Words count: 2191 words

Rate: T

Warning: possibly a little OOC; alternate timeline

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 10

-11st Memory-

"Jadi, kau mau menceritakan masalah fobiamu itu sekarang?"

Kini ganti giliran Kaito yang memasang muka masam. Cengirannya langsung hilang dalam sekejap. "Bisa tidak kalau bagian ini dilewati saja?"

"Tidak bisa. Sudah kubilang aku akan memaksamu bicara kan?"

Kaito menggerutu. Shinichi masih terus menatapnya lekat-lekat. Sang Pesulap itu akhirnya menghela napas, ia tahu sekeras kepala apa Shinichi dan rasanya percuma jika harus melawannya.

"Baiklah, baiklah! Aku akan berusaha menjelaskannya…," Kaito menyempatkan diri untuk memasukkan secuil waffle ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan, berusaha mengulur waktu. "Kurasa kau sudah bisa menebak alasannya tanpa perlu kuberitahu."

"Tidak sopan rasanya kalau aku menganalisis kehidupanmu begitu saja."

"Oh? Bukankah dulu kau selalu bilang, 'Bodoh, itu tugas detektif untuk menebak tanpa diberitahu' dan sejenisnya?" cibir Kaito.

Shinichi, tampak tidak terpancing dengan komentar Kaito, hanya menatapnya sambil menyesap milk teanya. "Kau cuma berusaha mengulur waktu. Tidak masalah, hari ini aku masuk siang."

Kaito memutar bola matanya. Sepertinya ia benar-benar tidak akan bisa menghindari pembicaraan ini. Jadi ia mulai bercerita. Tentang Pandora, tentang pencuriannya di hari naas itu, tentang peringatan ibunya yang ia abaikan, tentang kebakaran yang menewaskan keluarganya… Setelah sekian lama ia kembali menceritakan kejadian yang sebenarnya tak ingin diingatnya lagi itu, kejadian yang selalu menjadi mimpi buruknya hampir tiap malam, dan tanpa sadar air mata telah membanjiri wajahnya.

Buru-buru ia menghapusnya, dan dengan suara bergetar ia mengakhiri cerita itu. "Begitulah… Dan kejadian itu menghantuiku setiap malam. Lalu tanpa kusadari, aku jadi takut akan api."

"…semua jenis api?"

Kaito menggeleng pelan. "Awalnya ya, meskipun aku masih bisa mengendalikan rasa takutku jika yang kulihat hanya api kecil seperti api dari pemantik. Tapi api dari kompor, api dari pembakaran sampah, bahkan api dari gumpalan kertas yang terbakar akan langsung membuatku panik…"

Shinichi mengangguk mengerti, dalam diam ia menyimpan informasi itu ke dalam ingatannya. Kemudian hening menyelimuti mereka. Kaito sudah tak lagi menangis, namun wajahnya masih terlihat pucat. Shinichi jadi merasa tidak enak telah membuatnya mengingat kejadian mengerikan itu lagi. Namun hal ini penting, baik baginya maupun bagi Kaito sendiri.

"Terima kasih… karena sudah mau berbagi cerita padaku," ujarnya.

"Kau yang memaksaku untuk menceritakannya," protes Kaito, meskipun menurut Shinichi ia tidak benar-benar terdengar tidak suka akan hal itu.

"Aku yakin aku tidak sememaksa itu," ia pun memutuskan untuk memprotes balik. "Kutebak luka bakar di punggungmu itu juga dari waktu itu?"

"…Shinichi Kudo, jangan bilang kau mengintipku waktu aku mandi?"

"Ha—?! Bodoh, memangnya siapa yang mau mengintipmu mandi?! Salahmu sendiri kau sering keliling rumah bertelanjang dada!"

"Itu kan karna aku harus meminta ijin padamu dulu sebelum mengambil bajumu!"
"Aku sudah bilang kau boleh pakai yang mana saja, jangan menjadikan itu sebagai alasan!"

