waaaaaaah
semakin macam-macam saja reviewnyaaaa.
:p

tengkyu buat yang udah ngasih opini soal 'Yvne Devolnueht'...
jadi apakah arti sebenarnya??
baik, mari kita ucapkan selamat pada m4yura dan pink-violin, anda benarrrr! XD

yvne devolnueht (baca terbalik) ; the unloved envy

alias satu dari 7 pendosaan yang parah.
yang jelas tidak dicintai...
dan merupakan sifat terburuk aku...!
ahahahaha!!
(menggaje)

Naruto bukan punya Yvne...

OOC, teteup...

maap kalo ga ada lagunya...
ga nemu yang pas...!
Dx


Sakura duduk bersandar pada porselen dingin kamar mandinya. Memandangi cermin yang tertutupi embun dari air panas yang ia biarkan mengalir dari keran. Tubuhnya terasa lemas dan bergetar hebat. Nafasnya lambat..., pandangannya mulai mengabur...

-

-

"..ra..? Sakura...??", suara Ino membuat Sakura membuka mata sepenuhnya.

"Ino...? Aku..- apa yang..-", Sakura menopang berat atas badannya dengan kedua sikunya. Memperhatikan keadaan sekitar, kamarnya...

"Kau pingsan di kamar mandi... Untung aku dan Hinata menemukanmu...", Ino menjawab ketika Hinata masuk dengan Naruto.

"Sakura-chan!! Kau kenapa??", Naruto segera berdiri di samping tempat tidur Sakura, panik.

Sakura hanya menggeleng, menandakan ia juga tidak mengerti keadaannya sendiri.

"Dia pingsan di kamar mandi.", Ino menjawab untuk Sakura.

Sakura menatap kedua tangannya yang pucat dan masih bergetar. Mencoba mengingat kenapa ia bisa seceroboh itu, menjadi rapuh tanpa alasan. Dan sedetik kemudian, ia mulai menangis.

Ketiga temannya konstan kaget dan segera bergantian bertanya 'kenapa'.

Ino masih memegangi pundak Sakura ketika wanita yang disebut masih menutupi wajah dengan dua tangan dan menggumamkan sesuatu.

"Apa, Sakura...? Kita tidak bisa dengar..."

"Aku bilang..., aku hamil..."

Spotted at Haruno's ; now our pinky held the role as shocking part. I guess I can't talk a lot, since we all know who's the father of that litter..., right...?


"Kandunganmu baik-baik saja, Kotobuki-san.", seorang perawat berkata seraya menaruh peralatan periksanya.

"Terima kasih. Em..., di mana Sakura? Biasanya dia yang bertugas kan?", Taira turun dari kasur periksa dengan susah payah, mengingat umur kandungannya yang sudah menginjak 7 bulan dan Sasuke yang hanya berdiri tanpa membantunya.

Taira sengaja memilih praktek Sakura untuk memeriksakan kandungannya. You know why, don't you...?

"Ah, ya. Haruno-san izin cuti sementara. Sakit.", perawat tadi menjawab sambil memegangi satu tangan Taira, membantunya turun. Setelah menulis laporan, perawat itu pun berlalu.

Taira dan Sasuke berjalan dengan Taira yang terus bicara dan Sasuke yang tetap diam. Mereka hampir menuju pintu keluar.

"Sakura...!", suara Taira yang memanggil nama dokter muda itu membuat Sasuke terdiam sejenak.

Orang yang dipanggil tersenyum.

Sudah 3 bulan sejak Rookies 9 dan beberapa orang mengetahui soal kehamilan Taira. Sakura mulai terbiasa lagi. Ia sudah kebal dengan kesakitan sejenis ini. Dan pada akhirnya, emosi sahabatnya yang lain pun mereda. Setidaknya, sampai ia mengetahui ada kehidupan di perutnya...

Memang belum ada perubahan fisik yang berarti pada badan Sakura, tapi ia sudah mengganti pakaiannya dari set merah-pink seperti biasa menjadi maternity dress putih selutut dengan bolero hijau.

"Kau benar-benar ambil cuti??", Taira menghampiri Sakura.

Sakura melihat sekilas ke arah Sasuke dan mengangguk, "Iya... Aku agak lelah hari-hari ini..."

Taira memasang muka kecewa, "Hmph. Padahal aku ingin kau yang pertama tahu... Kemarin aku akhirnya mengiyakan perkiraan gender, dan mereka bilang, bayinya laki-laki...!", Taira tertawa sambil memegangi tangan Sakura yang berusaha terlihat senang.

"Itu bagus, Taira...", katanya sambil menahan air mata. Apa bayinya juga akan laki-laki juga...?

"Sasuke-kun pasti senang, akhirnya ia akan memiliki penerus...!", Taira melanjutkan, "kau akan check up, ya, Sakura?"

Sakura terus memaksakan senyum, "Iya..."

"Sakura, ayo kita harus..-", Ino yang baru datang membawa kertas berhenti ketika melihat Taira dan Sasuke.

