Words count: 1255 words
Rate: K
Warning: possibly a little OOC; alternate timeline; typo(s).
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Disclaimer:
Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Now, let the story begins...
o.O.O.o.o.O.O.o
Epilogue
Kamis siang itu Shinichi memanfaatkan sedikit waktu istirahat yang diberikan kepadanya untuk menyetir ke pusat Tokyo dengan sebuah kado terbungkus rapi di kursi belakang mobilnya. Awal minggu lalu Sonoko mengirimkan sebuah undangan. Undangan ulang tahun putrinya, lebih tepatnya.
Tak lama setelah menyelesaikan kuliahnya, nona muda dari Suzuki group itu menikah dengan Kyogoku Makoto, yang semakin hari namanya semakin melambung dalam dunia karate nasional maupun internasional. Bukan hal yang mengherankan jika keduanya berakhir menikah, sebenarnya, mengingat hubungan mereka telah mendapat restu dari kedua keluarga sejak lama. Yang mungkin harus diacungi jempol adalah kesetiaan mereka pada satu sama lain, walaupun selama beberapa lama Makoto harus tinggal di luar negeri, dan walaupun pertengkaran tak jarang terjadi diantara keduanya.
Kini keduanya telah memiliki seorang putri kecil, yang hari itu resmi berusia lima tahun. Namanya Ran, Kyogoku Ran. Sonoko sengaja memberikan nama itu untuk mengenang sahabat baiknya. Dulu, Shinichi sempat berusaha menghindar dari keluarga kecil itu ketika Sonoko memberitahu nama putrinya, hanya karena ia tidak ingin mendengar nama yang mengingatkannya pada cinta lamanya yang tlah pergi. Tapi ia bersyukur ia akhirnya berhenti bertingkah pengecut dan kembali menjalin komunikasi dengannya. Ia sadar bukan hanya dirinya, tetapi Sonokopun pasti merasa tersiksa kehilangan sahabatnya.
"Sonoko," panggilnya ketika melihat wanita yang kini menjadi salah satu petinggi grup Suzuki itu menyeberangi halaman kediamannya.
"Huh? Shinichi! Kenapa kau ada disini? Acaranya baru mulai malam nanti lho," tanyanya heran meskipun seulas senyum tampak mengembang di wajahnya.
"Aku tahu, karena itu aku datang sekarang. Aku khawatir aku tidak akan sempat datang nanti malam."
"Eeh? Paman Shinichi tidak datang?" terdengar suara rengekan dari belakang Sonoko dan tak lama kemudian, Shinichi merasakan kakinya ditubruk oleh sesosok gadis kecil. Gaya rambut dan matanya mengingatkan Shinichi pada Sonoko kecil, meskipun warna helaian rambutnya segelap rambut ayahnya.
"Halo, Ran. Selamat ulang tahun untukmu," Shinichi mengangkat gadis kecil itu sambil memberikan senyuman penuh penyesalan. "Begitulah, tapi aku membawakanmu kado."
Shinichi menyerahkan kado yang telah terbungkus rapi itu, dan Ran menyambutnya dengan senyuman lebar.
"Pekerjaan sedang menumpuk, kautahu," ujarnya pada Sonoko yang tampak masih tidak senang atas ketidakhadiran Shinichi nanti. "Dan para petinggi mendadak meminta semua petugas untuk bekerja lembur mengurusi semua laporan yang hilang."
"Ah, karena kebakaran beberapa hari yang lalu?"
Shinichi mengangguk. Memang benar bahwa beberapa hari lalu terjadi kebakaran di Markas Besar Kepolisian Tokyo, yang untungnya berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke seluruh bangunan. Meskipun begitu, kebakaran yang melahap separuh ruang arsip di lantai atas itu jelas membuat berbagai laporan ludes, membuat kepolisian kalang kabut. Kini mereka tengah berusaha menyusun kembali berkas-berkas yang masih dapat diselamatkan dan memperbaiki yang masih dapat diperbaiki.
"Sayang sekali. Padahal nanti akan ada sesuatu yang spesial nanti malam."
