Sorry for the long wait! *deep bows* Terima kasih buat semua yang sudah baca/review/fave/alert, semuanya bikin saya terharu X"D Maaf kalo saya ga bisa balesin review satu-satu orz. Anyway, here it is!


Words count: 2104 words

Rate: T

Warning: possible typo(s); chara(s) death; possibly OOC; alternate timeline; possibly BL/shonen-ai

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

The story belongs to me

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 9

-9th Scar-

Seperti sebagaimana hari-hari sebelumnya, hari itu pun Kaito menyempatkan diri menjenguk Shinichi yang masih terbaring di rumah sakit. Bedanya adalah jika biasanya ia mampir kesana selepas shift kerjanya, kali ini ia datang sebelum berangkat kerja. Dan bedanya lagi, ruangan yang telah sepekan lebih dihuni Shinichi –dengan pakaian pasien dan balutan perban yang menyembul dari baliknya– itu kini kosong.

"Shin?" panggilnya seraya melongokkan kepala ke dalam kamar mandi yang ada di ruangan itu, mengira bahwa Shinichi tengah berada disana, tapi ternyata tidak. "Shinichi?" ia memanggil lebih keras, kali ini dengan mengelilingi ruangan yang tak seberapa luas itu. Tapi ruangan itu tetap hening. Hanya semilir angina musim gugur yang menyapa panggilan Kaito.

Tidak lagi, pikirnya.

Ia melihat beberapa barang yang ia bawakan untuk Shinichi masih di tempat yang sama seperti kemarin. Ponsel hitamnya juga masih tergeletak di atas meja, di samping sekeranjang jeruk pemberian Takagi-san. Selimut putih yang ada di atas ranjang itu tampak berantakan, jelas belum dibereskan, yang artinya Shinichi tidak pergi dari sana dengan bantuan para staf rumah sakit. Apa Shinichi kabur? Tapi kenapa? Kenapa sekarang, sementara masa rawat inapnya tinggal setengahnya saja?

Ketika panik mulai menggelitiknya, ia pun bergegas keluar, mencegat suster pertama yang ditemuinya untuk menanyakan keberadaan Shinichi. Yang sayangnya suster itu pun tak tau dimana sang Detektfif berada. Ia bahkan tidak tahu bahwa Shinichi telah pergi meninggalkan rumah sakit tanpa ijin. Berusaha menahan gerutuannya, Kaito meninggalkan suster itu setelah membuatnya berjanji bahwa ia akan segera memberitahunya jika Shinichi kembali.

"Tsk, Shinichi ada-ada saja," gumamnya sebal. Tangan kirinya mengacak rambut jabriknya sementara tangan kanannya sibuk menggulirkan daftar kontak di ponselnya.

"Selamat pagi," sapa suara di seberang sana, "Ada apa, Kuroba-kun?"

"Shiratori-san? Apa kau tahu dimana Shinichi?" tanya sang mantan pencuri tanpa basa-basi. Ya, ia memang menyimpan nomor Shiratori-san sejak kasus dulu itu. Jaga-jaga jika terjadi sesuatu lagi, katanya sang Detektif Senior kala itu.

"Kudo-kun? Bukankah dia masih berada di rumah sakit?" Shiratori-san jelas terdengar bingung, dan mau tidak mau Kaito menghela napas berat.

"Ya, seharusnya ia memang masih berada di rumah sakit. Tapi aku baru saja ke kamarnya dan tempat itu kosong. Kurasa dia kabur."

Kaito tidak dapat melihat muka detektif itu, tapi ia jelas dapat membayangkan bahwa pria itu tengah mengerutkan keningnya. Shiratori-san tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat, dan Kaito hampir mengira bahwa sambungannya telah putus ketika akhirnya suaranya kembali terdengar dari ujung telepon.

"Ah, hari ini peringatan itu kan? Ia pasti ada disana sekarang."

"Itu?" kini giliran alis Kaito yang bertaut. Itu apa?, batinnya. "Disana dimana maksudmu, Shiratori-san? Bisa kau memberitahuku?"

o.O.O.o.o.O.O.o

Setelah mendapat alamat (kemungkinan) keberadaan Shinichi, Kaito langsung bergegas kesana tanpa membuang waktu sedetikpun. Dalam hati ia masih menggerutu, memutar otak apa yang sekiranya lebih penting bagi Shinichi daripada kesembuhan dirinya sendiri, dan kenapa detektif itu lagi-lagi pergi begitu saja tanpa kabar setelah apa yang terjadi padanya.

