XVIII. Crush? Love? Hehehe!
Hermione memijit-mijit pangkal hidungnya. Menghela nafas panjang lalu bertanya dengan nada lelah, "Apa yang sudah kau lakukan, Draco?"
"Kau tahu apa yang selalu kulakukan, my dear," iris kelabu berkerling, "sesuatu yang tidak membosankan."
"Hanya bagimu," balas Hermione tidak tertarik.
"Akan menarik bagimu juga jika kau mau memandang segala hal dengan cara pandangku."
Hermione memalingkan wajah. "Tidak, terima kasih."
"Ah..." ucap Draco, kecewa. Tapi kesenangan menari-nari di matanya. Sembari menyunggingkan seringai licik, ia mengayun-ngayunkan pena bulu di depan muka Hermione. Sontak permata hazel gadis itu melebar, lalu memicing ke arahnya. "Draco," tanyanya pelan, penuh peringatan, "apa yang sudah kau lakukan?"
"Hermione sayang, aku hanya mengirim surat pada teman barumu, oh siapa namanya?" Pria itu memasang pose berpikir lalu bangkit dan berjalan hingga ia berdiri di belakang kursi gadis itu. Hermione masih memandangnya tidak senang dari ujung matanya. Tangan pucat Draco menggenggam kedua pundak gadis itu, mencondongkan badan untuk berbisik di telinganya. "Si Kepala Pitak Potty."
Hermione memutar bola matanya. "Harry Potter, Draco."
Senyum Draco mendadak lenyap, berganti dengan dengusan mengejek. "Heh." Iris kelabunya berkilat dan merasa tidak puas dengan Hermione yang bukannya memuji julukan Draco pada Potter, ia justru mengoreksinya. Genggaman tangannya sontak mengerat saat satu pikiran melintas di otaknya.
Iris kelabu berubah merah. Matanya melengkung seperti bulan sabit saat senyumannya melebar. Ia mendekatkan wajahnya di sisi kepala anak perempuan itu.
"Katakan, my dear Granger," ada tawa di dalam suaranya dan, jujur, Hermione merasa terganggu mendengarnya. Draco berbisik dengan nada yang terlalu senang, "apa kau tertarik pada anak laki-laki itu?"
Dari balik bahunya, Hermione melemparkan tatapan jijik.
Sementara Draco tergelak.
Ini adalah permainan yang selalu Draco mainkan untuk mengganggu majikannya. Selalu menguji, mempertanyakan keberadaan perasaan-perasaan yang tidak mungkin lagi dirasakan oleh seorang Hermione Granger. Tragedi di masa lalu telah menelan hati Hermione dan membuat kedua tangan kecilnya dipenuhi darah.
Hermione telah kehilangan kepolosannya sebagai anak-anak dan manusia.
Draco tahu betul tentang itu semua.
Walaupun Hermione berusaha untuk tidak pernah menyadari keberadaan kekurangan yang ada pada dirinya itu.
XIX. A Helper
Di hari berhujan seperti ini, Hermione melawan kantuk sembari menggosok-gosok matanya. Cahaya senja dari arah jendela menimpa kulit mukanya. Hermione sejenak menoleh dan mengerjapkan kedua matanya. Sinar matahari yang mulai terbenam membuat pupil matanya terlihat makin terang. Di dalam ketenangan yang seperti dunia lain itu, Hermione terpatri pada danau dan pegunungan. Kelopak matanya perlahan memberat.
Secara naluriah, ia menyandarkan berat tubuhnya pada seseorang yang duduk di sampingnya.
Jari-jari seputih pualam melingkar di lengannya, saat si empunya mendekatkan gadis yang tengah tertidur pulas itu di dadanya. Iris kelabu bergerak sekilas ke bawah untuk melemparkan sorot mata penuh afeksi sebelum bergulir kembali ke arah jendela.
Draco Malfoy tidak mengalihkan matanya sampai matahari menghilang di balik gunung dan malam datang menyapa. Setelah itu, selembar kertas yang ia sobek kasar dari sebuah buku di manornya, ia selipkan di saku rok Hermione.
