Words count: 2.643 words

Rate: T

Warning: possible typo(s); chara(s) death; alternate timeline; possibly BL/shonen-ai, some OCs to support the story (as figurants).

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

The story belongs to me

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 7

-7th Sin-

~Kaito's POV~

"Kudo-kun tidak kembali ke kantor sejak kemarin siang."

Sejak mendengar kalimat itu, perasaanku jadi tidak enak. Aku bisa merasakan detak jantungku meningkat, gelisah. Selama ini Shinichi tidak pernah menghilang tanpa kabar, jika ia tidak pulang ia pasti akan memberitahuku. Tapi aku bahkan tidak sadar kalau dia tidak pulang semalam.

Aku mengecek lagi ponselku, berharap aku melewatkan email dari Shinichi, tapi ternyata memang tidak ada email darinya. Kugali lagi ingatanku jikalau ada tanda-tanda yang ditinggalkan Shinichi yang kulewatkan sebelumnya, namun hasilnya nihil. Tidak ada hal yang berubah di rumah, bahkan jumlah sandwich sisa makan malam –yang juga kumakan sebagai menu sarapan– masih sama. Harusnya aku sadar itu artinya Shinichi tidak pulang dan ya, harusnya aku mulai mencarinya sekarang.

"Apa Shinichi tengah menangani suatu kasus?" tanyaku pada polisi yang terlihat baru saja memasukkan ponselnya itu.

"Tidak, kami baru saja menyelesaikan kasus penculikan kemarin dan tinggal menyelesaikan laporannya. Karena itu aneh rasanya jika ia menghilang tanpa kabar seperti ini."

Aku mengernyitkan dahi. Kenapa dia menghilang begitu saja padahal tidak ada kasus yang tengah ditanganinya? Apa dia memergoki suatu tindak kejahatan tengah terjadi lalu mengejarnya begitu saja? Tidak, tidak mungkin ia akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu –aku sudah mendengar ceritanya dari Yukiko-san– lagi. Lalu kenapa? Tunggu, jangan-jangan—

"—ia menemukan sesuatu yang janggal ketika mengerjakan laporan itu dan memutuskan untuk menyelidikinya," ujarku seraya menatap detektif di hadapanku.

Tampaknya butuh beberapa saat baginya untuk memahami apa yang kumaksud.

"Ya, kurasa itu mungkin," ujarnya pada akhirnya, "tapi jika memang begitu harusnya ia tetap mengabari kami—"

"Benar, kecuali sesuatu yang gawat terjadi dan dia tidak bisa menghubungi siapapun. Bisa kauberi tahu aku mengenai kasus yang telah kalian tangani itu?" potongku dengan tidak sabar.

Detektif polisi itu memandangku dengan tatapan tidak suka seraya berkata, "Kami tidak bisa memberitahukan informasi semacam itu pada warga sipil."

Setelah sekian lama, praktik poker face-ku pun berlanjut. Aku menatapnya dengan tenang, menyembunyikan rasa tidak sabar yang seakan memaksaku untuk langsung saja berlari menyusuri setiap jengkal kota untuk mencari pemuda itu.

"Oh ayolah, kau pasti tahu masa laluku kan? Kalau kau tidak mau memberitahukan informasi-informasi itu, maka aku akan mencurinya dari kalian," ujarku setengah mengancam tetapi dengan tetap tersenyum sopan.

"Masa lalumu membuatku lebih tidak ingin membagi informasi yang kami miliki denganmu. Bisa saja kau menyalahgunakan informasi itu, atau malah ternyata kaulah dalang dari semua ini," ia menatapku curiga.

Aku mendengus. "Maaf sebelumnya, tapi sejujurnya asumsi anda terdengar sangat bodoh. Aku sudah beberapa bulan tinggal di rumah Shinichi. Kalau aku melakukan kejahatan, tidak mungkin detektif satu itu tidak menyadarinya," ungkapku seraya mengibaskan tangan seakan untuk menampik argumennya.

