Words count: 2485 words

Rate: T

Warning: possibly a little OOC; alternate timeline; mention of blood and death; typo(s).

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Disclaimer:

Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.

Now, let the story begins...

o.O.O.o.o.O.O.o

Chapter 15

-15th Smile-

"Teruskan. Ceritakan saja apa yang bisa kau ceritakan. Aku akan mendengarkanmu."

Dan Shinichi pun mulai bercerita.

"Beberapa hari yang lalu terjadi perampokan di Bank Beika," mulainya. "Pelakunya adalah 5 orang, semuanya membawa senjata api. Salah satu karyawan bank sempat menekan alarm perampokan, tapi ketika polisi sampai disana, para perampok itu telah mendapatkan apa yang mereka inginkan dan tengah berusaha kabur."

Kaito tahu ini bukan pertama kalinya Shinichi menghadapi perampok. Jika ia memulai ceritanya dari sana, itu artinya ada yang berbeda dengan perampokan ini. Sejujurnya ia sendiri sempat mendengar berita tentang perampokan itu, tapi diantara kesibukannya menyiapkan kepindahannya dan kekhawatirannya akan keadaan Shinichi, ia tidak terlalu memperhatikannya. Jadi ia mendengarkan Shinichi bercerita, dan membiarkannya bercerita dengan pace-nya sendiri.

"Begitu mendengar sirine polisi, mereka mengambil seorang wanita sebagai sandera sementara mereka merangsek kea rah mobil yang tampaknya telah disiapkan sebelumnya. Tentu saja, polisi tidak berniat membiarkan mereka kabur. Kami berusaha bernegosiasi, berusaha mengalihkan perhatian mereka untuk mencari kesempatan yang tepat menangkap mereka tanpa membahayakan sandera. Tapi kami— kami gagal. Kami hanya bisa melihat bagaimana peluru menembus kepala wanita itu, bagaimana tubuhnya melunglai dalam sekejap…"

Sang detektif memejamkan matanya sementara kedua tangannya mengepal erat, berusaha menahan emosi. Entah emosi itu kesedihan atau kemarahan, Kaito tidak dapat menebaknya. Kaito sendiri tampak mengerutkan dahinya. Melihat seseorang kehilangan nyawa di depanmu sementara kau tidak bisa melakukan apa-apa untuknya… perasaan itu adalah perasaan yang tidak asing baginya. Kaito sedikit bergeser dari tempatnya, sekedar untuk mengingatkan Shinichi ia masih ada disana, mendengarkannya.

"Tentu saja kami langsung mengejar mereka. Semua mobil polisi dikerahkan, sementara hanya beberapa orang polisi yang ditinggal untuk mengamankan tempat kejadian dan menolong para sandera lainnya. Laporan dari petugas yang mengamankan tempat kejadian menyebutkan bahwa di dalam orang-orang dikumpulkan di tengah ruangan dengan tangan dan kaki terikat. Selain itu, tampak tiga sosok mayat bersimbah darah di berbagai tempat. Satu mayat terkapar di belakang meja teller, yang melihat posisinya tampaknya adalah karyawan yang memencet alarm perampokan. Satu lagi berada tak jauh dari pintu keluar, kemungkinan besar ia ditembak ketika berusaha kabur. Satu lagi ada di tengah-tengah kerumunan itu, adalah sesosok mayat pria paruh baya. Dari sana kami menyimpulkan bahwa mereka tidak segan-segan membunuh siapapun yang menghalangi mereka."

Kaito bisa membayangkan pemandangan itu, dan ia berusaha keras agar bayangan kejadian itu tidak menjebaknya dalam gambaran masa lalunya. Dari perubahan ekspresi Shinichi ia bisa menebak bahwa baginya sekalipun, melihat mayat bukanlah sesuatu yang menyenangkan, seberapa seringpun ia mengalaminya.

"Sayangnya kami kehilangan jejak mereka. Mobil yang mereka pakai untuk melarikan diri mereka tinggalkan di pinggir jalan, sementara mereka pergi entah kemana. Malam itu adalah malam yang sama kau pulang dan menemukanku mabuk-mabukkan."

Kaito ber-'oh' singkat. Otaknya berputar, menyatukan potongan-potongan puzzle yang dibeberkan Shinichi. "Apa kau frustasi karena tidak berhasil menangkap mereka, ataukah kau frustasi karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan sandera itu, Shin?"

Tubuh Shinichi tampak menegang. Kepalan tangannya mengerat, membuat buku-buku jemarinya memutih. "…aku juga tidak tau. Kurasa dua-duanya?"