"Oh, hai Ino...!", Taira terseyum lebar.

Ino hanya menaikkan ujung bibirnya, "Ayo, Saku. Kita harus pergi.", ia menarik sakura yang mengucapkan sampai nanti pada Taira.

"Ayo, Sasuke-kun! Kita harus berbelanja!", Taira menggelangkan tangannya pada lengan Sasuke.

Sasuke menarik lengannya, "Hn."


"Hasilnya memang positif... dan ini sudah memasuki usia 3 bulan..."

Sakura memandangi kertas yang Tsunade sodorkan di hadapannya. Di bawah semua data pemeriksaan dirinya, tertulis kata 'POSITIF' dengan perhitungan usia kandungan di sampingnya. Dengan mata berair, ia berusaha membaca seluruh isi kertas itu, berharap ada data yang salah, atau kertas itu bukan miliknya. Dan kenyataan kalau itu memang hasil pemeriksaannya membuat air matanya turun. Ino mengusap punggungnya.

"Apa yang aku lakukan, Sakura...?", Tsunade memajukan posisi duduknya, menanti penjelasan murid terbaiknya.

Sakura menggeleng, "Aku telah membuat kesalahan besar...", ia meletakkan kertas yang basah karena air mata itu.

Tsunade memandangnya khawatir, "Kau tahu apa yang akan terjadi setelah ini, kan, Sakura...?", tangannya tersilang, "Kau tidak akan bisa menyembunyikan keadaan fisikmu yang pasti berubah..."

Sakura mengangguk cepat, "Aku tahu..."

Setelah menghela nafas, Tsunade memperbolehkan mereka pulang.

-

-

"Apa maksudmu kau tidak akan memberitahunya??", Ino terlihat kesal ketika mengatakan hal tadi.

"Aku memang tidak akan memberitahunya, Ino...", Sakura menjawab dengan helaan nafas, "Tidak ada gunanya memberitahu Sasuke sekarang..."

"Oh, lalu kau akan memberitahunya saat bayinya sudah lahir??"

Sakura mengangguk.

"Sakura, dia sudah cukup tertekan dengan kematian orang-orang yang ia sayangi, dan ia sudah mengalami tahun hukuman yang berat, kau pikir apa yang akan dia rasakan kalau orang ia cintai hamil penerusnya dan ia satu-satunya yang tidak tahu??", Ino bertanya poin yang sebenarnya penting.

"Jangan mendramatisir, Ino.. Lagipula selain kau, Hinata, dan naruto, tidak ada lagi yang tahu kan??", Sakura mengurut pangkal hidungnya.

"Kau terlalu naif, Sakura. Kau pikir orang-orang tidak akan melihat perutmu yang membesar??", Ino menghentaknya.

Sakura terdiam sesaat, "Sudahlah, aku mau pulang...", katanya sambil berdiri dari kursi di toko Yamanaka. Setelah gumaman sampai nanti, Sakura berjalan pelan ke arah rumahnya.

Semua tidak terencana, di jalan pulang ia melewati Pleau, toko peralatan bayi yang memang terkenal di daerahnya. Dan entah kenapa, langkahnya menuntun ia masuk ke dalam toko tersebut.

Suara bel halus ketika ia membuka pintu membuat penjaga toko di meja kasir tersenyum dan mengucapkan selamat datang pada Sakura yang tersenyum lemah. Ia melangkah ke bagian pakaian bayi. Tangannya meraih sepasang sepatu mungil berwarna putih, dan tanpa ia sadari, sebelah tangannya memegangi perutnya dan bibirnya membentuk senyum.

"Sakura??"

Sakura mengalihkan pandangan dan melepas pegangan pada perutnya, "Tsuki...?"

"Hai... Apa yang kau lakukan di sini...?", Tsukihiro mendekatinya.

Sakura berusaha mencari penjelasan, "Aku..., hanya ingin melihat-lihat... Apa yang kau lakukan??", katanya berusaha mengalihkan tatapan curiga Tsukihiro.

"Oh, aku mengecek keadaan, toko ini masih ada di bawah naungan perusahaanku.", jawabnya dengan senyum.

Sakura mengangguk, membalas tersenyum.

"Sakura??", lagi-lagi satu suara membuat Sakura menoleh.

Taira.

Dan Sasuke...

"Oh, hai Taira..., dan Sasuke...", Sakura menyapa.

Spotted at Pleau Maternity ; a complicated reunion held there. Will the avenged prince know the truth...? Or pinky's already prepared a reason or two...? It will be a chaos, for sure... But I'm just gonna cut it here, for your mind freshness... Happy maternity, all...

tbc –


hayo ngacung yang merasa bingung...!
(semua ngacung)
...-

huaaah!!
nokomen nokomen ...
ini di-update gara-gara 'nanggung'...
gimana..?
Jelek...?
Buruk...?
Hancur...?
(pesimis seduniaa)
fiuhh...

Tell me your opinion on review...
xo xo ,
Yvne Devolnueht