Detektif polisi yang lebih tinggi beberapa senti itu memelototiku. Ia tahu apa yang kukatakan benar, ia hanya tidak mau mengakuinya.

"Jadi apa keputusanmu, Tuan Detektif? Jangan membuang waktu sementara nyawa Shinichi mungkin saja tengah terancam," aku menatap mata pria itu, menuntut jawaban.

Pria itu mendecak kesal sebelum melangkah keluar, "Ikuti aku."

Sebuah senyum penuh kemenangan mengembang ketika aku mendengarnya.

"Kawahara-san, maaf, tapi sepertinya hari ini aku tidak bisa masuk kerja," pamitku seraya buru-buru mengikuti detektif itu keluar. Aku sempat melihat Kawahara-san mengangguk, ekspresinya merupakan campuran antara bingung, khawatir, dan pengertian.

"Hati-hati, Kuroba-kun," ujar sang Bartender tua itu tepat sebelum aku melangkah keluar dari pintu bar. Aku hanya mengangguk kecil sebagai tanda bahwa aku mendengarnya.

Menumpang mobil Shiratori-san, kami langsung bergegas menuju Markas Besar Kepolisian Beika. Tanpa membuang waktu aku langsung memintanya untuk menunjukkan laporan yang ditulis Shinichi, jadi disinilah kami sekarang, di depan meja kerja Shinichi. Laporan yang ditulisnya sudah hampir selesai, rincian mengenai kasus yang ditanganinya juga tersaji dengan baik. Kalau boleh kubilang, benar-benar khas Shinichi.

Seperti yang sempat dijelaskan Shiratori-san di mobil, ada tiga anak yang menjadi korban penculikan ini, yang kesemuanya merupakan anak dari Nachi Takahiro, seorang pengusaha yang cukup terkenal. Penculikan pertama terjadi ketika putri ketiga Nachi-san pulang dari sekolah. Seperti biasa, hari itu ia pulang dengan dijemput oleh sopir pribadi keluarga mereka, tetapi di tengah jalan mobil mereka dihadang oleh orang tak dikenal. Shibata-san, sang sopir, dikunci di dalam bagasi setelah dibius hingga tak sadarkan diri. Menggantikan keberadaan putri ketiga keluarga Nachi adalah sepucuk surat berisi tuntutan dari si penculik dan sehelai daun peterseli yang diduga tersangkut dibaju tersangka dan kemudian jatuh disana.

Penculikan kedua terjadi karena Nachi-san tidak menuruti instruksi si penculik untuk tidak melapor pada polisi, atau begitulah yang tertera pada selembar surat yang tergeletak di loker milik putri kedua keluarga Nachi di tempat latihan baletnya, disertai sehelai daun sage yang terselip di bawahnya. Bahkan anak pertamanya juga tidak luput dari sasaran si penculik. Ia yang sehari-harinya selalu mengurung diri di studio melukis di kampusnya ditemukan menghilang dengan sebuah amplop berisi tuntutan uang tebusan yang ditempelkan pada lukisannya yang baru setengah jadi.

"Apa kalian berhasil memecahkan arti dari daun-daun tersebut?"

"Kepolisian memutuskan bahwa daun-daun itu tidak berhubungan dengan penculikan yang dilakukan tetapi hanya kebetulan ada disana, mengingat banyak tanaman di sekitar lokasi penculikan."

"Tapi tampaknya Shinichi tidak beranggapan begitu."

"Apa maksudmu?"

"Kalau ia beranggapan hal itu tidak berhubungan, pasti ia tidak akan menuliskannya di dalam laporannya bukan?"

Aku bisa merasakan polisi itu menatapku tajam tapi aku mengabaikanya dan terus berbicara.

"Peterseli, sage, rosemari, timi... Itu adalah empat nama tumbuhan herbal yang terkenal di Inggris kuno dan dikatakan dapat mengusir roh jahat. Keempatnya bahkan digunakan sebagai lirik lagu dan dijadikan frase yang juga cukup terkenal," jelasku panjang lebar.

