apdet !
hatur tengkyu buat yang udah setia baca (dan review) ...
(sok terharu)

di chap ini kaga ada lagunya,
udah kepanjangan!

Naruto bukan punya Yvne.
sampe bosen bilangnya...
Dx

OOC's still in the air ...


Sakura memandangi bayangannya di cermin. Ia memakai gaun putih dengan detail belakang bib-chiffon-flower yang terkulai lembut di lantai. Perfect, just like every girls' dream. But for our lovely pinky, it's just a start for her worst nightmare...

Tirai di belakangnya terbuka, menampilkan Ino, Hinata, dan Tenten yang sedang menggendong bayi tampannya.

"Oh Tuhan, Sakura! Kau sangat..- mengagumkan!!", Ino menghampiri Sakura dan melihat bolak-balik Sakura yang asli dan pantulannya di cermin dengan mulut tersenyum lebar.

Ia memandangi ketiga temannya yang bicara tentang betapa beruntungnya ia, dan keindahan gaunnya, dan hal-hal lain yang ia dengar seperti mantra pembangkit tangis.

Give 'em a smile, Saku-chan... Or they'll know your hidden-feeling...

"Iya. Aku tahu..", Sakura menjawab dengan senyum sekuatnya. Ia berputar sedikit dan pandangannya terhenti di arah Tsukihiro berdiri dan tersenyum dengan bisikan, "Kau sempurna..."

Spotted at the Yuhanaki Bridal and Salon Specialist ; our cherry blossom just making her way to her deepest fallen. Will the avanged prince saved her...? Or she should pay it with her each pink leaves...? Whatever it'll be..., I'll be here to tell you all..

-

-

Sudah sebulan sejak pesta pertunangan Sakura. Dan sekarang, semua terlihat sibuk. Bunga-bunga dipilih, para pendamping wanita dan pria membicarakan seragamnya, undangan tersebar, dan besok..., harinya tiba...

Sakura terduduk di kamarnya, memandangi jalanan yang redup dengan beberapa pejalan kaki yang lewat.

Dan ia menangis.

Ia tidak tahu kenapa, tapi sebagian dari dirinya berkata; ia tengah hidup dalam kebohongan besar. Ia berusaha menekan rasa itu ke belakang dengan memikirkan pernikahannya, tapi – sekali lagi – entah kenapa, hal itu malah membuatnya semakin tidak keruan.

Perlahan ia berjalan menuju telefon, mendudukan diri di kursi dengan sebuah bantal dari Sasuke yang bertuliskan;

'Property of The Princess ; Consist of Unbearable Pearl Tears'

Sakura tersenyum kecil ketika membacanya. Saat Sasuke memberikan bantal itu, ia berkata bantal itu-lah yang harus menjadi penyerap air matanya saat Sasuke tidak bisa melakukannya. Dan itu yang ia lakukan sekarang, ia mengistirahatkan dagunya di bantal soft-pink itu, dengan air mata yang terus mengalir tanpa suara.

Ia menarik nafas, meraih gagang telefon. She dial Ino first, surprisingly, or should I say, expectedly...?

Beberapa nada sambung – "Hai. Ino di sini..."

"Ino, aku..-"

"Sekarang aku sedang sibuk mempersiapkan pernikahan sahabatku. Jadi maaf, aku tidak bisa mengangkat panggilanmu. Tinggalkan pesan, dan aku akan menelefonmu balik. Jaa!"

Sakura terdiam walaupun nada perekam pesan sudah berbunyi. Ia menutup telefon.

Detik berikutnya ia menghubungi Sasuke.

"Halo?"

"Sasuke, aku butuh kau. Secepatnya...", Sakura tidak bisa menahan tangisnya, "Aku mohon... Aku tahu kau marah, dan aku tidak -"

Sasuke menggumamkan 'tunggu' dan pembicaraan itu diakhiri.

time skip –

next morn'

"Ada apa ini...? Ramai sekali!", seorang gadis berambut coklat berusaha menembus kerumunan.