Jalanan yang dilewatinya terasa asing baginya. Mendung yang semakin menggelap juga tak banyak membantu kecemasannya. Ia tahu Shinichi Kudo bukanlah anak kecil yang butuh dilindungi, sebaliknya ia adalah detektif yang telah memiliki banyak pengalaman bahkan sejak dulu. Mungkin, trauma masa lalunyalah yang membuatnya menjadi posesif terhadap sedikit orang yang tersisa di dekatnya.

Ketika ia disambut dengan deretan batu nisan dan rintik hujan, ia tercengang. Sungguh ia tidak menyangka ke tempat inilah Shinichi akan kabur. Kenapa Shinichi kesini—bukan, itu pertanyaan yang salah. Siapa yang ada disini?

Ia melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak di antara deretan nama-nama yang terukir rapi di tempat pembaringan mereka masing-masing, sementara matanya mencari-cari sosok sang Detektif. Kelabunya langit membuat tempat itu makin suram, tapi aura yang dirasakannya di sekitar Shinichi ketika ia akhirnya menemukan pemuda itu tampak jauh lebih suram.

Ia berdiri beberapa langkah dari Shinichi, sebuah payung telah terbuka di tangannya, sementara ia menatap batu nisan di depan Shinichi dengan penasaran.

'Mouri Ran'

Oh.

Kaito memang tidak benar-benar mengenal gadis itu, tapi ia sempat beberapa kali menyamar menjadinya. Dan dari pengalaman itu ia tahu seberapa berartinya gadis itu bagi Shinichi. Mungkin kedudukannya sama dengan Aoko baginya, meskipun dulu ia tak akan mengakui bahwa ia sebenarnya menyimpan perasaan pada gadis teman sejak kecilnya itu. Ia tidak tahu status hubungan Shinichi dengan gadis bernama Mouri Ran itu, tapi apapun hubungan mereka, mau tak mau harus kandas dipisahkan maut.

Ketika ingatannya kembali kepada Aoko dan Hakuba, ia tak yakin apakah dipisahkan maut akan lebih menyakitkan daripada jika gadis pujaan hatimu melupakan segala hal tentangmu –dan tengah berbahagia dengan orang lain– atau tidak.

Rintik-rintik air memadat, ia pun memaksa kakinya untuk berjalan mendekat, mencondongkan payungnya agar dapat melindunginya dan Shinichi dari serbuan hujan. Shinichi mendongak. Tidak ada air mata disana, tapi luka yang ditinggalkan kepergian gadis itu tampak jelas dalam tatapan pilu manik yang biasanya secerah langit itu.

"Aku kaget kau bisa menemukanku," ujar Shinichi setengah bercanda. Kaito pura-pura tidak menyadari suaranya yang bergetar dan hanya mendengus singkat.

"Kau lagi-lagi membuatku khawatir tau."

Shinichi hanya terkekeh pelan. Ia melemparkan senyum terakhir pada nisan di hadapannya sebelum ia berdiri, detik selanjutnya ia telah berjalan pergi, dan mau tak mau Kaito langsung mengikuti langkahnya.

"Darimana kau tau aku ada disini?" tanya Shinichi, terdengar sedikit penasaran.

"Shiratori-san," jawabku, "Maaf saja kalau aku mengganggumu, tapi itu salahmu sendiri karena pergi tanpa pamit."

Shinichi nyengir sembari mengucapkan kata maaf dengan pelan, tapi untungnya ia tak tampak tersinggung atau apa karena Kaito menemukannya disana.

"Kau dulu pernah bertemu dengannya kan? Ran."

Kaito mengangguk kecil. Ia tidak mengira Shinichi-lah yang akan mengangkat topic itu, dan ia juga tidak tahu bagaimana harus menanggapi pembicaraan ini.

"Ya, aku sempat mengelabuimu beberapa kali dengan menyamar menjadi Mouri-san," ujarnya, berusaha terdengar senormal mungkin tapi dengan sedikit nada jahil dalam suaranya.

"Sepertinya ada yang salah dengan ingatanmu, aku jelas-jelas membongkar penyamaranmu, Kaito," bantah Shinichi.

Kedua beradu mulut selama beberapa lama, sesekali bertukar tawa atas kekonyolan satu sama lain di masa itu, sebelum akhirnya sunyi kembali menyelimuti mereka. Hanya suara hujan yang semakin deras turun yang mengiringi langkah mereka.

"Aku turut berduka cita atas apa yang terjadi dengannya, sungguh," kali ini Kaito-lah yang memecahkan keheningan itu. "Aku juga pernah merasakannya."