Shinichi sudah mengantisipasi bahwa akan ada suasana canggung setelah ia memaksa –ya, diakuinya ia memang agak memaksa, tapi tidak sememaksa itu– Kaito menceritakan masa lalunya, tapi untungnya hal itu tidak terjadi. Justru ia merasa bahwa kini, mereka lebih bisa menatap satu sama lain tanpa berusaha membongkar rahasia masing-masing.

.oOo.

"Kau mau minggat Shin?" tanya Kaito seraya memandangi koper yang tengah diseret Shinichi, tiga hari setelah pembicaraan mereka. Kalau boleh jujur, ia merasa sedikit lebih lega telah menceritakan kejadian itu serta apa yang dideritanya pada seseorang, selain pihak kepolisian, tentunya, meskipun Shinichi juga sebenarnya anggota polisi.

"Oh, sepertinya aku lupa bilang. Aku akan ada konferensi di Kanagawa selama beberapa hari."

"Dan kau baru bilang lima menit sebelum berangkat? Bagus sekali," ujarnya penuh sarkasme.

"Hei aku sudah minta maaf. Kenapa, kau takut di rumah sendirian?"

"Lucu."

Dan Shinichi tertawa, jarang-jarang ia bisa membuat Kaito sebal dan bukan kebalikannya.

"Aku berangkat dulu."

"Aa, hati-hati,"

Shinichi mengangguk sebelum melenggang keluar, "Kau juga. Jaga rumah baik-baik."

"Iya, iya," Kaito melambaikan tangan sekenanya sampai Shinichi menutup pintu depan. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya ke dapur. Untung ia belum menyiapkan sarapan, kalau tidak bisa sia-sia masakannya. Tunggu, bukankah hari ini giliran Shinichi memasak? Oh, lihat, ada tamagoyaki di meja makan.

'Setidaknya ia masih berbaik hati membuatkan sarapan untukku juga', pikir Kaito seraya tersenyum kecil.

Kaito menikmati sarapannya pelan-pelan, sesekali ia melirik jam yang tergantung di tembok. Hari ini ia ada janji bertemu dengan psikolog kenalan Shinichi. Ya, ia akhirnya memutuskan untuk mengurus fobianya, dan Shinichi dengan senang hati membantunya.

'Kalau setelah bertemu dengannya kau tiba-tiba berubah pikiran pun tidak apa, tapi paling tidak cobalah dulu,' kata Shinichi waktu itu, dan Kaito pikir hal itu ada benarnya juga. Ia juga sudah lelah jika harus terus-terusan lari dari mimpi buruk yang membayanginya itu. Ia yakin Ibunya dan Jii juga tidak akan senang melihatnya menjadi pecundang yang hanya bisa gemetar ketakutan… kan?

Ia menghela napas panjang, membereskan piringnya yang sudah kosong dan mencucinya sebelum bersiap-siap untuk pergi.

.oOo.

Ketika Shinichi tiba di hotel yang menjadi tempat pertemuan, sudah banyak perwakilan-perwakilan dari distrik lain yang telah datang. Ia beberapa kali berhenti untuk menyapa mereka, bertukar obrolan singkat dengan beberapa wajah yang familiar, sebelum akhirnya mempunyai kesempatan untuk meletakkan barang bawaannya di kamar yang telah disediakan untuknya. Konferensi akan dimulai kurang dari 30 menit lagi, jadi ia memutuskan untuk bergegas menuju aula besar tempat acara akan diadakan.

Jadwal mereka penuh hingga makan malam, baru setelahnya mereka diberikan waktu bebas untuk beristirahat hingga esok pagi. Bagi Shinichi duduk seharian mendengarkan orang-orang berbicara terasa lebih melelahkan daripada mengejar pelaku yang berusaha kabur.

Ia meregangkan bahunya yang kaku seraya berjalan kembali ke kamarnya. Ia telah menolak dengan sopan ajakan minum-minum dari rekannya, berniat untuk mandi, menyiapkan bahan untuk presentasinya besok dan mungkin jika sempat, menanyakan bagaimana pertemuan pertama Kaito dengan psikolognya tadi. Ia kembali fokus ke kenyataan ketika seseorang menepuk pundaknya.

