Words count: 2170 words

Rate: T

Warning: possibly a little OOC; alternate timeline

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 14

-14rd Leap-

Kaito mulai menyiapkan semua keperluannya setelah itu. Shinichi juga membantunya mengemasi beberapa barang yang dimilikinya, dan dengan sedikit bujukan dari Kaito, mengantarnya ke tempat kediaman Hakuba dan Aoko untuk berpamitan. Kemarahan Aoko tidak separah dugaannya, bahkan ia sempat memberikan tatapan penuh protes padanya—padahal ia kira pria pirang itu akan bahagia mendengar ia pergi jauh dari keluarganya. Kaito tidak tahu dimana Akako tinggal, ia hanya mengabari wanita itu lewat telepon. Semuanya berjalan lancar, dan ia tinggal menunggu hari keberangkatannya.

Atau setidaknya semua berjalan lancar, sampai ia menemukan Shinichi terkapar di ruang tamu rumah mereka seminggu sebelum hari keberangkatannya.

"Shinichi!"

Dalam keterkejutannya Kaito membiarkan kantung plastik berisi makan malam yang tadi dibelinya terjatuh begitu saja dan menghambur ke sosok pemuda yang terkapar itu. Ruangan itu gelap, dan dari sinar pucat lampu jalan yang masuk melalui jendela ruang tamu, ia bisa melihat wajah Shinichi yang lebam dan tangannya yang terbalut perban.

"Hei, Shin, bangun! Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?" ia menepuk-nepuk pipi –sisi yang tidak lebam, tentu saja– pemuda itu, berusaha membangunkannya.

Mata Shinichi masih terpejam, tetapi setidaknya ia masih bernapas. Kemudian dahi Kaito berkerut. Ia merasa ada yang janggal. Ia mendekatkan wajahnya ke pemuda yang masih tidak sadarkan diri itu, dan benar saja, ia mencium bau yang familiar. Bau alkohol. Ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya dan baru menyadari segerombol botor bir yang tergeletak di meja.

'Shinichi mabuk?' alisnya terangkat tinggi ketika mencapai kesimpulan itu. Ia sangat tahu bahwa Shinichi bukanlah seseorang yang menyukai alkohol. Tidak hanya sekali ia mengatakan bahwa alkohol dapat menumpulkan otaknya, dan kalaupun ia pergi ke bar bersama koleganya, ia tidak akan meminum lebih dari dua gelas. Beberapa gelas cocktail dengan kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi, mungkin, tapi ia tidak pernah melihat Shinichi menenggak habis berkaleng-kaleng bir seperti ini. Ada apa sebenarnya?

"Oi Shinichi, bangun!" ia mengguncangkan bahu pemuda itu agak keras, merasa harus secepatnya memastikan apa yang tengah terjadi. Karena sebenarnya keadaan ini terasa bagai déjà vu, hanya saja kali ini bukan ia yang menenggelamkan diri dalam minuman keras, namun Shinichi.

Usahanya tampaknya berhasil, ia melihat kelopak mata Shinichi perlahan membuka. Ia sedikit menghela napas, lega karena setidaknya ia telah sadar. Sayangnya kelegaan itu juga tidak berlangsung lama. Bukannya manik safir yang jernih dan tajam yang menyambutnya, ia malah ditatap oleh sepasang biru gelap. Biru gelap yang seakan menatap menembus dirinya, mengabaikan eksistensinya. Tatapannya sendu, penuh penyesalan, tetapi sekaligus kosong, seakan taka da lagi yang bisa dilakukannya. Tatapan yang sangat tidak cocok untuk diberikan oleh seorang Kudo Shinichi yang dikenalnya.

"Shin!" setengah panik melihat keadaannya, Kaito kembali mengguncang bahu pemuda itu, berusaha membuatnya kembali fokus pada dunia di sekelilingnya.

Shinichi mengerjap. Sekali. Dua kali. Perlahan ia menggeser pandangannya ke Kaito, tetapi meskipun fokusnya perlahan kembali, ekspresi penuh rasa frustasi itu masih tertahan di matanya.

