Words count: 2556 words

Rate: T

Warning: possibly a little OOC; alternate timeline

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 12

-12nd Choice-

"Jadi, err… Apa kau masih mau bertemu dengan istrinya, siapa namanya— Aoko-san?"

Kedua mata Kaito membulat, dan Shinichi tidak yakin itu pertanda baik atau buruk.

"...tidak lucu, Shinichi. Mereka jelas-jelas tidak ingin melihatku, apalagi membiarkanku bertemu dengannya," balas Kaito getir, meskipun ia berusaha menyembunyikannya dibalik tawa palsunya.

"Aku serius. Hakuba memintaku menyampaikan-"

"Kenapa? Dulu ia sendiri yang bilang kalau ia tidak mau aku menganggu kehidupan mereka lagi, lalu kenapa sekarang ia berubah pikiran?" potong Kaito. Matanya menyorot tajam sang detektif, seakan berusaha mencari penjelasan logis yang sejujurnya tak ingin didengarnya.

Shinichi menghela napas dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, berusaha merelakskan diri meskipun ternyata tidak berhasil.

"Kau tau jika Aoko-san tengah hamil bukan?"

"Lalu?"

"Tampaknya Aoko-san mulai mengingat masa lalunya— termasuk tentangmu. Dan, karena selama ini mereka menyembunyikan tentangmu, hal itu membuat Aoko-san kepikiran. Apalagi sejak ia kehilangan ingatan keadaan jiwanya sangatlah labil dan ia gampang terserang stres."

"Stres—," dahi Kaito berkerut, "Tapi Aoko baik-baik saja kan?"

"Dia ada di rumah sakit sekarang."

Shinichi khawatir Kaito akan terkena serangan jantung atau apa karena ekspresinya yang berubah dari acuh ke panik dengan begitu cepat, jadi ia buru-buru menambahkan, "Sejauh ini ia baik-baik saja. Hanya saja mereka khawatir stresnya mempengaruhi kehamilannya dan karena itu memintanya tinggal di rumah sakit sampai keadaannya lebih stabil."

Mendengar hal itu perlahan ketegangan meninggalkan tubuh Kaito, tetapi wajahnya masih menunjukkan rasa khawatir yang luar biasa. "Apa karena itu Hakuba memintaku menemuinya? Agar Aoko mendapat jawaban?"

"Sebenarnya, Aoko-san lah yang meminta untuk bertemu denganmu. Dan yah, Hakuba tampaknya tak bisa menolak permintaan istrinya."

Shinichi melihat Kaito berjengit mendengar kata 'istri', tapi ia tidak berkomentar apapun. Ia membiarkan keheningan turun diantara mereka, membiarkan Kaito mempertimbangkan pilihannya.

Ketika Kaito kembali membuka suara, Shinichi bisa 'mendengar' tangis yang berusaha ditahannya, meskipun ia menenggelamkan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.

"Aku tidak tau Shin, apa menurutmu tidak apa aku bertemu dengannya? Sejujurnya aku juga berpikir kalau Aoko lebih baik hidup tanpa ingat tentangku..."

"Tapi?". Karena Shinichi tahu selalu ada 'tapi' yang menghantui dibelakang setiap keputusan.

"Tapi aku juga ingin bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf telah menyeretnya ke dalam semua ini. Ingin memberinya selamat atas pernikahannya, atas kehamilannya. Aku... paling tidak aku ingin dianggap sebagai seseorang yang pernah turut mewarnai hidupnya. Aku tidak ingin dilupakan begitu saja, Shin."

Shinichi menganggukkan kepalanya, ia mengerti perasaan itu. Apa yang dirasakan Kaito sangatlah manusiawi, ia hanya ingin bahwa keberadaannya diakui oleh orang yang berarti baginya, meskipun orang itu tak lagi berada di luar jangkauannya. Dan jika ia yang berada di posisi Kaito, ia cukup yakin ia akan memiliki pemikiran yang sama. Karena itu ia tidak menatap Kaito dengan tatapan menghakimi ataupun mengasihani.

"Bukan aku yang harus mengambil keputusan, Kaito," jawabnya pada akhirnya, "Keputusan ini sepenuhnya ada di tanganmu."

"Bagaimana kalau aku mengambil keputusan yang salah?"

Shinichi memutar matanya. Ini tidak seperti Kaito sama sekali, untuk mengkhawatirkan keputusan yang diambilnya salah atau tidak, sementara selama ini ia selalu bertingkah sesukahatinya.

"Kau tidak akan tau keputusanmu benar atau salah sebelum mencoba."