"Kudo," sapa seorang pria pirang yang seumuran dengannya.

"Ah, Hakuba. Lama tidak bertemu," balasnya diiringi senyuman kecil.

"Ya. Terakhir kali aku ke Beika beberapa bulan lalu, aku tidak bertemu denganmu. Kau tampaknya sibuk seperti biasa."

Keduanya berjalan beriringan, sementara obrolan mereka pun berlanjut.

"Begitulah... Kau sendiri bagaimana? Kudengar istrimu sedang hamil? Selamat, kau sudah menjadi calon ayah," ujar Shinichi setengah menggoda.

Hakuba tersenyum, tampak bangga akan hal itu. "Aa, terima kasih. Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu putriku lahir."

"Oh, perempuan? Sudah berapa bulan?"

"Ya, dan sudah memasuki bulan ketujuh."

"Hee, tinggal sebentar lagi. Kau yakin tidak apa-apa meninggalkannya?"

"Tidak masalah, toh hanya beberapa hari. Dan lagi, dia sedang ada di rumah sakit…," Hakuba mengutarakan kalimat terakhirnya dengan suara pelan, senyumnya sedikit memudar.

"Apa ada yang salah dengan kandungannya?" tanya Shinichi heran.

"Bukan, bukan kandungannya…"

Shinichi menunggunya melanjutkan, tidak mau jika dianggap terlalu mencampuri urusan orang.

"Kau tahu, dia sempat mengalami amnesia sebelum kami menikah."

Kini Shinichi menaikkan alisnya. Ia tidak terlalu dekat dengan Hakuba, meskipun ia telah mengenal namanya sejak SMA dulu. Sedikit hal yang ia ketahui tentangnya hanyalah bahwa ia adalah putra dari Inspektur Jendral Hakuba, orang yang sangat tepat waktu, dan pastinya bukan tipe orang yang suka berbagi cerita mengenai permasalahan rumah tangganya. Jika Hakuba berinisiatif menceritakan hal ini padanya, ia pasti punya rencana tersendiri.

"Saat itu kondisinya sangat tidak stabil, dan kami khawatir jika ia ingat apa yang benar-benar terjadi padanya dan orang-orang terdekatnya, hal itu akan membuat keadaannya semakin parah. Jadi kami memutuskan untuk membiarkannya melupakan beberapa bagian masa lalunya."

Shinichi mendengus pelan. Jujur, ia pikir tidaklah tepat untuk 'memanipulasi' ingatan seseorang. Ia berhak untuk mengetahui masa lalunya. Namun jika ia yang berada di posisi Hakuba, mungkin ia pun akan melakukan hal yang sama.

"Dan tiba-tiba keadaannya memburuk? Bukankah sudah bertahun-tahun berlalu sejak kejadiaan naas yang menimpanya?" tanya Shinichi, sekilas melirik Hakuba yang ekspresinya semakin muram.

"…ingatannya mulai kembali."

Shinichi mengerutkan dahinya, "Ingatan yang berusaha kalian sembunyikan darinya, maksudmu?"

Hakuba mengangguk singkat. "Dia kebingungan karena ingatan-ingatan itu tidak sesuai dengan apa yang diketahuinya selama 8 tahun ini. Dia mulai bertanya-tanya, tapi keluarganya sendiri pun enggan memberitahunya. Aku sendiri baru mengetahui hal ini beberapa hari yang lalu, dan saat itu masalah ini telah sangat membebani mentalnya."

Hakuba menghela napas berat, jemarinya menyisir rambut ikalnya, gestur kecil yang menunjukkan seberapa stresnya sang Detektif.

"Kalau kalian berhasil menutupinya selama 8 tahun ini, harusnya kalian bisa mencari alasan lain untuk menutupinya bukan?" tanya Shinichi, yang lebih condong untuk mengonfirmasi dugaannya daripada pertanyaan sungguhan.

"Tidak bisa. Ia pernah bertemu orang itu."

Aha.