Kaito menangkap Shinichi mengangguk kecil dari sudut matanya, bibirnya melengkungkan senyuman pahit itu lagi. "Aku tidak pantas mendapat ucapan duka cita itu. Aku yang gagal melindunginya, kau tahu, aku lebih pantas untuk disalahkan. Karenaku gadis sebaik dia harus pergi secepat itu…"

Kaito tau, bahwa dibalik suaranya yang terdengar tenang dan pandangannya yang tetap lurus ke depan, pria yang berjalan di sampingnya itu tengah menahan sakit. Pandangannya menerawang jauh, menembus tirai hujan, kembali ke saat dimana semua mimpi buruk itu dimulai. Ingatannya mengarungi waktu, kembali ke hari yang sama, 8 tahun yang lalu.

Saat itu Shinichi yang telah berhasil kembali normal tengah melawan Gin bersama pada anggota FBI dan kepolisian, dan ketika ia hampir tertembak oleh Vermouth, Ran melompat untuk melindunginya. Klise, memang. Tapi itulah yang terjadi. Yang selanjutnya Shinichi ingat adalah merah yang menggenang, dan merah yang perlahan meninggalkan tubuh Ran. Ia tak begitu ingat apa yang terjadi selanjutnya, tapi orang-orang yang melihatnya hanya bisa melihat pemuda yang selama ini selalu berpembawaan tenang itu mengamuk bak kesetanan.

Ia mendapatkan beberapa luka yang cukup fatal setelah itu –yang membuatnya koma selama lebih dari sepekan– dan ketika ia sadar, Ran sudah tiada.

"Aku yakin ia, Mouri-san, ingin kau menyalahkan dirimu sendiri atas kepergiannya, Shin."

"…ya, tentu saja tidak. Ran memang bodoh," ia memaksakan sebuah tawa, tawa yang terdengar menyanyat.

'Baka Shinichi! Jangan ceroboh begitu! Bagaimana kalau kali ini kau benar-benar pergi untuk selamanya?! Ah… tapi kali ini giliranku untuk pergi, Shinichi jangan cepat-cepat menyusulku ya? Jangan menungguku juga. Jalani saja hidupmu, ya, Shinichi?'

"…egois, Ran, meninggalkanku begitu saja tanpa memberiku kesempatan untuk menunggumu," gumam Shinichi dengan suara tercekat, sebutir air mata bergulir menuruni wajahnya yang masih berhias lebam disana-sini. Tapi hanya sebutir, hanya sebatas itulah luka itu dapat diekspresikannya sekarang.

Kaito hanya menemaninya dalam diam. Delapan tahun. Sudah delapan tahun berlalu tetapi sakit yang dirasakannya masih sebesar delapan tahun lalu. Bukankah harusnya waktu akan menyembuhkan luka? Atau mungkin, ia sendiri yang sengaja membuka kembali luka itu, mencegahnya kering, karena itulah satu-satunya penghubung yang tersisa antara ia dan cintanya.

"Pernah membayangkan jika gadis yang selama ini kau kira telah tiada ternyata masih hidup, tidak?" tanya Kaito tiba-tiba. Shinichi menatapnya bingung karena topic yang tiba-tiba itu. Alisnya bertaut, mencoba menebak kemana arah pembicaraan ini akan berlanjut.

"Aku pernah mengalaminya," Kaito tak yakin kenapa ia ingin membagi kisah yang telah mati-matian berusaha ia lupakan selama beberapa minggu ini. Yang pasti ia bukan melakukannya untuk dikasihani, ataupun untuk mengatakan ia lebih menderita dari Shinichi. Ia hanya berpikir jika, mungkin, dengan berbagi cerita itu, ia bisa mengubah cara pandang Shinichi, entah bagaimana. Jadi ia pun melanjutkan ceritanya meskipun Shinichi masih memberikannya tatapan bingung.

"Selama ini kukira gadis itu telah pergi, dan selama itu pula aku menyalahkan diriku. Tapi ternyata ia masih hidup, kau tau. Ia sehat, ia telah tumbuh menjadi wanita yang anggun. Dan ia sudah menikah, haha, ia sedang mengandung anak pertamanya. Tapi gadis itu tak lagi mengenaliku."

Pandangan Shinichi berubah, tampaknya ia mulai mengerti arah pembicaraan ini. Kaito menunggu kalau-kalau Shinichi hendak melontarkan komentar atau menyuruhnya berhenti, tapi ia hanya diam, seakan menyuruhnya untuk melanjutkan ceritanya.

"Orang-orang di sekitarnya juga tak mau ia mengingatku. Aku terus-terusan berusaha mengatakan pada diriku sendiri bahwa 'ah, setidaknya ia bahagia', atau 'setidaknya ia baik-baik saja', tapi dengan menghilangnya aku dari kehidupannya, sama saja gadis yang kutau telah mati. Gadis itu bukan lagi teman masa kecilku, ia telah menjadi bagian hidupku tapi aku bukan bagian dari kehidupannya. Tidak lagi, dan tidak akan pernah lagi…"

"Apa itu alasanmu mabuk berat waktu itu?"