"Oh? Apa yang akan Nona Muda Suzuki Group dapatkan di hari ulang tahunnya?" tanyanya dengan senyuman kecil pada bocah yang masih berada di gendongannya.
"Seorang pesulap terkenal dunia!" pekik gadis kecil itu riang. Detik selanjutnya ia mulai menyebutkan berbagai kelebihan dan pesona yang dimiliki pesulap itu, tangannya yang tidak memegang kado dari Shinichi bergerak kesana kemari dengan penuh semangat.
"Kau tahu, Ran, Paman Shinichi mungkin tidak akan tertarik dengan sulap. Dia pria yang membosankan."
"Eeeh kenapa begitu? Kau benci sulap, Paman Shinichi?"
"Oi oi, Sonoko, jangan mengatakan hal seperti itu. Hanya karena aku bisa langsung tahu trik yang dipakai seorang pesulap bukan berarti aku tidak bisa menikmati sulap."
"Huh? Trik apa, Paman Shinichi?"
"Nah, akan lebih menarik jika kau tidak tahu, Ran. Begitulah bagaimana sulap harusnya dinikmati."
"Eeeh? Ran tidak mengerti, tapi kalau Paman Shinichi bilang begitu yasudah…"
"Sonoko, florist yang kautunggu sudah datang—oh, Kudou?" seorang pria berkacamata dengan kulit agak kecoklatan menghampiri mereka. Shinichi mengangguk dan melempar senyum padanya seraya menurunkan Ran.
"Hai, Kyogoku, lama tidak bertemu," sapanya.
"Benar. Syukurlah kau tampak sehat," Ran yang baru saja diturunkan Shinichi langsung menerjang ayahnya, membuat Makoto yang tengah berjabat tangan dengan Shinichi hampir kehilangan keseimbangan. Kedua pria itu hanya terkekeh kecil, sementara Sonoko terlihat mengomeli Ran atas tingkahnya.
"Datang lebih awal?"
"Tidak. Aku khawatir aku tidak bisa mengikuti pestanya nanti malam."
"Ah, begitu ya… Sayang sekali."
"Tuan Detektif sangat sibuk setiap hari," cibir Sonoko.
"Maa, maa, jangan begitu, Sonoko. Kudou kan sudah bekerja keras untuk memastikan kita semua aman, bukan?"
Obrolan ringan mereka tidak berlanjut lama, mengingat waktu istirahat Shinichi hampir habis dan mereka juga masih sibuk dengan persiapan pesta. Shinichi sekali lagi meminta maaf atas ketidakhadirannya, berterima kasih atas pengertian mereka, sebelum akhirnya berpamitan. Begitu kembali ke markas tugas untuknya sudah menumpuk, dan pada akhirnya ia tidak sempat makan siang. Lagi. Dalam tiga hari terakhir. Ia menghela napas dan segera memulai menyortir tumpukan berkas-berkas di depannya.
o.O.O.o.o.O.O.o
Ketika ia sampai rumah, jarum jam telah menunjuk angka 10. Setelah tiga tahun kembali terbiasa hidup sendiri, ia dapat segera merasakan keberadaan orang lain yang tidak seharusnya berada di rumahnya. Dalam kegelapan yang menyelimuti sekitarnya, ia merasakan seseorang berusaha untuk meringkusnya. Secara refleks ia telah menangkap lengan si pelaku dan membantingnya dengan satu gerakan mulus.
"Adudu—"
Mengabaikan rintihan orang itu untuk sementara, Shinichi meraba dinding di sebelahnya untuk mencari saklar lampu. Ia harus menyipitkan mata selama beberapa detik ketika sorot terang lampu mendadak menerangi ruangan. Dan dengan alasan yang tidak terkait dengan silau lampu, matanya melebar.
"Tadaima," ujar sosok yang terkapa di lantai itu dengan cengiran yang terlalu lebar untuk ukuran seseorang yang baru saja dibanting.
"Kai…to?"
"The one and only!"
"…kau membobol rumah orang?"
Kaito menggeram pelan, tidak percaya dengan reaksi Shinichi. "Tidak sopan, aku masuk dengan memakai kunci," protesnya.