"Dan sekarang ia ingin bertemu dengannya untuk mencari tahu kebenaran ingatannya."

Mereka sudah bertahun-tahun berusaha menghapuskan memori tentang 'seseorang' ini, dan mendadak wanita itu ingin bertemu dengannya, tentu saja mereka panik. Namun masih ada satu hal yang tidak Shinichi mengerti.

"Lalu kenapa kau menceritakan semua ini padaku, Hakuba? Aku cukup yakin aku tidak pernah mengenal istrimu sebelumnya."

Meskipun ia mirip dengan Ran, tambah Shinichi dalam hati.

Ia menghentikan langkahnya, mengingat ia telah sampai di depan kamarnya. Hakuba berbalik menghadap pemuda yang lebih pendek itu dan menatapnya canggung.

"Kudengar sekarang kau tinggal dengan Kuroba Kaito…"

Hal itu seakan menjadi potongan puzzle terakhir yang diperlukannya. Kuroba Kaito. Ia ingat pemuda itu sempat menyebut-nyebut nama Hakuba malam itu, tapi siapa sangka Hakuba yang dimaksud adalah Hakuba yang ini? Ataupun bahwa istri Hakuba ternyata punya hubungan dengan mantan pencuri itu?

Ia lalu teringat bagaimana kondisi Kaito malam itu. Atau lebih tepatnya, malam setelahnya, karena kala itu Kaito sempat tak pulang semalaman. Ia yakin hari itulah ia bertemu dengan Hakuba dan istrinya. Tidak ada hal lain yang akan lebih membuat seseorang depresi dibanding menemui satu-satunya orang terdekatmu masih hidup tapi melupakanmu, ditambah ia telah menjadi istri orang lain, yang juga kau kenal.

Kaito, dengan bau alkohol yang menguar dan cahaya warna-warni dari layar televisi yang membuat siluetnya tampak semakin menyedihkan. Matanya hanya menyorotkan kepedihan dan keputusasaan. Dan bibirnya— ok, stop, Shinichi, kau sudah bersumpah pada dirimu sendiri untuk melupakan hal yang satu itu.

"Ya," jawabnya setelah berhasil menghentikan arus pemikirannya, "Tapi kalau kau ingin bicara dengannya, temui dia sendiri," jawab Shinichi tak acuh.

"Aku tidak yakin ia ingin bertemu denganku."

"Oh?"

"Terakhir kali kami bertemu, dia meninjuku dan melarangku untuk muncul di hadapannya lagi," gerutu Hakuba.

Dan Shinichi tidak bisa menahan lengkungan bibirnya. "Aku yakin itu salahmu sendiri. Kau pasti sudah sangat membuatnya marah."

"Jangan tertawa, Kudo. Aku cuma mengatakan apa yang harus kukatakan," geram Hakuba seraya melipat kedua lengannya di depan dada. "Kau mau membantuku atau tidak?"

Shinichi mengangkat bahunya, lalu berbalik untuk membuka pintu kamar hotelnya. "Akan kucoba bicara dengannya, tapi kalau ia menolak bertemu denganmu ataupun istrimu, aku tidak akan membujuknya."

"Ya, menyampaikan tawaran ini padanya saja cukup. Aku sangat menghargai bantuanmu, Kudo."

Shinichi mengangguk singkat, lalu buru-buru masuk ke dalam kamarnya. "Selamat malam kalau begitu, Hakuba," ujarnya sebelum menutup pintu di belakangnya. Samar ia mendengar Hakuba membalas salamnya dari luar pintu, diiringi suara langkah kakinya yang menjauh.

Mendadak ia kehilangan minat untuk mengerjakan presentasinya. Membayangkan ia harus menyampaikan berita ini pada Kaito, dan membayangkan bagaimana reaksinya mendengar hal itu… Dia setengah berharap Kaito akan menolaknya, namun dia bukan Kaito, dia tak tahu mana yang akan dipilihnya. Ah, Shinichi hanya berharap Kaito tidak akan terlalu depresi nantinya.