"Minami dan Haruno akan menikah!", salah seorang menjawab.

"Minami?? Haruno?? Hah, aku yakin mereka tidak terkenal.", wanita itu mendorong orang-orang ke pinggir dan melihat ke atas bukit yang tidak terlalu tinggi, "Pernikahan di atas bukit, sangat klasik.", ia mencibir.

"Kau bercanda?? Mereka berdua orang penting di Konoha! Siapapun yang tidak diundang, yang klasik!",satu suara lagi-lagi menjawab.

Wanita tadi menaikkan alis, "Aku tidak klasik...", katanya dengan geram, "Aku selalu menghadiri pesta, meski mereka tidak mengundangku..."

A little bird told me, that this brunette not just an ordinary one. Who is she...? What does she want...? Hope it's not bad..., really...


morning--

"Sakura! Ini harimu...!", Ino sedikit melonjak-lonjak ketika memberikan Sakura buket bunga carnation yang senada dengan hiasan di rambut pinknya.

"Iya... Aku tahu...!", Sakura tertawa kecil. Ia melihat kembali bayangannya di cermin. Gaun yang ia kenakan kemarin kini semakin lengkap dengan sarung tangan putih sesiku berbahan satin dan hiasan bunga carnation di rambutnya yang tersambung dengan see-through veil. "Aku tahu...", ia berbisik.

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Sakura dan Ino, "Ino, kita harus menunggu di bawah ..- YA TUHAN, SAKURA-CHAN! Kau terlihat ..- WOW.", Naruto menghampirinya, "Maksudku, cantik sekali sampai WOW."

Sakura tertawa.

"Oh ayolah, kita harus ke sana duluan! Sampai nanti, Saku...!", Ino menarik Naruto keluar.

Ketika dua sahabatnya terdengar sudah jauh, ia menghilangkan sisa senyum dari tawanya barusan. Memandangi buket bunga di tangannya, ia menghela nafas.

-

-

Para pendamping pria – Naruto, Shikamaru, Kakashi – dan wanita – Hinata, Ino, Shizune – berdiri di masing-masing sisi pengantin. Hiasan carnation putih dan helai pink daun sakura terlihat di setiap sudut ruangan. Para tamu terlihat memenuhi taman hijau yang dilengkapi dengan altar putih untuk janji sakral itu.

"Siapa wanita itu??", Ino bertanya pada Shizune dan Hinata, jarinya menunjuk seorang wanita dengan mini-dress hitam.

Kedua temannya menggeleng tidak tahu.

Ino mengerutkan dahi. Looks like the beauty-blond has a strong feeling...

"Oh, dia datang...!", Shizune mengalihkan perhatian Ino.

Di ujung karpet putih, terlihat Sakura. Seluruh orang berdiri dan melihat ke arahnya, memberikan senyum dan bisikan-bisikan selamat atau doa-doa atas pernikahannya ketika ia berjalan melewati mereka, ke arah Tsukihiro yang berdiri dengan jas putih di altar.

Dengan langkah terakhir menaiki pijakan, Sakura dan Tsukihiro berdiri berhadapan. Janji yang diucapkan panjang-lebar terdengar samar di telinga Sakura. Ia menunduk. Apa yang ia lakukan...?? Kenapa ia melakukan semua ini..?? Perasaan apa ini di dalam hatinya..??

"Aku bersedia.", perkataan Tsukihiro melempar Sakura kembali ke kenyataan. Ia mendongak, melihat Tsukihiro mengucapkan 'Aku mencintaimu' tanpa suara, dan mengalihkan pandangannya ke belakang Tsukihiro. Ke arah Sasuke...