"Kau terdengar seperti tokoh utama di drama-drama prime time, Shin."

Shinichi melemparkan tatapan tajam ke arah Kaito, namun sayangnya pemuda di hadapannya itu masih menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. "Kalau kau sudah sering mendengarnya harusnya kau tidak perlu bertanya lagi, bodoh."

Ia mendengar Kaito terkekeh pelan, dan perlahan pemuda itu kembali mengangkat wajahnya. Shinichi tidak melihat ada bekas air mata di wajahnya, tapi Kaito terlihat mengusap sudut matanya sebelum menatap Shinichi. Kali ini tidak ada senyuman di wajahnya, tapi Shinichi bisa melihat bahwa pemuda itu telah mengambil keputusan.

"Kurasa aku akan menemuinya. Aku orang yang egois, jadi akan kumanfaatkan setiap kesempatan yang kupunya semaksimal mungkin," ujarnya sebelum beranjak dari sofa.

Shinichi mendengus, sudut bibirnya melengkung mendengar determinasi Kaito. "Kalau kau berniat untuk merebut istri orang, jangan libatlkan aku," godanya.

"Oi, aku tidak serendah itu!" protes Kaito. "Tapi paling tidak aku berharap masih bisa berteman dengan Aoko lagi…"

Lucu bagi Shinichi melihat Kaito mengatakan hal itu dengan tidak yakin, seakan butuh keajaiban untuk membuat hal itu terwujud, sementara ia sendiri sangat yakin hal itu akan segera terjadi, bahkan tanpa keajaiban sekalipun. Ia pun berdiri, membawa piring-piring cemilan ke arah dapur dimana Kaito telah menghilang bersama gelas-gelas mereka.

o.O.O.o.o.O.O.o

Baru tiga hari kemudian Kaito benar-benar memberanikan diri mengunjungi Aoko. Alasannya sih, menunggu dapat ijin dari tempat kerjanya, tapi toh sang detektif yang tinggal serumah dengannya tahu bahwa seminggu itu Kaito mendapat shift sore, harusnya ia tidak perlu meminta ijin untuk menjenguk seseorang di pagi hari. Kaito cukup bersyukur Shinichi tidak berkomentar apa-apa soal itu. Ia bahkan telah berbaik hati menjadi penghubungnya dengan Hakuba- Kaito masih tidak ingin berhubungan dengan si pirang itu.

Ia telah meminta Shinichi memberi tahu Hakuba ia akan menemui Aoko hari ini. Menurut informasi dari Shinichi, Aoko dirawat di Rumah Sakit Pusat Tokyo, ruang 403, dan Hakuba baru bisa datang di sore hari. Kaito berencana untuk pulang sebelum Hakuba datang, tentunya, tapi ia sendiri tidak tahu seberapa lama ia akan berada disana. Tergantung bagaimana respon Aoko nanti, ujarnya dalam hati.

Ia melewati koridor-koridor panjang rumah sakit dalam diam. Ia berusaha untuk menyibukkan pikirannya dengan mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya -para perawat dengan clipboard mereka, para dokter dengan jubah putih mereka, ada pula para pasien penjenguk mereka- hanya untuk menekan rasa gugupnya. Sesekali ketika ia tak sengaja melihat para pasien yang terbaring di ranjang mereka di salah satu ruangan yang dilewatinya, ia tidak bisa tidak berpikir mengenai keluarganya yang telah tiada. Apa Ibu dan Jii sempat mengalami hal yang sama, terbaring tak berdaya dengan berbagai macam alat penunjang hidup yang mencuat dari tubuh mereka? Seberapa lama mereka hidup setelah kejadian itu? Ataukah mereka langsung tewas disana? Ia tidak tahu. Ia bahkan tidak ingat mereka menginformasikan kematian keluarganya sebelum atau sesudah ia mendapat putusan bersalahnya. Baginya semua yang terjadi setelah hari itu terasa bagaikan sebuah film buram yang tak jelas alurnya.

Namun Kaito tidak punya waktu untuk terus memikirkan hal itu, karena tanpa sadar ia telah sampai di depan kamar 403. Ia mendorong pikiran-pikiran itu ke sudut pikirannya, mungkin ia akan menanyakannya pada Shinichi, atau orang tua Shinichi, kapan-kapan. Untuk sekarang ia harus kembali memfokuskan perhatiannya pada masalah yang ada di depannya.