"Tetapi hanya ada tiga kasus penculikan dan tiga daun...," tampak memahami jalan pikiranku, Shiratori-san mengungkapkan hal itu dengan muka masam, "Jangan bilang kalau sebenarnya ada satu penculikan lagi."

"Kemungkinan besar begitu. Kurasa Shinichi juga berpikiran seperti itu, karenanya ia pergi."

"Tapi kami sudah berhasil menangkap pelakunya!" polisi paruh baya itu terlihat gelisah, "Abe Yoshiki, 35 tahun. Ia pemabuk yang baru saja dipecat dari pekerjaannya. Ia sering berkeliaran di sekitar kediaman keluarga Nachi dan berpikir bahwa ia dapat memperoleh banyak uang jika ia mencoba menculik putri keluarga itu. Ia bahkan sudah mengakuinya."

"Bagaimana ia bisa mengetahui kapan dan dimana korbannya berada?" aku terus mendengarkan penjelasannya sambil tetap mengoperasikan komputer Shinichi, mencari tambahan data yang menjadi pendorong bagi Shinichi untuk bergerak.

"Dia sudah melakukan pengintaian sejak beberapa hari sebelumnya."

Begitu melihat riwayat pencarian Shinichi aku akhirnya menemukan apa yang kucari. "Shiratori-san, coba lihat ini," ujarku memotong penjelasan Shiratori-san mengenai apa saja yang telah diungkapkan pelaku.

Ia terlihat agak kesal karena dipotong begitu saja tetapi ia tetap mendekat ke arah layar, membaca artikel yang terpampang disana.

"Skandal Perselingkuhan Nachi Takahiro?" ia membaca judul artikel itu dengan alis terangkat.

Aku hanya mengangguk singkat seraya berkata, "Ini artikel sejak beberapa tahun yang lalu, tetapi tampaknya ini bukan berita pertama maupun yang terakhir tentangnya. Jika kita berasumsi bahwa tidak semua kabar itu bohong, maka ada kemungkin bahwa ia memang mempunyai anak lain dari salah seorang selingkuhannya."

"Lalu menurutmu anak itu juga menjadi korban penculikan, begitu?" tanyanya dengan nada yang jelas masih menyiratkan keraguan.

"Ya, kemungkinan hal itu benar bukan 0%."

Ia hanya terdiam memandangi layar selama beberapa saat, menimbang-nimbang pilihan yang ia punya.

"Aku akan coba menanyai Abe lagi," ujarnya pada akhirnya.

"Aa, silahkan saja," aku beranjak berdiri dari kursi Shinichi, "Terima kasih sudah membiarkanku melihat laporan Shinichi."

"Kau mau kemana?" tanyanya tanpa menghiraukan ucapan terima kasihku dan menatapku dengan curiga.

"Mencari Shinichi, tentu saja. Kalian menangkap pelaku penculikannya tepat setelah proses penyerahan uang tebusan bukan? Kalau begitu aku ragu orang itu berhubungan dengan menghilangnya Shinichi."

Aku bergegas pergi dari sana, tapi langkahku terhenti di depan pintu karena ada sesuatu yang baru saja melintas di pikiranku. "Apa tidak mungkin untuk menemukan lokasi Shinichi dengan melacak GPS ponselnya?" aku menatap lurus Shiratori-san, beberapa orang juga ikut menatapku mendengar pertanyaan itu tapi aku mengabaikan mereka. Yang tidak kusangka adalah saat jawaban atas pertanyaanku terdengar dari sampingku.

"Sinyal GPS Kudou-kun terakhir terdeteksi di area 51 semalam, tapi sekarang sinyalnya tidak bisa dilacak lagi. Kemungkinan besar ponselnya sedang dalam keadaan mati atau malah rusak," jelas seorang polisi wanita yang membawa sebuah clipboard mengenai data yang baru saja dibacakannya.

"Bisa kau beri tahu alamatnya?" tanyaku yang tentu saja tak tahu dimana 'area 51' yang dimaksud.