"…Kaito? Kau sudah pulang?" ia menyangga tubuhnya dengan kedua lengannya, berusaha mengabaikan penglihatannya yang kabur.

"Ada apa, Shin? Kenapa kau babak belur dan—"

"Aku baik-baik saja," potongnya. Ia lalu berusaha berdiri, tapi ia berakhir terhuyung. Jika bukan karena Kaito yang menahannya mungkin ia telah terjatuh karena tak sengaja menginjak salah satu kaleng yang berserakan di lantai.

"Bahkan anak kecil juga tau kalau kau berbohong."

Shinichi hanya tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan. Ia menarik lengannya dari pegangan Kaito, lalu dengan terhuyung meninggalkan ruang tamu. "Aku naik dulu," ujarnya.

"Huh? Kau tidak mau makan dulu? Aku sudah beli makan malam, kau tahu, sushi dari kedai favoritmu."

Shinichi menggeleng pelan, yang langsung disesalinya karena gerakan itu menambah sakit kepalanya. "Aku sudah makan tadi. Kau habiskan saja semuanya, Kaito. Aku ngantuk."

"Tapi—" Kaito memaotong perkataannya sendiri dan menghela napas berat, menyerah. Ia tidak tega jika harus memaksa Shinichi yang sedang dalam kondisi seperti itu. "Mungkin istirahat akan membuatnya lebih baik," gumamnya pelan.

o.O.O.o.o.O.O.o

Paginya, di tengah sarapan, ia kembali berusaha menanyai Shinichi tentang apa yang sebenarnya terjadi, tapi pemuda itu terus berkilah.

"Aku hanya lelah. Dan kurang tidur."

Kaito tidak sedikitpun percaya dengan alasan itu.

"Biasanya kau justru menghindari minum saat kau lelah," sanggahnya. "Kalau memang kau sedang stress dengan pekerjaanmu, bukankah lebih baik kalau mengambil cuti barang sehari-dua hari daripada kau mengorbankan tubuhmu begitu?"

Baru saja ia menyelesaikan kalimatnya, Shinichi sudah langsung menghadiahinya tatapan-super-dingin-nan-menusuk. Ia langsung merinding, tapi disaat yang sama ia tidak tahu apa kesalahannya. Setelahnya Shinichi buru-buru menyelesaikan sarapannya dan berangkat, meninggalkan Kaito berpikir keras mengenai apa masalah Shinichi sebenarnya.

Malamnya Shinichi pulang dalam keadaan mabuk. Sayangnya sebelum Kaito sempat menghadangnya, sang detektif itu telah melarikan diri ke kamarnya dan mengunci diri hingga pagi. Ia berangkat ketika Kaito tengah sibuk menyiapkan sarapan, membuat Kaito mendecak kesal.

o.O.O.o.o.O.O.o

Malam itu Shinichi tidak pulang.

'Aku tidak pulang, ada misi pengintaian. Jangan menungguku,' adalah isi email yang dikirimkannya. Setidaknya ia masih mengabari, pikir Kaito. Ia hanya punya waktu lima hari lagi, sementara ia masih tidak punya petunjuk apapun mengenai alasan tingkah aneh Shinichi.

Dan oh, betapa ironisnya, bagaimana sang mantan pencuri kini berusaha menjadi detektif untuk mampu memecahkan misteri yang menyelimuti teman baiknya.

Sejujurnya Kaito curiga Shinichi hanya menjadikan misinya –entah misi itu sungguhan ataupun hanya karangannya belaka– sebagai alasan untuk menghindarinya, tetapi ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Shinichi tidak mungkin bersifat kekanak-kanakkan seperti itu. Tapi bukankah Shinichi juga harusnya tidak mungkin mabuk-mabukan parah hingga dua hari berturut-turut? Ia tidak tahu lagi.