Semenit, dua menit, ia hanya menatap pintu putih dihadapannya dengan tatapan kosong. Ia tahu bahwa sekali ia membuka pintu itu, ia tidak akan bisa kembali lagi—bukan dalam arti harfiah, tentu, tapi tetap saja… Bagaimana jika Aoko panik melihatnya? Bagaimana kalau melihatnya hanya akan membuat keadaan Aoko memburuk, dan ia tidak akan mau melihatnya lagi? Bagaimana—

"Tuan?" Kaito tersentak keluar dari paranoianya oleh sapaan seorang suster yang lewat. Tampaknya ia curiga akan gerak-gerik Kaito dan memilih untuk menegurnya. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Ah, tidak. Aku… hanya khawatir kalau aku salah kamar," Kaito memberikan senyuman penuh permintaan maaf pada sang suster muda, "Ini benar kamar Naka—maksudku, Hakuba Aoko, bukan?"

Suster itu mengangguk ragu-ragu, dan untuk berjaga-jaga ia mencatat nama Kaito, kalau-kalau terjadi sesuatu nantinya. Kaito memberikan namanya dengan suka rela, sejujurnya apapun akan diberikannya agar ia bisa bertemu Aoko. Untungnya suster itu tampak tidak mengenali sang mantan Kaitou KID dan pergi meninggalkan Kaito setelah memperingatkannya untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa menganggu Aoko.

Kaito menghela napas berat begitu tatapan tajam suster itu meninggalkannya, dan tanpa menunggu suster itu benar-benar pergi, ia mengetuk pintu putih di hadapannya.

"Silahkan," terdengar suara yang sudah sangat dikenalnya dari dalam sana. Kaito menelan ludah, sebelum dengan sangat pelan, membuka pintu itu.

Matanya bertemu pandang dengan milik Aoko, dan ia merasa seakan waktu baru saja berhenti. Ia hanya bisa berdiri diambang pintu, menatap Aoko yang tengah duduk di atas ranjang rumah sakit, dengan bantal-bantal menyangga punggungnya. Ia tampak tidak berbeda dengan Aoko yang ditemuinya di Shibuya beberapa bulan lalu, kecuali kini perutnya tampak lebih buncit.

"…Kaito? Kaito… kan?"

Aokolah yang pertama mengangkat suara. Matanya menatap Kaito dengan berkaca-kaca, dan ia tampak seakan ingin turun dari ranjangnya. Kaito buru-buru menghampirinya sebelum Aoko benar-benar melakukannya. Ia berdiri dengan canggung di samping ranjang serba putih itu. Matanya sendiri mulai terasa panas, tapi ia merasakan sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas dengan sendirinya.

"Hai, Aoko. Lama tidak bertemu."

"Kaito!" detik selanjutnya Aoko telah memeluknya dan menenggelamkan wajahnya di dada Kaito. Ia bisa merasakan air mata Aoko mulai membasahi kemejanya, tapi itu adalah hal terakhir yang dipikirkannya. Yang ia tahu bahwa Aoko tengah ada di hadapannya, memeluknya, memanggil namanya.

"Maaf, Kaito, maafkan aku…," gumam Aoko disela isak-tangisnya.

Kaito dengan ragu-ragu mengelus punggungnya untuk menenangkannya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Aoko, kau tidak salah apa-apa. Aku yang harusnya minta maaf."

Aoko melepaskan pelukannya agar dapat melihat wajah Kaito, dan bohong kalau Kaito bilang ia tidak kecewa. "Maafkan aku sudah melupakanmu selama ini. Harusnya aku bisa menjengukmu, aku bisa membantumu—" Aoko mulai terdengar histeris dan Kaito memutuskan untuk memotongnya.

"Sst, itu bukan salahmu. Berhenti minta maaf padaku, Aoko, kumohon."

"Tapi—"

"Aku yang harus minta maaf, aku telah melibatkanmu dalam bahaya, membuatmu terluka… Maaf, Aoko. Sejujurnya aku juga berpikir lebih baik kalau kau tidak mengingatku. Kalau saja kau tidak berteman denganku mungkin kau tidak perlu mengalami semua ini—"

PLAK.

Kaito merasakan pipinya memanas. Tunggu, apa Aoko baru saja menamparnya? Tapi—kenapa? Ia menatap Aoko untuk meminta penjelasan, tapi yang dilihatnya membuat hatinya seakan ditusuk. Aoko, dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya, dan tatapan yang penuh dengan kekecewaan.