"Aku senang kau sudah bekerja keras, Hermione," bisiknya, dekat di dalam hati, "biarkan aku menyumbangkan sedikit bantuan, setelahnya kau bisa memamerkan kecerdikkanmu pada semua orang."
Tangan besar itu, walaupun dingin dan pucat seolah tak dialiri darah, mengusap-ngusap sisi kepala Hermione. Ketika merasakan seseorang berada di dekatnya, maka mimpi Hermione akan kembali tenang. Teriakan kesakitan dan jeritan memelas itu akan kembali terulang sebagai bunga tidur. Tapi, Draco, kau akan ada di sana dan menolongku, 'kan?
XX. Freeze
Ketika mata Basilisk bertemu dengan mata Hermione di pantulan cermin, Hermione sama sekali tidak memiliki sedikitpun rasa takut. Karena Draco akan melindunginya. Vampir yang ia bayar dengan darahnya memang sudah sewajarnya melindungi sang pendonor. Bukankah seharusnya memang seperti itu?
Akan tetapi alarm kabar buruk berdering keras ketika Hermione menyadari seluruh badannya tidak bisa digerakkan. Ia bahkan tidak sempat menyebut nama pelayannya, memanggilnya dengan panik karena Hermione tidak mengira akan begini jadinya.
Draco! Apa yang kau lakukan!? Kenapa kau membiarkan hal ini terjadi padaku!? Draco! !
Sepintas bayangan-bayangan mengerikan di masa lalu menghantamnya seperti terjangan ombak. Di dalam hati Hermione gemetar setengah mati. Tubuhnya yang kaku jatuh ke lantai dan Draco bahkan tidak juga datang untuk menahan jatuhnya. Kalau saja tubuhnya tidak kaku, tangan Hermione saat ini pasti akan terkepal dan bergetar hebat. Perasaan marah dan takut bercampur aduk.
Biarpun Basilisk menjulang tinggi dan memandangnya dengan mata besar yang dingin, bukan itu yang menjadi ketakutan di dalam hati. Rasa dingin menjalar ketika menyadari asal-muasalnya.
Hermione tak mampu berkata-kata.
Ia sudah terlalu menggantungkan hidupnya pada Draco.
Dan lihat!
Inilah akibatnya.
XXI. Confront
"Kenapa kau bersikap dingin padaku? Jangan seperti itu, my dear.
Aku akan selalu di sisimu, tapi tidak bisa selalu bersamamu kapanpun kau membutuhkanku. Kau paham maksudku?
Kenapa kau masih marah padaku? Lihat, aku menyembuhkanmu lebih cepat daripada yang bisa diusahakan Poppy Pomfrey untuk menangani kutukan Basilisk. Tidak seperti Croovey yang malang.
Well, kau bisa datang untuk berterima kasih padaku kalau pikiranmu sudah dingin."
Bayangan menaungi wajah Hermione Granger yang tertunduk dalam. Kedua tangannya terkepal kuat di atas lututnya. Ia masih duduk di atas ranjangnya, menghadap tembok dan mengabaikan Draco yang berdiri di belakangnya, sedikit menelengkan kepala dan menunggu. Kemudian ia memperbaiki postur tubuhnya dan berjalan keluar pintu. Menyisakan suara langkah kaki dan pintu yang tertutup.
Draco Malfoy merendahkan kelopak mata dan menaruh tangan di mulutnya.
Menyembunyikan senyum yang sejak tadi tidak diketahui Hermione Granger, jika saja tadi dia mau berbalik untuk melihat ekspresi vampire itu.
Hermione Granger tentunya sudah salah memahami Draco Malfoy yang telah hidup ratusan tahun lamanya. Hermione, sudah berapa kali kira-kira Draco menyelamatkanmu dari bahaya?
Kau sebagai pendonor bukanlah hal yang penting baginya. Di luar sana banyak manusia yang bisa menjadi makan malamnya.
Darah muggleborn yang mengalir di nadimu juga bukan sesuatu yang istimewa. Berdasarkan pengalamannya, darah unicorn lebih lezat dan bermanfaat.
Lalu, kira-kira kenapa Draco Malfoy mau saja menyelamatkanmu?
Dapatkah kau menjawabnya?
Tentu saja, karena dia sedang bosan.
Ya.
Sesederhana itulah jawabannya.