Shinichi baru ingat kalau ya, Kaito memang masih membawa duplikat kunci rumahnya. Ia baru menyadari hal itu sehari setelah keberangkatan Kaito, sebenarnya, kalau saja ia ingat sebelum itu ia pasti akan memintanya kembali. Mungkin.
"Kau tidak bilang kau sudah kembali ke Jepang."
"Ini kejutan, Shin. Sebenarnya aku ingin mengejutkanmu di acara ulang tahun tuan putri Suzuki itu tapi ternyata kau tidak datang."
"Oh. Jadi kau 'pesulap terkenal dunia' yang mereka katakan."
"Tentu saja itu aku, menurutmu siapa lagi?" ujarnya dengan cengiran lebar. Shinichi menanggapinya dengan hembusan napas berat.
"Hei, tidak sopan! Apa-apaan dengan reaksi itu?!"
"De, apa kau membawa banyak oleh-oleh? Kaubilang kau habis keliling dunia bukan?" tanyanya mengabaikan protes Kaito.
"Tentu saja! Tapi sebelum itu, aku ingin mandi."
"Aku duluan. Aku sedang sangat lelah dan butuh mandi," Shinichi berjalan melewati Kaito menuju kamar mandi, sementara tas, dasi, dan jasnya ia lemparkan sekenanya ke sofa ruang tamu.
"Eeh? Apa tidak bisa kalau aku duluan? Tidakkah kau pernah dengar ucapan bahwa tamu adalah raja, Shin?"
"Kau bukan tamu, Kaito."
"Ah. Aku tidak tahu harus senang atau tidak mendengarmu mengatakan hal itu."
"Terserahmu saja. Aku mandi duluan."
"Bagaimana kalau kita mandi bersama saja?"
"Tidak. Akan. Pernah."
"Aw ayolah, kau tidak perlu malu—"
Shinichi mendorong Kaito yang mengekor di belakangnya ke arah dapur, membuatnya hampir terjungkal. "Buatkan aku kopi sementara menunggu giliranmu."
"Itu bukan cara meminta yang benar 'kan, Tuan Detektif?"
"…tolong?"
"Ok!" Kaito tersenyum lebar, "Aku bertaruh kau merindukan kopi buatanku 'kan?"
Shinichi hanya memutar matanya. Meskipun aneh, tapi ia seakan tidak merasakan tahun-tahun dimana ia tidak mendengar hal-hal bodoh semacam itu dari Kaito. Ia berputar meninggalkan dapur untuk menuju kamar mandi, meninggalkan Kaito mengobrak-abrik dapurnya berusaha mencari biji kopi dan entah apa lagi.
"Ngomong-ngomong, Kaito…"
"Hm? Kau mau mengingatkanku bahwa kau hanya mau minum kopi hitam?"
"Okaeri."
Untuk beberapa saat Kaito hanya berdiri terpaku disana, memandangi punggung Shinichi yang menjauh dan seulas senyum samar yang tampak sebelum Shinichi berbelok pergi meninggalkan dapur. Dan ia tidak bisa menahan cengiran lebar yang menarik sudut-sudut bibirnya.
Ia akhirnya pulang, ke rumah yang hangat, yang nyaman, yang memberinya rasa aman, dan yang akan menjadi tempat peraduannya di penghujung hari.
"Ou, thanks."
.
fin
.
Dan akhirnya tamat, ehehe. Terima kasih yang sebesar-besarnya buat semua yang sudah baca, review, follow, maupun fave. Ga kerasa udah setaun sejak fic ini dipublish (/ovo)/ Terima kasih atas semua respon yang sudah diberikan atas fic ini, dapet 100++ review dan 40++ fave/follow itu suatu kebanggaan tersendiri bagi saya :")) Maaf jika ada yang kurang mengecewakan, dan maaf juga karena selama ini tidak sempat merespon review satu per satu m(_ _)m Overall, thanks for all the responses since last year, and apologize for any mistakes. I hope you all enjoy reading it as much as I enjoy writing it XD Bye bye and see you in some other work~
sign, rei