"Aoko—"

"Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi, Kaito! Aku tidak menyesal berteman denganmu! Bagaimanapun juga aku tidak menyesali hari-hari yang kita lewati bersama. Jadi tolong… jangan bilang seakan kau tidak ingin kenal denganku, Kaito. Memikirkan bagaimana Aoko telah melupakanmu selama bertahun-tahun saja sudah membuatku sedih, kalau sampai Kaito benar-benar tidak mau kenal denganku lagi aku—"

Sisa perkataannya tercekat di tenggorokannya. Tak ada yang keluar dari bibirnya selain isak-tangis. Hati Kaito mencelos. Apa ia baru saja membuat Aoko menangis? Oh Tuhan…

"Maaf. Aoko maafkan aku—bukan begitu maksudku. Aku—aku hanya ingin kau bahagia. Tapi aku… sejujurnya aku juga tidak ingin kau melupakanku, Aoko. Kau mungkin satu-satunya orang terdekatku yang masih hidup, dan mau tak mau aku khawatir kau juga akan meninggalkanku…," suara Kaito pecah, ia bisa merasakan air mata mengaburkan pandangannya.

"Bakaito, bagaimana bisa kau punya pikiran seperti itu," Aoko terdengar kesal, tapi ia tersenyum. Senyum dan panggilan khas Aoko itu menghangatkannya, membuatnya yakin bahwa ya, semuanya akan baik-baik saja setelah ini, dan ia tertawa.

Aoko awalnya mengomelinya karena ia mendadak tertawa, tapi beberapa detik kemudian ia telah menghapus air matanya dan ikut tertawa bersama Kaito. Mereka dengan mudah telah kembali ke kebiasaan lama mereka, berdebat mengenai hal-hal kecil yang tidak penting, diselingi Kaito yang memamerkan trik-trik sulapnya hanya untuk membuat Aoko jengkel. Tapi tentu saja, tidak berarti tahun-tahun yang memisahkan mereka menguap begitu saja.

"Apa bayimu sehat, Aoko?" Tanya Kaito, setengah khawatir dan setengah penasaran.

Aoko mengangguk, senyuman masih bertengger di wajahnya. "Ya, sejauh ini dia sehat. Bahkan saat ini dia tengah menendang-nendang perutku dengan aktifnya."

"Hmm, kurasa ia sudah tidak sabar ingin melihat dunia."

Aoko mengiyakan hal itu dengan tawa pelan. Ia lalu menceritakan awal-awal kehamilannya, bagaimana Hakuba terlihat sangat senang, bagaimana orang tuanya sudah berebutan memberi nama untuk sang jabang bayi, bagaimana masa 'ngidam'nya membuat Hakuba kewalahan. Tanpa sadar Kaito telah ikut tertawa bersamanya tanpa perlu memaksakan diri.

Dan saat itu ia sadar, bahwa melihat Aoko bahagia seperti ini telah membuatnya ikut bahagia. Bisa berbagi cerita dengan Aoko seperti ini pun ia sudah bahagia. Mungkin ia tidak lagi 'tertarik' pada Aoko sebagaimana seorang pria pada wanita, tapi ia jelas masih cukup menyayangi Aoko untuk ingin tetap menjadi bagian dari hidupnya.

"Kaito? Kaito?"

"Huh? Ah—maaf, aku melamun tadi. Kau bilang apa, Aoko?"

"Kau pasti memikirkan hal-hal bodoh lagi," Aoko mendengus. "Kaito, ceritakan tentang dirimu. Dari tadi cuma aku yang bercerita."

"Eh? Tidak ada yang menarik dari kehidupanku sehari-hari," kilahnya.

"Jangan bilang begitu! Ne, kau tinggal dimana sekarang? Di rumahmu yang dulu?"

Kaito berusaha tidak berjengit mengingat rumahnya yang telah hangus terbakar. "Tidak, aku tinggal bersama—seorang teman."

"Teman? Siapa?" Aoko menatapnya curiga.

"Kau seakan tidak percaya aku punya teman, Aoko," gerutunya. Aoko malah tertawa mendengarnya.

"Bukan begitu maksudku. Aku hanya penasaran… Apa dia seseorang dari kelas kita dulu?"

"Bukan. Dia, err… anak dari mantan murid Ayah?" ujarnya setengah tidak yakin harus bagaimana menyebutnya. 'Dia seorang detektif yang hampir selalu berhasil menangkap KID selama ini' rasanya tidak cocok untuk menjelaskan hubungannya dengan Shinichi. Untungnya Aoko tampak percaya akan penjelasannya.

"Dan kalian tinggal dimana? Lalu siapa namanya? Laki-laki? Perempuan? Apa dia seumuran dengan kita?"

