Words count: 266 words
Rate: K+ for implications
Warning: possibly a little OOC; alternate timeline, implied BL.
Timeline: a sequel after the ending of 'Imprisoned'
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Disclaimer:
Detective Conan and Magic Kaito fully belong to Aoyama Gosho
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.
Now, let the story begins...
o.O.O.o.o.O.O.o
iii. night activity
"Selamat datang, Tuan." Seorang maid tampak menyambut begitu pintu depan membuka. Maid berambut hitam dengan stocking yang membalut kaki jenjangnya. Seragam hitam putihnya penuh renda dan pita. Wanginya menggoda, begitu juga lekuk tubuhnya.
'Tuan' yang ia sambut tampak mengerutkan dahi. Ia hampir mengira salah masuk rumah, andai ia tidak ingat dengan tingkah antik teman serumahnya.
"Kaito." Bukan dugaan, bukan tuduhan. Ia yakin benar.
Bibir dengan polesan lipstik tipis itu terangkat naik. Senyuman usil yang begitu familiar tampak menghias wajahnya. Ia menyibak rambut panjang —wig, tentu saja. Satu dari banyak koleksinya— ke belakang dan mengedikkan bahu. Secara tidak langsung membenarkan tebakan sang detektif. Ah, tapi Shinichi tidak akan senang jika deduksinya dibilang tebakan.
"Tuan ingin makan malam dulu?" Tangannya terulur, menarik Shinichi masuk sebelum menutup pintunya cepat.
"Mandi dulu?" Kaito – dalam balutan seragam maid lengkap dengan bandonya juga, memojokkan sang detektif hingga punggungnya hampir beradu dengan tembok.
"Atau memilih 'aku'?" Ah, ia suka candaan ini. Lihat saja wajah puasnya setelah mengutarakan godaannya.
Sayangnya Shinichi tampak tidak berbagi kesenangan dengannya. Lihat saja ekspresi masamnya. Ah, tapi wajah pemuda itu tampak sedikit memerah? Sejak kapan membuat Shinichi merona jadi semudah ini?
"Se—" belum sempat Kaito menyelesaikan kalimatnya, Shinichi telah bergerak duluan. Sang detektif menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada Kaito, dahinya beradu pelan dengan pundak pemuda itu. Ia tau refleks Kaito selalu bagus, sekonyol apapun penyamaran yang dikenakannya, hingga ia tidak perlu takut mereka berdua akan terjatuh.
"Makan malam dan obat demam," gumamnya. "Kepalaku pusing."
"E-eh? Shin— kau sakit?! Harusnya kau bilang dari tadi dong!"
"Jangan berteriak, baaro."
Kaito mengganti rencana malam itu dengan merawat Shinichi yang tengah sakit.
.
fin
.
Terima kasih banyak untuk semua yang sudah menyembatkan baca, review, dan bahkan fave. Yep, lengkap sudah tiga sekuelnya hehe. Sangat berharap kalau para pembaca bisa menikmati fic ini.
So, see you some other time!