Wanita muda –aku ingat pernah melihatnya di bar bersama Shinichi dan rekan-rekannya dulu– itu membuat kontak mata dengan Shiratori-san, meminta ijin, dan akhirnya menyebutkan alamat yang kubutuhkan setelah melihat anggukan kepala dari pria yang memiliki jabatan lebih tinggi itu.

"Aku akan mengirimkan beberapa orang untuk menyelidiki area itu. Jangan bertindak bodoh sebelum polisi tiba disana," ujar Shiratori-san.

Aku hanya mengangguk singkat sebelum melesat menuju alamat yang dimaksud. Aku bukan bagian dari kepolisian jadi tentu saja aku tidak perlu menunggu perintah mereka untuk bergerak, dan mereka tidak bisa menghalangiku.

Shinichi tidak kembali sejak jam makan siang kemarin. Itu artinya ia sudah menghilang selama hampir 24 jam. Sinyal ponselnya juga menghilang sejak semalam. Aku tidak tahu apakah ia masih ada di tempat dimana sinyalnya menghilang, atau bahkan sudah pergi ke tempat lain. Dengan tujuan pelaku –tentu saja aku berasumsi ada pelaku lain selain orang yang bernama Abe itu– tidak jelas, maka kemungkinan yang dapat diprediksi juga terbatas.

Aku tidak bisa optimis mengatakan bahwa Shinichi berhasil mengungkapkan siapa pelaku sebenarnya dan tengah mengintai untuk menangkapnya, karena jika itu yang terjadi maka tak ada alasan baginya untuk menghilang sehari penuh tanpa mengabari divisinya. Sementar kemungkinan terburuknya adalah... bahwa ia sudah mati. Tidak, Shinichi tidak selemah itu. Aku yakin ia tak akan mati semudah itu. Yang pasti aku harus segera menemukannya, pikiran itu memacu kakiku untuk berlari lebih cepat.

Ternyata alamat itu merujuk pada kompleks pergudangan yang sudah tidak terpakai. Beberapa bangunan terpisah –yang dulu menyimpan berbagai barang– terlihat terbengkalai, rusak dimakan waktu. Benar-benar lokasi yang cocok bagi penculik untuk bersembunyi. Dengan berhati-hati aku menghindari kawasan terbuka dan memilih mengendap-endap dibalik bayang-bayang bangunan. Saat itulah terlihat sebuah mobil melaju dari gudang paling utara. Mobil yang terlihat mengkilat itu benar-benar tampak mencolok di tempat tua ini.

'Ketemu,' batinku saat melihatnya. Kubiarkan mobil itu bergerak melewati tempatku bersembunyi sebelum aku bergegas menuju tempat darimana mobil itu datang.

Gudang paling pojok itu tidak terlihat jauh berbeda dengan gudang-gudang lain. Cat yang mengelupas, besi-besi berkarat, jendela-jendela berdebu. Yang berbeda adalah dua sosok pria yang tergeletak di dalam sana.

"Shin!" tanpa sadar aku berseru cukup keras saat mengenali sosok yang tengah terborgol dengan beberapa bercak darah yang menodai bajunya itu sebagai orang kucari.

Ia mengerang pelan, tampak menahan sakit saat mengangkat kepalanya ke arah suaraku berasal.

"...Kuroba?" matanya yang hanya terbuka separuh tampak melebar. Aku mengabaikan reaksinya, membobol masuk lewat jendela, dan menyeberangi gudang yang nyaris kosong itu dengan cepat. Kata-kata 'apa kau baik-baik saja?' rasanya tidak pantas diucapkan saat ini, mengingat luka-lukanya terlihat jelas dan tentu saja ia tidak sedang baik-baik saja. Aku hanya lega bahwa ia masih hidup.

"Kenapa kau ada disini, Kuroba?" tanyanya setelah aku melepaskan borgol di tangannya, yang sebenarnya cukup mudah mengingat reputasi dan pengalamanku sebagai Kaitou KID.