Setelah mengabaikan semua pesan yang dikirim Kaito, Shinichi akhirnya pulang dua hari kemudian. Herannya, ia pulang bahkan sebelum jam makan siang tiba. Kaito sudah berhenti dari kedai kopi tempatnya bekerja sebelumnya, dan ia menghabiskan seminggu terakhir berkemas dan berkeliaran di rumah, sambil berusaha mengetahui penyebab tingkah Shinichi belakangan ini. Shinichi pulang di pagi hari, dengan wajah yang tampak lebih pucat dari sebelumnya. Namun jauh dari kata lemah, ekspresinya menyiratkan ketegangan, dan mungkin, kemarahan yang tertahan.

"Shinichi? Apa ada sesuatu yang ketinggalan? Kau tau aku bisa mengantarkannya kalau kau memberitahuku lewat telepon."

"Bukan itu," ia terdiam, tampak menimbang-nimbang sejauh apa ia harus jujur pada pemuda itu. "Aku diskors."

Mata Kaito melebar. "Kau? Diskors?!"

Ia hampir tidak mempercayai telinganya sendiri. Kudo Shinichi, detektif teladan itu diskors? Ok, Kaito sudah tidak tahan dengan semua ini. Ada yang sangat salah dengan Shinichi, dan ia ingin tahu alsannya sekarang juga. "Kau benar-benar membuatku khawatir, Shin. Kurasa ini waktunya kau menceritakan semuanya?"

Namun Shinichi malah berlalu begitu saja tanpa mengindahkan perkataannya. "Tidak ada hubungannya denganmu."

Dan kata-kata itu seakan menjadi pisau terakhir yang mematahkan kesabaran Kaito. Dengan satu gerakan cepat ia menarik pundak pemuda itu dan mendorongnya hingga punggungnya beradu dengan tembok. Keras. Ia bahkan bisa mendengar suara berdebum keras ketika keduanya beradu, tapi rasa bersalahnya tidak lebih besar dari amarahnya. Ia menahan kedua pergelangan tangan Shinichi di samping tubuhnya dan menempatkan diri di hadapan dektektif itu, memastikan bahwa ia tidak akan bisa lari. Matanya beradu pandang dengan Shinichi, yang tampak tidak menduga akan diperlakukan seperti itu, tetapi dengan cepat menyadari seberapa serius Kaito.

"Kau memaksaku mengungkapkan semua permasalahanku padamu, mengatakan bahwa mungkin bicara bisa meringankan sedikit bebanku, tapi sekarang kau menolak melakukan hal yang sama? Apa ternyata selama ini cuma aku yang berpikir bahwa kita adalah teman yang dapat saling mengandalkan? Bodohnya aku."

"….tinggalkan aku sendiri, Kaito."

"Tentu, dengan senang hati. Kau punya waktu dua hari kalau kau berubah pikiran."

Kaito melenggang keluar setelahnya. Pintu depan terbanting dengan keras mengiringi kepergiannya.

Untuk beberapa saat Shinichi hanya terpaku di tempat, memandangi pintu yang kini tertutup rapat. Tiga hari… ia berusaha memeras otaknya yang terasa sangat lamban beberapa hari ini untuk mencari arti perkataany Kaito. Tiga hari…

"…oh, benar juga, Kaito akan berangkat tiga hari lagi. Dan setelahnya aku akan sendiri lagi, huh."

Shinichi membiarkan gravitasi menariknya, membiarkan tubuhnya melorot ke lantai yang dingin. Ia melingkarkan lengannya ke kedua lututnya yang tertetuk dan menyembunyikan wajahnya disana. Punggungnya masih terasa panas karena menghantam tembok tadi. Begitu juga bekas genggaman Kaito di pergelangan tangannya. Tapi ia merasa jauh lebih terbebani oleh beban pikirannya daripada luka fisiknya.

o.O.O.o.o.O.O.o

Kaito pulang hanya untuk mendapati Shinichi yang tengah bersusah payah menopang tubuhnya dengan berpegangan pada rak. Sebelum ia sempat berpikir panjang ia telah bergegas membantu pemuda itu, meskipun pada awalnya ia berniat untuk mengabaikan Shinichi sampai pemuda itu meminta maaf, karena pada kenyataannya ia tidak bisa meninggalkan pemuda itu begitu saja. Kaito membantu Shinichi kembali ke kamarnya sekaligus bertanya apa ia perlu memanggil dokter atau tidak.