Kaito hanya tertawa. Ia sadar bahwa tawanya terdengar hambar, tapi rasanya terlalu berat untuk menutupinya.

Shinichi mendengus pelan, tapi entah kenapa ia terlihat lebih relaks sekarang. "Hidup ini memang kejam kan?"

"Aa."

Dan sisa perjalanan mereka habiskan dalam keheningan yang menghangatkan, seraya menikmati gemericik hujan dan angin yang sesekali berhembus kencang, mengancam membawa terbang payung dan mungkin, ingatan mereka.

o.O.O.o.o.O.O.o

Shinichi diperbolehkan keluar dari rumah sakit 4 hari kemudian, 2 hari lebih cepat dari perkiraan semula, dan detektif muda itu langsung kembali bekerja keesokan harinya. Kaito menyudahi jadwal rutinnya ke rumah sakit. Sebaliknya, Shinichi-lah yang kini hampir tiga hari sekali menyambangi kedai kopi tempat Kaito bekerja. Kadang ia datang untuk secangkir kopi hitam di pagi hari, ketika persediaan kopinya di rumah habis. Kadang juga ia datang di jam makan siang untuk secangkir kopi hitam setelah berjam-jam berhadapan dengan kasus-kasus atau berkas-berkas laporan yang melelahkan.

Kadang, jika ia datang di saat Kaito sedang bekerja, maka sang pesulap itu akan berusaha menyodorinya berbagai jenis kopi –latte, cappuccino, frappe– yang diklaimnya lebih enak daripada kopi hitam Shinichi, dan dengan sengaja tidak membiarkan Shinichi memesan kopi hitam. Sebanyak Kaito memaksanya meminum kopi-kopi itu, sebanyak itu pula Shinichi mengatakan bahwa ia tetap lebih suka kopi hitam. Dan meskipun sudah beberapa kali ia mengancam ia tak akan datang lagi kesana jika Kaito terus melakukan hal itu, toh ia masih memilik kedai kopi yang dekat dengan Markas Besar Kepolisian Beika itu.

Musim gugur berlalu dengan cepat, dan tanpa terasa musim dingin telah tiba. Minggu-minggu awal tidaklah terlalu dingin, salju pun belum turun sama sekali di Beika. Meskipun begitu angin musim dingin akan cukup membuat tulang mereka yang cukup bodoh untuk keluar dengan pakaian tipis membeku.

Akhir pekan di minggu pertama bulan Desember, kebetulan keduanya mendapatkan libur di hari yang sama. Karenanya kedua pemuda itu memutuskan untuk memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi berbelanja, mengingat sebagian besar baju Kaito selama ini masih merupakan pinjaman dari Shinichi, dan karena Kaito bersikeras bahwa jika Shinichi tidak memanfaatkan liburannya maka ia akan cepat botak.

"Bilang saja kalau kau tidak ingin pergi sendirian, Kaito," goda Shinichi kala itu.

"Oh, aku ketahuan? Tentu saja, aku kan tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menghabiskan Sabtu malam bersamamu, Shin-chan!" balas Kaito tidak mau kalah. Ia bahkan menambahkan sebuah kerlingan genit di akhir kalimatnya, yang langsung membuat Shinichi merinding.

Jadi begitulah, dengan 'bantuan' beberapa trik sulap untuk mengerjai sang Detektif dan beberapa ancaman untuk membuang pasokan kopinya jika Shinichi tidak mau menemaninya belanja, keduanya pun sepakat untuk menghabiskan hari libur mereka dengan berbelanja.

Kini keduanya tengah berdebat mengenai sebuah kemeja merah jambu yang Kaito bilang 'sangat cocok denganmu, Shin!', yang tentu saja Shinichi tolak. Ketika akhirnya mereka beranjak pergi meninggalkan bagian itu, terdengar pengumuman dari pengeras suara yang meminta para pengunjung untuk bergegas keluar dengan tetap tenang dan teratur.

Jelas, pengumuman itu membuat orang-orang kebingungan. Ada yang dengan segala paranoia-nya langsung berlari keluar, ada juga yang hanya berdiri disana dengan muka resah, menebak-nebak apa yang tengah terjadi. Semuanya menjadi jelas ketika selang beberapa menit kemudian, terdengar suara ledakan yang diikuti alarm api yang berdering memekakkan telinga. Jeritan. Orang-orang berhamburan. Dan dalam sekejab panik pun melanda pusat perbelanjaan yang telah ramai dengan bubuhan hiasan-hiasan natal itu.

.

to be continued

.


Big thanks for you who're still reading this fic! Seperti biasa, ditunggu kritik dan saran dan curhatan, apapun jejak dari kalian :3