"Kenapa?"

Hening.

"Shin, aku tau ini bukan pertama kalinya kau menghadapi pembunuh berantai, psikopat, maupun perampok berdarah dingin. Lalu kenapa? Apa alasan yang membuatmu seterpuruk ini?" Kaito menatapnya khawatir. Ia tahu Shinichi bukanlah seseorang yang berhati dingin, yang emosinya tidak akan tersulut jika melihat orang yang tak bersalah kehilangan nyawa, tetapi ia juga tahu bahwa biasanya Shinichi akan berpikir dengan kepala dingin untuk menangkap orang itu tanpa terlalu melibatkan perasaannya sejauh ini.

"Aku… Sudah kubilang alasannya sebenarnya adalah hal yang cukup bodoh bukan?" ia tersenyum, senyuman yang terlalu menyakitkan untuk dilihat. Senyuman yang seakan memaki dirinya sendiri. "Aku teringat akan Ran."

Ran. Tentu saja Kaito mengingat gadis itu. Beberapa kali ia menyamar menjadi teman masa kecil Shinichi itu untuk mengelabuinya dulu. Gadis yang sangat berarti bagi Shinichi, dulu. Atau mungkin sampai sekarang juga? Tetap saja, ada perasaan tidak enak ketika Shinichi menyebutkan nama itu lagi setelah sekian lama.

"Aku teringat Ran ketika melihat wanita tak bersalah itu harus mati begitu saja. Karena itu dua hari setelahnya, ketika ada informasi yang mengatakan bahwa ada yang melihat komplotan perampok itu, aku segera pergi menyelidikinya."

"Hari dimana kau tidak pulang?"

"Ya. Ketika akhirnya kami berhasil menemukan tempat persembunyian mereka dan memojokkan mereka, salah seorang dari mereka mengambil anak gadis dari penghuni kamar sebelah yang tampaknya baru pulang. Aku… kurasa aku panik, takut hal yang sama terjadi lagi. Aku takut aku tidak berhasil menyelamatkan siapapun, dan berakhir tidak berguna. Jadi aku menembaknya tanpa perintah."

Mata Kaito tampak melebar, hampir tidak percaya pada apa yang Shinichi katakan— lakukan.

"Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi selanjutnya. Yang kuingat hanya tubuh pria itu yang langsung ambruk, bersimbah darah, dan gadis yang ketakutan itu. Bagaimana tidak, seseorang baru saja ditembak di depan matanya. Aku dengar dia masih ada di rumah sakit karena trauma sekarang. Dan semua itu salahku. Wanita itu, dan gadis itu, hanya berada di tempat dan waktu yang salah. Sama seperti Ran. Dia tidak tahu apa-apa, dia tidak seharusnya terlibat dengan semua ini, tidak seharusnya kehilangan masa depannya. Dan aku tidak pernah bisa memaafkan diriku sendiri karena membiarkannya terlibat, membiarkannya kehilangan nyawanya, hanya karena aku tidak bisa berbuat apa-apa..."

"Shin—"

"Aku tahu. Aku tahu Ran tidak akan menyalahkanku atas apa yang terjadi. Dia tidak akan membenciku karena aku tidak bisa menyelamatkannya. Bahkan di saat-saat terakhirnya ia malah mengatakan bahwa ia hanya ingin aku bahagia…," air mata mulai mengalir turun dari kedua matanya, tapi Shinichi tampak tak menyadari hal itu, "…tapi tetap saja aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."

Shinichi masih terisak, sementara Kaito memotong jarak diantara mereka dan melingkarkan lengannya di pundak pemuda itu, berusaha memberikannya sedikit dukungan, membagi sedikit kehangatan. Kaito paham perasaan Shinichi. Yah, ia mendapat penutupan dari masa lalunya dengan mengetahui bahwa Aoko masih segar bugar. Meskipun Ibu dan Jii-chan tetap menjadi korban, setidaknya mereka sudah tahu resiko dibalik pekerjaan rahasianya dengan segala bahaya yang membayanginya, dan dia memberanikan diri untuk tidak menganggap kepergian mereka adalah 100% kesalahannya. Tapi Shinichi berbeda. Gadis itu tidak mengetahui bahaya yang mengincar Shinichi, dan dia kehilangan nyawanya karena itu. Shinichi tidak bisa mendapat akhir dari mimpi buruk masa lalunya sebagaimana dia mendapat 'akhir'nya.