"Harusnya itu pertanyaanku, kenapa kau menghilang tanpa kabar dan malah disandera sampai babak belur begini? Kau membuatku khawatir! Bukannya dulu kau yang bilang kalau tidak baik jika tidak pulang tanpa memberi kabar, hah?" omelku panjang lebar. Aku berusaha membuat suaraku senormal mungkin dan menetralisir emosiku yang tengah tak karuan -cemas, jengkel, lega- tapi aku tidak tahu usahaku berhasil atau tidak.

Shinichi mengusap pergelangan tangannya, berusaha meredakan nyeri karena bekas borgol yang menggigit kulitnya. Ia menggumamkan kata maaf dengan pandangan mata yang teralih dariku, tapi kurasa ia benar-benar tulus mengatakannya. Aku hanya menghela napas keras menanggapinya.

"Jadi, kenapa kau bisa tertangkap? Jangan bilang kau dengan ceroboh membuntuti mereka saat mencari siapa korban penculikan keempat?"

Kali ini Shinichi menatapku, ekspresinya antara bingung dan kaget. Jelas ia tidak menyangka aku tahu mengenai kasus yang ditanganinya. Atau mungkin karena tebakanku tepat? Ekspresi itu tidak bertahan lama di wajahnya karena ia kemudian melemparkan pandangannya ke seberang ruangan, dimana seorang bocah lelaki meringkuk ketakutan di antara tumpukan kotak-kotak berdebu.

"Putra Nachi Takahiro dari salah satu selingkuhannya. Ia diambil paksa dari ibunya saat masih bayi dan ditempatkan di panti asuhan oleh ayah kandungnya," sesaat ia melemparkan lirikan dingin ke arah Nachi Takahiro yang tengah tergeletak dengan tangan dan kaki terikat, memar di tubuhnya tampak jauh lebih banyak dari Shinichi.

'Lalu kenapa anak yang tidak tau apa-apa itu dilibatkan?' pikirku.

Dan seakan menyadari pikiranku, Shinichi melanjutkan penjelasannya. "Pelaku penculikan ini adalah... sopir pribadi keluarga Nachi yang sebenarnya adalah kakak dari ibu anak itu," Shinichi berjalan sempoyongan ke arah si bocah yang terisak, "Adik perempuannya meninggal dua tahun setelah ia dipisahkan dari anaknya karena depresi, dan sejak saat itu sang kakak mulai mencari pria yang menyebabkan kematian adiknya sekaligus mencari keberadaan keponakannya. Penculikan ketiga anak Nachi sebenarnya hanyalah sebagai umpan untuk memancingnya ke panti asuhan dimana ia meninggalkan putranya. Dan tentu saja, Shibata Hirofumi sudah menunggunya disana."

"Bisa dibilang ini kejahatan yang sudah direncanakan bertahun-tahun, eh..."

"Aa. Ia mengajak seseorang yang bisa menjadi rekannya dalam melakukan penculikan sekaligus sebagai pengalih perhatian tanpa membeberkan identitasnya, yang terbukti tidak cukup sulit dengan iming-iming uang banyak. Daun-daun yang disisipkannya di setiap lokasi kejadian merupakan tanda, seakan ia berusaha mengusir iblis agar tidak mendekati anak-anak itu, dimana di matanya, Nachi-san adalah iblis itu."

Bocah 4 tahun itu makin mengkerut melihat Shinichi mendekat. Ia tak berhenti memberontak ketika detektif muda itu menggendongnya. Ah, pasti sakit karena luka-lukanya ditendang dan dipukul begitu, walau oleh anak kecil. Anak itu ketakukan, wajar saja ia melakukan hal itu. Dan Shinichi tampak memahami hal itu karena ia bahkan tidak menunjukkan rasa sakitnya. Aku berniat membantunya ketika suaranya menghentikanku.

"Kuroba, tolong kau lepaskan Nachi-san. Kita harus segera keluar dari sini sebelum ia kembali," ujarnya seraya melempar pandang ke arahku, tangannya masih berusaha menahan bocah di gendongannya.