Kaito mengernyit mendengar berondongan pertanyaan Aoko, tapi ia menjawabnya satu per satu dengan sabar. "Kami tinggal di Beika. Namanya Shinichi, Kudo Shinichi, dan dia laki-laki. Apa menurutmu aku akan menerima tawaran untuk tinggal seatap dengan seorang perempuan? Dan yah, kita seumuran. Dia detektif, dan tampaknya ia sudah saling kenal dengan Hakuba sejak SMA dulu."

"Ooh, dia mengenal Saguru-kun juga? Kalau begitu tampaknya aku harus bertemu dengannya untuk mengucapkan terima kasih!"

"Kenapa?" Kaito menatap Aoko dengan alis terangkat.

"Karena dia sudah berbaik hati menampung Kaito dan aku yakin dia juga sudah banyak membantu Saguru-kun," jawabnya. Senyuman di wajah Aoko bukanlah senyuman yang Kaito ingat dari masa SMA mereka. Senyuman yang ini terlihat lebih anggun, lebih dewasa, lebih… keibuan, dan Kaito tidak bisa tidak terpesona melihatnya.

"Lain kali kau harus mengajaknya kesini, Kaito!"

"Huh? Apa itu artinya kau menyuruhku dating menjengukmu lagi, Aoko?"

"Tentu saja, Bakaito! Apa kau tega membiarkan teman masa kecilmu ini di rumah sakit sendirian tanpa dijenguk?!"

"B-bukan begitu maksudku, ugh… Aku hanya… kupikir Hakuba tidak akan membiarkanku menemuimu lagi."

Tatapan kesal Aoko melunak mendengar hal itu. Ia lalu menangkupkan tangannya di atas kedua tangan Kaito. "Maaf, Kaito, aku yakin Saguru-kun sebenarnya tidak bermaksud buruk."

Kaito menawarkannya senyuman kecil sebelum menjawab, "Ya, aku tau itu. Dia hanya melakukannya untuk melindungimu. Kurasa aku cukup lega dialah yang menikahimu. Dia pasti memperlakukanmu dengan baik."

"Ya, Saguru-kun sangat baik. Kalau Saguru-kun tidak baik padaku Kaito akan memberinya pelajaran kan?" goda Aoko.

"Aa. Kalau dia sekali saja menyakitimu, aku akan meninjunya lagi," jawab Kaito tegas.

"Tunggu—Kaito, kau pernah meninju Saguru-kun?! Tega sekali!"

"Err—itu—"

Obrolan keduanya terus berlanjut hingga lewat waktu makan siang. Kaito baru pergi dari sana setelah memastikan Aoko memakan makan siangnya, dengan janji akan datang lagi akhir pekan nanti. Ia keluar dari rumah sakit dengan senyuman lebar dan punggung tegak, seakan sebuah beban berat yang selama ini menggantung di pundaknya baru saja diambil. Ia bahkan melompat-lompat kecil sepanjang perjalanannya, mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang berpapasan dengannya.

Ia melonjak kaget ketika ia mendengar klakson mobil tepat di sampingnya.

"Butuh tumpangan? Kau terlihat memalukan sekali berjalan sambil melompat-lompat seperti itu," ujar Shinichi dari dalam mobilnya, senyuman mengejek tampak menggelayut di wajahnya.

Kaito mengutukinya karena telah membuatnya kaget, tapi tidak menolak tawarannya.

"Tidak kusangka kau repot-repot menjemputku!" ujarnya dengan nada riang yang dibuat-buat.

Shinichi mendengus. "Mana mungkin aku mau repot-repot menjemputmu."

"Lalu? Kau bolos untuk jalan-jalan dengan mobilmu?"

"Bodoh, aku baru saja dari TKP dan akan kembali ke markas besar. Aku bukan orang yang suka membolos sepertimu."

"Oi, aku tidak pernah bolos kerja!"

Shinichi hanya mengedikkan bahunya, seakan tidak mempercayai protes Kaito.

"Tampaknya semua berjalan lancar?"

"Ya. Semuanya berjalan lancar," jawab Kaito. Shinichi bahkan tidak perlu menoleh ke arahnya untuk tahu ia sedang nyengir lebar.

"Oh, dan Aoko ingin bertemu denganmu."

"…kenapa?"

"Tanyakan saja padanya kalau kau bertemu dia nanti~"

"Apa ini caramu balas dendam, Kaito? Kekanak-kanakan sekali," gerutu Shinichi, tapi Kaito tidak mengabaikannya. Shinichi hampir menyesal telah menawarinya tumpangan.

.

to be continued

.