Shinichi masih terisak dalam diam, bahunya masih bergetar, tangannya masih terkepal kuat. Dan Kaito tidak tega melihatnya dalam keadaan seperti ini. Lemah. Hancur. Terkubur beban berat yang tak seharusnya dibawanya.

"Kalau begitu kenapa kau tidak menjadikanku penggantinya saja?"

Hening. Ketika Shinichi akhirnya mengangkat wajahnya dan menatapnya, ia memberikannya tatapan datar. Detik berikutnya semu kemerahan mengambil alih wajahnya dan dia mulai membuat ekspresi-ekspresi aneh. Baru saat itulah Kaito menyadari betapa perkataannya terdengar salah.

"Tunggu— tidaktidaktidak, maksudku bukan seperti itu! Yang kumaksud bukan menggantikannya dalam artian dalam artian romantis!"

"L-lalu apa maksudmu, Bakaito?! Kau kira kau bisa tiba-tiba mengatakan hal seperti itu tanpa menimbulkan kesalahpahaman?! Kau bahkan pernah menciumku!"

"Kenapa juga kau masih mengingat hal itu?! Argh itu memalukan!"

Keduanya melemparkan beberapa omong kosong lainnya sebelum akhirnya mereka jatuh terdiam, dengan wajah memerah dan napas memburu.

Kaito berdahem.

"Ok, yang kumaksud adalah sebagai seseorang terdekatmu. Seseorang yang bisa akrab denganmu, tempat berbagi cerita, tempat meminta bantuan ketika kau terlibat masalah. Seperti, yah, teman dekat? Sahabat? Kau tidak bisa terus-terusan menyalahkan dirimu atas kepergiannya, aku bertaruh ia juga tidak ingin melihatmu seperti ini. Dan kau harus berhenti berpikir bahwa kau tidak berguna, atau kau akan benar-benar jadi orang yang tidak berguna. Ingat, cara berpikir rasionalmu adalah satu-satunya poin plusmu, Shin."

"…aku tidak ingin mendengar yang terakhir itu."

"Tapi itu benar 'kan? Kau bahkan tidak bisa memasak selain beberapa masakan sederhana. Kau tidak bisa menyanyi. Selera humormu payah. Kau tidak bisa merayu wanita. Dan yang pasti kau tidak bisa main sulap."

"Oh diamlah, Kaito. Aku tidak ingin dibandingkan denganmu. Dan aku BISA melakukan hal lain, kau tahu."

Kaito tertawa, "Masa?"

"Tentu saja!"

"Kalau begitu tunjukkan padaku. Tunjukkan bahwa kau bisa mengalahkan masa lalumu, Shinichi."

"…aa, pasti."

"Bagus. Dan jika ini bisa membuatmu merasa lebih baik, akan kukatakan. Kau telah menolongku, Shin. Kau membantuku ketika aku terpuruk, kau memberiku semangat untuk memulai hidup yang baru, kau membantuku menemukan kembali mimpiku. Jadi jangan sekalipun kau berpikir bahwa kau tidak berguna."

Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, Shinichi akhirnya tersenyum. Senyum yang tidak palsu, yang tidak dipaksakan.

"Terima kasih banyak, Kaito."

Kaito membalas senyum itu sepenuh hati.

"Yoosh, sekarang kau tidurlah. Kau kelihatan seperti zombie. Biar kutebak, kau pasti belum tidur selama beberapa hari, huh?"

Shinichi tidak akan mengakui bahwa tebakan Kaito benar, tapi ia merasa lebih ringan, dan lelah mulai menyerangnya.

"Ya."

"Bagaimana kalau aku membayar hutangku dengan menemanimu kesana?"

"Huh? Kemana?"

"Ke makamnya, tentu saja."

"…oh. Ya. Tentu. Aku akan sangat menghargainya. Sankyu."

"Tidak masalah," ujar Kaito seraya beranjak dari sana dan mengambil nampan makan malam Shinichi.

"Selamat tidur, Shinichi."

"Selamat tidur, Kaito."

o.O.O.o.o.O.O.o

Esok harinya, Kaito menemani Shinichi berziarah ke makam Ran dengan membawa sebuket lili putih. Tentu saja, ia menjaga jarak ketika Shinichi berlutut di depan nisan gadis yang pernah dicintainya itu, membisikkan permintaan maaf dan entah apa lagi. Shinichi tidak menangis, meskipun matanya tampak memerah. Dan menurut Kaito, ia terlihat jauh lebih baik dari pada beberapa hari sebelumnya. Meskipun tentu saja, 'luka' yang dideritanya tidak mungkin bisa sembuh dalam semalam.