"Tidak perlu, aku baik-baik saja…"

"Tentu, dan aku bukan mantan pencuri," ujarnya penuh sarkasme.

"…maaf. Aku hanya lapar, kurasa. Rasanya sudah lama aku belum makan makanan yang layak."

"…kapan kau terakhir makan?"

"Uh, entah. Aku hanya ingat terakhir kali aku makan karaage."

"Jangan bilang yang kau maksud adalah karaage menu sarapan kita 3 hari yang lalu?!"

"Mungkin—"

"Melewatkan makan tapi terus-terusan minum? Bagus sekali, Kudo Shinichi. Apa kau bisa bertingkah lebih bodoh lagi?"

"Yah, mengingat aku tengah diskors dari kerja, kurasa jawabannya adalah ya?"

"Oh Tuhan," Kaito mendorong Shinichi ke tempat tidur dengan tidak elitnya. "Sekarang kau diam disini. Jangan sekalipun mencoba untuk pergi kemanapun. Dan jangan tidur! Mengerti?"

"Setelah dihukum di kantor sekarang aku dihukum di rumah juga? Woah."

"Yep, karena kau anak nakal, Shinichi-kun," ujar Kaito dengan suara ibu-ibu seraya melemparkan tatapan tajam pada pemuda itu. Shinichi menghela napas berat, menyerah. Perutnya terasa aneh and pandangannya seakan berputas. Dia tidak punya cukup energi untuk menyuarakan protesnya, apalagi untuk bergerak.

Setelah yakin Shinichi tidak akan kemana-mana, Kaito meninggalkannya sendirian. Shinichi mengira ia tidak akan kembali, setelah pertengkaran mereka tadi, tapi tampaknya ia salah. Kaito kembali tak lama setelahnya dengan segelas air hangat dan semangkuk bubur. Ia memandangi Shinichi dengan seksama selama ia makan, dan Shinichi berusaha keras mengabaikan tatapannya.

"Terima kasih atas makanannya," gumamnya pelan seraya meletakkan nampan makanannya ke meja samping tempat tidurnya.

"Sudah seharusnya," jawab Kaito ketus.

"Maaf sudah merepotkan—"

"Kalau kau benar-benar ingin meminta maaf maka ceritakanlah apa sebenarnya masalahmu."

"Aku—"

Klik.

Mata Shinichi melebar ketika ia merasakan dinginnya logam melingkari pergelangan tangan kanannya, yang dari usahanya menarik tangannya ia ketahui tersambung ke headboard tempat tidurnya.

"Apa-apaan ini, Kaito?!"

"Maaf tapi aku tidak menerima penolakan."

"Jangan bercanda!"

"Sudah lama aku tidak seserius ini, kalau boleh jujur."

Kaito masih duduk di tempat yang sama, di pinggir tempat tidurnya, dengan mempertahankan jarak di antara mereka. Memang benar kalau Shinichi hampir sama sekali tidak melihat gerakan tangan sang pesulap yang memborgol tangannya itu, tapi saat ini Kaito terlihat lebih seram dari beberapa detik sebelumnya. Kaito lebih dari marah, ia geram, sejauh itu Shinichi paham. Tetapi Shinichi juga bukanlah tipe yang gampang mundur.

"Kenapa kau peduli?"

"Kalau kau berusaha memancingku dengan ejekan, kuingatkan bahwa hal itu tidak akan berhasil."

"Aku hanya sedang frustasi dengan salah satu tersangka kasus yang kutangani."

"Berbohong juga tidak akan berhasil. Ada hal lain yang memancing rasa frustasimu."