Aku mengangguk dan menghampiri pria itu. Untungnya aku selalu membawa pisau lipat jadi aku tak perlu repot melepaskan simpul-simpul tali yang mengikat tangan kakinya.

"Apa kau selalu seceroboh ini, Shin? Kenapa juga ponselmu tidak bisa dihubungi?"

"Ha? Oh, maaf, aku lupa tengah menyetelnya ke mode 'diam', bahkan getarannya juga kumatikan, makanya aku tidak sadar kalau ada panggilan masuk."

Aku melemparkan tatapan yang seakan berkata 'kau serius?!', sementara ia hanya nyengir kecil sebagai permintaan maaf. Dan saat itulah sudut mataku menangkap bayangan di balik pintu, serta sesuatu yang mengkilat terkena cahaya matahari yang sudah agak condong ke barat. Mengingat arah matahari dan sudut darimana kilatan itu terlihat, incarannya adalah—

"Shin, awas!"

Untungnya Shinichi berhasil menghindar tepat waktu. Ia menjatuhkan diri ke belakang tumpukan kotak bersamaan dengan meletusnya pistol yang dipegang si pelaku. Tubuh Nachi yang kutopang bergetar melihat sosok orang itu, ia mulai menggumamkan hal-hal tak jelas karena ketakutan yang memuncak. Aku berusaha menyeretnya ke balik tumpukan kotak lain untuk bersembunyi.

"Siapa kau?!" ia mendorong paksa kedua pintu gudang hingga terbuka dan menodongkan pistolnya ke arahku yang belum berhasil bersembunyi. "Aku berniat kembali dan membawa anak itu pergi sebelum menghabisi kalian, tapi malah kutemukan satu orang lagi yang berusaha membebaskan iblis itu," pria itu menatapku tajam, "Menjauhlah dari iblis itu! Untuk apa kau menyelamatkannya hah?!"

"Menyerahlah, Shibata Hirofumi-san! Kalau kau berhenti sekarang maka kasus ini hanya akan dikenakan sebagai percobaan pembunuhan!" terdengar suara Shinichi, tegas, lantang. Ia tampaknya memutuskan untuk menampakkan dirinya setelah berhasil membujuk si bocah agar tetap bersembunyi. Sayangnya aku tidak yakin kata-katanya akan dapat mengubah pikiran pria yang sudah dikuasai kebencian itu.

Dan benar saja, pria itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataannya. Ia berjalan mendekat dengan pistol yang masih tertodong ke arah kami secara bergantian.

"Bagiku menghabisi iblis ini lebih penting! Andai saja dia tidak ada, adikku tidak akan mati! Untuk apa membela lelaki rendah yang memanfaatkan uang dan jabatannya untuk memancing wanita-wanita ke kamarnya itu? Konyol! Kau, menjauh darinya!"

Moncong senjatanya bergeser ke arahku. Aku hendak mengulur waktu dengan menuruti kemauannya, tetapi Nachi memegangiku erat hingga aku tidak dapat menjauh darinya. Aku berusaha untuk tidak mendecak kesal atas tindakan pengecutnya.

"Dia tidak ada hubungannya dengan semua ini–"

"Diam!"

Perkataan Shinichi dipotong dengan teriakan pria yang tampak makin tidak sabaran itu.

"Kalau dia membela iblis itu, maka dia sama saja dengan iblis itu!"

Uh-oh, tampaknya ini gawat.

Dengan satu gerakan cepat, ia mengokang pengaman pistol dan menarik pelatuknya.

"–KAITO!"

Dor.

.

to be continued

.


Halo~ Lama tidak bertemu :") Terima kasih buat semua yang udah review dan ngasih saran soal kelanjutan hubungan (?) Kaito & Shinichi~ Sejujurnya saya masih bingung hahaha, jadi nantikan saja kelanjutannya! Maaf juga belakangan belum sempat ngebalesin review, nanti saya bales kok *^*)7 Anyway, gimana chapter ini? Semoga tidak mengecewakan m(_ _)m Seperti biasa, ditunggu kritik dan saran dan curhatan lewat review ya. See you soon!