Setelahnya Kaito menemani Shinichi meminta maaf pada atasannya (tentu saja, itu artinya ia juga harus menemani Shinichi mendengarkan omelan inspektur yang sudah hampir pensiun itu selama satu jam penuh). Setelah berhasil kabur dari markas besar kepolisian sebelum mendapat omelan yang lebih panjang, keduanya mampir ke Rumah Sakit Beika untuk menjenguk korban penyanderaan yang trauma itu.

Kaito berusaha untuk tidak tertawa melihat ekspresi komikal Shinichi ketika orang tua gadis itu malah berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan putri tunggal mereka, sementara Shinichi mengira mereka akan membencinya. Mereka bilang bahwa dokter dan psikiatris yang menangani putri mereka menyatakan bahwa gadis itu menunjukkan respon positif, dan kemungkinan akan pulih dalam waktu dekat. Shinichi sama leganya dengan kedua orang tua itu ketika mendengarnya. Sang detektif sebenarnya juga ingin menemui keluarga perampok yang ditembaknya, tapi hingga kini keluarganya belum dapat dihubungi. Keduanya memutuskan untuk pulang setelahnya.

o.O.O.o.o.O.O.o

Tengah malam, Shinichi terbangun karena mimpi buruk. Bukan hal yang asing, sebenarnya, ia cukup sering mengalaminya. Yang tidak biasa adalah ketika ia turun ke dapur untuk mengambil minum, ia melihat lampu ruang tamu masih menyala. Ia menemukan Kaito disana, tengah menonton film entah apa dengan santainya.

"Mimpi buruk?"

"Aa, selalu," Shinichi menjatuhkan diri ke ujung lain sofa yang tidak ditempati Kaito. "Kau juga?"

"Aku hanya sedang berusaha menyesuaikan jam tubuhku agar nantinya tidak mengalami jet lag."

"Hah, tentu. Tentu aku tidak percaya."

Kaito hanya terkekeh.

Keduanya berakhir tertidur di sofa, dan meskipun punggung mereka berakhir kaku, setidaknya tidak ada yang dihampiri mimpi buruk lagi malam itu.

o.O.O.o.o.O.O.o

Pagi harinya –yah, tidak benar-benar pagi, mengingat saat itu sudah pukul 11.00 tetapi ia dan Kaito masih terkapar di sofa, dengan TV masih menyala– ia dipanggil ke markas besar untuk mengisi beberapa laporan mengenai kasus perampokan itu serta hukuman skors yang diterimanya. Ia berakhir menghabiskan waktu hingga petang memberikan beberapa 'saran' untuk membantu memecahkan sebuah kasus pembunuhan berantai, karena tentu saja ia tidak bisa secara resmi ikut serta dalam penyelidikan.

Ia pulang dengan beranggapan bahwa Kaito telah terbang meninggalkan Jepang, dan langsung pergi tidur.

"Beraninya dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun, setelah menceramahiku tentang 'sahabat' dan semua kata-kata indah lainnya hanya beberapa hari yang lalu," gerutunya dalam hati.

Karena anggapan itulah, ia hampir saja menelan dan bukannya memuntahkan air kumurnya ketika pagi itu Kaito dengan santainya memasuki toilet.

"Sedang apa kau disini?!" tanyanya dengan mata melebar.

"Ha? Bercukur?" Kaito yang tampak masih setengah mengantuk, dengan polosnya menunjukkan pisau cukur yang dipegangnya seakan hal itu memperkuat jawabannya atas pertanyaan retoris Shinichi.

"Bukan itu maksudku! Bukankah kau sudah berangkat kemarin?!"

"Ooh. Tidak. Aku menunda keberangkatanku~"

"…kenapa? Bagaimana bisa? Jadi kapan kau akan berangkat?"

"Apa kau sebegitu ingin menyingkirkanku, Shin?"

"Bukan itu maksudku," Shinichi menghela napas berat, lelah dengan perdebatan konyol di pagi hari itu.

"Haha. Aku berangkat seminggu lagi. Aku sudah memberitahu tuan rumahku jadi dia tidak keberatan. Sebenarnya aku berniat menghabiskan seminggu pertamaku disana untuk menyesuaikan diri, tapi hal itu tidak terlalu penting."

"Harusnya hal itu tetap menjadi hal yang penting—"

"Dan soal kenapa, sudah kubilang aku tidak akan bisa meninggalkanmu begitu saja dalam keadaan seperti ini."

"Aku baik-baik saja."

"Kau tidak baik-baik saja. Apa kau sudah memutuskan untuk mencari bantuan professional?"