"Main detektif-detektifan sekarang, eh, Tuan Mantan Pencuri?"

"Aku bermain sebagai seorang teman. Aku ingin membantumu, Shin, kenapa kau tidak membiarkanku? Aku khawatir! Kau pikir aku bisa meninggalkanmu begitu saja sementara kau sendiri tidak bisa menjaga dirimu sendiri begini?!"

"Tentu kau bisa."

Shinichi tidak berani menatap mata Kaito secara langsung, tapi ia bisa merasakan kekecewaannya. Ia tidak ingin melibatkan Kaito, karena sejujurnya hal yang memancing rasa frustasinya hanyalah sesuatu yang bodoh. Hanya hantu dari masa lalu yang masih belum dapat dilupakannya, yang masih belum bisa disingkirkannya. Ia hanya bertindak bodoh, dan keras kepala, ia tahu, tapi ia tidak tahu apalagi yang bisa dilakukannya. Ia telah berusaha sebisa mungkin untuk 'sembuh', sungguh, tapi masa lalu itu tak henti menghantuinya.

Sebelum Shinichi bisa memikirkan alasan lain, ia mendengar suara gemerincing metal, and beratnya logam serta dingin yang memeluk pergelangan tangannya mendadak menghilang.

Kaito beranjak dari duduknya, melemparkan borgol itu kea rah Shinichi dengan sekenanya. "Kurasa orang sepertiku tidak berhak bahkan untuk mencoba membantumu, huh," ia tertawa pahit. "Baiklah."

Shinichi memandangi punggungnya yang beranjak pergi, memandanginya berjalan meninggalkannya, dan mendadak ia merasa dingin. Kaito pergi. Kaito akan terbang-entah-kemana (apakah itu Prancis? Ia tidak bisa mengingatnya dengan jelas) dan dia tidak aka nada disana untuk meracikkan kopi untuknya lagi, tidak akan menemani waktu makannya lagi, tidak akan beradu mulut mengenai hal-hal kecil dengannya lagi. Kaito tidak akan kembali. Dan ia akan ditinggal sendirian.

Sebelum otaknya berhasil memahami arus pikirannya, tubuhnya telah bergerak terlebih dahulu. Ia melompat dari tempat tidurnya, terhuyung sebelum akhirnya berhasil menarik lengan Kaito.

"Jangan pergi…"

Kaito berhenti, lalu berbalik menghadap Shinichi dengan raut bingung. "Apa kau butuh sesuatu ?"

"Maaf, Kaito, aku tidak bermaksud menolak perhatianmu seperti itu. Aku hanya– Aku tidak tahu, aku sendiri tidak mengerti apa yang terjadi padaku. Aku—" ia mengorek otaknya untuk mencari kata-kata yang tepat, tapi ia gagal. Sebagai gantinya ia menatap Kaito dengan tatapan memohon agar ia paham tanpa kata.

'Kau tahu bagaimana rasanya mengalami semua ini bukan?' adalah apa yang ia katakan dalam diam.

Kaito menghela napas panjang, lalu duduk di ujung tempat tidur. Shinichi melepaskan lengannya dan duduk di sampingnya, masih mempertahankan jarak di antara mereka seperti sebelumnya.

"Teruskan. Ceritakan saja apa yang bisa kau ceritakan. Aku akan mendengarkanmu."

Dan Shinichi pun mulai bercerita.

.

to be continued

.

Um, hai? Apa kabar? haha. Ini rencananya jadi chapter terakhir tapi ternyata panjangnya jauh lebih panjang dari dugaan dan daripada nanti updatenya lebih lama lagi jadi saya potong sampai sini dulu (dan kabe-don part dan handcuffing part itu self-indulging sekali ahaha sorry not sorry cough). Two more chapters left~~ Seperti biasa, terima kasih bagi yang sudah menyempatkan baca, dan review/fave/follow selama ini! Selalu ditunggu kritik dan saran dan curhatan dan apapun itu lewat review~ See ya!