Ia berencana untuk menanyakannya langsung pada Kaito sepulangnya dari sini nanti, memilih untuk tidak mengabarinya melalui telepon ataupun pesan singkat karena ia tidak akan bisa memastikan bagaimana reaksi Kaito. Akan gawat kalau ia mendadak depresi seperti dulu sementara tidak ada orang lain di rumah.

Shinichi menghela napas, memutuskan untuk mengesampingkan masalah ini terlebih dahulu dan memfokuskan diri pada presentasinya esok hari.

.oOo.

Konferensi itu selesai tiga hari kemudian. Ketika ia sampai rumah, senja telah turun. Yang mengherankan adalah ketika ia melihat seorang wanita keluar dari rumahnya.

"Oh, selamat datang, Shin," sapa Kaito dengan cengiran khasnya.

"Aku pulang," jawabnya setelah memarkirkan mobilnya di dalam garasi. "Aku baru tau kalau kau sudah punya pacar."

"Ha? Ah, gadis tadi maksudmu? Dia hanya rekan kerjaku. Tadi bos menyuruhku membuat duplikat kunci ruang suplai dan menyuruh gadis itu mengambilnya," jawab Kaito santai.

"Kenapa bukan kau yang mengantarkannya?"

"Aku berniat membawanya besok pagi, tapi kudengar dia mau sekalian mampir sebelum berangkat ke kedai jadi yah… begitulah."

"Hoo? Jelas sekali kalau dia tertarik padamu," godanya seraya menyikut –agak keras– rusuk Kaito, yang kebetulan juga menghalangi pintu masuk dan sikutannya berhasil membuatnya menyingkir.

"Maaf saja kalau aku lebih populer darimu, Tuan Detektif," balas Kaito dengan cengiran yang makin lebar.

Shinichi mendengus, mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu seraya memakan cemilan yang terhidang di hadapannya. "Tidak peduli," gumamnya.

Kaito hanya tertawa. "Mau kuambilkan minum?" tanyanya seraya terus berjalan ke arah dapur.

"Mm, air putih."

Shinichi masih menyantap kue-kue kering itu sambil menunggu Kaito, tidak akan diakuinya bahwa ia agak tegang karena harus menyampaikan tawaran Hakuba padanya. Namun ia tidak punya banyak waktu untuk berpikir, Kaito telah kembali dari dapur. Ia menyempatkan diri untuk meneguk air putih yang dibawakan Kaito sebelum memulai.

"Kau dapat salam dari Hakuba."

Benar saja, tubuh Kaito langsung menegang mendengarnya. Shinichi juga tidak menyukai tatapan yang diberikan Kaito. Ia membenahi posisi duduknya sebelum melanjutkan apa yang harus dikatakannya.

"Dengar, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur, tapi Hakuba meminta tolong padaku. DAN—" ia sedikit menaikkan nadanya melihat Kaito hendak memotongnya, dan itu cukup efektif untuk menggagalkan niatnya, "—mengingat bagaimana pertemuan terakhir kalian, aku juga merasa agar lebih baik jika kalian tidak bertemu dulu."

Alis Kaito bertaut, tatapannya tajam, seakan berusaha menyelidiki apa ia bisa mempercayai Shinichi atau tidak. Ia akhirnya mengangguk, memberikan tanda agar Shinichi melanjutkan.

"Jadi, err… Apa kau masih mau bertemu dengan istrinya, siapa namanya— Aoko-san?"

Dan kedua mata Kaito membulat, lebar. Shinichi tidak yakin itu pertanda baik atau buruk.

.

to be continued

.

.oOo.

Uhm, hai. Pertama-tama maaf karna lama ga update dan maaf karna ternyata chapter ini jadi lebih BL dari rencana semula ahaha. Terima kasih atas semua yang masih mengikuti fanfic ini, dan juga buat semua yang sudah menyempatkan baca/review/fave/alert Imprissoned n(_ _)n Seperti biasa, jika ada yang kurang berkenan, saran, masukan, kritik, curhatan, apapun itu, ditunggu lewat review~ See you soon ^^)/