"Jangan mengatakannya seakan-akan kau memberikanku pilihan untuk tidak melakukannya," dengus Shinichi.

"Itu artinya 'sudah', huh? Kapan?"

"Kau terdengar seperti ibuku."

"Nah, aku belum sebanding dengan Yukiko-san. Dan kau belum memberitahunya."

"Diamlah. Janji pertemuanku besok, ok? Apa kau puas sekarang?"

"Tidak juga. Aku lapar— aduh! Kenapa kau menendangku, Shin?!"

"Karena kau membuat ekspresi yang menyebalkan."

"Apa?! Aku tidak membuat eskpresi yang menyebalkan! Kau yang menyebalkan, Shinichi!"

"Tidak, Bakaito. Bagaimana denganmu?"

"Bagaimana denganku?"

"Terapimu. Mengenai api."

"Ooh. Semuanya berjalan lancar. Kurasa aku bahkan bisa berdiri di depan api unggun tanpa terserang panic sekarang."

"Benarkah? Itu bagus."

"Kurasa juga begitu. Bagaimanapun juga, suatu hari nanti aku ingin menampilkan beberapa sulap api."

"Sulap api?"

"Yep! Ngomong-ngomong, ada seorang wanita yang sangat ahli dalam melakukan sulap dengan api dan mengikuti jejak kakeknya. Sulap api terakhir peninggalan kakeknya berupa kaleidoskop yang terbuat dari permata, dibuatnya untuk menyemangati cucunya untuk kembali ke dunia sulap. Aku sangat terharu, sungguh. Itu karya yang sangat indah."

"Hmm. Dia pasti mencurahkan perasaan cintanya pada cucunya ke dalamnya. Apa cucunya itu akhirnya kembali menjadi pesulap?"

"Ya, dan dia semakin terkenal di tahun-tahun ketika aku masih berada di penjara, haha. Suatu hari nanti, aku juga ingin membuat sulap dengan api yang akan mengingatkanku akan kenangan-kenangan indah dengan keluargaku dan bukannya membuatku ketakutan dan menyalahkan diriku sendiri atas kepergian mereka…"

"Jangan khawatir, kau pasti bisa. Kau keras kepala sih."

"Aku tidak ingin mendengar hal itu dari orang yang lebih keras kepala."

o.O.O.o.o.O.O.o

Kaito berani bilang bahwa mood Shinichi telah membaik seminggu sejak pertengkaran mereka terjadi. Dia masih diskors sampai minggu depan, jadi selama itu mereka hanya bersantai di rumah atau membeli makan di luar. Setidaknya ia tidak akan terlalu khawatir meninggalkan Shinichi sekarang.

Ketika hari keberangkatan Kaito akhirnya tiba, Shinichi, Aoko, putrinya Akane, dan Akako mengantarkan kepergiannya. Sang pesulap itu bahkan sempat memberikan mereka bunga satu per satu, yang oleh Shinichi dilemparkan kembali kepadanya dengan ekspresi jengkel.

Ia pergi dengan janji akan kembali setelah ia telah berhasil mewujudkan mimpinya (dan untuk menghubungi mereka secara rutin). Dia tidak menangis, tentu saja, kenapa ia harus menangis jika ini adalah awal dari mimpinya.

"Jaga dirimu, jangan sampai kau membuat lebih banyak musuh," adalah nasehat Shinichi yang ditertawakan oleh Kaito.

"Harusnya aku yang bilang begitu!"

Seiring dengan melambungnya pesawat ke udara, Kaito melemparkan pandangannya keluar jendela. Pada langit biru yang terbentak dan gumpalan awan putih serta pemandangan di baliknya. Ia mungkin telah kehilangan segalanya, tapi kini ia telah kembali mendapatkan 'dunia'nya lagi. Ia punya mimpinya, ia punya tujuan yang ingin dicapainya, ia punya teman-temannya, dan ia punya orang-orang tempatnya berpulang jika ia mau. Ia akan terus berusaha menjadi lebih baik, ia akan membuat dirinya berharga, berarti. Dan setelahnya ia akan pulang dengan senyuman lebar dan tatapan bangga dari orang-orang berharganya. Sampai hari itu tiba, ia akan berjuang.

.

.

.


Last chapter~~ Terima kasih sebanyak-banyaknya atas semua yang sudah baca dan semua respon yang sudah diberikan untuk fic ini huhu. The story end here, tapi masih ada satu chapter epilog! XD Until then, ditunggu kritik dan saran dan curhatan dan apapun itu lewat review~ See ya soon!