah keputusan saya! /apa. Oh ya, dan terima kasih yang sudah menyempatkan baca/review/fave/follow, semuanya menambah semangat saya ;w;)/ Seperti biasa ditunggu kritik dan saran dan curhatan lewat review~ See you soon (semoga)!