Matanya terbelalak melihat Sasuke yang berada di barisan pendamping pria. Sasuke, di pihak lain, tersenyum dan membisikan 'Kau terlihat cantik'. Pikiran Sakura melayang ke malam sebelumnya...

flashback

"Sakura...?", suara Sasuke terdengar dari arah belakang Sakura yang menenggelamkan wajah dalam bantal. Sakura berbalik untuk membuat Sasuke terkejut dengan muka lemahnya yang dipenuhi air mata.

"Aku tidak bisa...", ia berbisik pelan.

Untuk sesaat Sasuke hanya diam dan memandanginya. Dan berikutnya, ia sudah memegang Sakura dalam pelukannya, "Kau harus bisa..."

Now we all know, a friendly hug wouldn't be that warm. And is that a sparkle I see...? Oh, it's getting more complicated...

"Aku tidak mengerti Sasuke... Perasaan ini menghantuiku... Aku baru sadar kalau aku tidak bisa melakukan ini semua...", Sakura bicara pelan ketika sudah melepas pelukan Sasuke.

Sasuke memegangi tangannya yang bergetar. Ia duduk di hadapan Sakura yang menunduk dengan air mata yang terus mengalir. Tangannya lalu mengangkat wajah Sakura. Mata onyx bertemu dengan tosca yang meredup...

"Lihat ke dalam dirimu, Sakura...", Sasuke masih memegangi wajah Sakura yang sayu, "Lihat ke dalam dirimu dan yakinkan dirimu apa yang harus kau lakukan..."

Sakura menggeleng, "Aku tidak ingin melakukan apapun...", ia terisak.

Sasuke melihat dalam-dalam pada Sakura. Terdiam.

Wajah Sakura masih tenggelam ketika berkata, "Tolong, Sasuke... Temani aku..."

And thuss, they're kiss...

Satu ciuman yang biasa itu, dengan suatu cara, dapat menenangkan ketergetaran tubuh Sakura. But then, a kiss is not enough when the snake got out its cave... Well I guess you all can imagine what happens next... A very flashy night, with an Uchiha insight...

flashback ends

Sakura terlalu tenggelam dalam ingatannya untuk menyadari pengucapan janji sudah sampai di bagian, "Apa kau bersedia?"

Ia tersadar dan mengalihkan pandangannya pada Tsukihiro yang menaikkan alis, menanti jawaban.

Now the question is; what will you do in your unwanted marriage...?

a. keep on going no matter what
b. crying inside and spread the lie wider
c. kill the boy in front
or d...-

Sakura menggeleng, air mata menuruni pipinya untuk kesekian kali. Dengan tergetar ia berbisik, "Maaf..."

-...none of them above...

Dan dengan itu, ia melepas buket bunga di tangannya, satu tangannya kini mengangkat gaunnya dan tangan lainnnya menarik tangan Sasuke.

"Kita harus pergi! Bawa aku ke manapun!", Sakura menarik kala Sasuke melihat ke arah Naruto. Sahabatnya itu tersenyum, "Pergilah."

Mereka berlari.

Naruto menghampiri Tsukihiro yang kaget, "Maaf, teman. Mereka itu memang gila.", katanya dengan senyum khawatir.

"Anak-anak yang selalu bersemangat...", Kakashi menggelengkan kepalanya, "Sabar ya.", tangannya menepuk pundak Tsukihiro.

Spotted at the Green Hill ; our cherry blossom princess escaping from unwanted wedding with the avenged prince close to her... Just like a lovely fairytale. I'm just hoping our runaway bride not expecting a happily ever after. Because one bomb they give, will give a chain effect to all...

"Huh... Lari dari pernikahan... Sok sekali... Kita lihat, apa yang akan ia lakukan kalau aku memberikannya kado pernikahan kecil...", seorang wanita bergaun hitam dengan rambut coklat tersenyum angkuh, tangannya memegangi perutnya.

See...? There's not only one girl wanted the avenged prince..., especially when it comes to the charming one. 'Til then, we can only wait for the happily ever after... Perhaps...

tbc –